Menikmati Liburan di Bali

A. Lebaran time

Alhamdulillah anak-anak telah menerima raport kenaikan kelas, meski dengan hasil rangking yang berbeda-beda, secara keseluruhan masih sangat baik. Untuk kak Belva dari semester 1 kemarin hingga semester 2 masih bertahan di 5 besar, Alhamdulillah karena untuk menjadi jawara, tentu sangat berat karena berada di kelas aksel yang tentu persaingannya tidak mudah. Sedangkan kak Reva dan adek Mika, karena mengikuti kurikulum 13, tidak diadakan rangking di kelas, namun wali kelas menginformasikan bahwa mereka termasuk di jajaran menengah keatas, hmm..(Alhamdulillah). Seperti biasa kalo dikelas anak-anak yang SD ini terdapat tempelan hasil karya, termasuk tentang goal setting kak Reva yang memperlihatkan cita-citanya sebagai pengusaha, dan apa saja yang perlu dipersiapkan. Suatu ketika Reva bercerita, “Ma, kata ustadz jika cita-cita anak berbeda dengan orangtua lebih baik mengikuti apa yang diinginkan orangtua, kecuali orangtua ridho dengan cita-cita si anak”. “Alhamdulillah, berarti kak Reva ikhlas ya, untuk menjadi pengusaha, guna melanjutkan tongkat estafet perusahaan keluarga??,” jawab saya. Reva menjawab,”in syaa Allah Ma.” (Aamiin).

Lebaran tahun ini kami stay di rumah, selain karena scedul menjaga Oma nya anak-anak, yang bergantian dengan kakak setiap kali lebaran, kami juga harus membuka toko, yang hanya libur 3hari saja, sedangkan semua staff kami mendapat jatah libur satu minggu. Karena Oma yang juga Mama dari Hubby merupakan yang tertua, justru rumah kami malah rame, banyak menerima tamu, Alhamdulillah senangnya.

B. Vitamin Sea di Bali

Setelah semua staff masuk kerja kembali, giliran kami buat liburan. Kami memutuskan ke Bali sebagai tempat liburan, selain sudah lama sekali kami tidak kesana, juga karena liburan akhir tahun lalu kami sudah ke Jakarta dan Bandung. Senangnya anak-anak, tak sabar segera ke pantai, tempat paling favorite mereka.

Kami sekeluarga memang lebih nyaman menggunakan kendaraan pribadi daripada umum, seperti pesawat misalnya, karena basically hubby agak takut naik pesawat, kecuali terpaksa misal keluar negeri..hihihi. Alhamdulillah saat menyeberang ke Gilimanuk (Bali) dari Ketapang (Banyuwangi) kami mendapatkan kapal baru yang sangat nyaman dan bersih, mana selepas subuh, selain pemandangannya sangat indah, hawanya sejuk pula. Sampai di Gilimanuk kami langsung menuju Legian, masih sekitar jam 12an, ternyata Hotel full dan jelas belum siap, karena check in baru bisa dilakukan jam 2 siang, dan yang paling menjengkelkan adalah 2 kamar yang kami pesan hanya siap 1 kamar saja, sedangkan 1 lagi entah belum ada kabar, tercepat selepas maghrib karena yang menyewa tidak bisa dihubungi. Yasudahlah, sekitar jam 2an kami masuk dalam 1 kamar, selagi kamar yang 1 masih menunggu. Hotel di Legian ini sangat bagus, namanya juga hotel berbintang, tapi pelayanan agak kurang, mungkin sangking ramenya, mayoritas Bule pula, jadi banyak aurat diumbar (kasian anak-anak). Finally hari pertama di Bali diisi dengan mendekam di kamar hotel saja, sambil melepas lelah.

Pagi-pagi sekali, selepas subuh kami berangkat mandi ke pantai, sebelum para bule yang pamer aurat pada berjemur. Alhamdulillah masih sepi sekali, hanya beberapa orang latian Surfing. Setelah puas, anak-anak segera kembali ke hotel dan mandi, kemudian kami keluar hotel, karena sarapan di hotel sepertinya kurang save, karena lebih banyak menu western. Sebenarnya eman, tapi karena kami hidup di negara mayoritas muslim, wajib buat kami meninggalkan yang subhat, lebih baik keluar uang lagi buat sarapan daripada ibadah hangus 40hari..hiks.

Acara pagi ini setelah sarapan, kami mencari wahana liburan yang baru dan seru, bertemulah kami dengan Up and Down world, hiburan berfoto dengan tema jungkir balik. Tiket masuknya 100rb per orang kalo tidak salah. Banyak tema yang ditawarkan, misal ruang tamu, kamar tidur, kamar mandi, dapur dll. Enaknya disini petugasnya (mbak/mas) siap mengarahkan gaya dan membantu memotret, jadi kami sekeluarga bisa dalam satu frame, biasanya kan tidak bisa, karena gantian mengambil gambar. Setelah puas kamipun kembali ke hotel untuk beristirahat sejenak, dan menjelang Sunset kami berangkat ke pantai lagi.

Masyaallah, Bali benar-benar indah, pemandangan Sunset bikin betah tidak balik ke hotel. Para bule yang berjemurpun jarang terlihat, mungkin mereka sudah gosong, jadi anak-anak relativ aman menjaga pandangan. Hikmahnya mereka belajar menahan pandangan, bahkan Mika terlihat berkali-kali menunduk ketika berpapasan dengan bule yang auratnya kemana-mana, entah laki maupun perempuan, kasian sih..hiks. Sesekali Mika bertanya, kenapa orang bule tidak malu berpakaian seperti itu, akhirnya terjadi dialog, saat-saat seperti ini kami selaku orangtua dapat memasukkan nilai-nilai relijius kepada anak-anak. Selesai menikmati sunset kami kembali ke kamar untuk mandi dan sholat maghrib, kemudian keluar hotel untuk makan malam, cukup sederhana saja, PKL Sari Laut versi Lamongan, Lele penyet, Udang dan Cumi mentega, murah meriah dan Alhamdulillah kenyang.

Setiap hari kegiatan kami hanya pantai, hotel, pantai lagi, hotel lagi. Pagi ini hari ketiga kami masih di Legian, dan pagi ini kami juga masih mandi di pantai, dan pagi ini pula musibah terjadi, kamera mirrorless Canon yang baru seumur jagung terpaksa harus matisuri karena terhempas ombak, sedangkan acara puncak ada di Lovina. Kamera SLR Nikon sebagai cadangan sudah saya siapkan, namun sayang lensa tele terlupakan, padahal medan di laut tentu membutuhkan tele demi memotret jarak jauh, karena di Lovina, obyeknya tentu saja si Lumba-Lumba. Terpaksa kami harus membeli lagi, meski hanya sekelas Tamron tapi sayang juga karena kami sudah memilikinya di rumah, yach nanti Tamron yang lama semoga bisa laku di OLX. Setelah uruasan lensa SLR selesai kami segera menuju Lovina, sesuai perkiraan kami tiba di Lovina menjelang Sunset, kebetulan kami mendapatkan hotel dengan kolam renang menghadap pantai, Masyaallah sungguh indah ciptaan Allah. Lovina tidak serame Kuta, Legian maupun Seminyak, yang keramaiannya selama 24 jam. Lovina hanya menjual wisata Dolphine dan Snorkling, itupun dilaksanakan di pagi hari, selepas subuh tepatnya. Menjelang siang hingga malam, suasana sepi, dan kamipun stay di hotel, memesan makanan untuk makan malam cukup melalui resto hotel, kalo di Lovina relatif aman, karena mayoritas muslim, terlihat juga di daftar menu yang ditawarkan.

Subuh pagi ini, jam 6 tepat kami sudah siap menaiki perahu untuk pertama kalinya di sebenar-benarnya lautan (kecuali hubby untuk keduakali). Dengan sedikit kengerian, selain masih agak gelap, gelombang cukup lumayan mengaduk-aduk perut dan perasaan (#eaa) kami menuju ke tengah laut Lovina untuk menyaksikan secara langsung Lumba-lumba. Setibanya di tengah laut ternyata sudah banyak sekali kapal yang mayoritas juga bule, lagi dan lagi, tapi dengan pakaian yang lebih pantas. Awal tahun lalu toko kami “Dea Wijaya” juga mengadakan tour tahunan ke Lovina, jadi setelah anak-anak kami di Dea, sekarang giliran anak-anak kami sendiri. Membayangkan adek Mika akan ketakutan, kemudian mabuk dan rewel ternyata jauh dari perkiraan, justru adek Mika lah yang paling bersemangat. Disaat harus mengejar Lumba-lumba, adek Mika yang mengompori pak nelayan buat mengebut, jadilah kami berempat ini mabuk laut..huhuhu. Setelah puas berputar-putar mengejar lumba-lumba, saatnya kami kembali ke hotel, tapi karena si papa pengen snorkling, maka berhenti sejenak menunggu papa selesai snorkling. Sebenarnya beliau sedang mabuk laut tapi karena sudah bayar tiker snorkling, eman kalo tidak digunakan.

Alhamdulillah liburan kenaikan kelas di Bali ini sangat menyenangkan. Saatnya pulang ke rumah dan kembali ke sekolah. Buat kak Belva dan kak Reva semangat menjemput UNas ya, persiapkan diri dengan sebaik-baiknya, terutama untuk Kak Belva yang akan bersaing di jalur Undangan Universitas. Untuk kak Reva meski tetap di SMP Raudlatul Jannah tetap tidak boleh menyepelekan nilai UNas, tapi persembahkan yang terbaik dari dirimu, semaximal mungkin, sedangkan adek Mika, semoga di kelas 3 nanti semakin mandiri dan cekatan..aamiin

Advertisements