GALAU itu saat Memilih SMA terbaik untuk kak Belva

image

  Sabtu pagi (05/03) terjadwal untuk menghadiri agenda Parenting dari sekolah kak Belva, SMP Islam Raudlatul Jannah yang diadakan di gedung serbaguna di lingkungan TK dekat dengan Rumah. Pukul 08.00 saya berangkat sendiri dengan berjalan kaki karena dekat (nyambi olahraga #pencitraan). Sang Papa memang jarang bisa ikut, selain karena urusan pekerjaan, juga harus jagain adek Mika, biasa “maid problem”, si emak bukan morning woman, paling pagi si emak datang jam 9, dan saya tidak suka terlambat.
  Undangan Parenting kali ini wajib dihadiri oleh siswa dan orangtuanya, walau tidak sepasang, paling tidak ayah atau ibu yang datang. Acara dibuka dengan hafalan Juz 30, Alhamdulillah keseluruhan siswa hafal, karena memang target paling ringan yang harus dicapai. Dilanjutkan oleh ustadzah Wahyu sebagai kepala sekolah, menjelaskan masalah UNAS yang akan segera di hadapi oleh siswa kelas 9. Kebingungan pemerintah atas dualisme kurikulum, antara KTSP dan K13, tidak akan membuat kurikulum sekolah bingung, karena Sekolah telah memiliki Kurikulum sendiri yang sudah ideal, dan untuk tahun ini, hasil kelulusanpun juga diserahkan sepenuhnya kepada Sekolah secara otonomi dengan berpedoman pada standart yang ditetapkan oleh pemerintah. Namun walau nilai kelulusan ditentukan oleh Sekolah dan insyaAllah 100% lulus tidak serta merta dapat diterima di sekolah favorite, sekolah tersebut pasti mematok nilai UNAS yang sangat tinggi, terkadang hal itu yang menyebabkan stres baik siswa maupun orangtua. Namun sungguh bukan bermaksud jumawa dengan kemampuan kak Belva yang diatas rata-rata, yang membuat galau adalah, antara memilih sekolah negeri atau kembali ke sekolah Agama..(???).
  Acara utama dalam parenting kali ini, adalah tentang “Parenting Nabawi” yaitu cara mendidik generasi sukses dengan cara Rasulullah SAW oleh bapak Suhadi, beliau adalah konsultan Sekolah favorite saya. Setiap kali beliau mengisi acara parenting, bagi saya wajib hukumnya untuk hadir, walau kadang terjadi pengulangan (maklum ke-3 anak bersekolah di yayasan yang sama), tidak mengapa agar menancap di Otak dengan sempurna. Intinya orangtua wajib memberikan tauladan terbaik, pengasuhan tidak saja tugas ibu semata sebagai madrasah utama, namun justru Ayah lah sebagai kepala sekolah yang wajib membuat dan menerapkan kurikulum keluarga. Parenting Nabawi yang berbasis Al-Qur’an dan As-Sunah ini, di dalam Qur’an nama Ayah disebut sebanyak 14x dibandingkan Ibu yang hanya 3x itu artinya Ayah lah yang harus banyak berperan, namun sebagaimana umumnya Ibu lebih banyak waktu untuk mengasuh dan mendidik anak-anak, karena Ayah sibuk bekerja (termasuk kami juga..hiks). Terakhir, parenting juga ditutup oleh pesan dari bapak Suhadi bagaimana memilih sekolah terbaik untuk ananda, dan seperti biasa beliau condong ke sekolah berbasis Agama, dengan harapan semua ilmu agama yang telah diperoleh tetap terjaga dan dapat diaplikasi kan dengan baik, serta akan ditambah lagi saat SMA nanti. Dannn..saya pun GALAU dengan sukses.
  Baru saja kak Belva menghadapi Tryout Diknas yang secara serentak dilaksanakan oleh SMP sekabupaten Sidoarjo, hasilnya sementara ini “cukup” melegakan, yaitu 34_an, dengan nilai mapel keseluruhan diatas 7, dan passing grade tahun lalu (2015) untuk sekolah kawasan adalah 32 dengan syarat semua mapel tidak boleh kurang dari 7,25. So far aman untuk masuk kawasan di daerah sendiri a.k.a kabupaten Sidoarjo, yang menurut kami hanya SMAN 1 yang layak untuk kak Belva, dan tentu saja sangat memusingkan, karena kami tidak memiliki alternatif pilihan yang lain. Berbeda dengan Surabaya yang memiliki begitu banyak sekolah kawasan dan reguler yang bagus baik sarana maupun prasarana nya dibandingkan dengan SMANISDA. Lagipula SMA kawasan wilayah selatan yaitu SMAN 15 justru lebih dekat dengan rumah. Namun karena Kartu Keluarga sudah terdaftar di kabupaten Sidoarjo, walau rumah lebih dekat ke Surabaya, maka peraturan lintas rayon yang 1% itu harus kami hadapi..hiks. Jika melihat profile SMANISDA dengan SMAN 15 sejauh yang saya ketahui, jelas SMAN 15 lebih unggul, selain fasilitas yang dapat mengakomodir seluruh potensi yang kak Belva miliki juga tidak kalah pentingnya adalah dekat sekali dengan tempat tinggal kami. Untuk Swasta tetap akan kami cadangkan sekolah berbasis agama, yaitu the one and only SMA Muhammadyah 2 Sidoarjo, yang kabarnya sekarang prestasinya mengalahkan saudaranya SMA Muhammadyah 2 Surabaya namun sekolah ini pun jauh dari rumah (..duh). Jadi kesimpulan kami saat ini, jika danem kak Belva tinggi (lebih dari 36), kami akan nekad lintas rayon ke SMAN 15, namun jika mepet dari passing grade maka SMANISDA adalah pilihan terbaik, jika gagal maka SMAMDA adalah pilihan terakhir. Memilih SMA terbaik semakin detail karena akan menuju Universitas, harapan sekolah di negeri, jika kak Belva tetap berprestasi sebagai bintang kelas, tentunya jalur Undangan siap menanti, kalaupun swasta pertimbangan ke Muhammadyah, karena jika FK Unair tidak lolos maka sebagai alternatifnya adalah FK UnMuh Malang (masih berharap ada Golden Ticket a.k.a Beasiswa), kita boleh Optimis namun tetap harus Realistis dengan persaingan yang sedemikian ketatnya, sehingga Alternatif musti disiapkan juga.
  Ya Allah, selain dengan belajar tekun sebagai bentuk ikhtiar, juga lantunan doa sebagai senjata orang beriman, kami pun harus siap berTawakal, apapun yang Engkau takdirkan untuk kak Belva adalah yang terbaik. Kami mohonkan ya Allah semoga dari semua pilihan-pilihan tersebut merupakan sekolah yang Engkau Ridhoi, walaupun sekolah di negeri, semoga kak Belva tetap istiqomah dengan sholat sunah dan hafalan Quran nya, kalaupun sekolah di swasta semoga sekolah ini pun dapat turut serta mewujudkan impian kak Belva..aamiin

Kejujuran itu terkadang menyakitkan

 

image

  Siang tadi tiba-tiba kedatangan tamu, Mama si Rahma, beliau datang untuk ketiga kalinya ke rumah, selama anak-anak kami, Reva dan Rahma sekelas di kelas 3B ini. Rahma, nama yang tidak asing lagi buat saya, selama hampir 3tahun, sejak kelas 1 selalu menghiasi cerita Reva setiap harinya, bisa dikatakan sebagai Trending Topic, bahkan serasa mau muntah saja, setiap kali mendengar nama itu meluncur dari bibir mungil Reva.
  “Bu, saya kesini mampir sebentar sambil mau tanya sama mbak Reva, tentang kejadian kemarin di kelas teater,” mama Rahma membuka pembicaraan.
  Sebelumnya, kemarin sepulang sekolah Reva berjalan dengan kondisi sedikit terpincang-pincang dan meringis kesakitan, kebetulan saya tidak ke toko karena si Emak sedang sakit. “Kakimu kenapa kak?,” sapa saya. Reva,”tadi disekolah didorong Rahma keras sekali terus aku jatuh, kaki ku agak keseleo Ma, tau tidak Ma, hari ini Rahma membuat 12 anak cewek kelas ku nangis, ya agak-agak nangis gitu lho Ma, ada yang dimarah-marahin, dipukul, ada yang didorong, dijambak..duh Rahma nakal sekali,”.. “Astaghfirullah, sudah lapor ustadzah?,” tanya saya. Reva menjawab,”sudah Ma, dan sudah dipanggil oleh ustadz juga,”. Kemudian cerita itu berlanjut di kelas Teater “Ocha pengen duduk deket aku Ma, tapi Lia sudah duduk duluan, terus Ocha duduk di belakang Lia, dan Ocha tidak papa, eh tiba-tiba Rahma datang langsung marah-marahin Lia buat belain Ocha sampai Lia nangis, terus teman kelas teater semuanya nyuruh Rahma minta maap sama Lia,”.. “Ya Allah, sampai kapan Rahma akan seperti ini, orangtua Rahma gak pernah dipanggil ke Sekolah tah kak??,” lanjut saya. “Gak tau Ma,”..jawab Reva.
  Cerita itulah yang saya sampaikan ke Mama Rahma, dan beliau menanggapinya,”tapi Rahma ini ceritanya di gruduk, dimarah-marahin, dipaksa, bahkan dijambak temennya beramai-ramai suruh minta maap, padahal Rahma sudah minta maap,”.. Reva mengangguk membenarkan,”iya Rahma sudah minta maap, tapi kata teman-teman tidak ikhlas,”. “Tuh kan bu, anak saya ini istilahnya ditawur rame-rame, gimana coba, padahal anak-anak yang nawur itu juga anak bermasalah, tapi kata Rahma, Reva tidak ikutan,” lanjut mama Rahma dengan nada sedikit lebih tinggi.
  Mendengar semua cerita mama Rahma, saya sama sekali tidak menyalahkan, bagaimanapun Rahma adalah anaknya dan jelas akan lebih didengarkan daripada orang lain. Mungkin sekarang saatnya saya harus membuka seperti apa anaknya, sebagai wujud pelampiasan rasa sesak yang selama ini saya pendam. Reva dan Rahma telah berteman sejak kelas 1, mulai semester 2 mulai terlihat tanda-tanda Rahma seorang anak yang Possesive, kelas 2 semakin parah, hampir setiap hari Reva mengeluhkan sikapnya, mulai pengekangan, menguasai, menyuruh dan bully-bully yang lain. Tak jarang Reva menangis, hingga suatu saat kenaikan kelas, dia memohon kepada saya untuk meminta ustadzah agar kelas 3 tidak sekelas lagi, minta dipisah. Dan ternyata saya terlambat, Reva harus menerima kenyataan untuk sekelas lagi dengan Rahma. Dan ustadzah kesiswaan sempat kecewa dengan saya, mengapa tidak cerita sebelumnya,”kami paham ibu sudah berusaha untuk mencoba memberikan solusi pada ananda tanpa melibatkan sekolah, tapi belum saatnya bu, mbak Reva masih kecil kasian harus menahan beban selama ini, dan mohon maap kami tidak dapat merubah kelas, tapi kami akan terus berkoordinasi dengan wali kelas untuk memantau mbak Reva,”.. “Yach, sudahlah Ust, mungkin Reva masih harus diuji, dan dia harus lulus dan makin kuat menghadapi anak-anak seperti Rahma, kedepan harus lebih berani berkata tidak dan dapat belajar membela diri,” jawab saya. “Namun setelah ini, di kelas 4 dan seterusnya saya tidak mau Reva di kumpulkan dalam 1 kelas dengan Rahma hingga kelas 6, sudah cukup 3 tahun saja ya ustadzah,” lanjut saya.
  Semua saya tumpahkan unek-unek selama ini dan apa saja yang saya doktrinkan ke Reva selama di kelas 3 ini untuk menghadapi Rahma, biar mama Rahma ini tau dan paham seperti apa anaknya, bahkan berita terakhir ustadz wali kelas menunjuk 2 nama anak perempuan di kelas Reva yang tidak pantas menjadi anak kelas 3, termasuk salah satunya adalah Rahma, namun mama nya pun tidak tau. Dan semua yang saya ceritakan membuat beliau shock, sama sekali tidak menyangka anaknya berbuat seperti itu, raut mukanya berubah dan langsung meminta maaf kalau selama ini Rahma sudah merepotkan Reva. Beliau sering ke sekolah bukan tentang kenakalan anaknya namun keingintahuan sejauh mana perkembangan Rahma di sekolah. Kembali beliau membuat pembenaran bahwa mungkin umur Rahma masih kecil, bila sudah cocok dengan 1 orang dia merasa sangat dekat sekali, termasuk berteman dengan Reva ini, selain itu secara mental belum siap di kelas 3, padahal dirumahpun tidak ada Sinetron, hanya buku-buku bacaan dan les Kumon yang harus dikerjakan Rahma, dirumah juga selalu diajarkan tentang Akhlak, jadi istilahnya kalau pendidikan SQ sudah maksimal dilakukan beliau, mama Rahma, tapi entah kenapa EQ nya sangat jeblok, parah menurut saya. Berteman dan bersahabat bukan seperti itu, masih kecil namun sangat possesive hingga membatasi Reva bergaul dengan yang lain, belum tentang memanfaatkan, itu salah!!.
  Alhamdulillah di kelas 3 ini Reva makin Tough, mulai dapat membela diri, menolak dan berkata tidak atas sesuatu yang dia tidak suka, melawan apa yang diperintah Rahma. Reva juga semakin percaya diri atas kemampuannya, di kelas 3 ini pun prestasinya mulai meningkat, kembali ke peringkat 3besar. Di kelas 1 kemarin sudah sempat di 3besar, kelas 2 jeblog hingga peringkat 6, saya tidak ingin menyalahkan siapapun, termasuk Rahma walau sedikit banyak bully itu berpengaruh dalam proses belajar Reva.
  Plong rasanya, semoga mama Rahma dapat mengambil tindakan yang bijaksana demi memperbaiki karakter si anak yang pemarah. Beliau berencana akan berkonsultasi dengan psikolog, kira-kira apa penyebabnya, dan semoga masalah itu segera terselesaikan, kasian Rahma, anak tunggal dan mahal itu sepertinya bermasalah dengan emosinya yang tidak stabil, entah apa yang terjadi di dalam rumah, sehingga dia melampiaskan kekesalannya dan mencari perhatian di sekolah.
  Tantangan buat kita, para orangtua, intinya komunikasi adalah yang utama. Pendidikan SQ, EQ dan IQ yang seimbang adalah harapan kita, teruslah belajar parenting dari mana saja, tiap anak berbeda dan pola pengasuhan pun tiap anakpun akan berbeda. Bagi saya pola pengasuhan terbaik adalah yang sesuai dengan Al-Quran dan Hadist. Kita tidak dapat mensterilkan anak dari pengaruh buruk lingkungan, namun kita dapat membentuk filter sebagai imun penyaring sehingga dapat memilah dan memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Tidak lupa untuk selalu memohon perlindungan kepada Allah baik melalui Doa maupun Sedekah..InsyaAllah anak-anak akan terjaga, baik aqidahnya maupun akhlaknya.

image