Team Archery Sidoarjo goes to POR SD 2017 di Kabupaten Lumajang

“I don’t focus on what I’m up against. I focus on my goals and I try to ignore the rest.” – Venus Williams.

Pagi ini Sabtu (11/11/2017) pk 08.00, kami mengantarkan Reva menuju Kantor Dispora, guna mengikuti event POR SD 2017 yang akan dilaksanakan di Kabupaten Lumajang selama satu minggu yaitu tanggal 13-18 November 2017. Event 2 tahunan ini merupakan ajang pencarian bibit – bibit atlet berprestasi di Jawa Timur. Tahun ini ada 11 cabang olahraga dan 1 cabang ekshibisi meliputi Cabor Atletik, Bola Voli Mini, Bulu Tangkis, Catur, Panahan, Pencak Silat, Renang, Senam, Sepak Takraw, Tenis Lapangan, Tenis Meja dan 1 Cabor Ekshibisi Selam. Reva bersama teman satu tim panahan yang berjumlah 19 dan akan diantar Bis bersama cabor yang lain. Ingin rasanya mengantarkan sendiri menuju Lumajang toh kami mengikuti Bis dari belakang, kami memang berencana akan menginap di Lumajang hingga acara pembukaan POR SD selesai digelar dan akan kembali lagi ke Lumajang saat Reva bertanding. Tim Panahan terdiri dari 19 anak, kategori Standart Bow Putra ada Izaz, Rizqi, Lucky dan Dheo sedangkan Standart Bow Putri ada Putri, Reva, Naura dan Nanda, untuk kategori Compound Putra ada Izaz, Rizqi, Rio dan Bimo, sedangkan Compound Putri hanya Jihan seorang, terakhir kategori Recurve Putra ada Brill, Gabriel, Abror dan Hasan, sedangkan Recurve Putri ada Alifvia, Marsha, Aliya dan Raisa.

Bis tiba di Lumajang sekitar pk 15.00 bersama-sama dengan Cabor lain menginap di Hotel Cantik. Hotel yang sangat sederhana cukup buat anak-anak untuk menginap selama seminggu. Kamar dengan tipe standart untuk berlima, tanpa air hangat, Alhamdulillah masih ada ACnya. Kami meminta extra bed, agar anak-anak bisa sedikit lebih lega untuk tidurnya, dan dijadwalkan secara bergantian untuk tidur sendiri di bawah dengan extra bed.

Reva mungkin sedikit shock dengan ketidaknyamanan ini, apalagi di rumah terbiasa tidur sendiri, ditambah dengan capek yang menumpuk, juga karena periodnya yang berkepanjangan, jadi pusing dan demam membuatnya semakin menderita. Setelah semalam hanya tidur 4 jam, dan coach menyatakan Reva sakit, Minggu pagi langsung kami jemput dan menginap semalam di hotel kami yang lebih manusiawi..hiks. Setelah sarapan pagi di hotel dan tidur cukup, siang hari Coach mengabarkan bahwa Reva harus segera meluncur ke Aula Wana Bhakti dimana sedang ada agenda pemeriksaan keabsahan dokumen Atlet, seperti Akte Kelahiran, Sekolah, Nisn dan Raport. Alhamdulillah kami datang tepat waktu, pemeriksan berjalan dengan lancar dan Reva mendapatkan kartu peserta POR SD.

Alhamdulillah meski banyak drama dengan masalah ketidaknyamanan hotel untuk Atlet, tapi kami selaku orangtua hanya berusaha menerima dengan ikhlas, mungkin Allah sedang memberikan kesempatan walau disertai dengan kesulitan, agar Reva banyak belajar baik tentang berbagi, berempati dan juga arti dari “Qana’ah”. Hari Senin pagi Reva kami antar ke Lapangan, dan dijadwalkan untuk Practice Day, hari dimana para Atlet Panahan mencoba lapangan juga pengecekan alat panah oleh Panitia Lomba. Setting Visir dan sebagainya harus fix hari ini sebagai bekal untuk pertandingan besok. Jadwal untuk Lomba sendiri, Selasa dan Rabu terscedul kategori Compound dan Recurve, sedangkan Standart Bow terjadwal di hari Kamis dan Jumat. Hari Senin siang ini kami berusaha “tega” melepaskan Reva sendiri bersama teman-teman Atletnya di hotel, kami berencana pulang ke rumah hari Selasa dan Rabu karena membagi perhatian dengan kakak dan adiknya juga karena ada pekerjaan yang harus dibereskan, lagipula selain Reva sedang tidak bertanding juga ada Wali Atlet yang bisa dititipi untuk memperhatikan anak-anak.

Hari Rabu malam kami sudah tiba kembali di Lumajang, untuk mensupport penuh kesayangan yang akan bertanding. O ya untuk kategori Compound dan Recurve tidak banyak yang bisa saya ceritakan, yang pasti semua Atlet kontingen Sidoarjo rontok tak bersisa..hiks. Malam ini kami sempatkan mampir hotel Reva untuk melihat keadaannya dan kesiapannya bertanding besok, kami berharap dia sudah sehat 100% karena 2 hari kedepan akan menjadi hari yang sangat berat buatnya.

Hari Kamis pagi pk 06.30 kami sudah tiba di Lapangan, ada beberapa kontingen yang sudah lengkap berada di sana, mereka ini yang penginapannya tidak jauh dari Lapangan, tapi lebih banyak kontingen yang belum tiba termasuk dari Sidoarjo. Pk 07.30 Atlet Sidoarjo berdatangan baik yang akan bertanding maupun yang kemarin bertanding semua hadir sebagai Supporter. Diawali dengan pemasangan perlengkapan Alat Panah maupun Atletnya, kemudian dilanjutkan pemanasan dan di akhiri dengan Doa bersama. Ada tambahan Atlet yang akan bertanding di Kategori Standart Bow ini untuk Putri, ada Marsha dan Alifvia, sedangkan Putra ada Abror dan Hasan, selain untuk memenuhi kuota juga kemungkinan memperluas peluang untuk menang.

Reva mendapatkan nomer urut Peserta 12B, dia berdampingan dengan Atlet Jember (12A) dan Atlet Madiun (12C), mereka bertiga membidik papan target yang sama. Cuaca masih cerah dan hawanya sangat bersahabat, walau perlahan mendungpun datang. Acara segera dimulai tepat pk 08.30 untuk latihan percobaan sebelum masuk ke pertandingan yaitu Standart Bow klasifikasi 40 mt. Tak seberapa lama Akung dan Ochi diantar adek saya datang juga untuk mensupport, dari jauh-jauh hari Akung sudah ngebet ingin menyaksikan langsung pertandingan Reva ini, beliau sangat bersemangat walaupun masih dalam pemulihan akibat Pemasangan Ring di Jantungnya. Seharusnya beliau berdua menginap semalam, berhubung hotel se-Kabupaten Lumajang Sold Out, beliau pun memutuskan untuk berangkat Subuh, kami saja terpaksa menginap di Losmen ala kadarnya sambil mencari hotel lagi untuk malam ini.

Pertandingan di mulai untuk Standart Bow Putri, setelah latian percobaan 2×6, acara di lanjutkan dengan scoring 6×6. Alhamdulillah setelah sport Jantung, hasil Reva sangat baik walau belum termasuk 10 besar, dia sudah nangkring di rangking ke 18 dari 83 peserta se Jawa Timur, dengan Score 210. Acara dilanjutkan Standart Bow Putra klasifikasi 40 mt. Mendung semakin menggelayut manja dan gerimispun datang. Akung dan Ochi memutuskan untuk pulang, kasian juga, cuaca semakin tidak bersahabat panas dingin tidak karuan.

Pertandingan dilanjutkan kembali untuk Standart Bow Putri klasifikasi 30 mt, lagi-lagi Reva berhasil nangkring di peringkat 18, dengan Score 243. Bahkan mengalahkan atlet dari Surabaya, yang nangkring di peringkat 22. Saat itu kebetulan mas Rizal pelatih Reva di Surabaya yang menjadi anggota Panitia sedang menempelkan hasil print out kualifikasi 30 mt sempat ngobrol bareng om Yogi, coach Reva sekarang di Sidoarjo. Mas Rizal, “wah Reva hebat tante, sudah berhasil mengalahkan Gita, tapi benarnya kalo tidak ada masalah KK, Reva ini atlet Surabaya, tidak akan saya berikan ke om Yogi, iya kan om?,” kami tertawa bersamaan. Sempat bertanya ke Reva, seandainya disuruh memilih antara kota kelahirannya dengan kota dimana dia tinggal sekarang, dia akan tetap memilih memperkuat team Sidoarjo, entahlah, Reva sendiri yang tau alasannya.

Klasifikasi dilanjut ke 20 mt, kali ini Score Reva terjun bebas, dia hanya sanggup nangkring di rangking 29. Memang sejak awal Reva sudah pesimis jika bermain di jarak 20 mt, dia merasa score tidak pernah bagus, walaupun secara total apa yang dihasilkan saat pertandingan POR SD ini melampaui scoring yang di lakukan tiap hari Minggu saat TC di Lebo kemarin. Namun Alhamdulillah Putri mencatatkan prestasi untuk klasifikasi 20 mt ini di rangking ke 3, sehingga Sidoarjo pecah telor di cabor Panahan dengan memperoleh satu medali Perunggu. Berhubung cuaca hujan dan menyebabkan acara molor, acara segera di akhiri menjelang Maghrib dengan hasil akhir, Putri (rank 8), Reva (rank 20) dan Nanda (rank 30) lanjut ke 1/16 final, sedangkan Marsha (rank 35), Naura (rank 36) dan Alifvia (rank 49) terpaksa gagal lolos babak kualifikasi. Sedangkan untuk Putra, hanya Izaz dan Rizqi yang kebetulan mendouble Compound, juga Lucky ikut lolos menuju 1/16 final, sedangkan yang lainnya berguguran.

Hari ini Jumat, scedule 1/16 hingga Final untuk perorangan digelar lebih awal, tepat pk 07.30 acara dimulai. Berdasarkan urutan rangking, Reva dipertemukan dengan atlet no 1 Bojonegoro yang berada di rangking 13, yang menurut perhitungan saya kekuatannya nyaris seimbang. Pertandingan aduan ini lumayan membuat sport Jantung, mereka berdua Reva dan Nurfazati bergantian mencatatkan poin, saling balas hingga berakhir Draw, dan kesempatan 1 x tambahan menembak sebanyak 3 x anak panah, dan Reva pun menyerah kalah. Raut sedih dan lunglai menghiasi wajahnya.

Kami tau dia terluka tapi berusaha tegar tanpa tangisan, berbeda dengan teman atletnya bahkan Rizqi yang notabene jam terbangnya tinggi dan laki-laki tanpa malu terus meneteskan airmata. Reva terkulai menahan rasa sakit fisik dan psikis,” Ma, aku pengen muntah, aku tidak enak badan,”. Saya langsung mengantarkan ke lapangan sebelah yang tak terpakai. Reva langsung muntah-muntah sambil menangis, “aku pengen di mobil Ma, aku tidak mau bertanding lagi, “. Naluri sebagai seorang Ibu, membuat saya galau memilih antara disiplin dan kasihsayang. Saya tidak tega melihatnya kesakitan karena terluka, disisi lain saya harus menanamkan arti dari kewajiban dan tanggungjawab. Reva tidak mungkin mundur dari pertandingan Standart Bow Beregu Putri, dia sudah ditunjuk, diberi tanggungjawab oleh Coach untuk maju Beregu antar Kontingen. Meskipun ada Nanda sebagai cadangan tetap Reva yang diutamakan. Untuk Putri sendiri juga harus menelan kekalahan di 1/8 final, harapan besar ada di Kelas Beregu sekarang.

Setelah saya obati sambil memotivasi, semangat Reva perlahan tumbuh kembali. Saya tekankan lagi, bahwa kami orangtuanya tidak pernah membebani untuk menjadi juara, kami hanya ingin Reva belajar mengambil tanggungjawab dan menyelesaikannya dengan baik, mendapatkan ilmu serta pengalaman yang ada tentu tak ternilai harganya. Reva turun dari mobil kembali ke Lapangan tak lama kemudian pertandingan Beregu dimulai.

Di dahului dengan latian percobaan dengan 2 x tembakan. Tembakan pertama Reva hancur lebur tak satupun mengenai target merah apalagi kuning, kami dan coach nya terus memberikan semangat. Pertandingan segera dimulai, tembakan pertama Reva mulai normal kembali, lanjut kedua Reva kian menemukan kekuatannya, dan tembakan ketiga Reva makin sempurna, Kabupaten Lumajang dipaksa bertekuk lutut dengan skor telak 6-0 untuk Sidoarjo, Alhamdulillah. Berhubung hari Jumat istirahat Ishoma menjadi lebih panjang karena ritual Jumatan. Saat ishoma inilah, ada tamu dari DPRD Sidoarjo entah komisi berapa, saya kurang paham sedang berkunjung. Apa yang mereka bicarakan dengan coach Yogi, saya juga tidak terlalu memperhatikannya, hanya dalam hati saya berharap kedepan Sarana Prasarana dan Fasilitas Pengembangan Atlet Sidoarjo dapat lebih diperhatikan kemudian diperbaiki dan terus ditingkatkan. Ishoma selesai dan pertandingan Standart Bow Beregu dilanjutkan kembali, Tim Putri Sidoarjo berhadapan dengan Kabupaten Bojonegoro, dan lagi-lagi dicukur habis dengan skor 6-0. Tim Putri Sidoarjo berhasil masuk Semifinal dan harus menghadapi lawan tangguh yaitu Kabupaten Malang, dan Sidoarjo menyerah kalah dengan skor 5-1. Berikutnya Sidoarjo masih harus berjuang berebut Perunggu melawan kota Malang dibawah guyuran hujan deras, dengan hasil Draw, tambah 1 x tembakan, skor masih sama, hanya selisih di point X (tembakan tepat ditengah target), kamipun kalah, sungguh sangat disayangkan, mengapa Putri yang biasa bermain cantik harus antiklimaks disaat genting..hiks. Allah Maha Besar belum mengijinkan Sidoarjo untuk menang, pasti ada hikmah dibalik semua kejadian. Kabupaten Sidoarjo belum beruntung untuk Beregu, Compound maupun Recurve namun sudah mendapat medali Perunggu untuk Standart Bow klasifikasi 20 mt, tapi tidak untuk Perorangan. Alhamdulillah, masih banyak hal yang perlu disyukuri selain Tim Beregu Putri berhasil meraih peringkat ke 4, walaupun kontingen kami tidak dijagokan, dan yang terpenting adalah Reva banyak belajar bagaimana cara “Berdamai dengan keadaan”, di saat dia jatuh tetap dia harus bisa bangkit kembali,Don’t stop when you’re tired, stop when you’re done. Menjadi Atlet ditempa tidak hanya soal Fisik tapi juga Mental, bagaimana menjaga semangat Sportivitas dapat terus menyala.

Selesai sudah POR SD, Alhamdulillah Allah Azza Wa Jalla telah menghadiahkan kesempatan buat kak Reva mengikuti event yang prestisius ini, padahal belum pernah sekalipun mengikuti turnamen, dan hasilnya sangat membanggakan baik orangtua, Club maupun kabupaten Sidoarjo yang menempatkannya sebagai Atlet no 2 Standart Bow Putri. Banyak pengalaman dan pelajaran berharga yang dapat diambil sebagai bekal untuk Turnamen selanjutnya. Kita jelang POPDA di jenjang SMP ya kak Reva, tetap semangat berlatih, tambah terus jam terbangmu dan jangan mudah menyerah, insyallah kesuksesan segera menghampirimu 🏹🎯 πŸ‘§

“Life is a fight, and in that fight it doesn’t matter how hard you hit or how well you fight. What matters is how hard you can get hit and keep on fighting”.

Advertisements

Sidoarjo Bisa Menang!!!

“Gold medals aren’t really made of gold. They’re made of sweat, determination, and a hard- to-find alloy called guts.” – Dan Gable

Hari ini Jumat (10/11/2017) pk 13.00, terjadwal pelepasan kontingen Sidoarjo dalam acara POR SD dilaksanakan di pendopo Kabupaten oleh bapak Bupati H. Saiful Ilah, SH, M.Hum, setelah melalui rangkaian TC (training center/pemusatan latian), hampir satu bulan dan berakhir hari Kamis kemarin.

Hampir dua minggu kak Reva tidak sekolah, setelah dua minggu sebelumnya juga harus break sebelum jam sekolah berakhir, Alhamdulillahnya jadwal sekolah, seminggu adalah UAT yang berakhir pk 13.00, sedangkan latian TC mulai pk 14.00 hingga Maghrib, seminggu kemudian jadwal Remidial, kak Reva Alhamdulillah tanpa remidi dan bersamaan jadwal TC pk 09.00 hingga Maghrib, jelas tidak bisa sekolah. Setiap Minggu selalu ada jadwal Scoring, 3 x Scoring kak Reva menempati peringkat 2 dan 3 untuk total seluruh kelas yaitu 20m, 30m dan 40m, Alhamdulillah hasil yang membanggakan, mengingat selama ini tidak aktif latihan.

Ada rasa berat meninggalkan sekolah hampir 3 minggu, namun sejauh ini sekolah memang support kegiatan POR SD ini apalagi di tingkat Provinsi, even yang sangat bergengsi, karena nama sekolah ikut promosi gratis. Beberapa kali komunikasi dengan ustadzah kelas kak Reva dan so far hanya ada tanggungan produk yang belum terselesaikan sehingga raport belum bisa diserahkan ke orangtua tepat waktu.

Kak Reva mulai dapat menyesuaikan diri dengan ritme latian yang lumayan berat, semakin lama semakin enjoy dan mencintai olahraga Sunnah ini. Kegalauannya tentang sekolah juga semakin berkurang, apalagi berkali-kali Coach menekankan untuk fokus dengan latian, jangan terlalu kepikiran sekolah, karena Jalur Prestasi sebagai “Golden Ticket” sudah pasti ditangan, tinggal tunjuk saja Sekolah mana yang di mau. Namun kami sepakat Reva masih akan melanjutkan jenjang SMP di SMPI Raudlatul Jannah dengan harapan mendapatkan Beasiswa melalui jalur Non Akademis, ya semoga saja..aamiin

Diakhir TC menjelang pertandingan, bapak Satuman sebagai wakil dari Disporapar yang mengawal cabor Panahan ini memberikan wejangan kepada para wali Atlit untuk dapat dengan legawa menerima semua fasilitas dari Kabupaten baik itu seragam yang berupa tas, sepatu, kaos, training, jaket juga berupa uang ganti lelah TC dan Turnamen besok, bagaimanapun anak-anak sudah diberi kesempatan mendapatkan ilmu juga mengikuti pertandingan bergengsi tingkat provinsi yang tidak semua anak mendapatkannya. Saya pribadi sangat memahami kondisi bangsa ini, yang namanya Atlit memang tidak bisa dijadikan profesi, karena tidak di openi, selain ada batas umur yang relatif pendek juga. Namun kak Reva diuntungkan oleh keadaan, Alhamdulillah kami sebagai orangtua sudah menyiapkan bekal bagi anak-anak kami sebuah perusahaan yang insyaallah dapat diwariskan, bahkan seluruh keluarga support dengan kecintaannya pada olahraga panahan ini, kalaupun Allah memberikan takdir sebagai Atlit, setelah pensiun dia bisa menjadi pelatih dan buka toko olahraga. Pernah kak Reva bertanya, “Ma, apakah tidak ada pelatih panahan perempuan?, kan lebih enak kalo sesama perempuan,”. Jadikan itu motivasi mu nak, suatu saat kamu harus bisa mengisi kekurangan itu, panahan adalah olahraga sunnah Nabi, kamu bisa menjadikannya lebih Syar’i dengan membuka club panahan khusus perempuan, Insyaallah.

Melanjutkan cerita tentang Pelepasan Kontingen Sidoarjo ini, acara di mulai pk 13.00 di Pendopo Dalem, sayangnya berbarengan dengan Demo buruh yang mengambil momen Hari Pahlawan, jalanan rame dan macet, banyak polisi berjaga-jaga disekitaran alun-alun Pendopo. Anak-anak masuk kedalam Pendopo Delta Wibawa sementara kami wali atlit tidak diperkenankan masuk ke dalam. Setelah selesai acara mohon doa restu bapak Bupati, acara dilanjutkan ke Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata untuk mengikuti arahan keberangkatan ke Lumajang besok Sabtu (11/11), Alhamdulillah ternyata anak-anak juga mendapatkan uang saku sebesar rp 600.000, betapa senang hati mereka, walaupun kalau dibandingkan orangtuanya yang habis-habisan mbandani Panahan ini, cuma seujung kuku..huhuhu. Melihat begitu semangatnya kak Reva dan teman-teman untuk menyambut Pertandingan besok di Lumajang, para orangtua juga ikut semangat. Apapun hasilnya, kalian sudah menjalani prosesnya dengan baik, kami bangga Nak. Dan semoga Allah memberikan hasil terbaik yang di Ridhoi-Nya..aamiin

Medali Perunggu untuk Kecamatan Waru

The most important thing I’ve learned about archery is that there is only one archer in the race, and that’s me.”

Alhamdulillah, hari Sabtu (13/10) adalah hari yang sangat menegangkan sekaligus menggembirakan dan merupakan titik awal Reva meraih salah satu prestasi besarnya, yaitu kemenangannya di Porlakab Cabang Olahraga Panahan di kelas 30meter, dengan perolehan 1 medali Perunggu. Medali Perunggu ini salah satu penyumbang untuk Kecamatan Waru di acara Porlakab, yang diadakan oleh Dispora Kabupaten Sidoarjo dalam seminggu ini. Mulai hari Senin pembukaan yang berlangsung hingga Jumat, kecamatan Waru belum satupun Cabang yang menorehkan prestasi, Alhamdulillah Reva memecahkan telor meski hanya Medali Perunggu namun wakil dari pihak Kecamatan sangat bahagia dan mengapresiasi dan terus memotivasi Reva untuk berprestasi mengharumkan Kecamatan Waru. Selain Kecamatan Waru, tentu saja pihak Sekolah Islam Raudlatul Jannah yang ikut berperan menunjuk Reva sebagai salah satu wakil sekolah ikut serta dalam ajang Porlakab turut bergembira, karena dari wakil Sekolah hanya Reva satu-satunya yang berhasil mempersembahkan Medali, begitupula Club Paser yang dalam 3 hari saja melatih Reva juga sangat gembira dengan hasil yang menakjubkan. Sebagai Orangtua tentu saja kamilah yang paling berbahagia, tidak ada satupun target yang kami bebankan kepada Reva, karena kami tau diri Reva terpaksa vakum cukup lama di kelas 6 ini, namun dengan 3x saja berlatih dapat membawa 1 medali, Masyaallah sama sekali diluar dugaan, dan Alhamdulillah lagi-lagi Allah Azza Wa Jalla memberikan rahmat dan karunia-Nya.

Acara Porlakab diadakan di lapangan Lebo dan diagendakan selama 2 hari Jumat dan Sabtu pk 07.00 hingga selesai, jika hari Jumat lomba dapat di selesaikan, maka Sabtu tidak ada kegiatan lanjutan. Reva telah siap untuk sarapan pk 05.00, begitu semangat dan tanpa keluhan, padahal Rabu dan Kamis pk 14.00 hingga maghrib dia terus berlatih untuk menghadapi Porlakab. Tepat pk 06.00 kami berangkat sembari mengantar kak Belva sekolah dan memang dalam satu jurusan. Alhamdulillah pk 06.45 kami telah sampai di Lapangan Lebo, dan hanya terlihat satu petugas Porlakab yang tidak tau menahu tentang acara Panahan, beliau hanya dititipi sebentar oleh pihak panitia, oh baiklah. Anak-anak terbiasa disiplin dengan waktu, walau terkadang orangtuanya sampai harus kepontal-pontal mengikuti mereka, karena kami hafal tipikal orang Indonesia itu jam karet, kecuali Sekolah Raudhatul Jannah yang selalu ontime dengan agenda yang diadakan, mungkin itu yang mendidik anak-anak kami untuk disiplin dengan waktu. Pk 07.30 peserta mulai berdatangan kemudian langsung pemanasan dan tepat pk 08.00 acara panahan dimulai.

Porlakab kali ini diikuti oleh 12 anak laki-laki dan 12 anak perempuan dari 6 kecamatan, antara lain, Waru, Taman, Candi, Wonoayu, Krian dan Sidoarjo kota. Tiap kecamatan bebas untuk mengirimkan berapapun wakilnya, dan kecamatan Waru mengirimkan 6 anak laki dan 5 anak perempuan dan merupakan kecamatan dengan wakil terbanyak, maklum kecamatan Waru ini besar sekali wilayahnya, dibandingkan dengan Krian yang mengirimkan wakil hanya 1 anak perempuan dan kebetulan teman 1 club dengan Reva. Acara lomba Cabor Panahan dibuka oleh bapak Agung, selaku wakil dari Dispora Sidoarjo sekaligus yang memberikan aturan pertandingannya. Kelas panahan dibagi 3, yaitu 40mt, 30mt dan 20mt, untuk semua peserta dengan Stardart Bow melakukan Tembakan sebanyak 6x dan masing-masing melepas 6pc anak panah. Sedangkan 50mt untuk peserta dengan Compound Bow dengan jumlah Tembakan yang sama. Hasil Skor dari Reva sendiri untuk kelas 40mt dengan skor 88 berada di urutan no 5, kelas 30mt dengan skor 156 berada di urutan ke 3 dan terakhir kelas 20mt dengan skor 210 berada di urutan 4. Alhamdulillah untuk semua hasil yang diperoleh Reva, dengan persaingan yang demikian ketat dan latihan yang hanya 3x saja, masih ada Medali yang dapat di persembahkan. Dari deretan pemenang Cabor Panahan ini dapat dilihat urutan 1 dan 2 adalah anak-anak yang sama, sehingga bisa dibuat catatan bahwa kaderisasi atlit Panahan di daerah sangat kurang, selain Panahan adalah olahraga mahal, ekslusivitas membuat olahraga ini jarang diminati, apalagi Pemerintah juga tidak support sama sekali, kondisi lapangan tingkat Kabupaten saja, tampilannya mengenaskan, bahkan info dari ibu dari putra pemenang Emas di 3 kelas, untuk ngopeni lapangan saja harus sumbangan mandiri dari anak didik pengcab Sidoarjo (btw putra beliau sudah latian selama 2 tahun dan memiliki jam terbang yang tinggi, bahkan beberapa kali sudah mendapatkan emas, gitu kq masuk kategori pemula ya..hiks). Itulah mengapa Reva terpaksa ikut Club (swastanya) agar sarana prasarana juga ikut support dan membuat dia nyaman dan semangat mengikuti latian, tapi ya itu tadi harus kuat pendanaan dari orangtua. Jer Basuki Mawa Bea.

Dengan Medali Perunggu ini Reva akan mengikuti TC (training center) guna persiapan ajang tingkat Provinsi mewakili Sidoarjo, dan menurut pak Agung sebagai penanggungjawab Cabor Panahan diawal tadi, yang mengikuti TC adalah peserta dengan skor 1-4 teratas, dan belum tentu yang juara 1 atau 2 yang terkirim karena masih harus melihat hasil TC. Semangat ya Kak Reva, Medali Perunggu pertama yang kamu peroleh semoga menjadi motivasi untuk berprestasi lebih banyak lagi, selalu giat berlatih, jangan mudah putus asa dan jaga ibadah dengan benar dimanapun berada. Semoga Allah Azza Wa Jalla senantiasa meRidhoi cita-cita dan impianmu dimasa mendatang..aamiin

Duta kecamatan Waru di ajang Porlakab

“Some say LIVE, LAUGH, LOVE…but we say RAISE, AIM, SHOOT”

Alhamdulillah, meski sempat terjadi polemik tentang lomba Panahan ini, kesepakatan itu akhirnya tercapai juga. Yach, Coach Reva di sekolah sama sekali tidak cawe-cawe melatih Reva, namun jika Reva membawa salah satu Piala, bukan pelatih Perpani yang harum namanya tapi Coach Eskul Panahan dan Sekolah, itulah yang membuat Pelatih dari Perpani Surabaya merasa tidak dihargai. Sebagai jalan keluar Reva yang selama ini terdaftar sebagai member Perpani Surabaya harus dipindahkan ke Pengcab Sidoarjo terlebih dahulu karena berdasarkan KK dan letak sekolah, kemudian masuk sebagai anggota Club “Paser” dibawah naungan Pengcab Sidoarjo, dengan begitu Reva akan di latih pihak Perpani Sidoarjo dan dipersiapkan lebih banyak untuk even Panahan kota Sidoarjo. Reva mulai berlatih hari Sabtu (07/10) sedangkan jadwal lomba akan di adakan hari Jumat dan Sabtu (13/10-14/10), dan Reva harus bermain di kelas 20m, 30m, 40m, padahal selama ini Reva masih bermain di 10-20m, modal nekad ini namanya, apalagi Reva sempat vakum latian karena sudah kelas 6, karena harus berkonsentrasi menjemput UNAS. Namun karena sekolah memberikan tugas negara, yang mana kesempatan tidak datang dua kali, maka Reva pun siap menerima tantangan tersebut. Memang persiapan UNAS wajib dilakukan tapi bukan berarti mengorbankan hobby yang saat ini tengah ditekuni kak Reva yaitu Panahan, toh masih bisa membagi waktu dengan baik. Tapi saat menghadapi lomba seperti ini, jadwal latihan Reva terpaksa mengganggu jadwal Sekolah juga, karena mepetnya jadwal pertandingan terpaksa latihan harus dikebut. Jika pulang sekolah resmi terjadwal pk 16.00, terpaksa pk 14.00 harus ijin pulang untuk latihan, belum lagi hari Jumat jadwal lomba Panahan pk 07.00 sampai selesai. Semoga saja tampilan Reva tidak terlalu mengecewakan, walaupun tidak menang. Kami sendiri sebagai orangtua tidak mentargetkan Reva harus menang, yang terpenting Reva dapat belajar bagaimana proses yang harus di lalui serta mengambil ilmu dan pengalaman yang ada. Toh, ini lomba Panahan yang pertama kali Reva ikuti, jadi target menang adalah nomer sekian.

Sebenarnya pihak Perpani masih ada ganjalan tentang Coach di Sekolah, namun sambil jalan akan diselesaikan dengan win-win solution. Bagaimanapun besok saat lomba, pelatih club “Paser” (pak Yogi) yang akan mendampingi Reva bukan Coach dari Sekolah. Semua ada hikmahnya, kembali lagi olahraga Panahan saat ini sudah tidak bisa dibuat ekslusif lagi, Perpani harus mau bekerjasama dengan baik dengan pihak Sekolah, selain mereka juga akan diuntungkan dengan jasa marketing gratisan, secara otomatislah siswa yang mencintai panahan akan mendorong orangtua mereka untuk mendukung agar siswa tersebut dapat bergabung dengan Club Panahan, jumlah member yang semakin besar, kesempatan mengkader atlit juga semakin luas, bibit-bibit baru akan bermunculan untuk siap mengharumkan nama bangsa di kancah Internasional. Semoga ^^

Lomba Panahan mewakili Sekolah

You must not only aim right, but draw the bow with all your might.” ~Henry David Thoreau

Hari Senin sepulang sekolah kak Reva mengabarkan bahwa dia ditunjuk untuk mewakili sekolah dalam mengikuti lomba Panahan ditingkat Kabupaten Sidoarjo, Wah..Alhamdulillah. Sebenarnya Reva sendiri belum pernah sempat mengikuti turnamen kelas apapun, tapi kali ini dipaksa untuk bertanding di kelas 20m, 30m dan 40m..Wew, yach karena kesibukan orangtua yang sangat tinggi ini, sulit bagi kami mengatur jadwal, belum lagi kak Belva yang hampir tiap minggu ada saja lomba yang ia ikuti, sebagai modal memperbesar kans diterima jalur undangan PTN nanti. “Bagaimana Ma?,” tanya kak Reva, “Ya gakpapa kak, ikut saja, tidak perlu pasang target karena masih pemula, buat cari pengalaman saja kak, ” jawab saya. Kami berencana mulai intens untuk latian dengan mengajukan les tambahan ke mas Rizal, pelatih privat anak-anak, yang sejak puasa vakum sementara karena kami sedang sibuk mempersiapkan usaha baru. Mas Rizal sejak kemarin ambigu untuk mengiyakan, ternyata ada permasalahan dengan lomba yang diadakan, ijin penyelenggara yang katanya resmi dari pihak Dispora Kabupaten Sidoarjo belum diterima oleh PengCab Sidoarjo (..lhoalah), otomatis mas Rizal juga dilarang untuk memberikan latian intensif. Si Papa pun agak was-was karena menurut mas Rizal ada pendataan peserta yang ikut, kalo Reva pribadi sudah terdaftar resmi anggota Perpani dengan memiliki sertifikat kepemilikan alat Panahan, tapi yang kami takutkan kalo Reva akan terkena sanksi karena mengikuti Lomba “illegal” (hadeuh, mumet). Padahal saat ini kak Reva begitu semangat menerima tantangan ini, dia sangat ingin berprestasi mengharumkan nama Sekolah seperti yang sering kak Belva lakukan.

Panahan merupakan cabang olahraga yang ekslusif selain mahal juga karena termasuk senjata tajam maka kepemilikan harus di awasi, tapi sekarang di tengah masyarakat muslim sedang digalakkan olahraga Panahan sebagai salah satu sunah. Perpani sempat ribut karena sekolah-sekolah Islam banyak menyelenggarakan eskul Panahan padahal Pelatih belum bersertifikasi Perpani, malah belum menjadi anggota, kebanyakan mereka adalah anggota dari organisasi Islam. Dan biasanya alat panah yang digunakan adalah Traditional Bow dengan anak panah yang tidak terlalu tajam, bukan Standart Bow yang digunakan oleh Atlet Panahan. Tehnik memanah juga berbeda, jika Standart Bow menggunakan “keker” untuk membidik dan anak panah diletakkan dibawah dagu, untuk Tradisional Bow anak panah sejajar dengan Mata kita, itu perbedaan yang paling terlihat antar keduanya.

Ya sudahlah, kami hanya bisa menunggu kabar baik dari pihak Sekolah dan Perpani Jawa Timur (mas Rizal) tentang bagaimana kelanjutannya. Semoga kedepan polemik olahraga Panahan ini tidak berlarut-larut, dan Panahan juga bukan lagi olahraga ekslusif tapi dapat dinikmati semua kalangan agar benih-benih atlet semakin banyak bukan itu-itu saja, dan yang pasti ini olahraga “Sunah” yang menyenangkan.

Peta Sukses dan Sidik Jari kak Reva

β€œA good plan is like a road map: it shows the final destination and usually the bestway to get there.”

Hari Sabtu 23/09/17, saatnya menghadiri undangan SLC (student led conference), dimana kak Reva akan mempresentasikan “Peta Sukses”nya di depan kami, orangtuanya. Seperti tahun-tahun sebelumnya agenda SLC ini di adakan setiap tahun sekali di semester awal sekolah, setelah tema “Ourselves” berakhir. Jika jenjang 1-5 mempresentasikan hasil belajar mereka selama tema pertama berjalan maka untuk jenjang 6 lebih kepada rencana atau peta sukses yang ingin di raih di masa mendatang. Kali ini kak Reva mendapat giliran tampil pukul 09.15, Alhamdulillah tepat waktu sesuai dengan jadwal, setiap siswa diberikan kesempatan hanya sekitar 15 menit, termasuk juga dengan evaluasinya. SLC dibuka dengan tilawah Al-Quran yang sudah ditentukan suratnya oleh ustadzah wali kelas, yaitu ustadzah Nina. Selanjutkan kak Reva mempresentasikan peta suksesnya dengan lancar. Setelah itu kami bertiga, kak Reva, saya dan ustadzah mulai mengupas satu persatu, mulai dari target sekolah, kebetulan memang saya dan kak Reva, dan tentu saja termasuk papanya sepakat untuk kembali ke yayasan Raudlatul Jannah untuk jenjang SMPnya, meski dijamin 100% diterima bukan berarti bermalas-malasan, kak Reva sudah menuliskan target nilai yang harus dicapai di kelas 6 ini. Termasuk juga usaha spiritual dalam mencapai target tersebut, kak Reva menuliskan untuk (1).puasa senin-kamis, (2).tahajud setiap malam, (3).berdzikir dan (4).mengaji paling sedikit satu ‘ain, dari ke4 usaha tersebut, so far so good, meski belum istiqomah puasa senin-kamis, namun untuk ibadah yang lain sudah menjadi kebiasaan. Dan target paling akhir yaitu Cita-Cita, kak Reva sudah lebih legawa menerima saran dari sang Mama, yaitu menjadi Pengusaha “Toko”..aamiin. Selanjutnya ustadzah menunjukan raport hasil belajar selama tema Ourselves mendapat nilai “A” secara keseluruhan dan telah melampaui target nilai yang di tetapkan kak Reva, Alhamdulillah. Ustadzah banyak memuji kak Reva yang mandiri dan sangat bertanggungjawab atas semua tugas yang diberikan, sama sekali tidak ada catatan buat kak Reva. Kemudian saya memberanikan diri bertanya soal ranking di kelas, dan seperti biasa sejak sekolah menerapkan kurikulum 13 maka sistem ranking ditiadakan, hanya ustadzah menjamin bahwa kak Reva berada di jajaran atas, Alhamdulillah.

Setelah melihat hasil dan memperhatikan “Peta Sukses” yang telah digambar oleh kak Reva, maka saatnya sang Mama yang menggambar jalan dalam mewujudkan Cita-citanya. Sekitar satu bulan yang lalu pemeriksaan “Sidik Jari” kak Reva sudah selesai dan hasilnya memang sedikit mengejutkan, hasilnya sangat berbeda dengan kedua saudaranya (adek Mika juga sudah ikutan). Jika Belva dan Mika banyak kemiripan hasil, baik itu dominan otak kanan, gaya belajar yang visual, multiple intelegentnya inter dan intra, hingga fakultas yang disarankan seperti kedokteran dan psikologi, maka Reva ini lebih dominan ke otak kiri, gaya belajar yang auditory, multiple intelegent paling tinggi ada di logis matematis hingga fakultas yang disarankan adalah Tehnik. Dan yang paling membuat shock ketiganya tidak ada saran ke fakultas Ekonomi, harusnya bisa sih, kan Reva ini kuat di logis matematis berarti juga bisa ke Ekonomi, namun tak mengapa, bisa saja melalui jalur Tehnik, setelah saya banyak membaca juga ada info dari keponakan yang akan kuliah, fakultas Tehnik Industri sekarang dipecah-pecah dan pecahan salah satunya adalah Tehnik Management Bisnis, yang ternyata mirip dengan fakultas Ekonomi, termasuk didalamnya mempelajari Makro dan Mikro Ekonomi, toh sekarang Tehnologi lebih memegang peranan penting dalam perkembangan bisnis perekonomian sedangkan belajar Ekonomi Marketing bisa kami ajarkan secara otodidak. Kami sebagai orangtua hanya berusaha memberikan yang terbaik untuk anak-anak kami di masa mendatang. Fingers Print adalah salah satu instrumen atau alat pengukur sebagai salah satu bentuk ikhtiar, hasil akhir tetap kami serahkan kepada Allah semata. Setelah SMP yang masih di Raudlatul Jannah selanjutnya SMA akan berburu kelas IPA di Public School saja demi mendapatkan jalur Undangan ( jika sistem masih seperti sekarang), kemudian lanjut kuliah di ITS, sembari terus mengkader kak Reva secara langsung di Toko. Insyaallah ya Nak, semoga apa yang Mama-Papa dan kak Reva ikhtiarkan akan mendapat Ijabah dan keRidhoan dari Allah Azza Wa Jalla agar suatu saat nanti kamu dapat mengambil peran Khalifahmu dengan baik..aamiin

Danica Reva dan TPDS

“Discipline is based on pride, on meticulous attention to details, and on mutual respect and confidence. Discipline must be a habit so ingrained that it is stronger than the excitement of the goal or the fear of failure”.

Alhamdulillah memasuki kelas 6 di jenjang SD ini, kak Reva mendapatkan kepercayaan sebagai anggota TPDS (tim penegak disiplin sekolah). Tim ini dibentuk sebagai penegak disiplin di lingkungan sekolah, mulai dari masuk sekolah hingga pulang sekolah, mereka ditunjuk langsung oleh teman-teman satu kelas, dan tiap kelas menunjuk 2 orang, mulai dari kelas 3 hingga kelas 6. Menjadi anggota TPDS ini merupakan impian buat kak Reva sedari dulu, dan baru terwujud di kelas 6 ini. Batapa bahagia dan bangganya kak Reva, dia akan segera mengenakan kostum TPDS ini dalam waktu dekat.

“Apa kak Rev tidak takut akan punya banyak musuh??,” tanya saya. “Enggaklah Ma, aku sudah siap kq, teman ku yang pernah di TPDS juga berpesan hal yang sama, katanya hati-hati nanti banyak yang gak suka, tapi aku akan hati-hati Ma, aku hanya ingin menjalankan kewajiban sebagai anggota TPDS sebaik mungkin,” jawab kak Reva. Alhamdulillah, kak Reva ini dari kecil memang Fearless dibanding kedua saudara yang lain. Dia tidak secantik dan secemerlang kak Belva, dia hanya sanggup di lima besar, berbeda dengan kak Belva yang selalu jadi jawara. Namun Reva juga cukup membanggakan dengan selalu terpilih untuk mendapatkan “Student Profiles” di tiap jenjangnya, antara lain Taqwa, Independent, Responsibility, dan Creative Innovative. Saking mandirinya sejak kelas 1 SD dia sudah naik sepeda ke sekolah, sedangkan kak Belva baru kelas 3 SD, apalagi adek Mika dia lebih memilih jalan kaki, dan akhirnya kak Reva memilih berjalan kaki menemani adeknya ke sekolah, selain itu karena lahan parkir sepeda di sekolah yang kurang memadai, kurang luas dengan jumlah siswa yang bertambah banyak. Kak Reva juga terpilih sebagai ketua ekstra kurikuler “Panahan” (dia terpilih karena berhasil mengalahkan lawan-lawannya termasuk siswa laki-laki), dan dalam waktu dekat dia akan tampil dalam acara pentas seni tahunan sekolah untuk mewakili sekaligus mempromosikan eskul Panahan, yang memang jarang sekali siswa perempuan yang berminat.

Anak-anak sedari kecil saya biasakan untuk selalu terbuka tentang apasaja, hingga jika terjadi hal-hal yang tidak baik di sekolah, misal bullying, si mama ini akan paling dulu mengetahui dan segera mencari solusi. Sejak dari kelas 5 hingga 6 SD ini kak Reva sering bercerita jika teman-temannya mulai saling tertarik antar lawan jenis, bahkan ada beberapa yang berani Surat-Suratan (Astaghfirullah ini sekolah agama lho ya, apalagi sekolah negeri), anak dari orangtua kategori alim pun bisa terkena virus buruk ini, sebenarnya manusiawi sekali hal ini terjadi pada anak-anak yang mulai memasuki akil baligh, mulai zaman saya sekolah SD dulu juga sudah ada, yang menjadi beban berat tanggungjawab sekolah, apalagi jika orangtua pasrah bongkokan. Alhamdulillah kalo anak-anak kami lebih fokus dalam belajar dan tidak ada drama-dramaan.

Pada awal tahun ajaran baru ini (2017/2018), sekolah membuat kebijakan baru yaitu memisahkan antara siswa laki-laki dan perempuan mulai kelas 4 karena adanya kasus seperti diatas, harapannya dapat mengurangi bahkan menghilangkan virus tersebut. Gosip pemisahan kelas beredar kencang saat libur awal Ramadhan kemarin, saat kembali sekolah menjelang Lebaran saya ingin bertabayun untuk mengetahui secara pasti tentang kebijakan baru tersebut. Ustadzah Lisya selaku wakil kepala sekolah bidang kesiswaan menemui saya dan mencoba berdialog, menurut beliau kebijakan ini sudah lama apalagi ada kasus pacar-pacaran tersebut serta desakan sebagian wali murid. Saya mencoba mendebat, mengapa jika hanya beberapa siswa melakukan kesalahan, siswa yang lain juga harus menerima hukuman berupa kebijakan tersebut, istilahnya beberapa tikus mengobrak-abrik lumbung padi namun justru lumbung padi nya yang di bakar. Sekolah Islam ini berbeda konsep dengan Pesantren yang benar-benar terpisah, pertimbangan kami sendiri menyekolahkan anak-anak ke sekolah Islam ini karena moderat, yang mana mereka masih SD dan masih harus belajar tentang dua jenis kelamin serta bagaimana bargaul sesuai syariat. Menurut saya pribadi, justru saat SD, selain memberikan teori juga cara penerapannya secara langsung, mungkin kalo sudah jenjang SMP beda lagi (untuk jenjang SMP juga diberlakukan kebijakan pemisahan kelas). Selain kesulitan pembagian kuota kelas karena pemisahannya bukan sejak kelas 1, juga resiko nilai UN yang dipertaruhkan, bayangkan saja kelas siswa lebih padat daripada kelas siswi, padahal mereka lebih heboh di kelas, dalam hal ini saya lebih beruntung karena masuk kelas siswa perempuan yang anteng. Pendapat kak Reva sendiri, dia juga tidak setuju dengan kebijakan baru ini, tanpa siswa laki-laki kelas bakal membosankan, karena anak laki itu lucu-lucu, beda dengan anak perempuan yang lebih senang geng-gengan, semacam popular girls, dan obrolannya sok dewasa. Yach sudahlah, kita lihat saja nanti, padahal sih justru dengan pemisahan ini, siswa-siswi yang bermasalah semakin “kepo”, apalagi kantin dalam posisi yang tidak syari, malah jadi tempat janjian, tempat sholat di masjid yang dipisah saja masih intip-intipan, lhah disini tugas dan tanggungjawab kak Reva semakin bertambah besar, dia sebagai anggota TPDS wajib mencatat pelanggaran yang terjadi di sekolah, beserta nama pelanggarnya tentu saja. Tetap semangat yang kak, insyaallah menjadi ladang jihad dan pahala yang besar buat mu..aamiin