Reva Siap Mengikuti Porlakab

“Some say LIVE, LAUGH, LOVE…but we say RAISE, AIM, SHOOT”

Alhamdulillah, meski sempat terjadi polemik tentang lomba Panahan ini, kesepakatan itu akhirnya tercapai juga. Yach, Coach Reva di sekolah sama sekali tidak cawe-cawe melatih Reva, namun jika Reva membawa salah satu Piala, bukan pelatih Perpani yang harum namanya tapi Coach Eskul Panahan dan Sekolah, itulah yang membuat Pelatih dari Perpani Surabaya merasa tidak dihargai. Sebagai jalan keluar Reva yang selama ini terdaftar sebagai member Perpani Surabaya harus dipindahkan ke Pengcab Sidoarjo terlebih dahulu karena berdasarkan KK dan letak sekolah, kemudian masuk sebagai anggota Club “Paser” dibawah naungan Pengcab Sidoarjo, dengan begitu Reva akan di latih pihak Perpani Sidoarjo dan dipersiapkan lebih banyak untuk even Panahan kota Sidoarjo. Reva mulai berlatih hari Sabtu (07/10) sedangkan jadwal lomba akan di adakan hari Jumat dan Sabtu (13/10-14/10), dan Reva harus bermain di kelas 20m, 30m, 40m, padahal selama ini Reva masih bermain di 10-20m, modal nekad ini namanya, apalagi Reva sempat vakum latian karena sudah kelas 6, karena harus berkonsentrasi menjemput UNAS. Namun karena sekolah memberikan tugas negara, yang mana kesempatan tidak datang dua kali, maka Reva pun siap menerima tantangan tersebut. Memang persiapan UNAS wajib dilakukan tapi bukan berarti mengorbankan hobby yang saat ini tengah ditekuni kak Reva yaitu Panahan, toh masih bisa membagi waktu dengan baik. Tapi saat menghadapi lomba seperti ini, jadwal latihan Reva terpaksa mengganggu jadwal Sekolah juga, karena mepetnya jadwal pertandingan terpaksa latihan harus dikebut. Jika pulang sekolah resmi terjadwal pk 16.00, terpaksa pk 14.00 harus ijin pulang untuk latihan, belum lagi hari Jumat jadwal lomba Panahan pk 07.00 sampai selesai. Semoga saja tampilan Reva tidak terlalu mengecewakan, walaupun tidak menang. Kami sendiri sebagai orangtua tidak mentargetkan Reva harus menang, yang terpenting Reva dapat belajar bagaimana proses yang harus di lalui serta mengambil ilmu dan pengalaman yang ada. Toh, ini lomba Panahan yang pertama kali Reva ikuti, jadi target menang adalah nomer sekian.

Sebenarnya pihak Perpani masih ada ganjalan tentang Coach di Sekolah, namun sambil jalan akan diselesaikan dengan win-win solution. Bagaimanapun besok saat lomba, pelatih club “Paser” (pak Yogi) yang akan mendampingi Reva bukan Coach dari Sekolah. Semua ada hikmahnya, kembali lagi olahraga Panahan saat ini sudah tidak bisa dibuat ekslusif lagi, Perpani harus mau bekerjasama dengan baik dengan pihak Sekolah, selain mereka juga akan diuntungkan dengan jasa marketing gratisan, secara otomatislah siswa yang mencintai panahan akan mendorong orangtua mereka untuk mendukung agar siswa tersebut dapat bergabung dengan Club Panahan, jumlah member yang semakin besar, kesempatan mengkader atlit juga semakin luas, bibit-bibit baru akan bermunculan untuk siap mengharumkan nama bangsa di kancah Internasional. Semoga ^^

Advertisements

Lomba Panahan mewakili Sekolah

You must not only aim right, but draw the bow with all your might.” ~Henry David Thoreau

Hari Senin sepulang sekolah kak Reva mengabarkan bahwa dia ditunjuk untuk mewakili sekolah dalam mengikuti lomba Panahan ditingkat Kabupaten Sidoarjo, Wah..Alhamdulillah. Sebenarnya Reva sendiri belum pernah sempat mengikuti turnamen kelas apapun, tapi kali ini dipaksa untuk bertanding di kelas 20m, 30m dan 40m..Wew, yach karena kesibukan orangtua yang sangat tinggi ini, sulit bagi kami mengatur jadwal, belum lagi kak Belva yang hampir tiap minggu ada saja lomba yang ia ikuti, sebagai modal memperbesar kans diterima jalur undangan PTN nanti. “Bagaimana Ma?,” tanya kak Reva, “Ya gakpapa kak, ikut saja, tidak perlu pasang target karena masih pemula, buat cari pengalaman saja kak, ” jawab saya. Kami berencana mulai intens untuk latian dengan mengajukan les tambahan ke mas Rizal, pelatih privat anak-anak, yang sejak puasa vakum sementara karena kami sedang sibuk mempersiapkan usaha baru. Mas Rizal sejak kemarin ambigu untuk mengiyakan, ternyata ada permasalahan dengan lomba yang diadakan, ijin penyelenggara yang katanya resmi dari pihak Dispora Kabupaten Sidoarjo belum diterima oleh PengCab Sidoarjo (..lhoalah), otomatis mas Rizal juga dilarang untuk memberikan latian intensif. Si Papa pun agak was-was karena menurut mas Rizal ada pendataan peserta yang ikut, kalo Reva pribadi sudah terdaftar resmi anggota Perpani dengan memiliki sertifikat kepemilikan alat Panahan, tapi yang kami takutkan kalo Reva akan terkena sanksi karena mengikuti Lomba “illegal” (hadeuh, mumet). Padahal saat ini kak Reva begitu semangat menerima tantangan ini, dia sangat ingin berprestasi mengharumkan nama Sekolah seperti yang sering kak Belva lakukan.

Panahan merupakan cabang olahraga yang ekslusif selain mahal juga karena termasuk senjata tajam maka kepemilikan harus di awasi, tapi sekarang di tengah masyarakat muslim sedang digalakkan olahraga Panahan sebagai salah satu sunah. Perpani sempat ribut karena sekolah-sekolah Islam banyak menyelenggarakan eskul Panahan padahal Pelatih belum bersertifikasi Perpani, malah belum menjadi anggota, kebanyakan mereka adalah anggota dari organisasi Islam. Dan biasanya alat panah yang digunakan adalah Traditional Bow dengan anak panah yang tidak terlalu tajam, bukan Standart Bow yang digunakan oleh Atlet Panahan. Tehnik memanah juga berbeda, jika Standart Bow menggunakan “keker” untuk membidik dan anak panah diletakkan dibawah dagu, untuk Tradisional Bow anak panah sejajar dengan Mata kita, itu perbedaan yang paling terlihat antar keduanya.

Ya sudahlah, kami hanya bisa menunggu kabar baik dari pihak Sekolah dan Perpani Jawa Timur (mas Rizal) tentang bagaimana kelanjutannya. Semoga kedepan polemik olahraga Panahan ini tidak berlarut-larut, dan Panahan juga bukan lagi olahraga ekslusif tapi dapat dinikmati semua kalangan agar benih-benih atlet semakin banyak bukan itu-itu saja, dan yang pasti ini olahraga “Sunah” yang menyenangkan.

Peta Sukses dan Sidik Jari kak Reva

“A good plan is like a road map: it shows the final destination and usually the bestway to get there.”

Hari Sabtu 23/09/17, saatnya menghadiri undangan SLC (student led conference), dimana kak Reva akan mempresentasikan “Peta Sukses”nya di depan kami, orangtuanya. Seperti tahun-tahun sebelumnya agenda SLC ini di adakan setiap tahun sekali di semester awal sekolah, setelah tema “Ourselves” berakhir. Jika jenjang 1-5 mempresentasikan hasil belajar mereka selama tema pertama berjalan maka untuk jenjang 6 lebih kepada rencana atau peta sukses yang ingin di raih di masa mendatang. Kali ini kak Reva mendapat giliran tampil pukul 09.15, Alhamdulillah tepat waktu sesuai dengan jadwal, setiap siswa diberikan kesempatan hanya sekitar 15 menit, termasuk juga dengan evaluasinya. SLC dibuka dengan tilawah Al-Quran yang sudah ditentukan suratnya oleh ustadzah wali kelas, yaitu ustadzah Nina. Selanjutkan kak Reva mempresentasikan peta suksesnya dengan lancar. Setelah itu kami bertiga, kak Reva, saya dan ustadzah mulai mengupas satu persatu, mulai dari target sekolah, kebetulan memang saya dan kak Reva, dan tentu saja termasuk papanya sepakat untuk kembali ke yayasan Raudlatul Jannah untuk jenjang SMPnya, meski dijamin 100% diterima bukan berarti bermalas-malasan, kak Reva sudah menuliskan target nilai yang harus dicapai di kelas 6 ini. Termasuk juga usaha spiritual dalam mencapai target tersebut, kak Reva menuliskan untuk (1).puasa senin-kamis, (2).tahajud setiap malam, (3).berdzikir dan (4).mengaji paling sedikit satu ‘ain, dari ke4 usaha tersebut, so far so good, meski belum istiqomah puasa senin-kamis, namun untuk ibadah yang lain sudah menjadi kebiasaan. Dan target paling akhir yaitu Cita-Cita, kak Reva sudah lebih legawa menerima saran dari sang Mama, yaitu menjadi Pengusaha “Toko”..aamiin. Selanjutnya ustadzah menunjukan raport hasil belajar selama tema Ourselves mendapat nilai “A” secara keseluruhan dan telah melampaui target nilai yang di tetapkan kak Reva, Alhamdulillah. Ustadzah banyak memuji kak Reva yang mandiri dan sangat bertanggungjawab atas semua tugas yang diberikan, sama sekali tidak ada catatan buat kak Reva. Kemudian saya memberanikan diri bertanya soal ranking di kelas, dan seperti biasa sejak sekolah menerapkan kurikulum 13 maka sistem ranking ditiadakan, hanya ustadzah menjamin bahwa kak Reva berada di jajaran atas, Alhamdulillah.

Setelah melihat hasil dan memperhatikan “Peta Sukses” yang telah digambar oleh kak Reva, maka saatnya sang Mama yang menggambar jalan dalam mewujudkan Cita-citanya. Sekitar satu bulan yang lalu pemeriksaan “Sidik Jari” kak Reva sudah selesai dan hasilnya memang sedikit mengejutkan, hasilnya sangat berbeda dengan kedua saudaranya (adek Mika juga sudah ikutan). Jika Belva dan Mika banyak kemiripan hasil, baik itu dominan otak kanan, gaya belajar yang visual, multiple intelegentnya inter dan intra, hingga fakultas yang disarankan seperti kedokteran dan psikologi, maka Reva ini lebih dominan ke otak kiri, gaya belajar yang auditory, multiple intelegent paling tinggi ada di logis matematis hingga fakultas yang disarankan adalah Tehnik. Dan yang paling membuat shock ketiganya tidak ada saran ke fakultas Ekonomi, harusnya bisa sih, kan Reva ini kuat di logis matematis berarti juga bisa ke Ekonomi, namun tak mengapa, bisa saja melalui jalur Tehnik, setelah saya banyak membaca juga ada info dari keponakan yang akan kuliah, fakultas Tehnik Industri sekarang dipecah-pecah dan pecahan salah satunya adalah Tehnik Management Bisnis, yang ternyata mirip dengan fakultas Ekonomi, termasuk didalamnya mempelajari Makro dan Mikro Ekonomi, toh sekarang Tehnologi lebih memegang peranan penting dalam perkembangan bisnis perekonomian sedangkan belajar Ekonomi Marketing bisa kami ajarkan secara otodidak. Kami sebagai orangtua hanya berusaha memberikan yang terbaik untuk anak-anak kami di masa mendatang. Fingers Print adalah salah satu instrumen atau alat pengukur sebagai salah satu bentuk ikhtiar, hasil akhir tetap kami serahkan kepada Allah semata. Setelah SMP yang masih di Raudlatul Jannah selanjutnya SMA akan berburu kelas IPA di Public School saja demi mendapatkan jalur Undangan ( jika sistem masih seperti sekarang), kemudian lanjut kuliah di ITS, sembari terus mengkader kak Reva secara langsung di Toko. Insyaallah ya Nak, semoga apa yang Mama-Papa dan kak Reva ikhtiarkan akan mendapat Ijabah dan keRidhoan dari Allah Azza Wa Jalla agar suatu saat nanti kamu dapat mengambil peran Khalifahmu dengan baik..aamiin

Danica Reva dan TPDS

“Discipline is based on pride, on meticulous attention to details, and on mutual respect and confidence. Discipline must be a habit so ingrained that it is stronger than the excitement of the goal or the fear of failure”.

Alhamdulillah memasuki kelas 6 di jenjang SD ini, kak Reva mendapatkan kepercayaan sebagai anggota TPDS (tim penegak disiplin sekolah). Tim ini dibentuk sebagai penegak disiplin di lingkungan sekolah, mulai dari masuk sekolah hingga pulang sekolah, mereka ditunjuk langsung oleh teman-teman satu kelas, dan tiap kelas menunjuk 2 orang, mulai dari kelas 3 hingga kelas 6. Menjadi anggota TPDS ini merupakan impian buat kak Reva sedari dulu, dan baru terwujud di kelas 6 ini. Batapa bahagia dan bangganya kak Reva, dia akan segera mengenakan kostum TPDS ini dalam waktu dekat.

“Apa kak Rev tidak takut akan punya banyak musuh??,” tanya saya. “Enggaklah Ma, aku sudah siap kq, teman ku yang pernah di TPDS juga berpesan hal yang sama, katanya hati-hati nanti banyak yang gak suka, tapi aku akan hati-hati Ma, aku hanya ingin menjalankan kewajiban sebagai anggota TPDS sebaik mungkin,” jawab kak Reva. Alhamdulillah, kak Reva ini dari kecil memang Fearless dibanding kedua saudara yang lain. Dia tidak secantik dan secemerlang kak Belva, dia hanya sanggup di lima besar, berbeda dengan kak Belva yang selalu jadi jawara. Namun Reva juga cukup membanggakan dengan selalu terpilih untuk mendapatkan “Student Profiles” di tiap jenjangnya, antara lain Taqwa, Independent, Responsibility, dan Creative Innovative. Saking mandirinya sejak kelas 1 SD dia sudah naik sepeda ke sekolah, sedangkan kak Belva baru kelas 3 SD, apalagi adek Mika dia lebih memilih jalan kaki, dan akhirnya kak Reva memilih berjalan kaki menemani adeknya ke sekolah, selain itu karena lahan parkir sepeda di sekolah yang kurang memadai, kurang luas dengan jumlah siswa yang bertambah banyak. Kak Reva juga terpilih sebagai ketua ekstra kurikuler “Panahan” (dia terpilih karena berhasil mengalahkan lawan-lawannya termasuk siswa laki-laki), dan dalam waktu dekat dia akan tampil dalam acara pentas seni tahunan sekolah untuk mewakili sekaligus mempromosikan eskul Panahan, yang memang jarang sekali siswa perempuan yang berminat.

Anak-anak sedari kecil saya biasakan untuk selalu terbuka tentang apasaja, hingga jika terjadi hal-hal yang tidak baik di sekolah, misal bullying, si mama ini akan paling dulu mengetahui dan segera mencari solusi. Sejak dari kelas 5 hingga 6 SD ini kak Reva sering bercerita jika teman-temannya mulai saling tertarik antar lawan jenis, bahkan ada beberapa yang berani Surat-Suratan (Astaghfirullah ini sekolah agama lho ya, apalagi sekolah negeri), anak dari orangtua kategori alim pun bisa terkena virus buruk ini, sebenarnya manusiawi sekali hal ini terjadi pada anak-anak yang mulai memasuki akil baligh, mulai zaman saya sekolah SD dulu juga sudah ada, yang menjadi beban berat tanggungjawab sekolah, apalagi jika orangtua pasrah bongkokan. Alhamdulillah kalo anak-anak kami lebih fokus dalam belajar dan tidak ada drama-dramaan.

Pada awal tahun ajaran baru ini (2017/2018), sekolah membuat kebijakan baru yaitu memisahkan antara siswa laki-laki dan perempuan mulai kelas 4 karena adanya kasus seperti diatas, harapannya dapat mengurangi bahkan menghilangkan virus tersebut. Gosip pemisahan kelas beredar kencang saat libur awal Ramadhan kemarin, saat kembali sekolah menjelang Lebaran saya ingin bertabayun untuk mengetahui secara pasti tentang kebijakan baru tersebut. Ustadzah Lisya selaku wakil kepala sekolah bidang kesiswaan menemui saya dan mencoba berdialog, menurut beliau kebijakan ini sudah lama apalagi ada kasus pacar-pacaran tersebut serta desakan sebagian wali murid. Saya mencoba mendebat, mengapa jika hanya beberapa siswa melakukan kesalahan, siswa yang lain juga harus menerima hukuman berupa kebijakan tersebut, istilahnya beberapa tikus mengobrak-abrik lumbung padi namun justru lumbung padi nya yang di bakar. Sekolah Islam ini berbeda konsep dengan Pesantren yang benar-benar terpisah, pertimbangan kami sendiri menyekolahkan anak-anak ke sekolah Islam ini karena moderat, yang mana mereka masih SD dan masih harus belajar tentang dua jenis kelamin serta bagaimana bargaul sesuai syariat. Menurut saya pribadi, justru saat SD, selain memberikan teori juga cara penerapannya secara langsung, mungkin kalo sudah jenjang SMP beda lagi (untuk jenjang SMP juga diberlakukan kebijakan pemisahan kelas). Selain kesulitan pembagian kuota kelas karena pemisahannya bukan sejak kelas 1, juga resiko nilai UN yang dipertaruhkan, bayangkan saja kelas siswa lebih padat daripada kelas siswi, padahal mereka lebih heboh di kelas, dalam hal ini saya lebih beruntung karena masuk kelas siswa perempuan yang anteng. Pendapat kak Reva sendiri, dia juga tidak setuju dengan kebijakan baru ini, tanpa siswa laki-laki kelas bakal membosankan, karena anak laki itu lucu-lucu, beda dengan anak perempuan yang lebih senang geng-gengan, semacam popular girls, dan obrolannya sok dewasa. Yach sudahlah, kita lihat saja nanti, padahal sih justru dengan pemisahan ini, siswa-siswi yang bermasalah semakin “kepo”, apalagi kantin dalam posisi yang tidak syari, malah jadi tempat janjian, tempat sholat di masjid yang dipisah saja masih intip-intipan, lhah disini tugas dan tanggungjawab kak Reva semakin bertambah besar, dia sebagai anggota TPDS wajib mencatat pelanggaran yang terjadi di sekolah, beserta nama pelanggarnya tentu saja. Tetap semangat yang kak, insyaallah menjadi ladang jihad dan pahala yang besar buat mu..aamiin

Danica and Friend in RJMB 2016

  Sabtu pagi (06/02), kembali kak Rev (Danica Najaah Syareefa) menjajal peruntungan di ajang pencarian bakat di sekolah bernama RJMB “Raudhatul Jannah Mencari Bakat”. Sebenarnya kak Rev tidak terlalu berminat dengan ajang ini, dia masih sedikit trauma dengan kegagalannya saat final diajang yang sama 2tahun lalu, tepatnya di kelas 2. Akibat paksaan wali kelasnya, ustadzah Sundari, kak Rev pun menyanggupi, karena sudah pernah mengikuti ajang ini dan mencapai final maka kak Rev tidak boleh lagi mendaftar solo sebagai keyboardist, harus dengan konsep “duo/band” dengan menggandeng vocalist.
  Hmm..menemukan vocalist yang tepat tentu tidak semudah membalik tangan..hiks. Syarat yang diberikan ustadzah Sundari agar mencari teman duo terdekat dari rumah sehingga memudahkan dalam latihan. Padahal menurut saya, kak Rev harus menyediakan waktu lebih untuk menentukan vocalist, kebetulan saat ajang bakat yang dulu banyak vocalist bertebaran, harusnya kak Rev menggandeng salah satu dari mereka, sayang tidak satupun dari mereka yang tinggal dekat dengan rumah.

image

  Terpilihlah nama Desty, teman sejak toddler kak Rev yang kebetulan saat di SD ini barusaja dipertemukan kembali dalam satu kelas di 4C. Rumah Desty tidaklah jauh, kami berada dalam satu komplek perumahan berbeda blok. Menurut kak Rev, saat kecil dulu Desty sempat mengikuti les vocal, namun lebih banyak mengikuti ajang fashion show, pastinya Desty terbiasa menguasai panggung, harapannya kalo jadi vocalist dia harus tampil atraktif (baca: endel..hehehe).
  Tepat seminggu sebelum audisi, kak Dewi, guru les musik anak-anak memberikan lagu “Let it Go”, mengajari hanya dalam 1x itu saja, selanjutnya kak Rev dan Desty belajar sendiri. Waktu yang hanya seminggu tadi mungkin hal yang mudah buat kak Rev dalam memainkan keyboardnya, walau kak Rev sendiri sudah vakum les keyboard lebih dari setahun. Tapi tidak dengan Desty, lagu ost Frozen ini, cukup sulit dihafalkan dan memiliki range oktaf yang luas..hiks. Finally, dengan inisiatif saya sendiri, terpaksa verse dan bridge hanya dimainkan masing-masing sekali dan untuk chorus diulang hingga 2x, terdengar aneh..pasti, namun tetap optimis.

image

  Tibalah hari yang dinanti, audisi berlangsung dengan konsep yang berbeda dengan 2tahun lalu, dimana semua bakat dijadikan satu, kali ini dibeda-bedakan, antara musik, gambar, drama, karya ilmiah, komedi, komik dll, hal ini dikarenakan peserta yang semakin bertambah seiring bertambahnya murid sekolah Raudlatul Jannah. Kak Rev dan Desty termasuk dalam kategori “Musik”, dimana mereka harus menghadapi pesaing sebanyak 20an peserta, dengan latarbelakang berbeda-beda, ada pianis, drummer, angklung, keybordist dan Kak Rev merupakan satu-satunya peserta Duo. Sembari menunggu antrian tampil, saya pun beredar, sambil melihat kans kak Rev diajang ini, mempersiapkan mentalnya agar tidak down seperti 2tahun lalu. Dan ternyata, konsep RJMB telah berubah dengan meniadakan semifinal, setelah audisi, 2minggu setelahnya langsung final, meaning???..rontoknya peserta jelas dalam jumlah besar, padahal disaat yang sama peserta meningkat, persaingan semakin ketat, sedangkan latian tidak maksimal (hanya satu minggu). Melanjutkan obrolan dengan sang EO acara RJMB, menurut beliau hal ini disebabkan agenda sekolah yang semakin padat, ada lomba-lomba baru yang harus segera dilaksanakan, seperti English Competition (oh..i see).
  Saat melihat mereka tampil tidak maksimal, vocalist tampak tegang dan tidak banyak bergerak (baca: demam panggung), membuat ciut nyali, maklum latihan hanya satu minggu, apalagi konsep RJMB terbaru akan semakin memperkecil kans kak Rev dan Desty.
  Pesan Mama, tetaplah optimis dan tetap semangat ya nak, jika tahun ini gagal, tahun depan kita coba lagi dengan mempersiapkan segala sesuatunya lebih awal, banyak berlatih dan jangan lupa untuk berdoa.

Keberhasilan dicapai oleh orang yang pantang menyerah, yang selalu bangkit dan mencoba lagi walau berkali-kali terjatuh. #hikmah

Varicella menyapa kembali

  Jumat sore (20/11/2015), sepulang bersepeda bersama teman-teman, kak Reva mengeluhkan punggungnya yang pedih,” Ma, sepertinya punggung ku ada yang aneh, gatal dan pedih”. Hmm..ternyata Virus satu itu kembali berkunjung setelah februari lalu sudah menyerang adek Mika,..duh. “Besok kita ke dokter Ika ya kak, untuk memastikan apakah ini cacar air, apa teman sekelas ada yang sudah terkena??,” tanya saya. “Iya ma, Aurel, barusaja sembuh dan sudah sekolah lagi,” jawab kak Reva. Yach..sudahlah, yang membuat tertular malah teman kak Reva, bukan adek Mika.

image

  Disaat yang sama, kesehatan saya pun sedikit terganggu, flu disertai batuk, alergi juga sedang kambuh, ya Allah..semoga saya tidak tertular, kak Belva juga belum pernah. Mengunjungi dr.Ika hanya diberikan bedak dan vitamin, memang virus Varicella tidak ada obatnya, hanya memperkuat antibody agar virus tidak menyerang tubuh terlalu parah dan segera sembuh. Dan kamipun menambahkan salep Acyclovir dengan harapan cacar air lebih cepat kering.
  Kak Reva lumayan rewel, disaat si mama juga kurang fit harus merawat anak sakit, minta di elus-elus terus karena gatal, juga pedih. Jika kemaren adek Mika hanya sedikit, kak Reva justru lebih banyak cacar air yang keluar. Mungkin kak Reva juga sedang drop, sehingga virus lebih mudah menyerang. Keluhan kak Reva yang semakin menjadi, rewel tiada henti, duh Gusti, sedangkan saya sendiri dalam kondisi yang tidak sehat, benar-benar menguji kesabaran. Banyak nasehat buat kak Reva agar ikhlas menerima semua takdir berupa sakit Cacar air, kebetulan anak-anak sekolah di sekolah Agama, paling tidak mereka juga telah banyak belajar, bagaimana kita mengImani Takdir, bersabar mengahadapi dan mengurangi keluhan, bukankah sakit juga merupakan sarana mengurangi Dosa. “Perbanyak istighfar kak, sakitnya dinikmati, ikhlas dan jangan banyak mengeluh, kak Reva kan sudah lebih besar dari adek Mika, masak lebih rewel sich, malu sama adek dong, sabar ya nak..InsyaAllah sakitnya tidak lama kq, paling 5hari saja, tinggal mengeringnya yang agak lama, banyak berdoa, mohon kesembuhan dari Allah ya,” nasehat saya sembari tersenyum dan mengelus-elus tubuhnya menggunakan puff bedaknya.

“Allahumma rabbanasi adzhibil ba’sa wasy fihu. Wa antas Syaafi, laa syifaa-a illa syifaauka, syifaa-an laa yughadiru saqomaa”
“Ya Allah, Rabb manusia, hilangkanlah kesusahan dan berilah dia kesembuhan, Engkau Zat Yang Maha Menyembuhkan. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit lain” (HR Bukhari dan Muslim)

Siswa Teladan di kelas Delapan

  Hari Sabtu, 13 juni 2015 adalah hari paling sibuk sedunia buat kami, menghadiri undangan di 3 tempat yang berbeda, hari ini merupakan hari dibaginya rapor anak-anak secara berbarengan. Undangan special performance kak Belva Tahfidz Qur’an juz 30 dan juz 1 yang diacara wisuda kelas 9, raportan kak Reva sekaligus wisuda adek Mika, seandainya bisa membelah diri tentu akan hadir di 3 tempat tersebut bersamaan. Resiko anak berada dalam 1 yayasan perguruan Islam, yaitu SMP, SD dan TK, karena acara juga tidak hanya diadakan di sekolah.
  Pagi itu, tepat pukul 06.30 kami berempat berangkat menuju sekolah kak Belva (sedangkan Belva sudah berangkat lebih dulu pukul 06.00 dengan bersepeda). Sekolah yang sangat baru, kelulusan wisuda kelas 9 angkatan ke 3 diadakan secara sederhana di sekolah. Kami tiba acara Tahfidz telah dimulai, dan di panggung telah ada 3 orang hafidz juz 30, termasuk kak Belva hafidz dan ditambah juz 1. Tahfidz ini merupakan kurikulum baru di sekolah kak Belva, masih barusaja berjalan satu semester, acara kali ini tujuannya juga untuk memperkenalkan kepada para wali murid. Setelah juz 30 selesai dilantunkan secara bergantian, giliran kak belva tampil sendiri melanjutkan hafalan juz 1, dan dalam acara tersebut saya juga diberi tugas untuk memberi pancingan bacaan ayat agar diteruskan oleh kak Belva. Alhamdulillah, acara berlangsung dengan sukses, kak Belva hafal juz 30 dan juz 1 dengan sempurna..MasyaAllah, bangga nya kami, orangtua mu Nak. Tiada henti nya rasa syukur saya panjatkan dalam hati, semoga kamu dapat istiqomah menghafalkan dan menjaga hafalan Quran hingga akhir nanti. Kami berempat tidak dapat berlama-lama untuk mengikuti acara wisuda hingga selesai, padahal dalam agenda tersebut kak Belva akan menerima penghargaan sebagai satu-satunya hafidz juz 1 dan sebagai siswa teladan di kelas 8. Saya hanya menitipkan pada ustadz/dzahnya agar dapat didokumentasikan.
  Melanjutkan perjalanan menuju gedung Departemen Agama untuk menghadiri acara wisuda adek Mika. Alhamdulillah kami belum terlambat, karena scedul acara Studen Profil ada di pukul 08.30. Tahun ini, di akhir sekolah TK B, adek Mika kembali memperoleh Student Profile Thinker. Student Profile merupakan kelebihan/kecerdasan yang menonjol dan ada 8 kecerdasan, yang sebagian saja saya hafal, seperti thinker, independent, responsibility, visioner dll. Sejak PG, adek Mika selalu mendapatkan student profile Thinker, karena menurut ustadzah, Mika kritis tapi bukan cerewet, fokus dan tenang, salah satu contoh kritisnya adalah bagaimana ia membenarkan cara mencuci tangan yang dicontohkan ustadzah, contoh lain seperti sering menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang berat. Mendengarkan ustadzah bercerita tentang Mika hanya dapat geleng-geleng kepala, tapi memang tidak jauh beda dengan kebiasaannya dirumah. Dilanjutkan acara tampilan-tampilan ekstrakulikuler, dan adek Mika tampil dalam acara Marching Band. Mika berada dibagian drum snare, Alhamdulillah tampilan adek Mika dan geng sangat memuaskan. Dari semua tampilan yang ada, memang Marching Band yang paling Cetar Membahana (mama yang narsis). Pesan mama untuk adek Mika di kelas 1 nanti semoga lebih tekun belajar, dapat bersosialisasi lebih baik dan terus pberprestasi..aamiin
  Selasai dengan acara adek Mika, kami berempat langsung menuju ke sekolah kak Reva untuk mengambil Raport kelas 3 ini. Kak Reva sudah merasa nilai raportnya turun, karena kelas 3 sedikit lebih berat juga adaptasi dari pulang pukul 2 siang menjadi pukul 4 sore. Langsung masuk kelas tanpa mengantri karena jam menunjukan hampir jam 12 siang sudah sepi, mengobrol sebentar dengan ustadz/dzah wali, bagaimana Reva dikelas dan menyinggung sedikit tentang rangking. Ustadzah Dini menerangkan bahwa persaingan di kelas 3B ini sangat ketat karena di huni banyak anak pintar, dan sudah diketahui untuk kurikulum 2013 tidak diperkenankan ada rangking, karena kebetulan juga tiap tematik anak didik yang menonjol secara bergantian. Tidak ada seorang anakpun secara absolut menguasai semua tema, namun bergantian, itulah sebabnya wali kelas juga tidak dapat memberikan peringkat karena anak didik memiliki kecerdasan yang berbeda. Namun saya tak cukup puas, dengan nilai Reva rata-rata 91, berapakah nilai tertinggi dikelas?? Jadi saya bisa mengira-ngira keberadaan anak saya, diatas, ditengah atau dibawah?? Sebagai orangtua tentu saya mengetahui sejauh mana dia memahami pelajaran di sekolah dan saya juga memiliki standart tersendiri untuk memacu prestasi anak. Alhamdulillah kak Reva ada di rata-rata atas walau bukan yang terbaik. Pesan mama buat kak Reva, di kelas 4 nanti lebih tekun belajar dan tetap berprestasi..aamiin
  Handphone saya terus berdering, diseberang kak Belva tak henti-hentinya merajuk agar saya segera mengambil raport karena jam sudah menunjukkan pukul 1 siang, kamipun segera kembali ke sekolah kak Belva. Sampai dikelas kak Belva, ternyata masih harus mengantri 3 wali murid lagi, dan tibalah giliran saya untuk mengambil raport. Alhamdulillah nilai raport seperti biasanya, semoga masih yang terbaik, karena sama dengan wali kelas kak Reva, beliau juga tidak dapat menginformasikan rangking untuk kelas 8 ini. Yang pasti penghargaan sebagai siswa teladan ada ditangan kak Belva..Alhamdulillah. Hmm..lantas bagaimana nasip beasiswa kak Belva bukankah SPP selalu bayar separuh dengan syarat ranking pertama di kelas, jika tidak mengetahui rangkingnya bagaimana?, ustadzah hanya tersenyum, menyarankan saya untuk langsung bertanya di bagian keuangan saja. Yayaya..semoga masih yang terbaik ya kak Belva. Pesan mama buat kak Belva di kelas 9, semoga istiqomah dengan hafalan Qurannya, target lulus sudah membawa hafalan 5 juz, tekun belajar dan dapat terus berprestasi, serta dapat membagi waktu dengan baik antara kewajiban dirumah dan disekolah..aamiin