Exploration and Communication Reva-Mika

  Hari Sabtu (13/03/2016) sekolah anak-anak, kak Reva dan adek Mika menjalankan agenda tahunan yaitu “Exploration and Communication Project”. EnC ini merupakan ajang mempresentasikan hasil belajar anak-anak selama satu Tema terakhir yang dipelajari. Kebetulan scedule kedua kakak beradik ini hampir bersamaan, kak Reva terjadwal paling awal yaitu pk.07.30, sedangkan adek Mika pk.08.00. Karena jadwal yang berdekatan, akan berpotensi membelah diri jika tidak membawa partner a.k.a soulmate (..halah). Alhamdulillah hubby tidak sedang padat merayap dengan urusan pekerjaan, sebagai sarana training, karena tugas mendampingi adek Mika sebagai anak lelaki satu-satunya, sang papa harus lebih banyak berperan, lagi pula sebentar lagi kak Belva akan lulus dari yayasan yang sama, tentunya saya tidak dapat membagi diri untuk ketiga nya seperti yang selama ini saya lakukan, jika di SMA nanti, kakak ada undangan dengan waktu yang bersamaan tentu kami harus bekerjasama dengan baik.
  Tepat pk.07.15 kami berempat berangkat, cukup berjalan kaki dari rumah ke sekolah, kami langsung menuju kelas kak Reva yang terjadwal lebih dulu untuk tampil. Pk.07.45 anggota kelompok barusaja lengkap dan otomatis waktu yang disediakan 30 menit itu harus siap-siap terpotong 15 menit, atau kalaupun saya yang harus siap-siap meninggalkan tempat untuk pindah ke kelas adek Mika, karena terjadwal pk.08.00. Alhamdulillah dengan 15 menit tersebut kak Reva and Friends dapat menyelesaikan tugas EnC mereka yang berjudul “Siapa yang paling Penting”. Mereka menceritakan ilmu yang mereka peroleh baik mapel PKN, IPA, IPS, Math, dan bahasa Indonesia secara terintegrasi (tematik berdasarkan K13) dalam sebuah Drama tentang pentingnya kandungan Karbohidrat, Vitamin dan Mineral dalam bahan makanan.

  Tepat pk.08.05 kami berempat segera berpindah tempat menuju kelas adek Mika dan semua anggota kelompok sudah siap untuk tampil. Segera ustadzah memulai acara dengan menjelaskan alasan dan tujuan EnC dilaksanakan, selain sarana untuk memberanikan diri unjuk gigi, juga sarana berlatih mempresentasikan hasil belajar, itu yang paling utama. EnC bagi adek Mika yang masih kelas 1 ini memang yang pertama. Adek Mika and Friends ini mengusung tema “The Little Chef” yang masih berkaitan dengan tema terakhir yang mereka pelajari yaitu Entrepreneurship. Sebelum mereka mempresentasikan cara membuat Es Lilin, mereka awali dengan bacaan salah satu surat dalam Al’Quran, yaitu QS Al-Asr, Alhamdulillah lancar. Selesai mereka menjelaskan, saat membuat Es Lilin tersebut, para mama dipersilahkan membantu dan bekerjasama dengan anak-anak, itulah kenapa rekaman video jadi terputus, karena si papa tidak melanjutkan rekaman, saat si mama harus tampil ke depan (..hiks).

  Alhamdulillah rasa syukur dan bangga melihat anak-anak begitu semangat dan menguasai materi pelajaran yang mereka pelajari. Semoga ilmu-ilmu ini tetap abadi dalam ingatan kalian, karena akan selalu berguna dalam kehidupan kalian sampai kapanpun. Terimakasih kak Reva dan adek Mika, sudah menyajikan tampilan terbaik kalian.

Danica and Friend in RJMB 2016

  Sabtu pagi (06/02), kembali kak Rev (Danica Najaah Syareefa) menjajal peruntungan di ajang pencarian bakat di sekolah bernama RJMB “Raudhatul Jannah Mencari Bakat”. Sebenarnya kak Rev tidak terlalu berminat dengan ajang ini, dia masih sedikit trauma dengan kegagalannya saat final diajang yang sama 2tahun lalu, tepatnya di kelas 2. Akibat paksaan wali kelasnya, ustadzah Sundari, kak Rev pun menyanggupi, karena sudah pernah mengikuti ajang ini dan mencapai final maka kak Rev tidak boleh lagi mendaftar solo sebagai keyboardist, harus dengan konsep “duo/band” dengan menggandeng vocalist.
  Hmm..menemukan vocalist yang tepat tentu tidak semudah membalik tangan..hiks. Syarat yang diberikan ustadzah Sundari agar mencari teman duo terdekat dari rumah sehingga memudahkan dalam latihan. Padahal menurut saya, kak Rev harus menyediakan waktu lebih untuk menentukan vocalist, kebetulan saat ajang bakat yang dulu banyak vocalist bertebaran, harusnya kak Rev menggandeng salah satu dari mereka, sayang tidak satupun dari mereka yang tinggal dekat dengan rumah.

image

  Terpilihlah nama Desty, teman sejak toddler kak Rev yang kebetulan saat di SD ini barusaja dipertemukan kembali dalam satu kelas di 4C. Rumah Desty tidaklah jauh, kami berada dalam satu komplek perumahan berbeda blok. Menurut kak Rev, saat kecil dulu Desty sempat mengikuti les vocal, namun lebih banyak mengikuti ajang fashion show, pastinya Desty terbiasa menguasai panggung, harapannya kalo jadi vocalist dia harus tampil atraktif (baca: endel..hehehe).
  Tepat seminggu sebelum audisi, kak Dewi, guru les musik anak-anak memberikan lagu “Let it Go”, mengajari hanya dalam 1x itu saja, selanjutnya kak Rev dan Desty belajar sendiri. Waktu yang hanya seminggu tadi mungkin hal yang mudah buat kak Rev dalam memainkan keyboardnya, walau kak Rev sendiri sudah vakum les keyboard lebih dari setahun. Tapi tidak dengan Desty, lagu ost Frozen ini, cukup sulit dihafalkan dan memiliki range oktaf yang luas..hiks. Finally, dengan inisiatif saya sendiri, terpaksa verse dan bridge hanya dimainkan masing-masing sekali dan untuk chorus diulang hingga 2x, terdengar aneh..pasti, namun tetap optimis.

image

  Tibalah hari yang dinanti, audisi berlangsung dengan konsep yang berbeda dengan 2tahun lalu, dimana semua bakat dijadikan satu, kali ini dibeda-bedakan, antara musik, gambar, drama, karya ilmiah, komedi, komik dll, hal ini dikarenakan peserta yang semakin bertambah seiring bertambahnya murid sekolah Raudlatul Jannah. Kak Rev dan Desty termasuk dalam kategori “Musik”, dimana mereka harus menghadapi pesaing sebanyak 20an peserta, dengan latarbelakang berbeda-beda, ada pianis, drummer, angklung, keybordist dan Kak Rev merupakan satu-satunya peserta Duo. Sembari menunggu antrian tampil, saya pun beredar, sambil melihat kans kak Rev diajang ini, mempersiapkan mentalnya agar tidak down seperti 2tahun lalu. Dan ternyata, konsep RJMB telah berubah dengan meniadakan semifinal, setelah audisi, 2minggu setelahnya langsung final, meaning???..rontoknya peserta jelas dalam jumlah besar, padahal disaat yang sama peserta meningkat, persaingan semakin ketat, sedangkan latian tidak maksimal (hanya satu minggu). Melanjutkan obrolan dengan sang EO acara RJMB, menurut beliau hal ini disebabkan agenda sekolah yang semakin padat, ada lomba-lomba baru yang harus segera dilaksanakan, seperti English Competition (oh..i see).
  Saat melihat mereka tampil tidak maksimal, vocalist tampak tegang dan tidak banyak bergerak (baca: demam panggung), membuat ciut nyali, maklum latihan hanya satu minggu, apalagi konsep RJMB terbaru akan semakin memperkecil kans kak Rev dan Desty.
  Pesan Mama, tetaplah optimis dan tetap semangat ya nak, jika tahun ini gagal, tahun depan kita coba lagi dengan mempersiapkan segala sesuatunya lebih awal, banyak berlatih dan jangan lupa untuk berdoa.

Keberhasilan dicapai oleh orang yang pantang menyerah, yang selalu bangkit dan mencoba lagi walau berkali-kali terjatuh. #hikmah

Memilih SD terbaik untuk adek Mika

  Bulan Februari telah berlalu, dimana hampir semua teman Mika yang ada di TK B telah melakukan Observasi sebagai syarat wajib untuk melanjutkan jenjang SD di Perguruan Islam yang sama dengan TK. Memasuki bulan Maret dan masih berusaha sabar menunggu hasil Psikotest yang terakhir dilaksanakan pertengahan Februari lalu, demi membuat keputusan terbaik untuk Mika. Selain kurang Mandiri, Mika juga sangat malas menulis, sebenarnya tidak ada kendala dalam nilai Akademis dan secara emosi Mika juga cukup stabil, jauh dari kata trouble maker di kelas. Ada 4orang anak yang orangtuanya memutuskan tetap mengulang di TK B, karena feeling insecure dengan faktor usia, akademis dan kemandirian. Memang seorang ibu pasti merasa paling tau akan kebutuhan dan kemampuan anaknya, meski psikolog menyarankan sedemikian rupa tetap tidak akan menggoyahkan kuatnya niat, salut dengan ibu-ibu yang memiliki prinsip kuat untuk lebih memilih mematangkan si anak di jenjang TK daripada memaksakan memasuki SD dengan beban..*dan sementara itu saya masih Galau dengan Mika..hiks*
  Mika merupakan anak bontot dan anak lelaki satu-satunya dalam keluarga kecil kami itu nantinya tepat berumur 6,5th saat memasuki jenjang SD, rasanya baru saja saya melahirkannya dengan berat 2,7kg dan panjang 49cm (paling imut dibandingkan 2kakak perempuannya). Melihat Mika yang masih belum mandiri dan ogah-ogahan sekolah, sempat berfikir untuk belajar dengan sistem HomeSchooling, Mika sangat mudah untuk diajari, dia merasa lebih nyaman belajar diRumah, tapi sekolah dan belajar bukan tentang nilai akademis saja, Mika membutuhkan lifeskill dan bersosialisasi, dan yang terpenting tentang penanaman akidah dan akhlak yang terus terang sebagai orang tua kami merasa kurang. Untuk itulah kami mantap melanjutkan pendidikan Mika di Perguruan Islam yang sama dengan beberapa alasan mendasar, selain Visi dan Misi yang selaras dengan kami sebagai orang tua yang menghendaki Mika menjadi anak yang Cerdas dan Berakhlak Mulia juga karena SD ini merupakan kelanjutan dari TKnya, sehingga kurikulum dapat berkesinambungan. Alhamdulillah, Allah Azza Wa Jalla memberikan KaruniaNya berupa Rumah yang dekat dengan tempat Usaha kami, juga dekat dengan Sekolah anak-anak, yaitu masih dalam satu komplek perumahan dan merupakan Perguruan Islam yang sangat Modern dan cukup Representatif di daerah kami, dengan harapan anak-anak berangkat dan pulang sendiri dengan bersepeda sehingga lebih mandiri, kami juga merasa lebih aman, karena lalu lintas tidak begitu ramai dan penjagaan sekuriti cukup baik. Memilihkan Sekolah buat anak-anak kami yang Terbaik bukan berarti yang terFavorite atau terMahal, kami menyadari sekolah tidak tentang hari ini saja masih ada hari esok, dan kami ingin menyiapkan bekal, baik secara spiritual juga financial yang terbaik untuk Masa Depan anak-anak kami. Di samping itu kami sangat puas dengan hasil pendidikan di PI Raudlatul Jannah, karena telah terbukti hasilnya pada kedua kakak Mika yang juga mengenyam pendidikan disana, kak Reva di SD dan kak Belva ada di SMP, kebetulan kami juga tidak memFavoritkan sekolah Negeri, karena tujuan kami menginginkan anak-anak yang Qurrota A’yun, Shalih dan Shalihah, tidak sekedar cerdas akademis saja, kami sadar akan kekurangan dalam hal ilmu agama sehingga kami tidak dapat mengajari anak-anak kami dengan baik. Namun setiap ilmu yang diajarkan di Sekolah, kami selaku orang tua wajib segera bersinergi dan menyelaraskan pendidikan dirumah agar tidak terjadi ambigu pada anak-anak kami.
  Mencoba memantapkan niat, berusaha agar adek Mika dapat melanjutkan ke SD tanpa mengulang, walau masih banyak kekurangan yang harus dikejar, kemandirian terus dilatih, motorik halus terus diasah, jadwal sholat terus ditertibkan, semoga mama dan papa kuat, sabar dan istiqomah membimbingmu Nak. Perbedaan anak perempuan dan laki-laki semakin terasa disaat harus mengajari kedua kakak perempuan dibandingkan adek laki-laki, harus telaten dan extra sabar. Selain menunggu hasil test Psikologi, mama juga akan menggunakan jurus Langit, meminta langsung kepada Allah yang menciptakanmu nak, semoga mama semakin mantap dan apa yang mama dan papa usahakan akan mendapatkan Ridho-Nya. Doa mama dan papa, semoga Observasi adek Mika berhasil lulus dan dapat memasuki Sekolah Dasar dengan mudah dan lancar, semakin berprestasi dan mandiri, berTaqwa kepada Allah, berAkhlak Mulia, berBakti pada Orangtua dan kelak akan menjadi Pribadi yang berManfaat bagi Sesama..aamiin

image

“Perencanaan perlu dilakukan, persiapan perlu dikerjakan, selanjutnya melangkah penuh kepasrahan kepada-Nya. Semoga yang terbaik akan dihasilkan”