Profil Tamu di Buletin SmpI RJ

image

  Sebuah kehormatan terpilih sebagai Profil Tamu Buletin Smp RJ edisi kedua. Inilah hasil wawancara ustadzah Ari (A) dengan saya (B)

(A): Bagaimana peran orang tua khususnya ibu dalam mendidik putra/putri di era globalisasi?

  (B): Anak-anak sekarang dikenal dengan sebutan Generasi Z, mereka lahir dan dibesarkan di era digital, dengan aneka teknologi yang komplet nan canggih, sehingga mereka sangat melek tentang Tehnologi Informasi, khususnya Internet, mau tidak mau orang tua pun harus memaksakan diri untuk belajar tantang IT. Karena pada dasarnya saya suka sekali hal-hal mengenai IT, saya pun dengan senang hati mempelajarinya selain saya memang hoby berselancar di dunia maya, social media buzzer istilahnya, sangking banyaknya akun medsos yang saya miliki..hehehe. Salah satu cara saya mendidik anak untuk menghadapi arus globalisasi ini antara lain memberikan batasan Do and Don’t sebelum saya memberikan henset berbasis Android sebagai alat komunikasi dan internet. Android itupun sebelum saya berikan juga telah saya setting sedemikian rupa dan pastikan bahwa hp tersebut sudah aman untuk di pakai, salah satunya, filtering konten google, apply store dan youtube dengan memilih Strict, agar informasi, game, hal-hal yang tidak kita inginkan tidak terjadi, anak-anak tetap save menggunakannya. Yang kedua Belva kebetulan hanya memiliki dan tertarik medsos Twitter, akun dia saya cantolkan di Bio dan saling follow agar lebih mudah memantau kegiatannya di medsos tersebut. Dan sudah seharusnya jika anak memiliki akun di medsos orangtua wajib memilikinya juga. Sebelum Belva bermain Twitter, sekali lagi saya tekankan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan di Medsos, Alhamdulillah selama ini Belva sangat bertanggungjawab. Selain itu kami memutuskan tidak memiliki Tab, karena menurut kami lebih banyak mudharatnya dan lebih memilih menggunakan Laptop yang diletakkan di kamar kami, dengan harapan dapat terus memantau situs-situs apa yang diakses oleh anak.

image

(A): Bagaimana prinsip ibu dlm mendidik putra/ putri?

  (B): Boleh dibilang saya sangat moderat, untuk hal aqidah, akhlak dan ibadah lebih saya tekankan, disaat saya dan suami dirumah, saya usahakan untuk sholat berjamaah, sedangkan untuk hal-hal seperti belajar saya tidak terlalu menekan mereka harus belajar setiap hari, kalau mengaji termasuk yang wajib dilakukan setiap hari walaupun hanya sebentar atau berupa murottal, karena belajar bukan hanya tentang nilai-nilai akademis, namun juga tentang belajar hal-hal yang lain, mengembangkan bakat mereka misalnya. Saya melihat anak-anak sudah sekolah hingga sore saya tidak memaksa harus les ini dan itu, hanya les musik saja sebagai penyeimbang agar mereka tidak mudah stress, itupun satu minggu sekali.

(A): Bagaimana cara ibu mengatur waktu antara kerja dan mendidik anak?

  (B): Alhamdulillah, saya seorang entrepreneur yang memiliki waktu kerja yang sangat flexible, sehingga disaat anak-anak membutuhkan saya kapanpun saya dapat berada disisi mereka. Paling penting adalah komunikasi, semenjak kecil saya biasakan mereka untuk bercerita selain saya sendiri membacakan buku cerita untuk mereka, karena hal itu dapat menjadi kebiasaan, sehari saja mereka tidak bercerita rasanya akan berbeda, komunikasi setiap saat dapat melalui telefon, messenger semacam bbm, wa ataupun sms. Mungkin hanya sekedar melaporkan nilai mereka di sekolah, bercerita tentang kegiatan dan kejadian di sekolah hari ini. Jika Komunikasi itu lancar, bounding tercipta dengan baik, hal-hal yang tidak kita inginkan dapat kita cegah. Mari menjadi Sahabat terdekat anak kita.

(A): Bagaimana menurut pandangan ibu sistem pendidikan di Smp RJ?

  (B): Menurut saya, Smp RJ sebagai sekolah yang masih sangat Baru, sudah cukup baik, terutama dalam pendidikan aqidah dan akhlak, rutinitas sholat wajib dan sunah, mengaji, hafalan surat dan doa, serta bagaimana tata cara berinteraksi dengan lawan jenis non mahram secara syari. Lagipula namanya sekolah dimanapun ada lebih dan kurang apalagi sebagai sekolah baru, saya melihat guru-guru yang masih muda-muda ini kurang jam terbang, mungkin sementara guru-guru di mapel UNAS lebih diutamakan kompetensi dan senioritasnya, bukan bermaksud mengkasta-kastakan mata pelajaran lho, tapi paling tidak nilai UNAS yang dicapai anak didik bisa lebih baik setiap tahunnya, dan itu akan berkorelasi positif dengan nilai Sekolah dimata masyarakat, itu harapan saya.

(A): Apakah sudah sesuai dengan ibu?

  (B): Alhamdulillah, sejauh ini sesuai-sesuai saja, karena memang saya sudah memiliki kepuasan atas pendidikan di jenjang sebelumnya di yayasan yang sama. Dan saya secara sadar dan ikhlas menitipkan ananda Belva di Smp RJ ini, kalaupun ada kekurangan sebisa mungkin saya juga akan menutupi dengan pendidikan di rumah. InsyaAllah  

image

(A): Menurut ibu, bagaimana menyikapi permasalahan remaja sekarang?

  (B): Pada dasarnya semua permasalahan remaja timbul karena orang tua kurang ilmu dan perhatian dengan perubahan-perubahan yang ada baik perubahan anak kita maupun perubahan lingkungan di sekitar anak kita, insyaAllah jika orang tua mau belajar terutama ilmu parenting, bagaimana menyikapi anak di masa teenager, transisi ataupun puber ini permasalahan tidak akan berlarut-larut. Jangan lupa anak adalah amanah yang wajib kita jaga dengan cara apapun juga, perbanyak ilmu dan bersedekah sebagai sarana pelindung bagi buah hati kita.

(A): Hukuman apa yang sesuai dengan remaja jika melanggar peraturan?

  (B): Hukuman merupakan konsekuensi atas pelanggaran yang dilakukan. Setiap sekolah memiliki standart dan aturan yang berbeda-beda, tentu dengan status sekolah Islam mungkin hukuman bisa lebih berat dari sekolah umum karena kita menganut hukum syariah. Jika pelanggaran itu berat semisal pacaran lebih baik hukuman melibatkan orangtua, berkoordinasi dalam menentukan hukuman yang membuat jera, contohnya orangtua mencabut semua fasilitas seperti no tv, no game, no gadget atau apalah yang anak sukai dan tidak dapat hidup tanpanya, itu menurut saya lho..hehehe

(A): Apakah ada masukan untuk sistem pendidikan di Smp RJ?

  (B): Penting untuk dicermati karena masih kategori sekolah baru, turnover guru masih cukup tinggi, tentunya akan mengganggu kelangsungan proses belajar mengajar sedangkan untuk kurikulum saya sudah cukup puas karena masih berkesinambungan dengan jenjang sebelumnya.

(A): Manfaat apa yang sudah ananda dapatkan setelah 2tahun belajar di Smp RJ?

   (B): Alhamdulillah Belva semakin percaya diri, terimakasih atas kesempatan dan kepercayaan SMP RJ sudah mengikutsertakan Belva dalam perlombaan yang berhubungan dengan passionnya, serta keorganisasian seperti OSIS, seperti yang saya harapkan selama ini, selain nilai akademis yang bagus juga non akademis harus lebih ditingkatkan demi menghadapi Masa Depannya.

(A): Mengapa ibu memilih Smp RJ?

  (B): Sebelum benar-benar mantap memilihkan SmpI Raudlatul Jannah, selain sholat hajat/istikharah sebagai jurus langit meminta petunjuk langsung kepada Allah SWT, saya menggali banyak ilmu tentang parenting, education dan financial juga. Salah satunya ulasan ahli psikologi yaitu bunda Romi yang menyarankan untuk tidak silau pada label sekolah favorit. Karena dalam memilih kurikulum sekolah, ada beberapa hal yang harus diperhatikan;
(1).visi dan misi orang tua, karena kami lebih menekankan pendidikan agama sebagai pondasi pendidikan anak, Shalih/hah adalah harga mati, maka Belva wajib kembali ke sekolah Islam..
(2).melihat jangka panjang, apakah sekolah berkesinambungan dari mulai jenjang dasar, menengah dan seterusnya, alasan ke2 bagi kami untuk kembali ke almamater sekolah Belva yang lama..
(3).financial, sebagai orang tua kami mencoba realistis, sekolah tidak hanya sampai jenjang SMP saja, masih banyak jenjang dan kebutuhan sarana prasarana sebagai penunjang passion di luar sekolah yang wajib kami sediakan, belum lagi biaya pendidikan yang terus merangkak naik seiring inflasi,..Alhamdulillah Belva memiliki kesempatan memperoleh Beasiswa 100% dan tentu saja anugerah ini harus kami manfaatkan dengan baik..
(4).jarak, seperti yang pernah saya baca tentang tips memilih sekolah dari motivator mindful parenting Melly Kiong, faktor yang paling utama dalam memilih sekolah adalah jarak rumah ke sekolah, karena mulai dari anak bangun tidur, cara orangtua membangunkan mereka itu stress sudah dimulai, belum lagi irama teriakan dipagi hari yang menyakitkan kuping anak, belum lagi perjalanan macet jauh dan masih ngantuk, sampai sekolah telat dapat sanksi. Kebayang anak harus belajar dengan stress yang tak terkendali. belum lagi tekanan harus juara, nilai terbaik, Sekali lagi sekolah yang dekat akan memberikan peluang kita untuk lebih mengerti kebutuhan anak-anak kita, dan kita dapat mengerti siapa yang sedang bergaul dengan anak-anak kita dan apa yang sedang trend dalam pergaulan mereka. Mari belajar sadar dan selalu kembangkan kesadaran itu…Alhamdulillah jarak rumah dengan Sekolah Belva yang baru sangat dekat, cukup bersepeda saja, dengan terhindarnya dari rasa capek berlebihan diharapkan Belva dapat memanfaatkan waktu luangkan demi mengembangkan passionnya..
(5).kurikulum dan fasilitas yang ditawarkan. Apa yang akan dilakukan selama setahun ke depan, apa saja yang akan diperoleh anak, dan bagaimana cara mengevaluasi belajar anak. Kenali juga guru-gurunya, apakah gurunya punya passion untuk mengajar, cara mengajarnya seperti apa, apakah guru mengajak anak menjadi kreatif atau tidak.. Karena kami sebagai orang tua sudah sangat puas dengan hasil pendidikan sekolah selama di SD sudah sangat wajar jika kami memilih jenjang berikutnya di Almamater yang sama, karena kami sangat mengenal kurikulum yang diterapkan, fasilitas, dedikasi dan loyalitas para guru, Bodohlah kami jika ingin gambling menyekolahkan ke sekolah yang sama sekali baru sedangkan yang lama sudah memberikan hasil terbaik..
(6).cocok di hati anak, Belva sangat welcome dengan pilihan kami orang tua nya, mungkin karena sebelumnya telah kami berikan wawasan dan kami ajak berdiskusi..Alhamdulillah
Sekali lagi, saya kutip dari Mindful Parenting “Pilihlah sekolah dengan best output, yang membuat anak-anak kita dari tidak bisa apa-apa menjadi bisa, bukan best input yang membawa anak masuk dalam kondisi yang mengharuskan mereka berkompetisi dengan melupakan tahap perkembangan sosialisasinya”

Orang tua adalah Guru Sejati, Sekolah adalah sarana Pengganti

Advertisements