Don’t Go with the Flow, Just Be the Flow

  Sabtu, 06 juni 2015 lalu sekolah anak-anak mengadakan seminar Smart Parenting yang mengundang Bapak Prof.Dr.Muhammad Nuh, DEA, mantan mendiknas kita, dengan tema seminar “Menyongsong Indonesia di Era Keemasan 2045”. Sayang sekali saya terlambat hadir, karena satu-dua hal, sebenarnya terbiasa ontime, namun kali ini terlambat hingga satu setengah jam. Saat Bapak Nuh mendapat giliran, saya telah terlambat setengah jam, beliau sangat ontime karena memang scedul padat merayap, selesai berceramah langsung ijin meninggalkan tempat guna memenuhi undangan ditempat yang lain. Dari ceramah yang beliau sampaikan bukan tentang tehnisnya bagaimana cara mendidik anak yang baik dan benar, karena memang beliau bukan ahli Parenting, namun beliau lebih bercerita tentang bagaimana Indonesia sekarang dan nanti di tahun 2045 (saat satu abad kemerdekaan). Berdasarkan data-data, penelitian dari berbagai sumber, juga pengalaman beliau sebagai pendidik mulai dosen, kemudian rektor dan terakhir sebagai Mendiknas. Beliau bercerita banyak tentang kebutuhan, tantangan dan hambatan pendidikan di Indonesia, bagaimana visi dan misi beliau hingga kemudian lahirlah Kurikulum 2013 sebagai wujud cita-cita beliau dalam memperbaiki pendidikan di Indonesia. Pendidikan karakter adalah yang utama, bagaimana menciptakan anak-anak yang tidak saja cerdas namun juga berkarakter, jujur, empati, cerdas dan kreatif (ngomong-ngomong mirip dengan slogan sekolah anak-anak nih “Generasi Cerdas Berakhlak Mulia”..hehehe). Sekolah anak-anak sejak awal kurikulum 2013 diberlakukan, telah turut serta mensukseskan yaitu segera diterapkan untuk menggantikan kurikulum KTSP secara total, karena pada dasarnya meski menggunakan KTSP sekolah juga menggunakan konsep tematik, sehingga tidak ada kesulitan berarti dalam penerapan kurikulum 2013.
  Selain ceramah dari bapak Nuh, sekolah juga telah siap membagikan semua keperluan Wali Murid Baru, untuk persiapan masuk tahun ajaran baru meliputi TK, SD dan SMP. Kebetulan adek Mika sudah akan masuk SD, saya termasuk kategori Wali Murid Baru untuk angkatan 2015/2016 ini, meski sudah senior, karena kedua kakaknya telah lebih dulu masuk Sekolah yang sama. Alhamdulillah, sesuai request dari saya, Mika akan sekelas lagi dengan Rafa, dan Alhamdulillah lagi, wali kelas nya adalah ustadzah Dewi yang sudah saya kenal lama beserta track recordnya, karena sempat juga menjadi wali kelas kak Belva dan beliau juga pelanggan setia toko kami..hihihi. Walau kelas yang telah dibagikan tersebut sifatnya sementara, harapan saya pribadi, kalaupun ada perubahan semoga adek Mika tetap dikelas yang sama dengan Rafa.
  Senin pagi ini bertemu dengan mama-mama mengobrolkan tentang kelas baru dan walikelas, tak lupa mereka juga mengolok-olok saya karena menganggap terlalu intervensi dalam pemilihan teman untuk adek Mika. Duh, walau sebenarnya sudah sering dicemooh dengan berbagai ocehan mama-mama ini, saya hanya tanggapi santai bin dingin saja. Kita sebagai orangtua wajib mengetahui apa lebih dan kurang anak kita, apa yang terbaik buat mereka dan apa yang lebih dibutuhkan mereka, saya tidak ambil peduli dengan cemooh. Sejak awal menyekolahkan anak-anak, saya berjanji pada diri sendiri untuk selalu terlibat dalam pendidikan dan pengasuhan, baik disekolah dan dirumah agar tersinergi dengan baik. Mika, anak lelaki bontot satu-satunya di keluarga kami, memiliki sifat kurang dapat bersosialisasi, hampir memiliki kesamaan dengan kak Belva, hingga saat TK B, Mika masih sering trouble dengan masalah sosialisasi, saat observasi masuk SD pun saya harus mengalah masuk ke kelas, agar Mika mau bergabung dengan anak-anak yang lain yang juga akan diobservasi. Ada pemakluman dalam diri, Mika masih harus dibantu, sama seperti kak Belva dulu saat memasuki kelas 1 SD, saya juga request ke sekolah untuk memberikan teman dekat saat di TK agar nantinya tidak ada trouble, sehingga proses adaptasi lingkungan dan pembelajaran SD akan berjalan dengan lancar. Membayangkan harus ikut masuk kelas dan bersekolah sangatlah menakutkan buat saya, hal-hal seperti inilah yang harus saya persiapkan. Setelah menginjak kelas 2, kak Belva sudah lebih mandiri dan dapat bersosialisasi dengan baik, perlakuan dan harapan yang sama untuk adek Mika. Semua perlakuan khusus tadi tidak berlaku untuk kak Reva, karena sedari kecil dia sangat independent dan dapat bersosialisasi dengan sangat baik, bahkan saat di kelas 1 pun, tidak ada teman perempuan saat di TK yang sekelas dengannya, otomatis dia harus melalui proses berkenalan dengan teman-teman yang baru, dan kak Reva berhasil. Intervensi bagi saya sah-sah saja, apalagi demi menunjang keberhasilan anak-anak, “I’m not the Go with the Flow type” dengan pasrah bongkokan ke sekolah, sehingga saat anak-anak mengalami trouble harus meratapi penyesalan. Dalam hal apapun itu, yang melakukan persiapan akan lebih baik daripada yang membiarkan saja apa yang akan terjadi, terjadilah.
  Hingga detik ini, mapping-mapping pendidikan anak telah kami persiapkan, mungkin saya lebih aktif daripada hubby, namun saya juga berkomunikasi lancar dengannya tentang semua impian saya terhadap pendidikan anak-anak. Sejak dini saya mengharuskan anak-anak memiliki Cita-Cita, dengan Cita-Cita itu kita dapat menggambar apa saja yang harus dipersiapkan, baik pendidikan, financial, sarana dan prasarana penunjang. Kebetulan kak Belva sudah memantabkan diri untuk menjadi seorang dokter, kak Reva kemungkinan besar akan meneruskan usaha kami sebagai pengusaha, dan adek Mika terobsesi menjadi seorang Polisi. Mapping yang saya lakukan untuk kak Belva, mulai saat memilihkan SMP yang masih baru dan hampir tidak terdengar (padahal disaat yang lain para orangtua berlomba-lomba memilih sekolah favorite atau branded, saat itupun saya banyak menerima cemooh) karena yang saya inginkan kak Belva dapat dibentuk disekolah ini, dan sejauh ini sudah sangat berhasil, setahun lagi akan melanjutkan SMA karena dia tidak ingin masuk sekolah negeri, kami sudah persiapkan SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo (salah satu swasta Islam terbaik di Sidoarjo). Harapannya ialah saat dia memutuskan masuk Fak.Kedokteran dan tidak lolos masuk negeri seperti Unair atau Brawijaya (realistis dengan banyaknya persaingan), FK Universitas Muhammadiyah Malang adalah alternatif pilihan kami, karena selain Muhammadiyah memiliki jaringan Rumah Sakit PKU yang tersebar dimana-mana (untuk pilihan KKN) juga karena UMM adalah termasuk 10 PTS terbaik seIndonesia, juga terakriditasi A (hanya ada 2 seJatim, selain UK Petra), selain itu sedang mempertimbangkan kemungkinan beasiswa atau Golden Ticket jika kak Belva masih dapat terus berprestasi.
  Banyak menggali Ilmu dengan membaca dan belajar dari orang-orang sukses, terakhir mendapatkan ilmu dari Ayah Dian Pelangi, bagaimana beliau dapat melihat bakat dari ke4 anaknya, siapa yang terlihat paling menonjol guna mempersiapkan penerus usaha, terpilihlah Dian Pelangi. Sedari kecil mapping pendidikan telah disiapkan, sejak SD telah dipilihkan masuk SD Islam, melanjutkan SMP masuk Pesantren, sang Ayah kemudian memaksa Dian masuk SMK, terakhir D1 designer (semua sekolah tadi bukan terfavorite atau Branded, namun membawa percepatan bagi keberhasilan mencapai tujuan), meski Dian Pelangi berontak dan menangis pada akhirnya ikhlas dan mensyukuri atas pilihan Ayahnya, dan kenyataannya dia mampu dan berhasil hingga mendunia..MasyaAllah (duh, kalo saya tidak setega itu untuk memaksa anak-anak, akan selalu ada komunikasi agar tercapai Win-Win Solution). Intinya dengan Ilmu kita dapat menjaga Harta. Semua mapping yang telah saya lakukan agar memudahkan persiapan juga dalam rangka menghemat Financial dan tetek bengeknya. Berlaku juga untuk kedua adek Belva, itulah mengapa saya selalu terlibat bahkan mungkin hanya untuk hal-hal sepele menurut sebagian orang, mengoptimalkan semua fasilitas yang ada demi masa depan anak-anak.
  Mengutip pesan bapak M.Nuh, persiapkan anak-anak kita mulai sekarang karena Masa KeEmasan Indonesia ada ditangan anak-anak kita, jadikan mereka pemimpin yang turut mengubah Indonesia menjadi lebih baik.

“Turn your goals into reality, dont second guess just go with the flow, have fun and take risk and the rest will fall into place naturally”

Mengevaluasi dan Menetapkan Resolusi (anak-anak)

 
image

  Alhamdulillah, anak-anak berhasil menuntaskan semester 1 di tahun 2014 ini dengan baik. Belva di kelas 8, Reva di kelas 3 dan Mika di kelas TkB. Untuk kali ini sekolah benar-benar tidak mau menetapkan rangking berdasarkan Kurikulum yang baru yaitu Kurikulum 13. Semua ustadz/dzah wali kelas kompak tidak mencantumkan ataupun memberitahukan rangking anak didik. Bagus juga sebenarnya, karena setiap anak itu unik, tidak dapat dibandingkan satu dengan yang lain berdasarkan mata pelajaran tertentu yang sudah ditetapkan. Alhasil reward hadiah yang biasa anak-anak dapatkan berdasarkan perolehan Rangking, terpaksa harus disesuaikan dengan aturan main yang baru. Memang yang paling utama jika kita ingin melihat sejauh mana perkembangan diri kita adalah membandingkan diri sendiri sebelum dan sesudahnya. Terdapat Hadist Rasulullah yang sangat populer menyatakan, ”Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari kemarin, adalah orang yang beruntung. Bila hari ini sama dengan kemarin, berarti orang yang merugi, dan Sebaliknya jika hari ini lebih jelek dari kemarin, adalah orang yang celaka.”
  Namun untuk membandingkan prestasi mereka dengan prestasi atau nilai sebelumnya juga sedikit sulit, karena kali ini barusaja semester 1 dan tentunya tidak bisa dibandingkan dengan semester kemarin di jenjang yang lebih rendah, karena jelas tingkat kesulitan materi setiap Mapel akan lebih berat. Namun tetap saja kami berusaha selalu menghargai setiap proses yang telah anak-anak kami lalui dan capaian-capaian prestasi yang mereka peroleh dengan memberikan Reward sebagai tanda cinta dan terimakasih kami. Reward tidak harus mahal, mereka juga sangat memahami dan menghargai apapun hadiah dari orangtuanya, karena sebelumnya juga telah ada kesepakatan.
  Mengevaluasi hasil selalu kami, saya dan anak-anak lakukan, seperti kali ini,
(A). Belva: mengalami penurunan nilai yang cukup drastis di Mapel Bahasa Indonesia, kesulitan terbesar menurut dia adalah mengenai menganalisa tulisan, text, diksi dll (sumpah!, saya juga tidak paham..hahaha). Alhamdulillah untuk yang lain masih stabil dan memiliki nilai nyaris sempurna, yaitu A. Prestasi non Akademis, seperti yang pernah saya tulis, cukup membanggakan.
(B). Reva: penurunan nilai juga ada di Mapel Bahasa Indonesia, karena untuk Kurikulum 13 ini, B.Indonesia terintegrasi dengan IPA, materi semakin berat karena tingkat kesulitan materi IPA yang semakin tinggi serta hafalan yang bejibun. Alhamdulillah untuk mapel lain, nilai juga masih stabil, ustadzah Wali Kelas membenarkan bahwa hampir seluruh siswa kesulitan di mapel B.Indonesia ini dan beliau hanya menyatakan Reva ada di peringkat atas, entahlah, beliau tetap tidak mau mengatakannya secara pasti.
(C). Mika, kalau si bontot satu ini, semua target TkB dari semester 1 ini Alhamdulillah tercapai, dari segi intelejensi tidak jauh berbeda dengan 2 kakak namun untuk semangat bersekolah masih perlu dorongan bahkan pemaksaan. Mika lebih nyaman belajar di rumah, sehingga sempat berfikir untuk Home Schooling saja, tapi banyak ditentang oleh ustadzah dan keluarga..hiks.
  Setelah mengevaluasi dilanjutkan menetapkan target berikutnya, kebetulan bertepatan dengan Akhir Tahun, sekalian saja membuat Resolusi 2015. Untuk 2015 ini, yang harus dilakukan anak-anak adalah:
(1). Lebih meningkatkan ibadah, seperti sholat sunah dan puasa, terutama kak Belva, meningkatkan lagi frekuensi sholat Tahajud. Untuk kak Reva sholat Subuh lebih pagi, selama liburan ini adalah latihannya, menambah hafalan untuk traget sekolah yang harus tercapai. Untuk adek Mika, minimal 3 waktu sholat wajib harus dilaksanakan, guna mempersiapkan memasuki SD klas 1 di tahun 2015.
(2). Belajar lebih giat guna memperbaiki nilai yang jatuh, semakin sulit materi, lebih baik banyak latihan soal, sering bertanya baik kepada ustadzah di sekolah atau mama di rumah, jika belum memahami materi tersebut.
(3). Merapikan kamar setiap saat akan berangkat sekolah, harus lebih rapi daripada sekarang dan Mencuci piring selesai makan. Tugas tambahan saat libur sabtu minggu, seperti menyapu dan mengepel kamar masing-masing, saya ingin mereka mendapatkan Life Skill yang berguna untuk masa depan mereka.
(4). Menata meja belajar secara berkala, buku-buku terkadang setelah selesai dibaca lebih sering tidak dirapikan kembali.
(5). Menatang diri sendiri untuk meningkatkan ilmu dan kemampuan, dengan banyak membaca, menulis ataupun bermain musik
(6). Belajar memanage uang saku, lebih baik lagi.
(7). Membantu mama jika ibu sedang tidak bisa masuk kerja.
  Dengan semua Resolusi yang telah ditulis, ditempel di dinding kamar, dan sering-sering dibaca sebagai pengingat. Harapan mama kalian menjadi pribadi yang lebih baik lagi di tahun depan..aamiin

image

Satu PerSatu Harapan itu mulai Terwujud

image

  Memilikimu adalah anugerah terindah yang Allah berikan untuk Mama. Belva sulungku, yang selalu membuat mama bangga. Belva, 3 bulan yang lalu, tepatnya 18 September umurmu menginjak usia 13 tahun di kelas 8 ini. Anak ku yang pemalu sedikit demi sedikit mulai tumbuh rasa Percaya Diri..Alhamdulillah.
  Allah Maha Besar, menuntun mama memilihkanmu sekolah terbaik, bukan termahal meski mama mampu ataupun terfavorit meski kamu mampu, hanya Sekolah SMP yang masih baru dan berada dalam satu Yayasan dengan TK dan SD kamu dulu, disitulah mama menitipkanmu dalam menuntut Ilmu. Prestasi yang kamu raih selama ini sebagai Juara Kelas tidak cukup membuatmu menjadi anak yang percaya diri, kamu tetaplah anak yang pendiam dan pemalu. Bukan mama tidak bersyukur atas semua yang telah kamu capai hanya saja mama ingin kamu tidak hanya prestasi secara akademis, namun mama ingin kamu juga dapat menjadi siswa yang aktif di kelas maupun organisasi. Allah Azza Wa Jalla telah memberikan karunia kecerdasan yang luar biasa, sudah sepantasnya kamu berani tampil unjuk gigi.

image

  Memilihkanmu Sekolah yang masih baru (angkatan ke 4), dengan murid yang terbatas, harapan mama kamu dapat lebih diperhatikan, yang mungkin tidak akan kamu dapatkan di sekolah favorit, yang hanya akan menjadikanmu siswa dengan prestasi rata-rata. Selain karena latar belakang pendidikan Agama yang lebih diutamakan, kurikulum yang berkesinambungan dengan jenjang sekolah sebelumnya, juga karena mama telah akrab dengan ustadz/dzahmu. Harapan mama semua visi dan misi mama dapat tercapai dengan optimal dan semua potensi kamu dapat terexplore dengan baik. Komunikasi yang tiada henti antara mama dan ustadz/dzahmu demi kemajuan kamu. Kini prestasi itupun satu persatu mulai hadir, selain sebagai salah satu juara lomba pidato bahasa Inggris antar sekolah Islam, semakin menunjukkan bahwa kamu dapat tampil berani di depan umum tanpa rasa malu atau minder, di kelas 8 inipun kamu telah dipercaya untuk menjabat sebagai redaktur buletin sekolah yang baru saja terbit perdana di sekolah SMP mu, selain itu jabatan baru di keanggotaan OSIS meski bukan ketua atau wakil, namun sebagai koordinator Publishing dan Humas, semakin menunjukkan kamu mampu, anak ku. Termasuk juga prestasi di bidang Musik, yang merupakan kegiatan hobby mu di luar sekolah.
  Mama tidak ingin memaksakan semua keinginan mama padamu, selama mama tidak yakin kamu bisa dan sekarang kamu buktikan kamu mampu. Semua ini adalah sarana berlatih mulai dari skala terkecil sebagai bekal untukmu nanti, di SMA kamu sudah harus memiliki target selain aktif di OSIS juga berani mengikuti ajang KIR ataupun lomba Debat Bahasa Inggris, sebagai mata pelajaran favoritmu.

image

  Selamat ya Kak atas semua jabatan baru mu di Sekolah, prestasi akademis semoga tetap menjadi milikmu dan prestasi diluar akademis semoga membuatmu ingin memacu semua potensi yang kamu miliki. Sukses terus ya Nak, jangan lupa untuk semakin rajin beribadah, menambah sunah selain wajibmu, merutinkan dhuha dan tahajudmu, mengaji dan puasa Senin-Kamis, semoga Allah senantiasa menjagamu, mewujudkan Cita-Citamu sebagai Dokter dan menjadikanmu salah satu Khalifah di Bumi ini, agar dapat bermanfaat bagi sesama..aamiin

Happy 40th Birthday Hubby

Allahumma tawwil ‘umurana fi ta’atika wa ta’ati rasulika waj’alna min ‘ibadikas salihina. (Ya Allah panjangkanlah umur kami dalam mentaati-Mu, dan mentaati utusan-Mu serta jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang saleh.)

image

  Hari ini, Selasa tanggal 25 November 2014, umur Hubby tepat berada di usia 40 tahun. Alhamdulillah saat ini dalam keadaan Sehat Walafiat tanpa kurang suatu apapun. Doa-doa terbaik dari kami, istri dan anak-anak, semoga semakin Shalih, dapat menjadi Imam dan Tauladan yang terbaik bagi kami, sayang dan sabar, bertanggungjawab, selalu sehat, sukses dunia dan akherat.
   “Life begin at 40” adalah ungkapan yang biasa diucapkan untuk menggambarkan tempo kematangan seseorang manusia bermula pada umur 40 tahun. Penemuan ilmiah terbaru menegaskan bahwa perkembangan otak tidak sempurna (sampai pada batas kesempurnaan) kecuali di penghujung usia 40 tahun. Dan usia ini telah ditetapkan oleh Al Quran 14 abad yang lalu dan Allah Azza Wa Jalla dengan tegas menyebut usia 40 tahun itu haruslah mendapat perhatian,

Allah Ta’ala berfirman,  

حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.” (QS. Al-Ahqaf: 15)

  Seseorang yang sudah mencapai umur 40 tahun berarti akalnya sudah sampai pada tingkat kematangan berfikir serta sudah mencapai kesempurnaan kedewasaan dan budi pekerti. Sehingga secara umum, tidak akan berubah keadaan seseorang yang sudah mencapai umur 40 tahun.

Al-Tsa’labi rahimahullah berkata, “Sesungguhnya Allah menyebutkan umur 40 tahun karena ini sebagai batasan bagi manusia dalam keberhasilan maupun keselamatannya.”

  Jika melihat dari segi keberhasilan, Alhamdulillah hubby sudah sangat berhasil baik sebagai suami maupun ayah yang sayang dan bertanggungjawab sekaligus sebagai anak yang sukses dan berbakti bagi kedua orangtuanya. Dalam segi materi, sudah lebih dari cukup, memiliki rumah yang sangat nyaman dan kendaraan yang layak untuk kami. Dalam segi karir, Alhamdulillah terlalu banyak prestasi yang tidak dapat disebutkan satu persatu, dibawah kepemimpinan hubby, toserba Dea Wijaya dapat berkembang pesat. Dalam segi ukhrawi mungkin inilah yang patut diwaspadai, sebagai orang yang super sibuk, hubby termasuk jarang sholat dimasjid, melaksanakan kewajiban hanya mampu dirumah atau dikantor saja, kecuali sholat Jumat..hiks. Harapan saya semoga di usia yang matang ini, hubby dapat semakin meningkatkan ibadahnya, menertibkan yang wajib dan menambahkan yang sunah. Dengan segala karunia Allah yang sedemikian besar hendaknya tidak membuat takabur justru sebaliknya harus banyak bersyukur dengan cara beribadah yang terbaik.

Ibrahim al-Nakhai rahimahullah berkata, “Mereka berkata bahwa jika seseorang sudah mencapai umur 40 tahun dan berada pada suatu perangai tertentu, maka ia tidak akan pernah berubah hingga datang kematiannya.” (Lihat: al-Thabaqat al-Kubra: 6/277)

  Semoga apa yang tertulis diatas bukan lantas menjadi putus asa bahkan abai dengan peringatan tersebut, justru ajang pembuktian diri bahwa tidak ada kata terlambat dalam belajar memperdalam agama guna memperbaiki diri baik aqidah, akhlak maupun syariah. Sifat dan Sikap yang buruk dapat dirubah dan harus yakin bahwa Allah Azza Wa Jalla Maha Rahmat dan Maha Pengampun atas semua dosa dan kesalahan kita. Optimis adalah kata kunci, selama masih hidup kesempatan dan semangat untuk perbaikan harus selalu ada dan terus menyala, terutama dalam hal Ibadah. Semoga itu ada padamu Hubby, seorang Suami sekaligus Ayah yang Hebat dari istri dan anak-anak yang menyayangimu..

“You shouldn’t just be yourself. You should be someone better so that Allah loves you more”

Kejujuran itu terkadang menyakitkan

 

image

  Siang tadi tiba-tiba kedatangan tamu, Mama si Rahma, beliau datang untuk ketiga kalinya ke rumah, selama anak-anak kami, Reva dan Rahma sekelas di kelas 3B ini. Rahma, nama yang tidak asing lagi buat saya, selama hampir 3tahun, sejak kelas 1 selalu menghiasi cerita Reva setiap harinya, bisa dikatakan sebagai Trending Topic, bahkan serasa mau muntah saja, setiap kali mendengar nama itu meluncur dari bibir mungil Reva.
  “Bu, saya kesini mampir sebentar sambil mau tanya sama mbak Reva, tentang kejadian kemarin di kelas teater,” mama Rahma membuka pembicaraan.
  Sebelumnya, kemarin sepulang sekolah Reva berjalan dengan kondisi sedikit terpincang-pincang dan meringis kesakitan, kebetulan saya tidak ke toko karena si Emak sedang sakit. “Kakimu kenapa kak?,” sapa saya. Reva,”tadi disekolah didorong Rahma keras sekali terus aku jatuh, kaki ku agak keseleo Ma, tau tidak Ma, hari ini Rahma membuat 12 anak cewek kelas ku nangis, ya agak-agak nangis gitu lho Ma, ada yang dimarah-marahin, dipukul, ada yang didorong, dijambak..duh Rahma nakal sekali,”.. “Astaghfirullah, sudah lapor ustadzah?,” tanya saya. Reva menjawab,”sudah Ma, dan sudah dipanggil oleh ustadz juga,”. Kemudian cerita itu berlanjut di kelas Teater “Ocha pengen duduk deket aku Ma, tapi Lia sudah duduk duluan, terus Ocha duduk di belakang Lia, dan Ocha tidak papa, eh tiba-tiba Rahma datang langsung marah-marahin Lia buat belain Ocha sampai Lia nangis, terus teman kelas teater semuanya nyuruh Rahma minta maap sama Lia,”.. “Ya Allah, sampai kapan Rahma akan seperti ini, orangtua Rahma gak pernah dipanggil ke Sekolah tah kak??,” lanjut saya. “Gak tau Ma,”..jawab Reva.
  Cerita itulah yang saya sampaikan ke Mama Rahma, dan beliau menanggapinya,”tapi Rahma ini ceritanya di gruduk, dimarah-marahin, dipaksa, bahkan dijambak temennya beramai-ramai suruh minta maap, padahal Rahma sudah minta maap,”.. Reva mengangguk membenarkan,”iya Rahma sudah minta maap, tapi kata teman-teman tidak ikhlas,”. “Tuh kan bu, anak saya ini istilahnya ditawur rame-rame, gimana coba, padahal anak-anak yang nawur itu juga anak bermasalah, tapi kata Rahma, Reva tidak ikutan,” lanjut mama Rahma dengan nada sedikit lebih tinggi.
  Mendengar semua cerita mama Rahma, saya sama sekali tidak menyalahkan, bagaimanapun Rahma adalah anaknya dan jelas akan lebih didengarkan daripada orang lain. Mungkin sekarang saatnya saya harus membuka seperti apa anaknya, sebagai wujud pelampiasan rasa sesak yang selama ini saya pendam. Reva dan Rahma telah berteman sejak kelas 1, mulai semester 2 mulai terlihat tanda-tanda Rahma seorang anak yang Possesive, kelas 2 semakin parah, hampir setiap hari Reva mengeluhkan sikapnya, mulai pengekangan, menguasai, menyuruh dan bully-bully yang lain. Tak jarang Reva menangis, hingga suatu saat kenaikan kelas, dia memohon kepada saya untuk meminta ustadzah agar kelas 3 tidak sekelas lagi, minta dipisah. Dan ternyata saya terlambat, Reva harus menerima kenyataan untuk sekelas lagi dengan Rahma. Dan ustadzah kesiswaan sempat kecewa dengan saya, mengapa tidak cerita sebelumnya,”kami paham ibu sudah berusaha untuk mencoba memberikan solusi pada ananda tanpa melibatkan sekolah, tapi belum saatnya bu, mbak Reva masih kecil kasian harus menahan beban selama ini, dan mohon maap kami tidak dapat merubah kelas, tapi kami akan terus berkoordinasi dengan wali kelas untuk memantau mbak Reva,”.. “Yach, sudahlah Ust, mungkin Reva masih harus diuji, dan dia harus lulus dan makin kuat menghadapi anak-anak seperti Rahma, kedepan harus lebih berani berkata tidak dan dapat belajar membela diri,” jawab saya. “Namun setelah ini, di kelas 4 dan seterusnya saya tidak mau Reva di kumpulkan dalam 1 kelas dengan Rahma hingga kelas 6, sudah cukup 3 tahun saja ya ustadzah,” lanjut saya.
  Semua saya tumpahkan unek-unek selama ini dan apa saja yang saya doktrinkan ke Reva selama di kelas 3 ini untuk menghadapi Rahma, biar mama Rahma ini tau dan paham seperti apa anaknya, bahkan berita terakhir ustadz wali kelas menunjuk 2 nama anak perempuan di kelas Reva yang tidak pantas menjadi anak kelas 3, termasuk salah satunya adalah Rahma, namun mama nya pun tidak tau. Dan semua yang saya ceritakan membuat beliau shock, sama sekali tidak menyangka anaknya berbuat seperti itu, raut mukanya berubah dan langsung meminta maaf kalau selama ini Rahma sudah merepotkan Reva. Beliau sering ke sekolah bukan tentang kenakalan anaknya namun keingintahuan sejauh mana perkembangan Rahma di sekolah. Kembali beliau membuat pembenaran bahwa mungkin umur Rahma masih kecil, bila sudah cocok dengan 1 orang dia merasa sangat dekat sekali, termasuk berteman dengan Reva ini, selain itu secara mental belum siap di kelas 3, padahal dirumahpun tidak ada Sinetron, hanya buku-buku bacaan dan les Kumon yang harus dikerjakan Rahma, dirumah juga selalu diajarkan tentang Akhlak, jadi istilahnya kalau pendidikan SQ sudah maksimal dilakukan beliau, mama Rahma, tapi entah kenapa EQ nya sangat jeblok, parah menurut saya. Berteman dan bersahabat bukan seperti itu, masih kecil namun sangat possesive hingga membatasi Reva bergaul dengan yang lain, belum tentang memanfaatkan, itu salah!!.
  Alhamdulillah di kelas 3 ini Reva makin Tough, mulai dapat membela diri, menolak dan berkata tidak atas sesuatu yang dia tidak suka, melawan apa yang diperintah Rahma. Reva juga semakin percaya diri atas kemampuannya, di kelas 3 ini pun prestasinya mulai meningkat, kembali ke peringkat 3besar. Di kelas 1 kemarin sudah sempat di 3besar, kelas 2 jeblog hingga peringkat 6, saya tidak ingin menyalahkan siapapun, termasuk Rahma walau sedikit banyak bully itu berpengaruh dalam proses belajar Reva.
  Plong rasanya, semoga mama Rahma dapat mengambil tindakan yang bijaksana demi memperbaiki karakter si anak yang pemarah. Beliau berencana akan berkonsultasi dengan psikolog, kira-kira apa penyebabnya, dan semoga masalah itu segera terselesaikan, kasian Rahma, anak tunggal dan mahal itu sepertinya bermasalah dengan emosinya yang tidak stabil, entah apa yang terjadi di dalam rumah, sehingga dia melampiaskan kekesalannya dan mencari perhatian di sekolah.
  Tantangan buat kita, para orangtua, intinya komunikasi adalah yang utama. Pendidikan SQ, EQ dan IQ yang seimbang adalah harapan kita, teruslah belajar parenting dari mana saja, tiap anak berbeda dan pola pengasuhan pun tiap anakpun akan berbeda. Bagi saya pola pengasuhan terbaik adalah yang sesuai dengan Al-Quran dan Hadist. Kita tidak dapat mensterilkan anak dari pengaruh buruk lingkungan, namun kita dapat membentuk filter sebagai imun penyaring sehingga dapat memilah dan memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Tidak lupa untuk selalu memohon perlindungan kepada Allah baik melalui Doa maupun Sedekah..InsyaAllah anak-anak akan terjaga, baik aqidahnya maupun akhlaknya.

image

Waktu berharga pengasuhan anak

7 tahun pertama (0-7 tahun): Perlakukan anakmu sebagai raja.
Zona merah – zona larangan jangan marah-marah, jangan banyak larangan, jangan rusak jaringan otak anak. Pahamilah bahwa posisi anak yang masih kecil, saat itu yang berkembang otak kanannya. 

7 tahun kedua (7-14 tahun): Perlakukan anakmu sebagai pembantu atau tawanan perang.
Zona kuning – zona hati-hati dan waspada. Latih anak-anak mandiri untuk mengurus dirinya sendiri, mencuci piring, pakaian, setrika, dll. Banyak pelajaran berharga dalam kemandirian yang bermanfaat bagi masa depannya.

7 tahun ketiga (14-21 tahun): Perlakukan anak seperti sahabat.
Zona hijau – sudah boleh jalan. Anak sudah bisa dilepas untuk mandiri. Mereka sudah bisa dilepas sebagai duta keluarga.

7 tahun keempat (21-28 tahun): Perlakukan sebagai pemimpin. 
Zona biru – siap terbang. Siapkan anak untuk menikah.

Pada masa anak-anak yang berkembang otak kanannya. Otak kiri berkembang saat usianya menjelang 7 tahun. Anak perempuan keseimbangan otak kanan dan kirinya lebih cepat. Sedangkan anak laki lebih lambat. Keseimbangan otak kanan dan kiri pada anak laki-laki baru tercapai sempurna di usia 18 tahun, sedangkan anak perempuan sudah cukup seimbang otak kanan dan kirinya di usia 7 tahun.
Ada rahasia Allah mengapa diatur seperti itu;
  √Laki-laki dipersiapkan untuk jadi pemimpin yang tegas dalam mengambil keputusan. Untuk itu, jiwa kreatifitas dan explorasinya harus berkembang pesat. Sehingga pengalaman itu membuatnya dapat mengambil keputusan dengan tenang dan tepat.
√Sementara perempuan dipersiapkan untuk jadi pengatur dan manajer yang harus penuh keteraturan dan ketelitian.
**Untuk memberi intruksi pada anak, gunakan suara Ayah . Karena suaranya bas, empuk dan enak di dengar.
**Kalau suara Ibu memerintah, cenderung melengking seperti biola salah gesek. Itu bisa merusak sel syaraf otak anak. 250rb sel otak anak rusak ketika dimarahin. 
**Solusinya, Ibu bisa menggunakan bahasa tubuh atau isyarat jika ingin memberikan instruksi.  Suara perempuan itu enak didengar jika digunakan dengan nada sedang. Cocok untuk mendongeng atau bercerita.
++Cara berkomunikasi yang efektif dengan anak:
1. Merangkul pundak anak sambil ditepuk lembut.
2. Sambil mengelus tulang punggung anak hingga ke tulang ekor.
3. Sambil mengusap kepala. Dengan sentuhan ada gelombang yang akan sampai ke otak anak sehingga sel-sel cintanya tumbuh subur.

KETIKA ANAK BERTANYA TENTANG ALLAH

Allah itu Siapa? Utamanya pada masa emas 0-5 tahun, anak-anak menjalani hidup mereka dengan sebuah potensi menakjubkan, yaitu rasa ingin tahu yang besar. Seiring dengan waktu, potensi ini terus berkembang (Mudah-mudahan potensi ini tidak berakhir ketika dewasa dan malah berubah menjadi pribadi-pribadi “tak mau tahu” alias ignoran, hehehe).
Nah, momen paling krusial yang akan dihadapi para orang tua adalah ketika anak bertanya tentang ALLAH. Berhati-hatilah dalam memberikan jawaban atas pertanyaan maha penting ini. Salah sedikit saja, bisa berarti kita menanam benih kesyirikan dalam diri buah hati kita. Nauzubillahi min zalik, ya…
Berikut ini saya ketengahkan beberapa pertanyaan yang biasa anak-anak tanyakan pada orang tuanya:
Tanya 1: “Bu, Allah itu apa sih?”
Tanya 2: “Bu, Bentuk Allah itu seperti apa?”
Tanya 3: “Bu, Kenapa kita gak bisa lihat Allah?”
Tanya 4: “Bu, Allah itu ada di mana?”
Tanya 5: “Bu, Kenapa kita harus nyembah Allah?”

Tanya 1: “Bu, Allah itu apa sih?”
Jawablah: “Nak, Allah itu yang Menciptakan segala-galanya. Langit, bumi, laut, sungai, batu, kucing, cicak, kodok, burung, semuanya, termasuk menciptakan nenek, kakek, ayah, ibu, juga kamu.” (Ucapkan dengan menatap mata anak sambil tersenyum manis)

Tanya 2: “Bu, bentuk Allah itu seperti apa?” Jangan jawab begini: “Bentuk Allah itu seperti anu ..ini..atau itu….” karena jawaban seperti itu pasti salah dan menyesatkan. Jawablah begini: “Adek tahu ‘kan, bentuk sungai, batu, kucing, kambing,..semuanya.. nah, bentuk Allah itu tidak sama dengan apa pun yang pernah kamu lihat. Sebut saja bentuk apa pun, bentuk Allah itu tidak sama dengan apa yang akan kamu sebutkan.” (Ucapkan dengan menatap mata anak sambil tersenyum manis)
“Katakanlah Dia pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan [pula], dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (Q.S. Asy-Syura:11)
[baca juga Melihat Tuhan]

Tanya 3: “Bu, kenapa kita gak bisa lihat Allah?“
Jangan jawab begini: Karena Allah itu gaib, artinya barang atau sesuatu yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Jawaban bahwa Allah itu gaib (semata), jelas bertentangan dengan ayat berikut ini. Al-Hadid (57) :
3هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيم
“ٌDialah Yang Awal dan Yang Akhir; Yang Zahir dan Yang Batin ; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu”. Dikhawatirkan, imajinasi anak yang masih polos akan mempersamakan gaibnya Allah dengan hantu, jin, malaikat, bahkan peri dalam cerita dongeng. Bahwa dalam ilmu Tauhid dinyatakan bahwa Allah itu nyata senyata-nyatanya; lebih nyata daripada yang nyata, sudah tidak terbantahkan. Apalagi jika kita menggunakan diksi (pilihan kata) “barang” dan “sesuatu” yang ditujukan pada Allah. Bukankah sudah jelas dalil Surat Asy-Syura di atas bahwa Allah itu laysa kamitslihi syai’un; Allah itu bukan sesuatu; tidak sama dengan sesuatu; melainkan Pencipta segala sesuatu. Meskipun segala sesuatu berasal dari Zat-Sifat-Asma (Nama)-dan Af’al (Perbuatan) Allah, tetapi Diri Pribadi Allah itu tidak ber-Zat, tidak ber-Sifat, tidak ber-Asma, tidak ber-Af’al. Diri Pribadi Allah itu tidak ada yang tahu, bahkan Nabi Muhammad Saw. sekali pun. Hanya Allah yang tahu Diri Pribadi-Nya Sendiri dan tidak akan terungkap sampai akhir zaman di dunia dan di akhirat.
“[Muhammad melihat Jibril] ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu Yang Meliputinya. Penglihatannya [Muhammad] tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak [pula] melampaui-Nya” (Q.S. An-Najm: 16-17)
{ini tafsir dari seorang arif billah, bukan dari saya pribadi. Allahua’lam}
Jawablah begini: “Mengapa kita tidak bisa melihat Allah?” Bisa kita jawab dengan balik bertanya padanya (sambil melatih adik comel berpikir retoris) “Adik bisakah nampak matahari yang terang itu langsung? Tidak ‘kan..karena mata kita bisa jadi buta. Nah, melihat matahari aja kita tak sanggup. Jadi, Bagimana kita mau melihat Pencipta matahari itu. Iya ‘kan?!” Atau bisa juga beri jawaban: “Adek, lihat langit yang luas dan ‘besar’ itu ‘kan? Yang kita lihat itu baru secuil dari bentuk langit yang sebenarnya. Adek gak bisa lihat ujung langit ‘kan?! Nah, kita juga gak bisa melihat Allah karena Allah itu Pencipta langit yang besar dan luas tadi. Itulah maksud kata Allahu Akbar waktu kita salat. Allah Mahabesar. ”Bisa juga dengan simulasi sederhana seperti pernah saya ungkap di postingan “Melihat Tuhan”. Silakan hadapkan bawah telapak tangan Adek ke arah wajah. Bisa terlihat garis-garis tangan Adek ‘kan? Nah, kini dekatkan tangan sedekat-dekatnya ke mata Adek. Masih terlihat jelaskah jemari Sobat setelah itu? Kesimpulannya, kita tidak bisa melihat Allah karena Allah itu Mahabesar dan teramat dekat dengan kita. Meskipun demikian, tetapkan Allah itu ADA. “Dekat tidak bersekutu, jauh tidak ber-antara.”

Tanya 4: “Bu, Allah itu ada di mana?”
Jangan jawab begini: “Nak, Allah itu ada di atas..di langit..atau di surga atau di Arsy.” Jawaban seperti ini menyesatkan logika anak karena di luar angkasa tidak ada arah mata angin atas-bawah-kiri-kanan-depan-belakang. Lalu jika Allah ada di langit, apakah di bumi Allah tidak ada? Jika dikatakan di surga, berarti lebih besar surga daripada Allah…berarti prinsip “Allahu Akbar” itu bohong? [baca juga Ukuran Allahu Akbar]ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰ عَلَى ٱلۡعَرۡشِ‌ۚDia bersemayam di atas ’Arsy. <– Ayat ini adalah ayat mutasyabihat, yaitu ayat yang wajib dibelokkan tafsirnya. Kalau dalam pelajaran bahasa Indonesia, kita mengenal makna denotatif dan konotatif, nah.. ayat mutasyabihat ini tergolong makna yang konotatif. Juga jangan jawab begini: “Nak, Allah itu ada di mana-mana.”Dikhawatirkan anak akan otomatis berpikiran Allah itu banyak dan terbagi-bagi, seperti para freemason atau politeis Yunani Kuno. Jawablah begini: “Nak, Allah itu dekat dengan kita. Allah itu selalu ada di hati setiap orang yang saleh, termasuk di hati kamu, Sayang. Jadi, Allah selalu ada bersamamu di mana pun kamu berada.” [baca juga Mulai Saat Ini Jangan Sebut-sebut Lagi Yang Di Atas] “Qalbun mukmin baitullah”, ‘Hati seorang mukmin itu istana Allah.” (Hadis)وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُواْ لِي وَلْيُؤْمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَDan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. (Q.S. Al-Baqarah (2) : 186)وَهُوَ مَعَكُمۡ أَيۡنَ مَا كُنتُمۡ‌ۚ Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.(Q.S. Al-Hadiid: 4)وَلِلّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ فَأَيْنَمَا تُوَلُّواْ فَثَمَّ وَجْهُ اللّهِDan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. (Q.S. Al-Baqarah (2) : 115)
“Allah sering lho bicara sama kita..misalnya, kalau kamu teringat untuk bantu Ibu dan Ayah, tidak berantem sama kakak, adek atau teman, tidak malas belajar, tidak susah disuruh makan,..nah, itulah bisikan Allah untukmu, Sayang.” (Ucapkan dengan menatap mata anak sambil tersenyum manis)وَٱللَّهُ يَهۡدِى مَن يَشَآءُ إِلَىٰ صِرَٲطٍ۬ مُّسۡتَقِيمٍDan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus. (Q.S. Al-Baqarah: 213)

Tanya 5: “Bu, kenapa kita harus nyembah Allah?”Jangan jawab begini:“ Karena kalau kamu tidak menyembah Allah, kamu akan dimasukkan ke neraka. Kalau kamu menyembah Allah, kamu akan dimasukkan ke surga.”Jawaban seperti ini akan membentuk paradigma (pola pikir) pamrih dalam beribadah kepada Allah bahkan menjadi benih syirik halus (khafi). Hal ini juga yang menyebabkan banyak orang menjadi ateis karena menurut akal mereka,”Masak sama Allah kayak dagang aja! Yang namanya Allah itu berarti butuh penyembahan! Allah kayak anak kecil aja, kalau diturutin maunya, surga; kalau gak diturutin, neraka!!” “Orang yang menyembah surga, ia mendambakan kenikmatannya, bukan mengharap Penciptanya. Orang yang menyembah neraka, ia takut kepada neraka, bukan takut kepada Penciptanya.” (Syaikh Abdul Qadir al-Jailani)
Jawablah begini:“Nak, kita menyembah Allah sebagai wujud bersyukur karena Allah telah memberikan banyak kebaikan dan kemudahan buat kita. Contohnya, Adek sekarang bisa bernapas menghirup udara bebas, gratis lagi.. kalau mesti bayar, ‘kan Ayah sama Ibu gak akan bisa bayar. Di sungai banyak ikan yang bisa kita pancing untuk makan, atau untuk dijadikan ikan hias di akuarium. Semua untuk kesenangan kita. Kalau Adek gak nyembah Allah, Adek yang rugi, bukan Allah. Misalnya, kalau Adek gak nurut sama ibu-bapak guru di sekolah, Adek sendiri yang rugi, nilai Adek jadi jelek. Isi rapor jadi kebakaran semua. Ibu-bapak guru tetap saja guru, biar pun kamu dan teman-temanmu gak nurut sama ibu-bapak guru.” (Ucapkan dengan menatap mata anak sambil tersenyum manis)إِنَّ ٱللَّهَ لَغَنِىٌّ عَنِ ٱلۡعَـٰلَمِينَSesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya [tidak memerlukan sesuatu] dari semesta alam. (Q.S. Al-Ankabut: 6)[baca juga Mengapa Allah Menciptakan Makhluk?] Katakan juga pada anak: “Adek mulai sekarang harus belajar cinta sama Allah, lebih daripada cinta sama Ayah-Ibu, ya?!” (Ucapkan dengan menatap mata anak sambil tersenyum manis) “Kenapa, Bu?” “Karena suatu hari Ayah sama Ibu bisa meninggal dunia, sedangkan Allah tidak pernah mati. Nah, kalau suatu hari Ayah atau Ibu meninggal, kamu tidak boleh merasa kesepian karena Allah selalu ada untuk kamu. Nanti, Allah juga akan mendatangkan orang-orang baik yang sayang sama Adek seperti sayangnya Ayah sama Ibu. Misalnya, Paman, Bibi, atau para tetangga yang baik hati, juga teman-temanmu. ”Dan mulai sekarang rajin-rajin belajar Iqra supaya nanti bisa mengaji Quran. Mengaji Quran artinya kita berbicara sama Allah. (Ucapkan dengan menatap mata anak sambil tersenyum manis). Allahu a’lam.

sumber : “ Mutiara Hikmah “