Selamat Ulang Tahun ke-19 Dea Wijaya

  Merayakan Ulang Tahun ke 19 dalam kondisi keprihatinan, selain karena krisis moneter yang masih berlangsung dan belum ada tanda-tanda akan berakhir, juga dilengkapi dengan masalah-masalah perijinan, perpajakan, perbankan yang cukup membuat pusing kepala. Seperti biasa kami merayakan dengan berbagi makanan berupa nasi bungkus, walaupun ada celetukan dari salah satu karyawan,”mbak, kq nasi bungkus biasanya nasi kotak..(hehehe),” supervisor yang sedang membagi segera menimpali,”cerewet ah, yang penting kamu siang ini dapat makan gratisan kan.”

image

  Alhamdulillah, hingga memasuki tahun ke-19, Dea Wijaya masih berdiri dengan tegak, meski kami belum bercabang namun kami cukup berkembang, ditandai dengan omset yang naik secara signifikan dan aset yang juga bertambah. Sejak kami memutuskan menggunakan strategi pemasaran grosir dan retail menjadi satu (awalnya kami pisahkan), efek yag dihasilkan memang sangat terasa. Namun semua kebijakan pasti membawa akibat yang mungkin tidak kami fikirkan sebelumnya. Konsep Grosir lebih menekankan pada volume, dan ujungnya pada omset yang besar, bukan pada profit yang tinggi, harapannya cashflow lebih cepat berputar demi menekan bunga Bank.
  Grosir membutuhkan karyawan lebih banyak, karena efek pedagang yang berdatangan untuk kulakan juga semakin besar. Jika ditempat semacam toko grosiran sekelas Indogrosir, ataupun Lotte (d/h Makro), pedagang bertanggungjawab atas loading barang secara mandiri, sedangkan kami masih melayani, apalagi toko kecil, tak jarang trader maupun customer meminta karyawan kami mengangkatkan dan menatakan belanjaan mereka ke kendaraan dengan semena-mena (..duh). Jumlah karyawan yang semakin banyak tentu membebani anggaran, dengan kondisi normal, omset tinggi dan profit yang lumayan, kami tidak merasa terbebani, namun mendekati akhir tahun ini beban itu mulai menekan kami. Omset yang sama tidak sebanding dengan profit yang dihasilkan, semakin kesini semakin menipis profit yang kami peroleh, hal ini akibat harga produk yang mulai naik namun tidak serta merta dapat menaikkan harga jual produk, ditengah daya beli masyarakat yang menurun sedangkan persaingan yang semakin tidak sehat memaksa kami untuk terus menurunkan profit, padahal sejak 3tahun terakhir produk yang kami jual lebih banyak dengan harga Grosir, dapat dibayangkan betapa kecilnya profit kami.
  Jika bulan lalu, komisaris (ibu) mengeluh tidak dapat menabung zakat dan thr, maka bulan ini giliran gaji kami lah yang dipotong sebesar 50%, ibu mengingatkan jika bulan ini masih seperti ini, mau tidak mau harus mengurangi jumlah karyawan (oh..tidaakkk). Saya pribadi masih mengikhlaskan potong gaji namun untuk PHK, saya tidak tega. Pernah membaca salah satu surat keputusan Gubernur Kalimantan di Facebook, agar menghindari PHK dengan cara (1)mengurangi gaji direksi, (2)karyawan bekerja bergantian, (3)karyawan jangan menuntut kenaikan gaji, (4)karyawan dan perusahaan bekerjasama menghadapi krisis moneter bersama-sama, dan point pertama dibulan oktober ini sudah saya alami, semoga tidak sampai ada PHK dan keadaan segera membaik (..aamiin).
  Kami sudah pernah berhadapan dengan krisis moneter tahun 97-98 dan harus kehilangan satu lantai operasional, saat itu juga terjadi pengurangan karyawan cukup besar, Traumatis, pasti!. Jika harus menghadapi semua ini kembali, duh..ya Allah ampuni kami, kami berusaha semaksimal mungkin bertahan, ditengah dana yang terbatas dan kebijakan yang lebih banyak hasil kompromi, barrier dari dalam dan dari luar, rasanya luarbiasa berat.
  Namun kembali lagi, tidak ada satupun kejadian di dunia ini tanpa seijin Allah Azza Wa Jalla, semua ujian untuk hamba-Nya agar menjadi lebih kuat. Semua Ujian kami jalani dengan ikhlas, tetap berusaha dan berdoa, tak lupa untuk selalu berTawakal.

Allah berfirman (yang artinya):
“Tiadalah menimpa suatu Musibah melainkan atas izin Allah. Dan Barangsiapa BERIMAN kepada Allah, Dia akan memberi PETUNJUK PADA HATINYA. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. “Allah tiada Tuhan Melainkan Dia dan Hanya kepada Allah orang-orang Mukmin BERTAWAKAL. (Qs 64:11-12).

Antara RUKO, GUDANG dan Krisis Moneter

  Begitu banyak impian yang ingin kami raih di tahun 2015. Bukan khayalan semata tapi melihat keberhasilan toko di tahun 2013 dan 2014, omset yang melesat bagai meteor, membuat kami yakin dapat meraih semua target yang telah kami tetapkan. Menuju usia 20th toserba Dea Wijaya di 2016 nanti setidaknya kami harus berani membuka cabang, walau kebutuhan akan Gudang juga sama mendesaknya. Keputusan kami menetapkan strategi pemasaran, memasukkan sistem grosir ke dalam retail berhasil dengan baik, sehingga gudang pun terasa semakin mengecil karena kami harus menyetok lebih banyak produk promo.

image

  Awal tahun 2015, sebenarnya isu mengenai akan terjadi Krisis Moneter telah kami dengar, namun kami terlanjur optimis dengan persiapan cabang baru, kebetulan di dekat perumahan tempat tinggal kami sedang dibangun perumahan baru dan Ruko dengan konsep terbaru dan sangat representatif. Pertimbangan lain selain mempersiapkan cabang, kami tengah mempersiapkan kader, yaitu anak-anak kami, kak Belva dan kak Reva. Mereka berdua harus belajar sejak dini agar kelak, meskipun kak Belva mantab dengan cita-citanya sebagai dokter, diapun harus belajar menjadi entrepreneur, sehingga dia dapat mewujudkan diri sebagai Dokterpreneur..aamiin. Sebaliknya kak Reva lebih tertarik meneruskan usaha kami, dia menggebu-gebu ingin segera belajar bisnis, jualan dan menjadi Bakuler..aamiin.
  Alhamdulillah tabungan investasi unitlink selama 7th cukup sebagai DP membeli Ruko baru, kalaupun Cabang pertama itu batal dioperasikan karena faktor-faktor tidak terduga seperti Krisis Moneter, dapat kami fungsikan sebagai gudang (salah satu target yang harus dilepaskan sejenak) atau setidaknya tidak rugi menginvestasikan tabungan dalam bentuk Properti. Toh nantinya dapat juga kami fungsikan sebagai Klinik Dokter untuk kak Belva jika dia sudah siap mengabdikan diri di tengah Masyarakat.
  Hingga hari ini rupiah kian melemah, dunia usaha ikut lesu, termasuk kami, sempat minggu lalu terpaksa kami tutup tagihan. Kami kesulitan Cash, jatuh tempo hutang bersamaan, sedang pemasukan anjlok, penjualan toko sepi. Kami kesulitan mencari barang murah, hampir semua harga susu naik, padahal itulah spesialisasi kami. Semua tahan diri, takut dolar naik maupun turun, pemerintah tidak ada kejelasan. Barusaja Buruh demo lagi minta kenaikan UMK hingga 30%, padahal kami pun termasuk Ring 1 dengan UMK tertinggi di Jawa Timur. Menurut kami UMK bukanlah solusi, jika naik, maka seluruh harga produk akan naik, dan inflasi menjadi-jadi, karena harga produksi jelas semakin tinggi. Justru Pemerintahlah yang harus bertanggung jawab, bukan pengusaha saja yang dikuyo-kuyo, padahal sebelumnya kami harus menanggung kenaikan harga BBM dan TDL. Jika kondisi seperti ini dibiarkan saja, tidak heran PHK masal akan segera terjadi, karena penjualan produk akan semakin sulit disaat daya beli masyarakat sedang turun. Belum masalah Birokrasi yang masih harus kami urus, setiap tahun selalu bertambah dokumen perusahaan yang harus dilengkapi, belum lagi masalah Pajak.
  Ya Allah, kami yakin semua tantangan yang terus-menerus hadir dalam usaha kami, akan membuat kami semakin kuat. Ingin berandai-andai, jika saja semua sesuai dengan Skenario kami sendiri, kami pasti akan lebih cepat sukses, seperti rekan-rekan retailer yang lain, yang telah memiliki banyak cabang. Tapi tidak, mungkin kami berfikir itu baik padahal menurutMu itu buruk.
  Ya Allah, lindungilah kami, keluarga kami, perusahaan kami, pegawai kami, seluruh rakyat Indonesia, Bangsa dan Tanah Air tercinta dari Badai Krisis Moneter berkepanjangan. Sadarkanlah para pemimpin kami untuk tidak memperkaya diri sendiri dan lebih memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. Beri kekuatan untuk Bangsa ini dalam menghadapi semua Ujian dan Ampunilah dosa-dosa kami ya Allah..aamiin

Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah & rahmatilah kami.
(Al Baqarah:286)