Modern vs Tradisional

image

  Sore ini mendadak ngobrol gayeng bareng SPG unilever yang kebetulan mobile di 3 toko yang berdekatan, yaitu toko kami, Sinar Rejeki dan Sukadi. Sebenarnya kompetitor yang harus kami hadapi tidak 2 toko itu saja, ada Barokah, Karunia, belum lagi toko Romeo dan Juliet a.k.a Alfa-Indomaret harus bersaing melayani pangsa pasar yang sama. Dan yang paling mirip sebenarnya toko Sukadi selain seumuran, kami juga merupakan perusahaan keluarga dimana anak dan mantu dilibatkan dalam pengelolaan perusahaan. Perbedaannya pendiri sekaligus owner toko Sukadi adalah bapak Sukadi, sedangkan toko kami pendiri nya bapak saya, namun owner sekaligus pucuk pimpinan adalah saya, karena bapak tidak ikut terlibat secara manajerial. Bapak lebih menyenangi bisnis beliau sendiri selain berkarir di kepolisian.
  Dua tahun terakhir toko Sukadi membuka cabang dengan konsep yang lebih modern, hanya saja yang saya sayangkan mengapa jarak kedua toko sangat dekat hanya sekitar 1km saja, mungkin beliau punya pertimbangan sendiri, mengingat persaingan juga makin tajam. Dua toko ini kepemimpinannya dipecah 2, Bapak Sukadi dan Ibu Sukadi, 3anak plus mantu ikut bapak dan 2anak plus mantu ikut ibu di toko yang baru. Dengan konsep toko yang lebih modern dengan tampilan toko yang bagus, berAC dilengkapi foodcourt dan arena bermain, serta parkiran yang memadai, harapannya ada peningkatan atau penambahan omset. Perbedaan dengan kami disini, toko Sukadi menambah aset dengan memiliki telor/toko baru sedangkan kami, membesarkan aset kedalam yaitu memperbesar grosiran.
  Memperbincangkan perluasan pasar dan pertambahan aset tidak lepas dari usaha penguatan sistem. Sistem harus dibentuk agar memudahkan kita ekspansi, modernisasi meliputi komputerisasi dan kaderisasi yang diharapkan menguat seiring perkembangan perusahaan. Saya melihat toko Sukadi masih bertahan dengan ketradisionalannya, hal ini kurang lebih karena pemegang kekuasaan tertinggi yaitu si bapak sukadi masih jadul pemikirannya. Tradisional bukan berarti jelek, hanya saja akan merepotkan baik bagi owner maupun mitra perusahaan, misalnya tagihan supplier masih di handle beliau langsung, berharap lebih aman daripada diberikan staf, tentu ini sangat beresiko menurut saya. Selain faktor umur, supplier banyak yang dirugikan dengan sistem penagihan yang dilakukan oleh bapak Sukadi sendiri yang seringkali seenaknya dalam memperlakukan supplier, tentu saja ini tidak sehat. SPG bercerita,”kasian bu, mereka harus datang pagi-pagi sekali untuk ambil antrian, kalo misal uang habis ditutup, ditinggal makan, ditinggal pergi atau apalah, kasian kan sudah ambil nomer antrian berdesak-desakan, eh ditutup tiba-tiba,”..si mala, accounting saya menimpali,”iya mbak, ini bagian penagihan doa nya sampai jelek-jelek ke pak Sukadi, wes gak karu-karuan,”. “Waduh kok gitu ya, kenapa gak diserahkan staf atau anaknya gitu, mungkin bisa lebih tertib dan terkendali,” jawab saya. “Anak-anak beliau sudah pegang bagian sendiri bu, ada di bagian gudang, operator barang, tapi ya gitu barang saya sudah datang seminggu yang lalu barusan keluar hari ini,” lanjut SPG lagi. Hmm..itulah mental owner, sama dengan saya sendiri untuk bagian yang ecek-ecek seperti itu sangat malas untuk bisa tertib dan ontime dalam pengerjaannya itulah kenapa kita bentuk staf tapi harus tetep bisa kita kontrol, itulah pentingnya sistem.
  Sistem komputerisasi di toko kami sudah lumayan kuat, di berbagai bagian ada pasword dan setiap bagian tidak bisa saling bertukar tempat dari situ kita bisa kontrol pekerjaan mereka. Bagian gudang cek barang masuk, order harus sesuai dengan po yang diterbitkan puchaser, lanjut input barang oleh operator, tagihan supplier yang masuk ke accounting harus sama dengan yang dikerjakan oleh operator. Pun nantinya barang yang akan keluar dari gudang ke area harus sama fisiknya, jadi angka kehilangan sudah ditekan dari dalam, jika ada lost berarti kesalahan ada di area a.k.a ada pencuri dari luar.
  Tugas saya dan suami sendiri lebih banyak di bidang strategis, inovasi, cek-ricek staf keuangan, perbankan, mengurusi SDM, menyediakan produk murah, melakukan promosi termasuk menjadi admin Page demi perluasan pasar. Tapi tetap sebagai owner kami, saya dan suami harus paham benar dengan semua sistem komputerisasi yang ada sebagai dobel gardan jika staf ada yang cuti, kami pun terus berusaha untuk upgrade sistem sesuai kebutuhan, dengan begitu tanpa adanya kami, toko masih akan tetap berjalan dengan baik, sebagai persiapan juga untuk buka Cabang suatu saat nanti. Selain itu impian kami jika kelak telah bebas financial dan menua tinggal menikmati hidup, beribadah dan travelling sepuasnya..aamiin