Keberuntungan yang Setara

“Every child has a different learning style and pace. Each child is unique, not only capable of learning but also capable of succeeding.” – Robert John Meehan

Masih teringat setahun yang lalu, tepatnya bulan Oktober, saya mengantarkan Belva ke kantor Diknas untuk mengambil hadiah berupa uang rp.500,000 sebagai tambahan Piala juara 3 lomba Speech Contest di event Siedex (Sidoarjo Education Expo), pameran pendidikan yang diikuti oleh seluruh sekolah mulai jenjang dasar hingga atas di Kabupaten Sidoarjo. Dan di akhir tahun ini juga, bulan November, giliran mengantarkan Reva ke kantor Dispora untuk mengambil hadiah uang selain Medali Perunggu yang sudah dia peroleh sebelumnya, sebagai juara 3 panahan kelas 30 mt nasional di ajang Porlakab, sebesar rp.212,500. Alhamdulillah meski tidak sebanyak sang kakak, tapi Reva sangat bersyukur mendapatkan tambahan hadiah. Apakah perbedaan ini faktor Akademis vs Non Akademis, secara kasar dapat di katakan kecerdasan Otak lebih dihargai daripada kecerdasan Body atau karena faktor klasifikasi umur, karena Belva sudah SMA, sedangkan Reva masih SD, entahlah, yang pasti kami sangat bersyukur kepada Allah Azza Wa Jalla, karena amanah yang dititipkan kepada kami sangat membanggakan dan berprestasi di bidangnya masing-masing. Jika kali ini Reva beruntung di bidang Non Akademis bukan berarti secara Akademis dia kurang, sebenarnya Belva dan Reva memiliki kecerdasan yang 11 – 12, hanya saja Reva memiliki kesempatan mengembangkan kecerdasannya di bidang yang berbeda.

Kami memiliki 3 orang anak yang memiliki sifat, karakter dan tingkat kecerdasan yang berbeda-beda, Belva cenderung kutu buku, hobby belajar namun individual, Reva meski termasuk anak pintar di kelas namun dia kurang tekun belajar, dia lebih senang bermain dan bereksperimen, sedangkan Mika sebagai anak lelaki satu-satunya dia merasa sebagai raja di rumah, manja dan cara belajarnya musti di paksa, di kelas termasuk anak dengan prestasi rata-rata. Planing kedepan Reva dan Mika akan lebih berkonsentrasi di bidang non Akademis yaitu olahraga Panahan, sedangkan Belva masih terus berkutat dengan buku dan nilai-nilai Akademis demi meraih impiannya menjadi Dokter Anak. Kami selalu berdoa kepada Allah Azza Wa Jalla memohonkan “Keberuntungan yang Setara” untuk anak-anak, meskipun mereka memiliki karakter dan kecerdasan yang berbeda, kami percaya setiap anak dilahirkan dengan keunikan masing-masing, tinggal bagaimana kita mengarahkan mereka agar dapat terexplore kecerdasan dan kelebihan yang mereka punya sehingga berada di atas rata-rata dan sukses dibidangnya. Di dalam Al-Quran pun, kita selalu ditekankan agar menjadi manusia yang beruntung, yaitu manusia yang setiap harinya selalu lebih baik dari sebelumnya. Untuk itulah selalu doakan anak-anak, bukan semata supaya Pintar dan Shalih/Shalihah tapi juga memiliki Keberuntungan yang Setara antar saudara, agar di masa depan nanti tidak terjadi GAP kesuksesan yang terlalu dalam antar anak yang satu dengan yang lainnya, Insyaallah. Dan Semoga Allah Azza Wa Jalla senantiasa memberikan Ridho-Nya untuk keluarga kami tercinta..aamiin 😇

Advertisements

Sidoarjo Bisa Menang!!!

“Gold medals aren’t really made of gold. They’re made of sweat, determination, and a hard- to-find alloy called guts.” – Dan Gable

Hari ini Jumat (10/11/2017) pk 13.00, terjadwal pelepasan kontingen Sidoarjo dalam acara POR SD dilaksanakan di pendopo Kabupaten oleh bapak Bupati H. Saiful Ilah, SH, M.Hum, setelah melalui rangkaian TC (training center/pemusatan latian), hampir satu bulan dan berakhir hari Kamis kemarin.

Hampir dua minggu kak Reva tidak sekolah, setelah dua minggu sebelumnya juga harus break sebelum jam sekolah berakhir, Alhamdulillahnya jadwal sekolah, seminggu adalah UAT yang berakhir pk 13.00, sedangkan latian TC mulai pk 14.00 hingga Maghrib, seminggu kemudian jadwal Remidial, kak Reva Alhamdulillah tanpa remidi dan bersamaan jadwal TC pk 09.00 hingga Maghrib, jelas tidak bisa sekolah. Setiap Minggu selalu ada jadwal Scoring, 3 x Scoring kak Reva menempati peringkat 2 dan 3 untuk total seluruh kelas yaitu 20m, 30m dan 40m, Alhamdulillah hasil yang membanggakan, mengingat selama ini tidak aktif latihan.

Ada rasa berat meninggalkan sekolah hampir 3 minggu, namun sejauh ini sekolah memang support kegiatan POR SD ini apalagi di tingkat Provinsi, even yang sangat bergengsi, karena nama sekolah ikut promosi gratis. Beberapa kali komunikasi dengan ustadzah kelas kak Reva dan so far hanya ada tanggungan produk yang belum terselesaikan sehingga raport belum bisa diserahkan ke orangtua tepat waktu.

Kak Reva mulai dapat menyesuaikan diri dengan ritme latian yang lumayan berat, semakin lama semakin enjoy dan mencintai olahraga Sunnah ini. Kegalauannya tentang sekolah juga semakin berkurang, apalagi berkali-kali Coach menekankan untuk fokus dengan latian, jangan terlalu kepikiran sekolah, karena Jalur Prestasi sebagai “Golden Ticket” sudah pasti ditangan, tinggal tunjuk saja Sekolah mana yang di mau. Namun kami sepakat Reva masih akan melanjutkan jenjang SMP di SMPI Raudlatul Jannah dengan harapan mendapatkan Beasiswa melalui jalur Non Akademis, ya semoga saja..aamiin

Diakhir TC menjelang pertandingan, bapak Satuman sebagai wakil dari Disporapar yang mengawal cabor Panahan ini memberikan wejangan kepada para wali Atlit untuk dapat dengan legawa menerima semua fasilitas dari Kabupaten baik itu seragam yang berupa tas, sepatu, kaos, training, jaket juga berupa uang ganti lelah TC dan Turnamen besok, bagaimanapun anak-anak sudah diberi kesempatan mendapatkan ilmu juga mengikuti pertandingan bergengsi tingkat provinsi yang tidak semua anak mendapatkannya. Saya pribadi sangat memahami kondisi bangsa ini, yang namanya Atlit memang tidak bisa dijadikan profesi, karena tidak di openi, selain ada batas umur yang relatif pendek juga. Namun kak Reva diuntungkan oleh keadaan, Alhamdulillah kami sebagai orangtua sudah menyiapkan bekal bagi anak-anak kami sebuah perusahaan yang insyaallah dapat diwariskan, bahkan seluruh keluarga support dengan kecintaannya pada olahraga panahan ini, kalaupun Allah memberikan takdir sebagai Atlit, setelah pensiun dia bisa menjadi pelatih dan buka toko olahraga. Pernah kak Reva bertanya, “Ma, apakah tidak ada pelatih panahan perempuan?, kan lebih enak kalo sesama perempuan,”. Jadikan itu motivasi mu nak, suatu saat kamu harus bisa mengisi kekurangan itu, panahan adalah olahraga sunnah Nabi, kamu bisa menjadikannya lebih Syar’i dengan membuka club panahan khusus perempuan, Insyaallah.

Melanjutkan cerita tentang Pelepasan Kontingen Sidoarjo ini, acara di mulai pk 13.00 di Pendopo Dalem, sayangnya berbarengan dengan Demo buruh yang mengambil momen Hari Pahlawan, jalanan rame dan macet, banyak polisi berjaga-jaga disekitaran alun-alun Pendopo. Anak-anak masuk kedalam Pendopo Delta Wibawa sementara kami wali atlit tidak diperkenankan masuk ke dalam. Setelah selesai acara mohon doa restu bapak Bupati, acara dilanjutkan ke Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata untuk mengikuti arahan keberangkatan ke Lumajang besok Sabtu (11/11), Alhamdulillah ternyata anak-anak juga mendapatkan uang saku sebesar rp 600.000, betapa senang hati mereka, walaupun kalau dibandingkan orangtuanya yang habis-habisan mbandani Panahan ini, cuma seujung kuku..huhuhu. Melihat begitu semangatnya kak Reva dan teman-teman untuk menyambut Pertandingan besok di Lumajang, para orangtua juga ikut semangat. Apapun hasilnya, kalian sudah menjalani prosesnya dengan baik, kami bangga Nak. Dan semoga Allah memberikan hasil terbaik yang di Ridhoi-Nya..aamiin

Akademis vs Non Akademis

“I have a dream that my four little children will one day live in a nation where they will not be judged by the color of their skin, but by the content of their character”.
Martin Luther King, Jr

Danica Najaah Syareefa, anak nomer 2 (si tengah) ini secara fisik dan pembawaan memang berbeda dari kedua saudaranya. Kulitnya lebih coklat, lincah dan pemberani, sekolah juga lebih awal, dia mengikuti sekolah sejak jenjang Toodler (dibawah Playgroup). Reva nickname-nya, sempat dipanggil Naya saat Toodler dan Playgroup, sejak TK berubah menjadi Reva, agar ear catching dengan sang kakak Belva. Reva memiliki adek saat masih berusia 3th, membuatnya mandiri lebih dini dari sang kakak. Sejak kehadiran adek Mika, dialah yang membantu Mama untuk ikut momong, dibanding kak Belva yang lebih egois, mungkin karena faktor umur yang agak jauh dan hobby nya yang doyan belajar dan membaca membuatnya lebih sibuk dengan dirinya sendiri.

Sejak kecil Reva sangat menyenangi alam, terutama binatang, hobby menunggang kuda, berfoto dengan banyak burung bahkan memegang bayi singa di Taman Safari. Kebiasaan menunggang kuda hingga saat ini masih sering dia lakukan. Untuk urusan keberanian, Reva lebih unggul, naik sepeda sejak TK, bisa berenang juga mulai kelas 1, maen sepatu roda, flying fox, roller coaster, apapun yang uji nyali dia memang merasa tertantang. Sejak umur 7th dia ingin les Panahan, tapi karena belum diperbolehkan, akhirnya kami alihkan ke les Musik, namun hanya bertahan hingga kelas 3 saja. Kelas 5 mulai kembali ke Panahan. Ketiga anak kami tidak ada yang mengikuti Les Akademis, kami sebagai orangtua sepakat tidak terlalu mempermasalahkan nilai di sekolah, secukupnya saja, namun jika anak-anak berprestasi di sekolah, itu namanya bonus, Alhamdulillah. Kami lebih menyukai mereka untuk mengambil Les Non Akademis, pelajaran cukup dari sekolah, jangan sampai waktu habis hanya untuk urusan Akademis saja. Belva dan Reva kami arahkan ke Musik, hingga detik ini meski mereka tidak sempat lagi untuk les, namun diwaktu senggang dan ingin relax mereka sempatkan bermain Piano atau Keyboard, bahkan main musik ini Reva dan Belva membuahkan beberapa piala, bahkan saat SMP, kak Belva beberapa kali diminta mengiringi acara tertentu juga Wisuda. Bagaimanapun kemampuan menjalani kehidupan mendatang bukan hanya Nilai Akademis saja yang berperan, Life Skill lebih akan membantu mereka untuk Survive demi masa depannya. Kami pribadi, baik Mama maupun Papanya merupakan mantan siswa dengan klasifikasi biasa-biasa saja, untuk itulah kami tidak menuntut anak-anak secara berlebihan untuk nilai Akademisnya, tapi kemandirian dan tanggungjawab serta disiplin itu juga harus ditempa sejak dini. Alhamdulillah sejauh ini, jika terpaksa kami tidak bisa menemani misalnya harus keluar kota atau keluar negeri, mereka sudah terbiasa Mandiri. Dengan Les Non Akademis, mereka juga memiliki tambahan Skill, selain itu dengan Reva menjadi Atlet dia akan ditempa dengan tekanan lebih, harapannya dia akan lebih kuat menghadapi tantangan kehidupan di masa depan.

Melihat hasil sidik jari kak Belva kemarin, membuat rasa penasaran semakin besar terhadap kedua adeknya dan ternyata benar, hasil Tes Sidik Jari Reva memperlihatkan perbedaan dengan kedua saudaranya, jadi selain fisik ternyata Sidik Jaripun tak sama. Meski alat ukur bakat dan potensi bernama Fingers Print Test ini masih dianggap Pseudoscience tapi hasilnya memiliki kemiripan yang sangat tinggi. Reva cenderung dominan Otak Kiri, dan gaya belajarnya Audiotori, berbeda dengan Belva dan Mika yang dominan Otak Kanan dengan gaya belajar Visual. Sedangkan untuk kecerdasan majemuk Reva, 4 tertinggi adalah Logis Matematis, Naturalis, Body Kinestetik dan Spiritualis, berbeda dengan kak Belva, yaitu kecerdasan Intrapersonal, Interpersonal, Verbal Linguistik dan Body Kinestetik, kemudian adek Mika, memiliki kecerdasan di Interpersonal, Intrapersonal, Visual Spasial dan Verbal Linguistik. Jika di lihat dari olahraga Panahan ini ke 4 aspek kecerdasan kak Reva tersebut akan dapat terexplore maximal, cara skoring (menjumlahkan hasil tembakan anak panah), olahraga di lapangan outdoor, dan spiritualis ini hubungannya dengan sunah Nabi Muhammad SAW, semoga saja Allah Azza Wa Jalla memberikan Ridho-Nya untuk Reva kedepan, jika memang suatu saat takdir membawanya menjadi Atlet Panahan, semoga dia bisa semaximal mungkin membuat harum Nama Bangsa dan Negara..aamiin.

Saat ini yang menjadi ganjalan adalah sejak Reva masuk menjadi salah satu atlet Panahan untuk mewakili Kabupaten di acara POR SD di Lumajang, Reva terpaksa setiap hari meminta dispensasi pulang lebih awal, mulai 18/10 hingga 10/11. Reva harus mengikuti TC (training center/pemusatan latihan) di lapangan Pengcab Perpani Sidoarjo setiap hari pk 14.00 padahal sekolah selesai pk 15.30 apalagi Reva sebagai siswa kelas 6 yang juga anggota TPDS terbiasa pulang paling cepat pk 16.00. Beban itu terlalu berat untuk Reva, apalagi jika jadi berangkat ke Lumajang mengikuti POR SD, Reva harus sanggup meninggalkan sekolah hingga 6 hari. Reva galau ya Allah, bagaimana dia mengejar ketertinggalan materi, walaupun pihak Kecamatan maupun Kabupaten siap menjamin kelangsungan sekolah Reva melalui Jalur Prestasi, tetap Reva pusing memikirkan nilai-nilai yang selama ini dia perjuangkan. Beban Reva tidak cuma tentang dirinya, nama besar sang kakak juga ikut membayangi kesuksesannya, bagaimana tidak, secara tidak sadar guru-guru di sekolah sering membandingkan Reva dengan Belva. Target-target Reva di sekolahpun ingin berusaha menyaingi bahkan mengungguli sang kakak. Namun sekali lagi Hidup adalah Pilihan, Reva harus memilih salah satu antara jalur Akademis atau Non Akademis, tidak bisa keduanya karena tidak akan maximal, kami sebagai orangtua akan support sepenuhnya pilihan anak-anak kami. Termasuk kedepan jenjang SMP akan kami wacanakan Home Schooling, agar lebih flexible mengatur waktu. Yach, apapun itu kami harus berunding lebih dalam lagi, semoga Allah Azza Wa Jalla meridhoi upaya terbaik demi anak-anak kami di masa depan..aamiin

Medali Perunggu untuk Kecamatan Waru

The most important thing I’ve learned about archery is that there is only one archer in the race, and that’s me.”

Alhamdulillah, hari Sabtu (13/10) adalah hari yang sangat menegangkan sekaligus menggembirakan dan merupakan titik awal Reva meraih salah satu prestasi besarnya, yaitu kemenangannya di Porlakab Cabang Olahraga Panahan di kelas 30meter, dengan perolehan 1 medali Perunggu. Medali Perunggu ini salah satu penyumbang untuk Kecamatan Waru di acara Porlakab, yang diadakan oleh Dispora Kabupaten Sidoarjo dalam seminggu ini. Mulai hari Senin pembukaan yang berlangsung hingga Jumat, kecamatan Waru belum satupun Cabang yang menorehkan prestasi, Alhamdulillah Reva memecahkan telor meski hanya Medali Perunggu namun wakil dari pihak Kecamatan sangat bahagia dan mengapresiasi dan terus memotivasi Reva untuk berprestasi mengharumkan Kecamatan Waru. Selain Kecamatan Waru, tentu saja pihak Sekolah Islam Raudlatul Jannah yang ikut berperan menunjuk Reva sebagai salah satu wakil sekolah ikut serta dalam ajang Porlakab turut bergembira, karena dari wakil Sekolah hanya Reva satu-satunya yang berhasil mempersembahkan Medali, begitupula Club Paser yang dalam 3 hari saja melatih Reva juga sangat gembira dengan hasil yang menakjubkan. Sebagai Orangtua tentu saja kamilah yang paling berbahagia, tidak ada satupun target yang kami bebankan kepada Reva, karena kami tau diri Reva terpaksa vakum cukup lama di kelas 6 ini, namun dengan 3x saja berlatih dapat membawa 1 medali, Masyaallah sama sekali diluar dugaan, dan Alhamdulillah lagi-lagi Allah Azza Wa Jalla memberikan rahmat dan karunia-Nya.

Acara Porlakab diadakan di lapangan Lebo dan diagendakan selama 2 hari Jumat dan Sabtu pk 07.00 hingga selesai, jika hari Jumat lomba dapat di selesaikan, maka Sabtu tidak ada kegiatan lanjutan. Reva telah siap untuk sarapan pk 05.00, begitu semangat dan tanpa keluhan, padahal Rabu dan Kamis pk 14.00 hingga maghrib dia terus berlatih untuk menghadapi Porlakab. Tepat pk 06.00 kami berangkat sembari mengantar kak Belva sekolah dan memang dalam satu jurusan. Alhamdulillah pk 06.45 kami telah sampai di Lapangan Lebo, dan hanya terlihat satu petugas Porlakab yang tidak tau menahu tentang acara Panahan, beliau hanya dititipi sebentar oleh pihak panitia, oh baiklah. Anak-anak terbiasa disiplin dengan waktu, walau terkadang orangtuanya sampai harus kepontal-pontal mengikuti mereka, karena kami hafal tipikal orang Indonesia itu jam karet, kecuali Sekolah Raudhatul Jannah yang selalu ontime dengan agenda yang diadakan, mungkin itu yang mendidik anak-anak kami untuk disiplin dengan waktu. Pk 07.30 peserta mulai berdatangan kemudian langsung pemanasan dan tepat pk 08.00 acara panahan dimulai.

Porlakab kali ini diikuti oleh 12 anak laki-laki dan 12 anak perempuan dari 6 kecamatan, antara lain, Waru, Taman, Candi, Wonoayu, Krian dan Sidoarjo kota. Tiap kecamatan bebas untuk mengirimkan berapapun wakilnya, dan kecamatan Waru mengirimkan 6 anak laki dan 5 anak perempuan dan merupakan kecamatan dengan wakil terbanyak, maklum kecamatan Waru ini besar sekali wilayahnya, dibandingkan dengan Krian yang mengirimkan wakil hanya 1 anak perempuan dan kebetulan teman 1 club dengan Reva. Acara lomba Cabor Panahan dibuka oleh bapak Agung, selaku wakil dari Dispora Sidoarjo sekaligus yang memberikan aturan pertandingannya. Kelas panahan dibagi 3, yaitu 40mt, 30mt dan 20mt, untuk semua peserta dengan Stardart Bow melakukan Tembakan sebanyak 6x dan masing-masing melepas 6pc anak panah. Sedangkan 50mt untuk peserta dengan Compound Bow dengan jumlah Tembakan yang sama. Hasil Skor dari Reva sendiri untuk kelas 40mt dengan skor 88 berada di urutan no 5, kelas 30mt dengan skor 156 berada di urutan ke 3 dan terakhir kelas 20mt dengan skor 210 berada di urutan 4. Alhamdulillah untuk semua hasil yang diperoleh Reva, dengan persaingan yang demikian ketat dan latihan yang hanya 3x saja, masih ada Medali yang dapat di persembahkan. Dari deretan pemenang Cabor Panahan ini dapat dilihat urutan 1 dan 2 adalah anak-anak yang sama, sehingga bisa dibuat catatan bahwa kaderisasi atlit Panahan di daerah sangat kurang, selain Panahan adalah olahraga mahal, ekslusivitas membuat olahraga ini jarang diminati, apalagi Pemerintah juga tidak support sama sekali, kondisi lapangan tingkat Kabupaten saja, tampilannya mengenaskan, bahkan info dari ibu dari putra pemenang Emas di 3 kelas, untuk ngopeni lapangan saja harus sumbangan mandiri dari anak didik pengcab Sidoarjo (btw putra beliau sudah latian selama 2 tahun dan memiliki jam terbang yang tinggi, bahkan beberapa kali sudah mendapatkan emas, gitu kq masuk kategori pemula ya..hiks). Itulah mengapa Reva terpaksa ikut Club (swastanya) agar sarana prasarana juga ikut support dan membuat dia nyaman dan semangat mengikuti latian, tapi ya itu tadi harus kuat pendanaan dari orangtua. Jer Basuki Mawa Bea.

Dengan Medali Perunggu ini Reva akan mengikuti TC (training center) guna persiapan ajang tingkat Provinsi mewakili Sidoarjo, dan menurut pak Agung sebagai penanggungjawab Cabor Panahan diawal tadi, yang mengikuti TC adalah peserta dengan skor 1-4 teratas, dan belum tentu yang juara 1 atau 2 yang terkirim karena masih harus melihat hasil TC. Semangat ya Kak Reva, Medali Perunggu pertama yang kamu peroleh semoga menjadi motivasi untuk berprestasi lebih banyak lagi, selalu giat berlatih, jangan mudah putus asa dan jaga ibadah dengan benar dimanapun berada. Semoga Allah Azza Wa Jalla senantiasa meRidhoi cita-cita dan impianmu dimasa mendatang..aamiin

Duta kecamatan Waru di ajang Porlakab

“Some say LIVE, LAUGH, LOVE…but we say RAISE, AIM, SHOOT”

Alhamdulillah, meski sempat terjadi polemik tentang lomba Panahan ini, kesepakatan itu akhirnya tercapai juga. Yach, Coach Reva di sekolah sama sekali tidak cawe-cawe melatih Reva, namun jika Reva membawa salah satu Piala, bukan pelatih Perpani yang harum namanya tapi Coach Eskul Panahan dan Sekolah, itulah yang membuat Pelatih dari Perpani Surabaya merasa tidak dihargai. Sebagai jalan keluar Reva yang selama ini terdaftar sebagai member Perpani Surabaya harus dipindahkan ke Pengcab Sidoarjo terlebih dahulu karena berdasarkan KK dan letak sekolah, kemudian masuk sebagai anggota Club “Paser” dibawah naungan Pengcab Sidoarjo, dengan begitu Reva akan di latih pihak Perpani Sidoarjo dan dipersiapkan lebih banyak untuk even Panahan kota Sidoarjo. Reva mulai berlatih hari Sabtu (07/10) sedangkan jadwal lomba akan di adakan hari Jumat dan Sabtu (13/10-14/10), dan Reva harus bermain di kelas 20m, 30m, 40m, padahal selama ini Reva masih bermain di 10-20m, modal nekad ini namanya, apalagi Reva sempat vakum latian karena sudah kelas 6, karena harus berkonsentrasi menjemput UNAS. Namun karena sekolah memberikan tugas negara, yang mana kesempatan tidak datang dua kali, maka Reva pun siap menerima tantangan tersebut. Memang persiapan UNAS wajib dilakukan tapi bukan berarti mengorbankan hobby yang saat ini tengah ditekuni kak Reva yaitu Panahan, toh masih bisa membagi waktu dengan baik. Tapi saat menghadapi lomba seperti ini, jadwal latihan Reva terpaksa mengganggu jadwal Sekolah juga, karena mepetnya jadwal pertandingan terpaksa latihan harus dikebut. Jika pulang sekolah resmi terjadwal pk 16.00, terpaksa pk 14.00 harus ijin pulang untuk latihan, belum lagi hari Jumat jadwal lomba Panahan pk 07.00 sampai selesai. Semoga saja tampilan Reva tidak terlalu mengecewakan, walaupun tidak menang. Kami sendiri sebagai orangtua tidak mentargetkan Reva harus menang, yang terpenting Reva dapat belajar bagaimana proses yang harus di lalui serta mengambil ilmu dan pengalaman yang ada. Toh, ini lomba Panahan yang pertama kali Reva ikuti, jadi target menang adalah nomer sekian.

Sebenarnya pihak Perpani masih ada ganjalan tentang Coach di Sekolah, namun sambil jalan akan diselesaikan dengan win-win solution. Bagaimanapun besok saat lomba, pelatih club “Paser” (pak Yogi) yang akan mendampingi Reva bukan Coach dari Sekolah. Semua ada hikmahnya, kembali lagi olahraga Panahan saat ini sudah tidak bisa dibuat ekslusif lagi, Perpani harus mau bekerjasama dengan baik dengan pihak Sekolah, selain mereka juga akan diuntungkan dengan jasa marketing gratisan, secara otomatislah siswa yang mencintai panahan akan mendorong orangtua mereka untuk mendukung agar siswa tersebut dapat bergabung dengan Club Panahan, jumlah member yang semakin besar, kesempatan mengkader atlit juga semakin luas, bibit-bibit baru akan bermunculan untuk siap mengharumkan nama bangsa di kancah Internasional. Semoga ^^

Sidik Jari kak Belva

Setelah menunggu hampir 3 minggu, hasil test Sidik Jari kak Belva selesai sudah. Alhamdulillah hasilnya sesuai dengan yang diharapkan. Sebenarnya sejak kemunculan tes sidik jari ini rasa penasaran besar sekali, tapi sayang karena terlalu mahal, lupakan sajalah. Setelah lama tidak update berita tentang tes sidik jari ini, mendadak awal tahun ajaran baru, salah satu wali murid yang kebetulan seorang guru mengajak anak-anak kelas aksel untuk mengikuti tes ini sebagai sarana penguatan atas fakultas yang telah mereka pilih, jika cocok Alhamdulillah namun jika tidak, hasil tes ini dapat memberikan banyak alternatif yang lain berdasarkan kecerdasan, bakat dan potensi si anak. Wahh..Langsung saya menjadi pendaftar yang pertama, alasan paling utama adalah karena KEPO, mengapa kak Belva sama sekali tidak tertarik bidang Ekonomi, padahal mama dan papa nya lulusan ekonomi dan menjadi pengusaha. Fakultas Ekonomi ini maksud saya sebagai alternatif selain pilihan utama fakultas Kedokteran.

Menurut informasi yang saya baca mengenai tes sidik jari ini, bahwa setiap sidik jari manusia mengandung kumpulan bakat dan potensi bahkan pilihan pekerjaan orangtua hingga buyutnya. Jadi semisal ada orangtua atau buyut yang berprofesi sebagai guru/dosen, tentara, pengusaha, dokter dll akan terlihat di sidik jari kita, entah dominan atau resesif. Ternyata hasil yang diperoleh kak Belva menunjukkan hasil terkuat justru dibidang eksakta dan bahasa, tapi memang selama ini, dua bidang itu yang terlihat menonjol di nilai mapel sekolah. Dan jika kemudian rekomendasi hanya ke fakultas tertentu seperti Ilmu Kesehatan (Kedokteran, Farmasi, Kesehatan Masyarakat) dan Tehnologi Informatika dan Komunikasi, serta fakultas Budaya yang di dalamnya ada Bahasa, Pariwisata, Arkeologi, juga fakultas Keguruan, ini hasil kombinasi dari alat-alat ukur yang lain semisal Multiple Intelegent, 4 Dimensi Kepribadian, Gaya Belajar, Cara Berfikir dll. O ya, untuk alternatif fakultas Keguruan sendiri, secara genetis, mertua saya keduanya adalah dosen Mipa, keluarga dari pihak mertua banyak dosen, selain itu ibu saya sendiri juga guru Fisika, keluarga ibu memang juga banyak jadi guru (entahlah, di cocok-cocokin kq ya cocok..hohoho)

Finger prints test sendiri menurut sebagian ahli Psikologi termasuk Ilmu semu atau pseudosains (Inggris: pseudoscience) adalah sebuah pengetahuan, metodologi, keyakinan, atau praktik yang diklaim sebagai ilmiah tetapi tidak mengikuti metode ilmiah (bahasa kasarnya semacam ramalan). Biasalah dalam hidup ada Pro dan Kontra, saya hanya berusaha mendapatkan yang terbaik buat anak-anak, termasuk membantu kak Belva mencarikan sarana penguat atas pilihannya dan Alhamdulillah anak-anak aksel yang ikut tes, semua hasil sesuai dengan pilihan fakultas yang mereka inginkan. Sekali lagi Tes Sidik Jari ini bukan Vonis, tapi membantu mengarahkan sesuai dengan bakat dan potensi genetis yang membuat si anak semakin mantab melangkah kedepan dengan pilihannya, karena kalo sudah ada bakat dan potensi, tentunya akan mempercepat hasil, dibandingkan yang tidak memiliki bakat maupun potensi.

Kak Belva telah mantab memilih fakultas Kedokteran mungkin secara genetis banyak dokter di keluarga si Papa, yang terdekat adalah budhe-nya (kakak kandung papa belva). Dan hasil yang paling melegakan adalah tentang kharakteristik pekerjaan yang mendapat nilai tertinggi adalah Self Employee dan Business Owner, mungkin disinilah gen mama-papa nya terlihat. Jadi intinya jika Allah ridho atas pilihan kak Belva menjadi seorang Dokter maka ujungnya dia akan lebih memilih profesi sebagai Dokterpreneur (kebetulan budhenya juga seorang dokter estetika yang memiliki klinik kecantikan). Semoga ya nak, Allah senantiasa meRidhoi apa yang menjadi pilihan, impian dan cita-citamu sebagai dokter spesialis anak, mama dan papa pun ikhlas dan ridho dengan semua doa, usaha dan perjuanganmu dalam mewujudkannya..In Syaa Allah, aamiin.

Prestasi pertama di Jenjang SMA

  “Speech is power: speech is to persuade, to convert, to compel. It is to bring another out of his bad sense into your good sense”. Ralph Waldo Emerson

  Alhamdulillah, terimakasih ya Allah atas segala rahmat dan karunia-Mu, dengan segala keridhoan-Mu, kak Belva berhasil meraih juara ketiga dalam ajang lomba Pidato Bahasa Inggris dengan tema “Securing Students Morality in A Globalized Era” yang diselenggarakan oleh Sidoarjo Education Expo di hari Rabu (26/10/2016). Prestasi ini merupakan yang pertama yang diraih oleh kak Belva di semester awal kelas 10 di SMA 1 Taman. 

  Sejak awal di bukanya Pameran pendidikan, dimana semua sekolah baik negeri dan swasta se kabupaten Sidoarjo turut berpartisipasi dalam acara ini, saat tehnical meeting nama kakak sudah diajukan oleh para guru untuk diikutkan ajang Speech Contest. Padahal biasanya untuk kategori lomba bahasa, jelas kelas bahasa yang paling diutamakan, namun kali ini Alhamdulillah kak Belva yang notabene kelas IPA, mendapat kepercayaan menjadi Duta Sekolah, mungkin atas rekomendasi guru bahasa Inggris yang mengetahui kemampuan kak Belva dikelas. Bangganya kami terhadapmu Nak, kami berharap dimanapun kamu berada teruslah bersemangat dalam meraih prestasi dan semoga Allah Azza Wa Jalla senantiasa meRidhoi..aamiin.