Antara Recurve, PORKAB dan Cervicalgia

“Perhaps you hate a thing that is best for you, and you love a thing that is bad for you. Allah knows, while you know not.” – [Quran, 2:216]

Senin sore ini pk 15.30 kami tiba di RS Mitra Keluarga, visit Spesialis Syaraf untuk memeriksakan leher kak Reva yang sakit untuk di gerakkan sejak hari Minggu kemarin. Alhamdulillah sejak kecil anak-anak jarang sakit, kalaupun sakit mereka sudah cukup dengan dokter umum, ke Spesialis Anak kalau imunisasi atau kalau tidak sembuh jika ke dokter umum. Namun sore ini ada yang berbeda, kami mendaftarkan kak Reva di Mitra Keluarga sebagai pasien baru untuk Spesialis Syaraf pula dan sengaja kami memilih dokter perempuan dengan pertimbangan kak Reva sudah baligh juga karena kak Reva sendiri yang meminta kami. Mendapatkan nomer 9, kami mengantri dengan sabar, kami lihat di sekitar pasien lebih dominan yang sudah berusia, kak Reva mungkin satu-satunya pasien anak-anak.

Tak berapa lama nama kak Reva disebut,

Suster : Anak Danica

Kamipun masuk ke dalam ruang periksa, bu Dokter Devi yang cantik segera menyapa kami dengan ramah,

Devi, Sp.S : mbak Danica kenapa?, yuk cerita

Reva : bangun tidur leher seperti kecetit, bunyi klek begitu dok

Devi, Sp.S : dokter periksa dulu ya, (sambil lanjut periksa, ditekan-tekan bagian yang sakit berulang-ulang antara leher sampai bahu, membandingkan kanan dan kiri), ini Otot kq bisa seperti ini kalo sekolah bawa apa saja?, ranselnya berat banget ya?, ini terjadi penebalan otot.

Saya : iya dok, kebetulan anak kami atlet panahan. Jadi beban ada di sebelah kiri..hiks

Devi, Sp.S : owh, pantesan, jadi atlet panahan ya, keren sekali (sambil beliaunya memperagakan tangannya seolah-olah memanah).

Selesai memeriksa dokter mulai melakukan diagnosa bahwa kak Reva menderita CERVICALGIA a.k.a ketegangan otot dan harus dilakukan Fisioterapi selain mengkonsumsi obat minum, break latihan panahan selama 2 minggu, kami pun menyela, karena ada keperluan Turnamen PORKAB dalam waktu dekat, maka dokter mengembalikan lagi kepada kami orangtua Reva sejauh mana urgent tidaknya latihan dan mengijinkan dengan syarat agar dilakukan fisioterapi paling tidak 2x dulu, minum obat dan dipastikan tidak terasa sakit boleh latihan lagi, selanjutnya fisioterapi harus rutin dilakukan, minim 5 -10 x. Kami pun segera mengantri obat sembari menunggu kak Reva fisioterapi.

Hasil diagnosa dr Devi, Sp.S ini saya kirimkan pula ke kakak ipar yang kebetulan juga dokter, yang sempat juga kami minta advice harus periksa ke SpA, Internist atau Syaraf, beliau menyarankan ke dokter Syaraf dengan pertimbangan adanya fisioterapi. Dan budhe nya langsung memerintahkan break latihan 1 bulan, dengan pertimbangan untuk tidak menyepelekan sakit otot ini, jika terjadi defect saat remaja nanti justru akan semakin kasian. Mungkin Allah Azza Wa Jalla sudah memberikan takdirnya untuk kak Reva sakit otot, sehingga kak Reva berhenti dulu turnamen dan lebih fokus UN.

Kak Reva merupakan salah satu atlet Recurve yang dimiliki kabupaten Sidoarjo dan diharapkan dapat tampil mewakili di ajang PORPROV di 2019 nanti, juga PON Remaja, sebelum menuju kesana terdapat ajang PORKAB sebagai saringan awal dan kabarnya di agendakan akhir April dan kemungkinan bersamaan dengan USBN kelas 6. Situasi seperti ini membuat kak Reva galau antara memilih prestasi akademis (danem tinggi) dan non akademis (medali), meskipun SMP nanti sudah di terima di SMPI Raudhatul Jannah (yayasan yang sama dengan SDnya), dia juga memiliki Jalur Prestasi untuk masuk Sekolah Negeri, namun kak Reva ingin lulus dengan danem yang tinggi.

Latian yang terus menerus menjelang PORKAB padahal barusaja dia menyelesaikan turnamen Brawijaya Archery Championships dan Kejurda Terbatas Jawa Timur akhirnya membuat dia dipaksa istirahat, apalagi untuk alat baru Recurve masih proses beradaptasi. Biasa menggunakan Standart Bow dari Kayu beralih ke Recurve yang terbuat dari besi tidak hanya membuat lengannya tergores berkali-kali namun juga saking beratnya hingga terjadi Cidera. Jadi kasus leher kecetit itu hanya pencetusnya saja, karena penyebabnya adalah kelelahan yang tidak dirasakan. Saat ini kak Reva sedih karena tidak bisa berlatih, padahal dia memiliki ambisi disini untuk dapat berprestasi. Ambil saja hikmahnya nak, kamu harus istirahat memegang Busur untuk kembali fokus dengan Buku, jika Allah Azza Wa Jalla ridho, insyallah kamu masih bisa ikut pertandingan dalam waktu dekat..aamiin

Advertisements

Brawijaya Archery Championships dan Kejurda Terbatas Jawa Timur

Patience, persistence and perspiration make an unbeatable combination for success.” – Napoleon Hill .

Turnamen demi turnamen, mulai Brawijaya Archery Championships sebagai turnamen open yang diselenggarakan oleh swasta hingga Kejuaraan Daerah Terbatas Jawa Timur yang diselenggarakan oleh Perpani sebagai ladang mencari Golden Ticket (Jalur Prestasi) untuk mendapatkan Sekolah Negeri telah di selesaikan kak Reva dengan baik. Meski belum mendapatkan juara perorangan namun juara beregu kedua turnamen berhasil mendapatkan juara 1, Alhamdulillah.

Brawijaya Archery Championships diselenggarakan oleh Universitas Brawijaya Malang dan diadakan selama 4 hari (08/03 – 12/03) di Sport Center Malang. Turnamen BAC ini adek Mika sudah mulai diikutsertakan, tidak ada target apapun untuknya hanya sekedar menjajal lapangan dan menambah kepercayaan dirinya saja. Sedangkan kak Reva sudah ada target untuk Perak dan Emas untuk beregu. Baik kak Reva maupun adek Mika mengikuti divisi Standart Bow Nasional, sejauh 48mt – 6×6 yang discedulekan di hari pertama dan kedua (08/03 – 09/03), Karena 4 hari maka dispensasi sekolah membolehkan mereka untuk membolos demi panahan. Bahkan orangtua kami pun ikut berangkat ke Malang demi support cucu tercinta, dan Kak Reva sempat melaju ke babak 1/8 final dan mengikuti aduan, namun dikalahkan oleh kabupaten Malang, dan untuk beregu berhasil membawa medali Emas bersama Cherry dan Putri, sedangkan adek Mika belum berhasil mendapatkan medali namun sudah dapat menyelesaikan turnamen dengan baik, Alhamdulillah. Selesai dengan turnamen BAC di tanggal 11 kami berangkat menuju New Zealand menikmati Reward dari Danone – Nutricia selama 5 hari, sepulangnya dari sana kami langsung mengantarkan kak Reva melanjutkan turnamen selanjutnya.

Kejuaraan Daerah Kelompok Umur ini diadakan untuk kelas 6 dan 9 saja, sebagai sarana memperoleh Jalur Prestasi menjelang pendaftaran Sekolah Negeri. Peserta yang ikut dari berbagai kabupaten di seluruh Jawa Timur, namun karena terbatas maka peserta tidak terlalu banyak seperti BAC kemarin. Kejurda Terbatas diadakan 17/03 – 18/03 dan diadakan di lapangan Koni Jatim Kertajaya, Surabaya. Meski dekat dengan rumah kak Reva wajib menginap bersama teman-teman se kabupaten Sidoarjo. Pada saat 17/03 itu kami belum mendarat di Surabaya, jadi Orangtua kami yang mengantar kak Reva menginap di asrama Haji, saat kami mendarat siang langsung kami berangkat menjenguk kak Reva di Asrama. Keesokan harinya kak Reva langsung pertandingan, setelah sehari sebelumnya sudah melakukan Practice Day. Alhamdulillah meski belum juara perorangan dia berhasil mendapatkan juara 1 beregu bersama Cherry, Putri dan Naura. Disyukuri saja ya kak, insyaallah di masa mendatang kelak kamu juga akan berhasil mendapatkan medali perorangan dengan menambah jam terbang selain giat berlatih juga tentunya..Aamiin

Reva’s Recurve dan Mika’s Compound

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berada di atas mimbar berkata: “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi. Ketahuilah bahwa kekuatan itu adalah memanah, ketahuilah bahwa kekuatan itu adalah memanah, ketahuilah bahwa kekuatan itu adalah memanah!”

(ABU DAUD – 2153)

Pagi ini Mika mulai berlatih panahan lagi di Club Paser, Club yang sama dengan kak Reva. Sejak kemarin sore sebenarnya, tapi karena hujan, belum juga puas terpaksa wasalam. Pagi ini maksa privat sama Coachnya untuk latian, padahal jadwal Coach untuk Club Paser hanya di hari Kamis dan Sabtu, sedangkan hari Minggu ke lapangan Lebo, sebagai tugas PNSnya (istilah saya saja ini..qkqkqk). Betapa semangatnya Mika, memang dari awal berdua, Reva dan Mika latian panahan bersama di Surabaya, tapi karena ada masalah KK mereka harus transfer ke Club Panahan di Sidoarjo agar lebih mudah mengikuti Turnamen antar daerah. Sejak kak Reva sibuk persiapan Porlakab hingga POR SD, Mika terpaksa di istirahatkan sementara waktu, fokus total ke kak Reva.

Hari ini selain latian, kami selaku orangtua di ajak rembukan masalah anak-anak dengan sang Coach, om Gatot dan om Yogi, dan mereka menyarankan Mika beralih ke Compound untuk menggantikan Standart Bow, karena posturnya yang besar, diharapkan power juga menunjang, juga karena kebutuhan atlet Compound untuk kabupaten Sidoarjo sangat minim. Untuk Reva sendiri tetap di Standart Bow untuk di upgrade ke Recurve, selain skill sudah bagus sayang kalo pindah ke Compound karena berbeda tehnik, padahal Reva sangat berminat di Compound, tapi kebutuhan atlet untuk Recurve juga masih minim, toh Reva diuntungkan dapat bermain di dua kategori Standart Bow maupun Recurve. Untuk Turnamen, kategori Standart Bow, hanya ada di skala Nasional saja, untuk Internasionalnya menggunakan Recurve. Perbedaan Recurve dan Standart Bow pada jarak bidik, untuk Recurve sama dengan Compound di atas 50 meter, dan alat panahnya mirip seperti Standart Bow, tapi dari besi seperti Compound dikarenakan jarak bidik yang jauh itu tadi. Berat hampir sama antara Recurve dan Compound, namun untuk kepraktisan lebih simple Compound, sedangkan harga keduanya hampir sama dengan harga sebuah Sepeda Motor..hiks. Inilah namanya Jer Basuki Mawa Bea, namun demi anak dan untuk mengisi kegiatan secara positif, juga sarana penggemblengan mental dan fisik, ya harus ditekati. Lagipula ini olahraga Sunah, semoga selain berolahraga dan mencetak Prestasi juga dapat menabung Pahala..aamiin (insyaallah).

“Sesungguhnya Allah akan memasukkan tiga orang ke dalam jannah karena satu anak panah, orang yang membuatnya dengan tujuan baik, orang yang melemparkannya dan orang yang menyiapkannya. Hendaklah kalian memanah dan berkuda, sedangkan memanah lebih aku sukai daripada berkuda.” (HR Tirmidzi, beliau mengatakan, hadits hasan shahih)

Team Archery Sidoarjo goes to POR SD 2017 di Kabupaten Lumajang

“I don’t focus on what I’m up against. I focus on my goals and I try to ignore the rest.” – Venus Williams.

Pagi ini Sabtu (11/11/2017) pk 08.00, kami mengantarkan Reva menuju Kantor Dispora, guna mengikuti event POR SD 2017 yang akan dilaksanakan di Kabupaten Lumajang selama satu minggu yaitu tanggal 13-18 November 2017. Event 2 tahunan ini merupakan ajang pencarian bibit – bibit atlet berprestasi di Jawa Timur. Tahun ini ada 11 cabang olahraga dan 1 cabang ekshibisi meliputi Cabor Atletik, Bola Voli Mini, Bulu Tangkis, Catur, Panahan, Pencak Silat, Renang, Senam, Sepak Takraw, Tenis Lapangan, Tenis Meja dan 1 Cabor Ekshibisi Selam. Reva bersama teman satu tim panahan yang berjumlah 19 dan akan diantar Bis bersama cabor yang lain. Ingin rasanya mengantarkan sendiri menuju Lumajang toh kami mengikuti Bis dari belakang, kami memang berencana akan menginap di Lumajang hingga acara pembukaan POR SD selesai digelar dan akan kembali lagi ke Lumajang saat Reva bertanding. Tim Panahan terdiri dari 19 anak, kategori Standart Bow Putra ada Izaz, Rizqi, Lucky dan Dheo sedangkan Standart Bow Putri ada Putri, Reva, Naura dan Nanda, untuk kategori Compound Putra ada Izaz, Rizqi, Rio dan Bimo, sedangkan Compound Putri hanya Jihan seorang, terakhir kategori Recurve Putra ada Brill, Gabriel, Abror dan Hasan, sedangkan Recurve Putri ada Alifvia, Marsha, Aliya dan Raisa.

Bis tiba di Lumajang sekitar pk 15.00 bersama-sama dengan Cabor lain menginap di Hotel Cantik. Hotel yang sangat sederhana cukup buat anak-anak untuk menginap selama seminggu. Kamar dengan tipe standart untuk berlima, tanpa air hangat, Alhamdulillah masih ada ACnya. Kami meminta extra bed, agar anak-anak bisa sedikit lebih lega untuk tidurnya, dan dijadwalkan secara bergantian untuk tidur sendiri di bawah dengan extra bed.

Reva mungkin sedikit shock dengan ketidaknyamanan ini, apalagi di rumah terbiasa tidur sendiri, ditambah dengan capek yang menumpuk, juga karena periodnya yang berkepanjangan, jadi pusing dan demam membuatnya semakin menderita. Setelah semalam hanya tidur 4 jam, dan coach menyatakan Reva sakit, Minggu pagi langsung kami jemput dan menginap semalam di hotel kami yang lebih manusiawi..hiks. Setelah sarapan pagi di hotel dan tidur cukup, siang hari Coach mengabarkan bahwa Reva harus segera meluncur ke Aula Wana Bhakti dimana sedang ada agenda pemeriksaan keabsahan dokumen Atlet, seperti Akte Kelahiran, Sekolah, Nisn dan Raport. Alhamdulillah kami datang tepat waktu, pemeriksan berjalan dengan lancar dan Reva mendapatkan kartu peserta POR SD.

Alhamdulillah meski banyak drama dengan masalah ketidaknyamanan hotel untuk Atlet, tapi kami selaku orangtua hanya berusaha menerima dengan ikhlas, mungkin Allah sedang memberikan kesempatan walau disertai dengan kesulitan, agar Reva banyak belajar baik tentang berbagi, berempati dan juga arti dari “Qana’ah”. Hari Senin pagi Reva kami antar ke Lapangan, dan dijadwalkan untuk Practice Day, hari dimana para Atlet Panahan mencoba lapangan juga pengecekan alat panah oleh Panitia Lomba. Setting Visir dan sebagainya harus fix hari ini sebagai bekal untuk pertandingan besok. Jadwal untuk Lomba sendiri, Selasa dan Rabu terscedul kategori Compound dan Recurve, sedangkan Standart Bow terjadwal di hari Kamis dan Jumat. Hari Senin siang ini kami berusaha “tega” melepaskan Reva sendiri bersama teman-teman Atletnya di hotel, kami berencana pulang ke rumah hari Selasa dan Rabu karena membagi perhatian dengan kakak dan adiknya juga karena ada pekerjaan yang harus dibereskan, lagipula selain Reva sedang tidak bertanding juga ada Wali Atlet yang bisa dititipi untuk memperhatikan anak-anak.

Hari Rabu malam kami sudah tiba kembali di Lumajang, untuk mensupport penuh kesayangan yang akan bertanding. O ya untuk kategori Compound dan Recurve tidak banyak yang bisa saya ceritakan, yang pasti semua Atlet kontingen Sidoarjo rontok tak bersisa..hiks. Malam ini kami sempatkan mampir hotel Reva untuk melihat keadaannya dan kesiapannya bertanding besok, kami berharap dia sudah sehat 100% karena 2 hari kedepan akan menjadi hari yang sangat berat buatnya.

Hari Kamis pagi pk 06.30 kami sudah tiba di Lapangan, ada beberapa kontingen yang sudah lengkap berada di sana, mereka ini yang penginapannya tidak jauh dari Lapangan, tapi lebih banyak kontingen yang belum tiba termasuk dari Sidoarjo. Pk 07.30 Atlet Sidoarjo berdatangan baik yang akan bertanding maupun yang kemarin bertanding semua hadir sebagai Supporter. Diawali dengan pemasangan perlengkapan Alat Panah maupun Atletnya, kemudian dilanjutkan pemanasan dan di akhiri dengan Doa bersama. Ada tambahan Atlet yang akan bertanding di Kategori Standart Bow ini untuk Putri, ada Marsha dan Alifvia, sedangkan Putra ada Abror dan Hasan, selain untuk memenuhi kuota juga kemungkinan memperluas peluang untuk menang.

Reva mendapatkan nomer urut Peserta 12B, dia berdampingan dengan Atlet Jember (12A) dan Atlet Madiun (12C), mereka bertiga membidik papan target yang sama. Cuaca masih cerah dan hawanya sangat bersahabat, walau perlahan mendungpun datang. Acara segera dimulai tepat pk 08.30 untuk latihan percobaan sebelum masuk ke pertandingan yaitu Standart Bow klasifikasi 40 mt. Tak seberapa lama Akung dan Ochi diantar adek saya datang juga untuk mensupport, dari jauh-jauh hari Akung sudah ngebet ingin menyaksikan langsung pertandingan Reva ini, beliau sangat bersemangat walaupun masih dalam pemulihan akibat Pemasangan Ring di Jantungnya. Seharusnya beliau berdua menginap semalam, berhubung hotel se-Kabupaten Lumajang Sold Out, beliau pun memutuskan untuk berangkat Subuh, kami saja terpaksa menginap di Losmen ala kadarnya sambil mencari hotel lagi untuk malam ini.

Pertandingan di mulai untuk Standart Bow Putri, setelah latian percobaan 2×6, acara di lanjutkan dengan scoring 6×6. Alhamdulillah setelah sport Jantung, hasil Reva sangat baik walau belum termasuk 10 besar, dia sudah nangkring di rangking ke 18 dari 83 peserta se Jawa Timur, dengan Score 210. Acara dilanjutkan Standart Bow Putra klasifikasi 40 mt. Mendung semakin menggelayut manja dan gerimispun datang. Akung dan Ochi memutuskan untuk pulang, kasian juga, cuaca semakin tidak bersahabat panas dingin tidak karuan.

Pertandingan dilanjutkan kembali untuk Standart Bow Putri klasifikasi 30 mt, lagi-lagi Reva berhasil nangkring di peringkat 18, dengan Score 243. Bahkan mengalahkan atlet dari Surabaya, yang nangkring di peringkat 22. Saat itu kebetulan mas Rizal pelatih Reva di Surabaya yang menjadi anggota Panitia sedang menempelkan hasil print out kualifikasi 30 mt sempat ngobrol bareng om Yogi, coach Reva sekarang di Sidoarjo. Mas Rizal, “wah Reva hebat tante, sudah berhasil mengalahkan Gita, tapi benarnya kalo tidak ada masalah KK, Reva ini atlet Surabaya, tidak akan saya berikan ke om Yogi, iya kan om?,” kami tertawa bersamaan. Sempat bertanya ke Reva, seandainya disuruh memilih antara kota kelahirannya dengan kota dimana dia tinggal sekarang, dia akan tetap memilih memperkuat team Sidoarjo, entahlah, Reva sendiri yang tau alasannya.

Klasifikasi dilanjut ke 20 mt, kali ini Score Reva terjun bebas, dia hanya sanggup nangkring di rangking 29. Memang sejak awal Reva sudah pesimis jika bermain di jarak 20 mt, dia merasa score tidak pernah bagus, walaupun secara total apa yang dihasilkan saat pertandingan POR SD ini melampaui scoring yang di lakukan tiap hari Minggu saat TC di Lebo kemarin. Namun Alhamdulillah Putri mencatatkan prestasi untuk klasifikasi 20 mt ini di rangking ke 3, sehingga Sidoarjo pecah telor di cabor Panahan dengan memperoleh satu medali Perunggu. Berhubung cuaca hujan dan menyebabkan acara molor, acara segera di akhiri menjelang Maghrib dengan hasil akhir, Putri (rank 8), Reva (rank 20) dan Nanda (rank 30) lanjut ke 1/16 final, sedangkan Marsha (rank 35), Naura (rank 36) dan Alifvia (rank 49) terpaksa gagal lolos babak kualifikasi. Sedangkan untuk Putra, hanya Izaz dan Rizqi yang kebetulan mendouble Compound, juga Lucky ikut lolos menuju 1/16 final, sedangkan yang lainnya berguguran.

Hari ini Jumat, scedule 1/16 hingga Final untuk perorangan digelar lebih awal, tepat pk 07.30 acara dimulai. Berdasarkan urutan rangking, Reva dipertemukan dengan atlet no 1 Bojonegoro yang berada di rangking 13, yang menurut perhitungan saya kekuatannya nyaris seimbang. Pertandingan aduan ini lumayan membuat sport Jantung, mereka berdua Reva dan Nurfazati bergantian mencatatkan poin, saling balas hingga berakhir Draw, dan kesempatan 1 x tambahan menembak sebanyak 3 x anak panah, dan Reva pun menyerah kalah. Raut sedih dan lunglai menghiasi wajahnya.

Kami tau dia terluka tapi berusaha tegar tanpa tangisan, berbeda dengan teman atletnya bahkan Rizqi yang notabene jam terbangnya tinggi dan laki-laki tanpa malu terus meneteskan airmata. Reva terkulai menahan rasa sakit fisik dan psikis,” Ma, aku pengen muntah, aku tidak enak badan,”. Saya langsung mengantarkan ke lapangan sebelah yang tak terpakai. Reva langsung muntah-muntah sambil menangis, “aku pengen di mobil Ma, aku tidak mau bertanding lagi, “. Naluri sebagai seorang Ibu, membuat saya galau memilih antara disiplin dan kasihsayang. Saya tidak tega melihatnya kesakitan karena terluka, disisi lain saya harus menanamkan arti dari kewajiban dan tanggungjawab. Reva tidak mungkin mundur dari pertandingan Standart Bow Beregu Putri, dia sudah ditunjuk, diberi tanggungjawab oleh Coach untuk maju Beregu antar Kontingen. Meskipun ada Nanda sebagai cadangan tetap Reva yang diutamakan. Untuk Putri sendiri juga harus menelan kekalahan di 1/8 final, harapan besar ada di Kelas Beregu sekarang.

Setelah saya obati sambil memotivasi, semangat Reva perlahan tumbuh kembali. Saya tekankan lagi, bahwa kami orangtuanya tidak pernah membebani untuk menjadi juara, kami hanya ingin Reva belajar mengambil tanggungjawab dan menyelesaikannya dengan baik, mendapatkan ilmu serta pengalaman yang ada tentu tak ternilai harganya. Reva turun dari mobil kembali ke Lapangan tak lama kemudian pertandingan Beregu dimulai.

Di dahului dengan latian percobaan dengan 2 x tembakan. Tembakan pertama Reva hancur lebur tak satupun mengenai target merah apalagi kuning, kami dan coach nya terus memberikan semangat. Pertandingan segera dimulai, tembakan pertama Reva mulai normal kembali, lanjut kedua Reva kian menemukan kekuatannya, dan tembakan ketiga Reva makin sempurna, Kabupaten Lumajang dipaksa bertekuk lutut dengan skor telak 6-0 untuk Sidoarjo, Alhamdulillah. Berhubung hari Jumat istirahat Ishoma menjadi lebih panjang karena ritual Jumatan. Saat ishoma inilah, ada tamu dari DPRD Sidoarjo entah komisi berapa, saya kurang paham sedang berkunjung. Apa yang mereka bicarakan dengan coach Yogi, saya juga tidak terlalu memperhatikannya, hanya dalam hati saya berharap kedepan Sarana Prasarana dan Fasilitas Pengembangan Atlet Sidoarjo dapat lebih diperhatikan kemudian diperbaiki dan terus ditingkatkan. Ishoma selesai dan pertandingan Standart Bow Beregu dilanjutkan kembali, Tim Putri Sidoarjo berhadapan dengan Kabupaten Bojonegoro, dan lagi-lagi dicukur habis dengan skor 6-0. Tim Putri Sidoarjo berhasil masuk Semifinal dan harus menghadapi lawan tangguh yaitu Kabupaten Malang, dan Sidoarjo menyerah kalah dengan skor 5-1. Berikutnya Sidoarjo masih harus berjuang berebut Perunggu melawan kota Malang dibawah guyuran hujan deras, dengan hasil Draw, tambah 1 x tembakan, skor masih sama, hanya selisih di point X (tembakan tepat ditengah target), kamipun kalah, sungguh sangat disayangkan, mengapa Putri yang biasa bermain cantik harus antiklimaks disaat genting..hiks. Allah Maha Besar belum mengijinkan Sidoarjo untuk menang, pasti ada hikmah dibalik semua kejadian. Kabupaten Sidoarjo belum beruntung untuk Beregu, Compound maupun Recurve namun sudah mendapat medali Perunggu untuk Standart Bow klasifikasi 20 mt, tapi tidak untuk Perorangan. Alhamdulillah, masih banyak hal yang perlu disyukuri selain Tim Beregu Putri berhasil meraih peringkat ke 4, walaupun kontingen kami tidak dijagokan, dan yang terpenting adalah Reva banyak belajar bagaimana cara “Berdamai dengan keadaan”, di saat dia jatuh tetap dia harus bisa bangkit kembali,Don’t stop when you’re tired, stop when you’re done. Menjadi Atlet ditempa tidak hanya soal Fisik tapi juga Mental, bagaimana menjaga semangat Sportivitas dapat terus menyala.

Selesai sudah POR SD, Alhamdulillah Allah Azza Wa Jalla telah menghadiahkan kesempatan buat kak Reva mengikuti event yang prestisius ini, padahal belum pernah sekalipun mengikuti turnamen, dan hasilnya sangat membanggakan baik orangtua, Club maupun kabupaten Sidoarjo yang menempatkannya sebagai Atlet no 2 Standart Bow Putri. Banyak pengalaman dan pelajaran berharga yang dapat diambil sebagai bekal untuk Turnamen selanjutnya. Kita jelang POPDA di jenjang SMP ya kak Reva, tetap semangat berlatih, tambah terus jam terbangmu dan jangan mudah menyerah, insyallah kesuksesan segera menghampirimu 🏹🎯 👧

“Life is a fight, and in that fight it doesn’t matter how hard you hit or how well you fight. What matters is how hard you can get hit and keep on fighting”.

Sidoarjo Bisa Menang!!!

“Gold medals aren’t really made of gold. They’re made of sweat, determination, and a hard- to-find alloy called guts.” – Dan Gable

Hari ini Jumat (10/11/2017) pk 13.00, terjadwal pelepasan kontingen Sidoarjo dalam acara POR SD dilaksanakan di pendopo Kabupaten oleh bapak Bupati H. Saiful Ilah, SH, M.Hum, setelah melalui rangkaian TC (training center/pemusatan latian), hampir satu bulan dan berakhir hari Kamis kemarin.

Hampir dua minggu kak Reva tidak sekolah, setelah dua minggu sebelumnya juga harus break sebelum jam sekolah berakhir, Alhamdulillahnya jadwal sekolah, seminggu adalah UAT yang berakhir pk 13.00, sedangkan latian TC mulai pk 14.00 hingga Maghrib, seminggu kemudian jadwal Remidial, kak Reva Alhamdulillah tanpa remidi dan bersamaan jadwal TC pk 09.00 hingga Maghrib, jelas tidak bisa sekolah. Setiap Minggu selalu ada jadwal Scoring, 3 x Scoring kak Reva menempati peringkat 2 dan 3 untuk total seluruh kelas yaitu 20m, 30m dan 40m, Alhamdulillah hasil yang membanggakan, mengingat selama ini tidak aktif latihan.

Ada rasa berat meninggalkan sekolah hampir 3 minggu, namun sejauh ini sekolah memang support kegiatan POR SD ini apalagi di tingkat Provinsi, even yang sangat bergengsi, karena nama sekolah ikut promosi gratis. Beberapa kali komunikasi dengan ustadzah kelas kak Reva dan so far hanya ada tanggungan produk yang belum terselesaikan sehingga raport belum bisa diserahkan ke orangtua tepat waktu.

Kak Reva mulai dapat menyesuaikan diri dengan ritme latian yang lumayan berat, semakin lama semakin enjoy dan mencintai olahraga Sunnah ini. Kegalauannya tentang sekolah juga semakin berkurang, apalagi berkali-kali Coach menekankan untuk fokus dengan latian, jangan terlalu kepikiran sekolah, karena Jalur Prestasi sebagai “Golden Ticket” sudah pasti ditangan, tinggal tunjuk saja Sekolah mana yang di mau. Namun kami sepakat Reva masih akan melanjutkan jenjang SMP di SMPI Raudlatul Jannah dengan harapan mendapatkan Beasiswa melalui jalur Non Akademis, ya semoga saja..aamiin

Diakhir TC menjelang pertandingan, bapak Satuman sebagai wakil dari Disporapar yang mengawal cabor Panahan ini memberikan wejangan kepada para wali Atlit untuk dapat dengan legawa menerima semua fasilitas dari Kabupaten baik itu seragam yang berupa tas, sepatu, kaos, training, jaket juga berupa uang ganti lelah TC dan Turnamen besok, bagaimanapun anak-anak sudah diberi kesempatan mendapatkan ilmu juga mengikuti pertandingan bergengsi tingkat provinsi yang tidak semua anak mendapatkannya. Saya pribadi sangat memahami kondisi bangsa ini, yang namanya Atlit memang tidak bisa dijadikan profesi, karena tidak di openi, selain ada batas umur yang relatif pendek juga. Namun kak Reva diuntungkan oleh keadaan, Alhamdulillah kami sebagai orangtua sudah menyiapkan bekal bagi anak-anak kami sebuah perusahaan yang insyaallah dapat diwariskan, bahkan seluruh keluarga support dengan kecintaannya pada olahraga panahan ini, kalaupun Allah memberikan takdir sebagai Atlit, setelah pensiun dia bisa menjadi pelatih dan buka toko olahraga. Pernah kak Reva bertanya, “Ma, apakah tidak ada pelatih panahan perempuan?, kan lebih enak kalo sesama perempuan,”. Jadikan itu motivasi mu nak, suatu saat kamu harus bisa mengisi kekurangan itu, panahan adalah olahraga sunnah Nabi, kamu bisa menjadikannya lebih Syar’i dengan membuka club panahan khusus perempuan, Insyaallah.

Melanjutkan cerita tentang Pelepasan Kontingen Sidoarjo ini, acara di mulai pk 13.00 di Pendopo Dalem, sayangnya berbarengan dengan Demo buruh yang mengambil momen Hari Pahlawan, jalanan rame dan macet, banyak polisi berjaga-jaga disekitaran alun-alun Pendopo. Anak-anak masuk kedalam Pendopo Delta Wibawa sementara kami wali atlit tidak diperkenankan masuk ke dalam. Setelah selesai acara mohon doa restu bapak Bupati, acara dilanjutkan ke Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata untuk mengikuti arahan keberangkatan ke Lumajang besok Sabtu (11/11), Alhamdulillah ternyata anak-anak juga mendapatkan uang saku sebesar rp 600.000, betapa senang hati mereka, walaupun kalau dibandingkan orangtuanya yang habis-habisan mbandani Panahan ini, cuma seujung kuku..huhuhu. Melihat begitu semangatnya kak Reva dan teman-teman untuk menyambut Pertandingan besok di Lumajang, para orangtua juga ikut semangat. Apapun hasilnya, kalian sudah menjalani prosesnya dengan baik, kami bangga Nak. Dan semoga Allah memberikan hasil terbaik yang di Ridhoi-Nya..aamiin

Medali Perunggu untuk Kecamatan Waru

The most important thing I’ve learned about archery is that there is only one archer in the race, and that’s me.”

Alhamdulillah, hari Sabtu (13/10) adalah hari yang sangat menegangkan sekaligus menggembirakan dan merupakan titik awal Reva meraih salah satu prestasi besarnya, yaitu kemenangannya di Porlakab Cabang Olahraga Panahan di kelas 30meter, dengan perolehan 1 medali Perunggu. Medali Perunggu ini salah satu penyumbang untuk Kecamatan Waru di acara Porlakab, yang diadakan oleh Dispora Kabupaten Sidoarjo dalam seminggu ini. Mulai hari Senin pembukaan yang berlangsung hingga Jumat, kecamatan Waru belum satupun Cabang yang menorehkan prestasi, Alhamdulillah Reva memecahkan telor meski hanya Medali Perunggu namun wakil dari pihak Kecamatan sangat bahagia dan mengapresiasi dan terus memotivasi Reva untuk berprestasi mengharumkan Kecamatan Waru. Selain Kecamatan Waru, tentu saja pihak Sekolah Islam Raudlatul Jannah yang ikut berperan menunjuk Reva sebagai salah satu wakil sekolah ikut serta dalam ajang Porlakab turut bergembira, karena dari wakil Sekolah hanya Reva satu-satunya yang berhasil mempersembahkan Medali, begitupula Club Paser yang dalam 3 hari saja melatih Reva juga sangat gembira dengan hasil yang menakjubkan. Sebagai Orangtua tentu saja kamilah yang paling berbahagia, tidak ada satupun target yang kami bebankan kepada Reva, karena kami tau diri Reva terpaksa vakum cukup lama di kelas 6 ini, namun dengan 3x saja berlatih dapat membawa 1 medali, Masyaallah sama sekali diluar dugaan, dan Alhamdulillah lagi-lagi Allah Azza Wa Jalla memberikan rahmat dan karunia-Nya.

Acara Porlakab diadakan di lapangan Lebo dan diagendakan selama 2 hari Jumat dan Sabtu pk 07.00 hingga selesai, jika hari Jumat lomba dapat di selesaikan, maka Sabtu tidak ada kegiatan lanjutan. Reva telah siap untuk sarapan pk 05.00, begitu semangat dan tanpa keluhan, padahal Rabu dan Kamis pk 14.00 hingga maghrib dia terus berlatih untuk menghadapi Porlakab. Tepat pk 06.00 kami berangkat sembari mengantar kak Belva sekolah dan memang dalam satu jurusan. Alhamdulillah pk 06.45 kami telah sampai di Lapangan Lebo, dan hanya terlihat satu petugas Porlakab yang tidak tau menahu tentang acara Panahan, beliau hanya dititipi sebentar oleh pihak panitia, oh baiklah. Anak-anak terbiasa disiplin dengan waktu, walau terkadang orangtuanya sampai harus kepontal-pontal mengikuti mereka, karena kami hafal tipikal orang Indonesia itu jam karet, kecuali Sekolah Raudhatul Jannah yang selalu ontime dengan agenda yang diadakan, mungkin itu yang mendidik anak-anak kami untuk disiplin dengan waktu. Pk 07.30 peserta mulai berdatangan kemudian langsung pemanasan dan tepat pk 08.00 acara panahan dimulai.

Porlakab kali ini diikuti oleh 12 anak laki-laki dan 12 anak perempuan dari 6 kecamatan, antara lain, Waru, Taman, Candi, Wonoayu, Krian dan Sidoarjo kota. Tiap kecamatan bebas untuk mengirimkan berapapun wakilnya, dan kecamatan Waru mengirimkan 6 anak laki dan 5 anak perempuan dan merupakan kecamatan dengan wakil terbanyak, maklum kecamatan Waru ini besar sekali wilayahnya, dibandingkan dengan Krian yang mengirimkan wakil hanya 1 anak perempuan dan kebetulan teman 1 club dengan Reva. Acara lomba Cabor Panahan dibuka oleh bapak Agung, selaku wakil dari Dispora Sidoarjo sekaligus yang memberikan aturan pertandingannya. Kelas panahan dibagi 3, yaitu 40mt, 30mt dan 20mt, untuk semua peserta dengan Stardart Bow melakukan Tembakan sebanyak 6x dan masing-masing melepas 6pc anak panah. Sedangkan 50mt untuk peserta dengan Compound Bow dengan jumlah Tembakan yang sama. Hasil Skor dari Reva sendiri untuk kelas 40mt dengan skor 88 berada di urutan no 5, kelas 30mt dengan skor 156 berada di urutan ke 3 dan terakhir kelas 20mt dengan skor 210 berada di urutan 4. Alhamdulillah untuk semua hasil yang diperoleh Reva, dengan persaingan yang demikian ketat dan latihan yang hanya 3x saja, masih ada Medali yang dapat di persembahkan. Dari deretan pemenang Cabor Panahan ini dapat dilihat urutan 1 dan 2 adalah anak-anak yang sama, sehingga bisa dibuat catatan bahwa kaderisasi atlit Panahan di daerah sangat kurang, selain Panahan adalah olahraga mahal, ekslusivitas membuat olahraga ini jarang diminati, apalagi Pemerintah juga tidak support sama sekali, kondisi lapangan tingkat Kabupaten saja, tampilannya mengenaskan, bahkan info dari ibu dari putra pemenang Emas di 3 kelas, untuk ngopeni lapangan saja harus sumbangan mandiri dari anak didik pengcab Sidoarjo (btw putra beliau sudah latian selama 2 tahun dan memiliki jam terbang yang tinggi, bahkan beberapa kali sudah mendapatkan emas, gitu kq masuk kategori pemula ya..hiks). Itulah mengapa Reva terpaksa ikut Club (swastanya) agar sarana prasarana juga ikut support dan membuat dia nyaman dan semangat mengikuti latian, tapi ya itu tadi harus kuat pendanaan dari orangtua. Jer Basuki Mawa Bea.

Dengan Medali Perunggu ini Reva akan mengikuti TC (training center) guna persiapan ajang tingkat Provinsi mewakili Sidoarjo, dan menurut pak Agung sebagai penanggungjawab Cabor Panahan diawal tadi, yang mengikuti TC adalah peserta dengan skor 1-4 teratas, dan belum tentu yang juara 1 atau 2 yang terkirim karena masih harus melihat hasil TC. Semangat ya Kak Reva, Medali Perunggu pertama yang kamu peroleh semoga menjadi motivasi untuk berprestasi lebih banyak lagi, selalu giat berlatih, jangan mudah putus asa dan jaga ibadah dengan benar dimanapun berada. Semoga Allah Azza Wa Jalla senantiasa meRidhoi cita-cita dan impianmu dimasa mendatang..aamiin

Duta kecamatan Waru di ajang Porlakab

“Some say LIVE, LAUGH, LOVE…but we say RAISE, AIM, SHOOT”

Alhamdulillah, meski sempat terjadi polemik tentang lomba Panahan ini, kesepakatan itu akhirnya tercapai juga. Yach, Coach Reva di sekolah sama sekali tidak cawe-cawe melatih Reva, namun jika Reva membawa salah satu Piala, bukan pelatih Perpani yang harum namanya tapi Coach Eskul Panahan dan Sekolah, itulah yang membuat Pelatih dari Perpani Surabaya merasa tidak dihargai. Sebagai jalan keluar Reva yang selama ini terdaftar sebagai member Perpani Surabaya harus dipindahkan ke Pengcab Sidoarjo terlebih dahulu karena berdasarkan KK dan letak sekolah, kemudian masuk sebagai anggota Club “Paser” dibawah naungan Pengcab Sidoarjo, dengan begitu Reva akan di latih pihak Perpani Sidoarjo dan dipersiapkan lebih banyak untuk even Panahan kota Sidoarjo. Reva mulai berlatih hari Sabtu (07/10) sedangkan jadwal lomba akan di adakan hari Jumat dan Sabtu (13/10-14/10), dan Reva harus bermain di kelas 20m, 30m, 40m, padahal selama ini Reva masih bermain di 10-20m, modal nekad ini namanya, apalagi Reva sempat vakum latian karena sudah kelas 6, karena harus berkonsentrasi menjemput UNAS. Namun karena sekolah memberikan tugas negara, yang mana kesempatan tidak datang dua kali, maka Reva pun siap menerima tantangan tersebut. Memang persiapan UNAS wajib dilakukan tapi bukan berarti mengorbankan hobby yang saat ini tengah ditekuni kak Reva yaitu Panahan, toh masih bisa membagi waktu dengan baik. Tapi saat menghadapi lomba seperti ini, jadwal latihan Reva terpaksa mengganggu jadwal Sekolah juga, karena mepetnya jadwal pertandingan terpaksa latihan harus dikebut. Jika pulang sekolah resmi terjadwal pk 16.00, terpaksa pk 14.00 harus ijin pulang untuk latihan, belum lagi hari Jumat jadwal lomba Panahan pk 07.00 sampai selesai. Semoga saja tampilan Reva tidak terlalu mengecewakan, walaupun tidak menang. Kami sendiri sebagai orangtua tidak mentargetkan Reva harus menang, yang terpenting Reva dapat belajar bagaimana proses yang harus di lalui serta mengambil ilmu dan pengalaman yang ada. Toh, ini lomba Panahan yang pertama kali Reva ikuti, jadi target menang adalah nomer sekian.

Sebenarnya pihak Perpani masih ada ganjalan tentang Coach di Sekolah, namun sambil jalan akan diselesaikan dengan win-win solution. Bagaimanapun besok saat lomba, pelatih club “Paser” (pak Yogi) yang akan mendampingi Reva bukan Coach dari Sekolah. Semua ada hikmahnya, kembali lagi olahraga Panahan saat ini sudah tidak bisa dibuat ekslusif lagi, Perpani harus mau bekerjasama dengan baik dengan pihak Sekolah, selain mereka juga akan diuntungkan dengan jasa marketing gratisan, secara otomatislah siswa yang mencintai panahan akan mendorong orangtua mereka untuk mendukung agar siswa tersebut dapat bergabung dengan Club Panahan, jumlah member yang semakin besar, kesempatan mengkader atlit juga semakin luas, bibit-bibit baru akan bermunculan untuk siap mengharumkan nama bangsa di kancah Internasional. Semoga ^^