Melbourne (Australia – Fitti Reward 2017)

“Actually the best gift you could have given her was a lifetime of adventures”. -Lewis Carroll, Alice in Wonderland.

Alhamdulillah, ucap syukur seakan tak berhenti dari mulut ini, meski keberangkatan hari ini akan penuh perjuangan, namun kami sangat bersemangat untuk segera menikmati reward kedua kami dari Fitti “goes to Aussie”. Sejak pagi kami sudah berangkat dari rumah menuju airport Juanda, menyempatkan sarapan dekat gate boarding sejenak dengan menu Soto Ayam yang gak enak tapi ampun mahalnya, sumpah nyesel mending Burger King yang sudah pasti rasanya. Tepat pk 10.00 pesawat Garuda siap menerbangkan kami menuju Jakarta. Tiba di airport Soekarno Hatta pk 11.30, kami melaksanakan sholat dan makan siang terlebih dahulu sambil menunggu mbak Nita (tour leader kami selama di Aussie dari Bayu Buana) untuk meeting sekaligus pembagian Paspor – Visa dan tetek bengek keperluan kami di Aussie pada pk 14.00. Setelah pembagian itu kami masih harus menunggu lagi hingga pk 17.00 untuk terbang menuju Denpasar. Sampai di Denpasar waktu sudah menunjukkan pk 20.00 (wita), setelah cek in perlengkapan untuk masuk Aussie kami masih harus menunggu lagi hingga pk 23.00 untuk boarding dengan pesawat Garuda Indonesia yang akan menerbangkan kami menuju Australia. Benar-benar seharian ini menguras extra energi, terakhir makan siang hingga malam tiba perut kami belom terisi, masalah payung juga masih membebani pikiran hubby, karena tertinggal dirumah, padahal Melbourne di prediksi akan turun hujan seharian, ya Allah benar-benar kami lelah, bahkan saya sempat tertidur di kursi dekat gate boarding pesawat kami. Alhamdulillah selama di pesawat kami diberi roti sesaat setelah take off dan sarapan pagi yang terlalu dini (kira-kira masih Subuh), tak apalah yang penting perut telah terisi dengan menu yang cukup kooperatif dengan lidah kami, Garuda Indonesia gitu lhoh, namun sayangnya tidur kami jauh dari kata berkualitas, saya pun insomnia, entah karena terlalu lelah atau terlalu excited, yang pasti mata panda siap menghiasi city tour hari ini..hiks

Berbicara tentang Australia, sebuah negara federasi dengan luas total 7,69 juta kilometer persegi, Australia daratan merupakan pulau terbesar di dunia tetapi juga benua terkecil. Australia juga merupakan satu-satunya benua yang terdiri atas satu negara. Kadang-kadang Australia disebut pula benua “pulau”, karena dikelilingi oleh lautan. Membayangkan Australia ini menurut saya mirip dengan Amerika, bahkan bisa dikatakan Little Amerika. Australia merupakan negara serikat yang terdiri atas enam negara bagian dan dua teritorial, antara lain:
(1). Canberra adalah ibu kota negara dan pusat pemerintahan, dimana terdapat lembaga-lembaga nasional yang penting, termasuk Parlemen Australia dan Mahkamah Agung Australia.
(2). New South Wales merupakan negara bagian tertua dan paling banyak penduduknya di Australia, beribukota Sydney yang ramai dan lebih dari sepertiga orang Australia tinggal di New South Wales, dan Sydney merupakan kota terbesar di negara ini.
(3). Victoria adalah negara bagian terkecil di daratan utama, tetapi jumlah penduduknya kedua terbanyak dengan ibukotanya Melbourne, kota berpenduduk terbanyak kedua di Australia.
(4). Queensland adalah negara bagian Australia yang terbesar kedua dalam hal ukuran. Ibukotanya bernama Brisbane sebagai kota berpenduduk terbanyak ketiga di Australia.
(5). Negara bagian Australia Selatan terletak di bagian tengah selatan negara itu yang mencakup sebagian wilayah terkering benua itu, dengan ibukotanya Adelaide.
(6).Di ujung atas Australia terletak Teritorial Utara dengan ibukotanya, Darwin yang terletak di pantai utara.
(7). Australia Barat merupakan negara bagian terbesar di Australia berdasarkan luasnya, dan Perth sebagai ibukotanya.
(8). Dan yang terakhir, Tasmania yang dipisahkan dari daratan utama Australia oleh Selat Bass dan merupakan negara bagian terkecil di Australia, dengan ibukotanya, Hobart.

Nah, Reward kedua dari Fitti kali ini, kami akan berkunjung ke 3 negara bagian, lebih tepatnya di kotanya, yaitu 1 hari di Melbourne (Victoria), 2 hari di Gold Coast (Queensland), dan 2 hari di Sydney (New South Wales). Dan setiap berpindah negara bagian kami akan menggunakan penerbangan domestik yaitu Qantas Airlines (Garuda versi Australia beserta logo Kanggurunya). Alhamdulillah, tak terasa kami telah mendarat di Aussie tepat pk 05.00 (Wita) dan ditambah 3 jam lebih awal, berarti pk 08.00 pagi waktu Melbourne. Seperti biasa setelah urusan pemeriksaan paspor – visa dan koper selesai, kami langsung melaksanakan City Tour hari pertama di kota Melbourne, diantaranya Parliament House of Victoria, St Patricks Catedral, lanjut ke Fitrozy Garden dan Captain Cook’s Cottage dan kemudian istirahat makan siang Chinese food restaurant di daerah China Town, kemudian dilanjutkan menuju Shrine of the Remembrance dan destinasi terakhir hari ini ditutup dengan mengunjungi pantai yang terkenal dengan ruang gantinya yang berwarna-warni yaitu Brighton Beach Bathing Boxes.

Selama perjalanan menuju destinasi pertama hari ini, Nita (TL) mulai memperkenalkan diri secara resmi sekaligus seluruh pesertanya juga bercerita tentang kota Melbourne. Grup kami terdiri dari 6 geng, antara lain geng yang paling banyak pesertanya yaitu 6 orang dari Jakarta diketuai oleh ibu Susi, dengan anggotanya, ibu yuke, bapak Yudas, bapak Drajad dan ibu Azizah, geng kedua, ketiga dan keempat masih dari Jakarta juga yaitu keluarga Opa Pujianto dan istri dengan 1 adek dan 2 anak, pasangan ibu Suryati dan ibu Endang, pasangan bapak dan ibu Diana, geng kelima dari Makasar yaitu bapak Hamdan dan istri serta 1 anak, dan geng terakhir dari Surabaya yaitu kami sendiri. Seharusnya kami ber 24, tapi ada 5 orang yang Visanya ditolak, menurut TL kami dua tahun terakhir visa Aussie relatif sulit, ada pengaruh isu terorisme juga sih, padahal jumlah Wisatawan Aussie juga turun drastis beberapa tahun terakhir selain kalah bersaing dengan New Zealand yang sedang naik daun (insyaallah will be there soon) juga faktor mahalnya paket tour jika dibandingkan dengan Eropa.

Melbourne – Victoria

Melbourne adalah ibu kota negara bagian Victoria di Australia. Melbourne merupakan kota terpenting kedua dari segi bisnis dan kedua terbesar di Australia serta kota terbesar di Victoria. Melbourne membentang di sepanjang Sungai Yarra, memiliki banyak taman dan kebun yang dipadu dengan arsitektur tua dan modern, membuat Melbourne menjadi salah satu tempat terbaik di Australia.

Melbourne adalah kota terbesar kedua di Australia setelah Sydney. Namun berbeda dengan Sydney, dimana kota merupakan cerminan kota metropolitan sebagaimana kota-kota besar di dunia, Melbourne adalah kota yang relatif lebih tenang dan nyaman untuk dijadikan tempat tinggal. Bahkan Melbourne sudah empat kali mendapatkan predikat “The World’s Most Liveable Cities” (kota paling nyaman untuk ditinggali), semacam Surabaya kalo di Indonesia. Melbourne juga merupakan kota metropolitan yang hampir sebagian besar pusat kegiatannya terletak di pusat kota, sedangkan bagian kota yang lain terletak lebih ke luar kota Melbourne. Namun untuk mencapai pusat kota, Melbourne memiliki sistem transportasi yang dikelola dengan baik. Transportasi publik khas Kota Melbourne adalah Tram, yang dapat dengan mudah di akses baik oleh penduduk lokal maupun wisatawan, bahkan pemerintah setempat menyediakan Tram gratis bagi wisatawan, yaitu tram dengan warna coklat tua,..hmm, sangat menarik untuk dicoba.

Saat ini, Melbourne dikenal sebagai ‘ibukota budaya Australia’ karena merupakan pusat seni, perdagangan, pendidikan, hiburan, olahraga, dan pariwisata. Penduduk Melbourne terlihat lebih modis dan bergaya dalam berbusana, yang mungkin disebabkan oleh cuaca yang cenderung lebih dingin dibandingkan Sydney. Sebagai ibukota negara bagian Victoria, Melbourne juga merupakan kota metropolis yang senantiasa hidup. Keanekaragaman penduduk di kota ini menyebabkan banyak terdapat restoran dengan cita rasa yang berbeda untuk mengakomodir kebutuhan penduduk setempat akan makanan dari negara asal mereka.

A. Parliament House of Victoria

Tidak terasa kami telah sampai di Gedung Parlemen, disambut oleh mendung menggelayut manja, dan hawa dingin yang menusuk tulang. Meski tanpa payung, saya sudah siap dengan mengenakan jaket parasit anti air plus hoodynya. Sebenarnya selain payung dan topi kami dianjurkan membawa coat untuk mengantisipasi dinginnya Melbourne, tapi karena jatah Melbourne cuma sehari, kami malas, karena menuhin koper, padahal Gold Coast cenderung panas dan Sydney meski lebih dingin namun tidak sedingin Melbourne.

Mari kita segera mengexplore Gedung Parlemen ini secara resmi digunakan oleh Dewan Negara Bagian Victoria. Selama tidak ada sesi rapat, pengunjung dapat masuk dan berkeliling di dalam gedung. Namun entahlah kenapa kami tidak diijinkan masuk, mungkin saya kurang menyimak alasan dari tour leader kami si Nita, maklum masih mabuk karena kurang tidur, namun di Bis pun saya tidak ingin tidur karena lebih tertarik menikmati kota Melbourne yang saya membayangkan akan traveling kesini pun tak pernah. Kami hanya berfoto di sekitaran Gedung dan beberapa kali terlihat banyak Tram lewat di depan kami, sepertinya asik kalo memiliki kesempatan menikmati Tram ini, pernah membaca juga di kota Melbourne ini memiliki Tram dengan jalur perpanjang di dunia, jadi mau kemana saja di negara bagian Victoria jauh lebih mudah. Gedung Parlemen ini memiliki interior dan eksterior yang indah yang dibangun pada tahun 1855. Di dalam gedung ini, khususnya di dalam Queen’s Hall, akan dapat melihat patung ratu Victoria. Yach, tau sendirilah kalo bekas Jajahan Inggris pasti di openi tidak hanya diperas, dan design City Hall nya tidak jauh berbeda antara di Canada sampai Hongkong..hehehe. Tidak lama setelah puas berfoto ria kami melanjutkan perjalanan menuju ke Katedral tua beraliran Katolik Roma yang terkenal di Australia.

B. St. Patrick Cathedral

Dari kejauhan telah terlihat kemegahan Katedral St. Patricks karena tampilannya yang menjulang tinggi di ujung pusat kota Melbourne, dan merupakan Katedral tertinggi di Australia ini. Katedral St. Patricks ini mengingatkan saya akan Katedral Santa Maria di Lisbon yang kami kunjungi saat traveling ke Portugal, designnya Gothic dan beraliran Katolik Roma. Katedral ini diselesaikan pada tahun 1939, setelah pembangunan selama 70 tahun dan dinamai sesuai santo pelindung Irlandia dan dibangun untuk melayani populasi Katolik Irlandia di Melbourne pada abad ke-19.

Saat mendekati St. Pat, perhatikan betapa gelapnya penampilan gedung ini. Hal ini disebabkan oleh batu basalt lokal yang digunakan dalam pembangunannya. Bahan bangunan lain diambil dari seantero Australia dan dunia. Kedua puncak menara depan menjulang setinggi 61 meter, dan puncak menara tunggal di tengah menjulang setinggi 105 meter. Gedung ini juga dihiasi gargoyle dan patung. Masuk ke gereja tidak dipungut biaya dan pengunjung diperkenankan berjalan-jalan di dalam katedral atau bergabung dengan tur. Namun seperti biasa kami tidak ikut masuk, kami hanya berfoto diluaran sekitar gereja, sambil mencari toilet, destinasi favorite para turis seperti kami..hihihi. Ingin mampir ke Toko Katedral untuk melihat merchandise yang bisa dikoleksi, tapi waktu telah habis dan kami segera pindah ke taman Fitzroy.

C. Fitzroy Garden and Captain Cook’s Cottage

Perjalanan kami lanjutkan kembali menuju Taman Fitzroy untuk menikmati taman yang luas dan indah untuk mengamati secara langsung rumah tua bernama Cook’s Cottage. Tapi terpaksa para peserta termasuk hubby ijin mampir ke destinasi favorite dulu guna menunaikan hajat, karena saat di Katedral tadi kami tidak menemukan letak toilet, jadilah peserta menggunakan toilet umum temporer yang bauknya bikin pening, syukurlah saya tidak ikutan karena sengaja mengurangi minum, selain dingin juga sedang periode, jadi semakin malas ke toilet. Tiba disini kami sudah disambut oleh gerimis mengundang, namun tak seorang pun peserta mengeluarkan payung, males katanya, syukurlah banyak temannya, lagian hujannya malu-malu mau, yasudah cuekin saja.

Fitzroy Garden adalah salah satu taman era Victoria terbesar di Australia. Dengan sejarah lebih dari 150 tahun, Fitzroy Garden di bangun dengan luas 26 hektar (64 hektar). Di dalam Fitzroy Garden terdapat beberapa tempat wisata yang menarik bagi wisatawan seperti Cooks ‘Cottage, Sinclair Cottage, konservatori, peri’ pohon, danau hias, café , Model Desa Tudor dan banyak lagi. Setelah kami berjalan ditaman Fitzroy tidak terlalu jauh dari pintu masuk kami tiba di sebuah rumah tua bernama Cooks ‘Cottage. Rumah ini merupakan aset berharga dan menjadi peninggalan sejarah sejak abad ke- 18. Sejenak kami mengantri, karena Rumah Tua ini imut sekali, kami dipecah menjadi dua grup, dan secara bergantian untuk melihat ke dalam rumah. Beberapa alasan mengapa wisatawan disarankan untuk mengunjungi rumah tua ini adalah karena dapat menemukan sejarah yang kaya akan seni dan arsitektur bangunan Melbourne ratusan tahun silam, hal ini sangat bermanfaat sebagai referensi yang dapat digali dan dikembangkan oleh para pecinta seni dan sejarah.

Setelah masuk kedalam rumah, ternyata terdapat dua lantai yang berisi puluhan properti lengkap yang ditinggalkan oleh pemiliknya. Selain itu juga untuk mempelajari semua hal yang berhubungan dengan kehidupan Kapten James Cook serta beragam pengalaman hidupnya yang terjadi di masa abad ke-18. Hal luar biasa yang menjadikan tempat ini bersejarah adalah karena Cottage Cooks yang juga dikenal dengan nama Cottage Capten Cook sekarang terletak di Taman Fitzroy, Melbourne, Australia.

Namun dulunya pondok ini dibangun pada tahun 1755 di desa Inggris Great Ayton, North Yorkshire, oleh orang tua dari Kapten James Cook. Dan pada tahun 1933 pemilik pondok yang menjadi pewaris rumah ini memutuskan untuk menjualnya dengan kondisi penjualan bahwa bangunan tetap berdiri di Inggris namun sesuai bujukan pemerintahan Australia dan tawaran bayaran yang tinggi maka rumah ini pun dirombak dan sebagian besar pondasinya dipindahkan ke Australia. Bata demi bata yang mendekonstruksi bangunan ini di angkat dan dikemas menjadi 40 barel, disertai dengan pengiriman papan Dunedin Port dari Hull. Serta potongan dari ivy yang menghiasi rumah juga diambil dan dipasang ketika rumah itu kembali didirikan di Melbourne.

Sebuah taman pondok Inggris telah didirikan di sekitar rumah yang berhiaskan beberapa mawar dari silsilah yang sangat kuno, White Rose of York yang telah ditanam pada zaman Yunani dan Romawi. Dilengkapi pula dengan kebun sayur dan gooseberry yang sangat populer untuk campuran makanan. Ditanami pula dengan The “chamomile grass” terdiri dari salah satu tanaman herbal tertua khas kebun Inggris dan Eropa.

Badan terasa mulai melemah, maklum semalam kurang tidur, terlihat salah seorang peserta membawa se cup kopi hangat, mata ini langsung berbinar, aha..di depan ada kafe, setengah berlari kami mendekat, segera dua cup kopi kami beli. Saat di kafe kami disapa oleh grup turis lain, mungkin karena mendengar logat kami berbicara, menebak kami dari Surabaya, karena mereka juga dari Surabaya, berasa ketemu saudara kata mereka. Umur mereka jauh diatas kami, namun energi dan semangatnya luar biasa. Scedule mereka di Melbourne dua hari, besok masih akan ke Philips Islands melihat pinguin, tanpa Gold Coast langsung Sydney. Memperhatikan mereka mengingatkan pada sosok Ayah dan Ibu di rumah, ingin sekali mengajak beliau berdua traveling keluar negeri seperti kami, apadaya kesehatan beliau kurang memungkinkan. Waktu begitu cepat berlalu, kalo sudah keasikan ngobrol jadi lupa waktu. Mampir sejenak ke Ruang Konservatori untuk berfoto di taman bunga, lanjut menuju bis dan perut sudah mulai keroncongan, kami segera berangkat menuju China Town untuk makan siang. Seperti biasa menu Chinese food adalah makanan wajib turis Indonesia, selain taste nya akrab lidah juga yang terpenting adalah kehadiran NASI sebagai doping penambah energi..hihihi.

D. Shrine of the Remembrance

Selesai makan siang City Tour kami lanjutkan kembali menuju Shrine of Remembrance yang merupakan sebuah penghormatan yang ditujukan bagi mereka yang telah membela Australia di masa peperangan. Situs ini menunjukkan arsitekturnya yang mengagumkan, dengan tangga-tangga yang besar, tiang yang kokoh, dan atap yang berbentuk serupa candi. Bangunan yang bergaya Roma ini dibangun pada awal Juli 1928 dan selesai pada November 1934. Sungguh memang mirip sekali dengan Candi, dari kejauhan terlihat bakal menaiki tangga yang cukup lumayan untuk masuk ke dalam, sumpah malasnya, jika tidak karena gerimis mendadak deras memaksa kami berjalan cepat setengah berlari hanya untuk berteduh.

Saat itu kami berbarengan dengan anak-anak sekolah, jika dilihat dari posturnya mungkin setingkat SMP. Pertama kali masuk, tidak ada satu tiketpun yang harus kami beli, semuanya free. Suguhan pertama adalah koleksi medali, entahlah medali siapa saja yang dipasang, karena malas membaca karena lebih tertarik melihat ke sebelah kanan, yaitu toko merchandise (dasar turis). Maklum sejak mendarat di Melbourne pagi tadi, tak ada satupun souvenir yang bisa dibawa pulang. TL selalu berpesan jangan belanja dulu, terakhir saja di Sydney, karena penerbangan domestik bagasi cuma 20kg, lhah khas Melbourne apa bisa belanja di Sydney. Akhirnya kami memutuskan belanja sekedarnya saja, yang penting icon Melbourne terkoleksi.

Disebelah toko souvenir tersebut ada ruangan seperti kelas belajar yang digunakan sebagai kelas untuk mempelajari sejarah militer Australia, mungkin pelajar yang bareng kami tadi akan belajar disini. Setelah selesai mengexplore ruang sebelah kanan, ganti kami menuju ke sebelah kiri, ternyata ruangan yang menyimpan berbagai kenangan tentang peperangan yang pernah di hadapi tentara Anzac dalam perang besar yang terjadi di Victoria pada tahun 1914-1918. Saking lengkapnya terlalu banyak spot foto yang harus diambil, canda hubby, “Mama lak mbingungi karepe dewe, lihaten tah Ma, kalo turis bule itu senang baca, coba kalo mama dari tadi minta di foto mulu.” Saya jawab,”biarin, dia enak turis lokal, tiap hari bisa kesini, gratis pula, pinter ngeles euy..qiqiqi.” Sebenarnya praktis pake video tapi sayang mcSD dan battere tidak support, karena tidak membawa cadangan, lagi pula buat bahan ngeblog lebih mantab foto daripada video.

Setelah selesai dengan ruang kenangan tersebut kami segera keluar menuju taman disekitar Candi eh Monumen. Shrine of Remembrance dikelilingi oleh sebuah area taman cantik seluas 13 hektar. Dari taman ini kita dapat mengambil foto dari pemandangan panorama kota dari posisi situs ini yang memang lebih tinggi dari sekitarnya. Setelah itu kami berkeliling di sekitar area tamannya untuk melihat sejumlah struktur, seperti Legacy Garden of Appreciation dan Gallipoli Memorial. Ada satu wahana yang kami lewatkan disini yaitu tangga ke atap Monumen, rasanya sudah tak sanggup untuk naik keatas, apalagi saat dibagi info oleh bu Diana kalo tidak ada yang spesial diatas. Kami malah keasyikan ngobrol ganyeng bareng bapak petugas yang Bule tapi fasih berbicara Indonesia karena pernah tinggal di Bogor.

E. Brighton Beach Bathing Boxes

Menjelang sore kami meninggalkan Shrine of the Remembrance menuju Pantai Brighton, seiring meredanya gerimis dan hawa mulai terasa hangat, benar kata orang jika Melbourne ini memiliki cuaca yang moody suka baperan gak jelas..hahaha. Perjalanan menuju pantai tidak terlalu jauh, sempat terantuk-antuk di Bis, tak kuat menahan beratnya mata, benar-benar saya butuh istirahat. Kami tiba di pantai Brighton yang famousnya kemana-mana, yang merupakan destinasi favorite turis Indonesia. Air tenang, gubuk cantik, dan lokasi renang bersejarah membuat pantai suburban ini pas sebagai tempat santai tapi tetap penuh gaya, jauh dari hiruk-pikuk Melbourne. Sebelum berangkat ke Melbourne sempat serching tags #brightonbeach juga, duh cantik sekali suasananya, tapi setelah menyaksikan dengan mata kepala sendiri kq biasa saja ya, jadi inget pantai Kenjeran Surabaya bisa dibuat seperti ini dengan melihat tenangnya ombak, tapi ya beda warna pasir dan yang jelas cuacanya pantai Kenjeran itu ampun panasnya, bisa mendidih, gak bisa bayangin editing fotonya kalo muka super kumus..wkwkwk.

Pantai Brighton terletak di salah satu area pinggiran kota Melbourne yang makmur dan merupakan nama kolektif untuk tiga bagian pantai di Port Phillip Bay: Upper Brighton Beach, Middle Brighton Beach, dan Dendy Street Beach. Middle Brighton tersohor dengan area mandi-mandinya yang bersejarah dan dermaganya. Tempat paling tersohor tentunya Dendy Street Beach, ada 80 lebih gubuk pantai warna-warni berderet di sana, biasa disebut “bathing boxes” (gubuk ganti). Dilindungi sebagai warisah sejarah, gubuk ganti yang khas ini menggunakan desain dan bahan bangunan sederhana yang nyaris sama. Kerangka semua gubuk ini terbuat dari kayu, dinding papan di keempat sisinya, serta atap besi bergelombang, tapi hanya itu saja yang sama. Semuanya dicat dengan berbagai desain yang berani, cantik, serta flamboyan sehingga terlihat seperti dinding menakjubkan dan penuh warna di sepanjang pantai. Jangan sampai lupa membawa kamera, pemandangan unik nan menarik ini merupakan impian banyak fotografer. Dan memang ketika mencoba instagraming salah satu foto yang kami ambil, hasilnya jadi berbeda, lebih hidup dan mempesona, terutama karena saya sebagai modelnya..uhukz.

Gubuk ganti ini merupakan peninggalan zaman Victoria yang menekankan kesopanan, tempat orang berganti baju dalam tempat yang lebih tersembunyi, ini orang bule lho ya, berarti dulu banyak yang sopan, lhah semakin kesini kenapa semakin vulgar, telanjang di pantai sudah biasa. Saat ini, siapa saja dapat membeli lisensi tahunan untuk mengakses gubuk ganti. Tiap akhir pekan, banyak pemegang lisensi membuka gubuk mereka sehingga pengunjung pantai bisa mengintip isinya. Walaupun ukurannya sangat kecil, gubuk-gubuk ganti ini sangat diminati. Pantai-pantai di Brighton umumnya berair tenang dan dipantau oleh penjaga pantai, sehingga aman jika ingin berenang. Jalan sedikit dari area pantai, ada area penuh rumput, tepat untuk piknik, main bola, atau bersantai.

Setelah puas berfoto ria bak model internasional, kami pun sukses mengakhiri destinasi hari pertama kami dengan lancar dan bahagia meski badan remuk redam tak terkira, Alhamdulillah.

Ibis Styles “The Victoria” Hotel

Hari mulai berganti senja, bis siap mengantarkan kami menuju hotel Ibis Styles “The Victoria”. Selama menuju hotel, TL juga memberi info untuk keperluan makan malam kami ada resto Thailand dekat dengan hotel, setelah itu boleh mengexplore daerah sekitar hotel tapi jangan terlalu larut dan lelah, karena scedul besok pagi menuju Gold Coast dengan penerbangan paling pagi, berarti Subuh harus berangkat menuju Airport Melbourne. Setelah mendapat kunci kamar dan memasukkan koper segera saya mandi, badan sudah lengket sekali rasanya. Selesai urusan mandi, bergantian dengan hubby, sejenak saya rebahan, tak terasa sayapun terlelap. Terdengar dering telpon sepertinya TL kami memanggil untuk mengajak makan malam dengan menu Thailand, hubby membangunkan saya, “Gimana Ma, ikut gak, kita belum makan lho, “. “Rasanya badan udah gak kuat Pa, mama tidur ajah, besok biar lebih segar, masih ada 4 hari lagi kedepan, kalo Papa mau ikut gpp lho, mama tak makan popmie saja kalo lapar. ” “Yaudah Ma, gak usah ikut ya, aku juga gak suka menu Thailand, mending Popmie deh, sekalian istirahat ya, ywes aku telpon Nita, tak suruh ninggal saja.” Dan malam inipun kami stay di hotel, tanpa makan malam, keluyuran dan tertidur pulas, Alhamdulillah.

Waktu menunjukkan pk 04.00, morning call telah berbunyi, setelah mandi dan sholat subuh (o iya, untuk jadwal sholat hampir sama dengan di Indonesia), kemudian hubby menemui TL untuk mengambil sarapan pagi kami berupa Breakfast Box karena Restorant belum buka. Baru pertama kali kami mengenal konsep sarapan seperti ini, Breakfast Box berisi Cereal, Susu, Soya Biscuits dan Juice, saya memilih biskuit, karena saya takut mulas, kalo makan cereal perut sering tidak tahan, yang terpenting pagi ini sudah minum kopi. Selesai dengan sarapan aneh bin geje, kami bergegas membereskan koper dan kemudian menuju lobi, tampak beberapa peserta telah standby, bis pun sudah menunggu tepat waktu. Kami sempatkan diri jeprat-jepret sebentar dan setelah seluruh peserta lengkap, kamipun berangkat menuju Airport Melbourne untuk menuju Airport Brisbane ibukota dari negara bagian Queensland guna berwisata ke kota Gold Coast. Bismillahirrahmannirahim ✈🌏

Advertisements

Melbourne, Gold Coast and Sidney

The biggest adventure you can take is to live the life of your dreams.” – Oprah Winfrey

Alhamdulillah pagi ini Minggu (10/09) kami berdua telah siap untuk menikmati Reward kedua dari Fitti berupa vacation ke Aussie. Berangkat menuju Juanda dengan pak Tik, sopir yang kami mintai tolong untuk anjem kak Belva sekolah jika kami keluar kota atau keluar negeri. Setelah semalam memastikan semua keperluan telah selesai di packing, ternyata sampai di Juanda ada 3 item yang tertinggal, botol minum, bantal dan yang paling fatal adalah Payung (huaaa..). Fitti mendaftarkan kami berdua melalui Bayu Buana Travel Service dengan posisi di Jakarta, jadi rute yang harus kami lalui adalah terbang dari Surabaya menuju Jakarta kemudian Transit melalui Denpasar, setelah itu baru terbang ke Melbourne. Menurut scedule kami akan berangkat ke Cengkareng pk 08.40 untuk berkumpul dengan peserta yang lain pk 14.00 (terlalu pagi, karena takutnya sewaktu-waktu terganggu delay), setelah cek dan ricek paspor, boarding pass kami terbang menuju Ngurah Rai pk 17.00 (wib) dan tiba pk 19.30 (wita). Kami melanjutkan lagi untuk cek paspor dan boarding pass transit internasional dan pk 11.00 kami terjadwal menuju Melbourne. Selama di 3 airport kami berusaha mencari tenant payung, menemukan 1 tenant di Cengkareng, mahalnya amit-amit, akhirnya tak terbeli deh. Akhirnya pasrah, kalopun hujan masih ada jaket anti air.

Untuk itinerary kami selama vacay di Aussie, Melbourne yang hanya sehari akan visit di Parliament House, St Patricks Catedral, Shrine of Remembrance, dan berakhir di Brighton Bathing Boxes, dan menginap di Ibis Style Victoria. Hari kedua dan ketiga kami terbang ke negara bagian Queensland, tepatnya di Gold Coast untuk mengamati secara langsung peternakan yaitu Country Paradise dan hari kedua untuk menikmati Movie World. Hari ketiga dan keempat terbang ke Sydney untuk berkeliling di daerah Sydney Harbour di atas kapan Cruise dan hari terakhir acara kami bebas seharian, terserah mau kemana saja, ada option dengan biaya tambahan yaitu ke Blue Mountains, Madame Tussaud atau Sealife Aquarium sambil belanja sepuasnya di kawasan China Town. Entahlah kami akan kemana, inginnya sih ke Blue Mountains tapi harus ada temannya, supaya bis bisa sewa sendiri minimal 15orang peserta. Hmm..kita lihat saja nanti, sudah tidak sabar untuk segera mendarat di Aussie. Semoga Allah senantiasa memberikan kesehatan, kemudahan, kelancaran dan keselamatan dalam perjalanan kami menikmati reward Aussie ini..aamiin

سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ . وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ

Team Archery Sidoarjo goes to POR SD 2017 di Kabupaten Lumajang

“I don’t focus on what I’m up against. I focus on my goals and I try to ignore the rest.” – Venus Williams.

Pagi ini Sabtu (11/11/2017) pk 08.00, kami mengantarkan Reva menuju Kantor Dispora, guna mengikuti event POR SD 2017 yang akan dilaksanakan di Kabupaten Lumajang selama satu minggu yaitu tanggal 13-18 November 2017. Event 2 tahunan ini merupakan ajang pencarian bibit – bibit atlet berprestasi di Jawa Timur. Tahun ini ada 11 cabang olahraga dan 1 cabang ekshibisi meliputi Cabor Atletik, Bola Voli Mini, Bulu Tangkis, Catur, Panahan, Pencak Silat, Renang, Senam, Sepak Takraw, Tenis Lapangan, Tenis Meja dan 1 Cabor Ekshibisi Selam. Reva bersama teman satu tim panahan yang berjumlah 19 dan akan diantar Bis bersama cabor yang lain. Ingin rasanya mengantarkan sendiri menuju Lumajang toh kami mengikuti Bis dari belakang, kami memang berencana akan menginap di Lumajang hingga acara pembukaan POR SD selesai digelar dan akan kembali lagi ke Lumajang saat Reva bertanding. Tim Panahan terdiri dari 19 anak, kategori Standart Bow Putra ada Izaz, Rizqi, Lucky dan Dheo sedangkan Standart Bow Putri ada Putri, Reva, Naura dan Nanda, untuk kategori Compound Putra ada Izaz, Rizqi, Rio dan Bimo, sedangkan Compound Putri hanya Jihan seorang, terakhir kategori Recurve Putra ada Brill, Gabriel, Abror dan Hasan, sedangkan Recurve Putri ada Alifvia, Marsha, Aliya dan Raisa.

Bis tiba di Lumajang sekitar pk 15.00 bersama-sama dengan Cabor lain menginap di Hotel Cantik. Hotel yang sangat sederhana cukup buat anak-anak untuk menginap selama seminggu. Kamar dengan tipe standart untuk berlima, tanpa air hangat, Alhamdulillah masih ada ACnya. Kami meminta extra bed, agar anak-anak bisa sedikit lebih lega untuk tidurnya, dan dijadwalkan secara bergantian untuk tidur sendiri di bawah dengan extra bed.

Reva mungkin sedikit shock dengan ketidaknyamanan ini, apalagi di rumah terbiasa tidur sendiri, ditambah dengan capek yang menumpuk, juga karena periodnya yang berkepanjangan, jadi pusing dan demam membuatnya semakin menderita. Setelah semalam hanya tidur 4 jam, dan coach menyatakan Reva sakit, Minggu pagi langsung kami jemput dan menginap semalam di hotel kami yang lebih manusiawi..hiks. Setelah sarapan pagi di hotel dan tidur cukup, siang hari Coach mengabarkan bahwa Reva harus segera meluncur ke Aula Wana Bhakti dimana sedang ada agenda pemeriksaan keabsahan dokumen Atlet, seperti Akte Kelahiran, Sekolah, Nisn dan Raport. Alhamdulillah kami datang tepat waktu, pemeriksan berjalan dengan lancar dan Reva mendapatkan kartu peserta POR SD.

Alhamdulillah meski banyak drama dengan masalah ketidaknyamanan hotel untuk Atlet, tapi kami selaku orangtua hanya berusaha menerima dengan ikhlas, mungkin Allah sedang memberikan kesempatan walau disertai dengan kesulitan, agar Reva banyak belajar baik tentang berbagi, berempati dan juga arti dari “Qana’ah”. Hari Senin pagi Reva kami antar ke Lapangan, dan dijadwalkan untuk Practice Day, hari dimana para Atlet Panahan mencoba lapangan juga pengecekan alat panah oleh Panitia Lomba. Setting Visir dan sebagainya harus fix hari ini sebagai bekal untuk pertandingan besok. Jadwal untuk Lomba sendiri, Selasa dan Rabu terscedul kategori Compound dan Recurve, sedangkan Standart Bow terjadwal di hari Kamis dan Jumat. Hari Senin siang ini kami berusaha “tega” melepaskan Reva sendiri bersama teman-teman Atletnya di hotel, kami berencana pulang ke rumah hari Selasa dan Rabu karena membagi perhatian dengan kakak dan adiknya juga karena ada pekerjaan yang harus dibereskan, lagipula selain Reva sedang tidak bertanding juga ada Wali Atlet yang bisa dititipi untuk memperhatikan anak-anak.

Hari Rabu malam kami sudah tiba kembali di Lumajang, untuk mensupport penuh kesayangan yang akan bertanding. O ya untuk kategori Compound dan Recurve tidak banyak yang bisa saya ceritakan, yang pasti semua Atlet kontingen Sidoarjo rontok tak bersisa..hiks. Malam ini kami sempatkan mampir hotel Reva untuk melihat keadaannya dan kesiapannya bertanding besok, kami berharap dia sudah sehat 100% karena 2 hari kedepan akan menjadi hari yang sangat berat buatnya.

Hari Kamis pagi pk 06.30 kami sudah tiba di Lapangan, ada beberapa kontingen yang sudah lengkap berada di sana, mereka ini yang penginapannya tidak jauh dari Lapangan, tapi lebih banyak kontingen yang belum tiba termasuk dari Sidoarjo. Pk 07.30 Atlet Sidoarjo berdatangan baik yang akan bertanding maupun yang kemarin bertanding semua hadir sebagai Supporter. Diawali dengan pemasangan perlengkapan Alat Panah maupun Atletnya, kemudian dilanjutkan pemanasan dan di akhiri dengan Doa bersama. Ada tambahan Atlet yang akan bertanding di Kategori Standart Bow ini untuk Putri, ada Marsha dan Alifvia, sedangkan Putra ada Abror dan Hasan, selain untuk memenuhi kuota juga kemungkinan memperluas peluang untuk menang.

Reva mendapatkan nomer urut Peserta 12B, dia berdampingan dengan Atlet Jember (12A) dan Atlet Madiun (12C), mereka bertiga membidik papan target yang sama. Cuaca masih cerah dan hawanya sangat bersahabat, walau perlahan mendungpun datang. Acara segera dimulai tepat pk 08.30 untuk latihan percobaan sebelum masuk ke pertandingan yaitu Standart Bow klasifikasi 40 mt. Tak seberapa lama Akung dan Ochi diantar adek saya datang juga untuk mensupport, dari jauh-jauh hari Akung sudah ngebet ingin menyaksikan langsung pertandingan Reva ini, beliau sangat bersemangat walaupun masih dalam pemulihan akibat Pemasangan Ring di Jantungnya. Seharusnya beliau berdua menginap semalam, berhubung hotel se-Kabupaten Lumajang Sold Out, beliau pun memutuskan untuk berangkat Subuh, kami saja terpaksa menginap di Losmen ala kadarnya sambil mencari hotel lagi untuk malam ini.

Pertandingan di mulai untuk Standart Bow Putri, setelah latian percobaan 2×6, acara di lanjutkan dengan scoring 6×6. Alhamdulillah setelah sport Jantung, hasil Reva sangat baik walau belum termasuk 10 besar, dia sudah nangkring di rangking ke 18 dari 83 peserta se Jawa Timur, dengan Score 210. Acara dilanjutkan Standart Bow Putra klasifikasi 40 mt. Mendung semakin menggelayut manja dan gerimispun datang. Akung dan Ochi memutuskan untuk pulang, kasian juga, cuaca semakin tidak bersahabat panas dingin tidak karuan.

Pertandingan dilanjutkan kembali untuk Standart Bow Putri klasifikasi 30 mt, lagi-lagi Reva berhasil nangkring di peringkat 18, dengan Score 243. Bahkan mengalahkan atlet dari Surabaya, yang nangkring di peringkat 22. Saat itu kebetulan mas Rizal pelatih Reva di Surabaya yang menjadi anggota Panitia sedang menempelkan hasil print out kualifikasi 30 mt sempat ngobrol bareng om Yogi, coach Reva sekarang di Sidoarjo. Mas Rizal, “wah Reva hebat tante, sudah berhasil mengalahkan Gita, tapi benarnya kalo tidak ada masalah KK, Reva ini atlet Surabaya, tidak akan saya berikan ke om Yogi, iya kan om?,” kami tertawa bersamaan. Sempat bertanya ke Reva, seandainya disuruh memilih antara kota kelahirannya dengan kota dimana dia tinggal sekarang, dia akan tetap memilih memperkuat team Sidoarjo, entahlah, Reva sendiri yang tau alasannya.

Klasifikasi dilanjut ke 20 mt, kali ini Score Reva terjun bebas, dia hanya sanggup nangkring di rangking 29. Memang sejak awal Reva sudah pesimis jika bermain di jarak 20 mt, dia merasa score tidak pernah bagus, walaupun secara total apa yang dihasilkan saat pertandingan POR SD ini melampaui scoring yang di lakukan tiap hari Minggu saat TC di Lebo kemarin. Namun Alhamdulillah Putri mencatatkan prestasi untuk klasifikasi 20 mt ini di rangking ke 3, sehingga Sidoarjo pecah telor di cabor Panahan dengan memperoleh satu medali Perunggu. Berhubung cuaca hujan dan menyebabkan acara molor, acara segera di akhiri menjelang Maghrib dengan hasil akhir, Putri (rank 8), Reva (rank 20) dan Nanda (rank 30) lanjut ke 1/16 final, sedangkan Marsha (rank 35), Naura (rank 36) dan Alifvia (rank 49) terpaksa gagal lolos babak kualifikasi. Sedangkan untuk Putra, hanya Izaz dan Rizqi yang kebetulan mendouble Compound, juga Lucky ikut lolos menuju 1/16 final, sedangkan yang lainnya berguguran.

Hari ini Jumat, scedule 1/16 hingga Final untuk perorangan digelar lebih awal, tepat pk 07.30 acara dimulai. Berdasarkan urutan rangking, Reva dipertemukan dengan atlet no 1 Bojonegoro yang berada di rangking 13, yang menurut perhitungan saya kekuatannya nyaris seimbang. Pertandingan aduan ini lumayan membuat sport Jantung, mereka berdua Reva dan Nurfazati bergantian mencatatkan poin, saling balas hingga berakhir Draw, dan kesempatan 1 x tambahan menembak sebanyak 3 x anak panah, dan Reva pun menyerah kalah. Raut sedih dan lunglai menghiasi wajahnya.

Kami tau dia terluka tapi berusaha tegar tanpa tangisan, berbeda dengan teman atletnya bahkan Rizqi yang notabene jam terbangnya tinggi dan laki-laki tanpa malu terus meneteskan airmata. Reva terkulai menahan rasa sakit fisik dan psikis,” Ma, aku pengen muntah, aku tidak enak badan,”. Saya langsung mengantarkan ke lapangan sebelah yang tak terpakai. Reva langsung muntah-muntah sambil menangis, “aku pengen di mobil Ma, aku tidak mau bertanding lagi, “. Naluri sebagai seorang Ibu, membuat saya galau memilih antara disiplin dan kasihsayang. Saya tidak tega melihatnya kesakitan karena terluka, disisi lain saya harus menanamkan arti dari kewajiban dan tanggungjawab. Reva tidak mungkin mundur dari pertandingan Standart Bow Beregu Putri, dia sudah ditunjuk, diberi tanggungjawab oleh Coach untuk maju Beregu antar Kontingen. Meskipun ada Nanda sebagai cadangan tetap Reva yang diutamakan. Untuk Putri sendiri juga harus menelan kekalahan di 1/8 final, harapan besar ada di Kelas Beregu sekarang.

Setelah saya obati sambil memotivasi, semangat Reva perlahan tumbuh kembali. Saya tekankan lagi, bahwa kami orangtuanya tidak pernah membebani untuk menjadi juara, kami hanya ingin Reva belajar mengambil tanggungjawab dan menyelesaikannya dengan baik, mendapatkan ilmu serta pengalaman yang ada tentu tak ternilai harganya. Reva turun dari mobil kembali ke Lapangan tak lama kemudian pertandingan Beregu dimulai.

Di dahului dengan latian percobaan dengan 2 x tembakan. Tembakan pertama Reva hancur lebur tak satupun mengenai target merah apalagi kuning, kami dan coach nya terus memberikan semangat. Pertandingan segera dimulai, tembakan pertama Reva mulai normal kembali, lanjut kedua Reva kian menemukan kekuatannya, dan tembakan ketiga Reva makin sempurna, Kabupaten Lumajang dipaksa bertekuk lutut dengan skor telak 6-0 untuk Sidoarjo, Alhamdulillah. Berhubung hari Jumat istirahat Ishoma menjadi lebih panjang karena ritual Jumatan. Saat ishoma inilah, ada tamu dari DPRD Sidoarjo entah komisi berapa, saya kurang paham sedang berkunjung. Apa yang mereka bicarakan dengan coach Yogi, saya juga tidak terlalu memperhatikannya, hanya dalam hati saya berharap kedepan Sarana Prasarana dan Fasilitas Pengembangan Atlet Sidoarjo dapat lebih diperhatikan kemudian diperbaiki dan terus ditingkatkan. Ishoma selesai dan pertandingan Standart Bow Beregu dilanjutkan kembali, Tim Putri Sidoarjo berhadapan dengan Kabupaten Bojonegoro, dan lagi-lagi dicukur habis dengan skor 6-0. Tim Putri Sidoarjo berhasil masuk Semifinal dan harus menghadapi lawan tangguh yaitu Kabupaten Malang, dan Sidoarjo menyerah kalah dengan skor 5-1. Berikutnya Sidoarjo masih harus berjuang berebut Perunggu melawan kota Malang dibawah guyuran hujan deras, dengan hasil Draw, tambah 1 x tembakan, skor masih sama, hanya selisih di point X (tembakan tepat ditengah target), kamipun kalah, sungguh sangat disayangkan, mengapa Putri yang biasa bermain cantik harus antiklimaks disaat genting..hiks. Allah Maha Besar belum mengijinkan Sidoarjo untuk menang, pasti ada hikmah dibalik semua kejadian. Kabupaten Sidoarjo belum beruntung untuk Beregu, Compound maupun Recurve namun sudah mendapat medali Perunggu untuk Standart Bow klasifikasi 20 mt, tapi tidak untuk Perorangan. Alhamdulillah, masih banyak hal yang perlu disyukuri selain Tim Beregu Putri berhasil meraih peringkat ke 4, walaupun kontingen kami tidak dijagokan, dan yang terpenting adalah Reva banyak belajar bagaimana cara “Berdamai dengan keadaan”, di saat dia jatuh tetap dia harus bisa bangkit kembali,Don’t stop when you’re tired, stop when you’re done. Menjadi Atlet ditempa tidak hanya soal Fisik tapi juga Mental, bagaimana menjaga semangat Sportivitas dapat terus menyala.

Selesai sudah POR SD, Alhamdulillah Allah Azza Wa Jalla telah menghadiahkan kesempatan buat kak Reva mengikuti event yang prestisius ini, padahal belum pernah sekalipun mengikuti turnamen, dan hasilnya sangat membanggakan baik orangtua, Club maupun kabupaten Sidoarjo yang menempatkannya sebagai Atlet no 2 Standart Bow Putri. Banyak pengalaman dan pelajaran berharga yang dapat diambil sebagai bekal untuk Turnamen selanjutnya. Kita jelang POPDA di jenjang SMP ya kak Reva, tetap semangat berlatih, tambah terus jam terbangmu dan jangan mudah menyerah, insyallah kesuksesan segera menghampirimu 🏹🎯 👧

“Life is a fight, and in that fight it doesn’t matter how hard you hit or how well you fight. What matters is how hard you can get hit and keep on fighting”.

Sidoarjo Bisa Menang!!!

“Gold medals aren’t really made of gold. They’re made of sweat, determination, and a hard- to-find alloy called guts.” – Dan Gable

Hari ini Jumat (10/11/2017) pk 13.00, terjadwal pelepasan kontingen Sidoarjo dalam acara POR SD dilaksanakan di pendopo Kabupaten oleh bapak Bupati H. Saiful Ilah, SH, M.Hum, setelah melalui rangkaian TC (training center/pemusatan latian), hampir satu bulan dan berakhir hari Kamis kemarin.

Hampir dua minggu kak Reva tidak sekolah, setelah dua minggu sebelumnya juga harus break sebelum jam sekolah berakhir, Alhamdulillahnya jadwal sekolah, seminggu adalah UAT yang berakhir pk 13.00, sedangkan latian TC mulai pk 14.00 hingga Maghrib, seminggu kemudian jadwal Remidial, kak Reva Alhamdulillah tanpa remidi dan bersamaan jadwal TC pk 09.00 hingga Maghrib, jelas tidak bisa sekolah. Setiap Minggu selalu ada jadwal Scoring, 3 x Scoring kak Reva menempati peringkat 2 dan 3 untuk total seluruh kelas yaitu 20m, 30m dan 40m, Alhamdulillah hasil yang membanggakan, mengingat selama ini tidak aktif latihan.

Ada rasa berat meninggalkan sekolah hampir 3 minggu, namun sejauh ini sekolah memang support kegiatan POR SD ini apalagi di tingkat Provinsi, even yang sangat bergengsi, karena nama sekolah ikut promosi gratis. Beberapa kali komunikasi dengan ustadzah kelas kak Reva dan so far hanya ada tanggungan produk yang belum terselesaikan sehingga raport belum bisa diserahkan ke orangtua tepat waktu.

Kak Reva mulai dapat menyesuaikan diri dengan ritme latian yang lumayan berat, semakin lama semakin enjoy dan mencintai olahraga Sunnah ini. Kegalauannya tentang sekolah juga semakin berkurang, apalagi berkali-kali Coach menekankan untuk fokus dengan latian, jangan terlalu kepikiran sekolah, karena Jalur Prestasi sebagai “Golden Ticket” sudah pasti ditangan, tinggal tunjuk saja Sekolah mana yang di mau. Namun kami sepakat Reva masih akan melanjutkan jenjang SMP di SMPI Raudlatul Jannah dengan harapan mendapatkan Beasiswa melalui jalur Non Akademis, ya semoga saja..aamiin

Diakhir TC menjelang pertandingan, bapak Satuman sebagai wakil dari Disporapar yang mengawal cabor Panahan ini memberikan wejangan kepada para wali Atlit untuk dapat dengan legawa menerima semua fasilitas dari Kabupaten baik itu seragam yang berupa tas, sepatu, kaos, training, jaket juga berupa uang ganti lelah TC dan Turnamen besok, bagaimanapun anak-anak sudah diberi kesempatan mendapatkan ilmu juga mengikuti pertandingan bergengsi tingkat provinsi yang tidak semua anak mendapatkannya. Saya pribadi sangat memahami kondisi bangsa ini, yang namanya Atlit memang tidak bisa dijadikan profesi, karena tidak di openi, selain ada batas umur yang relatif pendek juga. Namun kak Reva diuntungkan oleh keadaan, Alhamdulillah kami sebagai orangtua sudah menyiapkan bekal bagi anak-anak kami sebuah perusahaan yang insyaallah dapat diwariskan, bahkan seluruh keluarga support dengan kecintaannya pada olahraga panahan ini, kalaupun Allah memberikan takdir sebagai Atlit, setelah pensiun dia bisa menjadi pelatih dan buka toko olahraga. Pernah kak Reva bertanya, “Ma, apakah tidak ada pelatih panahan perempuan?, kan lebih enak kalo sesama perempuan,”. Jadikan itu motivasi mu nak, suatu saat kamu harus bisa mengisi kekurangan itu, panahan adalah olahraga sunnah Nabi, kamu bisa menjadikannya lebih Syar’i dengan membuka club panahan khusus perempuan, Insyaallah.

Melanjutkan cerita tentang Pelepasan Kontingen Sidoarjo ini, acara di mulai pk 13.00 di Pendopo Dalem, sayangnya berbarengan dengan Demo buruh yang mengambil momen Hari Pahlawan, jalanan rame dan macet, banyak polisi berjaga-jaga disekitaran alun-alun Pendopo. Anak-anak masuk kedalam Pendopo Delta Wibawa sementara kami wali atlit tidak diperkenankan masuk ke dalam. Setelah selesai acara mohon doa restu bapak Bupati, acara dilanjutkan ke Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata untuk mengikuti arahan keberangkatan ke Lumajang besok Sabtu (11/11), Alhamdulillah ternyata anak-anak juga mendapatkan uang saku sebesar rp 600.000, betapa senang hati mereka, walaupun kalau dibandingkan orangtuanya yang habis-habisan mbandani Panahan ini, cuma seujung kuku..huhuhu. Melihat begitu semangatnya kak Reva dan teman-teman untuk menyambut Pertandingan besok di Lumajang, para orangtua juga ikut semangat. Apapun hasilnya, kalian sudah menjalani prosesnya dengan baik, kami bangga Nak. Dan semoga Allah memberikan hasil terbaik yang di Ridhoi-Nya..aamiin

Akademis vs Non Akademis

“I have a dream that my four little children will one day live in a nation where they will not be judged by the color of their skin, but by the content of their character”.
Martin Luther King, Jr

Danica Najaah Syareefa, anak nomer 2 (si tengah) ini secara fisik dan pembawaan memang berbeda dari kedua saudaranya. Kulitnya lebih coklat, lincah dan pemberani, sekolah juga lebih awal, dia mengikuti sekolah sejak jenjang Toodler (dibawah Playgroup). Reva nickname-nya, sempat dipanggil Naya saat Toodler dan Playgroup, sejak TK berubah menjadi Reva, agar ear catching dengan sang kakak Belva. Reva memiliki adek saat masih berusia 3th, membuatnya mandiri lebih dini dari sang kakak. Sejak kehadiran adek Mika, dialah yang membantu Mama untuk ikut momong, dibanding kak Belva yang lebih egois, mungkin karena faktor umur yang agak jauh dan hobby nya yang doyan belajar dan membaca membuatnya lebih sibuk dengan dirinya sendiri.

Sejak kecil Reva sangat menyenangi alam, terutama binatang, hobby menunggang kuda, berfoto dengan banyak burung bahkan memegang bayi singa di Taman Safari. Kebiasaan menunggang kuda hingga saat ini masih sering dia lakukan. Untuk urusan keberanian, Reva lebih unggul, naik sepeda sejak TK, bisa berenang juga mulai kelas 1, maen sepatu roda, flying fox, roller coaster, apapun yang uji nyali dia memang merasa tertantang. Sejak umur 7th dia ingin les Panahan, tapi karena belum diperbolehkan, akhirnya kami alihkan ke les Musik, namun hanya bertahan hingga kelas 3 saja. Kelas 5 mulai kembali ke Panahan. Ketiga anak kami tidak ada yang mengikuti Les Akademis, kami sebagai orangtua sepakat tidak terlalu mempermasalahkan nilai di sekolah, secukupnya saja, namun jika anak-anak berprestasi di sekolah, itu namanya bonus, Alhamdulillah. Kami lebih menyukai mereka untuk mengambil Les Non Akademis, pelajaran cukup dari sekolah, jangan sampai waktu habis hanya untuk urusan Akademis saja. Belva dan Reva kami arahkan ke Musik, hingga detik ini meski mereka tidak sempat lagi untuk les, namun diwaktu senggang dan ingin relax mereka sempatkan bermain Piano atau Keyboard, bahkan main musik ini Reva dan Belva membuahkan beberapa piala, bahkan saat SMP, kak Belva beberapa kali diminta mengiringi acara tertentu juga Wisuda. Bagaimanapun kemampuan menjalani kehidupan mendatang bukan hanya Nilai Akademis saja yang berperan, Life Skill lebih akan membantu mereka untuk Survive demi masa depannya. Kami pribadi, baik Mama maupun Papanya merupakan mantan siswa dengan klasifikasi biasa-biasa saja, untuk itulah kami tidak menuntut anak-anak secara berlebihan untuk nilai Akademisnya, tapi kemandirian dan tanggungjawab serta disiplin itu juga harus ditempa sejak dini. Alhamdulillah sejauh ini, jika terpaksa kami tidak bisa menemani misalnya harus keluar kota atau keluar negeri, mereka sudah terbiasa Mandiri. Dengan Les Non Akademis, mereka juga memiliki tambahan Skill, selain itu dengan Reva menjadi Atlet dia akan ditempa dengan tekanan lebih, harapannya dia akan lebih kuat menghadapi tantangan kehidupan di masa depan.

Melihat hasil sidik jari kak Belva kemarin, membuat rasa penasaran semakin besar terhadap kedua adeknya dan ternyata benar, hasil Tes Sidik Jari Reva memperlihatkan perbedaan dengan kedua saudaranya, jadi selain fisik ternyata Sidik Jaripun tak sama. Meski alat ukur bakat dan potensi bernama Fingers Print Test ini masih dianggap Pseudoscience tapi hasilnya memiliki kemiripan yang sangat tinggi. Reva cenderung dominan Otak Kiri, dan gaya belajarnya Audiotori, berbeda dengan Belva dan Mika yang dominan Otak Kanan dengan gaya belajar Visual. Sedangkan untuk kecerdasan majemuk Reva, 4 tertinggi adalah Logis Matematis, Naturalis, Body Kinestetik dan Spiritualis, berbeda dengan kak Belva, yaitu kecerdasan Intrapersonal, Interpersonal, Verbal Linguistik dan Body Kinestetik, kemudian adek Mika, memiliki kecerdasan di Interpersonal, Intrapersonal, Visual Spasial dan Verbal Linguistik. Jika di lihat dari olahraga Panahan ini ke 4 aspek kecerdasan kak Reva tersebut akan dapat terexplore maximal, cara skoring (menjumlahkan hasil tembakan anak panah), olahraga di lapangan outdoor, dan spiritualis ini hubungannya dengan sunah Nabi Muhammad SAW, semoga saja Allah Azza Wa Jalla memberikan Ridho-Nya untuk Reva kedepan, jika memang suatu saat takdir membawanya menjadi Atlet Panahan, semoga dia bisa semaximal mungkin membuat harum Nama Bangsa dan Negara..aamiin.

Saat ini yang menjadi ganjalan adalah sejak Reva masuk menjadi salah satu atlet Panahan untuk mewakili Kabupaten di acara POR SD di Lumajang, Reva terpaksa setiap hari meminta dispensasi pulang lebih awal, mulai 18/10 hingga 10/11. Reva harus mengikuti TC (training center/pemusatan latihan) di lapangan Pengcab Perpani Sidoarjo setiap hari pk 14.00 padahal sekolah selesai pk 15.30 apalagi Reva sebagai siswa kelas 6 yang juga anggota TPDS terbiasa pulang paling cepat pk 16.00. Beban itu terlalu berat untuk Reva, apalagi jika jadi berangkat ke Lumajang mengikuti POR SD, Reva harus sanggup meninggalkan sekolah hingga 6 hari. Reva galau ya Allah, bagaimana dia mengejar ketertinggalan materi, walaupun pihak Kecamatan maupun Kabupaten siap menjamin kelangsungan sekolah Reva melalui Jalur Prestasi, tetap Reva pusing memikirkan nilai-nilai yang selama ini dia perjuangkan. Beban Reva tidak cuma tentang dirinya, nama besar sang kakak juga ikut membayangi kesuksesannya, bagaimana tidak, secara tidak sadar guru-guru di sekolah sering membandingkan Reva dengan Belva. Target-target Reva di sekolahpun ingin berusaha menyaingi bahkan mengungguli sang kakak. Namun sekali lagi Hidup adalah Pilihan, Reva harus memilih salah satu antara jalur Akademis atau Non Akademis, tidak bisa keduanya karena tidak akan maximal, kami sebagai orangtua akan support sepenuhnya pilihan anak-anak kami. Termasuk kedepan jenjang SMP akan kami wacanakan Home Schooling, agar lebih flexible mengatur waktu. Yach, apapun itu kami harus berunding lebih dalam lagi, semoga Allah Azza Wa Jalla meridhoi upaya terbaik demi anak-anak kami di masa depan..aamiin

Medali Perunggu untuk Kecamatan Waru

The most important thing I’ve learned about archery is that there is only one archer in the race, and that’s me.”

Alhamdulillah, hari Sabtu (13/10) adalah hari yang sangat menegangkan sekaligus menggembirakan dan merupakan titik awal Reva meraih salah satu prestasi besarnya, yaitu kemenangannya di Porlakab Cabang Olahraga Panahan di kelas 30meter, dengan perolehan 1 medali Perunggu. Medali Perunggu ini salah satu penyumbang untuk Kecamatan Waru di acara Porlakab, yang diadakan oleh Dispora Kabupaten Sidoarjo dalam seminggu ini. Mulai hari Senin pembukaan yang berlangsung hingga Jumat, kecamatan Waru belum satupun Cabang yang menorehkan prestasi, Alhamdulillah Reva memecahkan telor meski hanya Medali Perunggu namun wakil dari pihak Kecamatan sangat bahagia dan mengapresiasi dan terus memotivasi Reva untuk berprestasi mengharumkan Kecamatan Waru. Selain Kecamatan Waru, tentu saja pihak Sekolah Islam Raudlatul Jannah yang ikut berperan menunjuk Reva sebagai salah satu wakil sekolah ikut serta dalam ajang Porlakab turut bergembira, karena dari wakil Sekolah hanya Reva satu-satunya yang berhasil mempersembahkan Medali, begitupula Club Paser yang dalam 3 hari saja melatih Reva juga sangat gembira dengan hasil yang menakjubkan. Sebagai Orangtua tentu saja kamilah yang paling berbahagia, tidak ada satupun target yang kami bebankan kepada Reva, karena kami tau diri Reva terpaksa vakum cukup lama di kelas 6 ini, namun dengan 3x saja berlatih dapat membawa 1 medali, Masyaallah sama sekali diluar dugaan, dan Alhamdulillah lagi-lagi Allah Azza Wa Jalla memberikan rahmat dan karunia-Nya.

Acara Porlakab diadakan di lapangan Lebo dan diagendakan selama 2 hari Jumat dan Sabtu pk 07.00 hingga selesai, jika hari Jumat lomba dapat di selesaikan, maka Sabtu tidak ada kegiatan lanjutan. Reva telah siap untuk sarapan pk 05.00, begitu semangat dan tanpa keluhan, padahal Rabu dan Kamis pk 14.00 hingga maghrib dia terus berlatih untuk menghadapi Porlakab. Tepat pk 06.00 kami berangkat sembari mengantar kak Belva sekolah dan memang dalam satu jurusan. Alhamdulillah pk 06.45 kami telah sampai di Lapangan Lebo, dan hanya terlihat satu petugas Porlakab yang tidak tau menahu tentang acara Panahan, beliau hanya dititipi sebentar oleh pihak panitia, oh baiklah. Anak-anak terbiasa disiplin dengan waktu, walau terkadang orangtuanya sampai harus kepontal-pontal mengikuti mereka, karena kami hafal tipikal orang Indonesia itu jam karet, kecuali Sekolah Raudhatul Jannah yang selalu ontime dengan agenda yang diadakan, mungkin itu yang mendidik anak-anak kami untuk disiplin dengan waktu. Pk 07.30 peserta mulai berdatangan kemudian langsung pemanasan dan tepat pk 08.00 acara panahan dimulai.

Porlakab kali ini diikuti oleh 12 anak laki-laki dan 12 anak perempuan dari 6 kecamatan, antara lain, Waru, Taman, Candi, Wonoayu, Krian dan Sidoarjo kota. Tiap kecamatan bebas untuk mengirimkan berapapun wakilnya, dan kecamatan Waru mengirimkan 6 anak laki dan 5 anak perempuan dan merupakan kecamatan dengan wakil terbanyak, maklum kecamatan Waru ini besar sekali wilayahnya, dibandingkan dengan Krian yang mengirimkan wakil hanya 1 anak perempuan dan kebetulan teman 1 club dengan Reva. Acara lomba Cabor Panahan dibuka oleh bapak Agung, selaku wakil dari Dispora Sidoarjo sekaligus yang memberikan aturan pertandingannya. Kelas panahan dibagi 3, yaitu 40mt, 30mt dan 20mt, untuk semua peserta dengan Stardart Bow melakukan Tembakan sebanyak 6x dan masing-masing melepas 6pc anak panah. Sedangkan 50mt untuk peserta dengan Compound Bow dengan jumlah Tembakan yang sama. Hasil Skor dari Reva sendiri untuk kelas 40mt dengan skor 88 berada di urutan no 5, kelas 30mt dengan skor 156 berada di urutan ke 3 dan terakhir kelas 20mt dengan skor 210 berada di urutan 4. Alhamdulillah untuk semua hasil yang diperoleh Reva, dengan persaingan yang demikian ketat dan latihan yang hanya 3x saja, masih ada Medali yang dapat di persembahkan. Dari deretan pemenang Cabor Panahan ini dapat dilihat urutan 1 dan 2 adalah anak-anak yang sama, sehingga bisa dibuat catatan bahwa kaderisasi atlit Panahan di daerah sangat kurang, selain Panahan adalah olahraga mahal, ekslusivitas membuat olahraga ini jarang diminati, apalagi Pemerintah juga tidak support sama sekali, kondisi lapangan tingkat Kabupaten saja, tampilannya mengenaskan, bahkan info dari ibu dari putra pemenang Emas di 3 kelas, untuk ngopeni lapangan saja harus sumbangan mandiri dari anak didik pengcab Sidoarjo (btw putra beliau sudah latian selama 2 tahun dan memiliki jam terbang yang tinggi, bahkan beberapa kali sudah mendapatkan emas, gitu kq masuk kategori pemula ya..hiks). Itulah mengapa Reva terpaksa ikut Club (swastanya) agar sarana prasarana juga ikut support dan membuat dia nyaman dan semangat mengikuti latian, tapi ya itu tadi harus kuat pendanaan dari orangtua. Jer Basuki Mawa Bea.

Dengan Medali Perunggu ini Reva akan mengikuti TC (training center) guna persiapan ajang tingkat Provinsi mewakili Sidoarjo, dan menurut pak Agung sebagai penanggungjawab Cabor Panahan diawal tadi, yang mengikuti TC adalah peserta dengan skor 1-4 teratas, dan belum tentu yang juara 1 atau 2 yang terkirim karena masih harus melihat hasil TC. Semangat ya Kak Reva, Medali Perunggu pertama yang kamu peroleh semoga menjadi motivasi untuk berprestasi lebih banyak lagi, selalu giat berlatih, jangan mudah putus asa dan jaga ibadah dengan benar dimanapun berada. Semoga Allah Azza Wa Jalla senantiasa meRidhoi cita-cita dan impianmu dimasa mendatang..aamiin

Duta kecamatan Waru di ajang Porlakab

“Some say LIVE, LAUGH, LOVE…but we say RAISE, AIM, SHOOT”

Alhamdulillah, meski sempat terjadi polemik tentang lomba Panahan ini, kesepakatan itu akhirnya tercapai juga. Yach, Coach Reva di sekolah sama sekali tidak cawe-cawe melatih Reva, namun jika Reva membawa salah satu Piala, bukan pelatih Perpani yang harum namanya tapi Coach Eskul Panahan dan Sekolah, itulah yang membuat Pelatih dari Perpani Surabaya merasa tidak dihargai. Sebagai jalan keluar Reva yang selama ini terdaftar sebagai member Perpani Surabaya harus dipindahkan ke Pengcab Sidoarjo terlebih dahulu karena berdasarkan KK dan letak sekolah, kemudian masuk sebagai anggota Club “Paser” dibawah naungan Pengcab Sidoarjo, dengan begitu Reva akan di latih pihak Perpani Sidoarjo dan dipersiapkan lebih banyak untuk even Panahan kota Sidoarjo. Reva mulai berlatih hari Sabtu (07/10) sedangkan jadwal lomba akan di adakan hari Jumat dan Sabtu (13/10-14/10), dan Reva harus bermain di kelas 20m, 30m, 40m, padahal selama ini Reva masih bermain di 10-20m, modal nekad ini namanya, apalagi Reva sempat vakum latian karena sudah kelas 6, karena harus berkonsentrasi menjemput UNAS. Namun karena sekolah memberikan tugas negara, yang mana kesempatan tidak datang dua kali, maka Reva pun siap menerima tantangan tersebut. Memang persiapan UNAS wajib dilakukan tapi bukan berarti mengorbankan hobby yang saat ini tengah ditekuni kak Reva yaitu Panahan, toh masih bisa membagi waktu dengan baik. Tapi saat menghadapi lomba seperti ini, jadwal latihan Reva terpaksa mengganggu jadwal Sekolah juga, karena mepetnya jadwal pertandingan terpaksa latihan harus dikebut. Jika pulang sekolah resmi terjadwal pk 16.00, terpaksa pk 14.00 harus ijin pulang untuk latihan, belum lagi hari Jumat jadwal lomba Panahan pk 07.00 sampai selesai. Semoga saja tampilan Reva tidak terlalu mengecewakan, walaupun tidak menang. Kami sendiri sebagai orangtua tidak mentargetkan Reva harus menang, yang terpenting Reva dapat belajar bagaimana proses yang harus di lalui serta mengambil ilmu dan pengalaman yang ada. Toh, ini lomba Panahan yang pertama kali Reva ikuti, jadi target menang adalah nomer sekian.

Sebenarnya pihak Perpani masih ada ganjalan tentang Coach di Sekolah, namun sambil jalan akan diselesaikan dengan win-win solution. Bagaimanapun besok saat lomba, pelatih club “Paser” (pak Yogi) yang akan mendampingi Reva bukan Coach dari Sekolah. Semua ada hikmahnya, kembali lagi olahraga Panahan saat ini sudah tidak bisa dibuat ekslusif lagi, Perpani harus mau bekerjasama dengan baik dengan pihak Sekolah, selain mereka juga akan diuntungkan dengan jasa marketing gratisan, secara otomatislah siswa yang mencintai panahan akan mendorong orangtua mereka untuk mendukung agar siswa tersebut dapat bergabung dengan Club Panahan, jumlah member yang semakin besar, kesempatan mengkader atlit juga semakin luas, bibit-bibit baru akan bermunculan untuk siap mengharumkan nama bangsa di kancah Internasional. Semoga ^^