Amor Royalty 2017 for Japan (part 3: Toyohashi – Mt. Fuji Area)

“I have found adventure in flying, in world travel, in business, and even close at hand… Adventure is a state of mind – and spirit” – Jacqueline Cochran

Pagi ini Jumat (25/03), terbangun dengan kondisi badan yang kurang fit, setelah kekenyangan apalagi ditambah rasa lelah, harapan kami dapat tidur dengan pulas, ternyata kamar tanpa AC (padahal kalo tertutup kelamaan engap juga), mungkin pertimbangan Toyohashi termasuk daerah dingin mungkin karena dekat pegunungan Fuji, termasuk juga dipan kamar yang keras, padahal Hotel bintang 5 dan menggunakan Kamar versi Eropa, artinya dipan lebih lembut daripada versi Jepang. Yasudah, disyukuri saja, kenikmatan karunia reward dari Allah ini jauh lebih besar daripada hanya mengeluh tentang dipan yang keras, Alhamdulillah. Dan selesai sarapan kami segera berangkat menuju Oshino Hakkai Village sebagai destinasi pertama di hari ketiga kami di Jepang.

Cukup jauh perjalanan kami dari Toyohashi menuju pegunungan Fuji, mampir Pit Stop sejenak guna menunaikan hajat. Begitu masuk toilet kami langsung disuguhi pemandangan toilet kelas VVIP, lanjut masuk ke kamar mandi, Subhanallah ini orang Jepang buat toilet saja sedemikian canggih, mana gratis pula, bagaimana jika orang awam tidak bisa mengoperasikan, apa kira-kira tidak pesing semua..hiks

A. Oshino Hakkai Village

Setelah selesai dengan wisata toilet (hayah..) kami lanjutkan perjalanan menuju wisata di area sekitar gunung Fuji. Kali ini kami berkunjung ke Oshino Hakkai. Oshino Hakkai adalah salah satu objek wisata yang terkenal di sekitar gunung Fuji dan termasuk ke dalam Mt. Fuji World Cultural Heritage Site Asset (terdaftar Juni 2013).

Oshino Hakkai adalah delapan mata air alami yang terletak di Oshino, Yamanashi. Mata air di Oshino Hakkai adalah air bawah tanah dari gunung Fuji. Air di sini merupakan hasil mencairnya salju di puncak gunung Fuji yang kemudian merembes ke bawah tanah dan mengalir hingga Oshino. Diperlukan waktu 80 tahun supaya air ini sampai ke Oshino Hakkai. Jernih sekali karena air di sini hasil dari filterisasi oleh lava, air menjadi sangat jernih dan mengandung mineral yang tinggi. Selain itu, Oshino Hakkai dikelilingi oleh alam yang indah termasuk juga gunung Fuji, sehingga tempat ini sering dijadikan spot bagi para pecinta fotografi untuk mengambil gambar.

Setelah puas mengexplore dan mengabadikan keindahan Oshino Hakkai serta memborong semua merchandise maupun oleh-oleh makanan khas Jepang, yang disediakan oleh toko sekitaran Oshino Hakkai, kami segera menuju Gotemba Premium Outlet sebagai destinasi kedua hari ini.

B. Gotemba Premium Outlet

Sampailah kami di Gotemba saat makan siang, kami sempatkan untuk menyiapkan amunisi perut dulu sebelum hunting pesanan anak-anak, karena menurut info yang saya dapatkan, ada counter Disney di sini, tapi untuk Toy’s R Us tidak saya temukan, yach semoga saja kami berhasil mendapatkannya. Menu makan siang seperti biasa, setiap hari kami makan Jepang, pulang langsung pinter ngomong Jepang kali ya..hahaha. Sumpah bosen, pengen nasi Padang, Pecel, Rawon, Soto, kangen banget..hiks

Saat meeting point di Outlet Premium seperti ini, kami dibekali Peta Counter dan Diskon yang ditawarkan, diberi batas waktu belanja maximal. Seperti pengalaman Reward yang lalu, kami berdua di Gotemba ini juga akan fokus mencari oleh-oleh yang diminta anak-anak dan tidak pernah tertarik membeli untuk keperluan pribadi, yaitu tadi kami bukan spesies brand minded dan produk lokal sudah mencukupi kebutuhan kami soal fashion.

Outlet Gotemba adalah Mal gerai paling populer di Jepang, terletak di Kota Gotemba di daerah lereng Gunung Fuji, tidak jauh dari Hakone. Mal ini memiliki lebih dari 200 toko dengan sejumlah restoran, food court dan velg ferri setinggi 50 meter. Toko-toko yang terdapat di Outlet Premium adalah gerai merek mode fashion, olahraga, makanan, barang-barang rumah tangga dan elektronik yang terkenal secara internasional, dan berkisar barang-barang sehari-hari hingga barang mewah. Harga tidak selalu murah, tapi secara rata-rata lebih murah dari toko-toko ritel biasa di Jepang. Secara keseluruhan merupakan tempat yang bagus untuk belanja, dengan banyak variasi dan harga yang wajar. Sebagian besar toko juga menerima kartu kredit seperti Visa, Mastercard, American Express dan Diners. Loker koin juga tersedia di dua lokasi.

Pertama kali masuk langsung menemukan counter Sanrio, seperti biasa yang dituju adalah produk Obralan yang ada di box, tidak hanya lokal juga internasional, hobby nya produk harga coret..hahaha. Menemukan 1 pc sweater bergambar Snoopie seharga 100k dalam rupiah, dan jam tangan Sanrio buat si mama sendiri, seharga 400k, semua harga diskon 50%, Alhamdulillah. Lanjut menuju counter Disney, tidak jauh dari Sanrio, mengubek-uber mencari Molang tapi tak terlihat batang hidungnya (..hayah), saat menyerah kami bertanya pada kasirnya, dan ajaib mereka tidak mengenal Molang (haduh..parah). Baiklah kami segera check out dari Disney menuju Store Toys, kami mencoba mencari Molang tapi saya sendiri sudah sangat yakin tidak akan ada produk tersebut, dan kami hanya membeli Starwars dan Dinosaurus untuk menambah koleksi adek Mika. Mencoba berkunjung ke beberapa counter tapi tanpa belanja, ngeri lihat harganya, meski premium outlet, kalo produk branded tetap mahal harganya..hiks. Kami memutuskan beristirahat sambil menunggu peserta yang lain selesai belanja, sembari hubby meluangkan waktu untuk mengendalikan perusahaan dan memastikan semua berjalan dengan baik.

C. Fujisan World Heritage Center

Selesai belanja kami segera meluncur ke destinasi ketiga hari ini yaitu Fujisan World Heritage Center. Tour Leader dan Tour Guide kami sudah kasak-kusuk sepertinya kami terlambat sampai di tujuan, sudah kesorean tepatnya. Mereka berdua berlarian mencoba masuk ke Fujisan sementara kami masih menunggu di Bis. Ternyata benar Fujisan sudah tutup, menyesal sekali rasanya, selalu gara-gara belanja. Mustinya Gotemba di urutan paling buncit tapi mungkin sesuai arahnya menuju hotel berikutnya Gotemba ada ditengah, padahal di hari terakhir kami di Jepang akan ada acara belanja di kawasan belanja terbesar di Tokyo,yaitu Shibuya.

Fujisan World Heritage Center merupakan fasilitas yang tidak hanya berfungsi sebagai pusat yang mengkomunikasikan nilai “Gunung Fuji,” simbol Jepang, sebagai warisan dunia dengan cara yang mudah dipahami, namun juga sebagai basis usaha seperti kegiatan konservasi dan penelitian investigasi dan berkontribusi terhadap promosi pariwisata. Dan akhir dari destinasi terakhir di hari ketiga ini adalah foto-foto pribadi dan grup membelakangi gunung Fuji dan Fujisan dengan hati memendam rasa kecewa, hanya satu kata yang terucap “Eman”

D. BerYUKATA-ria

Hari mulai senja saat kami perjalanan menuju ke Hotel masih di daerah pegunungan Fuji, dan rasa dingin mulai menyergap,badan semakin tidak karuan, tapi malam ini masih akan ada acara makan malam dan foto grup di Hotel, dinikmati saja. Kami hanya memasukkan koper ke kamar, dan belum sempat bebersih langsung mengambil kostum Yukata di kamar Hotel, berfoto bersama di Lobi dan langsung menuju ruang makan untuk menikmati makan malam dengan menu Jepang (lagi dan lagi), Alhamdulillah kenyang. Jika seharian tadi kami menemui banyak wisatawan mengenakan Kimono, FFI menyediakan acara Yukata untuk kami. Yukata (浴衣?, baju sesudah mandi) adalah jenis kimono yang dibuat dari bahan kain katun tipis tanpa pelapis. Dibuat dari kain yang mudah dilewati angin, yukata dipakai agar badan menjadi sejuk di sore hari atau sesudah mandi malam berendam dengan air panas. Menurut urutan tingkat formalitas, yukata adalah kimono nonformal yang dipakai pria dan wanita pada kesempatan santai di musim panas, misalnya sewaktu melihat pesta kembang api, matsuri (ennichi), atau menari pada perayaan obon. Yukata dapat dipakai siapa saja tanpa mengenal status, wanita sudah menikah atau belum menikah. Gerakan dasar yang harus dikuasai dalam nihon buyo selalu berkaitan dengan kimono. Ketika berlatih tari, penari mengenakan yukata sebagai pengganti kimono agar kimono berharga mahal tidak rusak karena keringat. Aktor kabuki mengenakan yukata ketika berdandan atau memerankan tokoh yang memakai yukata. Pegulat sumo memakai yukata sebelum dan sesudah bertanding. Musim panas berarti musim pesta kembang api dan matsuri di Jepang. Jika terlihat orang memakai yukata, berarti tidak jauh dari tempat itu ada matsuri atau pesta kembang api.

Advertisements

Amor Royalty 2017 for Japan (part 2: Osaka-Kyoto-Toyohashi)

“Once you have traveled, the voyage never ends, but is played out over and over again in the quietest chambers. The mind can never break off from the journey.” – Pat Conroy

Kamis pagi ini (23/03), kami akan meninggalkan kota Osaka menuju Kyoto dan bermalam di Toyohashi. Citytour hari kedua ini kami akan melakukan perjalanan menggunakan kereta peluru Shinkansen yang berkecepatan tinggi dari stasiun Shin-Osaka menuju stasiun Kyoto dalam waktu 15 menit saja. Ini adalah rute tercepat dan paling nyaman dari Osaka ke Kyoto.

Kyoto adalah salah satu kota terbaik di Jepang dengan ribuan tempat suci, kuil, istana dan kebun yang terkenal. Kota ini juga terkenal sebagai salah satu tempat terbaik untuk mendalami tradisi Jepang seperti drama kabuki, upacara minum teh, tarian geisha, meditasi Zen dan masakan kaiseki kelas tinggi Kyoto. Sebagai pusat budaya dan spiritual negara, tentunya tidaklah lengkap perjalanan ke Jepang, tanpa kunjungan ke Kyoto. Dan sebagian besar orang Jepang menganut lebih dari satu agama dan sepanjang tahunnya mengikuti ritual dan perayaan dalam berbagai agama. Mayoritas orang Jepang dilahirkan sebagai penganut Shinto, merayakan Shichi-Go-San, hatsumōde, dan matsuri di kuil Shinto. Ketika menikah, sebagian di antaranya menikah dalam upacara pernikahan Kristen. Penghormatan terhadap arwah leluhur dinyatakan dalam perayaan Obon, dan ketika meninggal dunia dimakamkan dengan upacara pemakaman agama Buddha. Ikut mumet mikirnya, ritual berbagai macam agama dicampur aduk gak karu-karuan. Jadi kota-kota besar Jepang dihiasi dengan banyak Kuil dan Temple, dan itulah destinasi terbanyak yang akan kami kunjungi.

A. Kiyomizu Temple

Setelah sampai di stasiun Kyoto, kami langsung meluncur ke destinasi pertama citytour hari kedua ini yaitu Kiyomizu Temple. Seperti yang banyak kita ketahui yang namanya Temple pasti tempatnya paling atas, di puncak, yang jelas butuh energi extra buat naiknya, jadi kalo tadi cuma sarapan buah bakalan pingsan ini sampai atas..hiks (ritual kalo sedang di luar negeri, sarapan pasti buah-buahan, cari yang paling aman, safety first). Alhamdulillah, FFI ini paling mengerti kebutuhan peserta, setelah menggos-menggos sampai diatas peserta langsung diajak makan siang yang terlalu dini, dikarenakan acara hari ini masih padat. Setelah makan siang selesai, kami dibebaskan untuk mengexplore Kiyomizu Temple, namun sayang Temple ini sedang direnovasi, jadi banyak tempat yang ditutupi agar tidak membahayakan pengunjung. Sebenarnya kami juga tidak tertarik, kami lebih concern dengan Tas merk Robin-Ruth yang mulai saya koleksi sejak pertama kali berkenalan di New York tepatnya di tempat wisata Patung Liberty dan saya menemukannya di tempat belanja Merchandise. Semalaman gugling kota besar mana saja di Jepang yang sudah dibuatkan merchandise oleh Robin-Ruth, ternyata selain Tokyo, ada Kyoto dan Osaka. Untuk versi Osaka sendiri terdapat di toko merchandise di sekitaran Kastil Osaka, menyesal sekali karena selain belum update yang versi Osaka (baru dilaunching awal Maret) juga faktor kelelahan, kemarin kami tidak berminat untuk berjalan terlalu jauh, seandainya tau lebih awal, mungkin ada motivasi tersendiri untuk mencari, bahkan bisa menambah fotografi..hiks (ahh.. sudahlah, tak boleh berandai-andai kata Nabi).

Kiyomizu-dera (清水寺?), officially Otowa-san Kiyomizu-dera (音羽山清水寺?) merupakan kuil Budha kuno, yang dibangun pada tahun 798 dan sudah 10 kali mengalami kerusakan atau terbakar akibat perang atau bencana alam. Di belakang kuil utama terdapat kuil Jishu-jinja yang disebut dengan Dewa Perjodohan, dan di depan kuil terdapat 2 batu yang sering disebut “Batu Buta” dan “Batu Peramal Cinta”. Konon kabarnya menurut penduduk setempat dengan menutup mata berjarak 100 m kita berjalan menuju batu buta tersebut dengan menutup mata atau memejamkan mata dan sampai tepat di depan batu buta, maka keinginan kita akan tercapai. Dan untuk menguji kesetiaan hati pada pasangan, kita dapat mencoba batu peramal cinta, caranya tetap sama dengan memejamkan mata, namun bila arah kaki kita tidak tepat menuju batu peramal cinta atau melenceng jauh maka hati kita masih memikirkan orang lain. Kiyomizu merupakan salah satu kuil terkenal di Jepang dengan struktur yang ditiru oleh kuil-kuil yang lebih kecil di seluruh negeri. Kiyomizu berada sebuah tempat yang ditinggikan di sebuah bukit yang curam dengan pemandangan menghadap kota Kyoto.

Kami berdua memilih tidak ikut masuk, termasuk beberapa peserta lain yang memilih belanja souvenir dan oleh-oleh makanan seperti kami, percuma juga masuk banyak wahana yang ditutupi. Sepanjang mata memandang di sekitaran kuil ini banyak pengunjung, entah wisatawan lokal atau luar mengenakan Kimono. Kostum yang biasa di kenakan Geisha ini dapat disewa seharian, sayangnya ribet dalam mengenakannya, bisa sampai 4 jam (betapa wegahnya). Dengan perhitungan jam yang mepet dan masih harus butuh mencari toko yang menjual Tas Robin-Ruth versi Kyoto, kami tak lagi santai berfoto ria, hanya sekedarnya saja, kami harus segera door to door. Dan waktupun berjalan begitu cepat, saat injury time itulah kami menemukan Tas Robin-Ruth, dari sekian puluhan toko di sepanjang jalan setapak menuju kuil, hanya ada satu toko yang menjual merchandise khas tersebut (kebangetan). Tas Robin-Ruth versi Kyoto sudah berhasil di koleksi sekarang, terimakasih ya Allah, Alhamdulillah. Mengapa saya sampai ngoyo seperti ini, namanya koleksi buat saya adalah sarana pengingat bahwa kami pernah berlibur ke Jepang, belum tentu ada kesempatan lagi kembali kesana, lagi pula Tas jenis ini dijual hanya di kota yang sudah di designkan oleh Robin-Ruth saja, tidak bisa di temukan di kota yang berbeda, designnya spesifik, seperti gambar Icon ternama atau ciri khas kota tersebut, untuk versi Kyoto hanya dijual di kota Kyoto, tidak dijual di Osaka maupun Tokyo. Ketika ke Hongkong, kami tidak menemukan merchandise tas ini, setelah saya browsing, ternyata Robin-Ruth belum mendesignnya untuk Hongkong. O ya untuk wilayah Asia Tenggara, Robin-Ruth hanya mendesign merchandise untuk Thailand (Bangkok-Pataya) dan Indonesia (Bali), namun sayang versi Bali tidak bertahan lama mereka stop pembuatan karena kurang laku di Bali, Alhamdulillah saya sempat mengkoleksinya juga.

B. Yasaka Shrine dan Gion District

Bis kami telah siap membawa kami ke destinasi selanjutnya yaitu Yasaka Shrine dan Gion District, menurut pak Cik, yang paling saya ingat adalah tentang rumah Oshin dimana film Oshin ini dibuat, yang merupakan film serial legendaris zaman kami balita eh kecil dulu, jadi penasaran, seperti apa itu rumah sekarang, pastinya lejen sekali (baca: tua sangat).

Kuil Yasaka (八 坂 神社, Yasaka Jinja), juga dikenal sebagai Gion Shrine, adalah salah satu kuil paling terkenal di Kyoto. Didirikan lebih dari 1350 tahun yang lalu, tempat suci tersebut terletak di antara Distrik Gion dan Distrik Higashiyama, dan sering dikunjungi oleh wisatawan yang berjalan di antara kedua distrik tersebut. Aula utama kuil ini menggabungkan honden (inner sanctuary) dan haiden (aula persembahan) menjadi satu bangunan. Di depannya berdiri sebuah panggung dansa dengan ratusan lentera yang menyala di malam hari. Setiap lentera menyandang nama bisnis lokal sebagai imbalan atas sumbangan. Kuil Yasaka terkenal dengan festival musim panasnya, Gion Matsuri, yang dirayakan setiap bulan Juli. Sebagai festival paling terkenal di seluruh negeri, Gion Matsuri sudah di adakan lebih dari seribu tahun dan melibatkan sebuah prosesi dengan arena yang luas dan ratusan peserta. Tempat suci tersebut juga menjadi ramai selama musim bunga sakura sekitar awal April, karena Taman Maruyama yang berdekatan adalah salah satu tempat ceri yang paling terkenal di Kyoto. Kami hanya berfoto-foto sebentar, melihat panggung dan bazar (ada merchandise, makanan, dll) dari luar saja, tidak tertarik masuk karena waktu hanya sebentar, selain karena juga lapar dan lelah.

C. Heian Shrine

Perjalanan kami lanjutkan lagi melewati kuil Heinan yang dibangun sebagai aula peringatan bagi Kaisar Kanmu, yang bertanggung jawab untuk mendirikan Ibukota Heian. Bertahun-tahun kemudian, kuil tersebut juga didedikasikan untuk mendiang Kaisar Komei. Kami hanya parkir sebentar untuk foto-foto satu jepret, dua jepret dari luar tanpa masuk juga, kemudian langsung kembali ke Bis untuk langsung menuju Toyohashi untuk bermalam disana.

Acara makan malam di agendakan di hotel juga, dengan menu Jepang yang mulai bikin bosan, kami makan sekedarnya saja. Sempat melirik waralaba Amerika ada disebelah Hotel membuat semakin ilfill dengan makanan Jepang, setelah memasukkan koper di kamar dan bebersih dan sholat, kami segera keluar hotel dan membeli KFC versi Jepang, dan ternyata tidak ada menu Nasi teman (hadeh, tiwas ngiler), baiklah kami membeli paket ayam dan kentang, tidak ada menu selain ayam, semoga saja halal, ampuni kami ya Allah..aamiin.

Amor Royalty 2017 for Japan (part 1: Kansai – Osaka)

“Twenty years from now you will be more disappointed by the things that you didn’t do than by the ones you did do. So throw off the bowlines. Sail away from the safe harbor. Catch the trade winds in your sails. Explore. Dream. Discover” – Mark Twain

Alhamdulillah, hari ini (21/03/2017), bertepatan dengan hari Selasa, scedul Amor Royalty traveling ke Jepang akan kami mulai hari ini. Seperti biasa kami harus berangkat ke Jakarta sebagai meeting pointnya, karena semua peserta dari seluruh Indonesia akan di kumpulkan di Jakarta, sebenarnya rencana awalnya seperti yang tertera di Itinerary, kami harus ke Jakarta, balik lagi ke Denpasar, setelah itu baru terbang ke Osaka (lhah..malah mbuletisasi kan?), entahlah ini karena faktor cost atau memang Garuda yang sedang tidak ada rute langsung hari itu. Finally, kami berangkat menuju Osaka langsung dari Jakarta.

Kami berdua berangkat pk 13.30, untuk menghindari bertemu dengan adek Mika ragil kami, karena kami tak sanggup melihat deraian air matanya, padahal masih cukup waktu seandainya kami menunggu adek Mika pulang pk 14.00, tapi yaitu tadi, lebih baik kami video call saja setelah sampai di Jakarta, namun jauh hari kami telah sampaikan jika mama papanya ini dapat reward lagi keluar negeri, hingga tadi pagi pun kami sudah berpamitan. Sampailah kami di bandara Juanda dan bertemu dengan peserta yang lain yang berasal dari Jawa Timur, antara lain bapak Budi dan Istri dari toko Remaja (kami bareng juga di Amor ke-2 Spain-Porto), sepasang suami istri dari toserba Bravo cabang Bojonegoro (kami bareng di Amor pertama US-Canada dan Amor kedua Spain-Porto, namun kali ini gantian sang kakak), kemudian ada sepasang suami istri dari Grosir Utama Malang dan yang terakhir suami istri dari toko Sarikat Gresik (amor ke-2, beliau mendapatkan reward Aussie).

Pesawat kami berangkat pk 16.00 menuju Jakarta, disana kami akan bertemu peserta dari pulau-pulau lain se Indonesia. Setiba di meeting point kami sempatkan menuju mushola untuk take a pray Maghrib dan Isya, setelah itu makan malam bersama. Saat ini kami bertemu banyak peserta dari seluruh Indonesia, ada dari Lampung, Makasar, dan yang pasti 80% peserta dari Jawa lah (peserta langganan yang setiap tahun ikutan), dan Alhamdulillah reward kali ini bertemu saudara muslim dari Kroya-Purwokerto, pemilik 3 toko dengan brand “Jadi Baru”, Bapak dan Ibu Ismed, yang ternyata Amor ke-2 beliau mendapatkan tiket Aussie. Kali ini peserta reward benar-benar meriah, mungkin totalnya sekitar 30an termasuk kru dari FFI. Kemudian acara dilanjutkan pembagian jaket (Merchandise Amor sebelumnya selalu koper kecil, kami prefer koper karena sangat diperlukan buat anak-anak saat mereka ada acara camp di sekolah), visa-paspor, uang saku juga itinerary dan sedikit pengarahan.

Tiba di Kansai – Osaka

Pesawat Garuda Indonesia take off tepat pk 00.30, Alhamdulillah kami mendarat dengan selamat, tepat pk 05.00 pagi (WIB), selisih waktu 3 jam lebih dulu di Jepang, yaitu pk 08.00 Rabu pagi ini, setelah melalui pemeriksaan imigrasi, tanpa sarapan pagi (sarapan pagi subuh di pesawat) kami langsung melaksanakan Citytour hari pertama di Jepang. Tour Leader kami dari Indonesia bernama Chandra, untuk Tour Guide kami di Jepang bernama pak Cik chinesse berkebangsaan Malaysia, sedangkan sopir kami susah namanya berkebangsaan Korea, kurang AFTA apalagi cobak..hahaha. Posisi duduk saya di bis kali ini sangat tidak menguntungkan, setiap kali keluar negeri, kami terutama saya selalu ingin duduk di depan, selain senang mendengarkan tour guide bercerita juga karena saya hobby memotret pemandangan, kalo duduk depan cuma terhalang kaca bis dan pak sopir, pandangan luas 180 derajat, lhah kalo duduk belakang, apes dah. Faktor banyak peserta yang usianya lebih tua dari kami, menyebabkan mereka yang diutamakan duduk di depan, kami ditengah dan yang masih muda banyak dibelakang. Dan pertama kali nya saya menggunakan Mirrorless Canon menggantikan SLR Nikon yang biasa menemani kami traveling. Semoga penyebab badmood ini tidak berkepanjangan..hiks

A. Osaka Castle

Dengan kondisi separuh nyawa eh energi, kami harus siap berjalan kaki yang lumayan jauh dan mendaki. Kastil ini berada di atas, setelah kami melalui berbagai wahana, tapi semua kami skip, bahkan sampai di Kastil utama pun kami tidak tertarik mendekat apalagi masuk kedalamnya, hanya berfoto dari kejauhan, karena keterbatasan waktu dan energi, sumpah malas banget kalo disuruh jalan agak jauh, selain beban tubuh yang semakin aduhai, juga karena kurang istirahat, manalah bisa tidur pulas di pesawat. Jelas ini berpengaruh pada koleksi fotografi kami, yasudah relakan saja, tidak usah memaksakan diri, enjoy ajah lagi.. hihihi (memang pandai mencari alibi).

Istana Osaka (大 坂 城 atau 大阪 城, Ōsaka-jō) adalah istana Jepang di Chūō-ku, Osaka, Jepang. Benteng tersebut merupakan salah satu landmark paling terkenal di Jepang dan memainkan peran penting dalam penyatuan Jepang selama abad keenam belas periode Azuchi-Momoyama. Menara utama Istana Osaka terletak di sebidang tanah kira-kira satu kilometer persegi. Bangunan Kastil utama terdiri dari 5 bangunan cerita di bagian luar dan 8 lantai di bagian dalam, dan dibangun di atas pondasi batu yang tinggi untuk melindungi penghuninya dari penyerang. Luas keseluruhan wilayah Kastil, sekitar 60.000 meter persegi (15 hektar), yang terdiri dari tiga belas struktur yang telah ditunjuk sebagai aset budaya penting oleh pemerintah Jepang, yaitu (1).Ote-mon Gate, (2).Sakura-mon Gate, (3).Ichiban-yagura Turret, (4).Inui-yagura Turret, (5).Rokuban-yagura Turret, (6).Sengan Turret, (7).Tamon Turet, (8).Kinmeisui Well, (9).Kinzo, (10).Storehouse (11).Enshogura, (12).Gunpowder (13).Magazine. Tiga bagian dinding benteng yang semuanya terletak di sekitar Otemon Gate.

Setelah kaki berasa patah dan perut mulai keroncongan, saatnya kami melanjutkan perjalanan menuju restoran tradisional Jepang di daerah Oldtown Osaka. Sebelum kami masuk diwajibkan untuk melepaskan alas kaki dan dititipkan ke loker yang telah disediakan beserta kuncinya, jika ke toilet telah disediakan sandal bakiak versi Jepang, sayang saya lupa mengabadikannya. Toilet yang sangat bersih, sebenarnya kalo dilihat kebiasaan Jepang ini lebih mirip kebiasaan Muslim. Setelah menu Jepang telah disuguhkan, dan setelah tercium bau amis Seafood yang segar, mendadak Hubby mulas, beliau ini memang anti bau amis, doyan seafood asal tidak langsung di sajikan tanpa digoreng, berlawanan dengan saya yang hobby bereksperiment dengan makanan, jadi lebih mudah beradaptasi. Baiklah mari bertukar lauk ya papa, dikau yang menu lauk tepung-tepungan (tempura) dan saya yang bagian amis-amisan..hahaha.

B. Osaka Oldtown of Shinsekai dan Tsutenkaku Tower

Bis kami berhenti di pinggir jalan, tidak untuk parkir, drop off saja, dan kami harus menyeberang jalan menuju semacam perkampungan, jangan bayangin kampung yang kumuh ya, ini lebih mirip China Town, disini juga dijual berbagai macam produk khas Jepang tapi made in tetep China kali..hihihi. Di sepanjang jalan kami melihat Finding Mechine, karena kepala mulai berat butuh doping, segeralah mncari recehan, cukup dengan 100-150 yen, satu kopi panas atau dingin sebagai obat, Alhamdulillah lega. Kopi disini banyak merk nya dan mayoritas impor bukan buatan Jepang, dan kami memilih impor dari Malaysia, walaupun tanpa sertifikat halal, paling tidak Malaysia adalah negara dengan mayoritas muslim, harapannya dia menggunakan bahan-bahan yang halal, sebisa mungkin kami ingin memilih yang paling aman, jelas selama di Jepang yang dingin ini, kopi adalah sumber kafein sebagai doping juga sebagai penghangat tubuh. Shinsekai (新世界, “New World” dalam bahasa Inggris) adalah perkampungan tua yang terletak di sebelah selatan kota Osaka, daerah “Minami”. Perkampungan ini diciptakan pada tahun 1912 dengan mencontoh New York sebagai model untuk bagian selatan dan Paris untuk bagian utara. Di lokasi ini, taman hiburan Luna Park beroperasi dari tahun 1912 sampai ditutup pada tahun 1923. Sebagai hasil dari pembangunan kembali setelah Perang Dunia II, kawasan ini telah menjadi salah satu wilayah termiskin di Jepang. Meskipun citra negatif dan reputasinya dianggap sebagai daerah paling berbahaya di Osaka, Shinsekai menawarkan sejarah dan identitasnya yang unik. Pada awal abad ke-20 daerah ini berkembang sebagai daya tarik wisata lokal yang menampilkan citra modern kota ini. Pusat dari daerah ini adalah Menara Tsutenkaku (“menara yang sampai ke surga”). Shinsekai sendiri merupakan rumah bagi sejumlah besar gerai bisnis, restoran, toko pakaian murah, bioskop, klub shogi dan mahjong, dan pachinkoparlors. Shinsekai memiliki beberapa restoran fugu (blowfish),kuliner khas di lingkungan itu adalah kushi-katsu, tapi saya memilih mencicipi Takoyaki my fav ones daripada katsu-katsuan kan dirumah sering goreng juga, penasaran saja bagaimana rasa Takoyaki asli Jepang, ternyata lebih enak versi Indonesia, ya iyalah, kan sudah disesuaikan dengan lidah Indonesia. Di kejauhan terlihat bagian atas Tsutenkaku Tower yang memperlihatkan panoramanya yang indah tapi sedikit terhalang oleh banyak wahana di Osaka. Pengen jalan lebih jauh untuk mendekati Tower, apadaya kaki sudah tidak kooperatif padahal masih ada satu lagi destinasi citytour hari ini yaitu tempat Shopping terbesar di wilayah Osaka.

C. Shinsaibashi dan Dotonbury Distric for Shopping

Bus kami segera meluncur menuju tempat perbelanjaan terbesar di Osaka, sempat tertidur sebentar di bis, tetiba saja sudah sampai tujuan. Melihat wahana belanja sebenarnya kami kurang tertarik, pada dasarnya saya doyan belanja namun karena saya merasa Indonesia sudah mencukupi sebagai surga belanja, jadi malas saja, buat apa jauh-jauh hanya untuk belanja, berlawanan dengan hubby yang memang tidak doyan belanja, beliau belanja kalo terpaksa butuh baju untuk bekal traveling atau mungkin karena sudah kesempitan. Hal ini selalu berulang setiap kali keluar negeri kami hanya belanja oleh-oleh berupa mainan anak-anak dan makanan. Shinsaibashi (心 斎 橋) adalah sebuah distrik di lingkungan Chūō-ku di Osaka, Jepang dan area perbelanjaan utama Kota Osaka. Dan pusatnya bernama Shinsaibashi-suji (心 斎 橋 筋), sebuah jalan perbelanjaan tertutup, yang berada di utara Dōtonbori dan sejajar dengan jalan Mido-suji. Terkait dengan Shinsaibashi, di bagian barat jalan Mido-suji, adalah Amerika-mura, area perbelanjaan bertema Amerika dan pusat budaya pemuda Osaka. Toko-toko besar dan butik ternama terkonsentrasi di wilayah tersebut.

Setiap kali kami mendapat reward keluar negeri selalu ada oleh-oleh mainan yang diminta anak-anak dan belum ada bahkan tidak ada di Indonesia. Jika kemarin reward Amerika mencari Jake and Neverland Pirates, reward Spanyol mencari Barbie seri terbaru, yaitu Ever After High, kali ini tantangan kami berdua adalah mencari boneka Molang, tokoh kartun terbaru Disney yang ternyata berasal dari Korea bukan Jepang (note!), yang merupakan pesanan kak Reva dan adek Mika. Sumpah malasnya melihat begitu banyak orang lalu lalang dan toko-toko yang menawarkan berbagai merchandise, baju, tas, sepatu branded yang juga sangat terkenal dan banyak kami jumpai di mall-mall Indonesia. Ehm, tapi kalo liat mas-mas Harajuku bikin seger mata juga sih, ternyata orang Jepang jauh lebih ganteng dari China ataupun Korea, lebih orisinil bukan hasil oplas..hihihi (sttt…)

Kami berputar-putar hanya disekitaran meeting point saja selain karena sangat lelah juga takut tersesat. Alhasil kami tidak mendapatkan apa-apa, sejauh mata memandang tidak kami temukan counter disney di sekitaran, harapan kami tinggal Premium Outlet Gotemba, yang akan kami kunjungi di hari ketiga. Saatnya kami kembali ke hotel, dan sebelumnya kami makan malam dulu yang sudah diacarakan di hotel saja, mungkin dengan pertimbangan agar kami segera beristirahat. Mungkin juga karena jam kerja pak Sopir bis, maximal 12jam, mulai pk 08.00 hingga pk 20.00 tetot, tidak ada toleransi sedikitpun, meskipun di bayar mahal untuk lembur dia tidak mau, lebih memilih mematuhi aturan dan beristirahat, jiaannn pokoknya.

Lomba Panahan mewakili Sekolah

You must not only aim right, but draw the bow with all your might.” ~Henry David Thoreau

Hari Senin sepulang sekolah kak Reva mengabarkan bahwa dia ditunjuk untuk mewakili sekolah dalam mengikuti lomba Panahan ditingkat Kabupaten Sidoarjo, Wah..Alhamdulillah. Sebenarnya Reva sendiri belum pernah sempat mengikuti turnamen kelas apapun, tapi kali ini dipaksa untuk bertanding di kelas 20m, 30m dan 40m..Wew, yach karena kesibukan orangtua yang sangat tinggi ini, sulit bagi kami mengatur jadwal, belum lagi kak Belva yang hampir tiap minggu ada saja lomba yang ia ikuti, sebagai modal memperbesar kans diterima jalur undangan PTN nanti. “Bagaimana Ma?,” tanya kak Reva, “Ya gakpapa kak, ikut saja, tidak perlu pasang target karena masih pemula, buat cari pengalaman saja kak, ” jawab saya. Kami berencana mulai intens untuk latian dengan mengajukan les tambahan ke mas Rizal, pelatih privat anak-anak, yang sejak puasa vakum sementara karena kami sedang sibuk mempersiapkan usaha baru. Mas Rizal sejak kemarin ambigu untuk mengiyakan, ternyata ada permasalahan dengan lomba yang diadakan, ijin penyelenggara yang katanya resmi dari pihak Dispora Kabupaten Sidoarjo belum diterima oleh PengCab Sidoarjo (..lhoalah), otomatis mas Rizal juga dilarang untuk memberikan latian intensif. Si Papa pun agak was-was karena menurut mas Rizal ada pendataan peserta yang ikut, kalo Reva pribadi sudah terdaftar resmi anggota Perpani dengan memiliki sertifikat kepemilikan alat Panahan, tapi yang kami takutkan kalo Reva akan terkena sanksi karena mengikuti Lomba “illegal” (hadeuh, mumet). Padahal saat ini kak Reva begitu semangat menerima tantangan ini, dia sangat ingin berprestasi mengharumkan nama Sekolah seperti yang sering kak Belva lakukan.

Panahan merupakan cabang olahraga yang ekslusif selain mahal juga karena termasuk senjata tajam maka kepemilikan harus di awasi, tapi sekarang di tengah masyarakat muslim sedang digalakkan olahraga Panahan sebagai salah satu sunah. Perpani sempat ribut karena sekolah-sekolah Islam banyak menyelenggarakan eskul Panahan padahal Pelatih belum bersertifikasi Perpani, malah belum menjadi anggota, kebanyakan mereka adalah anggota dari organisasi Islam. Dan biasanya alat panah yang digunakan adalah Traditional Bow dengan anak panah yang tidak terlalu tajam, bukan Standart Bow yang digunakan oleh Atlet Panahan. Tehnik memanah juga berbeda, jika Standart Bow menggunakan “keker” untuk membidik dan anak panah diletakkan dibawah dagu, untuk Tradisional Bow anak panah sejajar dengan Mata kita, itu perbedaan yang paling terlihat antar keduanya.

Ya sudahlah, kami hanya bisa menunggu kabar baik dari pihak Sekolah dan Perpani Jawa Timur (mas Rizal) tentang bagaimana kelanjutannya. Semoga kedepan polemik olahraga Panahan ini tidak berlarut-larut, dan Panahan juga bukan lagi olahraga ekslusif tapi dapat dinikmati semua kalangan agar benih-benih atlet semakin banyak bukan itu-itu saja, dan yang pasti ini olahraga “Sunah” yang menyenangkan.

Peta Sukses dan Sidik Jari kak Reva

“A good plan is like a road map: it shows the final destination and usually the bestway to get there.”

Hari Sabtu 23/09/17, saatnya menghadiri undangan SLC (student led conference), dimana kak Reva akan mempresentasikan “Peta Sukses”nya di depan kami, orangtuanya. Seperti tahun-tahun sebelumnya agenda SLC ini di adakan setiap tahun sekali di semester awal sekolah, setelah tema “Ourselves” berakhir. Jika jenjang 1-5 mempresentasikan hasil belajar mereka selama tema pertama berjalan maka untuk jenjang 6 lebih kepada rencana atau peta sukses yang ingin di raih di masa mendatang. Kali ini kak Reva mendapat giliran tampil pukul 09.15, Alhamdulillah tepat waktu sesuai dengan jadwal, setiap siswa diberikan kesempatan hanya sekitar 15 menit, termasuk juga dengan evaluasinya. SLC dibuka dengan tilawah Al-Quran yang sudah ditentukan suratnya oleh ustadzah wali kelas, yaitu ustadzah Nina. Selanjutkan kak Reva mempresentasikan peta suksesnya dengan lancar. Setelah itu kami bertiga, kak Reva, saya dan ustadzah mulai mengupas satu persatu, mulai dari target sekolah, kebetulan memang saya dan kak Reva, dan tentu saja termasuk papanya sepakat untuk kembali ke yayasan Raudlatul Jannah untuk jenjang SMPnya, meski dijamin 100% diterima bukan berarti bermalas-malasan, kak Reva sudah menuliskan target nilai yang harus dicapai di kelas 6 ini. Termasuk juga usaha spiritual dalam mencapai target tersebut, kak Reva menuliskan untuk (1).puasa senin-kamis, (2).tahajud setiap malam, (3).berdzikir dan (4).mengaji paling sedikit satu ‘ain, dari ke4 usaha tersebut, so far so good, meski belum istiqomah puasa senin-kamis, namun untuk ibadah yang lain sudah menjadi kebiasaan. Dan target paling akhir yaitu Cita-Cita, kak Reva sudah lebih legawa menerima saran dari sang Mama, yaitu menjadi Pengusaha “Toko”..aamiin. Selanjutnya ustadzah menunjukan raport hasil belajar selama tema Ourselves mendapat nilai “A” secara keseluruhan dan telah melampaui target nilai yang di tetapkan kak Reva, Alhamdulillah. Ustadzah banyak memuji kak Reva yang mandiri dan sangat bertanggungjawab atas semua tugas yang diberikan, sama sekali tidak ada catatan buat kak Reva. Kemudian saya memberanikan diri bertanya soal ranking di kelas, dan seperti biasa sejak sekolah menerapkan kurikulum 13 maka sistem ranking ditiadakan, hanya ustadzah menjamin bahwa kak Reva berada di jajaran atas, Alhamdulillah.

Setelah melihat hasil dan memperhatikan “Peta Sukses” yang telah digambar oleh kak Reva, maka saatnya sang Mama yang menggambar jalan dalam mewujudkan Cita-citanya. Sekitar satu bulan yang lalu pemeriksaan “Sidik Jari” kak Reva sudah selesai dan hasilnya memang sedikit mengejutkan, hasilnya sangat berbeda dengan kedua saudaranya (adek Mika juga sudah ikutan). Jika Belva dan Mika banyak kemiripan hasil, baik itu dominan otak kanan, gaya belajar yang visual, multiple intelegentnya inter dan intra, hingga fakultas yang disarankan seperti kedokteran dan psikologi, maka Reva ini lebih dominan ke otak kiri, gaya belajar yang auditory, multiple intelegent paling tinggi ada di logis matematis hingga fakultas yang disarankan adalah Tehnik. Dan yang paling membuat shock ketiganya tidak ada saran ke fakultas Ekonomi, harusnya bisa sih, kan Reva ini kuat di logis matematis berarti juga bisa ke Ekonomi, namun tak mengapa, bisa saja melalui jalur Tehnik, setelah saya banyak membaca juga ada info dari keponakan yang akan kuliah, fakultas Tehnik Industri sekarang dipecah-pecah dan pecahan salah satunya adalah Tehnik Management Bisnis, yang ternyata mirip dengan fakultas Ekonomi, termasuk didalamnya mempelajari Makro dan Mikro Ekonomi, toh sekarang Tehnologi lebih memegang peranan penting dalam perkembangan bisnis perekonomian sedangkan belajar Ekonomi Marketing bisa kami ajarkan secara otodidak. Kami sebagai orangtua hanya berusaha memberikan yang terbaik untuk anak-anak kami di masa mendatang. Fingers Print adalah salah satu instrumen atau alat pengukur sebagai salah satu bentuk ikhtiar, hasil akhir tetap kami serahkan kepada Allah semata. Setelah SMP yang masih di Raudlatul Jannah selanjutnya SMA akan berburu kelas IPA di Public School saja demi mendapatkan jalur Undangan ( jika sistem masih seperti sekarang), kemudian lanjut kuliah di ITS, sembari terus mengkader kak Reva secara langsung di Toko. Insyaallah ya Nak, semoga apa yang Mama-Papa dan kak Reva ikhtiarkan akan mendapat Ijabah dan keRidhoan dari Allah Azza Wa Jalla agar suatu saat nanti kamu dapat mengambil peran Khalifahmu dengan baik..aamiin

Melbourne, GoldCoast and Sidney

The biggest adventure you can take is to live the life of your dreams.” – Oprah Winfrey

Alhamdulillah pagi ini Minggu (10/09) kami berdua telah siap untuk menikmati Reward kedua dari Fitti berupa vacation ke Aussie. Berangkat menuju Juanda dengan pak Tik, sopir yang kami mintai tolong untuk anjem kak Belva sekolah jika kami keluar kota atau keluar negeri. Setelah semalam memastikan semua keperluan telah selesai di packing, ternyata sampai di Juanda ada 3 item yang tertinggal, botol minum, bantal dan yang paling fatal adalah Payung (huaaa..). Fitti mendaftarkan kami berdua melalui Bayu Buana Travel Service dengan posisi di Jakarta, jadi rute yang harus kami lalui adalah terbang dari Surabaya menuju Jakarta kemudian Transit melalui Denpasar, setelah itu baru terbang ke Melbourne. Menurut scedule kami akan berangkat ke Cengkareng pk 08.40 untuk berkumpul dengan peserta yang lain pk 14.00 (terlalu pagi, karena takutnya sewaktu-waktu terganggu delay), setelah cek dan ricek paspor, boarding pass kami terbang menuju Ngurah Rai pk 17.00 (wib) dan tiba pk 19.30 (wita). Kami melanjutkan lagi untuk cek paspor dan boarding pass transit internasional dan pk 11.00 kami terjadwal menuju Melbourne. Selama di 3 airport kami berusaha mencari tenant payung, menemukan 1 tenant di Cengkareng, mahalnya amit-amit, akhirnya tak terbeli deh. Akhirnya pasrah, kalopun hujan masih ada jaket anti air.

Untuk itinerary kami selama vacay di Aussie, Melbourne yang hanya sehari akan visit di Parliament House, St Patricks Catedral, Shrine of Remembrance, dan berakhir di Brighton Bathing Boxes, dan menginap di Ibis Style Victoria. Hari kedua dan ketiga kami terbang ke negara bagian Queensland, tepatnya di Gold Coast untuk mengamati secara langsung peternakan yaitu Country Paradise dan hari kedua untuk menikmati Movie World. Hari ketiga dan keempat terbang ke Sydney untuk berkeliling di daerah Sydney Harbour di atas kapan Cruise dan hari terakhir acara kami bebas seharian, terserah mau kemana saja, ada option dengan biaya tambahan yaitu ke Blue Mountains, Madame Tussaud atau Sealife Aquarium sambil belanja sepuasnya di kawasan China Town. Entahlah kami akan kemana, inginnya sih ke Blue Mountains tapi harus ada temannya, supaya bis bisa sewa sendiri minimal 15orang peserta. Hmm..kita lihat saja nanti, sudah tidak sabar untuk segera mendarat di Aussie. Semoga Allah senantiasa memberikan kesehatan, kemudahan, kelancaran dan keselamatan dalam perjalanan kami menikmati reward Aussie ini..aamiin

سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ . وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ

Visa Aussie and Mirrorless Sony as Early Birthday Gift for me

“Live the Life of Your Dreams. When you start living the life of your dreams, there will always be obstacles, doubters, mistakes and setbacks along the way. But with hard work, perseverance and self-belief there is no limit to what you can achieve”

.

Reward yang kedua dari Fitti buat kami adalah vacation ke Aussie, setelah tahun lalu reward berwisata ke Hongkong, dan kali ini pun kami hanya berdua menggunakan sistem SIC, bergabung dengan peserta tour grup lain dari Jakarta. Insyallah kami berangkat tanggal 10/09, dan seharusnya scedul Ulangan Akhir Tema anak-anak telah selesai berdasarkan kalender pendidikan sekolah mereka, berhubung ada Lebaran Qurban, seperti sudah menjadi tradisi sekolah Islam libur di hari Tasyrik (mulai kamis (31/08) s/d senin (04/09)), otomatis UAT mundur dan baru dimulai tanggal 11/09, bersamaan dengan keberangkatan kami ke Aussie. Untungnya seminggu kedepan ini diisi dengan review seluruh bab dalam satu tema, dan saya pun masih sempat mengajari sebelum UAT, sehingga saat UAT, anak-anak tidak terlalu ngoyo belajarnya, semoga lancar dan nilai kalian bisa diatas KKM ya nak, maafkan mama tidak bisa mendampingi saat UAT.

Hari ini kami sekeluarga menunaikan sunnah Arofah, termasuk adek Mika juga, Alhamdulillah lancar hingga Maghrib. Acara seharian tadi selain ngopeni toko seperti biasa, siang harinya selepas dhuhur, lanjut agenda bertemu konsultan pajak kami yang sedang mengurus keperluan pendirian dua CV, yang ternyata harus revisi karena ada kekurangan salah satu jenis usaha. Sepanjang perjalanan menuju rumah Konsultan, pihak Fitti mengabarkan bahwa Visa Aussie telah aman dan siap berangkat sesuai jadwal yaitu tanggal 10 September 2017, beserta itinerary dan persiapan ke Aussie telah dikirim melalui Email juga. Alhamdulillah berkah Arofah yang pertama untuk hari ini, sebenarnya kami juga harap-harap cemas dengan Visa ini, lama sekali tidak ada kabar, padahal tersisa 10hari kami akan berangkat. Kami juga bingung paspor asli milik kami tidak diminta seperti biasanya kami keluar negeri, ada apa dengan Aussie???, hubby said,”coba ma, browsing visa aussie, pake di stempel atau tidak di paspor?”. Lanjut saya browsing, lhah ternyata memang cuma menggunakan selembar kertas pemberitahuan saja, saat membaca artikel yang ditulis salah seorang travel blogger sampai bikin tertawa terpingkal-pingkal, dia menulis seperti ini “Apalagi visa Australia ini sayangnya hanya berupa dokumen soft copy yang mana kita tidak akan mendapat stiker visa yang menempel di lembar paspor kita. Sedih. Jadi tidak bisa pamer stiker visa Australia ya 😂”.

Setelah selesai urusan dengan pak Konsultan, hubby said, “habis ini kita kemana ma, kalo puasa gini otak jangan dibuat berat mikir kerjaan, mending jalan-jalan saja sambil ngabuburit.” Baiklah, sambil saya lanjutkan browsing menyicil keperluan ke Aussie, saya lalu teringat klaim kamera saya sudah memasuki hari kesepuluh semenjak klaim tersebut disetujui. “Ehm, kita ke Hartono yuk pa, siapa tau voucher klaim sudah ada, sudah 10 hari kq gak nghubungi, memang maximal 14 hari seh,” ajak saya ke hubby. Kami berdua langsung meluncur ke Hartono, namun di wilayah Surabaya, tepatnya daerah Galaxy yang terdekat dari rumah pak Konsultan. Kami langsung menuju CS Adira yang ada di Hartono untuk menanyakan klaim kami. Si mbak CS terlihat bingung, dia menanyakan apakah produk yang di klaimkan beli di cabang Galaxy tersebut, kemudian saya jawab kalo produk tersebut beli di Hartono Sidoarjo. Si mbak melanjutkan penjelasannya bahwa voucher sebagai ganti klaim ada di cabang dimana saya membeli produk tersebut, dan voucher kebetulan sudah ada, sesaat setelah si mbak CS membantu menelepon cabang Sidoarjo, untuk membantu memastikan. Alhamdulillah ya Allah, sebenarnya saya hanya gambling, dan belum sampai 14 hari, jadi pihak Hartono mungkin belum mengabari lagi, ternyata voucher klaim sudah siap diambil, kami pun segera meluncur menuju cabang Sidoarjo. Tidak pake ribet, saya segera mendapat voucher ganti rugi produk senilai 6,3juta (80% dari harga beli produk mirrorless Canon). Seketika itu pula kami langsung memutuskan untuk membelanjakan lagi produk Mirrorless sebagai ganti Canon. Awalnya saya berminat untuk membeli Fuji versi kasta terendah, itu saja sudah sekitar 9jutaan, wow banget kalo Fuji ini, kemudian si mas Hartono, menyarankan Sony, karena sedang ada promo Cashback, yang awalnya seharga 9jutaan menjadi 7jutaan, selain harga yang sebanding plus cashback, tapi Sony memiliki spesifikasi lebih unggul dari Fuji. Setelah dijelaskan panjang lebar kami memutuskan memilih merk Sony, karena selain puas dengan hasil jepretannya, speifikasinya juga karena Action Camera milik hubby juga bermerk Sony, jadi untuk aplikasi Play Memories sebagai fitur pelengkap produk Sony, dapat terinstal di salah satu Hp saja.

Masyaallah, berkah Arofah yang kedua hari ini, sangat membahagiakan dan begitu banyak kenikmatan yang diberikan oleh Allah Azza Wa Jalla kepada kami, selain kepastian Visa Aussie juga voucher pengganti klaim Canon kami pun telah cair, kami hanya perlu menambah sedikit uang untuk membeli Mirrorless yang baru bermerk Sony. Mirrorless ini yang akan menjadi teman setia kami (terutama saya) selama perjalanan reward ke Aussie. Setelah Jepang di bulan Maret, Aussie hadir di bulan September, dimana saya akan berulangtahun di akhir bulan, kado terindah dari Allah Azza Wa Jalla begitu menakjubkan. Semoga Allah senantiasa memberikan kelancaran dan kemudahan serta keselamatan dalam perjalanan Reward Aussie ini dan Terimakasih atas segala rahmat dan karunia-Mu untuk kami ya Allah, Alhamdulillah.