Happy Eid Adha 1437H

“Sesungguhnya kami sudah memberikan kepadamu Nikmat yang banyak. Maka dirikanlah Shalat karena Allah dan BerQurbanlah “[al Kautsar ayat 1 – 2]”

   Alhamdulillah di tahun 2016 ini kami masih diberi kesempatan oleh Allah untuk berqurban. Dan merupakan tahun kedua kami mampu berqurban 1 ekor Sapi dan 1 ekor Kambing. Awalnya kami berdua berencana membagi-bagi qurban kambing ke beberapa tempat, terutama masjid Raudlatul Jannah di perumahan kami sekaligus yayasan dimana buah hati kami bersekolah, juga termasuk Dompet Dhuafa sebagai langganan kami dalam berzakat dan berqurban. Namun ibu menyarankan untuk sesekali berqurban di Masjid belakang toko kami yang sudah bertahun-tahun lamanya tidak kami berikan jatah qurban padahal Masjid ini menempel dengan Dea Wijaya. 

   Keputusan diambil bahwa qurban 1 ekor Sapi akan kami berikan ke Masjid belakang Dea, dan karena menurut panitia yang sudah tidak asing lagi dengan keluarga kami, beliau mengatakan akan memberikan sekitar 50bungkus untuk karyawan kami. Dan kamipun galau, jika harus dikembalikan lagi kepada kami walau ke karyawan, lantas apa bedanya dengan menyembelih sendiri seperti tahun lalu. Padahal tujuan kami serta keikhlasan kami adalah untuk berbagi dengan terangga. Duh, apa kira-kira cukup?, dan akhirnya kami pun menambahkan 1 ekor kambing lagi, yang seharusnya kambing ini rencananya akan kami serahkan ke masjid Raudlatul Jannah di perumahan kami, untuk bagian yayasan sekolah anak-anak, karena sekolah juga akan menyembelih sendiri sebagai pembelajaran. Terkadang ada rasa sungkan jika kami setiap tahun selalu mendapat daging qurban dari masjid perumahan walau tidak menyumbangkan hewan qurban disana. Ah, sudahlah Allah Maha Mengetahui, bahwa dimanapun kami berqurban, ikhlas karena Allah bukan hendak mencari pujian dan sebagainya. 

   Makna dari Qurban itu sendiri adalah tentang kePatuhan dan keIkhlasan, juga tentang cara membunuh keduniawian kita, berhala kita, sebagaimana nabi Ibrahim merelakan nabi Ismail karena perintah Allah. Berhala dalam arti kontemporer dapat berupa istri, anak, pangkat, kedudukan dimana dapat melalaikan kita terhadap penyembahan kepada Allah Azza Wa Jalla, satu-satunya Dzat yang wajib kita sembah. Dan Semoga Qurban kami tahun ini mendapatkan Ridho dari Allah Azza Wa Jalla..aamiin

Selamat datang Kelas Percepatan

“Sometimes what you want, isn’t what’s best for you. ALLAH is the best of planners, so trust His decision, be patient & say Alhamdulillah”





  Hari Sabtu, 25 Juni 2016 hadir pertama kali sebagai walimurid SMA Negeri 1 Taman, Sidoarjo memenuhi undangan rapat Sosialisasi Program Sekolah. Dalam rapat ini membahas tentang kurikulum, termasuk juga dana pembangunan oleh komite. Dan dalam rapat ini barusaja saya mengetahui jika ada kelas percepatan atau Akselerasi bagi jurusan study IPA, juga tentang dana pembangunan sebesar 4juta yang merupakan hasil dari total dana pembangunan dibagi jumlah walimurid siswa, saya dulu berfikir jika sekolah negeri itu gratis, ternyata hanya milik Surabaya bukan Sidoarjo, dan sebaliknya program kelas Aksel berlaku di Sidoarjo bukan Surabaya karena telah dihapuskan sejak 3tahun yang lalu. Sebelum rapat usai, hasil psikotes diumumkan, kak Belva berada diurutan ke-4 dengan skor IQ 136 (no.1,2 skor IQ 143 dan no.3,4,5 skor IQ 136). Alhamdulillah kak Belva sejauh ini masuk sebagai calon penghuni kelas Aksel. Sempat membaca di internet syarat kelas Aksel memang harus ber IQ tinggi, minimal 130, namun untuk memenuhi quota kelas hingga skor IQ 125 pun masih bisa di terima. Saat menerima kabar ini, kak Belva sedang mendaftarkan diri di sekolah kawasan tetangga, yaitu Surabaya, saya pun menyarankan untuk batal saja, karena Allah sudah memberikan kelas Aksel ini, namun kak Belva masih penasaran. Baiklah kak, terserah kamu nak, setelah melalui tes, hasilnya pun gagal bukan karena skor nilai yang kurang, namun terkena quota 1% dari luar Surabaya. Nilai akhir milik kak Belva 239, sedangkan nilai terendah SMAN 15 hanya 226, pun SMAN 16 hanya 223. Yach, sudahlah kak, Allah sudah memberikan yang terbaik, InsyaAllah. Kecewa?? Tentu tidak, kak Belva merasa ikhlas dan senang sudah masuk di sekolah negeri, walau kawasan pinggiran. Namun insyaAllah kualitas lulusan tidak kalah dengan kawasan tengah kota.


  

  Dari 32 orang yang terpilih mengikuti psikotes kedua, 1 orang mengundurkan diri, entah apa alasannya. Kemudian hasil psikotes kedua terjaring 27 orang, terdiri dari 9 siswi dan 14 siswa, terakhir dilanjutkan dengan tes wawancara. Dan dalam tes wawancara ada yang sedikit membuat kak Belva bertanya-tanya, karena tertinggal 4orang tanpa tes wawancara dan itu merupakan skor terendah di kelas aksel ini. 

  Tes wawancara di agendakan ditengah MOS yang sekarang diganti istilahnya menjadi  MPLSPDB. Sudah tidak ada lagi atribut konyol dan tugas yang tidak masuk akal, hanya tugas-tugas yang mudah seperti menulis dan membawa tanaman. Kak Belva senang sekali selama MOS ini melihat syariat Islam dibudayakan dengan baik di Smanita, seperti kemarin saat diminta berkenalan, kakak OSIS mereka menyarankan untuk berjabat tangan untuk yang sesama jenis dan menangkupkan tangan di dada untuk yang berlawanan jenis kelamin, selain itu  waktu Sholat pun selalu diutamakan tepat waktu di Masjid sekolah dengan tempat wudhu yang sudah terpisah, belum lagi istirahat pagi yang setengah jam itu cukup bagi kak Belva untuk melaksanakan Sholat Dhuha. Alhamdulillah, begitu banyak kemudahan bagi kak Belva menjalankan ibadah dan syariat yang telah ia pegang teguh sejak SD. Saat MOS ini siswa sudah diharuskan memilih ekskul sesuai minatnya, sekali lagi Alhamdulillah, Smanita memiliki ekskul PMR (tidak semua SMA memilikinya)  yang memang saya sarankan untuk kak Belva ikuti, karena masih berhubungan dengan fakultas yang ingin dia tuju nanti di jenjang Universitas, paling tidak dia sudah mengetahui dasar-dasar P3K. Dan ternyata kak Belva berminat juga mengikuti ekskul KIR (karya ilmiah remaja) yang banyak mengexplore pengetahuan dan penelitian.

  Undangan kedua sebagai undangan walimurid kelas Khusus (Akselerasi), yang membahas kurikulum kelas khusus, spp yang berbeda juga tentang komitmen. Spp berbeda karena kelas khusus diberikan fasilitas berbeda, guru terbaik, kelas terlengkap dan lain-lain yang tidak dimiliki kelas reguler, namanya kelas unggulan, semua serba unggul, ini namanya JER BASUKI MAWA BEA..hahaha, Alhamdulillah saja, yang penting kak Belva sangat senang dan antusias, merasa tertantang untuk bersaing di kelas unggulan. Sebelum rapat usai, kami selaku orangtua siswa aksel diminta menandatangani surat pernyataan akan mendukung secara total agar anak kami selesai tepat waktu dan masuk PTN dengan sukses, mengingat pengalaman kakak kelas banyak yang gagal dan kembali ke kelas reguler, tersisa separuh saja di tahun kedua, sedangkan berita baiknya lulusan pertama (kak Belva angkatan ke-3 kelas aksel) sebanyak 16orang, 14orang diterima di PTN. Dan dalam rapat tersebut, kembali 3siswa mengundurkan diri dengan alasan tidak sanggup karena mereka memiliki banyak kegiatan di luar sekolah sebagai passion mereka. Salut dengan anak-anak ini, mereka telah mengetahui apa yang mereka mau dan dapat mengukur kekuataan diri sendiri. Selaku orangtua, kami menyempatkan diri saling berkenalan, sekali lagi kemudahan akan didapatkan kak Belva saat harus belajar kelompok, karena tempat tinggal kami berdekatan, paling jauh dapat kami tempuh sekitar setengah jam, mungkin cerita akan berbeda jika kak Belva diterima di SMAN 1 Sidoarjo, dimana wilayahnya setingkat kabupaten, tempat tinggal siswa nya juga tersebar luas yang pastinya akan membutuhkan waktu dan tenaga anjem yang berlebih..hiks. 

  Ya Allah, semoga segala kemudahan buat kak Belva ini adalah jawaban atas doa-doa hamba agar kak Belva mendapatkan sekolah yang Engkau Ridhoi, karena selama ini hamba memang tidak meminta sekolah favorite ataupun branded, namun selalu Ridho dan Ridho yang hamba mohonkan padaMu. Ya Allah, semoga di Smanita, khususnya kelas Akselerasi ini kak Belva akan mendapatkan pendidikan terbaik, senantiasa terjaga ibadahnya dan tetap istiqomah dalam menjalankan SyariatMu..aamiin. 

Liburan dan Mudik Lebaran 2016

  Alhamdulillah puji syukur ke hadirat Allah Azza Wa Jalla, liburan bersamaan dengan lebaran tahun ini kami sekeluarga dapat menikmati euforia mudik. Sebelumnya seperti taun-taun lalu kami hanya berencana untuk pindah tidur di hotel di Malang, selain kakek-nenek sudah tidak ada, orangtua juga berdomisili dekat rumah, jadi silaturahim hanya kota-kota saja. Entahlah kenapa tiba-tiba muncul keinginan mudik, mengikuti bapak dan ibu saya yang memiliki ritual mudik tiap lebaran, dan memang hanya sowan ke kakak atau adik beliau saja. Ahh..apa salahnya sekali-kali ikut dan mengawal orangtua yang sudah menua, kasian kan jauh, tapi memang bapak dan ibu terbiasa mandiri, menyetir mobil sendiri kemanapun beliau pergi, jadi merasa have a fun saja. Suasana mudik kali ini berbeda dan tentu saja karena kehadiran kami sekeluarga, bapak dan ibu makin bersemangat.


  Tradisi sungkeman di rumah di lanjut sungkeman ke orangtua seperti biasa di hari pertama lebaran, tidak ada acara lain setelahnya, walau sebenarnya dilanjut sungkeman ke mertua namun karena kakak ipar sedang sakit, maka sungkeman dimundurkan setelah kami pulang dari mudik.



  Kunjungan kami yang pertama adalah ke kota Kertosono, berangkat dari rumah pk.06.00 pagi dan sampai pk 12.00, duh macetnya, biasanya hanya memakan waktu 2 jam molor hingga 6jam. Sampailah kami di rumah Bude Yah yang merupakan kakak sulung dari bapak (bapak sendiri ragil) satu-satu nya kakak bapak yang masih ada, dan tentu saja sudah sangat tua dan hanya tiduran di dipan. Setelah di jamu dengan menu Ayam khas resep bude Yah, yang super lezatos kamipun berangkat lagi menuju kota Ponorogo, dan kami memilih jalur Tulungagung untuk menghindari jalur Saradan yang diam tak bergerak, saking macetnya.



  Alhamdulillah tiba di Ponorogo kami langsung masuk hotel pk 21.00, ini juga termasuk lebay, perjalanan yang harusnya 3jam menjadi 7jam..hiks (remex.com). Keesokan hari nya kami menuju ke rumah adek ibu kebetulan ibu anak sulung, jadi memiliki adek-adek yang masih muda, bahkan sebagian sepantaran dengan kami. Acara dilanjutkan jalan-jalan ke Telaga Ngebel Ponorogo yang terkenal keindahannya. Jalan menuju kesana  lumayan berliku-liku, dan Alhamdulillah saya tidak mabok. 


  Suasana Telaga Ngebel sangat ramai, maklum Lebaran. Sehingga spot-spot foto terbaik selalu penuh, dan mobil kami kesulitan untuk parkir. Akhirnya mampirlah kami makan siang ikan bakar di depot-depot sederhana yang menjual view Telaga Ngebel, jadi sambil menyelam minum air, sambil maksi kami pun foto-foto.


  Kami segera balik ke hotel dan pindah ke hotel yang berbeda saat malam kedua di Ponorogo, saking penuhnya hotel. Setelah cukup beristirahat, malam nya kami menuju ke Alun-Alun Ponorogo sebagai pusat keramaian kota kecil. Parkir sangat susah saking ramainya, harus berputar-putar dulu, akhirnya pun kami parkir. Di dalam Alun-Alun terdapat banyak pedagang berjualan mulai makanan, pakaian, dan cinderamata, selain itu banyak permainan semacam pasar malam. Faktor kelelahan membuat kami tidak nyaman berlama-lama di dalam sana, segera kami kembali ke hotel dan beristirahat. 


  Hari ketiga kami segera meluncur ke rumah sepupu ibu dari pihak ibu yang kebetulan hari itu mengadakan acara ngunduh mantu, saudara banyak berkumpul, Alhamdulillah ramai dan akrab, hanya sebentar kami disana, karena ada acara yang wajib kami datangi juga di kota Magetan, tepatnya Parang, keluarga besar ibu dari pihak ayah berkumpul dalam acara tahunan, yaitu silaturahim dan arisan keluarga. Sejak awal menikah baru dua kali ini kami hadir dan selalu ada anggota baru dalam acara ini, ya tentu sajalah, anak kami saja bertambah terus, dan kami tidak kenal satu persatu dari keluarga yang hadir, kecuali sepupu ibu, yang kami tau pasti mereka keluarga kami..hihihi.

  Tepat adzan dhuhur acara ditutup dan kamipun berpamitan, menuju Sidoarjo melalui jalur Utara, karena ingin menghindari macet di Selatan. Alhamdulillah sampai di kota kami pk 20.30 dan kami pun langsung masuk Cito Mall untuk makan malam, karena sepanjang perjalanan jalur Utara sulit menemukan kuliner yang kami suka. 

  Pengalaman Mudik yang menyenangkan, walaupun terjebak dalam kemacetan, namun silaturahim memang membuat hormon endorphin kita meningkat, bertemu saudara dekat maupun jauh, baik yang sudah kenal maupun yang barusaja kenal sangat membahagiakan. InsyaAllah tahun depan giliran mudik ke keluarga hubby di Jawa Tengah, wah kalo yang ini bakal banyak kuliner dan wisata..hahaha.