Amor Royalty 2017 for Japan (part 6: Tokyo – Narita)

“We live in a wonderful world that is full of beauty, charm and adventure. There is no end to the adventures that we can have if only we seek them with our eyes open.” –Jawaharlal Nehru

Alhamdulillah hari ini Senin (27/03) kami akan kembali ke tanah air tercinta, rasanya tidak sabar ingin segera sampai di rumah memeluk anak-anak yang sudah hampir seminggu kami tinggal jalan-jalan. Back pain dan alergi semakin memburuk, tiba di Indonesia, sepertinya harus visit ke dokter. Setelah selesai packing semua koper, total menjadi 3, karena 2 koper telah sepakat menikah dan memiliki anak (hayah)..hahaha.

Selesai sarapan, Bis telah menjemput dan siap mengantarkan kami menuju bandara Haneda, Narita. Saat checkin peserta di luar Jakarta dibantu untuk menggunakan sistem Connecting Flight, karena lebih praktis, orangnya saja yang pindah pesawat tanpa harus mondar-mandir membawa koper, mengingat masih harus pindah bis untuk pindah terminal. Selesai checking-checking kamipun segera masuk menuju ruang boarding, ternyata masih banyak toko taxfree, dan seperti saran ibu ketua rombongan FFI, jika ingin membawa oleh-oleh Banana Tokyo, wajib beli di airport, mengingat tanggal kadaluarsa produk yang begitu pendek, hanya seminggu. Banana Tokyo sendiri semacam softcake dengan rasa pisang, bukan seperti molen atau kue pisang kartika sari made in Bandung seperti dalam bayangan saya..hahaha. Di toko merchandise tersebut lengkap sekali, selain makanan, ada juga alat tulis dan my fav one yaitu produk Robin-Ruth, segeralah saya membabi buta memborong semua oleh-oleh yang belum sempat terbeli selama vacation kemarin. Setelah puas dengan urusan belanjaan, kami segera masuk ruang boarding untuk menunggu sang Garuda membawa kami pulang ke rumah. Tepat pukul 11.45, kami take off dan menuju Jakarta, lanjut ke Surabaya dengan sistem Connecting Flight.

Tiba di Jakarta, waktu sudah senja, kami akan melanjutkan perjalanan menuju Surabaya, dan kami masih harus menunggu pesawat pk 20.00, rasanya badan semakin remuk redam, sangat lelah namun senang karena akan segera bertemu anak-anak. Sampai kami di bandara Juanda, dan masih harus menunggu koper dan jemputan. Meninggalkan bandara sudah pk 22.00, kami kelaparan dan mampirlah ke PKL Seafood favorite kami, Pangestu. Lahap sekali kami makan, karena selama di Jepang tentu tidak ada menu penyetan, Alhamdulillah kenyang. Tiba di rumah tengah malam, masih harus menunggu pagi untuk bertemu dan memeluk anak-anak kami.

Ya Allah terimakasih atas rahmat dan karunia-Mu, lagi dan lagi kami menerima Reward untuk menikmati Bumi Ciptaan-Mu. Semoga semua ini wujud dari KeRidhoanMu untuk semua usaha yang kami upayakan dan impian yang kami perjuangkan..aamiin

“Doa dan Harapan akan selalu membuat kami yakin untuk menjalani hidup dengan memiliki tujuan, Allah akan selalu mengabulkan doa-doa hambaNya yang mau bersungguh-sungguh baik ikhtiarnya maupun tawakalnya..InsyaAllah”

Tulisan ini saya dedikasikan untuk Diri Sendiri tepat di ulangtahun ke 42 tahun, Keluarga dan Dea Wijaya Toserba, sebagai motivasi diri sendiri, motivasi untuk anak-anak kami sebagai pemegang tongkat estafet perusahaan, juga sebagai pengingat bahwa kami pernah meraih prestasi berupa Reward Japan ini setelah USA-Canada, Portugal-Spain dan Hongkong dalam kehidupan kami.

Advertisements

Amor Royalty 2017 for Japan (part 5: Tokyo)

“It takes a lot of courage to release the familiar and seemingly secure, to embrace the new. But there is no real security in what is no longer meaningful. There is more security in the adventurous and exciting, for in movement there is life, and in change there is power.” -Alan Cohen

Pagi ini Minggu (26/03) terbangun dengan kondisi Back pain yang semakin parah, bahkan untuk Ruku, saya sudah tidak mampu melakukannya dengan sempurna, rasanya tidak ingin bangun dari tempat tidur, sumpah sakit sekali, belum lagi alergi yang semakin menjadi, juga mata yang tidak mau lagi mengenakan softlense karena udara yang terlalu dingin, membuat mata cepat kering, akhirnya terpaksa mengenakan kacamata, padahal saya sangat malas, klop sudah penderitaan saya..hiks. Destinasi pagi ini akan menuju Kawagoe City, lanjut Shinuku Gyoen, dan terakhir belanja di kawasan Shibuya Crossing. Selesai sarapan kami menunggu di lobi karena hari ini hujan cukup lebat, cobaan hari ini akan semakin berat, suhu di luar sudah menunjukkan 5 derajat celsius, dan menurut perkiraan cuaca hari ini akan hujan seharian, benar-benar hari Anti Klimaks, beri kami kesabaran ya Allah.

A. Kawagoe – Little Edo

Destinasi pertama kami adalah mengunjungi rumah Samurai sebelum menuju Kawagoe City. Entahlah apa nama rumah Samurai ini dan dimana letak pastinya, yang saya ingat adalah di sekitar rumah Samurai ini juga ada wisata semacam bazar makanan dan merchandise tapi mungkin kami terlalu pagi, tak ada satupun stand yang buka. Kami memasuki rumah dengan melepas alas kaki, dan kami dilarang keras untuk mengabadikan apa saja yang ada di dalam rumah, saya lupa alasannya, karena rasa sakit ini, saya kurang fokus. Kami hanya diperkenankan memotret halaman luar dan dalam rumah ini.

Setelah selesai mengexplore rumah Samurai kami melanjutkan perjalanan menuju Kawagoe Shi. Sepanjang jalan yang kami lewati menyajikan rumah-rumah tradisional Edo dengan aneka toko souvenir dan panganan manis merupakan sajian utama dari Kota Kawagoe. Kawagoe tradisional mampu bertahan dari gerusan zaman dan menyandang ‘Little Edo’. Berkat Kawagoe, kehidupan abad 17 masih dapat dinikmati hingga kini. Kota klasik yang seolah-olah ingin membuktikan bahwa kehidupan samurai tak akan pernah berakhir. Dibandingkan dengan destinasi wisata Jepang lainnya, Kawagoe merupakan satu-satunya destinasi dengan cita rasa paling Jepang. Kota ini tak sengaja dibangun sebagai lokasi wisata, namun kota yang dipertahankan keberadaanya sejak zaman Edo ( 1603-1867). Dari sinilah Little Edo berasal, meski hanya sedikit sejarah yang tersisa, pengunjung dapat merefleksi kejayaan masa samurai.
Bis Kami tiba di kawasan Kawagoe dan parkir sejenak sambil menunggu kami untuk berjalan-jalan lebih dekat dengan yang disebut Kawagoe (川 越) . Jalan utamanya dilapisi dengan gedung Kurazukuri (bangunan bergaya gudang tanah liat), mempertahankan suasana yang mengingatkan pada sebuah kota tua dari Periode Edo (1603-1867) dan memungkinkan kita untuk membayangkan jalan-jalan dari abad-abad yang lalu. Salah satu kuil terpenting di daerah Greater Tokyo, yaitu Kuil Kitain. Ini adalah struktur rumah satu-satunya yang tersisa dari Istana Edo sebelumnya. Dan kami tidak mampir untuk melihat kuil tersebut. Sejak bis berhenti di parkiran, hujan masih setia menemani kami, dan kami memutuskan untuk berjalan sebentar saja, karena back pain ini semakin terasa sakitnya diperparah suhu 5 derajat celcius yang membekukan seluruh tulang. Kami berdua memilih untuk duduk saja di dalam bis, tak banyak obyek yang kami abadikan, sementara peserta lain jalan-jalan menikmati kota Little Edo. Setelah semua peserta kembali ke bis, segera kami menuju destinasi kedua yaitu taman Shinjuku untuk melihat taman Bunga Sakura yang sangat termasyur itu.

B. Taman Shinjuku

Hujan gerimis mengikuti kami hingga ke Shinjuku, turun dari bis dan antri depan pintu masuk sambil menggigil dengan membawa payung, benar-benar hari antiklimaks..hiks. Setelah mengantri tiket kami segera masuk ke dalam dan ternyata sudah cukup ramai pengunjung walau hari sangat tidak bersahabat, ya tentu saja kami tidak bisa memilih hari dimana hujan tidak sedang mengguyur bumi, kami hanya mengikuti itinerary. Ya Allah betapa diri ini telah kufur nikmat, hampir setengah hari ini hanya menggerutu saja gegara hujan, padahal hujanMu membawa rahmat, bunga Sakura di taman Shinjuku pasti sangat senang menyambut hujan, Astaghfirullah. Pak Cik memberikan waktu satu jam untuk mengexplore taman ini dan berfoto dengan bunga Sakura yang berwarna-warni ini.

Shinjuku Gyoen adalah rumah bagi sejumlah besar pohon Sakura dari lebih selusin varietas berbeda. Dari akhir Maret sampai awal April, lebih dari 400 pohon dari Inggris mengubah taman rumput menjadi salah satu tempat paling populer dan menyenangkan di Tokyo. Selain itu, taman ini memiliki banyak pohon Sakura yang mekar di pertengahan Maret sampai akhir April. Shinjuku Gyoen juga sering dikunjungi pada saat musim gugur saat daunnya telah berubah warna. Meski banyak pohon Sakura, setiap pohonnya selalu saja banyak pengunjung yang antri untuk berfoto ria, apalagi pohon dengan bunga Sakura yang lebat, pasti paling laris di buat pose. Hasil fotografi di taman ini tidak banyak sedari pagi, mulai destinasi pertama, camera tidak terpakai, lebih banyak duduk manis di dalam tas, karena takut rusak.

C. Shibuya Crossing

Perjalanan kami lanjutkan menuju Mall outdoor terbesar di Tokyo, yaitu Shibuya Crossing. Selesai makan siang, giliran kami untuk mengexplore Shibuya Crossing, dan hujan masih setia menemani kami, rasanya saya malas turun jika tidak karena pesanan anak-anak untuk mencarikan boneka Molang, kebetulan saat bis menuju meeting point kami melihat Disney Store yang lumayan besar, sebesar harapan kami untuk dapat menemukan Molang disana. Setelah sampai di meeting point, tepat di depan departement store Hodi, pak Cik memberikan pengarahan dan meminta kami untuk kembali maximal pk 18.00. Hujan masih cukup deras, berjalan merapat ke setiap toko yang kami lewati, setiap datang menggigil kami segera masuk toko untuk sekedar menghangatkan badan, kemudian lanjutkan perjalanan, hingga sampailah kami di Disney Store.

Shibuya adalah salah satu distrik paling ramai di Tokyo dan penuh sesak, penuh dengan pusat perbelanjaan, makan dan klub malam yang disajikan untuk pengunjung yang datang ke distrik setiap hari. Shibuya adalah pusat mode dan budaya kaum muda, dan jalanannya merupakan tempat kelahiran banyak tren fashion dan hiburan Jepang. Lebih dari selusin cabang department store besar dapat ditemukan di sekitar area yang melayani semua jenis pembeli. Sebagian besar department store dan fashion besar di kawasan ini termasuk Tokyu atau Seibu, dua perusahaan pesaing.

Hingga waktu berkumpul tiba kami tidak menemukan satupun pesanan anak-anak, bahkan counter Robin Ruth pun tidak nampak batang hidungnya, Alhamdulillah tas Robin Ruth versi Tokyo sempat terbeli di kawasan Ginza, tepatnya di Donki.

D. Cinderamata buat pak Cik

Petang telah tiba saatnya bis mengantarkan kami untuk menikmati makan malam, dan kali ini ada yang berbeda, malam ini restouran Bali ada lah pilihannya. Malam ini adalah malam terakhir kami di Jepang, saatnya bagi kami mengucapkan perpisahan kepada pak Cik yang selama di Jepang telah menemani kami dengan cerita hebohnya tentang Jepang juga keramahannya dalam menjamu kami. Terimakasih pak Cik, semoga cinderamata dari kami cukup dapat mengganti apa yang sudah pak Cik berikan untuk kami selama ini, semoga sehat dan sukses selalu dan dapat berjumpa kembali di masa yang akan datang..aamiin.

Amor Royalty 2017 for Japan (part 4: Mt Fuji – Tokyo)

“Adventure isn’t hanging on a rope off the side of a mountain. Adventure is an attitude that we must apply to the day to day obstacles in life.” – John Amatt

Tak terasa sudah hari Sabtu (25/03), destinasi hari ini terjadwal belanja di kawasan Nakamise Street dan lanjut menuju Tokyo Sky Tree dan terakhir masih acara shopping di Ginza. Tidak bisa membayangkan kemeriahan hari ini, karena bertepatan dengan weekend, tidak hanya turis lokal tapi juga turis manca akan memenuhi destinasi yang akan kami kunjungi nanti. Sejenak berfoto-foto di sekitaran hotel Yatshugatake Royal Hot Spring yang akan kami tinggalkan pagi ini.

A. Asakusa Temple dan Nakamise Street

Setelah sarapan pagi kami segera berangkat bis menurunkan kami dijalanan seperti biasa, setelah selesai acara baru jemput lagi. Tour seperti ini harus kuat berjalan dengan kecepatan tinggi, setengah berlari malah, gak bisa santai karena waktu yang di estimasikan tidak sebanding dengan banyaknya destinasi yang ingin dikunjungi, tour playon namanya..hiks. Padahal antar destinasi terkadang cukup jauh, beda kota, sampai di tempat wisata kami juga cuma dijatah 30menit -1 jam,dinikmati sajalah. Tibalah di Asakusa Temple yang berada dijalanan Nakamise, setelah briefing sebentar selanjutnya kami di beri waktu 30 menit saja untuk mengexplore lokasi, guna mengejar waktu ke Tokyo Sky Tree.

Jalan Nakamise-dori memilik panjang sekitar 250 meter dari pintu masuk Kuil Sensoji Kaminari-mon sampai pintu masuk Hozo-mon. Ini adalah salah satu pusat perbelanjaan tertua di Jepang dan telah menjadi jalan utama yang ramai sejak jaman Edo. Ada sekitar 90 toko yg berderet di jalan ini. Makanan ringan tradisional seperti Kaminari-okoshi (Makanan ringan kering yg terbuat dari beras) dan Ningyo-yaki (kue dengan isi kacang merah), aksesoris gaya Jepang, mainan, kipas, dan hiasan rambut adalah beberapa barang yang dapat ditemukan di sini. Jalan ini penuh barang-barang tradisional Jepang, dikombinasikan dengan lentera hias, dekorasi musiman dan batu koral bulat, menciptakan nuansa gaya Jepang. Buah tangan Jepang dan makanan ringan sangat banyak di jalan Nakamise-dori, bagaimanapun, itu bahkan cukup untuk berjalan-jalan dan mencuci mata.

Kami hanya sempat membeli Yukata dan sedikit mengambil gambar, hubby tipikal orang yang sangat patuh dengan aturan, saat tour guide dan tour leader kami mengatakan setengah ya harus setengah, bahkan belum setengah jam kami sudah kembali ke meeting point. Tidak ada waktu untuk belanja pernak-pernik yang sangat terkenal murah di daerah ini, bahkan di klaim yang paling murah di seantero Jepang. Cukup lama kami menunggu peserta lain apalagi kru FFI sendiri malah dipuasin mereka belanja, sedang kami hanya mendengar cerita kehebohan mereka berbelanja..hiks.

B. Tokyo Skye Tree

Destinasi kedua hari ini adalah Tokyo Sky Tree, berpindah dengan naik bis, dan tiba di tempat sudah full dengan pengunjung. Antrian mengular dari sejak di pintu masuk. Kalo melihat tampilan Tokyo Sky Tree ini mengingatkan kami CN Tower di Toronto, Canada yang Alhamdulillah pernah kami kunjungi di tahun 2014. Ya model towernya, juga antrian masuknya yang mengular, kapan Indonesia membuat yang seperti ini, mimpi dulu dulu ajah gih..hiks

Tokyo, ibukota Negeri Sakura, memang selalu menjadi tujuan wisatawan dari seluruh penjuru dunia. Sebelumnya, Tokyo sudah memiliki beberapa spot andalannya yang terbukti menarik minat para wisatawan, misalnya Kuil Asakusa, Senso-Ji Temple, Pasar Ikan Tsukiji, Odaiba, Pusat Belanja Akihabara, Perempatan Shibuya, Museum Nasional Tokyo, Jembatan Rainbow, Tokyo Disney Land, dan Tokyo Tower yang memiliki ketinggi 333 meter (atau sedikit lebih tinggi daripada Menara Eiffel di Prancis, dengan ketinggian 324 meter). Saat ini, Jepang sudah memiliki tower tertinggi mereka, yang baru genap berusia 3 tahun, yaitu TOKYO SKY TREE. Sama-sama berada di Tokyo, menara ini memiliki ketinggian 634 meter, lumayan jauh lebih tinggi daripada ‘kakak’-nya, yaitu Tokyo Tower. Tokyo Sky Tree hanya kalah tinggi dari Burj Khalifa, bangunan megah di Dubai yang menjulang dengan ketinggian diatas 829 meter.

Setelah cukup lama mengantri, akhirnya kami berhasil naik sampai ke atas, tour leader memberi kesempatan selama 1 jam, maximal 2jam sudah harus berkumpul dibawah dan kembali ke Bis. Kami berfoto-foto sejenak turun 1 lantai kebawah kemudian naik lift turun ke lantai bawah, sekitar 2 lantai paling bawah diisi dengan tenant Merchandise, kami sempatkan belanja beberapa souvenir khas Tokyo Sky Tree.

C. Ginza dan Shinjiku

Perjalanan kami lanjutkan menuju destinasi ketiga hari ini yaitu Shopping (lagi dan lagi) di daerah Ginza yang terkenal sebagai Premium Outlet yang terkenal di Tokyo. Tour Guide mengawali acara Ginza ini dengan pertanyaan,” Ada yang butuh Koper tambahan?, disini ada toko yang jual Koper murah sekali, cukup 5400 yen saja, kalo ada yang berminat ayo langsung ikuti saya, setelah beli Koper boleh titipkan dulu, Bapak Ibu bisa lanjutkan belanja lagi,”. Dan ternyata hampir seliruh peserta tertarik untuk membeli termasuk kami. Sebenarnya bukan untuk oleh-oleh fashion tapi makanan Jepang yang banyak jenisnya ini yang melimpah ruah, akhirnya Koper kami tidak muat..hahaha.

Bagi pecinta barang branded, Ginza merupakan kawasan yang tepat untuk didatangi ketika berkunjung ke Tokyo, Jepang. Di tempat ini, banyak merek high end yang mendirikan toko super besar. Pergilah ke jalan Chou Dori untuk menikmati kemewahan Ginza. Di jalanan ini tersebar berbagai butik barang branded mulai dari yang asli Jepang hingga merek internasional, sebut saja Chanel, Bulgari, dan Cartier. Di dekat butik-butik tersebut, berdiri juga department store Matsuya yang menjual berbagai brand internasional untuk produk fashion, makanan hingga kebutuhan rumah tangga. Department store ini sudah cukup lama ada di Ginza, dibangun pada 1925. Tidak jauh dari Matsuya, ada department store yang juga berusia cukup tua yaitu Wako. Department store tersebut berdiri sejak 1932 dan didesain oleh Jin Watanabe. Gedung pertokoan yang menjual benda-benda mewah seperti perhiasan, jam tangan ini menjadi simbol dari Ginza dengan keberadaan menara jamnya. Lokasinya pun cukup strategis di antara jalan Chuo dan Harumi Dori. Melangkahkan kaki melewati Wako, Anda akan menemukan toko Uniqlo. Luar biasanya, toko Uniqlo di Ginza ini terdiri dari 12 lantai dan memiliki luas 50 ribu m2. Ini adalah toko Uniqlo terbesar di dunia. Bagi Anda yang belum tahu, Uniqlo adalah retailer asal Jepang yang menjual berbagai busana casual untuk pria, wanita dan anak-anak. Selain Uniqlo, brand high street lainnya yang ada di Ginza adalah H&M dan Zara. Dua brand high street yang disebutkan terakhir berada cukup berdekatan. Hasrat belanja pecinta brand high end dan high street bisa semakin terpuaskan di Ginza dengan kehadiran berbagai toko yang super besar. Abercrombie & Fitch misalnya membuka flagship store-nya di sini. Perusahaan elektronik seperti Sanyo dan Apple juga membuka flagship storenya di Ginza. Brand lainnya seperti Louis Vuitton, Dior, Coach, Furla, Gucci, Tiffany & Co, Prada, Lanvin dan Hermes juga membuka tokonya cukup besar. Butik Dior dibangun cukup unik di kawasan ini. Butik tersebut didesain dengan angle 45 derajat dan dihiasi garis-garis geometris berwarna abu-abu di dinding toko. Salah satu tempat yang juga tidak boleh dilewatkan saat berbelanja di Ginza adalah gedung Shiseido. Shiseido merupakan merek kosmetik dan perawatan rambut asal Jepang dan perusahaan kecantikan terbesar keempat di dunia. Di Ginza, Anda bisa menemukan toko Shiseido terbesar. Gedung tersebut dibangun pada 2001, di atas lahan bekas kantor pusat Shiseido. Berada di pojok jalan, gedung ini tampak menonjol dengan warna khas Shiseido, merah marun, di dalamnya tidak hanya berbagai produk kosmetik, ada juga restoran dan galeri seni Shiseido.

Pilihan toko yang beragam tidak membuat kami semangat belanja justru semakin mumet, badan sudah terasa sangat lelah, dan kami memilih masuk Donki ( Don Quijote) semacam Supermarket yang menjual berbagai macam produk, seperti makanan, fashion, merchandise, mainan dll dan disini kami menemukan tas Robin Ruth versi Tokyo, Alhamdulillah, tanpa pikir panjang saya segera memborongnya, tas, topi dan dompet, sempat berfikir untuk menunda besok karena masih ada tempat belanja terbesar di Tokyo dalam destinasi kami, yaitu Shibuya, apalagi menurut Google, Robin Ruth memiliki counter besar disana. Namun daripada-daripada, apalagi harga di Donki ini sangat miring, dengan model yang sama, jika di Nakamise seharga 3500 yen (sempat diklaim tempat belanja termurah) di Donki hanya 2900 yen saja, makin semangat lagi buat memborongnya. Acara belanja dilanjut ke Toko Hanamasa, dia lebih kecil dari Donki, sekelas Giant Express lah, kami hanya memborong oleh-oleh seperti Kitkat dan Coklat pesanan teman. Belanja branded tentu saja kami tidak berminat, selain tidak terlalu paham merk, juga harganya, eman sih meski diskon, hanya mampir Uniqlo (penasaran dengan merk made in Japan), yang anehnya kami tidak bertemu counter Superdry, padahal katanya merk Jepang juga, entahlah apa munkin pemain baru?. Waktu beranjak senja kami kembali ke hotel, pak Sopir harus segera masuk kandang, kalo tidak bakal kena semprit pak Polisi..hiks.

D. HardRock Cafe Japan

Destinasi kami selama di Jepang tidak tercantum Hard Rock Cafe, padahal setiap reward vacation ke LN selalu terjadwal. Kami mencoba melobi pihak FFI untuk meminta ijin jalan malam kesana, ternyata inisiatif kami bagai gayung bersambut, kru FFI sendiri sangat berminat juga ke Hard Rock Cafe, dan mengajak peserta bersama untuk naik MRT, karena taxi sangat mahal. Acara polling di bis segera dilakukan, hampir 75% ikut jalan, kecuali peserta lanjut usia, mereka memutuskan untuk stay dihotel. Akhirnya tour leader dan tour guide kami memutuskan untuk mengawal dan mengajari kami membaca rute, membeli tiket MRT dan menunjukkan jalan menuju Hard Rock Cafe. Kami naik MRT dari daerah menuju daerah bernama Roppongi dengan 2x ganti MRT. Turun dari MRT kedua kami berjalan cukup jauh, dengan cuaca yang sangat dingin, demi yang namanya koleksi, dan sakit punggung semakin tidak mau kompromi. Setelah bertransaksi, kami pulang melalui stasiun Roppongi menuju Hotel hanya dengan 1x MRT, harga lebih hemat juga lebih cepat. Waktu sudah menunjukkan jam 10 malam, namun MRT masih cukup ramai, menurut pak Cik, orang Jepang terutama Tokyo dikenal gila kerja, mereka jarang sekali menikmati liburan, tidak seperti penduduk negara Asia yang lain, terutama Indonesia dan Malaysia, doyan jalan-jalan dan belanja..hahaha. Bener banget pak Cik. Turun dari MRT kami berjalan ke Hotel cukup jauh, sampai di hotel badan terasa semakin remuk redam, setelah bebersih dan sholat, kami segera beristirahat, semoga keadaan back pain sudah mendingan.

Amor Royalty 2017 for Japan (part 3: Toyohashi – Mt. Fuji Area)

“I have found adventure in flying, in world travel, in business, and even close at hand… Adventure is a state of mind – and spirit” – Jacqueline Cochran

Pagi ini Jumat (25/03), terbangun dengan kondisi badan yang kurang fit, setelah kekenyangan apalagi ditambah rasa lelah, harapan kami dapat tidur dengan pulas, ternyata kamar tanpa AC (padahal kalo tertutup kelamaan engap juga), mungkin pertimbangan Toyohashi termasuk daerah dingin mungkin karena dekat pegunungan Fuji, termasuk juga dipan kamar yang keras, padahal Hotel bintang 5 dan menggunakan Kamar versi Eropa, artinya dipan lebih lembut daripada versi Jepang. Yasudah, disyukuri saja, kenikmatan karunia reward dari Allah ini jauh lebih besar daripada hanya mengeluh tentang dipan yang keras, Alhamdulillah. Dan selesai sarapan kami segera berangkat menuju Oshino Hakkai Village sebagai destinasi pertama di hari ketiga kami di Jepang.

Cukup jauh perjalanan kami dari Toyohashi menuju pegunungan Fuji, mampir Pit Stop sejenak guna menunaikan hajat. Begitu masuk toilet kami langsung disuguhi pemandangan toilet kelas VVIP, lanjut masuk ke kamar mandi, Subhanallah ini orang Jepang buat toilet saja sedemikian canggih, mana gratis pula, bagaimana jika orang awam tidak bisa mengoperasikan, apa kira-kira tidak pesing semua..hiks

A. Oshino Hakkai Village

Setelah selesai dengan wisata toilet (hayah..) kami lanjutkan perjalanan menuju wisata di area sekitar gunung Fuji. Kali ini kami berkunjung ke Oshino Hakkai. Oshino Hakkai adalah salah satu objek wisata yang terkenal di sekitar gunung Fuji dan termasuk ke dalam Mt. Fuji World Cultural Heritage Site Asset (terdaftar Juni 2013).

Oshino Hakkai adalah delapan mata air alami yang terletak di Oshino, Yamanashi. Mata air di Oshino Hakkai adalah air bawah tanah dari gunung Fuji. Air di sini merupakan hasil mencairnya salju di puncak gunung Fuji yang kemudian merembes ke bawah tanah dan mengalir hingga Oshino. Diperlukan waktu 80 tahun supaya air ini sampai ke Oshino Hakkai. Jernih sekali karena air di sini hasil dari filterisasi oleh lava, air menjadi sangat jernih dan mengandung mineral yang tinggi. Selain itu, Oshino Hakkai dikelilingi oleh alam yang indah termasuk juga gunung Fuji, sehingga tempat ini sering dijadikan spot bagi para pecinta fotografi untuk mengambil gambar.

Setelah puas mengexplore dan mengabadikan keindahan Oshino Hakkai serta memborong semua merchandise maupun oleh-oleh makanan khas Jepang, yang disediakan oleh toko sekitaran Oshino Hakkai, kami segera menuju Gotemba Premium Outlet sebagai destinasi kedua hari ini.

B. Gotemba Premium Outlet

Sampailah kami di Gotemba saat makan siang, kami sempatkan untuk menyiapkan amunisi perut dulu sebelum hunting pesanan anak-anak, karena menurut info yang saya dapatkan, ada counter Disney di sini, tapi untuk Toy’s R Us tidak saya temukan, yach semoga saja kami berhasil mendapatkannya. Menu makan siang seperti biasa, setiap hari kami makan Jepang, pulang langsung pinter ngomong Jepang kali ya..hahaha. Sumpah bosen, pengen nasi Padang, Pecel, Rawon, Soto, kangen banget..hiks

Saat meeting point di Outlet Premium seperti ini, kami dibekali Peta Counter dan Diskon yang ditawarkan, diberi batas waktu belanja maximal. Seperti pengalaman Reward yang lalu, kami berdua di Gotemba ini juga akan fokus mencari oleh-oleh yang diminta anak-anak dan tidak pernah tertarik membeli untuk keperluan pribadi, yaitu tadi kami bukan spesies brand minded dan produk lokal sudah mencukupi kebutuhan kami soal fashion.

Outlet Gotemba adalah Mal gerai paling populer di Jepang, terletak di Kota Gotemba di daerah lereng Gunung Fuji, tidak jauh dari Hakone. Mal ini memiliki lebih dari 200 toko dengan sejumlah restoran, food court dan velg ferri setinggi 50 meter. Toko-toko yang terdapat di Outlet Premium adalah gerai merek mode fashion, olahraga, makanan, barang-barang rumah tangga dan elektronik yang terkenal secara internasional, dan berkisar barang-barang sehari-hari hingga barang mewah. Harga tidak selalu murah, tapi secara rata-rata lebih murah dari toko-toko ritel biasa di Jepang. Secara keseluruhan merupakan tempat yang bagus untuk belanja, dengan banyak variasi dan harga yang wajar. Sebagian besar toko juga menerima kartu kredit seperti Visa, Mastercard, American Express dan Diners. Loker koin juga tersedia di dua lokasi.

Pertama kali masuk langsung menemukan counter Sanrio, seperti biasa yang dituju adalah produk Obralan yang ada di box, tidak hanya lokal juga internasional, hobby nya produk harga coret..hahaha. Menemukan 1 pc sweater bergambar Snoopie seharga 100k dalam rupiah, dan jam tangan Sanrio buat si mama sendiri, seharga 400k, semua harga diskon 50%, Alhamdulillah. Lanjut menuju counter Disney, tidak jauh dari Sanrio, mengubek-uber mencari Molang tapi tak terlihat batang hidungnya (..hayah), saat menyerah kami bertanya pada kasirnya, dan ajaib mereka tidak mengenal Molang (haduh..parah). Baiklah kami segera check out dari Disney menuju Store Toys, kami mencoba mencari Molang tapi saya sendiri sudah sangat yakin tidak akan ada produk tersebut, dan kami hanya membeli Starwars dan Dinosaurus untuk menambah koleksi adek Mika. Mencoba berkunjung ke beberapa counter tapi tanpa belanja, ngeri lihat harganya, meski premium outlet, kalo produk branded tetap mahal harganya..hiks. Kami memutuskan beristirahat sambil menunggu peserta yang lain selesai belanja, sembari hubby meluangkan waktu untuk mengendalikan perusahaan dan memastikan semua berjalan dengan baik.

C. Fujisan World Heritage Center

Selesai belanja kami segera meluncur ke destinasi ketiga hari ini yaitu Fujisan World Heritage Center. Tour Leader dan Tour Guide kami sudah kasak-kusuk sepertinya kami terlambat sampai di tujuan, sudah kesorean tepatnya. Mereka berdua berlarian mencoba masuk ke Fujisan sementara kami masih menunggu di Bis. Ternyata benar Fujisan sudah tutup, menyesal sekali rasanya, selalu gara-gara belanja. Mustinya Gotemba di urutan paling buncit tapi mungkin sesuai arahnya menuju hotel berikutnya Gotemba ada ditengah, padahal di hari terakhir kami di Jepang akan ada acara belanja di kawasan belanja terbesar di Tokyo,yaitu Shibuya.

Fujisan World Heritage Center merupakan fasilitas yang tidak hanya berfungsi sebagai pusat yang mengkomunikasikan nilai “Gunung Fuji,” simbol Jepang, sebagai warisan dunia dengan cara yang mudah dipahami, namun juga sebagai basis usaha seperti kegiatan konservasi dan penelitian investigasi dan berkontribusi terhadap promosi pariwisata. Dan akhir dari destinasi terakhir di hari ketiga ini adalah foto-foto pribadi dan grup membelakangi gunung Fuji dan Fujisan dengan hati memendam rasa kecewa, hanya satu kata yang terucap “Eman”

D. BerYUKATA-ria

Hari mulai senja saat kami perjalanan menuju ke Hotel masih di daerah pegunungan Fuji, dan rasa dingin mulai menyergap,badan semakin tidak karuan, tapi malam ini masih akan ada acara makan malam dan foto grup di Hotel, dinikmati saja. Kami hanya memasukkan koper ke kamar, dan belum sempat bebersih langsung mengambil kostum Yukata di kamar Hotel, berfoto bersama di Lobi dan langsung menuju ruang makan untuk menikmati makan malam dengan menu Jepang (lagi dan lagi), Alhamdulillah kenyang. Jika seharian tadi kami menemui banyak wisatawan mengenakan Kimono, FFI menyediakan acara Yukata untuk kami. Yukata (浴衣?, baju sesudah mandi) adalah jenis kimono yang dibuat dari bahan kain katun tipis tanpa pelapis. Dibuat dari kain yang mudah dilewati angin, yukata dipakai agar badan menjadi sejuk di sore hari atau sesudah mandi malam berendam dengan air panas. Menurut urutan tingkat formalitas, yukata adalah kimono nonformal yang dipakai pria dan wanita pada kesempatan santai di musim panas, misalnya sewaktu melihat pesta kembang api, matsuri (ennichi), atau menari pada perayaan obon. Yukata dapat dipakai siapa saja tanpa mengenal status, wanita sudah menikah atau belum menikah. Gerakan dasar yang harus dikuasai dalam nihon buyo selalu berkaitan dengan kimono. Ketika berlatih tari, penari mengenakan yukata sebagai pengganti kimono agar kimono berharga mahal tidak rusak karena keringat. Aktor kabuki mengenakan yukata ketika berdandan atau memerankan tokoh yang memakai yukata. Pegulat sumo memakai yukata sebelum dan sesudah bertanding. Musim panas berarti musim pesta kembang api dan matsuri di Jepang. Jika terlihat orang memakai yukata, berarti tidak jauh dari tempat itu ada matsuri atau pesta kembang api.

Amor Royalty 2017 for Japan (part 2: Osaka-Kyoto-Toyohashi)

“Once you have traveled, the voyage never ends, but is played out over and over again in the quietest chambers. The mind can never break off from the journey.” – Pat Conroy

Kamis pagi ini (23/03), kami akan meninggalkan kota Osaka menuju Kyoto dan bermalam di Toyohashi. Citytour hari kedua ini kami akan melakukan perjalanan menggunakan kereta peluru Shinkansen yang berkecepatan tinggi dari stasiun Shin-Osaka menuju stasiun Kyoto dalam waktu 15 menit saja. Ini adalah rute tercepat dan paling nyaman dari Osaka ke Kyoto.

Kyoto adalah salah satu kota terbaik di Jepang dengan ribuan tempat suci, kuil, istana dan kebun yang terkenal. Kota ini juga terkenal sebagai salah satu tempat terbaik untuk mendalami tradisi Jepang seperti drama kabuki, upacara minum teh, tarian geisha, meditasi Zen dan masakan kaiseki kelas tinggi Kyoto. Sebagai pusat budaya dan spiritual negara, tentunya tidaklah lengkap perjalanan ke Jepang, tanpa kunjungan ke Kyoto. Dan sebagian besar orang Jepang menganut lebih dari satu agama dan sepanjang tahunnya mengikuti ritual dan perayaan dalam berbagai agama. Mayoritas orang Jepang dilahirkan sebagai penganut Shinto, merayakan Shichi-Go-San, hatsumōde, dan matsuri di kuil Shinto. Ketika menikah, sebagian di antaranya menikah dalam upacara pernikahan Kristen. Penghormatan terhadap arwah leluhur dinyatakan dalam perayaan Obon, dan ketika meninggal dunia dimakamkan dengan upacara pemakaman agama Buddha. Ikut mumet mikirnya, ritual berbagai macam agama dicampur aduk gak karu-karuan. Jadi kota-kota besar Jepang dihiasi dengan banyak Kuil dan Temple, dan itulah destinasi terbanyak yang akan kami kunjungi.

A. Kiyomizu Temple

Setelah sampai di stasiun Kyoto, kami langsung meluncur ke destinasi pertama citytour hari kedua ini yaitu Kiyomizu Temple. Seperti yang banyak kita ketahui yang namanya Temple pasti tempatnya paling atas, di puncak, yang jelas butuh energi extra buat naiknya, jadi kalo tadi cuma sarapan buah bakalan pingsan ini sampai atas..hiks (ritual kalo sedang di luar negeri, sarapan pasti buah-buahan, cari yang paling aman, safety first). Alhamdulillah, FFI ini paling mengerti kebutuhan peserta, setelah menggos-menggos sampai diatas peserta langsung diajak makan siang yang terlalu dini, dikarenakan acara hari ini masih padat. Setelah makan siang selesai, kami dibebaskan untuk mengexplore Kiyomizu Temple, namun sayang Temple ini sedang direnovasi, jadi banyak tempat yang ditutupi agar tidak membahayakan pengunjung. Sebenarnya kami juga tidak tertarik, kami lebih concern dengan Tas merk Robin-Ruth yang mulai saya koleksi sejak pertama kali berkenalan di New York tepatnya di tempat wisata Patung Liberty dan saya menemukannya di tempat belanja Merchandise. Semalaman gugling kota besar mana saja di Jepang yang sudah dibuatkan merchandise oleh Robin-Ruth, ternyata selain Tokyo, ada Kyoto dan Osaka. Untuk versi Osaka sendiri terdapat di toko merchandise di sekitaran Kastil Osaka, menyesal sekali karena selain belum update yang versi Osaka (baru dilaunching awal Maret) juga faktor kelelahan, kemarin kami tidak berminat untuk berjalan terlalu jauh, seandainya tau lebih awal, mungkin ada motivasi tersendiri untuk mencari, bahkan bisa menambah fotografi..hiks (ahh.. sudahlah, tak boleh berandai-andai kata Nabi).

Kiyomizu-dera (清水寺?), officially Otowa-san Kiyomizu-dera (音羽山清水寺?) merupakan kuil Budha kuno, yang dibangun pada tahun 798 dan sudah 10 kali mengalami kerusakan atau terbakar akibat perang atau bencana alam. Di belakang kuil utama terdapat kuil Jishu-jinja yang disebut dengan Dewa Perjodohan, dan di depan kuil terdapat 2 batu yang sering disebut “Batu Buta” dan “Batu Peramal Cinta”. Konon kabarnya menurut penduduk setempat dengan menutup mata berjarak 100 m kita berjalan menuju batu buta tersebut dengan menutup mata atau memejamkan mata dan sampai tepat di depan batu buta, maka keinginan kita akan tercapai. Dan untuk menguji kesetiaan hati pada pasangan, kita dapat mencoba batu peramal cinta, caranya tetap sama dengan memejamkan mata, namun bila arah kaki kita tidak tepat menuju batu peramal cinta atau melenceng jauh maka hati kita masih memikirkan orang lain. Kiyomizu merupakan salah satu kuil terkenal di Jepang dengan struktur yang ditiru oleh kuil-kuil yang lebih kecil di seluruh negeri. Kiyomizu berada sebuah tempat yang ditinggikan di sebuah bukit yang curam dengan pemandangan menghadap kota Kyoto.

Kami berdua memilih tidak ikut masuk, termasuk beberapa peserta lain yang memilih belanja souvenir dan oleh-oleh makanan seperti kami, percuma juga masuk banyak wahana yang ditutupi. Sepanjang mata memandang di sekitaran kuil ini banyak pengunjung, entah wisatawan lokal atau luar mengenakan Kimono. Kostum yang biasa di kenakan Geisha ini dapat disewa seharian, sayangnya ribet dalam mengenakannya, bisa sampai 4 jam (betapa wegahnya). Dengan perhitungan jam yang mepet dan masih harus butuh mencari toko yang menjual Tas Robin-Ruth versi Kyoto, kami tak lagi santai berfoto ria, hanya sekedarnya saja, kami harus segera door to door. Dan waktupun berjalan begitu cepat, saat injury time itulah kami menemukan Tas Robin-Ruth, dari sekian puluhan toko di sepanjang jalan setapak menuju kuil, hanya ada satu toko yang menjual merchandise khas tersebut (kebangetan). Tas Robin-Ruth versi Kyoto sudah berhasil di koleksi sekarang, terimakasih ya Allah, Alhamdulillah. Mengapa saya sampai ngoyo seperti ini, namanya koleksi buat saya adalah sarana pengingat bahwa kami pernah berlibur ke Jepang, belum tentu ada kesempatan lagi kembali kesana, lagi pula Tas jenis ini dijual hanya di kota yang sudah di designkan oleh Robin-Ruth saja, tidak bisa di temukan di kota yang berbeda, designnya spesifik, seperti gambar Icon ternama atau ciri khas kota tersebut, untuk versi Kyoto hanya dijual di kota Kyoto, tidak dijual di Osaka maupun Tokyo. Ketika ke Hongkong, kami tidak menemukan merchandise tas ini, setelah saya browsing, ternyata Robin-Ruth belum mendesignnya untuk Hongkong. O ya untuk wilayah Asia Tenggara, Robin-Ruth hanya mendesign merchandise untuk Thailand (Bangkok-Pataya) dan Indonesia (Bali), namun sayang versi Bali tidak bertahan lama mereka stop pembuatan karena kurang laku di Bali, Alhamdulillah saya sempat mengkoleksinya juga.

B. Yasaka Shrine dan Gion District

Bis kami telah siap membawa kami ke destinasi selanjutnya yaitu Yasaka Shrine dan Gion District, menurut pak Cik, yang paling saya ingat adalah tentang rumah Oshin dimana film Oshin ini dibuat, yang merupakan film serial legendaris zaman kami balita eh kecil dulu, jadi penasaran, seperti apa itu rumah sekarang, pastinya lejen sekali (baca: tua sangat).

Kuil Yasaka (八 坂 神社, Yasaka Jinja), juga dikenal sebagai Gion Shrine, adalah salah satu kuil paling terkenal di Kyoto. Didirikan lebih dari 1350 tahun yang lalu, tempat suci tersebut terletak di antara Distrik Gion dan Distrik Higashiyama, dan sering dikunjungi oleh wisatawan yang berjalan di antara kedua distrik tersebut. Aula utama kuil ini menggabungkan honden (inner sanctuary) dan haiden (aula persembahan) menjadi satu bangunan. Di depannya berdiri sebuah panggung dansa dengan ratusan lentera yang menyala di malam hari. Setiap lentera menyandang nama bisnis lokal sebagai imbalan atas sumbangan. Kuil Yasaka terkenal dengan festival musim panasnya, Gion Matsuri, yang dirayakan setiap bulan Juli. Sebagai festival paling terkenal di seluruh negeri, Gion Matsuri sudah di adakan lebih dari seribu tahun dan melibatkan sebuah prosesi dengan arena yang luas dan ratusan peserta. Tempat suci tersebut juga menjadi ramai selama musim bunga sakura sekitar awal April, karena Taman Maruyama yang berdekatan adalah salah satu tempat ceri yang paling terkenal di Kyoto. Kami hanya berfoto-foto sebentar, melihat panggung dan bazar (ada merchandise, makanan, dll) dari luar saja, tidak tertarik masuk karena waktu hanya sebentar, selain karena juga lapar dan lelah.

C. Heian Shrine

Perjalanan kami lanjutkan lagi melewati kuil Heinan yang dibangun sebagai aula peringatan bagi Kaisar Kanmu, yang bertanggung jawab untuk mendirikan Ibukota Heian. Bertahun-tahun kemudian, kuil tersebut juga didedikasikan untuk mendiang Kaisar Komei. Kami hanya parkir sebentar untuk foto-foto satu jepret, dua jepret dari luar tanpa masuk juga, kemudian langsung kembali ke Bis untuk langsung menuju Toyohashi untuk bermalam disana.

Acara makan malam di agendakan di hotel juga, dengan menu Jepang yang mulai bikin bosan, kami makan sekedarnya saja. Sempat melirik waralaba Amerika ada disebelah Hotel membuat semakin ilfill dengan makanan Jepang, setelah memasukkan koper di kamar dan bebersih dan sholat, kami segera keluar hotel dan membeli KFC versi Jepang, dan ternyata tidak ada menu Nasi teman (hadeh, tiwas ngiler), baiklah kami membeli paket ayam dan kentang, tidak ada menu selain ayam, semoga saja halal, ampuni kami ya Allah..aamiin.

Amor Royalty 2017 for Japan (part 1: Kansai – Osaka)

“Twenty years from now you will be more disappointed by the things that you didn’t do than by the ones you did do. So throw off the bowlines. Sail away from the safe harbor. Catch the trade winds in your sails. Explore. Dream. Discover” – Mark Twain

Alhamdulillah, hari ini (21/03/2017), bertepatan dengan hari Selasa, scedul Amor Royalty traveling ke Jepang akan kami mulai hari ini. Seperti biasa kami harus berangkat ke Jakarta sebagai meeting pointnya, karena semua peserta dari seluruh Indonesia akan di kumpulkan di Jakarta, sebenarnya rencana awalnya seperti yang tertera di Itinerary, kami harus ke Jakarta, balik lagi ke Denpasar, setelah itu baru terbang ke Osaka (lhah..malah mbuletisasi kan?), entahlah ini karena faktor cost atau memang Garuda yang sedang tidak ada rute langsung hari itu. Finally, kami berangkat menuju Osaka langsung dari Jakarta.

Kami berdua berangkat pk 13.30, untuk menghindari bertemu dengan adek Mika ragil kami, karena kami tak sanggup melihat deraian air matanya, padahal masih cukup waktu seandainya kami menunggu adek Mika pulang pk 14.00, tapi yaitu tadi, lebih baik kami video call saja setelah sampai di Jakarta, namun jauh hari kami telah sampaikan jika mama papanya ini dapat reward lagi keluar negeri, hingga tadi pagi pun kami sudah berpamitan. Sampailah kami di bandara Juanda dan bertemu dengan peserta yang lain yang berasal dari Jawa Timur, antara lain bapak Budi dan Istri dari toko Remaja (kami bareng juga di Amor ke-2 Spain-Porto), sepasang suami istri dari toserba Bravo cabang Bojonegoro (kami bareng di Amor pertama US-Canada dan Amor kedua Spain-Porto, namun kali ini gantian sang kakak), kemudian ada sepasang suami istri dari Grosir Utama Malang dan yang terakhir suami istri dari toko Sarikat Gresik (amor ke-2, beliau mendapatkan reward Aussie).

Pesawat kami berangkat pk 16.00 menuju Jakarta, disana kami akan bertemu peserta dari pulau-pulau lain se Indonesia. Setiba di meeting point kami sempatkan menuju mushola untuk take a pray Maghrib dan Isya, setelah itu makan malam bersama. Saat ini kami bertemu banyak peserta dari seluruh Indonesia, ada dari Lampung, Makasar, dan yang pasti 80% peserta dari Jawa lah (peserta langganan yang setiap tahun ikutan), dan Alhamdulillah reward kali ini bertemu saudara muslim dari Kroya-Purwokerto, pemilik 3 toko dengan brand “Jadi Baru”, Bapak dan Ibu Ismed, yang ternyata Amor ke-2 beliau mendapatkan tiket Aussie. Kali ini peserta reward benar-benar meriah, mungkin totalnya sekitar 30an termasuk kru dari FFI. Kemudian acara dilanjutkan pembagian jaket (Merchandise Amor sebelumnya selalu koper kecil, kami prefer koper karena sangat diperlukan buat anak-anak saat mereka ada acara camp di sekolah), visa-paspor, uang saku juga itinerary dan sedikit pengarahan.

Tiba di Kansai – Osaka

Pesawat Garuda Indonesia take off tepat pk 00.30, Alhamdulillah kami mendarat dengan selamat, tepat pk 05.00 pagi (WIB), selisih waktu 3 jam lebih dulu di Jepang, yaitu pk 08.00 Rabu pagi ini, setelah melalui pemeriksaan imigrasi, tanpa sarapan pagi (sarapan pagi subuh di pesawat) kami langsung melaksanakan Citytour hari pertama di Jepang. Tour Leader kami dari Indonesia bernama Chandra, untuk Tour Guide kami di Jepang bernama pak Cik chinesse berkebangsaan Malaysia, sedangkan sopir kami susah namanya berkebangsaan Korea, kurang AFTA apalagi cobak..hahaha. Posisi duduk saya di bis kali ini sangat tidak menguntungkan, setiap kali keluar negeri, kami terutama saya selalu ingin duduk di depan, selain senang mendengarkan tour guide bercerita juga karena saya hobby memotret pemandangan, kalo duduk depan cuma terhalang kaca bis dan pak sopir, pandangan luas 180 derajat, lhah kalo duduk belakang, apes dah. Faktor banyak peserta yang usianya lebih tua dari kami, menyebabkan mereka yang diutamakan duduk di depan, kami ditengah dan yang masih muda banyak dibelakang. Dan pertama kali nya saya menggunakan Mirrorless Canon menggantikan SLR Nikon yang biasa menemani kami traveling. Semoga penyebab badmood ini tidak berkepanjangan..hiks

A. Osaka Castle

Dengan kondisi separuh nyawa eh energi, kami harus siap berjalan kaki yang lumayan jauh dan mendaki. Kastil ini berada di atas, setelah kami melalui berbagai wahana, tapi semua kami skip, bahkan sampai di Kastil utama pun kami tidak tertarik mendekat apalagi masuk kedalamnya, hanya berfoto dari kejauhan, karena keterbatasan waktu dan energi, sumpah malas banget kalo disuruh jalan agak jauh, selain beban tubuh yang semakin aduhai, juga karena kurang istirahat, manalah bisa tidur pulas di pesawat. Jelas ini berpengaruh pada koleksi fotografi kami, yasudah relakan saja, tidak usah memaksakan diri, enjoy ajah lagi.. hihihi (memang pandai mencari alibi).

Istana Osaka (大 坂 城 atau 大阪 城, Ōsaka-jō) adalah istana Jepang di Chūō-ku, Osaka, Jepang. Benteng tersebut merupakan salah satu landmark paling terkenal di Jepang dan memainkan peran penting dalam penyatuan Jepang selama abad keenam belas periode Azuchi-Momoyama. Menara utama Istana Osaka terletak di sebidang tanah kira-kira satu kilometer persegi. Bangunan Kastil utama terdiri dari 5 bangunan cerita di bagian luar dan 8 lantai di bagian dalam, dan dibangun di atas pondasi batu yang tinggi untuk melindungi penghuninya dari penyerang. Luas keseluruhan wilayah Kastil, sekitar 60.000 meter persegi (15 hektar), yang terdiri dari tiga belas struktur yang telah ditunjuk sebagai aset budaya penting oleh pemerintah Jepang, yaitu (1).Ote-mon Gate, (2).Sakura-mon Gate, (3).Ichiban-yagura Turret, (4).Inui-yagura Turret, (5).Rokuban-yagura Turret, (6).Sengan Turret, (7).Tamon Turet, (8).Kinmeisui Well, (9).Kinzo, (10).Storehouse (11).Enshogura, (12).Gunpowder (13).Magazine. Tiga bagian dinding benteng yang semuanya terletak di sekitar Otemon Gate.

Setelah kaki berasa patah dan perut mulai keroncongan, saatnya kami melanjutkan perjalanan menuju restoran tradisional Jepang di daerah Oldtown Osaka. Sebelum kami masuk diwajibkan untuk melepaskan alas kaki dan dititipkan ke loker yang telah disediakan beserta kuncinya, jika ke toilet telah disediakan sandal bakiak versi Jepang, sayang saya lupa mengabadikannya. Toilet yang sangat bersih, sebenarnya kalo dilihat kebiasaan Jepang ini lebih mirip kebiasaan Muslim. Setelah menu Jepang telah disuguhkan, dan setelah tercium bau amis Seafood yang segar, mendadak Hubby mulas, beliau ini memang anti bau amis, doyan seafood asal tidak langsung di sajikan tanpa digoreng, berlawanan dengan saya yang hobby bereksperiment dengan makanan, jadi lebih mudah beradaptasi. Baiklah mari bertukar lauk ya papa, dikau yang menu lauk tepung-tepungan (tempura) dan saya yang bagian amis-amisan..hahaha.

B. Osaka Oldtown of Shinsekai dan Tsutenkaku Tower

Bis kami berhenti di pinggir jalan, tidak untuk parkir, drop off saja, dan kami harus menyeberang jalan menuju semacam perkampungan, jangan bayangin kampung yang kumuh ya, ini lebih mirip China Town, disini juga dijual berbagai macam produk khas Jepang tapi made in tetep China kali..hihihi. Di sepanjang jalan kami melihat Finding Mechine, karena kepala mulai berat butuh doping, segeralah mncari recehan, cukup dengan 100-150 yen, satu kopi panas atau dingin sebagai obat, Alhamdulillah lega. Kopi disini banyak merk nya dan mayoritas impor bukan buatan Jepang, dan kami memilih impor dari Malaysia, walaupun tanpa sertifikat halal, paling tidak Malaysia adalah negara dengan mayoritas muslim, harapannya dia menggunakan bahan-bahan yang halal, sebisa mungkin kami ingin memilih yang paling aman, jelas selama di Jepang yang dingin ini, kopi adalah sumber kafein sebagai doping juga sebagai penghangat tubuh. Shinsekai (新世界, “New World” dalam bahasa Inggris) adalah perkampungan tua yang terletak di sebelah selatan kota Osaka, daerah “Minami”. Perkampungan ini diciptakan pada tahun 1912 dengan mencontoh New York sebagai model untuk bagian selatan dan Paris untuk bagian utara. Di lokasi ini, taman hiburan Luna Park beroperasi dari tahun 1912 sampai ditutup pada tahun 1923. Sebagai hasil dari pembangunan kembali setelah Perang Dunia II, kawasan ini telah menjadi salah satu wilayah termiskin di Jepang. Meskipun citra negatif dan reputasinya dianggap sebagai daerah paling berbahaya di Osaka, Shinsekai menawarkan sejarah dan identitasnya yang unik. Pada awal abad ke-20 daerah ini berkembang sebagai daya tarik wisata lokal yang menampilkan citra modern kota ini. Pusat dari daerah ini adalah Menara Tsutenkaku (“menara yang sampai ke surga”). Shinsekai sendiri merupakan rumah bagi sejumlah besar gerai bisnis, restoran, toko pakaian murah, bioskop, klub shogi dan mahjong, dan pachinkoparlors. Shinsekai memiliki beberapa restoran fugu (blowfish),kuliner khas di lingkungan itu adalah kushi-katsu, tapi saya memilih mencicipi Takoyaki my fav ones daripada katsu-katsuan kan dirumah sering goreng juga, penasaran saja bagaimana rasa Takoyaki asli Jepang, ternyata lebih enak versi Indonesia, ya iyalah, kan sudah disesuaikan dengan lidah Indonesia. Di kejauhan terlihat bagian atas Tsutenkaku Tower yang memperlihatkan panoramanya yang indah tapi sedikit terhalang oleh banyak wahana di Osaka. Pengen jalan lebih jauh untuk mendekati Tower, apadaya kaki sudah tidak kooperatif padahal masih ada satu lagi destinasi citytour hari ini yaitu tempat Shopping terbesar di wilayah Osaka.

C. Shinsaibashi dan Dotonbury Distric for Shopping

Bus kami segera meluncur menuju tempat perbelanjaan terbesar di Osaka, sempat tertidur sebentar di bis, tetiba saja sudah sampai tujuan. Melihat wahana belanja sebenarnya kami kurang tertarik, pada dasarnya saya doyan belanja namun karena saya merasa Indonesia sudah mencukupi sebagai surga belanja, jadi malas saja, buat apa jauh-jauh hanya untuk belanja, berlawanan dengan hubby yang memang tidak doyan belanja, beliau belanja kalo terpaksa butuh baju untuk bekal traveling atau mungkin karena sudah kesempitan. Hal ini selalu berulang setiap kali keluar negeri kami hanya belanja oleh-oleh berupa mainan anak-anak dan makanan. Shinsaibashi (心 斎 橋) adalah sebuah distrik di lingkungan Chūō-ku di Osaka, Jepang dan area perbelanjaan utama Kota Osaka. Dan pusatnya bernama Shinsaibashi-suji (心 斎 橋 筋), sebuah jalan perbelanjaan tertutup, yang berada di utara Dōtonbori dan sejajar dengan jalan Mido-suji. Terkait dengan Shinsaibashi, di bagian barat jalan Mido-suji, adalah Amerika-mura, area perbelanjaan bertema Amerika dan pusat budaya pemuda Osaka. Toko-toko besar dan butik ternama terkonsentrasi di wilayah tersebut.

Setiap kali kami mendapat reward keluar negeri selalu ada oleh-oleh mainan yang diminta anak-anak dan belum ada bahkan tidak ada di Indonesia. Jika kemarin reward Amerika mencari Jake and Neverland Pirates, reward Spanyol mencari Barbie seri terbaru, yaitu Ever After High, kali ini tantangan kami berdua adalah mencari boneka Molang, tokoh kartun terbaru Disney yang ternyata berasal dari Korea bukan Jepang (note!), yang merupakan pesanan kak Reva dan adek Mika. Sumpah malasnya melihat begitu banyak orang lalu lalang dan toko-toko yang menawarkan berbagai merchandise, baju, tas, sepatu branded yang juga sangat terkenal dan banyak kami jumpai di mall-mall Indonesia. Ehm, tapi kalo liat mas-mas Harajuku bikin seger mata juga sih, ternyata orang Jepang jauh lebih ganteng dari China ataupun Korea, lebih orisinil bukan hasil oplas..hihihi (sttt…)

Kami berputar-putar hanya disekitaran meeting point saja selain karena sangat lelah juga takut tersesat. Alhasil kami tidak mendapatkan apa-apa, sejauh mata memandang tidak kami temukan counter disney di sekitaran, harapan kami tinggal Premium Outlet Gotemba, yang akan kami kunjungi di hari ketiga. Saatnya kami kembali ke hotel, dan sebelumnya kami makan malam dulu yang sudah diacarakan di hotel saja, mungkin dengan pertimbangan agar kami segera beristirahat. Mungkin juga karena jam kerja pak Sopir bis, maximal 12jam, mulai pk 08.00 hingga pk 20.00 tetot, tidak ada toleransi sedikitpun, meskipun di bayar mahal untuk lembur dia tidak mau, lebih memilih mematuhi aturan dan beristirahat, jiaannn pokoknya.

Amor Royalty 2017, goes to Japan! 

   Alhamdulillah, Amor Royalty yang sempat vakum setahun di 2016, tahun 2017 ini kembali memberikan Reward untuk toko kami Dea Wijaya berupa 2 tiket perjalanan wisata ke Jepang. Untuk kesekian kalinya, kami adalah satu-satunya retailer Pribumi dan selama 3x Amor Royalty, bersama Bravo grup, kami adalah 2 peserta yang konsisten memenangkan Reward ini, 2014 (USA-Canada), 2015 (Portugal-Spain) dan di 2017 insyaAllah Jepang. Entahlah ini firasat atau bukan, tulisan penutup saat menceritakan perjalanan reward Amor Royalty 2015, tentang harapan mendapat kesempatan berkunjung ke negara Sakura, ternyata terkabulkan, semoga ini adalah wujud keRidhoan Allah Azza Wa Jalla atas usaha, doa dan impian yang tengah kami perjuangkan. Bagaikan dejavu, sesaat memperoleh Amor Royalty 2015, di tahun 2013 juga sempat membayangkan perjalanan ke Eropa untuk melihat secara dekat jejak-jejak kejayaan Islam disana yang terilhami tulisan Hanum Rais berjudul 99 Cahaya di langit Eropa. Alhamdulillah dalam kurun waktu 2tahun, Allah telah mewujudkannya, padahal saat itu tujuan awal wisata Amor Royalty 2015 adalah Yunani dan Turki, dikarenakan faktor Krisis Moneter dan issue tentang ISIS, maka perjalanan diganti menuju Portugal dan Spanyol, meski tidak ada Cordoba dan Granada dalam itinerary perjalanan kami di Spanyol, namun kami sempat mampir ke Zaragoza dan menemukan beberapa jejak-jejak Islam disana. 

   Jika biasanya wisata Amor Royalty mengunjungi 2 negara, kali ini hanya 1 negara saja, mungkin karena keadaan perekonomian yang belum stabil, namun patut kami apresiasi, Frisian Flag sebagai perusahaan besar sangat menghargai perjuangan kami, para retailer dan distributor dalam membantu penjualan produk mereka di Indonesia. InsyaAllah wisata ke Jepang terscedul di bulan Maret sekitar tanggal 21 hingga 26, semoga tidak ada perubahan, karena pada kalender pendidikan anak-anak, mereka akan menghadapi Ulangan Akhir Tema (UTS) yang dilaksanakan tanggal 27 Maret. Persiapan fisik akan dimulai dari sekarang, dengan berolahraga secara teratur, baik itu jalan kaki maupun berenang (termasuk resolusi penurunan BB di tahun ini..hiks), selain itu persiapan dana dan tak kalah penting persiapan fotografi nya (karena belum tentu kami memiliki kesempatan lagi), namun yang paling penting dari semuanya adalah semakin rajin berdoa agar tercapai semua impian yang dihajatkan kepadaNya. Terimakasih ya Allah atas segala rahmat dan karunia yang telah Engkau berikan kepada kami, hingga setiap tahun Engkau ijinkan kami berdua menikmati keindahan ciptaanMu. 

When you have “faith in Allah”, you have “confidence”. You can doubt about your abilities, but you can always be sure of Allah!”