Bye Aussie, New Zealand will be waiting

“Chase your dreams but always know the road that will lead you home again”

Pagi ini Bis sudah standby lebih awal, dengan sabar menunggu kami untuk check out dan membawa kami ke Bandara Sydney. Ada rasa sedih akan segera meninggalkan Aussie, sekaligus bahagia, membayangkan sebentar lagi akan bertemu dengan Buah Hati, yang hampir seminggu kami tinggal traveling. Tiba di Bandara sudah ramai lalu lalang orang mengejar pesawat, kami cek dan ricek terlebih dahulu, pemeriksaan jalur Internasional jelas lebih ketat dari domestik. Tiket kami urus lebih dahulu, karena kami terbang menuju Jakarta kemudian harus kembali ke Surabaya, yang kami harus lakukan adalah meminta connecting pada petugas wanita yang Alhamdulillah sangat ramah dan baik, mau membantu kami walau sebenarnya bukan menjadi tugasnya. Tidak bisa membayangkan harus angkat-angkat koper untuk pindah pesawat, kalo tidak dikoneksikan. Semua cek ricek harus kami kerjakan secara mandiri mulai tiket, paspor dengan melalui mesin, sempat tidak PD apalagi baru pertama kali kami melihat yang seperti ini, biasanya masih dibantu petugas. Tiba giliran pemeriksaan tas, petugas memanggil dan menunjuk koper kecil Bayu Buana yang tadi saya bawa, ya Allah ada apa ya, dagdigdug rasanya, hubby langsung mengingatkan, “Ma, snowglobe? ,”. Astaghfirullah baru ingat, ada 3pc snow globe, 1pc versi Shrine of the Remembrance, 1pc Gold Coast dan 1pc Melbourne, kenapa lupa semua tidak dipindah, posisi memang sudah dibuntel dengan jaket dll. Sedikit menghamba pada petugas yang kebetulan berwajah Arab dan berjenggot, dia juga menyesal sekali tidak bisa berbuat apa-apa, peraturan harus ditegakkan, saya harus merelakan semua snow globe itu, masih bersyukur saya membeli versi Melbourne sebanyak 2pc, yang 1pc ternyata sudah saya pindah koper bagasi, kalo tidak, hilang sudah semua kenang-kenangan dari Melbourne, di hari pertama kami tiba di Aussie benar-benar kurang bisa menikmati, karena kelelahan yang parah, sehingga tidak sempat berburu buah tangan, giliran beli sebiji saja di Museum Shrine of the Remembrance malah kena sita petugas..huhuhu.

Pesawat Garuda membawa kami pulang ke Indonesia tepat waktu, cuaca sudah sangat bersahabat tidak seperti kemarin, selain itu menu makanan juga sangat enak, menu Nusantara gitu lho. Tiba di Jakarta sudah sore, sempatkan sholat kemudian makan sore, kami masih harus menunggu pesawat selepas Maghrib. Selonjoran di ruang boarding, datanglah Pesawat kami, sejam kemudian kami tiba di Surabaya. Alhamdulillah kami langsung bertemu anak-anak karena tiba belum terlalu malam. Senangnya melihat mereka sehat dan bahagia. Traveling yang menyenangkan, yang sangat mengesankan dari negara Australia ini adalah penduduknya yang ramah, walaupun saya berhijab namun mereka sama sekali tidak menatap curiga, bahkan berkali-kali bertemu penduduk lokal yang mengajak bicara dan membantu mengambil gambar kami berdua, padahal kalo ingat Bom Bali tentu mereka akan memiliki Stereotype negatif terhadap kami yang Muslim ini, nyatanya tidak, Alhamdulillah. Saatnya kembali ke kehidupan nyata, bekerja dengan giat dan kejar target berikutnya, Susu SGM sudah siap mengantarkan kami ke New Zealand dan Fitti masih memberikan reward East Coast (New York) di tahun depan, insyaallah..aamiin. Ya Allah terimakasih atas rahmat dan karunia-Mu, lagi dan lagi kami menerima Reward untuk menikmati Bumi Ciptaan-Mu. Semoga semua ini wujud dari keRidhoanMu untuk semua usaha yang kami upayakan dan impian yang kami perjuangkan..aamiin

“Doa dan Harapan akan selalu membuat kami yakin untuk menjalani hidup dengan memiliki tujuan, Allah akan selalu mengabulkan doa-doa hambaNya yang mau bersungguh-sungguh baik ikhtiarnya maupun tawakalnya..InsyaAllah”

Tulisan ini saya dedikasikan untuk Belahan Jiwa tepat di ulangtahunnya ke 43 tahun, Keluarga dan Dea Wijaya Toserba, sebagai motivasi diri sendiri, motivasi untuk anak-anak kami sebagai pemegang tongkat estafet perusahaan, juga sebagai pengingat bahwa kami pernah meraih prestasi berupa Reward Australia ini setelah USA-Canada, Portugal-Spain, Hongkong dan Japan dalam kehidupan kami.

Advertisements

Blue Mountains – Sydney (Australia – Fitti Reward 2017)

“You will never be completely at home again, because part of your heart always will be elsewhere. That is the price you pay for the richness of loving and knowing people in more than one place”

Hari ini Jumat (15/09), hari terakhir kami berada di Sydney, besok terjadwal akan pulang ke Indonesia dan hari ini adalah “Free Program”, dimana anggota tour dapat memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk belanja, memborong buah tangan. Tapi Bayu Buana juga memberikan option untuk yang ingin memanfaatkan sehari ini menambah satu destinasi, dengan pilihan Blue Mountains, Madame Tussaud atau Sea Life. Dari awal keberangkatan kami, Blue Mountains adalah tujuan utama untuk mengisi “Free Program”, selain kami tidak doyan belanja juga karena Blue Mountains keren banget, kami berdua sudah browsing semua tentang Pegunungan ini.

Anggota Tour kali ini terbelah, sebagian besar ikut Tour lanjutan ke Blue Mountains, sebagian Shopping, beberapa janjian bertemu teman, maklum banyak orang Indonesia yang menetap di Sydney. Sopir kami kali ini juga orang Indonesia turunan Chinese, dia sejak menikah sudah pindah ke Sydney dan memiliki seorang anak, kerjaan semacam punya biro travel sendiri, ada mobil elf untuk antar wisatawan baik lokal maupun manca. Kangen Indonesia, tapi juga kerasan di Sydney, walau pekerjaannya “hanya” seperti itu saja. Perjalanan menuju Blue Mountains hanya sekitar dua jam ke Katoomba (semacam dari Surabaya ke Batu-Malang).

Kami berhenti dekat Sky Way, wahana pertama yang akan kami coba, menyeberangi lembah yang satu ke lembah yang lain, setelah itu makan siang “Fish and Chips”, lanjut wahana Rail Way, diteruskan Walk Way dan terakhir kembali ke mobil tour melalui Cable Way.

Cukup rame wisatawan manca yang mengatri, tapi tidak terlalu lama kq, cukup menunggu satu kali untuk menaiki Sky Way ini, karena muatannya banyak sih. Masyaallah pemandangannya bikin mata tidak berkedip, indahnya, mungkin di Indonesia ada, penggunungan yang seperti ini mungkin daerah Kalimantan atau Sumatra, ahh saya ini keliling Indonesia saja belum pernah sok tau (malu..hihihi).

Blue Mountains yang indah ini merupakan daerah pegunungan yang terletak di New South Wales, Australia. Wilayah ini berbatasan dengan wilayah metropolitan Sydney, kaki perbukitannya mulai sekitar 50 kilometer (31 mil) barat ibukota negara bagian tersebut. Blue Mountains mendapatkan nama mereka dari kabut biru alami yang diciptakan oleh hutan eukaliptus yang luas di kawasan Warisan Dunia ini. Tetesan minyak kecil dilepaskan dari pepohonan bercampur dengan uap air dan sinar matahari untuk menghasilkan warna yang khas.

Selesai menyebrang dengan Sky Way, kami menuju Resto yang disediakan oleh Wisata ini dan mendapatkan menu Makan Siang “Fish and Chips”, menu berisi kentang goreng dengan Nugget Ikan, lumayan enak dan kenyang, Alhamdulillah. Perjalanan kami lanjutkan dengan mengantri Rail Way, suasana sangat ramai karena banyak anak sekolah lokal mungkin sedang Study Tour. Dua kali putaran kami menunggu tiba saatnya kami naik, wahana yang ini cukup bikin sport Jantung, meski berupa Kereta Api tapi relnya tidak wajar, turun terlalu curam, bahkan diklaim paling curam sedunia..hiks. Setelah sampai dibawah kami melanjutkan perjalanan dengan wahana Walk Way menjelajahi hutan hujan kuno dan mendapati beberapa pertambangan kuno yang konon tempat menambang emas dll, dan sebagian masih beroperasi normal.

Tiba kami di ujung lembah, dan untuk menuju tempat parkir mobil, kami harus kembali dan kali ini giliran wahana Cable Way, antrian sudah cukup panjang, turis semakin banyak dan tidak terlihat anak-anak tadi. Semua anggota Tour naik kecuali bapak Judas, beliau takut ketinggian, tadi sempat mual dan pusing saat naik Sky Way lanjut Rail Way, kasian beliau sudah berumur, tapi semangatnya keliling dunia boleh diacungi jempol, sudah kemana-mana beliaunya ini. Sayangnya tidak satupun foto yang saya temukan untuk moment Cable Way ini, sulit mengeluarkan kamera dan handphone saking hectic dan merinding juga liat Cable Way yang dilapis full kaca hingga alas, jadi bisa lembah curam dibawah kaki kita.

Turun dari Cable Way kami disambut oleh toko Merchandise yang terbesar di wisata Bule Mountains ini. Sempatkan memborong sejenak, topi, t-shirt, snow globe dan beberapa mainan dinosaurus buat adek. Perjalanan kami lanjutkan turun ke bawah sedikit, kemudian berhenti Echo Point Lookout di Katoomba untuk melihat Formasi Batuan Three Sisters dari sudut yang berbeda, tetap menakjubkan, Masyaallah. Selesai puas berfoto ria kami kembali ke kota Sydney, mampir belanja di area Factory Outlet yang saya lupa namanya, dan seperti biasa, tidak ada yang kami beli, sembari menunggu, kami hanya duduk sambil makan dan minum di salah satu tenan di dalamnya. Beberapa anggota tour yang tidak ikut sudah menunggu di FO ini, dan tentunya sudah sangat puas memborong belanjaan. Dan saatnya kami kembali ke Hotel.

Sebelum berangkat ke Blue Mountains pagi tadi sudah ada kesepakatan, bahwa pulangnya bisa langsung hotel atau turun di Darling Harbour untuk menikmati wisata tepi pelabuhan Sydney yang famous ini.Kami termasuk yang memilih drop off di Darling Harbour, karena pertimbangan besok pagi balik Indonesia, sedangkan Icon Sydney belum kelar kami kunjungi. Sebenarnya terasa lelah tapi eman, tahan dulu saja. Kami turun tepat di depan Hard Rock Cafe Sydney, sekalian mampir untuk menambahkan koleksi, sayang yang di cari tidak ditemukan, stick drum tidak terlalu bagus dan kami sudah punya versi Gold Coast yang sudah dibeli kemarin, jadi kami hanya membeli Mug sebagai buah tangan untuk Pak Harry dan pak Novi dari Fitti selain Topi Blue Mountains tadi. Darling Harbour sendiri adalah sebuah pelabuhan yang berdekatan dengan pusat kota Sydney, New South Wales, Australia. Ini juga merupakan tempat rekreasi dan pejalan kaki yang besar yang terletak di pinggiran barat kawasan pusat bisnis Sydney. Dari Hard Rock kemudian berfoto sejenank di Darling Harbour lanjut menuju Mall sekitaran dan kami membeli makan malammenu yang sama seperti di COCO HUT, nasi goreng Seafood dengan harga yang sama pula (mahal..gilak). Hari semakin malam, dingin mulai menusuk tulang belulang, kami berjalan menuju hotel yang lumayan jauhnya. Mendekati hotel saya liat ada mobil patroli sedang parkir cantik, Alhamdulillah akhirnya saya temukan juga kamu mobil Polisi. Sejak mulai punya kesempatan traveling keluar negeri, mulai dari Amerika saya memiliki kebiasaan berfoto bersama mobil Polisi sebagai koleksi fotografi, lucu saja, super iconik. Keasyikan foto, tanpa sadar kami di panggil bapak Polisi, dia hanya mengingatkan kalo kami boleh berfoto bareng mobil tapi tidak untuk bangunan kantornya. Dan ternyata Kantor Polisi ini disebelah Hotel saudara-saudara, barusan nyadar sayanya, gitu dari kemarin cari mobil Polisi susah banget. Saking apanya coba..hahaha. Segera kami masuk hotel, bersihkan diri lanjut packing, semua buah tangan dibungkus pakaian kotor dan dipencar ke dalam beberapa koper lanjut kami timbang, setelah berat merata tidak sampai 30 kg, Alhamdulillah aman untuk penerbangan insternasional. Rebahkan tubuh, istirahat hingga Subuh menjelang, semoga besok kepulangan kami ke Indonesia, penerbangannya lancar tanpa hambatan, selamat tiba sampai di rumah..aamiin.

Sydney Harbour (Australia – Fitti Reward 2017)

“Travel makes you realize that no matter how much you know there’s always more to learn”

Pagi ini bangun sebelum Subuh, setelah mandi dan menunggu adzan tiba, hubby turun ke bawah untuk mengambil sarapan. Seperti biasa karena resto hotel belum buka, kami harus sarapan tidak layak, juice, susu serba uht, cereal dan biskuit soya (pengen hoek saja rasanya). Subuhan sejenak kemudian tepat pk 05.00 kami berangkat menuju bandara Brisbane, bersiap menuju Sydney dan meninggalkan Gold Coast yang sangat bersahabat ini, baik cuaca maupun penduduk lokalnya juga keindahan dan kemegahan kotanya. Agenda hari ini berada di Sydney untuk dua hari kedepan, dengan penerbangan Qantas kami berangkat dengan penerbangan paling pagi pk 08.00.

Setelah tiba di Airport, seperti biasa kami melalui jalur khusus turis dan dibantu cek ricek tiket, visa paspor dan bagasi. Daannn..untuk bagasi kali ini sudah mulai memberat, sedangkan penerbangan domestik masih dibatasi maximal 15-20kg saja, berbeda dengan internasional yang bisa sampai 30kg. Sepertinya ada masalah dengan koper ibu Susi dan ibu Yuke, beliau berdua ini memang anggota tour yang paling hobby belanja, entah buat dirinya sendiri ataupun titipan oleh-oleh rekan kerja. Setelah sempat berdebat dan beberapa barang terpaksa dinunutkan koper teman, akhirnya semua selesai dengan aman. Kami segera masuk ke ruang boarding sambil menunggu pesawat kami siap tinggal landas, namun sayang terjadi delay akibat cuaca yang buruk, terpaksa jam terbang mundur hampir 2jam. Waktu take off tiba, pesawat Qantas membawa kami terbang ke Sydney dengan kecepatan maximal padahal cuaca sedang tidak bersahabat, naik pesawat berasa maen roller coaster, betapa ngerinya kami, semua anggota tour kompak berdoa menurut keyakinan masing-masing. Pesawat sengaja mengebut mungkin selain cara dia menaklukkan cuaca buruk juga mengejar banyaknya delay, karena penumpang juga kan ada yang scedule terusan, jadi tidak terlalu parah tertinggalnya. Saat sarapan kami tiba di Pesawat, yang beredar hanya 1 menu seperti kue lumpur, lebih besar dan entah apa isinya, karena ragu-ragu saya pun baca ingredients nya, hah..ada tertulis PORK disitu dengan jelasnya, ini Pramugari tidak lihat apa Jilbab yang saya pakai sebagai identitas muslim saya, mbok ya kasih tau, atau tidak usah diberikan, maklum negara minoritas, sak karepe dewe. Namun kami juga tidak sanggup mengingatkan saudara muslim kami yang lain yang saya perhatikan mereka sangat menikmati kue tersebut, sedih karena saya terlambat mengingatkan, juga karena malu dan takut mereka tersinggung. Baru selesai beredar, para pramugari kembali memungut sisa makanan dengan tergesa-gesa, dan dari Kabin, pak Pilot sudah teriak-teriak akan segera landing. Liat cara menerbangkan pesawat yang ugal-ugalan begini jadi ingat Bis Restu yang sudah berganti nama Sumber Selamet..hiks. Alhamdulillah kami mendarat di Sydney dengan selamat, sampai sekarang kalo membayangkan kejadian tersebut masih ngeri-ngeri sedap..hihihi.

Tiba di bandara Sydney diiringi drama hilangnya koper putri pak Hamdan, entahlah nyasar kemana, tapi Qantas siap bertanggungjawab, kalo urusan yang begini Airlines Luar Negeri pantas diberi dua Jempol. Akibat Koper nyasar ini kami terpaksa ketinggalan acara makan siang di Cruise, dan diganti dengan makan siang di daerah sekitar Darling Harbour juga, yaitu Menu Chinese Food di wilayah The Rocks, Alhamdulillah sejak pagi belom terisi makanan sama sekali. Kalo sudah begini Travel Bayu Buana juga harus menanggung kerugian, karena terpaksa keluar dana lagi untuk membelikan kami makan siang, karena jatah makan di Cruise tidak mungkin dibatalkan. Kami menyantap makan siang dengan secepat kilat, takut banyak Destinasi yang tidak kami bisa kami kunjungi karena delay Pesawat hari ini.

Selepas makan siang kami pun berangkat menuju Port Jackson tempat dimana kami akan menaiki Captain Cook’s Cruise dan berkeliling menikmati Icon Sydney, antara lain Opera House, Sydney Harbour Bridge dkk.

Sydney merupakan ibu kota New South Wales, negara bagian tertua dan paling banyak penduduknya di Australia. Pada awalnya dibangun sebagai permukiman koloni hukuman, tepatnya di pantai Port Jackson, tempat ibu kota Sydney yang ramai sekarang berada. Lebih dari sepertiga orang Australia tinggal di New South Wales, dan Sydney merupakan kota terbesar di negara ini.

Entah kenapa Gedung Opera Sydney atau juga dikenal sebagai Sydney Opera House ini bisa begitu terkenal di Sydney, New South Wales. Memang bisa dibilang Sydney Opera House ini adalah salah satu bangunan abad ke-20 yang paling unik dan terkenal. Gedung dengan arsitektur unik ini terletak di Bennelong Point di Sydney Harbour dekat Sydney Harbour Bridge dan pemandangan kedua bangunan ini menjadi ikon tersendiri bagi Australia.

Bagi jutaan turis yang datang, gedung ini memiliki daya tarik dalam bentuknya yang seperti cangkang. Selain sebagai objek pariwisata, gedung ini juga menjadi tempat berbagai pertunjukkan teater, balet, dan berbagai seni lainnya. Gedung ini sendiri dikelola oleh Opera House Trust dan menjadi markas bagi Opera Australia, Sydney Theatre Company, dan Sydney Symphony Orchestra. Jadi buat kalian yang mungkin lagi liburan ke Sydney, bisa mampir kesini.

Berlawanan posisi dengan Opera House ada Sydney Harbour Bridge ini sebenarnya adalah salah jembatan yang merupakan jalur utama untuk menyeberangi Pelabuhan Sydney (Sydney Harbour Bridge). Jembatan ini menghubungkan distrik pusat bisnis Sydney atau biasa dikenal dengan Sydney CBD dengan wilayah utara Sydney (North Sydney). Di Sydney Harbour Bridge ini terdapat jalur kereta api, kendaraan bermotor, sepeda, dan bahkan trotoar untuk pejalan kaki. Karena terdapat trotoar untuk pejalan kaki, berjalan menyeberanginya adalah kegiatan yang pasti menyenangkan. Buat yang suka tantangan, ada juga paket naik ke bagian atas Sydney Harbour Bridge lho!.

Bersamaan dengan Gedung Opera Sydney, Sydney Harbour Bridge ini adalah ikon bagi kota Sydney sekaligus Australia. Warga setempat menamai jembatan ini sebagai The Coathanger atau diterjemahkan sebagai gantungan pakaian. Julukan itu tak lain akibat dari desainnya yang melengkung di bagian atas. Jembatan ini adalah bangunan tertinggi di kota Sydney hingga tahun 1967. Menurut Guinness World Records, jembatan ini adalah yang terlebar di dunia, sekaligus sebagai jembatan lengkung berkerangka besi tertinggi di dunia dengan puncaknya berdiri 134 meter di atas permukaan pelabuhan. Jembatan ini juga tercatat sebagai jembatan lengkung besi terpanjang nomor empat di dunia.

Selanjutnya setelah selesai berputar-putar dengan Cruise kami pindah tempat menuju Mrs Macquarie Chair, atau dikenal sebagai Lady Macquarie’s Chair, yaitu salah satu tempat wisata terbaik di Sydney. Kursi bersejarah itu diukir dari tebing batu untuk istri Gubernur Lachlan Macquarie, Elizabeth, saat ia diketahui mengunjungi daerah tersebut dan duduk menikmati pemandangan panorama pelabuhan. Mrs Macquarie’s Point, tepat di sebelah timur Gedung Opera di tepi timur Royal Botanic Gardens, memberikan pemandangan yang sangat bagus ke arah barat melintasi pelabuhan ke Jembatan dan Pegunungan di kejauhan. Melihat ke utara dan timur Anda bisa melihat Rumah Kirribilli, Pulau Pinchgut dan galangan kapal Angkatan Laut di Wooloomooloo. Pandangan dari Mrs Macquarie Chair masih dinikmati sampai sekarang, lebih dari 150 tahun kemudian, oleh ratusan orang Sydney dan wisatawan setiap hari.

Hari sudah menjelang senja kami segera masuk hotel. Kali ini giliran Hotel Travelodge, hotel budget yang lumayan dibanding hotel Ibis versi budget. Letaknya agak jauh dari keramaian Darling Harbour, beda dengan hotel kami saat di Gold Coast yang super strategis. Malam ini tidak ada jatah makan malam, jadi kami harus keluar dari hotel untuk berburu makanan, syukurlah Nita si TL mau diajak barengan hunting makanan. Kami berpencar sebagian makan dulu, sebagian belanja dulu dan sebagian di hotel karena tidak kuat lagi berjalan. Setengah jam kami sampai di Chinese Town, kalo mau menu nasi memang wajib kemari. Selesai makan, kami ingin lanjutkan belanja, sayang banyak yang tutup karena sudah malam. Ada satu toko cukup lengkap, kami borong oleh-oleh icon Sydney lumayan banyak, sekalian packingnya, dan belom menemukan Robin-Ruth versi Sydney, tidak terlalu bernafsu juga karena versi Gold Coast dan Australia sudah ada dalam genggaman. Saatnya kembali ke hotel besok masih tersisa agenda Blue Mountains, so jangan dihabiskan tenaganya malam ini.

Movie World – Gold Coast (Australia – Fitti Reward 2017)

“Certainly, travel is more than the seeing of sights; it is a change that goes on, deep and permanent, in the ideas of living.”

Alhamdulillah pagi ini (13/09) kami bangun dengan segarnya, meski semalem baru merem sekitar pk 23.00 malam karena keasyikan menikmati keindahan Gold Coast di malam hari. Terjadwal pagi ini akan mengunjungi Movie World pk 10.00 pagi, masih cukup banyak waktu untuk mengexplore pantai di pagi hari lebih dulu sebelum berangkat ke Movie World. Selesai sarapan kami langsung menuju pantai, saya asyik jeprat-jepret sedangkan hubby lebih tertarik mendekati laut untuk melakukan siaran langsung melalui fesbuk, gaya banget beliau ini..hiks. Gold Coast Australia adalah kota modern dengan bangunan bertingkat tinggi berkilau, yang dibangun di sekitar pantai yang megah, yang termasuk “Surga Peselancar” terkenal di dunia. Selain pantainya, kota Gold Coast juga memiliki menara perumahan yang dibuka pada tahun 2005. Menara ini bernama Q1 building dengan ketinggian mencapai 322,5 meter secara keseluruhan, namun menara pengamat berada di tingkat 77 dengan ketinggian 239 meter dimana pengunjung menara dapat melihat cakrawala Surfers Paradise dan pemandangan kota secara luas. Kota ini menarik para pembuat film untuk dijadikan lokasi pembuatan film, baik dari Hollywood maupun Bollywood seperti Scooby Doo, House of Wax dan Singh Is King. Di kota ini pula, Warner Bros membangun taman bermain Movie World yang mulai dibuka sejak 3 Juni 1991. Taman bermain lain yang terkenal di Gold Coast adalah Dreamworld, yang dibuka terlebih dahulu pada 15 Desember 1981. Kedua taman bermain ini menjadi daya tarik tersendiri dari Kota Gold Coast dalam menarik wisatawan lokal maupun mancanegara.

Setelah puas kami segera kembali ke hotel, dan memang seharusnya pagi ini diisi acara Balon Udara di subuh tadi, tapi karena peserta tidak ada yang berminat, karena mahalnya, yasudah banyak peserta yang memilih jalan pagi ke pantai dan sekitaran hotel. Sambil menunggu yang lain bersiap kami mengobrol dengan pasangan pak Edward dan bu Diana, ternyata beliau bercerita semalam ada tempat souvenir yang agak lebih jauh sedikit dari yang kami datangi kemarin karena ajakan si TL, Nita. Harga lebih murah dan bahkan bisa ditawar, boleh juga informasi ini, nanti malam harus bisa kesana karena tas Robin-Ruth versi Gold Coast belum kami temukan. Dan beliau pagi ini juga sudah menyambangi yang namanya menara Q1 namun hanya bisa mengabadikan dari dekat saja tanpa mencoba naik ke atas. Yach sepertinya kami kalah cekatan maklum jam terbang mereka untuk urusan traveling sudah jauh diatas kami.

Movie World

Bis telah siap mengantar kami ke Movie World, tepat pk 10.00 dan Nita mulai bercuap-cuap di dalam Bis menceritakan seperti apa Movie World. Sebenarnya destinasi kali ini lebih cocok untuk peserta ABG atau anak kuliahan, berhubung peserta banyak yang berusia matang, kami tidak terlalu excited menyimak bahkan kurang suka dengan destinasi ini. Namun secara keseluruhan paket tour kami ini sangat lengkap komposisinya, jadi kalo ada satu destinasi arena bermain ini ya dinikmati sajalah.

Tidak memakan waktu yang lama kami telah sampai. Setelah menunggu sejenak untuk mengurus tiket dan berfoto ria di pintu gerbang, kamipun langsung masuk. Berbekal peta dan sedikit arahan dari TL, kamipun berpencar dan arena pertama yang kami kunjungi adalah Live Show “Stuntman” yang memang sudah dekat dengan jadwal pertunjukan, kami skip semua arena dan kami langsung meluncur kesana. Sepanjang jalan menuju kesana kami coba masuk salah satu stan untuk membelikan beberapa oleh-oleh khas Movie World. Setelah memborong jaket, botol minum dan beberapa merchandise kami segera masuk ke arena pertunjukan “Stuntman”.

Seluruh tempat yang tersedia hampir terisi penuh, banyak wisatawan lokal maupun manca yang antusias menyaksikan pertunjukan ini. Diawal disuguhi beberapa atraksi motor dan mobil yang berkejaran bak polisi dan penjahat dan diwarnai dengan aksi tembak. Selesai dengan atraksi Stuntman, kami keluar dari arena menuju ke area pusat tempat dimana drama para Jagoan diadakan, sementara masih sepi belum terlihat para Pahlawan Marvel berlalu lalang. Duduk sejenak sambil memperhatiakn hubby yang sibuk dengan HP nya, beliau memang pekerja keras, setiap kami traveling ke Luar Negeri, hampir dipastikan beliau masih mengendalikan bisnis dari jarak jauh, memastikan semua urusan perusahaan berjalan dengan baik.

Di kejauhan kami melihat Joker dan Harley Quinn sedang melayani foto bersama pengunjung, dengan harga sekitar $10 aud. Sebenarnya tertarik untuk berfoto bareng para Villains tapi kq malu ya kalo tidak ada anak-anak..hiks. Tak seberapa lama Batman muncul di kawal oleh para pelakon polisi tiba-tiba sudah “bak-buk” dengan sekawanan penjahat, termasuk dengan Joker dan Harley Quinn yang baru selesai berfoto ria. Kostum tokoh Batman yang serba hitam ini terlihat begitu besar dan perkasa, entar itu memang body asli atau banyaknya sumpalan dibalik kostum..heuheu. Lumayan menghibur meski sejenak saja, tanpa alur cerita yang jelas, mendingan iklan masih ada ceritanya.

Perjalanan kami lanjutkan menuju wilayah Superman ke kota Metropolis, berfoto bareng Mobil Lex Luthor dll, juga ada Poison Ivy, masih juga ada Joker, agak bingung tentang pembagian wilayah kekuasaanya, campur tidak karu-karuan..hahaha. Ada beberapa tempat seperti wilayah Sherrif juga terlihat beberapa tokoh Looney Toon, dan beberapa wilayah masih dalam renovasi, sebelumnya juga melewati wilayah Scooby Doo dengan wahana Roller Coasternya.

Kami juga mengunjungi wilayah Joker dengan wahana roller coaster nya, beberapa coretan yang tidak karuan menghiasi dinding bangunan di wilayah ini, saya sempat berfikir ada orang iseng bikin grafiti, tapi meski tampilan dinding kusam justru semakin menarik, sengaja pastinya, Joker gitu lho, image dia kan memang buruk.

Setelah puas berkeliling dan berfoto ria tanpa satupun wahana roller coaster yang kami coba, kamipun kembali duduk di dekat meeting point. Yak, saatnya mainan hp lagi, sambil mengontrol bisnis, marilah mengedit dan mengaplot foto, namanya juga kaum zaman now, kekinian gitu lhoh..

Kami kembali ke hotel masih sekitar pk 16.00, mandi dan sholat kemudian balik lagi keluar untuk menuju toko souvenir yang direkomendasikan oleh bapak dan ibu Edward. Sengaja kami geber jalan sore karena malam ini kami tidak boleh terlalu capek dan larut tidur, besok pagi pk 04.00 subuh kami harus meninggalkan Gold Coast menuju Sydney di penerbangan pertama.

Kami berjalan searah dengan toko Souvenir yang semalam kami kunjungi, hanya untuk kami lewati saja dan terus menuju toko-toko Souvenir berikutnya. Setelah melihat sekilas dari luar dan begitu banyak produk Robin-Ruth, kami ingin langsung bertransaksi.

Kami juga akan menjajal menu Thailand yang di rekomendasikan si TL sebagai Halal Food Restaurant. Tidak terlalu sulit mencari kedua destinasi wajib sore ini, karena letak keduanya adalah bersebrangan. Nah, sebelum kami pingsan karena sejak mulai siang kami belum makan kecuali buah-buahan yang kami beli di Movie World, jadi lebih baik kami segera menuju Coco Hut, nama Resto Halal ini. Dari daftar menu yang kami lihat memang tidak ada satupun terbaca “PORK”, Alhamdulillah menunya pun Nusantara banget ada Sate, Nasi Goreng juga Kare. Setelah terhidang kami segera menyantapnya, Masyaallah, makanan ini mengingatkan kami pada kampung halaman, sangat rekomended, seandainya Allah memberikan kami kesempatan untuk kembali ke Gold Coast, mungkin bakal setiap hari makan di tempat ini, namun sayangnya dollar Aussie ini sangat menipu, meski terlihat harga hanya $18 AUD untuk menu Nasi Goreng tapi kalo di kurs kan bisa mendadak nangis darah..hahaha.

Selesai memenuhi kebutuhan pokok kami langsung lompat menuju kebutuhan tersier a.k.a shopping, memborong Robin-Ruth beserta sebagian buah tangan khas Gold Coast, sayang kami tak sempat berfoto ria di toko inisaking sibuknya memilih lanjut mborong semua produk, toko ini benar-benar lengkap sesuai keinginan, Alhamdulillah urusan Robin-Ruth telah selesai, betapa leganya. Kami segera balik ke Hotel, hari sudah semakin malam, kami harus berkemas dan menata semua belajaan dengan baik juga menimbangnya agar tidak terjadi masalah di Airport besok pagi.

Paradise Country Farm – Gold Coast (Australia – Fitti Reward 2017)

To move, to breathe, to fly, to float, To gain all while you give, To roam the roads of lands remote, To travel is to live.”

Bis mulai menepi dan berhenti agak jauh dari pintu masuk Airport Melbourne untuk keberangkatan Domestik, setelah masuk Bandara itu koper seluruh peserta dikumpulkan, selanjutnya TL dibantu salah satu petugas Qantas bagian bagasi menimbang satu persatu koper melalui jalur khusus, mungkin karena kami grup turis supaya memudahkan baik kami maupun pihak penerbangan. Belum terlalu bermasalah, karena bagasi kami relatif ringan, yach kan belom belanja..hahaha. Penerbangan dari Melbourne ke Brisbane membutuhkan waktu kira-kira 2jam saja, dan perjalanan langsung dilanjut menuju Gold Coast. Selama menunggu pesawat, Alhamdulillah sempat membeli merchandise Snow Globe versi Melbourne dan Victoria, tanpa bisa menemukan tas Robin-Ruth versi Melbourne, padahal seharusnya ada di tiap Airport seperti kota besar di negara lainnya. Mungkin di Queen Market tersedia, tapi tidak ada destinasi kesana, jadi selama di Melbourne kami belum sempat belanja souvenir khas kota ini, padahal tiap kota kan selalu beda, iconic lah, jadi wajib dikoleksi.

Queensland sendiri merupakan negara bagian Australia yang terbesar kedua dalam hal ukuran. Dengan Ibu kotanya Brisbane, kota berpenduduk terbanyak ketiga di Australia. Tempat tujuan wisata yang paling terkenal di negara bagian Queensland ini adalah Gold Coast yang terletak 94 km dari Kota Brisbane. Gold Coast merupakan kota terbesar yang bukan merupakan ibukota negara bagian di Australia, hal ini dimulai sejak adanya pembangunan penginapan di daerah Surfers Paradise di sekitar tahun 1920, namun Surfers Paradise semakin berkembang menjadi daerah tujuan wisata pada tahun 1980an. Gold Coast menjadi daerah tujuan wisatawan dikarenakan iklim subtropikal dan sinar matahari yang hangat, pantai untuk berselancar serta taman bermain yang terkenal di kota ini. Iklim subtropikal ini menjadikannya tidaklah terlalu jauh berbeda dengan temperatur di Indonesia. Kunjungan wisatawan Indonesia juga semakin meningkat seiring bertambahnya penerbangan langsung dari Jakarta dan Bali ke Brisbane. Wisatawan yang datang menginap atau berkunjung ke Gold Coast tidak hanya dari luar Australia tetapi juga penduduk lokal yang ingin menghabiskan waktu di pantai atau taman wahana permainan. Karenanya di kota ini semakin banyak hotel, resor dan apartemen yang dapat mengakomodir banyaknya jumlah wisatawan yang datang.

Tidak ada agenda untuk kota Brisbane, dan kamipun langsung menuju Gold Coast. Sepanjang perjalanan kami disuguhi kota Gold Coast yang menakjubkan, perpaduan pantai yang indah dengan kemegahan gedung-gedung pencakar langit yang berkilauan, apalagi kami akan menginap di daerah Surfer Paradise, surganya kota Gold Coast semacam Kuta atau Legian di Bali. Dan hari pertama kami di kota Gold Coast ini dan merupakan agenda kami satu-satunya yaitu Paradise Country Farm.

Paradise Country merupakan peternakan khas Aussie yang mencerminkan budaya tradisional Australia. Ada banyak hal yang bisa dilakukan di peternakan ini, seperti memberi makan kangguru, mengunjungi Koala yang suka digendong dan diajak foto bersama, melihat atraksi cukur bulu Domba dalam Sheep Shearing Show, juga terdapat area pertambangan, dan tak kalah menariknya adalah atraksi anjing penggembala domba yang pintar.

Kami tiba sekitar pk 10.00 waktu Gold Coast, dan suhu udara sudah mulai terasa hangat, hubby memilih melepas jaket sedangkan saya masih bertahan dengan jaket saya yang tipis, prepare saja daripada tiba-tiba suhu mendadak dingin tidak mungkin kam balik ke bis hanya untuk mengambil jaket, karena tiket hanya sekali masuk. Kami menunggu Nita, TL kami yang sedang mengantri tiket masuk, sedangkan sekitarnya terdapat toko merchandise, dan satu-satunya yang ada dalam otak saya adalah tas Robin RUTH versi Gold Coast yang sudah saya agendakan sebagai most hunting Bag, karena warnanya yang Pink neon “eye catching” banget, warna yang belum ada diantara koleksi Robin RUTH yang saya miliki. Dari sekian banyak merchandise disitu, tidak ada yang saya beli.

Setelah membeli tiket masuk, temapat yang kami kunjungi pertama kali adalah kadang Kangguru, sebagian ada dalam kadang yang tidak bisa kami masuki, dan memang mereka terlihat sedang istirahat, dan sebelahnya lagi beberapa Kangguru sedang bermain diperbolehkan bagi pengunjung untuk memberi makanan, namun tetap harus berhati-hati karena meskipun Kangguru terlihat jinak, kaki depannya cukup kuat untuk membuat kita terjengkang kalau dia tidak ingin diganggu. Setelah merasa cukup berfoto bersama Kangguru, kami melanjutkan menuju Ruangan yang di design untuk berfoto bareng Koala, ruangan tersebut juga dilengkapi bermacam-macam merchandise yang berbau Paradise Country yang bisa dikoleksi, kami sempat membeli boneka Kangguru yang sedang menggendong Koala, harganya lumayan, made in Aussienya ini yang bikin kantong bolong. Sejenank mengantri untuk bisa berfoto bareng Koala, ada dua tempat sehingga bisa lebih cepat, telah disediakan juga beberapa ekor Koala, jika sebagian ngambek tidak ingin berfoto maka akan diganti dengan yang lainnya. Hidup Koala sebagian besar untuk tidur, hanya sebagian kecil saja dia terjaga, oleh sebab itulah, sisen foto bareng Koala ini hanya dibatasi sekitar 4 jam saja, setelah itu tutup, tidak bisa sembarang jam. Tiba giliran kami, seperti biasa hubby enggan bagian yang bersentuhan langsung dengan Koala, bukan takut tapi nger,i, kukunya hitam, panjang dan tajam, lumayan itu kalo tiba-tiba nyakar..hahaha. Sisen foto berlangsung aman tanpa drama, kecuali sebagian turis lain sebelum kami sempat kena cengkraman si Koala yang lagi ngambek, tapi tak perlu kuatir berlebihan kan ada si Pawang.

Selesai dengan Koala, kami lanjutkan dengan Domba, yaitu Cukur bulu Domba. Kami masuk kedalam ruang pertunjukkan, di depan kami ada Stage dimana si tukang cukur Bulu telah siap dengan peralatannya. Kemudian dia memanggil nama domba-domba yang akan dicukur bulunya, ajaib para domba itu berlarian naik ke panggung sesuai urutan namanya dan tanpa rasa takut, begitu jinaknya mereka sangat mudah diikat diatas panggung, untuk menunggu dicukur.

Selesai menyaksikan pertunjukkan Cukur Bulu Domba, perut mulai terasa keroncongan, saatnya makan siang tiba. Dalam tiket masuk Paradise Country ini sudah termasuk makan siang Steak Barbeque daging sapi beserta teman-temannya yaitu kentang juga salad, yang cukup empuk dan Lezat, namun sayang tak ada nasi disana..hiks

Acara kami lanjutkan kembali melihat Pacuan Kuda, dimana kuda akan diadu dengan mobil, sayang kami datang terlambat, pertunjukkan sudah akan selesai, jadi tidak paham juga apa yang terjadi..hihihi. Yang paling penting sempatkan sejepret duajepret sajalah.

Acara puncak di Paradise Country ini adalah atraksi dari seekor anjing penggembala yang sangat terampil menggembala domba, termasuk juga tampilan pemerah Susu Sapi, juga atraksi permainan bumerang yang merupakan senjata khas dari suku Aborigin. Sayang saya lupa membawa lensa tele, karena berat terkadang malas harus membawa dua lensa, jadi saya tinggal di bis, padahal atraksi dilakukan di kandang terbuka, cukup jauh dari tempat duduk penonton, jadi hasil foto kurang maximal. Yach gitu deh, penyesalan datangnya belakangan, kalo di depan namanya pendaftaran. Harusnya tiap kali mau traveling, harus gugling dulu medannya seperti apa, itu yang benar, bagaimanapun persiapan itu sangat penting, demi tercapainya stabilitas statusisasi fotografi #halah.

Ada satu wahana dalam Paradise Country ini yang belum kami kunjungi karena terbatasnya waktu, yaitu ‘Clancy’s Opal Mine’. Wahana pertambangan di mana katanya kita dapat merasakan sensasi menemukan Opal sendiri di pertambangan tua yang berdebu. Selain itu juga dapat menemukan fosil berupa emas, perak dan permata berharga yang asli dari negara Fossicking. Kami pun kembali ke Bis dan segera mengantarkan kami menuju hotel Novotel di daerah Surfers Paradise, kawasan paling representatif di kota Gold Coast. Selama menuju hotel, si TL tidak berhenti berbicara dan berusaha merayu kami untuk mencoba wahana Balon Udara yang harga tiketnya amit-amit mahalnya, per orang sekitar $280 AUD, senilai hampir 3jutaan, siapa yang doyan coba??, sudah begitu berangkat subuh pk 04.00, kami akan dijemput bareng turis yang lain. Selain orang Australia terkenal sangat tepat waktu, pilot balon udara juga harus menyesuaikan waktu terbang. Pagi hari jelang matahari terbit dan sore hari jelang matahari terbenam adalah waktu terbaik untuk menerbangkan balon udara. Sebab udara pada saat tersebut cenderung stabil dan tak berangin. Padahal scedule ke Movie World terjadwal pk 10.00 pagi, dapat dibayangkan betapa lelahnya, malah membuat tidak nyaman badan untuk menikmati destinasi berikutnya nanti. Seluruh peserta kompak menolak, mahal gilak. Menurut si TL Balon Udara di Aussie adalah yang terbaik di Dunia, setelah Turki. Sebenarnya pengen sih tapi hubby tak restu, beliau juga takut ketinggian, lagipula kami ingin mengexplore Gold Coast lebih lama sampai puas, uang dialokasikan ke Blue Mountains saja di hari terakhir kami di Aussie.

Surfers Paradise

Kami tiba dihotel Novotel sudah menjelang sore, kami membereskan koper dikamar dan membersihkan badan, sejenak menunggu maghrib tiba. Setelah melaksanakan sholat maghrib kami keluar hotel, selain karena tidak ada jatah makan malam, juga ingin menikmati Surfers Paradise di malam hari. Masyaallah indah sekali wilayah ini, perpaduan cantik antara keindahan pantai dengan gedung pencakar langit yang megah.

Kota Gold Coast memiliki daya tarik pantai dengan panjang hingga mencapai 57 km. Banyak pantai yang terkenal berada di kota ini antara lain Surfers Paradise, Broadbeach, Palm Beach dan Duranbah Beach. Pantai disini sangat terkenal di kalangan surfer baik dari Australia maupun negara-negara lain di dunia. Karenanya Gold Coast memiliki jumlah penjaga pantai professional untuk menjaga orang-orang yang berada di pantai agar bisa beraktifitas dengan nyaman dan aman. Walaupun bukan surfer, namun kita dapat menikmati keindahan pantai di Gold Coast ini. Area pantai yang paling ramai dikunjungi wisatawan, tak lain adalah Surfers Paradise. Malam inipun yang bukan weekend, pantai dipenuhi oleh wisatawan baik lokal maupun internasional. Mengamati para bule dan keluarganya ini liberal banget ya, anak-anak mereka duduk dan main pasir dipantai dibiarkan saja, kq gak takut gatel atau malah cacingan ( itu Indonesia kaleee..wkwkwk). Kalo kami tidak akan membolehkan anak-anak main dipantai kecuali sebelum sunset tiba. Di sekitaran pantai ini kami juga melihat banyak toko yang berjualan souvenir khas Surfers Paradise maupun Gold Coast. Di kawasan ini, banyak juga terdapat restoran tempat berkumpul bersama keluarga atau teman sambil menikmati matahari tenggelam. Sebelah kiri hotel kami juga terdapat Hard Rock Cafe, jadi kami juga tidak perlu bersusah payah untuk menambah koleksi, tidak seperti di Jepang kemaren. Untuk Icon Gokd Coast sendiri, stick drum juga berwarna Pink, bertuliskan Surfers Paradise, selain itu beberapa magnet Hard Rock dengan icon Gold Coast dan Surfers Paradise.

O iya sebelum kami turun dari Bis tadi si TL telah merekomendasikan salah satu toko souvenir (saya lupa namanya) yang murah dan pemiliknya pandai bahasa melayu, bukan orang Indonesia tapi Malaysia. Toko souvenir ini menjual berbagai macam oleh-oleh, mulai baju, tas,makanan hingga obat-obatan. Nita pasti dapet fee lah, dia selalu membawa rombongan ke toko si Pak Cik ini. Pertama kali yang kami cari adalah produk tas Robin-Ruth, dan kami menemukannya, namun sayang bukan edisi terbaru hasil gugling, tas berwarna Pink dengan icon Surfers Paradise. Tas Robin-Ruth edisi Australia, dengan design mainstream yang kurang menarik, tapi karena kami takut tak menemukannya lagi, maka kami belilah 1pc. Btw tas Robin-Ruth ini sudah mulai banyak KW-nya, baru juga booming sudah dipalsu, kasian Robin-Ruth, apalagi saya yang hobby mengkoleksinya..hiks. Selain itu kami membeli kacang “Macadamia”, beberapa Coklat, dan sejumlah topi juga t-shirt untuk oleh-oleh keluarga tercinta. Setelah cukup berbelanja kami berencana kembali ke hotel.

Tiba-tiba perut terasa lapar, di sekitar kami amat sangat mudah menemukan makanan, tapi untuk kategori halal, itu yang entahlah. Di sebelah hotel kami bisa langsung menuju Mall, tidak terlalu besar, dan di lantai bawah, underground terdapat supermarket yang sangat lengkap namanya Woolsworths. Tampilannya mirip Superindo, buah dan sayur sangat lengkap, bakery apalagi, ada ayam oven besar pula, dijual hangat, tapi tetap tanpa nasi, banyak sushi yang mengandung nasi dan menu jepang lainnya yang disajikan dingin, itu yang bikin ilfill. Pada akhirnya kami cuma beli Air Mineral yang harganya jauh lebih murah, selisihnya ampun deh, jika biasanya 40000 kurs rupiah, disini hanya 17500, mencoba mengirit buat bekal besok ke Movie World, untuk di hotel cukup air kran saja. Selanjutnya kami keluar lagi langsung menuju resto KFC di dekat pantai. Take away Paket Fried Chicken plus Kentang plus Roti dan Saus nya. Menu dan rasa yang sama dengan Indonesia, membuat kami sangat lahap dan dalam sekejab habis tandas tak bersisa. Malam ini bakal tidur dengan nyenyak, hotel yang nyaman dengan cuaca yang bersahabat, pulaslah kami dibuatnya.

Melbourne (Australia – Fitti Reward 2017)

“Actually the best gift you could have given her was a lifetime of adventures”. -Lewis Carroll, Alice in Wonderland.

Alhamdulillah, ucap syukur seakan tak berhenti dari mulut ini, meski keberangkatan hari ini akan penuh perjuangan, namun kami sangat bersemangat untuk segera menikmati reward kedua kami dari Fitti “goes to Aussie”. Sejak pagi kami sudah berangkat dari rumah menuju airport Juanda, menyempatkan sarapan dekat gate boarding sejenak dengan menu Soto Ayam yang gak enak tapi ampun mahalnya, sumpah nyesel mending Burger King yang sudah pasti rasanya. Tepat pk 10.00 pesawat Garuda siap menerbangkan kami menuju Jakarta. Tiba di airport Soekarno Hatta pk 11.30, kami melaksanakan sholat dan makan siang terlebih dahulu sambil menunggu mbak Nita (tour leader kami selama di Aussie dari Bayu Buana) untuk meeting sekaligus pembagian Paspor – Visa dan tetek bengek keperluan kami di Aussie pada pk 14.00. Setelah pembagian itu kami masih harus menunggu lagi hingga pk 17.00 untuk terbang menuju Denpasar. Sampai di Denpasar waktu sudah menunjukkan pk 20.00 (wita), setelah cek in perlengkapan untuk masuk Aussie kami masih harus menunggu lagi hingga pk 23.00 untuk boarding dengan pesawat Garuda Indonesia yang akan menerbangkan kami menuju Australia. Benar-benar seharian ini menguras extra energi, terakhir makan siang hingga malam tiba perut kami belom terisi, masalah payung juga masih membebani pikiran hubby, karena tertinggal dirumah, padahal Melbourne di prediksi akan turun hujan seharian, ya Allah benar-benar kami lelah, bahkan saya sempat tertidur di kursi dekat gate boarding pesawat kami. Alhamdulillah selama di pesawat kami diberi roti sesaat setelah take off dan sarapan pagi yang terlalu dini (kira-kira masih Subuh), tak apalah yang penting perut telah terisi dengan menu yang cukup kooperatif dengan lidah kami, Garuda Indonesia gitu lhoh, namun sayangnya tidur kami jauh dari kata berkualitas, saya pun insomnia, entah karena terlalu lelah atau terlalu excited, yang pasti mata panda siap menghiasi city tour hari ini..hiks

Berbicara tentang Australia, sebuah negara federasi dengan luas total 7,69 juta kilometer persegi, Australia daratan merupakan pulau terbesar di dunia tetapi juga benua terkecil. Australia juga merupakan satu-satunya benua yang terdiri atas satu negara. Kadang-kadang Australia disebut pula benua “pulau”, karena dikelilingi oleh lautan. Membayangkan Australia ini menurut saya mirip dengan Amerika, bahkan bisa dikatakan Little Amerika. Australia merupakan negara serikat yang terdiri atas enam negara bagian dan dua teritorial, antara lain:
(1). Canberra adalah ibu kota negara dan pusat pemerintahan, dimana terdapat lembaga-lembaga nasional yang penting, termasuk Parlemen Australia dan Mahkamah Agung Australia.
(2). New South Wales merupakan negara bagian tertua dan paling banyak penduduknya di Australia, beribukota Sydney yang ramai dan lebih dari sepertiga orang Australia tinggal di New South Wales, dan Sydney merupakan kota terbesar di negara ini.
(3). Victoria adalah negara bagian terkecil di daratan utama, tetapi jumlah penduduknya kedua terbanyak dengan ibukotanya Melbourne, kota berpenduduk terbanyak kedua di Australia.
(4). Queensland adalah negara bagian Australia yang terbesar kedua dalam hal ukuran. Ibukotanya bernama Brisbane sebagai kota berpenduduk terbanyak ketiga di Australia.
(5). Negara bagian Australia Selatan terletak di bagian tengah selatan negara itu yang mencakup sebagian wilayah terkering benua itu, dengan ibukotanya Adelaide.
(6).Di ujung atas Australia terletak Teritorial Utara dengan ibukotanya, Darwin yang terletak di pantai utara.
(7). Australia Barat merupakan negara bagian terbesar di Australia berdasarkan luasnya, dan Perth sebagai ibukotanya.
(8). Dan yang terakhir, Tasmania yang dipisahkan dari daratan utama Australia oleh Selat Bass dan merupakan negara bagian terkecil di Australia, dengan ibukotanya, Hobart.

Nah, Reward kedua dari Fitti kali ini, kami akan berkunjung ke 3 negara bagian, lebih tepatnya di kotanya, yaitu 1 hari di Melbourne (Victoria), 2 hari di Gold Coast (Queensland), dan 2 hari di Sydney (New South Wales). Dan setiap berpindah negara bagian kami akan menggunakan penerbangan domestik yaitu Qantas Airlines (Garuda versi Australia beserta logo Kanggurunya). Alhamdulillah, tak terasa kami telah mendarat di Aussie tepat pk 05.00 (Wita) dan ditambah 3 jam lebih awal, berarti pk 08.00 pagi waktu Melbourne. Seperti biasa setelah urusan pemeriksaan paspor – visa dan koper selesai, kami langsung melaksanakan City Tour hari pertama di kota Melbourne, diantaranya Parliament House of Victoria, St Patricks Catedral, lanjut ke Fitrozy Garden dan Captain Cook’s Cottage dan kemudian istirahat makan siang Chinese food restaurant di daerah China Town, kemudian dilanjutkan menuju Shrine of the Remembrance dan destinasi terakhir hari ini ditutup dengan mengunjungi pantai yang terkenal dengan ruang gantinya yang berwarna-warni yaitu Brighton Beach Bathing Boxes.

Selama perjalanan menuju destinasi pertama hari ini, Nita (TL) mulai memperkenalkan diri secara resmi sekaligus seluruh pesertanya juga bercerita tentang kota Melbourne. Grup kami terdiri dari 6 geng, antara lain geng yang paling banyak pesertanya yaitu 6 orang dari Jakarta diketuai oleh ibu Susi, dengan anggotanya, ibu yuke, bapak Yudas, bapak Drajad dan ibu Azizah, geng kedua, ketiga dan keempat masih dari Jakarta juga yaitu keluarga Opa Pujianto dan istri dengan 1 adek dan 2 anak, pasangan ibu Suryati dan ibu Endang, pasangan bapak dan ibu Diana, geng kelima dari Makasar yaitu bapak Hamdan dan istri serta 1 anak, dan geng terakhir dari Surabaya yaitu kami sendiri. Seharusnya kami ber 24, tapi ada 5 orang yang Visanya ditolak, menurut TL kami dua tahun terakhir visa Aussie relatif sulit, ada pengaruh isu terorisme juga sih, padahal jumlah Wisatawan Aussie juga turun drastis beberapa tahun terakhir selain kalah bersaing dengan New Zealand yang sedang naik daun (insyaallah will be there soon) juga faktor mahalnya paket tour jika dibandingkan dengan Eropa.

Melbourne – Victoria

Melbourne adalah ibu kota negara bagian Victoria di Australia. Melbourne merupakan kota terpenting kedua dari segi bisnis dan kedua terbesar di Australia serta kota terbesar di Victoria. Melbourne membentang di sepanjang Sungai Yarra, memiliki banyak taman dan kebun yang dipadu dengan arsitektur tua dan modern, membuat Melbourne menjadi salah satu tempat terbaik di Australia.

Melbourne adalah kota terbesar kedua di Australia setelah Sydney. Namun berbeda dengan Sydney, dimana kota merupakan cerminan kota metropolitan sebagaimana kota-kota besar di dunia, Melbourne adalah kota yang relatif lebih tenang dan nyaman untuk dijadikan tempat tinggal. Bahkan Melbourne sudah empat kali mendapatkan predikat “The World’s Most Liveable Cities” (kota paling nyaman untuk ditinggali), semacam Surabaya kalo di Indonesia. Melbourne juga merupakan kota metropolitan yang hampir sebagian besar pusat kegiatannya terletak di pusat kota, sedangkan bagian kota yang lain terletak lebih ke luar kota Melbourne. Namun untuk mencapai pusat kota, Melbourne memiliki sistem transportasi yang dikelola dengan baik. Transportasi publik khas Kota Melbourne adalah Tram, yang dapat dengan mudah di akses baik oleh penduduk lokal maupun wisatawan, bahkan pemerintah setempat menyediakan Tram gratis bagi wisatawan, yaitu tram dengan warna coklat tua,..hmm, sangat menarik untuk dicoba.

Saat ini, Melbourne dikenal sebagai ‘ibukota budaya Australia’ karena merupakan pusat seni, perdagangan, pendidikan, hiburan, olahraga, dan pariwisata. Penduduk Melbourne terlihat lebih modis dan bergaya dalam berbusana, yang mungkin disebabkan oleh cuaca yang cenderung lebih dingin dibandingkan Sydney. Sebagai ibukota negara bagian Victoria, Melbourne juga merupakan kota metropolis yang senantiasa hidup. Keanekaragaman penduduk di kota ini menyebabkan banyak terdapat restoran dengan cita rasa yang berbeda untuk mengakomodir kebutuhan penduduk setempat akan makanan dari negara asal mereka.

A. Parliament House of Victoria

Tidak terasa kami telah sampai di Gedung Parlemen, disambut oleh mendung menggelayut manja, dan hawa dingin yang menusuk tulang. Meski tanpa payung, saya sudah siap dengan mengenakan jaket parasit anti air plus hoodynya. Sebenarnya selain payung dan topi kami dianjurkan membawa coat untuk mengantisipasi dinginnya Melbourne, tapi karena jatah Melbourne cuma sehari, kami malas, karena menuhin koper, padahal Gold Coast cenderung panas dan Sydney meski lebih dingin namun tidak sedingin Melbourne.

Mari kita segera mengexplore Gedung Parlemen ini secara resmi digunakan oleh Dewan Negara Bagian Victoria. Selama tidak ada sesi rapat, pengunjung dapat masuk dan berkeliling di dalam gedung. Namun entahlah kenapa kami tidak diijinkan masuk, mungkin saya kurang menyimak alasan dari tour leader kami si Nita, maklum masih mabuk karena kurang tidur, namun di Bis pun saya tidak ingin tidur karena lebih tertarik menikmati kota Melbourne yang saya membayangkan akan traveling kesini pun tak pernah. Kami hanya berfoto di sekitaran Gedung dan beberapa kali terlihat banyak Tram lewat di depan kami, sepertinya asik kalo memiliki kesempatan menikmati Tram ini, pernah membaca juga di kota Melbourne ini memiliki Tram dengan jalur perpanjang di dunia, jadi mau kemana saja di negara bagian Victoria jauh lebih mudah. Gedung Parlemen ini memiliki interior dan eksterior yang indah yang dibangun pada tahun 1855. Di dalam gedung ini, khususnya di dalam Queen’s Hall, akan dapat melihat patung ratu Victoria. Yach, tau sendirilah kalo bekas Jajahan Inggris pasti di openi tidak hanya diperas, dan design City Hall nya tidak jauh berbeda antara di Canada sampai Hongkong..hehehe. Tidak lama setelah puas berfoto ria kami melanjutkan perjalanan menuju ke Katedral tua beraliran Katolik Roma yang terkenal di Australia.

B. St. Patrick Cathedral

Dari kejauhan telah terlihat kemegahan Katedral St. Patricks karena tampilannya yang menjulang tinggi di ujung pusat kota Melbourne, dan merupakan Katedral tertinggi di Australia ini. Katedral St. Patricks ini mengingatkan saya akan Katedral Santa Maria di Lisbon yang kami kunjungi saat traveling ke Portugal, designnya Gothic dan beraliran Katolik Roma. Katedral ini diselesaikan pada tahun 1939, setelah pembangunan selama 70 tahun dan dinamai sesuai santo pelindung Irlandia dan dibangun untuk melayani populasi Katolik Irlandia di Melbourne pada abad ke-19.

Saat mendekati St. Pat, perhatikan betapa gelapnya penampilan gedung ini. Hal ini disebabkan oleh batu basalt lokal yang digunakan dalam pembangunannya. Bahan bangunan lain diambil dari seantero Australia dan dunia. Kedua puncak menara depan menjulang setinggi 61 meter, dan puncak menara tunggal di tengah menjulang setinggi 105 meter. Gedung ini juga dihiasi gargoyle dan patung. Masuk ke gereja tidak dipungut biaya dan pengunjung diperkenankan berjalan-jalan di dalam katedral atau bergabung dengan tur. Namun seperti biasa kami tidak ikut masuk, kami hanya berfoto diluaran sekitar gereja, sambil mencari toilet, destinasi favorite para turis seperti kami..hihihi. Ingin mampir ke Toko Katedral untuk melihat merchandise yang bisa dikoleksi, tapi waktu telah habis dan kami segera pindah ke taman Fitzroy.

C. Fitzroy Garden and Captain Cook’s Cottage

Perjalanan kami lanjutkan kembali menuju Taman Fitzroy untuk menikmati taman yang luas dan indah untuk mengamati secara langsung rumah tua bernama Cook’s Cottage. Tapi terpaksa para peserta termasuk hubby ijin mampir ke destinasi favorite dulu guna menunaikan hajat, karena saat di Katedral tadi kami tidak menemukan letak toilet, jadilah peserta menggunakan toilet umum temporer yang bauknya bikin pening, syukurlah saya tidak ikutan karena sengaja mengurangi minum, selain dingin juga sedang periode, jadi semakin malas ke toilet. Tiba disini kami sudah disambut oleh gerimis mengundang, namun tak seorang pun peserta mengeluarkan payung, males katanya, syukurlah banyak temannya, lagian hujannya malu-malu mau, yasudah cuekin saja.

Fitzroy Garden adalah salah satu taman era Victoria terbesar di Australia. Dengan sejarah lebih dari 150 tahun, Fitzroy Garden di bangun dengan luas 26 hektar (64 hektar). Di dalam Fitzroy Garden terdapat beberapa tempat wisata yang menarik bagi wisatawan seperti Cooks ‘Cottage, Sinclair Cottage, konservatori, peri’ pohon, danau hias, café , Model Desa Tudor dan banyak lagi. Setelah kami berjalan ditaman Fitzroy tidak terlalu jauh dari pintu masuk kami tiba di sebuah rumah tua bernama Cooks ‘Cottage. Rumah ini merupakan aset berharga dan menjadi peninggalan sejarah sejak abad ke- 18. Sejenak kami mengantri, karena Rumah Tua ini imut sekali, kami dipecah menjadi dua grup, dan secara bergantian untuk melihat ke dalam rumah. Beberapa alasan mengapa wisatawan disarankan untuk mengunjungi rumah tua ini adalah karena dapat menemukan sejarah yang kaya akan seni dan arsitektur bangunan Melbourne ratusan tahun silam, hal ini sangat bermanfaat sebagai referensi yang dapat digali dan dikembangkan oleh para pecinta seni dan sejarah.

Setelah masuk kedalam rumah, ternyata terdapat dua lantai yang berisi puluhan properti lengkap yang ditinggalkan oleh pemiliknya. Selain itu juga untuk mempelajari semua hal yang berhubungan dengan kehidupan Kapten James Cook serta beragam pengalaman hidupnya yang terjadi di masa abad ke-18. Hal luar biasa yang menjadikan tempat ini bersejarah adalah karena Cottage Cooks yang juga dikenal dengan nama Cottage Capten Cook sekarang terletak di Taman Fitzroy, Melbourne, Australia.

Namun dulunya pondok ini dibangun pada tahun 1755 di desa Inggris Great Ayton, North Yorkshire, oleh orang tua dari Kapten James Cook. Dan pada tahun 1933 pemilik pondok yang menjadi pewaris rumah ini memutuskan untuk menjualnya dengan kondisi penjualan bahwa bangunan tetap berdiri di Inggris namun sesuai bujukan pemerintahan Australia dan tawaran bayaran yang tinggi maka rumah ini pun dirombak dan sebagian besar pondasinya dipindahkan ke Australia. Bata demi bata yang mendekonstruksi bangunan ini di angkat dan dikemas menjadi 40 barel, disertai dengan pengiriman papan Dunedin Port dari Hull. Serta potongan dari ivy yang menghiasi rumah juga diambil dan dipasang ketika rumah itu kembali didirikan di Melbourne.

Sebuah taman pondok Inggris telah didirikan di sekitar rumah yang berhiaskan beberapa mawar dari silsilah yang sangat kuno, White Rose of York yang telah ditanam pada zaman Yunani dan Romawi. Dilengkapi pula dengan kebun sayur dan gooseberry yang sangat populer untuk campuran makanan. Ditanami pula dengan The “chamomile grass” terdiri dari salah satu tanaman herbal tertua khas kebun Inggris dan Eropa.

Badan terasa mulai melemah, maklum semalam kurang tidur, terlihat salah seorang peserta membawa se cup kopi hangat, mata ini langsung berbinar, aha..di depan ada kafe, setengah berlari kami mendekat, segera dua cup kopi kami beli. Saat di kafe kami disapa oleh grup turis lain, mungkin karena mendengar logat kami berbicara, menebak kami dari Surabaya, karena mereka juga dari Surabaya, berasa ketemu saudara kata mereka. Umur mereka jauh diatas kami, namun energi dan semangatnya luar biasa. Scedule mereka di Melbourne dua hari, besok masih akan ke Philips Islands melihat pinguin, tanpa Gold Coast langsung Sydney. Memperhatikan mereka mengingatkan pada sosok Ayah dan Ibu di rumah, ingin sekali mengajak beliau berdua traveling keluar negeri seperti kami, apadaya kesehatan beliau kurang memungkinkan. Waktu begitu cepat berlalu, kalo sudah keasikan ngobrol jadi lupa waktu. Mampir sejenak ke Ruang Konservatori untuk berfoto di taman bunga, lanjut menuju bis dan perut sudah mulai keroncongan, kami segera berangkat menuju China Town untuk makan siang. Seperti biasa menu Chinese food adalah makanan wajib turis Indonesia, selain taste nya akrab lidah juga yang terpenting adalah kehadiran NASI sebagai doping penambah energi..hihihi.

D. Shrine of the Remembrance

Selesai makan siang City Tour kami lanjutkan kembali menuju Shrine of Remembrance yang merupakan sebuah penghormatan yang ditujukan bagi mereka yang telah membela Australia di masa peperangan. Situs ini menunjukkan arsitekturnya yang mengagumkan, dengan tangga-tangga yang besar, tiang yang kokoh, dan atap yang berbentuk serupa candi. Bangunan yang bergaya Roma ini dibangun pada awal Juli 1928 dan selesai pada November 1934. Sungguh memang mirip sekali dengan Candi, dari kejauhan terlihat bakal menaiki tangga yang cukup lumayan untuk masuk ke dalam, sumpah malasnya, jika tidak karena gerimis mendadak deras memaksa kami berjalan cepat setengah berlari hanya untuk berteduh.

Saat itu kami berbarengan dengan anak-anak sekolah, jika dilihat dari posturnya mungkin setingkat SMP. Pertama kali masuk, tidak ada satu tiketpun yang harus kami beli, semuanya free. Suguhan pertama adalah koleksi medali, entahlah medali siapa saja yang dipasang, karena malas membaca karena lebih tertarik melihat ke sebelah kanan, yaitu toko merchandise (dasar turis). Maklum sejak mendarat di Melbourne pagi tadi, tak ada satupun souvenir yang bisa dibawa pulang. TL selalu berpesan jangan belanja dulu, terakhir saja di Sydney, karena penerbangan domestik bagasi cuma 20kg, lhah khas Melbourne apa bisa belanja di Sydney. Akhirnya kami memutuskan belanja sekedarnya saja, yang penting icon Melbourne terkoleksi.

Disebelah toko souvenir tersebut ada ruangan seperti kelas belajar yang digunakan sebagai kelas untuk mempelajari sejarah militer Australia, mungkin pelajar yang bareng kami tadi akan belajar disini. Setelah selesai mengexplore ruang sebelah kanan, ganti kami menuju ke sebelah kiri, ternyata ruangan yang menyimpan berbagai kenangan tentang peperangan yang pernah di hadapi tentara Anzac dalam perang besar yang terjadi di Victoria pada tahun 1914-1918. Saking lengkapnya terlalu banyak spot foto yang harus diambil, canda hubby, “Mama lak mbingungi karepe dewe, lihaten tah Ma, kalo turis bule itu senang baca, coba kalo mama dari tadi minta di foto mulu.” Saya jawab,”biarin, dia enak turis lokal, tiap hari bisa kesini, gratis pula, pinter ngeles euy..qiqiqi.” Sebenarnya praktis pake video tapi sayang mcSD dan battere tidak support, karena tidak membawa cadangan, lagi pula buat bahan ngeblog lebih mantab foto daripada video.

Setelah selesai dengan ruang kenangan tersebut kami segera keluar menuju taman disekitar Candi eh Monumen. Shrine of Remembrance dikelilingi oleh sebuah area taman cantik seluas 13 hektar. Dari taman ini kita dapat mengambil foto dari pemandangan panorama kota dari posisi situs ini yang memang lebih tinggi dari sekitarnya. Setelah itu kami berkeliling di sekitar area tamannya untuk melihat sejumlah struktur, seperti Legacy Garden of Appreciation dan Gallipoli Memorial. Ada satu wahana yang kami lewatkan disini yaitu tangga ke atap Monumen, rasanya sudah tak sanggup untuk naik keatas, apalagi saat dibagi info oleh bu Diana kalo tidak ada yang spesial diatas. Kami malah keasyikan ngobrol ganyeng bareng bapak petugas yang Bule tapi fasih berbicara Indonesia karena pernah tinggal di Bogor.

E. Brighton Beach Bathing Boxes

Menjelang sore kami meninggalkan Shrine of the Remembrance menuju Pantai Brighton, seiring meredanya gerimis dan hawa mulai terasa hangat, benar kata orang jika Melbourne ini memiliki cuaca yang moody suka baperan gak jelas..hahaha. Perjalanan menuju pantai tidak terlalu jauh, sempat terantuk-antuk di Bis, tak kuat menahan beratnya mata, benar-benar saya butuh istirahat. Kami tiba di pantai Brighton yang famousnya kemana-mana, yang merupakan destinasi favorite turis Indonesia. Air tenang, gubuk cantik, dan lokasi renang bersejarah membuat pantai suburban ini pas sebagai tempat santai tapi tetap penuh gaya, jauh dari hiruk-pikuk Melbourne. Sebelum berangkat ke Melbourne sempat serching tags #brightonbeach juga, duh cantik sekali suasananya, tapi setelah menyaksikan dengan mata kepala sendiri kq biasa saja ya, jadi inget pantai Kenjeran Surabaya bisa dibuat seperti ini dengan melihat tenangnya ombak, tapi ya beda warna pasir dan yang jelas cuacanya pantai Kenjeran itu ampun panasnya, bisa mendidih, gak bisa bayangin editing fotonya kalo muka super kumus..wkwkwk.

Pantai Brighton terletak di salah satu area pinggiran kota Melbourne yang makmur dan merupakan nama kolektif untuk tiga bagian pantai di Port Phillip Bay: Upper Brighton Beach, Middle Brighton Beach, dan Dendy Street Beach. Middle Brighton tersohor dengan area mandi-mandinya yang bersejarah dan dermaganya. Tempat paling tersohor tentunya Dendy Street Beach, ada 80 lebih gubuk pantai warna-warni berderet di sana, biasa disebut “bathing boxes” (gubuk ganti). Dilindungi sebagai warisah sejarah, gubuk ganti yang khas ini menggunakan desain dan bahan bangunan sederhana yang nyaris sama. Kerangka semua gubuk ini terbuat dari kayu, dinding papan di keempat sisinya, serta atap besi bergelombang, tapi hanya itu saja yang sama. Semuanya dicat dengan berbagai desain yang berani, cantik, serta flamboyan sehingga terlihat seperti dinding menakjubkan dan penuh warna di sepanjang pantai. Jangan sampai lupa membawa kamera, pemandangan unik nan menarik ini merupakan impian banyak fotografer. Dan memang ketika mencoba instagraming salah satu foto yang kami ambil, hasilnya jadi berbeda, lebih hidup dan mempesona, terutama karena saya sebagai modelnya..uhukz.

Gubuk ganti ini merupakan peninggalan zaman Victoria yang menekankan kesopanan, tempat orang berganti baju dalam tempat yang lebih tersembunyi, ini orang bule lho ya, berarti dulu banyak yang sopan, lhah semakin kesini kenapa semakin vulgar, telanjang di pantai sudah biasa. Saat ini, siapa saja dapat membeli lisensi tahunan untuk mengakses gubuk ganti. Tiap akhir pekan, banyak pemegang lisensi membuka gubuk mereka sehingga pengunjung pantai bisa mengintip isinya. Walaupun ukurannya sangat kecil, gubuk-gubuk ganti ini sangat diminati. Pantai-pantai di Brighton umumnya berair tenang dan dipantau oleh penjaga pantai, sehingga aman jika ingin berenang. Jalan sedikit dari area pantai, ada area penuh rumput, tepat untuk piknik, main bola, atau bersantai.

Setelah puas berfoto ria bak model internasional, kami pun sukses mengakhiri destinasi hari pertama kami dengan lancar dan bahagia meski badan remuk redam tak terkira, Alhamdulillah.

Ibis Styles “The Victoria” Hotel

Hari mulai berganti senja, bis siap mengantarkan kami menuju hotel Ibis Styles “The Victoria”. Selama menuju hotel, TL juga memberi info untuk keperluan makan malam kami ada resto Thailand dekat dengan hotel, setelah itu boleh mengexplore daerah sekitar hotel tapi jangan terlalu larut dan lelah, karena scedul besok pagi menuju Gold Coast dengan penerbangan paling pagi, berarti Subuh harus berangkat menuju Airport Melbourne. Setelah mendapat kunci kamar dan memasukkan koper segera saya mandi, badan sudah lengket sekali rasanya. Selesai urusan mandi, bergantian dengan hubby, sejenak saya rebahan, tak terasa sayapun terlelap. Terdengar dering telpon sepertinya TL kami memanggil untuk mengajak makan malam dengan menu Thailand, hubby membangunkan saya, “Gimana Ma, ikut gak, kita belum makan lho, “. “Rasanya badan udah gak kuat Pa, mama tidur ajah, besok biar lebih segar, masih ada 4 hari lagi kedepan, kalo Papa mau ikut gpp lho, mama tak makan popmie saja kalo lapar. ” “Yaudah Ma, gak usah ikut ya, aku juga gak suka menu Thailand, mending Popmie deh, sekalian istirahat ya, ywes aku telpon Nita, tak suruh ninggal saja.” Dan malam inipun kami stay di hotel, tanpa makan malam, keluyuran dan tertidur pulas, Alhamdulillah.

Waktu menunjukkan pk 04.00, morning call telah berbunyi, setelah mandi dan sholat subuh (o iya, untuk jadwal sholat hampir sama dengan di Indonesia), kemudian hubby menemui TL untuk mengambil sarapan pagi kami berupa Breakfast Box karena Restorant belum buka. Baru pertama kali kami mengenal konsep sarapan seperti ini, Breakfast Box berisi Cereal, Susu, Soya Biscuits dan Juice, saya memilih biskuit, karena saya takut mulas, kalo makan cereal perut sering tidak tahan, yang terpenting pagi ini sudah minum kopi. Selesai dengan sarapan aneh bin geje, kami bergegas membereskan koper dan kemudian menuju lobi, tampak beberapa peserta telah standby, bis pun sudah menunggu tepat waktu. Kami sempatkan diri jeprat-jepret sebentar dan setelah seluruh peserta lengkap, kamipun berangkat menuju Airport Melbourne untuk menuju Airport Brisbane ibukota dari negara bagian Queensland guna berwisata ke kota Gold Coast. Bismillahirrahmannirahim ✈🌏

Melbourne, Gold Coast and Sidney

The biggest adventure you can take is to live the life of your dreams.” – Oprah Winfrey

Alhamdulillah pagi ini Minggu (10/09) kami berdua telah siap untuk menikmati Reward kedua dari Fitti berupa vacation ke Aussie. Berangkat menuju Juanda dengan pak Tik, sopir yang kami mintai tolong untuk anjem kak Belva sekolah jika kami keluar kota atau keluar negeri. Setelah semalam memastikan semua keperluan telah selesai di packing, ternyata sampai di Juanda ada 3 item yang tertinggal, botol minum, bantal dan yang paling fatal adalah Payung (huaaa..). Fitti mendaftarkan kami berdua melalui Bayu Buana Travel Service dengan posisi di Jakarta, jadi rute yang harus kami lalui adalah terbang dari Surabaya menuju Jakarta kemudian Transit melalui Denpasar, setelah itu baru terbang ke Melbourne. Menurut scedule kami akan berangkat ke Cengkareng pk 08.40 untuk berkumpul dengan peserta yang lain pk 14.00 (terlalu pagi, karena takutnya sewaktu-waktu terganggu delay), setelah cek dan ricek paspor, boarding pass kami terbang menuju Ngurah Rai pk 17.00 (wib) dan tiba pk 19.30 (wita). Kami melanjutkan lagi untuk cek paspor dan boarding pass transit internasional dan pk 11.00 kami terjadwal menuju Melbourne. Selama di 3 airport kami berusaha mencari tenant payung, menemukan 1 tenant di Cengkareng, mahalnya amit-amit, akhirnya tak terbeli deh. Akhirnya pasrah, kalopun hujan masih ada jaket anti air.

Untuk itinerary kami selama vacay di Aussie, Melbourne yang hanya sehari akan visit di Parliament House, St Patricks Catedral, Shrine of Remembrance, dan berakhir di Brighton Bathing Boxes, dan menginap di Ibis Style Victoria. Hari kedua dan ketiga kami terbang ke negara bagian Queensland, tepatnya di Gold Coast untuk mengamati secara langsung peternakan yaitu Country Paradise dan hari kedua untuk menikmati Movie World. Hari ketiga dan keempat terbang ke Sydney untuk berkeliling di daerah Sydney Harbour di atas kapan Cruise dan hari terakhir acara kami bebas seharian, terserah mau kemana saja, ada option dengan biaya tambahan yaitu ke Blue Mountains, Madame Tussaud atau Sealife Aquarium sambil belanja sepuasnya di kawasan China Town. Entahlah kami akan kemana, inginnya sih ke Blue Mountains tapi harus ada temannya, supaya bis bisa sewa sendiri minimal 15orang peserta. Hmm..kita lihat saja nanti, sudah tidak sabar untuk segera mendarat di Aussie. Semoga Allah senantiasa memberikan kesehatan, kemudahan, kelancaran dan keselamatan dalam perjalanan kami menikmati reward Aussie ini..aamiin

سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ . وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ