Perjuangan itu belum Selesai

“Life is a fight, and in that fight it doesn’t matter how hard you hit or how well you fight. What matters is how hard you can get hit and keep on fighting.”

Selasa (17/04), tepat adzan Maghrib berkumandang, kak Belva berlari keluar kamar, dan meninggalkan mamanya berdua dengan Reva untuk melihat hasil pengumuman Snmptn, dia tidak sanggup untuk melihatnya sendiri, dan memang hasilnya kak Belva belum beruntung. Snmptn merupakan jalur undangan yang diperuntukkan bagi siswa SMA yang memiliki akademis tinggi juga berprestasi untuk dapat diterima di Universitas Negeri tanpa tes, namun hingga detik ini tidak ada satupun survey yang dapat memastikan alat ukur apa yang digunakan, benar-benar seperti “bejo bejan”. Dari sekitar 20 siswa aksel, hanya diterima 8 orang saja, siswa dengan ranking atas hanya diterima di pilihan kedua atau ketiga, ke 4 siswa yang memilih Fakultas Kedokteran semuanya tidak ada yang lolos, baik FK Unair, UB, Unej, dan Unsoed, namun ada 1 siswa yang tidak terlalu menonjol dikelas justru diterima di ITB Fakultas Eletro dan Informasi. Entahlah apa barometernya, yang pasti Perjuangan kak Belva masih harus dilanjutkan, selain persiapan Sbmptn juga UII dan UMM.

Tak terlalu lama bagi kak Belva untuk meratapi nasib, Alhamdulillah dia anak yang selalu bertawakal dan qanaah atas hasil yang diberikan Allah Azza Wa Jalla kepadanya, selain itu impian besarnya ada di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, dan dia masih memiliki kesempatan untuk meraihnya, namun dia juga berfikir realistis dengan mempersiapkan FK UII dan UMM sebagai double gardan. Hanya mungkin ada sedikit masalah di penjadwalan Tes yang diagendakan oleh FK Swasta ini, kami berusaha mengambil jadwal sebelum Sbmptn agar kesempatan diterima lebih besar daripada setelahnya, namun UMM melaksanakan sehari sebelum Sbmptn yaitu tanggal 7 Mei, padahal Sbmptn dilaksanakan 8 Mei (duh..), sedangkan UII sebelum Sbmptn terjadwal 29/04 yang mungkin akan bersamaan dengan UN kak Reva (kemungkinan ini masih bisa diatur), sebenarnya Reva sendiri memiliki beban target justru bukan pada Unas tapi PORKAB yang mengharuskannya latian setiap hari, jika kami harus ke Jogja, latian Reva libur sejenak, tapi tak apa, hidup memang harus memilih, dan kami akan memilih berdasarkan skala Prioritas yang paling penting. Semoga Allah Azza Wa Jalla senantiasa memberikan keridhoan-Nya untuk perjuangan kak Belva dan kak Reva dalam meraih impiannya..aamiin

Advertisements

2018 goals and wishes

“Although no one can go back and make a brand new start, anyone can start from now and make a brand new beginning.” —Carl Bard

Alhamdulillah wa Syukurillah, meninggal 2017 dan menyambut 2018 dengan sederet Resolusi baik itu berupa PR 2017 yang belum terselesaikan maupun tugas yang baru di 2018. Tahun ini merupakan tahun yang penuh perjuangan, dua anak perempuan kami Belva dan Reva akan menghadapi Ujian Nasional secara bersamaan, kak Belva menuju University sedangkan kak Reva akan memasuki jenjang Menengah Pertama. Selain itu kami juga akan segera melaunching bisnis terbaru yaitu “BABY DEA” yang seharusnya tahun 2017 harus mundur 2018, Insyaallah di awal tahun ini tepatnya 18-02-2018 akan segera Soft Opening.

Dan seperti tahun-tahun sebelumnya setiap awal tahun kami berusaha menuliskan Resolusi yang merupakan Purpose maupun Wishes agar hidup ada arah dan tujuan yang ingin di capai. Begitu pula anak-anak, kami ajarkan untuk menuliskan Resolusi dan Alhamdulillah mereka istiqomah mengerjakannya dan berusaha mencapainya. Untuk kami sendiri, tahun ini lebih fokus mendirikan usaha baru Baby Dea dan terus menerus mengembangkan Candela Tours and Travel juga tetap berusaha meningkatkan penjualan Dea Wijaya Toserba, melalui marketing yang inovatif yang setiap tahun kami lakukan pembaruan. Peningkatan Ibadah dan hidup lebih sehat menjadi fokus utama kami berdua. Traveling tahun ini masih akan menghiasi kehidupan kami, insyaallah di bulan February ada reward New Zealand dari SGM, juga ada reward dari Fitti yang seharusnya berangkat ke East Coast di bulan ini, namun Amerika sedang mengkhawatirkan keadaannya, mending dimundurkan dahulu jadwalnya untuk lebih fokus demi sekolah anak-anak. Sedangkan Adek Mika masih tentang upgrade kemandirian dan harus bisa berenang, jika memungkinkan naik kelas 4 nanti adek Mika bisa melaksanakan Sunat. Kak Belva dan Kak Reva berikhtiar dengan belajar terus menerus diiringi dengan tambahan ibadah sunah selain wajib demi mencari Ridho Allah Azza Wa Jalla untuk target, harapan dan impian kami dan anak-anak kami agar dapat tercapai dengan baik di tahun ini..aamin

Keberuntungan yang Setara

“Every child has a different learning style and pace. Each child is unique, not only capable of learning but also capable of succeeding.” – Robert John Meehan

Masih teringat setahun yang lalu, tepatnya bulan Oktober, saya mengantarkan Belva ke kantor Diknas untuk mengambil hadiah berupa uang rp.500,000 sebagai tambahan Piala juara 3 lomba Speech Contest di event Siedex (Sidoarjo Education Expo), pameran pendidikan yang diikuti oleh seluruh sekolah mulai jenjang dasar hingga atas di Kabupaten Sidoarjo. Dan di akhir tahun ini juga, bulan November, giliran mengantarkan Reva ke kantor Dispora untuk mengambil hadiah uang selain Medali Perunggu yang sudah dia peroleh sebelumnya, sebagai juara 3 panahan kelas 30 mt nasional di ajang Porlakab, sebesar rp.212,500. Alhamdulillah meski tidak sebanyak sang kakak, tapi Reva sangat bersyukur mendapatkan tambahan hadiah. Apakah perbedaan ini faktor Akademis vs Non Akademis, secara kasar dapat di katakan kecerdasan Otak lebih dihargai daripada kecerdasan Body atau karena faktor klasifikasi umur, karena Belva sudah SMA, sedangkan Reva masih SD, entahlah, yang pasti kami sangat bersyukur kepada Allah Azza Wa Jalla, karena amanah yang dititipkan kepada kami sangat membanggakan dan berprestasi di bidangnya masing-masing. Jika kali ini Reva beruntung di bidang Non Akademis bukan berarti secara Akademis dia kurang, sebenarnya Belva dan Reva memiliki kecerdasan yang 11 – 12, hanya saja Reva memiliki kesempatan mengembangkan kecerdasannya di bidang yang berbeda.

Kami memiliki 3 orang anak yang memiliki sifat, karakter dan tingkat kecerdasan yang berbeda-beda, Belva cenderung kutu buku, hobby belajar namun individual, Reva meski termasuk anak pintar di kelas namun dia kurang tekun belajar, dia lebih senang bermain dan bereksperimen, sedangkan Mika sebagai anak lelaki satu-satunya dia merasa sebagai raja di rumah, manja dan cara belajarnya musti di paksa, di kelas termasuk anak dengan prestasi rata-rata. Planing kedepan Reva dan Mika akan lebih berkonsentrasi di bidang non Akademis yaitu olahraga Panahan, sedangkan Belva masih terus berkutat dengan buku dan nilai-nilai Akademis demi meraih impiannya menjadi Dokter Anak. Kami selalu berdoa kepada Allah Azza Wa Jalla memohonkan “Keberuntungan yang Setara” untuk anak-anak, meskipun mereka memiliki karakter dan kecerdasan yang berbeda, kami percaya setiap anak dilahirkan dengan keunikan masing-masing, tinggal bagaimana kita mengarahkan mereka agar dapat terexplore kecerdasan dan kelebihan yang mereka punya sehingga berada di atas rata-rata dan sukses dibidangnya. Di dalam Al-Quran pun, kita selalu ditekankan agar menjadi manusia yang beruntung, yaitu manusia yang setiap harinya selalu lebih baik dari sebelumnya. Untuk itulah selalu doakan anak-anak, bukan semata supaya Pintar dan Shalih/Shalihah tapi juga memiliki Keberuntungan yang Setara antar saudara, agar di masa depan nanti tidak terjadi GAP kesuksesan yang terlalu dalam antar anak yang satu dengan yang lainnya, Insyaallah. Dan Semoga Allah Azza Wa Jalla senantiasa memberikan Ridho-Nya untuk keluarga kami tercinta..aamiin 😇

Reva’s Recurve dan Mika’s Compound

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berada di atas mimbar berkata: “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi. Ketahuilah bahwa kekuatan itu adalah memanah, ketahuilah bahwa kekuatan itu adalah memanah, ketahuilah bahwa kekuatan itu adalah memanah!”

(ABU DAUD – 2153)

Pagi ini Mika mulai berlatih panahan lagi di Club Paser, Club yang sama dengan kak Reva. Sejak kemarin sore sebenarnya, tapi karena hujan, belum juga puas terpaksa wasalam. Pagi ini maksa privat sama Coachnya untuk latian, padahal jadwal Coach untuk Club Paser hanya di hari Kamis dan Sabtu, sedangkan hari Minggu ke lapangan Lebo, sebagai tugas PNSnya (istilah saya saja ini..qkqkqk). Betapa semangatnya Mika, memang dari awal berdua, Reva dan Mika latian panahan bersama di Surabaya, tapi karena ada masalah KK mereka harus transfer ke Club Panahan di Sidoarjo agar lebih mudah mengikuti Turnamen antar daerah. Sejak kak Reva sibuk persiapan Porlakab hingga POR SD, Mika terpaksa di istirahatkan sementara waktu, fokus total ke kak Reva.

Hari ini selain latian, kami selaku orangtua di ajak rembukan masalah anak-anak dengan sang Coach, om Gatot dan om Yogi, dan mereka menyarankan Mika beralih ke Compound untuk menggantikan Standart Bow, karena posturnya yang besar, diharapkan power juga menunjang, juga karena kebutuhan atlet Compound untuk kabupaten Sidoarjo sangat minim. Untuk Reva sendiri tetap di Standart Bow untuk di upgrade ke Recurve, selain skill sudah bagus sayang kalo pindah ke Compound karena berbeda tehnik, padahal Reva sangat berminat di Compound, tapi kebutuhan atlet untuk Recurve juga masih minim, toh Reva diuntungkan dapat bermain di dua kategori Standart Bow maupun Recurve. Untuk Turnamen, kategori Standart Bow, hanya ada di skala Nasional saja, untuk Internasionalnya menggunakan Recurve. Perbedaan Recurve dan Standart Bow pada jarak bidik, untuk Recurve sama dengan Compound di atas 50 meter, dan alat panahnya mirip seperti Standart Bow, tapi dari besi seperti Compound dikarenakan jarak bidik yang jauh itu tadi. Berat hampir sama antara Recurve dan Compound, namun untuk kepraktisan lebih simple Compound, sedangkan harga keduanya hampir sama dengan harga sebuah Sepeda Motor..hiks. Inilah namanya Jer Basuki Mawa Bea, namun demi anak dan untuk mengisi kegiatan secara positif, juga sarana penggemblengan mental dan fisik, ya harus ditekati. Lagipula ini olahraga Sunah, semoga selain berolahraga dan mencetak Prestasi juga dapat menabung Pahala..aamiin (insyaallah).

“Sesungguhnya Allah akan memasukkan tiga orang ke dalam jannah karena satu anak panah, orang yang membuatnya dengan tujuan baik, orang yang melemparkannya dan orang yang menyiapkannya. Hendaklah kalian memanah dan berkuda, sedangkan memanah lebih aku sukai daripada berkuda.” (HR Tirmidzi, beliau mengatakan, hadits hasan shahih)

Team Archery Sidoarjo goes to POR SD 2017 di Kabupaten Lumajang

“I don’t focus on what I’m up against. I focus on my goals and I try to ignore the rest.” – Venus Williams.

Pagi ini Sabtu (11/11/2017) pk 08.00, kami mengantarkan Reva menuju Kantor Dispora, guna mengikuti event POR SD 2017 yang akan dilaksanakan di Kabupaten Lumajang selama satu minggu yaitu tanggal 13-18 November 2017. Event 2 tahunan ini merupakan ajang pencarian bibit – bibit atlet berprestasi di Jawa Timur. Tahun ini ada 11 cabang olahraga dan 1 cabang ekshibisi meliputi Cabor Atletik, Bola Voli Mini, Bulu Tangkis, Catur, Panahan, Pencak Silat, Renang, Senam, Sepak Takraw, Tenis Lapangan, Tenis Meja dan 1 Cabor Ekshibisi Selam. Reva bersama teman satu tim panahan yang berjumlah 19 dan akan diantar Bis bersama cabor yang lain. Ingin rasanya mengantarkan sendiri menuju Lumajang toh kami mengikuti Bis dari belakang, kami memang berencana akan menginap di Lumajang hingga acara pembukaan POR SD selesai digelar dan akan kembali lagi ke Lumajang saat Reva bertanding. Tim Panahan terdiri dari 19 anak, kategori Standart Bow Putra ada Izaz, Rizqi, Lucky dan Dheo sedangkan Standart Bow Putri ada Putri, Reva, Naura dan Nanda, untuk kategori Compound Putra ada Izaz, Rizqi, Rio dan Bimo, sedangkan Compound Putri hanya Jihan seorang, terakhir kategori Recurve Putra ada Brill, Gabriel, Abror dan Hasan, sedangkan Recurve Putri ada Alifvia, Marsha, Aliya dan Raisa.

Bis tiba di Lumajang sekitar pk 15.00 bersama-sama dengan Cabor lain menginap di Hotel Cantik. Hotel yang sangat sederhana cukup buat anak-anak untuk menginap selama seminggu. Kamar dengan tipe standart untuk berlima, tanpa air hangat, Alhamdulillah masih ada ACnya. Kami meminta extra bed, agar anak-anak bisa sedikit lebih lega untuk tidurnya, dan dijadwalkan secara bergantian untuk tidur sendiri di bawah dengan extra bed.

Reva mungkin sedikit shock dengan ketidaknyamanan ini, apalagi di rumah terbiasa tidur sendiri, ditambah dengan capek yang menumpuk, juga karena periodnya yang berkepanjangan, jadi pusing dan demam membuatnya semakin menderita. Setelah semalam hanya tidur 4 jam, dan coach menyatakan Reva sakit, Minggu pagi langsung kami jemput dan menginap semalam di hotel kami yang lebih manusiawi..hiks. Setelah sarapan pagi di hotel dan tidur cukup, siang hari Coach mengabarkan bahwa Reva harus segera meluncur ke Aula Wana Bhakti dimana sedang ada agenda pemeriksaan keabsahan dokumen Atlet, seperti Akte Kelahiran, Sekolah, Nisn dan Raport. Alhamdulillah kami datang tepat waktu, pemeriksan berjalan dengan lancar dan Reva mendapatkan kartu peserta POR SD.

Alhamdulillah meski banyak drama dengan masalah ketidaknyamanan hotel untuk Atlet, tapi kami selaku orangtua hanya berusaha menerima dengan ikhlas, mungkin Allah sedang memberikan kesempatan walau disertai dengan kesulitan, agar Reva banyak belajar baik tentang berbagi, berempati dan juga arti dari “Qana’ah”. Hari Senin pagi Reva kami antar ke Lapangan, dan dijadwalkan untuk Practice Day, hari dimana para Atlet Panahan mencoba lapangan juga pengecekan alat panah oleh Panitia Lomba. Setting Visir dan sebagainya harus fix hari ini sebagai bekal untuk pertandingan besok. Jadwal untuk Lomba sendiri, Selasa dan Rabu terscedul kategori Compound dan Recurve, sedangkan Standart Bow terjadwal di hari Kamis dan Jumat. Hari Senin siang ini kami berusaha “tega” melepaskan Reva sendiri bersama teman-teman Atletnya di hotel, kami berencana pulang ke rumah hari Selasa dan Rabu karena membagi perhatian dengan kakak dan adiknya juga karena ada pekerjaan yang harus dibereskan, lagipula selain Reva sedang tidak bertanding juga ada Wali Atlet yang bisa dititipi untuk memperhatikan anak-anak.

Hari Rabu malam kami sudah tiba kembali di Lumajang, untuk mensupport penuh kesayangan yang akan bertanding. O ya untuk kategori Compound dan Recurve tidak banyak yang bisa saya ceritakan, yang pasti semua Atlet kontingen Sidoarjo rontok tak bersisa..hiks. Malam ini kami sempatkan mampir hotel Reva untuk melihat keadaannya dan kesiapannya bertanding besok, kami berharap dia sudah sehat 100% karena 2 hari kedepan akan menjadi hari yang sangat berat buatnya.

Hari Kamis pagi pk 06.30 kami sudah tiba di Lapangan, ada beberapa kontingen yang sudah lengkap berada di sana, mereka ini yang penginapannya tidak jauh dari Lapangan, tapi lebih banyak kontingen yang belum tiba termasuk dari Sidoarjo. Pk 07.30 Atlet Sidoarjo berdatangan baik yang akan bertanding maupun yang kemarin bertanding semua hadir sebagai Supporter. Diawali dengan pemasangan perlengkapan Alat Panah maupun Atletnya, kemudian dilanjutkan pemanasan dan di akhiri dengan Doa bersama. Ada tambahan Atlet yang akan bertanding di Kategori Standart Bow ini untuk Putri, ada Marsha dan Alifvia, sedangkan Putra ada Abror dan Hasan, selain untuk memenuhi kuota juga kemungkinan memperluas peluang untuk menang.

Reva mendapatkan nomer urut Peserta 12B, dia berdampingan dengan Atlet Jember (12A) dan Atlet Madiun (12C), mereka bertiga membidik papan target yang sama. Cuaca masih cerah dan hawanya sangat bersahabat, walau perlahan mendungpun datang. Acara segera dimulai tepat pk 08.30 untuk latihan percobaan sebelum masuk ke pertandingan yaitu Standart Bow klasifikasi 40 mt. Tak seberapa lama Akung dan Ochi diantar adek saya datang juga untuk mensupport, dari jauh-jauh hari Akung sudah ngebet ingin menyaksikan langsung pertandingan Reva ini, beliau sangat bersemangat walaupun masih dalam pemulihan akibat Pemasangan Ring di Jantungnya. Seharusnya beliau berdua menginap semalam, berhubung hotel se-Kabupaten Lumajang Sold Out, beliau pun memutuskan untuk berangkat Subuh, kami saja terpaksa menginap di Losmen ala kadarnya sambil mencari hotel lagi untuk malam ini.

Pertandingan di mulai untuk Standart Bow Putri, setelah latian percobaan 2×6, acara di lanjutkan dengan scoring 6×6. Alhamdulillah setelah sport Jantung, hasil Reva sangat baik walau belum termasuk 10 besar, dia sudah nangkring di rangking ke 18 dari 83 peserta se Jawa Timur, dengan Score 210. Acara dilanjutkan Standart Bow Putra klasifikasi 40 mt. Mendung semakin menggelayut manja dan gerimispun datang. Akung dan Ochi memutuskan untuk pulang, kasian juga, cuaca semakin tidak bersahabat panas dingin tidak karuan.

Pertandingan dilanjutkan kembali untuk Standart Bow Putri klasifikasi 30 mt, lagi-lagi Reva berhasil nangkring di peringkat 18, dengan Score 243. Bahkan mengalahkan atlet dari Surabaya, yang nangkring di peringkat 22. Saat itu kebetulan mas Rizal pelatih Reva di Surabaya yang menjadi anggota Panitia sedang menempelkan hasil print out kualifikasi 30 mt sempat ngobrol bareng om Yogi, coach Reva sekarang di Sidoarjo. Mas Rizal, “wah Reva hebat tante, sudah berhasil mengalahkan Gita, tapi benarnya kalo tidak ada masalah KK, Reva ini atlet Surabaya, tidak akan saya berikan ke om Yogi, iya kan om?,” kami tertawa bersamaan. Sempat bertanya ke Reva, seandainya disuruh memilih antara kota kelahirannya dengan kota dimana dia tinggal sekarang, dia akan tetap memilih memperkuat team Sidoarjo, entahlah, Reva sendiri yang tau alasannya.

Klasifikasi dilanjut ke 20 mt, kali ini Score Reva terjun bebas, dia hanya sanggup nangkring di rangking 29. Memang sejak awal Reva sudah pesimis jika bermain di jarak 20 mt, dia merasa score tidak pernah bagus, walaupun secara total apa yang dihasilkan saat pertandingan POR SD ini melampaui scoring yang di lakukan tiap hari Minggu saat TC di Lebo kemarin. Namun Alhamdulillah Putri mencatatkan prestasi untuk klasifikasi 20 mt ini di rangking ke 3, sehingga Sidoarjo pecah telor di cabor Panahan dengan memperoleh satu medali Perunggu. Berhubung cuaca hujan dan menyebabkan acara molor, acara segera di akhiri menjelang Maghrib dengan hasil akhir, Putri (rank 8), Reva (rank 20) dan Nanda (rank 30) lanjut ke 1/16 final, sedangkan Marsha (rank 35), Naura (rank 36) dan Alifvia (rank 49) terpaksa gagal lolos babak kualifikasi. Sedangkan untuk Putra, hanya Izaz dan Rizqi yang kebetulan mendouble Compound, juga Lucky ikut lolos menuju 1/16 final, sedangkan yang lainnya berguguran.

Hari ini Jumat, scedule 1/16 hingga Final untuk perorangan digelar lebih awal, tepat pk 07.30 acara dimulai. Berdasarkan urutan rangking, Reva dipertemukan dengan atlet no 1 Bojonegoro yang berada di rangking 13, yang menurut perhitungan saya kekuatannya nyaris seimbang. Pertandingan aduan ini lumayan membuat sport Jantung, mereka berdua Reva dan Nurfazati bergantian mencatatkan poin, saling balas hingga berakhir Draw, dan kesempatan 1 x tambahan menembak sebanyak 3 x anak panah, dan Reva pun menyerah kalah. Raut sedih dan lunglai menghiasi wajahnya.

Kami tau dia terluka tapi berusaha tegar tanpa tangisan, berbeda dengan teman atletnya bahkan Rizqi yang notabene jam terbangnya tinggi dan laki-laki tanpa malu terus meneteskan airmata. Reva terkulai menahan rasa sakit fisik dan psikis,” Ma, aku pengen muntah, aku tidak enak badan,”. Saya langsung mengantarkan ke lapangan sebelah yang tak terpakai. Reva langsung muntah-muntah sambil menangis, “aku pengen di mobil Ma, aku tidak mau bertanding lagi, “. Naluri sebagai seorang Ibu, membuat saya galau memilih antara disiplin dan kasihsayang. Saya tidak tega melihatnya kesakitan karena terluka, disisi lain saya harus menanamkan arti dari kewajiban dan tanggungjawab. Reva tidak mungkin mundur dari pertandingan Standart Bow Beregu Putri, dia sudah ditunjuk, diberi tanggungjawab oleh Coach untuk maju Beregu antar Kontingen. Meskipun ada Nanda sebagai cadangan tetap Reva yang diutamakan. Untuk Putri sendiri juga harus menelan kekalahan di 1/8 final, harapan besar ada di Kelas Beregu sekarang.

Setelah saya obati sambil memotivasi, semangat Reva perlahan tumbuh kembali. Saya tekankan lagi, bahwa kami orangtuanya tidak pernah membebani untuk menjadi juara, kami hanya ingin Reva belajar mengambil tanggungjawab dan menyelesaikannya dengan baik, mendapatkan ilmu serta pengalaman yang ada tentu tak ternilai harganya. Reva turun dari mobil kembali ke Lapangan tak lama kemudian pertandingan Beregu dimulai.

Di dahului dengan latian percobaan dengan 2 x tembakan. Tembakan pertama Reva hancur lebur tak satupun mengenai target merah apalagi kuning, kami dan coach nya terus memberikan semangat. Pertandingan segera dimulai, tembakan pertama Reva mulai normal kembali, lanjut kedua Reva kian menemukan kekuatannya, dan tembakan ketiga Reva makin sempurna, Kabupaten Lumajang dipaksa bertekuk lutut dengan skor telak 6-0 untuk Sidoarjo, Alhamdulillah. Berhubung hari Jumat istirahat Ishoma menjadi lebih panjang karena ritual Jumatan. Saat ishoma inilah, ada tamu dari DPRD Sidoarjo entah komisi berapa, saya kurang paham sedang berkunjung. Apa yang mereka bicarakan dengan coach Yogi, saya juga tidak terlalu memperhatikannya, hanya dalam hati saya berharap kedepan Sarana Prasarana dan Fasilitas Pengembangan Atlet Sidoarjo dapat lebih diperhatikan kemudian diperbaiki dan terus ditingkatkan. Ishoma selesai dan pertandingan Standart Bow Beregu dilanjutkan kembali, Tim Putri Sidoarjo berhadapan dengan Kabupaten Bojonegoro, dan lagi-lagi dicukur habis dengan skor 6-0. Tim Putri Sidoarjo berhasil masuk Semifinal dan harus menghadapi lawan tangguh yaitu Kabupaten Malang, dan Sidoarjo menyerah kalah dengan skor 5-1. Berikutnya Sidoarjo masih harus berjuang berebut Perunggu melawan kota Malang dibawah guyuran hujan deras, dengan hasil Draw, tambah 1 x tembakan, skor masih sama, hanya selisih di point X (tembakan tepat ditengah target), kamipun kalah, sungguh sangat disayangkan, mengapa Putri yang biasa bermain cantik harus antiklimaks disaat genting..hiks. Allah Maha Besar belum mengijinkan Sidoarjo untuk menang, pasti ada hikmah dibalik semua kejadian. Kabupaten Sidoarjo belum beruntung untuk Beregu, Compound maupun Recurve namun sudah mendapat medali Perunggu untuk Standart Bow klasifikasi 20 mt, tapi tidak untuk Perorangan. Alhamdulillah, masih banyak hal yang perlu disyukuri selain Tim Beregu Putri berhasil meraih peringkat ke 4, walaupun kontingen kami tidak dijagokan, dan yang terpenting adalah Reva banyak belajar bagaimana cara “Berdamai dengan keadaan”, di saat dia jatuh tetap dia harus bisa bangkit kembali,Don’t stop when you’re tired, stop when you’re done. Menjadi Atlet ditempa tidak hanya soal Fisik tapi juga Mental, bagaimana menjaga semangat Sportivitas dapat terus menyala.

Selesai sudah POR SD, Alhamdulillah Allah Azza Wa Jalla telah menghadiahkan kesempatan buat kak Reva mengikuti event yang prestisius ini, padahal belum pernah sekalipun mengikuti turnamen, dan hasilnya sangat membanggakan baik orangtua, Club maupun kabupaten Sidoarjo yang menempatkannya sebagai Atlet no 2 Standart Bow Putri. Banyak pengalaman dan pelajaran berharga yang dapat diambil sebagai bekal untuk Turnamen selanjutnya. Kita jelang POPDA di jenjang SMP ya kak Reva, tetap semangat berlatih, tambah terus jam terbangmu dan jangan mudah menyerah, insyallah kesuksesan segera menghampirimu 🏹🎯 👧

“Life is a fight, and in that fight it doesn’t matter how hard you hit or how well you fight. What matters is how hard you can get hit and keep on fighting”.

Sidoarjo Bisa Menang!!!

“Gold medals aren’t really made of gold. They’re made of sweat, determination, and a hard- to-find alloy called guts.” – Dan Gable

Hari ini Jumat (10/11/2017) pk 13.00, terjadwal pelepasan kontingen Sidoarjo dalam acara POR SD dilaksanakan di pendopo Kabupaten oleh bapak Bupati H. Saiful Ilah, SH, M.Hum, setelah melalui rangkaian TC (training center/pemusatan latian), hampir satu bulan dan berakhir hari Kamis kemarin.

Hampir dua minggu kak Reva tidak sekolah, setelah dua minggu sebelumnya juga harus break sebelum jam sekolah berakhir, Alhamdulillahnya jadwal sekolah, seminggu adalah UAT yang berakhir pk 13.00, sedangkan latian TC mulai pk 14.00 hingga Maghrib, seminggu kemudian jadwal Remidial, kak Reva Alhamdulillah tanpa remidi dan bersamaan jadwal TC pk 09.00 hingga Maghrib, jelas tidak bisa sekolah. Setiap Minggu selalu ada jadwal Scoring, 3 x Scoring kak Reva menempati peringkat 2 dan 3 untuk total seluruh kelas yaitu 20m, 30m dan 40m, Alhamdulillah hasil yang membanggakan, mengingat selama ini tidak aktif latihan.

Ada rasa berat meninggalkan sekolah hampir 3 minggu, namun sejauh ini sekolah memang support kegiatan POR SD ini apalagi di tingkat Provinsi, even yang sangat bergengsi, karena nama sekolah ikut promosi gratis. Beberapa kali komunikasi dengan ustadzah kelas kak Reva dan so far hanya ada tanggungan produk yang belum terselesaikan sehingga raport belum bisa diserahkan ke orangtua tepat waktu.

Kak Reva mulai dapat menyesuaikan diri dengan ritme latian yang lumayan berat, semakin lama semakin enjoy dan mencintai olahraga Sunnah ini. Kegalauannya tentang sekolah juga semakin berkurang, apalagi berkali-kali Coach menekankan untuk fokus dengan latian, jangan terlalu kepikiran sekolah, karena Jalur Prestasi sebagai “Golden Ticket” sudah pasti ditangan, tinggal tunjuk saja Sekolah mana yang di mau. Namun kami sepakat Reva masih akan melanjutkan jenjang SMP di SMPI Raudlatul Jannah dengan harapan mendapatkan Beasiswa melalui jalur Non Akademis, ya semoga saja..aamiin

Diakhir TC menjelang pertandingan, bapak Satuman sebagai wakil dari Disporapar yang mengawal cabor Panahan ini memberikan wejangan kepada para wali Atlit untuk dapat dengan legawa menerima semua fasilitas dari Kabupaten baik itu seragam yang berupa tas, sepatu, kaos, training, jaket juga berupa uang ganti lelah TC dan Turnamen besok, bagaimanapun anak-anak sudah diberi kesempatan mendapatkan ilmu juga mengikuti pertandingan bergengsi tingkat provinsi yang tidak semua anak mendapatkannya. Saya pribadi sangat memahami kondisi bangsa ini, yang namanya Atlit memang tidak bisa dijadikan profesi, karena tidak di openi, selain ada batas umur yang relatif pendek juga. Namun kak Reva diuntungkan oleh keadaan, Alhamdulillah kami sebagai orangtua sudah menyiapkan bekal bagi anak-anak kami sebuah perusahaan yang insyaallah dapat diwariskan, bahkan seluruh keluarga support dengan kecintaannya pada olahraga panahan ini, kalaupun Allah memberikan takdir sebagai Atlit, setelah pensiun dia bisa menjadi pelatih dan buka toko olahraga. Pernah kak Reva bertanya, “Ma, apakah tidak ada pelatih panahan perempuan?, kan lebih enak kalo sesama perempuan,”. Jadikan itu motivasi mu nak, suatu saat kamu harus bisa mengisi kekurangan itu, panahan adalah olahraga sunnah Nabi, kamu bisa menjadikannya lebih Syar’i dengan membuka club panahan khusus perempuan, Insyaallah.

Melanjutkan cerita tentang Pelepasan Kontingen Sidoarjo ini, acara di mulai pk 13.00 di Pendopo Dalem, sayangnya berbarengan dengan Demo buruh yang mengambil momen Hari Pahlawan, jalanan rame dan macet, banyak polisi berjaga-jaga disekitaran alun-alun Pendopo. Anak-anak masuk kedalam Pendopo Delta Wibawa sementara kami wali atlit tidak diperkenankan masuk ke dalam. Setelah selesai acara mohon doa restu bapak Bupati, acara dilanjutkan ke Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata untuk mengikuti arahan keberangkatan ke Lumajang besok Sabtu (11/11), Alhamdulillah ternyata anak-anak juga mendapatkan uang saku sebesar rp 600.000, betapa senang hati mereka, walaupun kalau dibandingkan orangtuanya yang habis-habisan mbandani Panahan ini, cuma seujung kuku..huhuhu. Melihat begitu semangatnya kak Reva dan teman-teman untuk menyambut Pertandingan besok di Lumajang, para orangtua juga ikut semangat. Apapun hasilnya, kalian sudah menjalani prosesnya dengan baik, kami bangga Nak. Dan semoga Allah memberikan hasil terbaik yang di Ridhoi-Nya..aamiin

Akademis vs Non Akademis

“I have a dream that my four little children will one day live in a nation where they will not be judged by the color of their skin, but by the content of their character”.
Martin Luther King, Jr

Danica Najaah Syareefa, anak nomer 2 (si tengah) ini secara fisik dan pembawaan memang berbeda dari kedua saudaranya. Kulitnya lebih coklat, lincah dan pemberani, sekolah juga lebih awal, dia mengikuti sekolah sejak jenjang Toodler (dibawah Playgroup). Reva nickname-nya, sempat dipanggil Naya saat Toodler dan Playgroup, sejak TK berubah menjadi Reva, agar ear catching dengan sang kakak Belva. Reva memiliki adek saat masih berusia 3th, membuatnya mandiri lebih dini dari sang kakak. Sejak kehadiran adek Mika, dialah yang membantu Mama untuk ikut momong, dibanding kak Belva yang lebih egois, mungkin karena faktor umur yang agak jauh dan hobby nya yang doyan belajar dan membaca membuatnya lebih sibuk dengan dirinya sendiri.

Sejak kecil Reva sangat menyenangi alam, terutama binatang, hobby menunggang kuda, berfoto dengan banyak burung bahkan memegang bayi singa di Taman Safari. Kebiasaan menunggang kuda hingga saat ini masih sering dia lakukan. Untuk urusan keberanian, Reva lebih unggul, naik sepeda sejak TK, bisa berenang juga mulai kelas 1, maen sepatu roda, flying fox, roller coaster, apapun yang uji nyali dia memang merasa tertantang. Sejak umur 7th dia ingin les Panahan, tapi karena belum diperbolehkan, akhirnya kami alihkan ke les Musik, namun hanya bertahan hingga kelas 3 saja. Kelas 5 mulai kembali ke Panahan. Ketiga anak kami tidak ada yang mengikuti Les Akademis, kami sebagai orangtua sepakat tidak terlalu mempermasalahkan nilai di sekolah, secukupnya saja, namun jika anak-anak berprestasi di sekolah, itu namanya bonus, Alhamdulillah. Kami lebih menyukai mereka untuk mengambil Les Non Akademis, pelajaran cukup dari sekolah, jangan sampai waktu habis hanya untuk urusan Akademis saja. Belva dan Reva kami arahkan ke Musik, hingga detik ini meski mereka tidak sempat lagi untuk les, namun diwaktu senggang dan ingin relax mereka sempatkan bermain Piano atau Keyboard, bahkan main musik ini Reva dan Belva membuahkan beberapa piala, bahkan saat SMP, kak Belva beberapa kali diminta mengiringi acara tertentu juga Wisuda. Bagaimanapun kemampuan menjalani kehidupan mendatang bukan hanya Nilai Akademis saja yang berperan, Life Skill lebih akan membantu mereka untuk Survive demi masa depannya. Kami pribadi, baik Mama maupun Papanya merupakan mantan siswa dengan klasifikasi biasa-biasa saja, untuk itulah kami tidak menuntut anak-anak secara berlebihan untuk nilai Akademisnya, tapi kemandirian dan tanggungjawab serta disiplin itu juga harus ditempa sejak dini. Alhamdulillah sejauh ini, jika terpaksa kami tidak bisa menemani misalnya harus keluar kota atau keluar negeri, mereka sudah terbiasa Mandiri. Dengan Les Non Akademis, mereka juga memiliki tambahan Skill, selain itu dengan Reva menjadi Atlet dia akan ditempa dengan tekanan lebih, harapannya dia akan lebih kuat menghadapi tantangan kehidupan di masa depan.

Melihat hasil sidik jari kak Belva kemarin, membuat rasa penasaran semakin besar terhadap kedua adeknya dan ternyata benar, hasil Tes Sidik Jari Reva memperlihatkan perbedaan dengan kedua saudaranya, jadi selain fisik ternyata Sidik Jaripun tak sama. Meski alat ukur bakat dan potensi bernama Fingers Print Test ini masih dianggap Pseudoscience tapi hasilnya memiliki kemiripan yang sangat tinggi. Reva cenderung dominan Otak Kiri, dan gaya belajarnya Audiotori, berbeda dengan Belva dan Mika yang dominan Otak Kanan dengan gaya belajar Visual. Sedangkan untuk kecerdasan majemuk Reva, 4 tertinggi adalah Logis Matematis, Naturalis, Body Kinestetik dan Spiritualis, berbeda dengan kak Belva, yaitu kecerdasan Intrapersonal, Interpersonal, Verbal Linguistik dan Body Kinestetik, kemudian adek Mika, memiliki kecerdasan di Interpersonal, Intrapersonal, Visual Spasial dan Verbal Linguistik. Jika di lihat dari olahraga Panahan ini ke 4 aspek kecerdasan kak Reva tersebut akan dapat terexplore maximal, cara skoring (menjumlahkan hasil tembakan anak panah), olahraga di lapangan outdoor, dan spiritualis ini hubungannya dengan sunah Nabi Muhammad SAW, semoga saja Allah Azza Wa Jalla memberikan Ridho-Nya untuk Reva kedepan, jika memang suatu saat takdir membawanya menjadi Atlet Panahan, semoga dia bisa semaximal mungkin membuat harum Nama Bangsa dan Negara..aamiin.

Saat ini yang menjadi ganjalan adalah sejak Reva masuk menjadi salah satu atlet Panahan untuk mewakili Kabupaten di acara POR SD di Lumajang, Reva terpaksa setiap hari meminta dispensasi pulang lebih awal, mulai 18/10 hingga 10/11. Reva harus mengikuti TC (training center/pemusatan latihan) di lapangan Pengcab Perpani Sidoarjo setiap hari pk 14.00 padahal sekolah selesai pk 15.30 apalagi Reva sebagai siswa kelas 6 yang juga anggota TPDS terbiasa pulang paling cepat pk 16.00. Beban itu terlalu berat untuk Reva, apalagi jika jadi berangkat ke Lumajang mengikuti POR SD, Reva harus sanggup meninggalkan sekolah hingga 6 hari. Reva galau ya Allah, bagaimana dia mengejar ketertinggalan materi, walaupun pihak Kecamatan maupun Kabupaten siap menjamin kelangsungan sekolah Reva melalui Jalur Prestasi, tetap Reva pusing memikirkan nilai-nilai yang selama ini dia perjuangkan. Beban Reva tidak cuma tentang dirinya, nama besar sang kakak juga ikut membayangi kesuksesannya, bagaimana tidak, secara tidak sadar guru-guru di sekolah sering membandingkan Reva dengan Belva. Target-target Reva di sekolahpun ingin berusaha menyaingi bahkan mengungguli sang kakak. Namun sekali lagi Hidup adalah Pilihan, Reva harus memilih salah satu antara jalur Akademis atau Non Akademis, tidak bisa keduanya karena tidak akan maximal, kami sebagai orangtua akan support sepenuhnya pilihan anak-anak kami. Termasuk kedepan jenjang SMP akan kami wacanakan Home Schooling, agar lebih flexible mengatur waktu. Yach, apapun itu kami harus berunding lebih dalam lagi, semoga Allah Azza Wa Jalla meridhoi upaya terbaik demi anak-anak kami di masa depan..aamiin