Medali Perunggu Cabor Panahan untuk Kecamatan Waru

The most important thing I’ve learned about archery is that there is only one archer in the race, and that’s me.”

Alhamdulillah, hari Sabtu (13/10) adalah hari yang sangat menegangkan sekaligus menggembirakan dan merupakan titik awal Reva meraih salah satu prestasi besarnya, yaitu kemenangannya di Porlakab Cabang Olahraga Panahan di kelas 30meter, dengan perolehan 1 medali Perunggu. Medali Perunggu ini salah satu penyumbang untuk Kecamatan Waru di acara Porlakab, yang diadakan oleh Dispora Kabupaten Sidoarjo dalam seminggu ini. Mulai hari Senin pembukaan yang berlangsung hingga Jumat, kecamatan Waru belum satupun Cabang yang menorehkan prestasi, Alhamdulillah Reva memecahkan telor meski hanya Medali Perunggu namun wakil dari pihak Kecamatan sangat bahagia dan mengapresiasi dan terus memotivasi Reva untuk berprestasi mengharumkan Kecamatan Waru. Selain Kecamatan Waru, tentu saja pihak Sekolah Islam Raudlatul Jannah yang ikut berperan menunjuk Reva sebagai salah satu wakil sekolah ikut serta dalam ajang Porlakab turut bergembira, karena dari wakil Sekolah hanya Reva satu-satunya yang berhasil mempersembahkan Medali, begitupula Club Paser yang dalam 3 hari saja melatih Reva juga sangat gembira dengan hasil yang menakjubkan. Sebagai Orangtua tentu saja kamilah yang paling berbahagia, tidak ada satupun target yang kami bebankan kepada Reva, karena kami tau diri Reva terpaksa vakum cukup lama di kelas 6 ini, namun dengan 3x saja berlatih dapat membawa 1 medali, Masyaallah sama sekali diluar dugaan, dan Alhamdulillah lagi-lagi Allah Azza Wa Jalla memberikan rahmat dan karunia-Nya.

Acara Porlakab diadakan di lapangan Lebo dan diagendakan selama 2 hari Jumat dan Sabtu pk 07.00 hingga selesai, jika hari Jumat lomba dapat di selesaikan, maka Sabtu tidak ada kegiatan lanjutan. Reva telah siap untuk sarapan pk 05.00, begitu semangat dan tanpa keluhan, padahal Rabu dan Kamis pk 14.00 hingga maghrib dia terus berlatih untuk menghadapi Porlakab. Tepat pk 06.00 kami berangkat sembari mengantar kak Belva sekolah dan memang dalam satu jurusan. Alhamdulillah pk 06.45 kami telah sampai di Lapangan Lebo, dan hanya terlihat satu petugas Porlakab yang tidak tau menahu tentang acara Panahan, beliau hanya dititipi sebentar oleh pihak panitia, oh baiklah. Anak-anak terbiasa disiplin dengan waktu, walau terkadang orangtuanya sampai harus kepontal-pontal mengikuti mereka, karena kami hafal tipikal orang Indonesia itu jam karet, kecuali Sekolah Raudhatul Jannah yang selalu ontime dengan agenda yang diadakan, mungkin itu yang mendidik anak-anak kami untuk disiplin dengan waktu. Pk 07.30 peserta mulai berdatangan kemudian langsung pemanasan dan tepat pk 08.00 acara panahan dimulai.

Porlakab kali ini diikuti oleh 12 anak laki-laki dan 12 anak perempuan dari 6 kecamatan, antara lain, Waru, Taman, Candi, Wonoayu, Krian dan Sidoarjo kota. Tiap kecamatan bebas untuk mengirimkan berapapun wakilnya, dan kecamatan Waru mengirimkan 6 anak laki dan 5 anak perempuan dan merupakan kecamatan dengan wakil terbanyak, maklum kecamatan Waru ini besar sekali wilayahnya, dibandingkan dengan Krian yang mengirimkan wakil hanya 1 anak perempuan dan kebetulan teman 1 club dengan Reva. Acara lomba Cabor Panahan dibuka oleh bapak Agung, selaku wakil dari Dispora Sidoarjo sekaligus yang memberikan aturan pertandingannya. Kelas panahan dibagi 3, yaitu 40mt, 30mt dan 20mt, untuk semua peserta dengan Stardart Bow melakukan Tembakan sebanyak 6x dan masing-masing melepas 6pc anak panah. Sedangkan 50mt untuk peserta dengan Compound Bow dengan jumlah Tembakan yang sama. Hasil Skor dari Reva sendiri untuk kelas 40mt dengan skor 88 berada di urutan no 5, kelas 30mt dengan skor 156 berada di urutan ke 3 dan terakhir kelas 20mt dengan skor 210 berada di urutan 4. Alhamdulillah untuk semua hasil yang diperoleh Reva, dengan persaingan yang demikian ketat dan latihan yang hanya 3x saja, masih ada Medali yang dapat di persembahkan. Dari deretan pemenang Cabor Panahan ini dapat dilihat urutan 1 dan 2 adalah anak-anak yang sama, sehingga bisa dibuat catatan bahwa kaderisasi atlit Panahan di daerah sangat kurang, selain Panahan adalah olahraga mahal, ekslusivitas membuat olahraga ini jarang diminati, apalagi Pemerintah juga tidak support sama sekali, kondisi lapangan tingkat Kabupaten saja, tampilannya mengenaskan, bahkan info dari ibu dari putra pemenang Emas di 3 kelas, untuk ngopeni lapangan saja harus sumbangan mandiri dari anak didik pengcab Sidoarjo (btw putra beliau sudah latian selama 2 tahun dan memiliki jam terbang yang tinggi, bahkan beberapa kali sudah mendapatkan emas, gitu kq masuk kategori pemula ya..hiks). Itulah mengapa Reva terpaksa ikut Club (swastanya) agar sarana prasarana juga ikut support dan membuat dia nyaman dan semangat mengikuti latian, tapi ya itu tadi harus kuat pendanaan dari orangtua. Jer Basuki Mawa Bea.

Dengan Medali Perunggu ini Reva akan mengikuti TC (training center) guna persiapan ajang tingkat Provinsi mewakili Sidoarjo, dan menurut pak Agung sebagai penanggungjawab Cabor Panahan diawal tadi, yang mengikuti TC adalah peserta dengan skor 1-4 teratas, dan belum tentu yang juara 1 atau 2 yang terkirim karena masih harus melihat hasil TC. Semangat ya Kak Reva, Medali Perunggu pertama yang kamu peroleh semoga menjadi motivasi untuk berprestasi lebih banyak lagi, selalu giat berlatih, jangan mudah putus asa dan jaga ibadah dengan benar dimanapun berada. Semoga Allah Azza Wa Jalla senantiasa meRidhoi cita-cita dan impianmu dimasa mendatang..aamiin

Advertisements

Reva Siap Mengikuti Porlakab

“Some say LIVE, LAUGH, LOVE…but we say RAISE, AIM, SHOOT”

Alhamdulillah, meski sempat terjadi polemik tentang lomba Panahan ini, kesepakatan itu akhirnya tercapai juga. Yach, Coach Reva di sekolah sama sekali tidak cawe-cawe melatih Reva, namun jika Reva membawa salah satu Piala, bukan pelatih Perpani yang harum namanya tapi Coach Eskul Panahan dan Sekolah, itulah yang membuat Pelatih dari Perpani Surabaya merasa tidak dihargai. Sebagai jalan keluar Reva yang selama ini terdaftar sebagai member Perpani Surabaya harus dipindahkan ke Pengcab Sidoarjo terlebih dahulu karena berdasarkan KK dan letak sekolah, kemudian masuk sebagai anggota Club “Paser” dibawah naungan Pengcab Sidoarjo, dengan begitu Reva akan di latih pihak Perpani Sidoarjo dan dipersiapkan lebih banyak untuk even Panahan kota Sidoarjo. Reva mulai berlatih hari Sabtu (07/10) sedangkan jadwal lomba akan di adakan hari Jumat dan Sabtu (13/10-14/10), dan Reva harus bermain di kelas 20m, 30m, 40m, padahal selama ini Reva masih bermain di 10-20m, modal nekad ini namanya, apalagi Reva sempat vakum latian karena sudah kelas 6, karena harus berkonsentrasi menjemput UNAS. Namun karena sekolah memberikan tugas negara, yang mana kesempatan tidak datang dua kali, maka Reva pun siap menerima tantangan tersebut. Memang persiapan UNAS wajib dilakukan tapi bukan berarti mengorbankan hobby yang saat ini tengah ditekuni kak Reva yaitu Panahan, toh masih bisa membagi waktu dengan baik. Tapi saat menghadapi lomba seperti ini, jadwal latihan Reva terpaksa mengganggu jadwal Sekolah juga, karena mepetnya jadwal pertandingan terpaksa latihan harus dikebut. Jika pulang sekolah resmi terjadwal pk 16.00, terpaksa pk 14.00 harus ijin pulang untuk latihan, belum lagi hari Jumat jadwal lomba Panahan pk 07.00 sampai selesai. Semoga saja tampilan Reva tidak terlalu mengecewakan, walaupun tidak menang. Kami sendiri sebagai orangtua tidak mentargetkan Reva harus menang, yang terpenting Reva dapat belajar bagaimana proses yang harus di lalui serta mengambil ilmu dan pengalaman yang ada. Toh, ini lomba Panahan yang pertama kali Reva ikuti, jadi target menang adalah nomer sekian.

Sebenarnya pihak Perpani masih ada ganjalan tentang Coach di Sekolah, namun sambil jalan akan diselesaikan dengan win-win solution. Bagaimanapun besok saat lomba, pelatih club “Paser” (pak Yogi) yang akan mendampingi Reva bukan Coach dari Sekolah. Semua ada hikmahnya, kembali lagi olahraga Panahan saat ini sudah tidak bisa dibuat ekslusif lagi, Perpani harus mau bekerjasama dengan baik dengan pihak Sekolah, selain mereka juga akan diuntungkan dengan jasa marketing gratisan, secara otomatislah siswa yang mencintai panahan akan mendorong orangtua mereka untuk mendukung agar siswa tersebut dapat bergabung dengan Club Panahan, jumlah member yang semakin besar, kesempatan mengkader atlit juga semakin luas, bibit-bibit baru akan bermunculan untuk siap mengharumkan nama bangsa di kancah Internasional. Semoga ^^

Pemasangan Ring yang Kedua

Alhamdulillah, siang ini barusaja Ayah kembali ke kamar semula, setelah selama 2 malam berada di ICU. Perjuangan berat itu telah dilalui dengan keringat, darah dan airmata, bagaimana tidak, 2 biji Ring ini seharusnya lebih mudah dari yang pertama kemarin, tapi kenyataannya tidak. Ayah mulai masuk RS Siloam pada hari Rabu (04/10/17), kemudian terjadwal Kamis untuk operasi pemasangan Ring. Sedari Kamis pagi, pk 08.00 Ayah masuk CathLab hanya boleh didampingi oleh Ibu, sedangkan saya dan kakak menunggu di luar. Start pk 10.00 Ayah mulai di operasi, tetiba Ibu keluar dan menyuruh saya masuk untuk menemani setelah melihat suster berlarian kesana kemari bergantian keluar dari ruang operasi, ibu mulai tidak tenang, raut muka kecemasan tergambar dengan jelas, beliau berucap, “sepertinya Ayahmu ada masalah,” saya hanya sanggup menenangkan Ibu dengan mengaji dan istighfar sembari mengelus tangan dan punggung beliau. Ya Allah, berilah kesempatan Ayah untuk membereskan apa yang belum diselesaikan. Setelah hampir 2,5 jam, dr. Yudhi pun keluar, dengan raut muka lelah bercampur cemas, beliau memanggil saya, “Mbak, tolong kesini ya, saya jelaskan keadaan Ayah mbak, ini tadi kesulitannya saat di pasang Ring adalah tiba-tiba banyak gumpalan darah yang menghalangi masuknya Ring”. Kemudian beliau melanjutkan dengan berpesan agar kami setiap saat siap, karena ada ketidakberesan yang lain di salah satu pembuluh kecil di Jantung Ayah, jika terjadi komplikasi atau kram, beliau tidak bisa berbuat apa-apa, beliau menambahkan, di pembuluh kecil ini tidak bisa di pasang Ring maupun Bypass hanya melalui Obat tengah di upayakan menumbuhkan pembuluh-pembuluh baru sebagai jalan alternatif darah mengalir normal di Jantung, tapi beliau tidak bisa menggaransi tingkat keberhasilannya. Saya pun tidak sanggup menahan jatuhnya Air Mata, sedangkan Ibu justru lebih tegar.

Selanjutnya badan Ayah dibersihkan setelah operasi kemudian dipindahkan ke ICU, karena kondisi masih sangat lemah dan cenderung Drop. Bagaimana tidak drop, operasi berlangsung cukup lama, dilakukan dengan kondisi sadar, Ayah mendengar dengan jelas kepanikan yang terjadi saat operasi berlangsung, beliau berucap setengah menahan airmata dan rasa sakit, “kamu hampir kehilangan Ayah nduk, Ayah merasa sudah akan diambil Allah, semua gelap, kaki sudah terasa dingin, Ayah kedinginan tapi sangat berkeringat, juga tidak bisa bernafas, Ayah teriak, dokter kembalikan saya, Ayah melihat dengan jelas dr. Yudhi panik dan menyuruh asisten dokter dan suster bergantian mengambil obat, Ayah rasanya tidak sanggup, dokter cuma nyuruh Ayah bertahan dan berdoa, hingga operasi selesai”. Saya hanya berusaha menahan airmata dan terus menciumi Ayah, dalam hati bersyukur, Terimakasih ya Allah, Engkau memberi kesempatan buat Ayah untuk bertaubat lebih lama. Tak lama suster memanggil saya untuk menjelaskan adanya obat-obatan yang ditambahkan selama operasi berlangsung yang tidak tercover oleh BPJS, dimana dr. Yudhi terpaksa mengambil keputusan tanpa menanyakan kepada keluarga pasien akan mahalnya obat. Yach, bagaimana mungkin bertanya dulu sedang keselamatan Ayah ada diujung tanduk, berapapun harganya jelas akan kami bayar, demi keselamatan Ayah. Awalnya dr. Yudhi menyarankan pindah Rumah Sakit karena masalah financial, Siloam lebih murah daripada Graha Amerta, namun ujungnya akan tetap sama karena ada tambahan “Bom” sebagai usaha menyelamatkan Ayah. Alhamdulillah semua fase kritis telah dilewati oleh Ayah, insyaallah besok sudah boleh pulang.

Laa ba’saa thohuurun In syaa Allah, Syafakallah Ayah..aamiin

42th Mine and 17th Ours

I love my age. At my age and place in life, I feel less worried about what people think of me, more confident in my decisions, and more understanding of myself. I am more tolerant of the differences of others in opinions and lifestyles, and I have less need to prove anything to the world. I notice the beauty in so many more things as I’ve aged, and I love that feeling. Alhamdulillah 🙏

Alhamdulillah Sabtu (30/09/2017) bertepatan dengan 10 Muharram, saya masih diberi kesempatan oleh Allah Azza Wa Jalla untuk memasuki umur ke 42 tahun. Usia yang sudah cukup matang untuk memiliki ilmu yang lebih banyak dalam memilih keputusan yang terbaik dan lebih peduli dengan sekitar. Masih banyak harapan yang ingin diwujudkan di umur 42 tahun ini, antara lain lebih taat dan patuh kepada Allah dan Rasul-Nya, terus menerus mengabdi dan membahagiakan orangtua, berbakti kepada suami lebih baik lagi, memberi tauladan terbaik dan membersamai anak-anak, membimbing karyawan dengan lebih sabar, membuka lapangan pekerjaan lebih luas sebagai ladang dakwah dan mewujudkan satu persatu mimpi-mimpi menjadi kenyataan. Intinya usia bertambah, umur berkurang selama Allah masih memberi waktu untuk kita berjuang menjadi lebih baik maka jangan tunda, bersegeralah.

[Allahumma tawwil ‘umurana fi ta’atika wa ta’ati rasulika waj’alna min ‘ibadikas salihina..aamiin]

[01/10/00 – 01/10/17]
A happy marriage is about three things. Memories of togetherness, forgiveness of mistakes and a promise of never give up on each other 💑💞

Dan Alhamdulillah pada tanggal 01/10/2017 ini bertepatan dengan hari Kesaktian Pancasila, pernikahan kami juga memasuki tahun ke 17. Terimakasih ya Allah, 17 tahun pernikahan kami telah berjalan dengan bahagia, walaupun bukan berarti tanpa ujian, tantangan dan hambatan. Di setiap pernikahan pasti ada permasalahan, dan fase-fase berat badai pernikahan itu telah berhasil kami lalui berdua dengan tetap berpegangan tangan erat hingga terhindar dari perceraian. Ingin mengingat sejenak cerita singkat pertemuan dengan papanya anak-anak (hanya ingin mengingat memori indah), sejak masih SMP hingga Kuliah waktu banyak dipergunakan untuk membantu Ibu mengelola toko, dulu saat SMP masih berupa toko kecil di garasi, menginjak kuliah, orangtua sudah mempercayakan toko besar sekelas minimarket bernama “Dea Wijaya” kepada anak beliau yang nomer 2 ini. Alhamdulillah dengan ilmu yang sedikit namun semakin lama semakin bertambah, saya dapat mengendalikan perusahaan dengan baik. Dengan kondisi saya masih kuliah sekaligus bekerja, tentu masa muda saya kurang diisi dengan masa muda yang “bersenang-senang” termasuk hal pacaran. Namun saya yakin Allah Azza Wa Jalla telah menuliskan jodoh saya di Lauh Mahfudz dengan jodoh yang terbaik. Saya hanya fokus berbakti dan membahagiakan orangtua dan memperbanyak ibadah hingga nanti saatnya tiba, jodoh itupun akan datang. Di akhir semester 6 saya di pertemukan dengan calon pasangan hidup melalui telepon nyasar. Sebenarnya bukan “nyasar, berdasarkan cerita pak Suami ini beliau saat itu sedang suntuk dengan UAS, kemudian iseng membuka Yellow Pages untuk coba-coba berhadiah, siapa tau dapat kenalan, karena Dea Wijaya terpasang nomer telpon atas nama saya, dia mencoba memberanikan diri untuk menelepon (gokil nih orang). Singkat cerita Ibu saya tiba-tiba memanggil, “En, ada telpon,”. Kemudian di seberang sana terdengar suara, “aku Indra, yang waktu itu kenalan saat nonton basket”, jiaahhhh, mana ada teman saya namanya Indra, dan saya tidak suka basket, kemudian percakapan berlangsung, walaupun cukup aneh tapi entahlah, rasa penasaran ini begitu besar. Acara telpon menelpon kami lakukan hampir 2 minggu tanpa tau bagaimana bentuk fisik masing-masing, yang pasti dia bernama Agung, mahasiswa semester 8 di universitas Airlangga, dan saya sendiri mahasiswi semester 6 universitas Surabaya, tapi entahlah kami merasa nyaman satu sama lain, benar-benar kuasa Allah. Hari yang telah kami sepakati untuk bertemu telah tiba, dagdigdugser pastinya, Alhamdulillah lancar juga pertemuan kami dan cukup akrab kami berbincang, ketika melihatnya untuk pertama kali, hati ini langsung berkata insyallah ini jodoh saya. Dalam setahun perjalanan kami berdua, saya pun dilamar, hal ini karena menunggu hubby lulus dari kuliahnya, disambung setahun kemudian kami menikah. Tiga buah hati kami telah lahir di tahun 2001 (Belva), 2006 (Reva) dan yang paling bontot 2009 (Mika). Alhamdulillah, terimakasih ya Allah atas segala Rahmat dan Karunia-Mu yang Engkau berikan untuk keluarga kami, semoga di tahun-tahun kedepan kami semakin kompak dalam memperjuangkan mimpi-mimpi kami dan anak-anak hingga mereka menjadi anak-anak Qurrota A’yun yang Shalih dan Shalihah yang kelak sebagai Khalifah di bumi yang berpegang teguh pada Syareat-Mu dan Sunnah Nabi-Mu, bermanfaat bagi umat sekaligus berguna bagi Nusa dan Bangsa..aamiin.

Robbana hablana min azwajina wa dzurriyyatina qurrota a’yun, wa ja’alna lil muttaqina imaama..aamiin 🙏

Danica Reva dan TPDS

“Discipline is based on pride, on meticulous attention to details, and on mutual respect and confidence. Discipline must be a habit so ingrained that it is stronger than the excitement of the goal or the fear of failure”.

Alhamdulillah memasuki kelas 6 di jenjang SD ini, kak Reva mendapatkan kepercayaan sebagai anggota TPDS (tim penegak disiplin sekolah). Tim ini dibentuk sebagai penegak disiplin di lingkungan sekolah, mulai dari masuk sekolah hingga pulang sekolah, mereka ditunjuk langsung oleh teman-teman satu kelas, dan tiap kelas menunjuk 2 orang, mulai dari kelas 3 hingga kelas 6. Menjadi anggota TPDS ini merupakan impian buat kak Reva sedari dulu, dan baru terwujud di kelas 6 ini. Batapa bahagia dan bangganya kak Reva, dia akan segera mengenakan kostum TPDS ini dalam waktu dekat.

“Apa kak Rev tidak takut akan punya banyak musuh??,” tanya saya. “Enggaklah Ma, aku sudah siap kq, teman ku yang pernah di TPDS juga berpesan hal yang sama, katanya hati-hati nanti banyak yang gak suka, tapi aku akan hati-hati Ma, aku hanya ingin menjalankan kewajiban sebagai anggota TPDS sebaik mungkin,” jawab kak Reva. Alhamdulillah, kak Reva ini dari kecil memang Fearless dibanding kedua saudara yang lain. Dia tidak secantik dan secemerlang kak Belva, dia hanya sanggup di lima besar, berbeda dengan kak Belva yang selalu jadi jawara. Namun Reva juga cukup membanggakan dengan selalu terpilih untuk mendapatkan “Student Profiles” di tiap jenjangnya, antara lain Taqwa, Independent, Responsibility, dan Creative Innovative. Saking mandirinya sejak kelas 1 SD dia sudah naik sepeda ke sekolah, sedangkan kak Belva baru kelas 3 SD, apalagi adek Mika dia lebih memilih jalan kaki, dan akhirnya kak Reva memilih berjalan kaki menemani adeknya ke sekolah, selain itu karena lahan parkir sepeda di sekolah yang kurang memadai, kurang luas dengan jumlah siswa yang bertambah banyak. Kak Reva juga terpilih sebagai ketua ekstra kurikuler “Panahan” (dia terpilih karena berhasil mengalahkan lawan-lawannya termasuk siswa laki-laki), dan dalam waktu dekat dia akan tampil dalam acara pentas seni tahunan sekolah untuk mewakili sekaligus mempromosikan eskul Panahan, yang memang jarang sekali siswa perempuan yang berminat.

Anak-anak sedari kecil saya biasakan untuk selalu terbuka tentang apasaja, hingga jika terjadi hal-hal yang tidak baik di sekolah, misal bullying, si mama ini akan paling dulu mengetahui dan segera mencari solusi. Sejak dari kelas 5 hingga 6 SD ini kak Reva sering bercerita jika teman-temannya mulai saling tertarik antar lawan jenis, bahkan ada beberapa yang berani Surat-Suratan (Astaghfirullah ini sekolah agama lho ya, apalagi sekolah negeri), anak dari orangtua kategori alim pun bisa terkena virus buruk ini, sebenarnya manusiawi sekali hal ini terjadi pada anak-anak yang mulai memasuki akil baligh, mulai zaman saya sekolah SD dulu juga sudah ada, yang menjadi beban berat tanggungjawab sekolah, apalagi jika orangtua pasrah bongkokan. Alhamdulillah kalo anak-anak kami lebih fokus dalam belajar dan tidak ada drama-dramaan.

Pada awal tahun ajaran baru ini (2017/2018), sekolah membuat kebijakan baru yaitu memisahkan antara siswa laki-laki dan perempuan mulai kelas 4 karena adanya kasus seperti diatas, harapannya dapat mengurangi bahkan menghilangkan virus tersebut. Gosip pemisahan kelas beredar kencang saat libur awal Ramadhan kemarin, saat kembali sekolah menjelang Lebaran saya ingin bertabayun untuk mengetahui secara pasti tentang kebijakan baru tersebut. Ustadzah Lisya selaku wakil kepala sekolah bidang kesiswaan menemui saya dan mencoba berdialog, menurut beliau kebijakan ini sudah lama apalagi ada kasus pacar-pacaran tersebut serta desakan sebagian wali murid. Saya mencoba mendebat, mengapa jika hanya beberapa siswa melakukan kesalahan, siswa yang lain juga harus menerima hukuman berupa kebijakan tersebut, istilahnya beberapa tikus mengobrak-abrik lumbung padi namun justru lumbung padi nya yang di bakar. Sekolah Islam ini berbeda konsep dengan Pesantren yang benar-benar terpisah, pertimbangan kami sendiri menyekolahkan anak-anak ke sekolah Islam ini karena moderat, yang mana mereka masih SD dan masih harus belajar tentang dua jenis kelamin serta bagaimana bargaul sesuai syariat. Menurut saya pribadi, justru saat SD, selain memberikan teori juga cara penerapannya secara langsung, mungkin kalo sudah jenjang SMP beda lagi (untuk jenjang SMP juga diberlakukan kebijakan pemisahan kelas). Selain kesulitan pembagian kuota kelas karena pemisahannya bukan sejak kelas 1, juga resiko nilai UN yang dipertaruhkan, bayangkan saja kelas siswa lebih padat daripada kelas siswi, padahal mereka lebih heboh di kelas, dalam hal ini saya lebih beruntung karena masuk kelas siswa perempuan yang anteng. Pendapat kak Reva sendiri, dia juga tidak setuju dengan kebijakan baru ini, tanpa siswa laki-laki kelas bakal membosankan, karena anak laki itu lucu-lucu, beda dengan anak perempuan yang lebih senang geng-gengan, semacam popular girls, dan obrolannya sok dewasa. Yach sudahlah, kita lihat saja nanti, padahal sih justru dengan pemisahan ini, siswa-siswi yang bermasalah semakin “kepo”, apalagi kantin dalam posisi yang tidak syari, malah jadi tempat janjian, tempat sholat di masjid yang dipisah saja masih intip-intipan, lhah disini tugas dan tanggungjawab kak Reva semakin bertambah besar, dia sebagai anggota TPDS wajib mencatat pelanggaran yang terjadi di sekolah, beserta nama pelanggarnya tentu saja. Tetap semangat yang kak, insyaallah menjadi ladang jihad dan pahala yang besar buat mu..aamiin

Dua biji Ring telah terpasang di Jantung Ayah

Sepulang dari Umroh, dua bulan lalu, Ayah sering mengeluh tentang dadanya yang sakit hingga tembus ke belakang diiringi sesak yang lumayan membuat molet tidak karuan. Padahal sebelum berangkat Umroh hanya masalah kaki saja seperti Ibu, keduanya memang telah terlanjur mendaftarkan diri untuk Umroh, disaat kaki mulai tidak kompromi, namun Alhamdulillah semua kewajiban Umroh lancar terselesaikan. Tiba di tanah air justru masalah dada sakit yang terus mengganggu aktivitas Ayah. Pada akhirnya Ibu memaksa Ayah untuk segera ke Spesialis Jantung, untuk mengetahui apakah Jantung Ayah, baik-baik saja. Ternyata cukup sekali periksa di RS Mitra Keluarga, dokter langsung memaksa untuk Kateterisasi karena mencurigai ada permasalahan pada pembuluh Jantung Ayah.

Kateterisasi dilaksanakan di RS Polda Mayangkara, karena Ayah masih memiliki Askes (BPJS) yang dapat digunakan, biayanya pun dapat ditekan, kata beliau, eman karena gaji tiap bulan sudah dipotong. Setelah seminggu hasil pemeriksaan telah keluar, ada 4 tempat yang terganggu, dua tempat pembuluh sebelah kanan dan dua tempat sebelah kiri. Dan yang terparah ada satu tempat yang buntu hampir 99% dan itu wajib segera diambil tindakan. Dokter memberikan alternatif untuk memilih Pasang Ring atau ByPass. Namun karena kondisi yang 99% itu cukup mengkhawatirkan, apapun pilihannya, tetap akan ada persiapan untuk ByPass.

Ibu memutuskan untuk mencoba Pasang Ring saja terlebih dulu, mengingat usia Ayah yang sudah mulai senja, ketakutan akan efek dari operasi besar yang memakan waktu hingga 10 jam, karena harus membongkar tulang rusuk, tentu masa Recovery sangat riskan dan lama. Sedangkan pasang Ring, prosedur sama dengan Kateterisasi yaitu memasukkan semacam alat melalui alat kelamin menuju Jantung dan kemudian dipasangkan Ring didaerah yang buntu tersebut.

Operasi Pasang Ring maupun ByPass adalah operasi dengan biaya yang tidak murah, kami harus siapkan ratusan juta, namun karena Ayah memiliki BPJS biaya dapat ditekan dengan “syarat dan ketentuan berlaku”. Pertama, Ayah tidak bisa menggunakan fasilitas BPJS di RS Polda Mayangkara, karena tentu dalam sebulan, setelah pemeriksaan Kateterisasi kemarin tidak ada fasilitas operasi lagi hingga 3 bulan ke depan, padahal Ibu sudah sangat ngotot agar Ayah segera di operasi. Kedua, kami harus mencari alternatif RS yang lain, namun klas BPJS harus di Upgrade agar dapat menanggung biaya operasi sekitar 50% saja. Alhamdulillah kami mendapatkan di Graha Amerta walau dengan sedikit perjuangan. Karena BPJS Ayah kelas 1 harus di upgrade ke kelas VVIP, minimal VIP, jika ruang VVIP sudah full book.

Operasi Ayah terjadwal Rabu (16/08), berarti Selasa sudah harus masuk kamar. Senin pagi, Ayah dan Ibu sudah mulai hunting kamar, kenyataannya Senin semua ruangan di VVIP dan VIP RS Graha Amerta masih full, menurut info dari IDIK (Kardiovaskuler) ada alternatif di ruang Nusa Indah, di bagian IRD RS Dr Soetomo. Senin malam giliran saya dan pak Suami hunting kamar, ternyata Graha Amerta juga masih penuh, kami disarankan datang kembali Selasa pagi, langsung saja kami menuju IRD Dr Soetomo untuk melihat lokasi ruangan VIP Nusa Indah sebagai alternatif pengganti. Kedua Rumah Sakit ini sebenarnya bersebelahan, tapi untuk berjalan rasanya kq awang-awangen jauhnya, akhirnya kami keluar dari Graha menuju IRD, pak Suami sudah ilfill sesaat masuk gerbang IRD untuk parkir, waktu sudah menunjukkan pk 11.00, namun banyak orang masih keleleran duduk, tidur, checkin dsb. Kami jalan di sepanjang lorong sambil merasa ngeri-ngeri sedap. Duh..jauh amat jalannya, akhirnya kami pun sampai di ruang Nusa Indah, dan lagi-lagi full, disarankan besok pagi kembali lagi.

Selasa pagi ini (15/08), saya menelepon customer care RS Graha Amerta untuk menanyakan kamar yang telah saya pesan senin malam, Alhamdulillah meski VVIP masih full, terdapat kamar VIP yang kosong, kami pun segera berangkat beserta Ayah dan Ibu. Alhamdulillah Ayah bisa masuk kamar hari Selasa, jika tidak, operasi akan di skedul ulang.

Rabu pagi (16/08) tepat pukul 10.00 Ayah telah bersiap di ruang IDIK untuk menjalankan operasi pasang ring, saya, ibu dan mas didik menemani Ayah di luar ruangan operasi. Waktu demi waktu berjalan, sembari menunggu, saya dan Ibu sepakat membaca surat Yassin dan Al Mulk, demi keselamatan, kemudahan dan kelancaran proses pemasangan ring di pembuluh jantung Ayah. Tak terasa hampir 2 jam kami menunggu, asisten dokter kemudian memanggil Ibu untuk mengabarkan bahwa operasi Ayah telah selesai, beliau dalam keadaan sadar (ternyata hanya bius lokal) dan akan segera di pindahkan ke ruang ICU guna di observasi untuk semalam. Menurut dokter kesulitannya cukup tinggi, sehingga hanya terpasang 2 ring, Alhamdulillah yang buntu hampir 99% dapat dipasang ring tanpa harus Bypass, dan untuk operasi selanjutnya adalah memasang ring di pembuluh yang buntunya sekitar 70%. Operasi sendiri paling cepat di lakukan seminggu kemudian apabila menggunakan jalur umum dan sebulan dengan BPJS. Kalo Ayah boleh memilih, beliau tidak mau pasang lagi, lebih memilih minum obat dan jaga pola makan, beliau tidak betah di RS juga tidak nyaman dengan operasinya, maklum seumur-umur, namanya opname baru kemarin Kateterisasi dan kedua operasi pasang ring ini.

Kamis pagi ini (17/08) bertepatan dengan ulang tahun kemerdekaan RI yang ke 72 tahun, Ayah diijinkan pulang, padahal hari itu tanggal merah, biasanya admin libur, namun Alhamdulillah inilah arti Merdeka bagi kami, selain Ayah yang cerewet minta segera pulang, Ibu juga terlihat sangat lelah sudah menenmani Ayah selama 3 hari 2 malam, saya juga lelah karena riwa-riwi rumah dan RS yang jauhnya lumayan. Alhamdulillah ya Allah, segala puji syukur kami panjatkan, operasi tahap pertama telah Ayah lalui dengan baik, untuk pemasangan 2 ring berikutnya semoga terlaksana dengan baik dan sukses juga, kami senantiasa memohon kepadaMu untuk memberikan kesehatan bagi Ayah dan Ibu, juga untuk kami sekeluarga..aamiin

“Allahumma rabbanasi adzhibil ba’sa wasy fihu. Wa antas Syaafi, laa syifaa-a illa syifaauka, syifaa-an laa yughadiru saqomaa” “Ya Allah, Rabb manusia, hilangkanlah kesusahan dan berilah dia kesembuhan, Engkau Zat Yang Maha Menyembuhkan. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit lain” (HR Bukhari dan Muslim)

CV. Candela Semesta

Alhamdulillah, pada tanggal 7/08/2017 (bertepatan dengan ulangtahun Ayah) Candela Tours dan Travel telah resmi beroperasi secara Soft Opening, artinya masih belum gas poll, istilahnya “Warming Up”. Seperti yang saya ceritakan dalam tulisan-tulisan saya kemarin, kami sebagai orangtua hanya ingin berusaha menyiapkan yang terbaik untuk anak-anak kami kelak mereka dewasa, salah satunya berupa Property, selain yang paling utama pendidikan terbaik tentunya. Melihat Ruko yang dibiarkan kosong atau disewakan ke orang lain, hanya sebagai tabungan koq sayang ya, darah entrepreneur kami tidak rela rasanya.

Latar Belakang pendirian CV Candela Semesta yang membawahi usaha Candela Tours dan Travel juga Candela Courier Service ini sebenarnya obsesi pak Suami yang sejak dulu ingin memiliki usaha Travel dan Ekspedisi semacam “Rosalia Indah” (yang kebetulan kantornya di wilayah Sidoarjo dekat dengan Dea Wijaya). Selain itu Dea Wijaya Online yang semakin menjanjikan, dengan memiliki ekspedisi sendiri, harapannya kami dapat mengerjakan dea online dari hulu hingga hilir secara mandiri, baik itu dea online (website/aplikasi), toped dan bukalapak, sayang shopee tidak memiliki option wahana, jadi jika ada pesanan dari shopee tetap menggunakan ekspedisi yang lain. Dea Online telah memiliki armada sendiri namun masih menjangkau wilayah Surabaya dan Sidoarjo saja, untuk pengiriman ke kota yang lain, kami akan mulai buka option hanya melalui Wahana. Dan untuk travel sendiri, sejak kami memiliki kesempatan traveling hingga ke luar negeri, traveling menjadi hobby baru kami. Hobby yang menghasilkan tentunya sangat menyenangkan. Candela Tours dan Travel telah memiliki Tour Planner yang siap membantu memberikan paket Wisata yang dapat di sesuaikan dengan Budget yang ada. Pak Hasan namanya, beliau adalah tour planner kami, yang biasa mengawal Reward Tour Tahunan anak-anak Dea Wijaya, kami kerja bareng sekarang dan Alhamdulillah, Senin 14/08/17 ini Ace Hardware telah deal untuk memakai jasa kami untuk Reward Tahunan Karyawan berwisata ke Pulau Menjangan, awal yang sangat baik.

Candela Semesta sendiri diambil dari nama belakang anak lelaki kami “Mikail Barraq Candela”, Candela adalah Candle-Lilin yang memiliki sifat menerangi, dan Semesta berarti universal, seluruh dunia, semuanya. Ada Doa kami disana, semoga kelak perusahaan ini dapat berkembang besar, dapat memberi lapangan pekerjaan bagi saudara muslim yang kurang beruntung, dapat mengirim barang hingga keluar negeri (worldwide shipping) dengan brand sendiri, dapat mengantarkan banyak orang menikmati keindahan alam ke pelosok negeri hingga ke seluruh dunia. Dan suatu saat nanti Candela Semesta harus bisa menyusul kesuksesan bahkan lebih besar daripada Rosalia Indah. Semoga Allah senantiasa memberikan Ridho-Nya atas segala usaha yang kami upayakan dan impian yang tengah kami perjuangkan..aamiin