Victoria Harbour  – Victoria Peak – Madame Tussaud, (Fitti Reward – HK part 2)

“The use of traveling is to regulate imagination with reality, and instead of thinking of how things may be, see them as they are.” – Samuel Johnson

Alhamdulillah, pagi ini (16/02) terbangun dengan menggigil hebat, dinginnya sangat tidak masuk akal, mungkin sekitar 8°C, bagaimana bisa mandi kalo begini, cuci muka adalah cara yang paling tepat, seharusnya (tentu tidak, harus mandi!). Setelah mandi dan berpakaian berlapis-lapis dilanjutkan mengambil selimut untuk menghangatkan badan. Hotel bintang macam apa ini, punya Heater tapi tidak berfungsi sama sekali (tuh kan, mengomel lagi, sejak semalam malah), alhasil tidurpun kurang nyenyak. Kami lanjut sarapan menuju ruang makan hotel, bingung melihat makanan tidak ada kejelasan, menu tertulis dalam bahasa Cina. Mencoba bertanya pada karyawan hotel dengan bahasa inggris yang termudah,”No Pork??,”. Dia lanjut menunjukkan kepada kami, telur rebus dan kami berdua tertawa, baiklah, mari makan telur rebus tambah garam, plus minum kopi tentunya tidak ingin perjalanan kami nanti akan terganggu sakit kepala karena belum tersentuh kafein. Selesai sarapan telur rebus kami segera ke Lobi, di depan sudah menunggu guide kami, si Charles, ontime sekali dan kami bertiga segera berangkat. Menggunakan kendaraan semacam L-300, kami menuju destinasi pertama yaitu Victoria Harbour dan sekitarnya.

A.VICTORIA HARBOUR

Sampailah kami di Victoria Harbour, Charles bilang kalo ke HK tidak foto disini itu tidak afdol, karena Victoria Harbour ini Icon yang sangat penting bagi negara HK. So, berlama-lamalah kami buat jeprat-jepret sepuasnya. Victoria Harbour itu sendiri adalah landmark pelabuhan alami yang terletak di antara Kowloon dan pulau Hong Kong, memiliki perairan yang terlindungi dan berlokasi strategis di Laut China Selatan yang berperan dalam pembentukan Hong Kong sebagai koloni Inggris dan selanjutnya sebagai pusat perdagangan. Sepanjang sejarahnya, di Victoria Harbour ini banyak dilakukan proyek reklamasi hingga menimbulkan kontroversi dalam beberapa tahun terakhir, seperti masalah lingkungan, dari segi kualitas air dan hilangnya habitat alami (hal yang sama terjadi di negara tercinta, iya kalo HK memang butuh reklamasi karena lahan yang terbatas tidak dapat menampung pertumbuhan penduduk dan perekonomian, sedangkan Indonesia, luas sekali, sangat tidak dibutuhkan reklamasi). Meskipun demikian Victoria Harbour masih mempertahankan peranannya sebagai pelabuhan untuk ribuan kapal internasional setiap tahun. Terkenal karena pemandangan spektakulernya, seperti yang kita tau pelabuhan merupakan objek wisata utama Hong Kong. Terpesona kami berdua melihat bangunan Pencakar langit yang begitu cantik, harmonis dan sangat spektakuler. Kebetulan saat kami disana kapal-kapal sedang bergantian berlayar, ada kapal ferri, kapal barang dll.

Victoria Harbour terletak di tengah-tengah wilayah perkotaan yang padat, Victoria Harbour juga terkenal di dunia karena tampilan dramatis panorama malamnya, terutama arah menuju Pulau Hong Kong di mana gedung pencakar langit yang terletak di atas bukit. Tempat terbaik untuk melihat pelabuhan adalah di puncak Victoria Peak, atau dari Pusat Kebudayaan daerah Tsim Sha Tsui di sisi Kowloon. Dan kamipun singgah sebentar di gedung pusat Kebudayaan tersebut, juga mampir ke Clock Tower (Jam Raksasa yang menyerupai Big Ben di negara Inggris sebagai perwujudan koloni), masih dalam satu lokasi, terdapat Hotel yang melegenda bernama Peninsula, yang sangat terkenal sebagai tempat singgah aktor dan aktris Hollywood. Selain itu pemerintah HK terus berupaya demi meningkatkan popularitas pelabuhan sebagai lokasi wisata, dengan memperkenalkan acara yang dijuluki A Symphony of Lights. Terdapat juga, icon baru Avenue of Stars, yang dibangun di sepanjang luar WTC di Tsim Sha Tsui, yang diserupakan Hollywood Walk of Fame, untuk menghormati orang yang paling terkenal industri film Hong Kong telah dihasilkan selama dekade terakhir. Sayangnya ketika kami kesana, Avenue of Star sedang dalam proyek renovasi..huhuhu (nangis geru-geru). Setelah menikmati kota Hongkong dari sisi Kowloon, berikutnya kami akan menuju Victoria Peak untuk melihat keindahan Hong Kong dari ketinggian.

B. Victoria Peak

Sepanjang perjalanan menuju Victoria Peak, kami melihat HK dari sisi yang berbeda. Charles menunjukkan rumah-rumah rakyat berupa apartemen kumuh, semacam rusun jika di Indonesia. Benar ternyata, ketimpangan ekonomi merupakan hasil negatif dari kemajuan industri dan perdagangan suatu negara.

Kota ini memiliki pendapatan per kapita yang tinggi namun mengalami ketimpangan ekonomi yang parah. Keterbatasan lahan menyebabkan infrastrukturnya padat dengan arsitektur modern, menjadikan Hong Kong sebagai kota paling vertikal di dunia. Hong Kong juga memiliki jaringan transportasi umum yang sangat baik, dan 90% penduduk menggunakan transportasi massal, baik kereta maupun bus. Sejauh mata memandang yang terlihat hanya transportasi masal berupa Bis dan MRT yang sangat cantik dan super Modern, jarang sekali mobil pribadi apalagi motor, transaksi tidak lagi menggunakan uang tunai namun menggunakan kartu berlangganan.

Sampailah kami di Stasiun Peak Tram, segera kami mengantri untuk naik ke Victoria Peak. The Peak Tower menggabungkan stasiun atas dari Peak Tram, kereta api digerakkan dengan kabel yang membawa penumpang naik dari Katedral St John di distrik Hong Kong’s Central. Kereta ini sangat cantik dan interior khas HK yang begitu indah, selain menikmati interior, kami juga menikmati pemandangan alam di sekitar Victoria Peak yang MasyaAllah Indahnya. Kereta naik begitu Curam, lebih dari 45°, ngeri-ngeri sedap pokoknya. Victoria Peak merupakan sebuah gunung di bagian barat Pulau Hong Kong. Dengan ketinggian 552 m (1.811 kaki) dan merupakan gunung tertinggi di pulau Hong Kong. Puncaknya ditempati oleh fasilitas telekomunikasi radio dan tertutup untuk umum. Namun, daerah sekitarnya dari taman umum dan wilayah perumahan yang nilai jual yang sangat fantastis, dan daerah tersebut terkenal dengan “The Peak”. Ini merupakan daya tarik wisata utama yang menawarkan pemandangan Central, Victoria Harbour, Lamma Island dan pulau-pulau sekitarnya.

Ada beberapa restoran di Victoria Peak, yang sebagian besar terletak di dua pusat perbelanjaan. Mampir sejenak untuk berbelanja, kami melihat salah satu tenan yaitu HardRock Cafe, seperti biasa kami membeli koleksi Stick Drum, Magnet kulkas versi Hong Kong, dan saya mencoba mencari sweater namun tidak menemukan yang berupa motif bordiran yang ada hanya sablon yang tentunya gampang pudar. Perjalanan kami lanjutkan menuju Madame Tussaud yang masih berada dalam kesatuan wilayah di Victoria Peak.

C. MADAME TUSSAUDS

Setelah puas berfoto ria di ketinggian (the Peak), kami melanjutkan perjalanan menuju Madame Tussauds yang masih satu kompleks dengan Victoria Peak. Jalan menuju ke Madame Tussauds melalui deretan penjual cinderamata khas Victoria Peak dan HK, membuat kami kebelet belanja, namun Charles melarang, karena kami harus masuk ke Madame Tussaud lebih dulu, sekeluarnya dari sana akan ada lagi deretan penjual cinderamata, bahkan lebih banyak kata Charles.

Setelah Charles membeli tiket, dia pun mempersilahkan kami untuk masuk sendiri, dia ijin tidak ikut karena mungkin dia tidak diberikan budget untuk ikut, jadi dia menunggu diluar, sampai kami selesai. Madame Tussauds Hong Kong sendiri merupakan cabang dari museum lilin terkenal yang didirikan oleh Marie Tussaud Perancis, terletak di Peak Tower di Pulau Hong Kong di Hong Kong. Ini adalah museum pertama Madame Tussauds di Asia, yang dibuka tahun 2000, lainnya adalah cabang Shanghai, yang dibuka pada tahun 2006 dan cabang ketiga di Singapura yang dibuka pada tahun 2014. Cabang Hong Kong mengkoleksi hampir 100 lilin. Angka-angka lilin yang ditampilkan dalam berbagai pengaturan bertema seperti Hong Kong Glamour, Musik Ikon, Sejarah dan Pahlawan Nasional, The Champions dan World Premiere.

Memasuki Madame Tussaud kami bertemu dengan patung lilin Jacky Chan yang berbayar, artinya kalo mau berfoto harus bayar, setelah difoto petugas dapat kita ambil di pintu keluar, hal yang sama berlaku untuk foto Presiden Obama, entah kenapa mereka berdua saja yang berbayar, padahal yang lain gratis (tanda-tanda kemalan..hahaha). Lanjut mengexplore isi Madame Tussaud, patung lilin begitu sempurna, mirip sekali dengan aslinya, setelah melewati para aktor dan aktris Hollywood, lanjut aktor-aktris Mandarin, jelas saya cuma hafal yang jadul, seperti Andy Lau dan Aaron Kwok, lanjut bertemu Edward Cullen (duh, kalo yang ini foto sampai 1000x), Robert Pattinson (walau sekarang tidak mengidolakannya lagi..hiks), lanjut kepala negara, kemudian sastrawan, ilmuwan, penyanyi, karakter film sebagai penutup. Pokoknya foto-foto sampai kemeng tangan dan kaki, selain lumayan luas, musti ambil angle terbaik dan pengaturan kamera yang super ribet (di dalam museum, lampu redup) bikin gak selesai-selesai (huh..dasar perfectionist). Keluar dari museum Charles telah menunggu, kemudian segera kami memborong cinderamata di sekitaran the Peak lanjut menuju Jumbo Kindom, the famous one Resto, yang ada disekitaran the Peak juga. Resto ini sering dipake sebagai properti film Mandarin, letaknya yang terapung dan untuk mencapainya harus menaiki kapal, sungguh mempesona. Sekali lagi Charles hanya memesankan makanan siang buat kami, dan tentunya makanan non Pork, tapi entahlah ada menu Pork atau tidak karena kami juga tidak membaca menu yang ada di Resto ini. Dan yang pasti kami lapar sekali, makan sekenyang-kenyangnya, kalo bisa disimpan di tembolok saking lezatnya makanan resto ini, selain udang, kepiting, duh menu seafood yang menggoda iman. Alhamdulillah kenyang, semoga makanan ini halalan toyiban..aamiin. Perjalanan City Tour hari ini selesai, tiba di hotel masih sore, masih bisa sholat dan beristirahat.

D. TSIM SHA TSUI

Selepas maghrib, hubby mengajak jalan-jalan, dia penasaran dengan A Symphony of Lights, yang sudah kami browsing sebelumnya sesaat sebelum berangkat ke HK. Orang ini ya, nekad banget kq, terus mau naik apa, kalo tersesat bagaimana?? (saya memang tipikal tidak suka resiko, berbeda dengan hubby yang sangat menyukai tantangan). Kalo naik bis harus punya kartu, begitu juga kalo naik MTR, naik taxi pasti mahal. “Wes pokoknya jalan-jalan Ma, sekalian cari makan, kemarin kan sudah Ladies Market sekarang ke Tsim Sha Tsui ya?, naik taxi saja gpp, ayolah yang penting siapin GPS” hubby berusaha meyakinkan saya. Sebelum taxi kami panggil, kami mencoba jalan-jalan mencari toko mainan terdekat, sebagai oleh-oleh buat kesayangan di rumah. Sempat masuk ke toko mainan yang berada di lantai atas suatu ruko yang tidak tampak kalo ada pusat toko mainan terbesar di Mongkok. Setelah lift terbuka baru kami melihat begitu banyak toko-toko mainan semacam grosiran, dengan harga yang sangat miring dibanding toko mainan di luaran, entah produk KW atau black market. Sayangnya pesanan adek tidak kami temukan, segera kami putuskan keluar dari sana. Memanggil taxi dan memberitahukan pada taxi, kemana tujuan kami, fatal sopir taxi sama sekali tidak paham dengan maksud kami (logat kami jelas terdengar abnormal, memang tidak paham bagaimana melafalkannya), akhirnya sopir taxi yang kali ketiga memahami maksud kami setelah kami tunjukan Gps dan diubahnya sendiri dalam bahasa Mandarin, Alhamdulillah.

Sopir taxi segera meluncur dengan kecepatan maximal, jantung kami berdegup kencang, jangan-jangan dia Rio Heriyanto sedang menyamar (..hahaha), duh..sumpah, gila ini sopir, bisa ugal-ugalan dijalan, padahal mobil jadul, percis seperti di film-film mandarin, taxi berwarna merah, tapi mesin masih enak banget, kata hubby menggunakan bahan bakar BBG bukan bensin tapi gas. Sampailah kami di Mall terdekat dengan pemandangan laut di Victoria Harbour, tempat dimana A Symphony of Light akan dinyalakan. Hingga malam tiba belum ada tanda-tanda, lampu dan lagu akan dinyalakan, ahh..teringat akan memori di Niagara, sekali lagi kami belum beruntung untuk menikmati keindahan itu. Kemudian kami memilih berjalan-jalan didalam Mall, dan mampir ke Toys r Us sembari mencarikan pesanan adek Mika, Alhamdulillah dapat juga. Lanjut ke toko Buku untuk mencarikan pesanan kak Belva, ternyata lebih keren Periplus, Indonesia, karena lebih lengkap. Kak Reva tidak memesan apa-apa, terserah katanya, dan dia akan menerima dengan senang hati, hasilnya memang tidak dibelikan, di Indonesia saja, bisa memilih sendiri dan tidak kalah juga dengan di HK.

Perut mulai keroncongan, setelah thawaf mengelilingi Mall, terlihatlah oleh kami tenant KFC, Alhamdulillah dapat menemukan makanan sejuta umat, walau tidak berSHI, namun sedikitpun kami tidak menemukan menu Pork disana, Bismillah sajalah. Selesai membungkus kami beredar dulu diluaran Mall, dijalanan Tsim Sha Tsui yang menurut kami mirip dengan Times Square, walau versi HK bukan disini tapi dilain tempat (menurut tulisan travel bloger yang pernah saya baca). Merk-merk Dunia berjejer rapi disana, terus siapa yang mau beli ya, saat itu saja kami melihat begitu sepi tanpa ada pembeli, mungkin karena bukan weekend. Setelah kaki pegal, taxi pun kami panggil, ajaibnya sopir taxi menolak dan menyarankan kami untuk menyebrang dan menaiki taxi disana. Baik banget bapak taxi ini, sesuai GPS memang arah kami kesana lebih dekat kalo naik taxi bapak yang tadi justru harus memutar jelas bayar lebih mahal (..MasyaAllah). Sesampainya di hotel segera kami makan, terlupa jika satu porsi nasi tak sanggup mengenyangkan hubby, maka ditambahkanlah mi Cup lagi. Alhamdulillah kenyang dan saatnya beristirahat. Besok City Tournya kelas berat, semoga malam ini nyenyak dan besok segar kembali..aamiin

Advertisements

4 thoughts on “Victoria Harbour  – Victoria Peak – Madame Tussaud, (Fitti Reward – HK part 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s