AMOR Royalty 2015 – part 4 (Madrid to Barcelona via Zaragoza, Spain)

“Travel isn’t always pretty. It isn’t always comfortable. Sometimes it hurts, it even breaks your heart. But that’s okay. The journey changes you – it should change you. It leaves marks on your memory, on your consciousness, on your heart, and on your body. You take something with you. Hopefully, you leave something good behind.”
– Anthony Bourdain –

  Alhamdulillah rasa letih semalam membuat kualitas tidur meningkat dan pagi ini terasa lebih segar. Semalam kaki sempat keseleo saat berjalan keliling Puerta del Sol, dan terasa bengkak, beruntung dari rumah membawa balsem (vickz vaporub tepatnya), sepatu yang saya pakai semalam memang tidak compatible dengan medan, hanya demi keperluan fotografi semata harus menanggung akibatnya..hiks. Kebetulan jadwal costume pagi ini untuk kaki mengenakan sneakers, kaki akan berasa nyaman sekali (#halah).
  Sarapan telah selesai, kami segera check out dari hotel Rafael, Madrid, mengangkat sendiri koper-koper tanpa ada bantuan, selalu dituntut untuk mandiri (mulai dari Portugal sudah seperti ini..💪).

A. Basilica of Our Lady of the Pillar (Zaragoza)

  Hari ini tidak ada City Tour, hanya meninggalkan Madrid menuju Barcelona melalui kota Zaragoza. Terdapat agenda makan siang di Las Palomas, mencoba merasakan the famous Paella, makanan tradisional Spanyol berupa nasi yang diberi bumbu rempah dan diberi campuran hasil laut (udang atau kerang). Makanan ini berasal dari wilayah Valencia dan disajikan terutama pada hari Minggu dan perayaan Falles. Kalo menurut saya mirip Nasi Kuning tapi berminyak seperti nasi goreng dan ada campuran seafoodnya. Cerita kuno mengatakan bahwa paella sebetulnya lahir dari kebiasaan pelayan raja kaum Moor. Pelayan tersebut membuat olahan nasi dan dicampur dengan sisa-sisa makanan keluarga kerajaan untuk dibawa pulang. Menurut catatan sejarah, paella modern dibuat pada pertengahan abad 19 di daerah Abufera, Valencia. Pada masa itu para buruh biasa membuat olahan nasi pada waktu makan siang di ladang. Olahan tersebut dicampurkan dengan berbagai macam bahan yang dapat mereka temukan. Pembuatannya dilakukan di atas wajan pipih yang disebut patella. Meskipun ditemukan dan sudah menjadi simbol dari kota Valencia, kita tetap dapat menemukan olahan nasi itu di berbagai kota lainnya di Spanyol. Dalam proses pembuatan paella perlu memasukan bumbu-bumbu khas seperti tomat, safron dan minyak zaitun. Selain itu bawang bombay, bawang putih, serta paprika juga termasuk bahan yang wajib ada dalam paella.

image

  Jika membicarakan masalah menu makanan, nampaknya range taste lidah saya lebih luas, lebih liberal sehingga dapat beradaptasi dengan berbagai menu makanan di luar makanan Indonesia (asalkan halal), berbanding terbalik dengan hubby, beliau sangat konservatif dalam mengkonsumsi makanan, jika saya dapat melahap makanan sejenis Paella karena saya sangat doyan seafood, hubby mencium bau nya dari jarak jauh saja sudah pengen muntah (amis katanya). Finally, seperti biasa, hubby hanya mengambil kentang dan ayam goreng tepung (tanpa pernah bosan). Yasudah, yang penting makan jangan sampai pingsan, gak lucu kan..😂.

image

  Seusai makan siang kami diberi kesempatan mengexplore daerah sekitar restoran, tempat kita makan. Sempat berfikir tadi seperti bangunan Masjid, oh ternyata Gereja, namanya Basilica of Our Lady of the Pillar. Sebagian peserta yang nonis menyempatkan masuk kedalam, mungkin untuk berdoa, kami berdua memilih berfoto diluarnya saja. Sedang asik jeprat-jepret, saya disapa seorang pemuda dengan tampilan khas lelaki turki, dia menyapa dengan salam, saya fikir dia sama seperti kami, wisatawan yang sedang berlibur, eh ternyata peminta-minta. Hendy mengingatkan,” kasih sedikit saja bu, masih muda tidak mau bekerja.” Saya mengiyakan dan memberi 1euro untuknya (dalam hati berucap, duh malu-maluin orang muslim kowe mas 😥).
  Melanjutkan mengamati bangunan Gereja del Pillar ini, ada kemiripan dengan gaya bangunan Masjid. Ingatan saya langsung tertuju Novel karya Hanum berjudul 99 cahaya di langit Eropa, apa seperti ini yang dimaksud Hanum itu??. Walaupun tidak ada destinasi ke Cordoba dan Granada, Gereja di Zaragoza ini cukup menguatkan apa yang telah ditulis Hanum dibukunya dan meyakinkan saya tentang masa-masa kejayaan Islam di Eropa zaman dahulu, karena begitu terlihat jelas di Spanyol. Bukan rahasia lagi kalau wilayah kekuasaan Muslim dulu mencakup tak hanya di Timur Tengah, namun hingga Eropa, yakni wilayah semenanjung Iberia (sekarang Spanyol dan Portugal). Tak heran, bila berbagai peninggalan Islam masih tampak hingga saat ini di Spanyol. Seperti, Istana Alhambra, Granada, dan Cordoba. Begitu pula di wilayah Spanyol lainnya, seperti Sevilla dan Zaragoza. Sejak abad ke-8 hingga 12 M, Zaragoza, atau yang juga dikenal dengan sebutan Saragossa, menjadi salah satu pusat kebudayaan Muslim di tanah Spanyol. 

image

  Selama 4 abad Muslim berkuasa, banyak meninggalkan warisan berupa gaya arsitektur khas yang disebut gaya Moorish. Kekuasaan Muslim kemudian berakhir pada abad ke-13 ketika Spanyol kembali direbut oleh kaum Katolik dalam peristiwa “Reconquista” atau “Penaklukan Kembali”. Namun sejarah perkembangan arsitektur Islam di Eropa tak berhenti di situ. Walaupun para arsitek Muslim sudah angkat kaki dari Spanyol, gaya arsitektur Moorish khas Islam terus dipelajari oleh arsitek2 Katolik dan melahirkan suatu gaya yang disebut gaya Mudejar. Gaya arsitektur ini sangat unik karena merupakan perpaduan gaya arsitektur Islam dengan Kristen. Gaya Mudejar ini kemudian diadopsi untuk membangun gereja-gereja yang banyak bertaburan di Spanyol.
  Keindahan berbagai bangunan tersebut merupakan bukti bahwa Islam telah memiliki ilmu pengetahuan dan kreatifitas yang melebihi jamannya. Melihat ini semua rasanya campur aduk, antara bangga dan sedih. Bangga dengan sejarah tentang masa-masa kejayaan Islam, sedih karena kini semua tinggal kenangan. Selalu yang saya tekankan ke anak-anak untuk belajar tekun tentang agama, baik masalah aqidah, akhlak dan syariatnya, juga tentang sejarah Islam di bumi ini, agar suatu saat nanti, bila mendapat kesempatan belajar di luar negeri dapat sekaligus menjadi khalifah Allah, dapat turut serta berdakwah dengan memperkenalkan agama Islam dengan menjadi agen muslim yang baik dimanapun berada.

B. Heading to Barcelona

  Perjalanan kami lanjutkan menuju Barcelona. Sepanjang perjalanan terlihat keindahan pegunungan Montserrat yang menyerupai lambang ban merk Michelin yang bentuknya seperti bebatuan gundul yang halus, sangat aneh menurut saya. Komentar hubby tentang Michelin membuatnya merasa kegelian, dan beliau memilih untuk tidak memperhatikannya..hahaha.

image

  Tiba di Barcelona masih sore, kami memiliki kesempatan untuk memilih satu destinasi sebelum memasuki hotel untuk bsristirahat. Entah bagaimana ceritanya salah satu anggota kru FFI, pak Hendro memiliki ide untuk ke Primark yang merupakan salah satu Mall favorite dengan harga produk yang kompetitif (harga grosiran), semisal Mangga Dua jika di Jakarta. Dari sejak sebelum berangkat hubby sudah prepare GPS untuk counter-counter Toys ‘R’ Us (toko mainan yang paling lengkap menyediakan produk Mattel) di Madrid dan Barcelona. Bahkan sempat terfikir untuk naik taxi, bagaimanapun caranya agar kami dapat membelikan Barbie tersebut untuk anak kami.
  Mengikuti arah Bus yang menuju ke Primark sama dengan arah GPS yang menuju ke Toys ‘R’ Us di Barcelona, kami berharap Toys ‘R’ Us merupakan salah satu tenant di Primark. Bus merapat ke kanan, kami langsung berhamburan turun, hanya diberikan satu jam saja untuk belanja, karena memang tidak ada scedul ke Primark dan pastinya menyebabkan mr.Luis mukanya bertekuk-tekuk jika kami terlambat kembali ke Bus.

image

  Kami langsung mencari peta untuk mengetahui Tenant apasaja yang ada di Mall ini, AllahuAkbar, setengah memekik kami menemukan Toys ‘R’ Us di lantai 2, segera kami berlari dan menuju counter Mattel. Begitu banyak Barbie Monster High terpajang, tak satupun terlihat Ever After High, mencoba bertanya kepada petugas Mattel yang berjaga, dia malah tidak tau produk yang saya sebutkan, hampir menangis rasanya. Ya Allah, jangan biarkan anak kami kecewa dan hubby bukanlah orang yang gampang menyerah, dia berusaha mengelilingi seluruh counter Barbie dilihat urut satu persatu di Gondola dan Rak, dari atas ke bawah..AllahuAkbar kami menemukannya di rak paling bawah. ALHAMDULILLAH, terimakasih ya Allah, ada 4pc karakter yang ada, kami langsung memborongnya. Jika melihat posisi Ever After High diurutan paling bawah, sepertinya Barbie seri ini gagal dipasaran, kalah dengan saudara kandungnya Monster High yang juga bejibun banyaknya di Indonesia, bahkan seri new arrivalpun selalu tersedia. Bila ingat karyawan yang tidak paham product knowledge seperti tadi, jika kamu karyawan kami, saya pecat kamu Mas..hiks (kesel banget).

image

  Setelah selesai bertransaksi kami segera mengurus keperluan taxfree, lumayan kembali duit sekitar 15%, euro ini bukan rupiah..hahaha. Satu jam tidak terasa, kamipun segera kembali ke Bus dengan perasaan berbunga-bunga. Didalam hati banyak mengucap syukur Alhamdulillah, semua kemudahan ini tak lepas dari campur tangan Allah Azza Wa Jalla, bagaimana kami belajar tentang arti bersabar dan tidak berputus asa, tentu akan menemukan jalan kemudahan. Setelah scedul makan malam, kami langsung menuju Hotel, segera kami foto boneka itu dan mengirimnya melalui bbm kak Belva di pagi hari, sembari menunggu mereka pulang sekolah untuk berSype-an.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s