AMOR Royalty 2015 – part 1 (Lisbon, Portugal)


“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.”
– QS Al Mulk :15) –

  Alhamdulillah, jika setahun lalu saat hubby menjelang 40tahun Allah Azza Wa Jalla memberikan hadiah super keren berupa Amor Royalty 2014 traveling US dan Canada, maka kali ini disaat usia saya mendekati 40tahun kembali Allah memberikan hadiah tak kalah keren berupa Amor Royalty 2015 vacation ke Spanyol dan Portugal..ALLAHUAKBAR. Tiada terkira rasa syukur kami ya Allah, Life begin At 40 begitu indah dan berkesan buat kami berdua, tiada pernah terbayang sebelumnya kami akan berjalan-jalan ke belahan dunia yang berbeda..MASYAALLAH.

image

  Setelah semalaman cek and ricek semua keperluan perjalanan kami ke Portugal dan Spanyol, termasuk diantaranya ID card, paspor-visa, uang saku, dan tentu saja kamera beserta lensa Sapu Jagad yang baru kami beli (merk Tamron, bukan Nikon yang sesuai bodynya, selain mahal, cukuplah untuk ukuran kami yang masih amatir ini), segala macam bentuk aplikasi android untuk keperluan disana, antara lain jadwal Sholat, Skype untuk komunikasi dengan anak-anak dll, tak lupa menyiapkan semua keperluan anak-anak yang akan kami tinggal seminggu dan si Emak dengan segala aturan mainnya. O ya kali ini kami tidak membawa tongsis, trauma berat dengan kejadian di Abu Dhabi saat akan bertolak ke Amerika tahun lalu, cukup minta tolong kru FFI saja, dan tentu saja lebih memuaskan hasilnya bukan..hehehe
  Finally, Sore ini tanggal 14 Mei 2015, kami berangkat menuju Jakarta disaat anak-anak kami telah pulang dari Sekolah. Berpamitan dengan anak-anak dan adek Mika sempat rewel, seakan tidak ingin melepaskan kami untuk menaiki taxi yang telah siap mengantarkan kami berdua. Waktu menunjukkan pukul 4 sore, kami segera meluncur ke Bandara Juanda untuk segera terbang ke Jakarta dengan pesawat Garuda pukul 5 sore. Di Juanda kami bertemu dengan anggota tour yang lain, yaitu Bapak-Ibu Franky (toserba Bravo), Bapak Peter-nonik Agnez (toserba Keraton) dan Bapak-Ibu Budi-nonik Celline (toserba Remaja), Alhamdulillah banyak teman dari Surabaya, tidak seperti tahun lalu, kami hanya berdua saja.
  Sampai di Jakarta kami masih harus menunggu Pesawat yang akan menerbangkan kami menuju Dubai, karena pesawat kami adalah Emirates. Kami bertujuh menuju Lounge yang ditetapkan oleh FFI sebagai tempat meet and greet tepat pukul 21.30, selain briefing juga untuk berkenalan dengan anggota tour yang lain dan tour leader, guna menjelaskan sedikit tentang keperluan kami disana. Bertemu dan berkenalan dengan koko Sen-Sen (Sami Laris dari Klaten, beliau partner lama hubby namun hanya ngobrol barter barang di telpon dan belum pernah jumpa darat), koko San-San (Distributor Jakarta), Bapak Thamrin dan istri (Distributor Jakarta), tour leader Mas Hendy serta kru dari FFI, ada pak Oky, pak Franky, bu Vera (para petinggi FFI ini tahun lalu juga mengawal kami ke Amerika) dilanjut bu Pira, pak Reza, pak Omar, pak Hendro dan terakhir pak Banu (perwakilan dari FFI Jawa Timur) . Total ber-20 orang kami berangkat menuju Portugal and Spanyol.

Jakarta menuju Dubai

image

  Waktu menunjukkan pukul 23.15 kami segera boarding masuk pesawat Emirates dengan nomer penerbangan EK 359, Alhamdulillah bersebelahan dengan pak Peter dan nonik Agnez, tidak merasa sungkan jika harus beribadah di dalam pesawat. Perjalanan ditempuh dalam waktu 6jam menuju Dubai. Saat hendak take off, sempat kaget mengapa tidak diperdengarkan “Doa Naik Kendaraan”, berbeda dengan Etihad, padahal sama-sama berasal dari UEA. Jadi marilah kita berdoa menurut keyakinan masing-masing saja, beruntunglah Manchester City menggandeng Etihad bukan Emirates (..apa hubungannya?? 😂). Kenyamanan pesawat tidak kalah dengan Etihad, style Pramugari nya juga hampir sama, namun menu makanan lebih bersahabat Emirates daripada Etihad, lebih cocok di lidah.
  Sampai Dubai masih pagi dan kami masih harus menunggu pesawat yang akan menerbangkan kami ke Lisbon. Kondisi Bandara tidak jauh berbeda dengan Abu Dhabi, banyak bule berkeliaran dibandingkan orang Arab sendiri. Banyak Counter merk ternama berjualan Parfum dan Minuman Keras yang cukup menyolok.
  Menyempatkan diri untuk selfie-selfie bareng nonik Agnez selagi menunggu bergantian untuk urusan ke Toilet. Tak lupa foto-foto di ruang boarding pesawat, sembari menunggu jadwal kami berangkat.

image

Touchdown in Lisbon
  Pesawat Emirate EK 191 telah siap mengantar kami menuju Lisbon, Portugal. Mendarat di Portugal pada siang hari dan matahari bersinar dengan cerahnya, sekitar pukul 12.45, setelah melalui pemeriksaan Imigrasi yang sepi, kami pun memasuki Portugal dengan lancar.

image

   Cuaca cukup panas, sekitar 20°C bahkan mungkin lebih, anginpun ikut bersemangat menyambut kedatangan kami, bahkan saat pendaratan pesawat tadi terasa begitu menakutkan, goncangannya sempat membuat sport jantung 😨. Dan kali ini jaket yang saya kenakan benar-benar terasa salah kostum, terus terang saya tidak tahan dengan udara dingin di pesawat. Mau melepas Jaket, baju hem yang saya kenakan sangat tipis, mau ganti malas ribet buka Koper karena setiba di Lisbon kami langsung City Tour, Koperpun ada di Bagasi Bus. Yach sudahlah, lagian memang diniati tampil cantik, untuk kepeluan Fotografi saya selalu mewajibkan diri untuk tampil fashionable apalagi di Luar Negeri, ada misi dakwah yang ingin saya sampaikan, bahwa berhijab juga bisa tampil cantik dan fashionable, hasilnya beberapa sahabat dan teman tertarik dan memutuskan berhijab setelah melihat foto-foto saya yang menawan (..gubraakk). Kami segera mampir makan siang, seperti biasa Chinese Food di Joida Do Palacio Chino Restaurant adalah makanan yang masih dapat beradaptasi dengan lidah kami. Sungguh, terkadang ada pertentangan batin apakah makanan yang kami makan ini halal atau haram, yang pasti adalah Subhat, padahal jika dihukumi Subhat, wajib pula kita tinggalkan jika tersedia makanan lain yang halal. Ya Allah ampuni kami, kami makan berdasarkan informasi dari tour leader yang mengatakan ini “No Pork”, dan Bismillah kami melahapnya karena kami sangat lapar, makanan di Pesawat tidak enak tapi lebih mending Emirates daripada Etihad, malah sangat tidak enak.

image

  Selepas makan siang kami melanjutkan agenda City Tour di Lisbon yang hanya setengah hari ini saja. Lisboa atau Lisbon adalah ibu kota Portugal. Penduduk kota ini berjumlah 600.000 jiwa dan di daerah metropolitan sekitar 2,5 juta jiwa (hampir sama dengan Sidoarjo, kota tempat tinggal kami). Jumlah ini kira-kira 1/3 penduduk Portugal. Lisboa terletak di tepi utara sungai Tagus. Selama di Lisbon terjadwal City Tour ke Jeronimos Monastery, Belem Tower, Komplek Vasco Da Gama (Bridge, Mall dan sekitarnya). Dengan kondisi letih kami mulai mengexplorasi Lisbon dengan rasa penasaran, seperti apakah negara yang sempat menjajah Indonesia ini (..#halah).

A. Jeronimos Monastery

image

  Bus Tour membawa kami menuju salah satu destinasi utama di Portugal, yaitu Jeronimos Monastery, Gereja Gothic terbesar di Eropa yang juga termasuk dalam daftar Situs Warisan Dunia UNESCO. Gereja dalam kondisi ramai pengunjung wisatawan domestik maupun luar negeri, tidak sedikit penduduk asli berjualan ala pkl di sekitaran gereja, sebagian menjajakan semacam pashmina, tertarik sebenarnya tapi takut tertipu harga karena sulitnya komunikasi dengan bahasa Portugal yang sama sekali tidak paham. Hubby sedikit ogah-ogahan sejak awal, maklum kami peserta minoritas, kami juga seumur-umur belum pernah memasuki gereja, namun tour leader kami meyakinkan bahwa gereja ini sudah beralih fungsi sebagai Museum, tidak lagi dipergunakan sebagai tempat ibadah, tapi jika ingin berdoa tentu dipersilahkan. Kami masuk kedalam setelah membeli tiket dan mendapatkan perangkat earphone, karena kami dilarang berbicara keras didalam Gereja, jadi Tour Leader dan Guide kami menjelaskan tentang Museum ini melalui alat tersebut.

image

  Jeronimos Monastery adalah contoh Gereja (biara) dengan gaya Portugal yang menggabungkan Flamboyant Gothic, Moorish, dan awal pengaruh Renaissance. Hal ini ditandai dengan penggunaan detail rumit patung dan termasuk juga motif maritim.
  Pada 1496, Raja Manuel I (1495-1521) meminta izin Paus untuk membangun sebuah biara Perawan Maria untuk mengenang perjalanan sukses ke India. Permintaan itu dikabulkan dan konstruksi dimulai pada tanggal 6 Januari. Proyek ini didanai oleh harta dari eksplorasi di Afrika, Asia, dan Amerika Selatan, serta pajak pada perdagangan rempah-rempah Portugis dari Afrika dan Timur (termasuk dari Indonesia juga kali ya??..)

image

  Raja menyewa arsitek Perancis (1460-1528), yang kemudian digantikan (1475-1552) dari Spanyol (1475-1552), Diogo de Torralva (1500-1566) dan Jerónimo de Ruão ( 1530-1601). Raja Manuel memilih mendirikannya di tepi sungai Tagus, menggantikan sebuah kapel kecil yang didedikasikan untuk St.Mary dari Belém oleh Pangeran Henry sang Navigator.

image

  Biara Jerónimos berisi Raja Manuel dan banyak tokoh penting dalam sejarah Portugis. Yang paling terkenal di antaranya adalah Vasco de Gama, yang prestasinya di laut turut menginspirasi design biara. Dan kami sempat berfoto di depan patung Vasco da Gama di atas peti mati yang berbentuk unik, diatas makam dari marmer berbentuk kotak empat segi panjang yang penuh ukiran itu, diletakkan patung marmer Vasco da Gama seukuran aslinya dalam posisi tidur terlentang dengan kedua tangan terkatub didada. Begitu melekatnya image Vasco juga para pelayar Portugis ini dengan area monastery menjadikan kawasan ini sebagai simbol “Age of Discovery” bersama-sama dengan Belem Tower (Torre de Belem). Terdapat juga patung-patung tokoh lainnya, termasuk penyair romantis Herculano (1800-1854) dan penyair Fernando Pessoa.
 

B. Belem Tower (Torre de Belem)

image

  Perjalanan kami lanjutkan menuju Belem Tower tidak jauh dari Jeronimos Monastery. Sepanjang perjalanan menuju Belem Tower kami disuguhkan pemandangan Dermaga yang sangat rapi dan bersih. Banyak kapal yang bsrsandar maupun berlayar dan sepertinya bukan untuk bisnis tapi lebih ke keperluan wisata.

image

  Bus kami telah sampai dan harus parkir agak jauh. Kami melihat dikejauhan sungai Tagus yang biru dan sangat Indah. Lima ratus meter berjalan menuju tepi utara Sungai Tagus, menuju Torre de Belem, sebuah kastil yang pernah dipakai sebagai benteng pertahanan maritim pasukan Portugis. Fungsi tower itu kemudian berubah sebagai mercusuar bagi kapal-kapal yang akan berlabuh di pantai Lisbon.
  Belem Tower yang dibangun sejak tahun 1502, sebagai pengingat sejarah, dimana banyak pelayar2 kenamaan menarik jangkarnya dan berangkat menemukan “dunia baru”. Salah satunya adalah Vasco da Gama yang bertolak menuju India di 1497 melewati Tanjung Harapan di selatan Afrika. Landmark ini juga dikenal sebagai “Bunda Sungai Tagus,” fitur air bawah tanah yang dibangun di bawah tanah dulunya juga berfungsi sebagai rumah tahanan politik. Pada tahun 1983 Menara Belem turut dimasukkan dalam daftar Situs Warisan Dunia UNESCO. Dan hingga sekarang berfungsi sebagai museum. Sama dengan Jeronimos, kastil 4 lantai ini dibangun ala Manueline style (Gothic) di muara Sungai Tagus. Tepat di muara sungai Tagus yang sekarang menjadi bagian dari Pantai Lisbon ini, dimana ratusan tahun yang lalu kapal-kapal pelayar Portugis mengitari Bumi termasuk ke Indonesia.

image

C.Vasco Da Gama Bridge

image

  Agenda City Tour terakhir kami di Lisbon-Portugal adalah melihat Vasco Da Gama Bridge dan Shopping di Vasco Da Gama Shopping Center. Menyusuri kota Lisbon sepertinya hanya nama dan wajah Vasco Da Gama saja yang berada dimana-mana. Vasco Da Gama, seingat saya saat masih kecil adalah nama seorang Penjajah dari Portugis yang menguasai Indonesia, khususnya Maluku jauh lebih dulu sebelum akhirnya dikuasai oleh Belanda. Bahkan saat akan berangkat, si bontot Mika melempar celetukan sebagai wujud protes tidak ingin ditinggal,”Mama-Papa ngapain sih jalan-jalan ke negara Penjajah?? :evil:,”. Setengah kaget saya jawab sambil tertawa “Lhoh adek Mika koq tau kalo Portugis adalah penjajah??,”. “Iya Ma, aku sudah diajari ustadzah tentang negara-negara yang pernah menjajah negara kita,” lanjut Mika. “Wahh..adek hebat,”lanjut saya lagi.
  Kembali tentang seorang Vasco Da Gama, dilahirkan tahun 1460 dan wafat tahun 1524 dikenal sebagai penjelajah Portugis yang menemukan jalur jalan laut langsung dari Eropa ke India dengan berlayar mengelilingi Afrika. Orang-orang Portugis sudah lama mencari jalur ini dimulai oleh Pangeran Henry Sang Navigator (1394-1460) Dan kemudian dilanjutkan tahun 1488 oleh sebuah ekspedisi Portugis di bawah pimpinan Bartolomeus Dias telah sampai dan mengitari Tanjung Harapan di ujung selatan Afrika dan kembali ke Portugis. Dan Expedisi dilanjutkan oleh Vasco Da Gama atas perintah Raja, sampai dia menemukan India dan dilanjutkan hingga ke Maluku, Indonesia.

image

  Kontribusi Vasco Da Gama mendapat pengakuan dengan banyak tempat di kota Lisbon yang dinamakan dengan nama beliau. Jembatan sepanjang 17.2 km yang merintangi Sungai Tagus merupakan jembatan terpanjang di Eropa. Pembangunan bertujuan untuk mengurangi aliran trafik yang macet di Jembatan 25 de Abril yaitu jembatan merah yang mirip Jembatan Golden Gate di San Francisco. Ia secara resminya dibuka kepada umum pada 29 Maret 1998 untuk menyambut ulang tahun yang ke 500 penemuan jalan laut dari Eropa ke India oleh Vasco Da Gama.
  Proyek ini memakan waktu 18 bulan untuk disiapkan sepenuhnya. Satu lagi struktur yang membawa nama Vasco Da Gama adalah sebuah menara yang didirikan di tepi Sungai Tagus dan tidak jauh dari Vasco Da Gama Bridge. Menara yang berbentuk layar kapal itu menggunakan besi baja setinggi 145 meter. Menara ini juga siap dibangun pada tahun 1998 saat berlangsungnya World Expo di Lisbon. Sebelah Vasco Da Gama Tower ini sedang didirikan Vasco Da Gama Royal Hotel setinggi 20 lantai dengan 178 kamar. Pembinaanya dimulai pada tahun 2007 dan diperkirakan siap sepenuhnya pada tahun 2012. Berhadapan dengan Oriente Train Station berdiri Vasco Da Gama Shopping Mall di Park of Nations. Lokasi ini adalah tempat Expo ’98 World Exhibition diadakan.

image

  Secara keseluruhan Portugal ini menurut saya tidak ada yang spesial hanya mungkin mereka memiliki Tokoh salah satunya Vasco Da Gama yang membawa kejayaan Portugis bahkan membuatnya menjadi salah satu negara terkaya di Eropa, tapi itu dulu sekitar 500tahun yang lalu. Mungkin kalau sekarang hanya Christiano Ronaldo yang mereka punya (..hahaha). Oh ya selama dikota Lisbon yang hanya beberapa jam ini dan bahkan mampir ke pusat Mall terbesar dan terbaru malah terlupa membeli oleh-oleh, mungkin karena merasa kurang menarik dan rasa lelah yang sangat, kami hanya ingin segera masuk hotel dan beristirahat. City Tour ditutup dengan makan malam di Resto Fu Shin dan dilanjutkan menginap di Hotel Marriot Lisbon.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s