Don’t Go with the Flow, Just Be the Flow

  Sabtu, 06 juni 2015 lalu sekolah anak-anak mengadakan seminar Smart Parenting yang mengundang Bapak Prof.Dr.Muhammad Nuh, DEA, mantan mendiknas kita, dengan tema seminar “Menyongsong Indonesia di Era Keemasan 2045”. Sayang sekali saya terlambat hadir, karena satu-dua hal, sebenarnya terbiasa ontime, namun kali ini terlambat hingga satu setengah jam. Saat Bapak Nuh mendapat giliran, saya telah terlambat setengah jam, beliau sangat ontime karena memang scedul padat merayap, selesai berceramah langsung ijin meninggalkan tempat guna memenuhi undangan ditempat yang lain. Dari ceramah yang beliau sampaikan bukan tentang tehnisnya bagaimana cara mendidik anak yang baik dan benar, karena memang beliau bukan ahli Parenting, namun beliau lebih bercerita tentang bagaimana Indonesia sekarang dan nanti di tahun 2045 (saat satu abad kemerdekaan). Berdasarkan data-data, penelitian dari berbagai sumber, juga pengalaman beliau sebagai pendidik mulai dosen, kemudian rektor dan terakhir sebagai Mendiknas. Beliau bercerita banyak tentang kebutuhan, tantangan dan hambatan pendidikan di Indonesia, bagaimana visi dan misi beliau hingga kemudian lahirlah Kurikulum 2013 sebagai wujud cita-cita beliau dalam memperbaiki pendidikan di Indonesia. Pendidikan karakter adalah yang utama, bagaimana menciptakan anak-anak yang tidak saja cerdas namun juga berkarakter, jujur, empati, cerdas dan kreatif (ngomong-ngomong mirip dengan slogan sekolah anak-anak nih “Generasi Cerdas Berakhlak Mulia”..hehehe). Sekolah anak-anak sejak awal kurikulum 2013 diberlakukan, telah turut serta mensukseskan yaitu segera diterapkan untuk menggantikan kurikulum KTSP secara total, karena pada dasarnya meski menggunakan KTSP sekolah juga menggunakan konsep tematik, sehingga tidak ada kesulitan berarti dalam penerapan kurikulum 2013.
  Selain ceramah dari bapak Nuh, sekolah juga telah siap membagikan semua keperluan Wali Murid Baru, untuk persiapan masuk tahun ajaran baru meliputi TK, SD dan SMP. Kebetulan adek Mika sudah akan masuk SD, saya termasuk kategori Wali Murid Baru untuk angkatan 2015/2016 ini, meski sudah senior, karena kedua kakaknya telah lebih dulu masuk Sekolah yang sama. Alhamdulillah, sesuai request dari saya, Mika akan sekelas lagi dengan Rafa, dan Alhamdulillah lagi, wali kelas nya adalah ustadzah Dewi yang sudah saya kenal lama beserta track recordnya, karena sempat juga menjadi wali kelas kak Belva dan beliau juga pelanggan setia toko kami..hihihi. Walau kelas yang telah dibagikan tersebut sifatnya sementara, harapan saya pribadi, kalaupun ada perubahan semoga adek Mika tetap dikelas yang sama dengan Rafa.
  Senin pagi ini bertemu dengan mama-mama mengobrolkan tentang kelas baru dan walikelas, tak lupa mereka juga mengolok-olok saya karena menganggap terlalu intervensi dalam pemilihan teman untuk adek Mika. Duh, walau sebenarnya sudah sering dicemooh dengan berbagai ocehan mama-mama ini, saya hanya tanggapi santai bin dingin saja. Kita sebagai orangtua wajib mengetahui apa lebih dan kurang anak kita, apa yang terbaik buat mereka dan apa yang lebih dibutuhkan mereka, saya tidak ambil peduli dengan cemooh. Sejak awal menyekolahkan anak-anak, saya berjanji pada diri sendiri untuk selalu terlibat dalam pendidikan dan pengasuhan, baik disekolah dan dirumah agar tersinergi dengan baik. Mika, anak lelaki bontot satu-satunya di keluarga kami, memiliki sifat kurang dapat bersosialisasi, hampir memiliki kesamaan dengan kak Belva, hingga saat TK B, Mika masih sering trouble dengan masalah sosialisasi, saat observasi masuk SD pun saya harus mengalah masuk ke kelas, agar Mika mau bergabung dengan anak-anak yang lain yang juga akan diobservasi. Ada pemakluman dalam diri, Mika masih harus dibantu, sama seperti kak Belva dulu saat memasuki kelas 1 SD, saya juga request ke sekolah untuk memberikan teman dekat saat di TK agar nantinya tidak ada trouble, sehingga proses adaptasi lingkungan dan pembelajaran SD akan berjalan dengan lancar. Membayangkan harus ikut masuk kelas dan bersekolah sangatlah menakutkan buat saya, hal-hal seperti inilah yang harus saya persiapkan. Setelah menginjak kelas 2, kak Belva sudah lebih mandiri dan dapat bersosialisasi dengan baik, perlakuan dan harapan yang sama untuk adek Mika. Semua perlakuan khusus tadi tidak berlaku untuk kak Reva, karena sedari kecil dia sangat independent dan dapat bersosialisasi dengan sangat baik, bahkan saat di kelas 1 pun, tidak ada teman perempuan saat di TK yang sekelas dengannya, otomatis dia harus melalui proses berkenalan dengan teman-teman yang baru, dan kak Reva berhasil. Intervensi bagi saya sah-sah saja, apalagi demi menunjang keberhasilan anak-anak, “I’m not the Go with the Flow type” dengan pasrah bongkokan ke sekolah, sehingga saat anak-anak mengalami trouble harus meratapi penyesalan. Dalam hal apapun itu, yang melakukan persiapan akan lebih baik daripada yang membiarkan saja apa yang akan terjadi, terjadilah.
  Hingga detik ini, mapping-mapping pendidikan anak telah kami persiapkan, mungkin saya lebih aktif daripada hubby, namun saya juga berkomunikasi lancar dengannya tentang semua impian saya terhadap pendidikan anak-anak. Sejak dini saya mengharuskan anak-anak memiliki Cita-Cita, dengan Cita-Cita itu kita dapat menggambar apa saja yang harus dipersiapkan, baik pendidikan, financial, sarana dan prasarana penunjang. Kebetulan kak Belva sudah memantabkan diri untuk menjadi seorang dokter, kak Reva kemungkinan besar akan meneruskan usaha kami sebagai pengusaha, dan adek Mika terobsesi menjadi seorang Polisi. Mapping yang saya lakukan untuk kak Belva, mulai saat memilihkan SMP yang masih baru dan hampir tidak terdengar (padahal disaat yang lain para orangtua berlomba-lomba memilih sekolah favorite atau branded, saat itupun saya banyak menerima cemooh) karena yang saya inginkan kak Belva dapat dibentuk disekolah ini, dan sejauh ini sudah sangat berhasil, setahun lagi akan melanjutkan SMA karena dia tidak ingin masuk sekolah negeri, kami sudah persiapkan SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo (salah satu swasta Islam terbaik di Sidoarjo). Harapannya ialah saat dia memutuskan masuk Fak.Kedokteran dan tidak lolos masuk negeri seperti Unair atau Brawijaya (realistis dengan banyaknya persaingan), FK Universitas Muhammadiyah Malang adalah alternatif pilihan kami, karena selain Muhammadiyah memiliki jaringan Rumah Sakit PKU yang tersebar dimana-mana (untuk pilihan KKN) juga karena UMM adalah termasuk 10 PTS terbaik seIndonesia, juga terakriditasi A (hanya ada 2 seJatim, selain UK Petra), selain itu sedang mempertimbangkan kemungkinan beasiswa atau Golden Ticket jika kak Belva masih dapat terus berprestasi.
  Banyak menggali Ilmu dengan membaca dan belajar dari orang-orang sukses, terakhir mendapatkan ilmu dari Ayah Dian Pelangi, bagaimana beliau dapat melihat bakat dari ke4 anaknya, siapa yang terlihat paling menonjol guna mempersiapkan penerus usaha, terpilihlah Dian Pelangi. Sedari kecil mapping pendidikan telah disiapkan, sejak SD telah dipilihkan masuk SD Islam, melanjutkan SMP masuk Pesantren, sang Ayah kemudian memaksa Dian masuk SMK, terakhir D1 designer (semua sekolah tadi bukan terfavorite atau Branded, namun membawa percepatan bagi keberhasilan mencapai tujuan), meski Dian Pelangi berontak dan menangis pada akhirnya ikhlas dan mensyukuri atas pilihan Ayahnya, dan kenyataannya dia mampu dan berhasil hingga mendunia..MasyaAllah (duh, kalo saya tidak setega itu untuk memaksa anak-anak, akan selalu ada komunikasi agar tercapai Win-Win Solution). Intinya dengan Ilmu kita dapat menjaga Harta. Semua mapping yang telah saya lakukan agar memudahkan persiapan juga dalam rangka menghemat Financial dan tetek bengeknya. Berlaku juga untuk kedua adek Belva, itulah mengapa saya selalu terlibat bahkan mungkin hanya untuk hal-hal sepele menurut sebagian orang, mengoptimalkan semua fasilitas yang ada demi masa depan anak-anak.
  Mengutip pesan bapak M.Nuh, persiapkan anak-anak kita mulai sekarang karena Masa KeEmasan Indonesia ada ditangan anak-anak kita, jadikan mereka pemimpin yang turut mengubah Indonesia menjadi lebih baik.

“Turn your goals into reality, dont second guess just go with the flow, have fun and take risk and the rest will fall into place naturally”

Advertisements

3 thoughts on “Don’t Go with the Flow, Just Be the Flow

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s