Kejujuran itu terkadang menyakitkan

 

image

  Siang tadi tiba-tiba kedatangan tamu, Mama si Rahma, beliau datang untuk ketiga kalinya ke rumah, selama anak-anak kami, Reva dan Rahma sekelas di kelas 3B ini. Rahma, nama yang tidak asing lagi buat saya, selama hampir 3tahun, sejak kelas 1 selalu menghiasi cerita Reva setiap harinya, bisa dikatakan sebagai Trending Topic, bahkan serasa mau muntah saja, setiap kali mendengar nama itu meluncur dari bibir mungil Reva.
  “Bu, saya kesini mampir sebentar sambil mau tanya sama mbak Reva, tentang kejadian kemarin di kelas teater,” mama Rahma membuka pembicaraan.
  Sebelumnya, kemarin sepulang sekolah Reva berjalan dengan kondisi sedikit terpincang-pincang dan meringis kesakitan, kebetulan saya tidak ke toko karena si Emak sedang sakit. “Kakimu kenapa kak?,” sapa saya. Reva,”tadi disekolah didorong Rahma keras sekali terus aku jatuh, kaki ku agak keseleo Ma, tau tidak Ma, hari ini Rahma membuat 12 anak cewek kelas ku nangis, ya agak-agak nangis gitu lho Ma, ada yang dimarah-marahin, dipukul, ada yang didorong, dijambak..duh Rahma nakal sekali,”.. “Astaghfirullah, sudah lapor ustadzah?,” tanya saya. Reva menjawab,”sudah Ma, dan sudah dipanggil oleh ustadz juga,”. Kemudian cerita itu berlanjut di kelas Teater “Ocha pengen duduk deket aku Ma, tapi Lia sudah duduk duluan, terus Ocha duduk di belakang Lia, dan Ocha tidak papa, eh tiba-tiba Rahma datang langsung marah-marahin Lia buat belain Ocha sampai Lia nangis, terus teman kelas teater semuanya nyuruh Rahma minta maap sama Lia,”.. “Ya Allah, sampai kapan Rahma akan seperti ini, orangtua Rahma gak pernah dipanggil ke Sekolah tah kak??,” lanjut saya. “Gak tau Ma,”..jawab Reva.
  Cerita itulah yang saya sampaikan ke Mama Rahma, dan beliau menanggapinya,”tapi Rahma ini ceritanya di gruduk, dimarah-marahin, dipaksa, bahkan dijambak temennya beramai-ramai suruh minta maap, padahal Rahma sudah minta maap,”.. Reva mengangguk membenarkan,”iya Rahma sudah minta maap, tapi kata teman-teman tidak ikhlas,”. “Tuh kan bu, anak saya ini istilahnya ditawur rame-rame, gimana coba, padahal anak-anak yang nawur itu juga anak bermasalah, tapi kata Rahma, Reva tidak ikutan,” lanjut mama Rahma dengan nada sedikit lebih tinggi.
  Mendengar semua cerita mama Rahma, saya sama sekali tidak menyalahkan, bagaimanapun Rahma adalah anaknya dan jelas akan lebih didengarkan daripada orang lain. Mungkin sekarang saatnya saya harus membuka seperti apa anaknya, sebagai wujud pelampiasan rasa sesak yang selama ini saya pendam. Reva dan Rahma telah berteman sejak kelas 1, mulai semester 2 mulai terlihat tanda-tanda Rahma seorang anak yang Possesive, kelas 2 semakin parah, hampir setiap hari Reva mengeluhkan sikapnya, mulai pengekangan, menguasai, menyuruh dan bully-bully yang lain. Tak jarang Reva menangis, hingga suatu saat kenaikan kelas, dia memohon kepada saya untuk meminta ustadzah agar kelas 3 tidak sekelas lagi, minta dipisah. Dan ternyata saya terlambat, Reva harus menerima kenyataan untuk sekelas lagi dengan Rahma. Dan ustadzah kesiswaan sempat kecewa dengan saya, mengapa tidak cerita sebelumnya,”kami paham ibu sudah berusaha untuk mencoba memberikan solusi pada ananda tanpa melibatkan sekolah, tapi belum saatnya bu, mbak Reva masih kecil kasian harus menahan beban selama ini, dan mohon maap kami tidak dapat merubah kelas, tapi kami akan terus berkoordinasi dengan wali kelas untuk memantau mbak Reva,”.. “Yach, sudahlah Ust, mungkin Reva masih harus diuji, dan dia harus lulus dan makin kuat menghadapi anak-anak seperti Rahma, kedepan harus lebih berani berkata tidak dan dapat belajar membela diri,” jawab saya. “Namun setelah ini, di kelas 4 dan seterusnya saya tidak mau Reva di kumpulkan dalam 1 kelas dengan Rahma hingga kelas 6, sudah cukup 3 tahun saja ya ustadzah,” lanjut saya.
  Semua saya tumpahkan unek-unek selama ini dan apa saja yang saya doktrinkan ke Reva selama di kelas 3 ini untuk menghadapi Rahma, biar mama Rahma ini tau dan paham seperti apa anaknya, bahkan berita terakhir ustadz wali kelas menunjuk 2 nama anak perempuan di kelas Reva yang tidak pantas menjadi anak kelas 3, termasuk salah satunya adalah Rahma, namun mama nya pun tidak tau. Dan semua yang saya ceritakan membuat beliau shock, sama sekali tidak menyangka anaknya berbuat seperti itu, raut mukanya berubah dan langsung meminta maaf kalau selama ini Rahma sudah merepotkan Reva. Beliau sering ke sekolah bukan tentang kenakalan anaknya namun keingintahuan sejauh mana perkembangan Rahma di sekolah. Kembali beliau membuat pembenaran bahwa mungkin umur Rahma masih kecil, bila sudah cocok dengan 1 orang dia merasa sangat dekat sekali, termasuk berteman dengan Reva ini, selain itu secara mental belum siap di kelas 3, padahal dirumahpun tidak ada Sinetron, hanya buku-buku bacaan dan les Kumon yang harus dikerjakan Rahma, dirumah juga selalu diajarkan tentang Akhlak, jadi istilahnya kalau pendidikan SQ sudah maksimal dilakukan beliau, mama Rahma, tapi entah kenapa EQ nya sangat jeblok, parah menurut saya. Berteman dan bersahabat bukan seperti itu, masih kecil namun sangat possesive hingga membatasi Reva bergaul dengan yang lain, belum tentang memanfaatkan, itu salah!!.
  Alhamdulillah di kelas 3 ini Reva makin Tough, mulai dapat membela diri, menolak dan berkata tidak atas sesuatu yang dia tidak suka, melawan apa yang diperintah Rahma. Reva juga semakin percaya diri atas kemampuannya, di kelas 3 ini pun prestasinya mulai meningkat, kembali ke peringkat 3besar. Di kelas 1 kemarin sudah sempat di 3besar, kelas 2 jeblog hingga peringkat 6, saya tidak ingin menyalahkan siapapun, termasuk Rahma walau sedikit banyak bully itu berpengaruh dalam proses belajar Reva.
  Plong rasanya, semoga mama Rahma dapat mengambil tindakan yang bijaksana demi memperbaiki karakter si anak yang pemarah. Beliau berencana akan berkonsultasi dengan psikolog, kira-kira apa penyebabnya, dan semoga masalah itu segera terselesaikan, kasian Rahma, anak tunggal dan mahal itu sepertinya bermasalah dengan emosinya yang tidak stabil, entah apa yang terjadi di dalam rumah, sehingga dia melampiaskan kekesalannya dan mencari perhatian di sekolah.
  Tantangan buat kita, para orangtua, intinya komunikasi adalah yang utama. Pendidikan SQ, EQ dan IQ yang seimbang adalah harapan kita, teruslah belajar parenting dari mana saja, tiap anak berbeda dan pola pengasuhan pun tiap anakpun akan berbeda. Bagi saya pola pengasuhan terbaik adalah yang sesuai dengan Al-Quran dan Hadist. Kita tidak dapat mensterilkan anak dari pengaruh buruk lingkungan, namun kita dapat membentuk filter sebagai imun penyaring sehingga dapat memilah dan memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Tidak lupa untuk selalu memohon perlindungan kepada Allah baik melalui Doa maupun Sedekah..InsyaAllah anak-anak akan terjaga, baik aqidahnya maupun akhlaknya.

image

Advertisements

13 thoughts on “Kejujuran itu terkadang menyakitkan

    • Iya bu, aslinya kemarin saya tidak tega bicara tapi kelihatan sekali mama rahma ini tidak terima anaknya dikeroyok teman2nya padahal menurut saya ini adalah hasil akumulasi kekesalan atas tindakan rahma sendiri yang sering mendzalimi teman2nya tidak hanya reva, siapapun yang mendekati reva pasti kena bully tidak saja kekerasan verbal juga fisik..parah bu 😥

  1. Rahma bicaranya berbeda ya dari yang sebenarnya? bener nih, mamanya mending cek ke psikolog ya.. mungkin dia tertekan juga karena di rumah belajar, di sekolah belajar juga.. dan dampaknya malah merubah sikap begitu mungkin yah..
    bagus deh walau begitu, Reva jadi belajar lebih kuat dan berani yaa 🙂

    • Kemarin juga saya ingatkan mama rahma ini dek, untuk tidak memfrosir dengan les-les, anak-anak ini sudah fullday school jam 4 baru sampai rumah, capek. Apalagi dirumah mungkin kurang perhatian, kebetulan mama kerja dan papa kerja luar kota, anak tunggal, dirumah bagaikan bos, kata reva suka suruh-suruh, dan seenaknya sendiri memperlakukan teman..Yach, semoga psikolog dapat mencarikan solusinya 🙂

  2. Kasihan Reva ya Bu. Semoga Rahma dan mamanya bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik. Kasihan memang kalau sudah capek sekolah harus ikut les ini itu lagi..

    • Iya, aamiin..Kalo anak-anak saya hanya les musik itupun seminggu sekali dan cukup 45mnt saja, sebagai sarana balancing, pereda stress dan meningkatkan kecerdasan juga, kebetulan anak-anak juga suka, kalo pelajaran cukup dari sekolah saja, kasian kalo masih harus les macam-macam, hasilnya malah stress dan pelampiasannya caper yang negatif di sekolah.

    • Iya. Possesive, kata reva siapapun yang coba deketin reva pasti dibully, udah gitu anak saya selain sering di cubitin entah karena gemes, juga sering disuruh tutup mata trus dicium, tapi anak saya sebelum dicium buka mata langsung lari mbak. Hiii..ngeri kan, semacam kelainan sexual apa kepribadian ganda, Naudzubillahimindzalik..:'( #makinparanoid

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s