#Happy14thAnniversary

  

image

   “Keharmonisan suami istri adalah harga mati dalam mengedukasi generasi”

Alhamdulillah 14tahun sudah kami, aku dan hubby melalui kehidupan bersama dalam sebuah Pernikahan. Selama perjalanan pernikahan tentu tidak selalu mulus, ujian dan hambatan, kebahagiaan dan kesedihan datang silih berganti. Sekali lagi Alhamdulillah, kami berdua merasa setiap ujian pernikahan yang datang, kami anggap sebagai tantangan, berdua, insyaAllah ujian itu akan dapat kami atasi dengan baik.
Tidak mudah memang mempertahankan harmonisasi suami-istri. Adanya kesadaran bahwa tak semua yang kita harapkan bisa kita dapatkan dari pasangan adalah hal yang utama. Sadari pula bahwa kita pun belumlah sepenuhnya bisa memberikan apa yang diharapkan oleh pasangan. Saling mengisi, saling melengkapi itulah kata kunci yang pertama sekali harus disadari. Ini merupakan langkah preventif sejak dini.
   Bila telah terlanjur mengalami krisis harmonisasi pasutri, seperti yang pernah kami alami justru di awal-awal pernikahan, maka langkah yang harus dilakukan oleh masing-masing pribadi adalah memperbaiki asumsi-asumsi yang terlanjur mendominasi pikiran, seleksi kembali sambil terus koreksi dan instropeksi. Setelah membersihkan diri dari asumsi yang merusak koneksi lanjutkan dengan memberikan perhatian pada kelebihan yang ada pada pasangan. Terkadang, ketidaksenangan terhadap pasangan lebih karena keengganan menemukan dan mengakui kebaikan yang ada padanya.
    
      “Menganggap diri paling benar dan berharap pasanganlah yang harus melakukan perbaikan adalah virus pengganggu keharmonisan”

   Keharmonisan suami istri dapat terus dipertahankan dengan menguasai ketrampilan berkomunikasi. Salah satu kunci komunikasi efektif adalah mengungkapkan apa yang diinginkan ketimbang menyatakan ketidaksukaan, menjadi kunci penguatan hubungan. Seperti yang selalu kami berdua lakukan, saat banyak permasalahan yang harus dibicarakan, kami memperbanyak porsi Spause Time, jalan berdua, makan berdua, menyanyi berdua, sambil kami berbicara dari hati ke hati untuk mencari solusi terbaik.
   Last but not least, kekuatan hubungan suami istri adalah kekuatan hubungan hati. Setelah menyadari kekurangan diri untuk diperbaiki, sadari pula kelebihan pasangan untuk diakui lalu berterimakasih, serta penguasaan ketrampilan komunikasi, perkuatlah fondasi hati dengan selalu mendekatkan diri kepada Sang Pembolak-balik Hati, Sang Maha Penguasa Hati. Perbaiki keimanan dan ketergantungan pada Yang Maha Kuasa lewat Ibadah. Memperbanyak ibadah terutama dimalam-malam tahajud, dimana kita dapat secara intens berbicara dengan Sang Pemilik Hidup, bilamana masalah datang, kita akan lebih jernih memandang sehingga terang jalan penyelesaian. Bilamana suasana berubah, kita lebih mudah membuatnya kembali indah.
Selain itu perbanyak sedekah, karena itu salah satu yang sangat manjur menurut ku sebagai sarana penolak bala, memohon perlindungan kepada Allah agar rumah tangga selalu dalam keadaan Sakinah, Mawaddah Warahmah. Bilamana ada anggota bertambah, tentu bertambah pula kasih sayang dan berkah dalam rumah. Bilamana waktu berjalan, Keharmonisan makin indah dirasakan.
  

“The purpose of Relationship is not to have another who might complete you, but to have with whom you might share your completeness” – Neale Donald Walsch

01/10/2000 – 01/10/2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s