Mensinergikan Pendidikan Anak Usia Dini di Sekolah dan di Rumah

Sabtu, 22 februari 2014, giliran PG-TK yang mengadakan acara parenting dan kembali pula bapak Suhadi Fadjaray yang mengisi acara ini. Walaupun materi hampir sama dengan yang disampaikan saat acara parenting di SMP tapi saya tidak bakal bosan, biar makin menancap diotak dan ternyata ada perbedaan dipenekanan materi fase pendidikannya, Jika saat di SMP tentang fase Tawanan, sekarang bahasan pada fase Raja.

“Anak adalah titipan dari Allah, bagaikan sebuah kertas putih dan kelak akan kita kembalikan kertas tersebut dengan kondisi putih bersih berisikan kalimat-kalimat tauhid atau kertas lecek dan sobek-sobek”

Betapa berat tugas orangtua dalam mendidik anak, karena Orang tua adalah pendidik anak yang utama. Walaupun kita sebagai orang tua sanggup membayar sekolah termahalpun tetap tidak akan bisa menggantikan tugas orang tua dalam mendidik anak.
   Seperti kita ketahui, anak usia dini yang berada di jenjang TK dalam rentang Usia 3th hingga 6th adalah dalam fase RAJA (parenting versi Sayidina Ali Ra). RAJA seperti kita ketahui wajib kita turuti dan lindungi, menuruti dalam arti yang positif bukan berarti semua dituruti, misal yang membahayakan jiwa jelas kita jauhkan itu yang dimaksud melindungi. Pun dalam hal kewajiban Sholat, seperti kata Rasul,”didiklah sholat ketika anakmu berusia 7th dan pukullah jika dia jika dia tidak melaksanakan sholat di usia 10tb”, ini berarti anak usia Paud belum memiliki kewajiban sholat, tapi alangkah baiknya jika dibiasakan dan untuk anak perempuan biasakan juga untuk mengenakan pakaian yang menutup aurat walau belum berjilbab agar kelak baligh dia tidak merasa berat mengenakannya.
   Di dalam dada anak-anak kita terdapat tangki cinta, tangki ini jika kosong akan menyebabkan anak bandel, nakal dan susah dikendalikan, inilah namanya CAPER, ia hanya berusaha mencari perhatian orang-orang disekitarnya karena merasa kedua orang tuanya kurang memperhatikan. Maka sering-seringlah kita memeluk dan mengelus kepalanya ketika akan berangkat sekolah, pulang sekolah, sembari bertanya, “apakah sekolahmu menyenangkan hari ini?” Bukan dengan pertanyaan,”belajar apa hari ini disekolah?”
   Anak TK bukan sekolah tapi saat-saatnya bermain, jangan terlalu membebani dengan hal-hal yang berat. Jika harus mengajari, ajarilah hal-hal yang bersifat hafalan, misal baca doa sambil bernyanyi, mengaji itu saja. Anak-anak TK jangan didekatkan dengan game atau tablet karena akan mengalami kecanduan bahkan yang paling parah dapat menyebabkan epilepsi jika dewasa.
   Jika fase RAJA ini tuntas, anak akan menuju fase tawanan dengan baik. Jika tidak tuntas akan menyebabkan keterlabatan mental, disaat harus melalui fase berikutnya, kekanak-kanakannya akan terus ikut mengganggu, tidak mandiri, egois dan semaunya. Kesabaran dan ketelatenan ayah dan ibu adalah kunci utama di fase RAJA ini, memang saat orang tua lelah setelah seharian bekerja masih harus mendidik anak-anak, tapi mending bersusahpayah sekarang dan mendapatkan bonus anak shalih-shalihah daripada bersusahpayah di dunia dan akherat kelak jika orangtua tidak dapat mempertanggungjawabkan anak kita kelak di hadapan Allah. Ingatlah selalu anugerah Allah berupa seorang anak kepada kita begitu besar, karena tidak semua orangtua memiliki kesempatan memiliki anak. Beberapa memiliki anak yang kurang sempurna, dan kita memiliki anak yang sempurna, betapa kita wajib bersyukur setiap saat n waktu, dengan cara memberi pendidikan terbaik sesuai AlQuran dan AsSunnah.
   Mensinergikan pendidikan anak di sekolah dengan di rumah caranya dengan menyelaraskan apa yang diajarkan di sekolah wajib pula diajarkan dirumah, melalui keteladanan Ayah dan ibu. Disekolah diajarkan doa, mengaji, bernyanyi, adab makan dan minum, maka dirumahpun harus diajarkan yang seperti itu. Jangan sampai berlawanan, karena akan membuat anak bingung dan menyebabkan Split Personality, kepribadian ganda. Dan Split Personality sangat berbahaya, dia akan mengganggu dan jadi sampah masyarakat, ibaratnya anak sebagai kertas putih itu telah kucel bahkan robek, orangtualah yang akan bertanggungjawab dihadapan Allah kelak di akherat. *naudzubillah min dzalik**

  

Advertisements

2 thoughts on “Mensinergikan Pendidikan Anak Usia Dini di Sekolah dan di Rumah

    • Betul dek..Kalo anak-anak masih kecil cuman saya biasakan baca dongeng, mamanya yang bacain, mengaji, berhitungpun pake acara beli-belian. Sedang pembentukan karakter memang agak berat karena butuh istiqomahnya orangtua dalam memberi tauladan terbaik, tetap semangat ajah deh, liat hasilnya memuaskan, capeknya pasti ilang 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s