Sinergi membangun Generasi berprestasi dan berbudi pekerti

Sabtu, 11 januari 2014. Mengawali semester dua dengan acara parenting di sekolah. Seperti biasa konsultan Sekolah bapak Suhadi Fajaray selalu tampil menarik dan atraktif, semakin antusias ingin segera menyimak ilmu beliau pagi ini.
   Di dahului laporan hasil survey tentang pornografi dan pacaran yang ternyata hampir semua anak klas 9 terpapar pornografi dan pernah berpacaran, untuk klas 8 dan 7 ada beberapa. Kami sebagai orang tua shock dengan hasil tersebut, ya..walaupun Belva termasuk anak aman terkendali sebagai orang tua kami wajib berusaha melakukan usaha preventif.
   Bapak Suhadi mulai berbicara keras dan tegas, bahwa semua ini seharusnya tidak boleh terjadi, bagaimana orang tua bisa lengah. Apakah orang tua ini tidak memiliki kurikulum keluarga??..Sehingga anak dengan mudah mengakses pornografi dan berpacaran.
   Lanjut bapak Suhadi, ilmu parenting sudah sejak zaman rasul diajarkan oleh sayidina Ali RA, yang menurut beliau, ada 3fase dalam cara mendidik anak:
(1). Usia 0-7tahun, anak diasuh bagaikan raja/ratu, dengan penuh kasih dan sayang kita berlembut-lembut terhadap mereka. Jangan pernah membentak dan menyakiti, semua dilayani dan berikan aturan lebih longgar.
(2). Usia 7-14tahun, anak diasuh bagaikan tawanan. Peraturan ditegakkan dengan tegas, reward dan punishment pun harus diberlakukan dengan tegas. Bagi murid SMP yang notabene umur sekitar 12 hingga 15an tahun, tentu termasuk fase ini. Tidak ada istilah mengikuti trend, pacaran misalnya, jika dalam agama islam hal tersebut dilarang maka kita sebagai orang tua pun harus melarang dengan tegas. Jika anak sudah melanggar berlakukan ajaran Rasul;
a. Konfirmasi, apa benar anak melakukannya
b. Motivasi, motif atau alasan dibalik dia melakukan pelanggaran
c. Solusi, berikan solusi terbaik dan hukuman yang sepadan. Itulah yang selalu dilakukan rasul jika mendapati ada umat yang melanggar aturan.
(3).14-21tahun, anak diperlakukan sebagai sahabat, dengan syarat 2 fase sebelumnya telah lulus dengan sempurna. Perilakunya dan Kemandiriannya sudah terbentuk dengan baik. Jika belum berarti ada yang salah dengan pola pengasuhan orang tua sebelumnya. Tentunya hal ini akan menjadi beban dikemudian hari.
  Selain penerapan kurikulum keluarga dan cara mendidik anak yang terbaik, tak ketinggalan bapak Suhadi menjelaskan bagaimana buruknya efek dari pornografi, yang akan merusak anak di 5bagian di dalam otak, anak yang kecanduan pornografi ibarat barang rongsokan. Paparan Pornografi dapat menyebar melalui tehnologi, seperti televisi, gadget, game online dan sebagainya. Sehingga wajib bagi kita memberi pengawasan dan pembatasan penggunaan barang-barang tersebut. Jika memang mereka belum membutuhkan, janganlah kita dengan mudah menyediakan. Kalau bisa sebagai orang tua harus melek tehnologi agar dapat mengantisipasi hal-hal buruk yang dapat terjadi.
   Terakhir jangan lupa untuk selau berdoa dan bersedekah untuk anak-anak kita. Maafkan dan doakan selalu, sedekah makin besar jika anak kita makin bandel atau nakal tak terkendali. Bukankah Sedekah selain memancing rezeki juga menolak bala sekaligus sebagai pelindung keluarga, termasuk sarana mencetak anak-anak shalih dan shalihah.
   Acara ditutup dengan wejangan untuk anak-anak agar menjauhi pornografi dan pacaran. Mumpung masih muda, berprestasilah sebanyak-banyaknya dan dukungan orang tua tak kalah penting dengan mensinergikan apa yang diajarkan disekolah dengan dirumah agar terjadi keselarasan pendidikan dan menjadikannya optimal.
  

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s