Ber”CERITA”lah

  

image

   Membiasakan anak-anak bercerita sedari kecil diharapkan dapat menghindarkan mereka dari sifat introvert. Kebiasaan tersebut dapat dipancing melalui membacakan dongeng sebelum tidur atau kapanpun saat orang tua memiliki kesempatan. Membiasakan bertanya saat mereka pulang sekolah misalnya, materi pertanyaan pun dapat beraneka ragam misalnya tentang temannya, gurunya ataupun selama perjalanan berangkat ataupun pulang sekolah.
   Dulu saat kak Belva kecil sampai hafal jika saya belum menyapanya dengan pertanyaan tentang sekolahnya. Belva bertanya,”Mama hari ini belum tanya hari ini aku ngapain ajah disekolah”..Iya..ya kadang sangking sibuk dan capeknya sampai lupa menanyakan. Kebiasaan yang sama saya berlakukan di kedua adek Belva, Reva dan Mika. Alhamdulillah..ketiga nya selalu lancar bercerita bahkan sering berebut siapa yang lebih dulu bercerita, dan akhirnya mama nya yang kebingungan menentukan siapa yang duluan..hiyah.
   Sekarang kak Belva telah menginjak remaja, masa-masa puber yang cukup membuat mama papa semakin over protect. Sejauh ini kak Belva masih terbuka bahkan kami berdua seperti sahabat. Yach..bagaimanapun mama harus memaksa diri bertransformasi menjadi sahabat yang mau tidak mau siap mendengar cerita dan curhatan serta banyak menggali informasi tentang artis idola dan kesukaannya, agar komunikasi kami menjadi lebih asik. Bahkan beberapa teman kak Belva di facebook telah menjadi teman saya. Apalagi Belva tidak memiliki akun facebook, topik-topik populer di sekolah justru saya dapatkan dari akun teman-temannya di facebook. Kak Belva tipikal anak yang sangat taat aturan, peraturan facebook yang membatasi umur minimal 13th, membuat dia enggan memiliki akun facebook dan dia lebih memilih twitter selain lebih update tentang idolanya, ia juga mendapatkan banyak ilmu disana, memang anak yang sangat cerdas..*mama narsis.modeOn*.
   Semester satu diklas 7 ini dihiasi oleh cerita-cerita tentang teman yang mulai saling suka, pacaran katanya, ah..tidak juga. Belva sendiri belum ikut-ikutan trend seperti itu, apalagi sekolah dengan basic agama sangat menentang keras budaya pacaran dan Alhamdulillah Belva memiliki Prinsip yang sangat kuat tentang itu. Paling dia komentar,”kecil-kecil pacaran, tuh ma, nilainya temen aku yang pacar-pacaran turun semua”. “Uhm..Kalau kamu kak, naksir siapa, yang mana, kira-kira mama berteman di fesbuk tidak ya?” goda saya. “Ih mama, gak ada ma, gak ada yang ganteng, kecil-kecil anaknya, males ah, mama nih. Ogah,” jawab Belva.. “Lhaiya kak, kamu nyari yang kayak Kendall Schmidt mana ada..hahaha, percis mama dulu, alirannya Bule, Pokoknya kak, gak usah pacaran ya, ntar langsung taaruf ajah sama anak pak.Roni, udah ganteng, sopan, tinggi percis bule, setuju kalo yang itu, cocok banget ama kamu kak..wkwkwk” lanjut saya, dan kak Belva tersenyum malu. Nasehat yang hebat dari seorang mama bukan? *eh yang naksir nih mama apa kak belva ya*..qiqiqi.
   Cerita yang berbeda ada salah satu teman kak Belva yang doyan bohong, dalam setiap kesempatan selalu berbohong, entah masalah PR, ijin sakit, haid, bohong ke orang tua dan ustadzah. Dan pada akhirnya semua teman tau kalo temen kak Belva yang satu doyan bohong, akibatnya dia dikucilkan, gak ada teman yang mau bermain dengannya, efek berikutnya temen kak Belva ini jarang masuk, malas kumpulin tugas dan semua nilai turun. “Kasian ya kak, seharusnya tidak kalian tinggalkan, tapi kamu rangkul dan sadarkan kalo berbohong itu tidak baik” saran saya. “Tapi ma, dia gak pernah ngaku kalo bohong dan berkali-kali pula. Dan selalu bilang tidak bohong, padahal udah ketauan bohong, eh diterus-terusin. Males temenan ama dia lagi ma, buat apa juga bohong, padahal kita lho gak bakal marah atau apa gitu,”..jawab kak Belva kethus. Ya..ya..ya, maklum dengan semua keputusan yang diambil kak Belva, mungkin perlu waktu memulihkan kepercayaan.
   Materi obrolan yang macam-macam seperti ini bermanfaat banget, selain menambah kedekatan anak dan orang tua, kita dapat mengetahui seperti apa cara pandang/tanggapan/sikap anak terhadap suatu masalah/nilai/trend yang sedang terjadi di Sekolah dan Sekitar. Dan pada akhirnya orang tua dapat membenarkan atau mengarahkan dan menambahkan jika pendapat anak dinilai kurang tepat. Saat-saat seperti inilah penanaman akidah dan akhlak dapat diberikan, kembali ke AlQuran dan Sunnah, Wajib hukumnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s