Suka Duka Pengusaha

  
  
image

Heboh terjun bebasnya rupiah, akan membuat cekot-cekot pengusaha. Entah apa yang membuat dollar melambung, karena saya sendiri kurang suka dengan ilmu ekonomi makro, jadi tidak paham sama sekali. Yang saya paham adalah mau tidak mau harus menikmati kenaikan harga produk-produk yang kami jual. Sungguh berat rasanya harus menaikkan harga jual produk, selain faktor persaingan, juga karena tidak tega dengan customer apalagi trader..hiks
   Baru saja menikmati kenaikan omset yang fantastis, harapannya profit menjadi lebih besar, terbanyang segera Bebas Financial, melunasi semua hutang usaha, betapa bahagianya. Owh, tentu tidak, skenario yang kamu susun sendiri itu namanya..hehehe. Skenario Allah beda lagi, Allah tidak ingin melihat kami melemah karena mendapatkan kesuksesan lebih awal dengan mudah.
   Kenaikan dolar diikuti kenaikan harga, belum lagi kenaikan Tarif Dasar Listrik, UMR dan lain-lain, pasti membuat pengusaha manapun puyeng. Sekelas kami pun, pengusaha kecil yang belum berbadan hukum juga turut menghadapi semua hambatan ini, mau tidak mau akan turut menghadapinya.
   Dengan naiknya variabel cost tentunya akan menggerus profit meski omset terus meningkat. Salah satu cara yang biasa kami lakukan adalah efisiensi, cost mana yang paling mudah untuk di eliminir, itu solusi pertama, misalnya penghematan listrik. Untuk mengurangi tenaga kerja jelas tidak mungkin, selain memang pas-pas an dalam hal Sumber Daya Manusia, kami tidak terbiasa PHK pegawai jika tidak terpaksa, seperti kedapatan mencuri atau korupsi. Fokus paling utama dalam meningkatkan Profit ditengah hambatan-hambatan tersebut ya tetap Omset yang kita kejar.
   Omset 2tahun terakhir memang cenderung meningkat tajam, fantastis, itu yang harus kami pertahankan. Dengan berbagai cara marketing promosi online dan offline, terus kami lakukan. Pengadaan barang dengan harga kompetitif selalu kami upayakan sebagai antisipasi persaingan yang padat. Di setiap 500meter terdapat pesaing, bisa bayangkan betapa kami harus bekerja keras dan cerdas. Beberapa kompetitor bahkan menjadi sekutu kami, itu lebih baik bukan, mencari teman dalam memperoleh produk tertentu dengan harga yang jauh lebih murah karena quantity yang lebih besar. Belum lagi trader-trader kecil sahabat-sahabat kami yang walaupun mereka mengaku sebagai Sales toserba kami, kami sangat berterimakasih, mempromosikan nama toserba kami secara gratis..hehehe

image

   Itu masih masalah kenaikan dolar, persaingan, belum berbicara tentang manajemen karyawan, birokrasi, hutang usaha yang harus berputar cepat agar bunga tidak melambung. Justru disaat produktivitas toko sedang tinggi-tingginya, kami diuji dengan turnover pegawai yang tinggi. Keluar-Masuknya pegawai membuat kami lumayan kerepotan, apalagi staff juga sebagian resign. Mudah mendapatkan pegawai baru tapi yang qualified itu yang susah, apalagi untuk menduduki kursi staff, lumayan juga mengajarinya, training itu memakan waktu dan biaya, jadi kalau sudah staff terus resign, extra mumetnya. Kalau pegawai area lebih mudah mengajarinya tapi saat ini didominasi anak-anak jaman sekarang, yang senior sebagian resign karena menikah atau memiliki anak dan sebagian menjadi staff. Jika saya amati mental pegawai sekarang inginnya kerjaan ringan tapi salary gedhe, ahh..sangat bermental bossy, kerja sebentar, doyan pindah-pindah brand perusahaan.
Sungguh, dibutuhkan mental yang kuat untuk menjadi pengusaha, apalagi kami merangkak dari bawah dan masih menggunakan hutang usaha dari Bank. Mungkin kalau dilihat dari luar, enak pengusaha itu tidak terikat oleh waktu dan ongkang-ongkang kaki. Nah! Justru itu kami berdua malah susah mengatur liburnya, seakan-akan pekerjaan setiap hari tak kunjung selesai. Memang sih saya lebih luwes mengatur waktu daripada hubby, karena sebagai ibu dari awal komit untuk memprioritaskan keluarga dan anak-anak. Tapi yang paling enak jadi pengusaha, kita lebih cepat bebas financial di masa tua, asal cermat dalam mengatur keuangan, juga memiliki tongkat estafet untuk anak-anak kelak, meski hingga saat ini belum terlihat siapa dari anak-anak kami yang berminat, paling tidak kami punya bekal untuk memberikan mereka praktek kerja secara langsung dan lebih dini mengajarkan tentang kewirausahaan. Kalaupun mereka tidak berminat, mungkin alokasi dana pengembangan usaha dikonglomerasi sesuai bakat dan minat masing-masing anak..InsyaAllah.
   Terakhir tak lupa untuk selalu berdoa selain berikhtiar tentunya, tahajud, dhuha dan sedekahpun harus lebih rajin selain sebagai wujud syukur juga sebagai penolak bala dan kesulitan. Terakhir hal yang paling fundamental, yaitu tawakal, berserah kepada Allah semata atas semua kerja keras yang terus menerus kami upayakan. Dan selalu Istiqomah jadi pengusaha yang sukses dunia dan akherat..aamiin
 
“DO YOUR BEST and LET ALLAH DO THE REST”
  

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s