Kelas Tilawati dua yang terbelah dua

  Mulai sejak kemarin, rabu pagi seperti biasa saya mengaji tilawati 2 dimasjid Raudlatul Jannah. Ada yang berubah, kelas telah terbagi dua, kelas ustadz Hakam dan kelas ustadz Mustofa. Karena datang terlambat, langsung saja menuju kelas ustadz Hakam yang biasa saya ikuti. Saya tanya mom.Riena,”lhoh, kenapa kelas dipecah dua, saya tetap di kelas ini kan mbak?”. Mom.Riena jawab,”dari kemarin nih, gak masuk ya??. Dipecah dua karena kelas terlalu penuh, sebagian dipindah ke ustadz Mustofa”..”Owh, iya, saya selasa tidak masuk karena Mika sakit, tapi saya tetap disini. Gapapa juga kan?”. Mom.Rin jawab,”iya, gapapa”. Saya tanya ustadz Hakam langsung, beliau jawab,”saya juga tidak tahu bu. Kebetulan kemarin juga tidak masuk”..”Owh, Baiklah,”jawab saya.
  Hari ini, Kamis pagi, seperti biasa kelas mengaji lagi, datang masih lebih awal, tapi kelas ustadz Hakam telah rame peminat, sebaliknya kelas ustadz Mustofa sepi peminat. Mendadak ustadzah koordinator mengaji mendatangi kelas kami, beliau berkata,”Maap, ibu-ibu, dimohon pindah sebagian ke kelas ustadz Mustofa ya”. “Heh!! Saya gak mau ustadzah,” jawab saya. Ustadzah,”wah, disini terlalu sesak bu, mohon sebagian pindah ya ke ustadz Mustofa. Atau berdasarkan absen saja. Bagaimana enaknya”..Langsung saya debat,”Kalo berbicara tentang keadilan ustadzah ya, jangan berdasarkan absen lah. Ustadz Hakam, absennya gak paten gitu urutannya, tiap sebulan ganti berdasarkan tempat duduk. Kalo berdasarkan absensi terakhir saya jelas ikut kloter yang pindah donk Ust, orang kemarin saya absen nomer buncit. Bagaimana kalo yang new comer ajah yang pindah. Ya, yang merasa saja lah. No hurt feeling lho ya. Terus terang sejak awal sudah kebiasaan diajari ustadz Hakam, saya gak mau adaptasi lagi”..Mama-mama lain yang seangkatan bareng saya pada senyum-senyum sambil ngebatin, nih orang preman banget yak, tapi mereka seneng bahkan berterimakasih, saya bantu protes..wkwkwk. Mom.Wahyu komentar,”kapan tuh hari Selasa, mama-mama yang dipindah pada nurut lho, biarpun langsung dibelah berdasar tempat duduk, sebelah sini dengan ustadz Hakam dan sebelah sana ustadz Mustofa. Lhah, sekarang koq langsung diprotes..qiqiqi, wes-wes terlalu vocal, diangkat jadi ketua genk saja deh”..Kami yang memang seangkatan dari awal mengaji menghendaki tetap diajar oleh ustadz Hakam. Entahlah, bagi saya metode mengajar dan cara penyampaian ustadz Hakam sudah sangat cocok dengan kami, biarpun beliau masih sangat muda tapi sangat santun dan sabar dalam mengajar, dan tetap dengan standart penilaian yang cukup tinggi dalam membetulkan makhraj kami yang tidak jelas ini. Ada sesal sebenarnya, perasaan merasa bersalah kepada mama-mama yang lain, kira-kira mereka sakit hati tidak ya. Ahh..sudahlah, hidup memang penuh pro dan kontra, saya hanya menginginkan hak saya dengan memberikan argumen tentang keadilan.
   Maapin aye ya ustadz Hakam dan ustadz Mustofa, maapin aye juga ya mama-mama..Respect and Peace!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s