Hijab is my identity, my modesty


“Hijab doesnt cover up a womens weakness. Rather it displays her strength, commitment and  confidence which is built out of love for ALLAH”

image

 

Telah lebih dari 13 tahun saya mengenakan hijab sebagai bentuk ketaatan akan syariat agama. Alasan awal hijrah ini karena nazar yang terucap sebagai janji, jika nilai mata kuliah Akutansi Manajemen minimal D *jelek amat*..hiyah, D itu sudah kategori lulus tidak pake ngulang. Mengapa sampai segitunya, karena jika sampai nilai AM hanya E, maka ujian Skripsi akan tertunda satu semester lagi, padahal sudah siap untuk diuji. Bagi saya yang mengambil jurusan manajemen mata kuliah paling menjadi momok adalah Akutansi beserta turunannya..hiks
Siang malam berdoa, puasa senin-kamis, dan tak lupa tahajud setiap malam, Alhamdulillah nilai mata kuliah AM adalah D. Setelah diputuskan dapat melanjutkan sidang Skripsi, tepat tanggal 1 january 2000, saya hijrah, menutup semua aurat dengan hijab yang mungkin belum sempurna. Alhamdulillah hingga detik hari ini masih tetap istiqomah dalam berhijab dan masih terus berusaha menyempurnakan sesuai syariat.

scan0005

Pertama kali mengenakan hijab, Alhamdulillah merasa sangat nyaman, tidak risih atau gerah, padahal cuaca di Surabaya sangat panas. Dan saya terbiasa menggunakan model sendiri, saat itu yang ada dalam bayangan saya, hijab casual. Artinya saya lebih nyaman menggunakan jins belel saya dipadupadan dengan blouse, cardigan, blazer, karena dapat memanfaatkan stock baju yang telah ada, sedangkan jilbabnya masih yang standart saja yaitu segiempat. Berhijab tidak harus banyak mengeluarkan anggaran koq, apalagi saat itu masih kuliah, dana masih minta orang tua, yang terpenting niat sudah kuat dan hidayah itu telah datang, jangan ditunda lagi, seadanya stok baju dirumah, di padu padankan sendiri, kemudian tinggal investasi jilbabnya. Lagipula sejak mengenakan hijab, para tukang becak depan kampus tak lagi memanggil saya Nonik, dan mayoritas mahasiswa kampus kami berkulit kuning dan bermata sipit, memang mirip nonik saat itu, kulit terang dengan rambut blonde..hehehe. Itulah mengapa hijab dapat disebut sebagai identitas muslimah, kalau sudah berhijab pasti muslim kan. Ya, iyalah

fam26

Saat awal-awal memang belum begitu banyak inspirasi gaya berjilbab ya, beda sekarang hijabers bertebaran di seluruh bumi, apalagi era social media begini. Tapi bagi saya tetap yang paling nyaman adalah jilbab paris segiempat dan jilbab instan karena paling praktis dan ekonomis.

fam18

Metamorfosis gaya berhijab dari Casual hingga Syar’i, dari celana jeans hingga gamis, telah saya lalui. Beberapa tahun belakangan memang sedang booming hijabers, sempat terseret mode, tapi yang paling saya suka pashmina, dapat dibuat model apasaja. Tapi sejak anak sulung saya sekolah Islam dan mulai ditanamkan hijab syar’i, mulai pula menceramahi mama nya. Dan saya pun mulai belajar tentang syariat berhijab yang benar. Finally, tepat awal tahun 2013, semua celana telah saya museumkan, baik jeans, jegging, kain, pindah mengenakan rok dan gamis, demikian pula dengan jilbabnya, kembali ke segiempat atau jilbab instan tapi dengan bahan yang lebih tebal dan menutup dada. Sesekali masih juga mengikuti mode seperti padu padankan antara rok dengan atasan atau gamis dengan jilbab dan pashmina, tentu saja dengan syarat dan ketentuan yang berlaku yaitu Syar’i, jadi berhijabpun bukan berarti kita
tidak dapat mengikuti mode, asal jangan jadi korban mode, lebih mengedepankan kesesuaian syariat, kenyamanan dan syiar.

SEDERHANAKAN JILBABMU UKHTI

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s