13 tahun..

= 01/10/2000 – 01/10/2013 =

  Melewati 13 tahun pernikahan tidaklah mudah. Pasang surut hubungan, cobaan, rintangan bahkan hampir karamnya bahtera pernikahan pun telah kami rasakan. Alhamdulillah, kami dapat menyelamatkan semua, kembali berkomitmen membangun rumah tangga yang Sakinah Mawaddah Warahmah. Mengingat ikrar yang telah kami ucapkan di depan penghulu, sebagai buah cinta suci karunia Allah yang wajib kami jaga hingga akhir nanti..in Sha Allah
  Jika menceritakan kembali kisah pertemuan dua hati antara saya dan hubby, rasanya tidak akan ada yang percaya. Tapi saya benar-benar percaya bahwa Allah lah yang mengirimkan Agung Budianto untuk Diah Anggraeni. Saat itu kami sama-sama kuliah di universitas yang berbeda, dan kami sedang menjalani scedul UTS yang bersamaan. Tiba-tiba telpon rumah berdering, ibu memanggil saya,”ada telfon buatmu dari Indra”..Uhm, dahi mengernyit bingung,”Indra ya mam?, siapa tuh,”jawab saya. Telpon segera saya angkat,”straight to the point,kamu siapa?, aku tidak mengenal nama indra di friendlist ku, ngaku ajah deh, trus dapat nomer telponku dari mana?”. Di seberang menjawab,”eh iya, aku bukan indra tapi agung, anak unair 93, dan aku tahu nomer kamu dari yellow pages”..”what???”teriak aku, kemudian mendadak bengong,”kamu ajaib bener ya?,”lanjut aku. Ngobrol kesana kemari, setiap hari telpon-telponan, hanya kenal suara tanpa wujud selama dua minggu. Finally, kami putuskan bertemu setelah scedul UTS berakhir. Dagdigdug tentu saja. Harapan saya saat itu semua kriteria yang saya inginkan sebagai suami ada di mas Agung, karena saya tidak sedang mencari pacar tapi suami dan sejauh ini dari pembicaraan yang kami lakukan ditelpon telah memberi poin tersendiri, mas Agung smart, terlihat dari gaya berbicara dan topik bahasan yang kami bicarakan. Hanya soal fisik karena saat kami berbincang di telpon pun mas Agung telah bercerita banyak tentang keluarganya dan semua terbukti benar adanya, poin ke2 dia jujur. Saat yang kami tunggu-tunggu itupun datang. Malam minggu, entahlah hari itu tanggal berapa dan jam berapa pertama kali kami bertemu, sama sekali tak kami ingat. Yang pasti saat pertama kalinya kami bertemu kami langsung jatuh hati dan yakin bahwa Allah telah menjodohkan kami. Setelah pertemuan itu, terjadi pertemuan-pertemuan berikutnya, tak berlangsung lama, dalam setahun kami bertunangan, dan setahun berikutnya kami menikah.
  Tepat tanggal 1 Oktober 2000, bertepatan dengan kesaktian Pancasila kami menikah. Harapan kami saat itu, pernikahan kami akan sakti dan tahan uji..hehehe, Alhamdulillah sejauh ini terbukti. Oh, tentu saja atas karunia dan rahmat Allah lah hingga detik ini kami masih bersama dalam suka dan duka. Sesaat setelah menikah, atas permintaan orang tua saya dan konsultan kami di toko (usaha keluarga saya) hubby disarankan keluar dari pekerjaannya dan mulai membantu saya dalam mengelola toko. Subhanallah..berkat tangan dinginnya, toko mulai berkembang dengan pesat. Ternyata konsultan kami memang benar adanya, dia dapat melihat kemampuan hubby yang dahsyat.
  Setelah memiliki anak pertama, kegiatan saya ditoko memang mulai berkurang. Maklum, bagaimanapun takdir wanita adalah menjadi seorang ibu, lagipula memiliki anak pertama rasanya ingin selalu berada didekatnya. Hubby lah yang menggantikan peran saya di toko, full. Setelah Belva agak besar mulai lagi beraktivitas normal. Saat itu kami ingin lepas dari ortu, ingin rumah sendiri dan kamipun kontrak rumah. Setelah Reva lahir berjarak 4.5tahun dengan Belva, kami dapat membeli rumah dilanjutkan mobil yang lebih bagus dari sebelumnya. Mika lahir 3tahun setelah Reva, harapan kami memiliki anak laki-laki terwujud sudah, Alhamdulillah, 3orang buah hati yang sehat, cerdas dan cantik serta tampan dari hasil cinta kasih kami telah kami miliki.
   Doa yang selalu saya panjatkan setiap selesai sholat adalah pernikahan kami akan selalu dalam Ridho Allah, menikmati masa-masa pernikahan bersama anak-anak dengan kebahagian sejati hingga maut memisahkan kami dan kelak akan menyatukan kami kembali di surga Allah..aamiin ya rabbal alamiin

“Menikah dengan orang yang kita cintai itu sebuah KEMUNGKINAN
Mencintai orang yang kita nikahi itu sebuah KEPUTUSAN
Terus belajar mencintai orang yang yang (lama) kita nikahi itu sebuah PERJUANGAN
Berani merasakan sakitnya untuk kembali membangun rasa cinta kepada orang yang kita nikahi itu sebuah KEBERANIAN
Mau memaafkan pasangan yang kita nikahi itu sebuah KEMULIAAN
Melandaskan semua cinta hanya kepada Allah itu sebuah KESEMPURNAAN”
= SOUL is MADE, Not FOUND =

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s