Sawang Sinawang

  Kata orang, hidup itu sawang sinawang, artinya apa yang terlihat secara kasat mata tentang kehidupan orang lain belum tentu seperti itulah kenyataannya. Orang dengan kehidupan glamour tapi ternyata hasil berhutang atau malah sebaliknya, memilih hidup bersahaja padahal harta berlimpah. Yach..hidup itu pilihan, kita ingin terlihat seperti apa, gaul, sukses, glamour atau bersahaja. Semua pilihan mengandung konsekuensi yang harus kita terima.
  Pagi ini awali hari dengan membaca japos for her. Ritual di hari sabtu, terkadang ada informasi tentang hal-hal yang menarik. Tapi lagi-lagi disuguhi dengan hal-hal berbau hedonisme. Genk ibu-ibu sedang menikmati hadiah jalan-jalan keluar negeri dari japos for her. Hadiah itu untuk berlima saja tapi karena satu genk, yang lain ikut dengan biaya sendiri. Terkadang melihat semua itu bikin nyesek dada, kapan giliran saya menikmatinya, rame-rame satu genk jalan-jalan, terbebas dari rutinitas yang sesekali sangat membosankan..*deepsigh*.
  Dibesarkan dari keluarga yang terbilang cukup mapan walau tak berlebihan. Sejak kecil diajarkan untuk hidup bersahaja, tapi saat setelah masuk universitas surabaya yang terkenal dengan penghuni nya yang kaum borjuis, saya pun mulai terpengaruh. Walau tidak terlalu parah, mulai kenal branded, tapi saya tidak memiliki satupun barang branded, karena memang tidak mampu beli, jadi mlipir, bergaulah dengan kaum menengah saja..hiks. Mulai semester 3 ayah memutuskan untuk membuka usaha, toserba Dea Wijaya, dan tentu saja sebagai satu-satunya anak perempuan yang memang sudah disetting sejak awal sebagai owner, maka saya harus kuliah di jurusan ekonomi. Sejak toko beroperasi, kehidupan kuliah saya mulai terampas dengan kehidupan pekerjaan, pulang kuliah harus tepat waktu lanjut kulakan dan mengurus toko. Semua saya nikmati, terpaksa atau tidak, bagi saya inilah wujud bakti saya kepada orang tua. Melupakan cita-cita dan kesenangan masa muda. Tiba saatnya menikah, hubby sedikit demi sedikit mulai mengambil alih walau tidak total, karena kami memang mengurus hal yang berbeda. Tapi yang pasti setiap pengembangan usaha mengandung konsekuensi hutang usaha yang wajib kami lunasi, jadilah kami bersatu padu, bahu membahu, bekerja keras untuk segera dapat mencapai kehidupan bebas financial. Kami pun memilih hidup bersahaja, dengan konsep
berproduksi sebesar-besarnya (kerja keras-cerdas maximal) , distribusi seluas-luasnya (untuk membantu sesama) dan konsumsi sekedarnya saja.
  Menikah bagi saya adalah anugerah terindah dari Allah berupa kehidupan penuh dengan tanggungjawab yang tidak sedikit. Mendidik anak-anak adalah pekerjaan yang tidak mudah. Tapi kata orang kalau sudah terbiasa memenejemen perusahaan akan terbiasa dengan pola yang sistematis, sehingga memudahkan dalam penerapan ilmu mendidik anak-anak, memang terbukti. Berikut tentang dana pendidikan dan setelahnya, tentu tidak gampang menyiapkan dana sebesar itu untuk 3orang buah hati dengan cita-cita yang berbeda-beda.
  Kehidupan saya sepertinya hanya berkisar berkeluarga, mendidik anak dan mengelola perusahaan, bosan pastinya, tentu saja.., perasaan itu menjadi-jadi dengan sifat hubby yang overprotek, ijin untuk bertemu teman sekedar me time yang hanya 2-3jam sulit sekali..hiks. Hubby saya tipe family man, dia pun hampir tidak pernah bersilaturahim dengan teman-temannya, itulah mengapa dia juga sulit memberi ijin saya bertemu teman-teman, cukuplah Me Time bersama hubby, padahal itu berbeda.
  Memang kehidupan kita terlihat sangat membosankan jika kita selalu melihat keatas, melihat orang-orang dengan kehidupan serba bebas, kaya raya tanpa beban urus anak, suami, usaha..hikhik. Tapi coba lihatlah kedalamnya apakah mereka bahagia dengan kehidupan rumah tangga, pekerjaannya dan hutangnya mungkin??, no one knows, right. Ada beberapa teman sangat menikmati kehidupan bebas, duit banyak, foya-foya, jarang urus anak, tapi juga harus sanggup kehilangan keutuhan rumah tangga. Sekali lagi hidup adalah pilihan, dalam memilih pasangan hidup juga harus sanggup menerima satu paket, baik kelebihan maupun kekurangan. Apapun perintah suami selama tidak melanggar Quran dan Sunnah, wajib kita patuhi, hubby saya mungkin hanya ingin waktu saya habiskan bersama anak-anak saat tidak bekerja, bukan bersenang-senang diluaran, yang dapat memberikan efek negatif buat saya.
  Dengan menikmati kehidupan saya sekarang yang makin relijius dan bersahaja dengan ditemani anak-anak yang qurrota ayun, sudah lebih dari cukup Nikmat Allah yang wajib untuk disyukuri. Disaat keluarga lain berjibaku dengan kenakalan anak-anak atau remaja, kehidupan saya justru sebaliknya, anak-anak patuh dan taat agama, orang tua dan berprestasi disekolah. Selain itu perusahaan kami berkembang dengan pesat, target bebas financialpun makin dekat, hubungan pasangan selalu harmonis dan mesra. Semakin meyakini tidak akan ada yang sia-sia dengan semua usaha, semangat dan doa dalam keikhlasan menjalani pilihan hidup, selama bertujuan mencari Ridho Allah, karena Allah akan mewujudkan semua impian kita…jadiiiiiii…

“Nikmat TuhanMu yang manakah yang kamu dustakan???….”

Advertisements

2 thoughts on “Sawang Sinawang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s