Pendidikan Karakter

“Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action)”

Menurut Thomas Lickona, tanpa ketiga aspek ini, maka pendidikan karakter tidak akan efektif.Dengan pendidikan karakter yang diterapkan secara sistematis dan berkelanjutan, seorang anak akan cerdas secara emosinya.

    Kecerdasan emosi inilah yang menjadi bekal penting dalam mempersiapkan anak dalam menyongsong masa depan, karena seseorang akan lebih mudah dan berhasil menghadapi segala macam tantangan kehidupan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis.

Terdapat 9 pilar karakter yang berasal dari nilai-nilai luhur universal, yaitu: cinta; kemandirian dan tanggungjawab; kejujuran; hormat dan santun; dermawan, suka menolong dan bekerjasama; percaya diri dan pekerja keras; kepemimpinan dan keadilan; rendah hati; toleransi.Kesembilan pilar karakter itu, diajarkan secara sistematis dalam model pendidikan holistik menggunakan metode knowing the good, feeling the good, dan acting the good. Knowing the good  bisa mudah diajarkan sebab pengetahuan bersifat kognitif saja.
    Setelah itu harus ditumbuhkan feeling loving the good, yakni bagaimana merasakan dan mencintai kebajikan sehingga menjadi mesin yang bisa membuat orang senantiasa mau berbuat sesuatu kebaikan. Setelah terbiasa melakukan kebajikan, maka acting the good itu berubah menjadi kebiasaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 50% variabilitas kecerdasan orang dewasa sudah terjadi ketika anak berusia 4 tahun. Peningkatan 30% berikutnya terjadi pada usia 8 tahun, dan 20% sisanya pada pertengahan atau akhir dasawarsa kedua. Oleh karena itu dasar pendidikan karakter, sebaiknya diterapkan sejak anak berada dalam usia emas. Dari sini, sudah sepatutnyalah jika pendidikan karakter dimulai dari dalam keluarga, yang merupakan lingkungan pertama bagi pertumbuhan karakter anak

    Dorothy Law Nolte, dalam menyatakan dalam quotenya, “Bila seorang anak dibesarkan dengan kritik,ia akan belajar menghukum. Bila seorang anak dibesarkan dengan permusuhan, ia akan belajar kekerasan. Bila seorang anak dibesarkan dengan olokan, ia belajar menjadi malu. Bila seorang anak dibesarkan dengan rasa malu, ia akan belajar merasa bersalah. Bila seorang anak dibesarkan dengan dorongan, ia akan belajar percaya diri. Bila seorang anak dibesarkan dengan keadilan, ia akan belajar menjalankan keadilan. Bila seorang anak dibesarkan dengan ketentraman, ia akan belajar tentang iman. Bila seorang anak dibesarkan dengan dukungan, ia akan belajar menyukai dirinya sendiri. Bila seorang anak hidup dengan penerimaan dan persahabatan , ia akan belajar untuk mencintai dunia.”

   Banyak para orang tua yang tidak menyadari hal-hal diatas, tentang bagaimana mendidik seorang anak. Apa yang diraih oleh seorang anak dimasa sekarang merupakan hasil dari didikan orang tua mereka dimasa kecil. Pendidikan yang baik diperlukan untuk membangun karakter yang baik untuk anak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s