Komunikasi efektif dengan Anak

image

Effective Communication in Child Care or Parenting” oleh bu Elly Risman M.Psi. Ketika kita menjadi orang tua, sering kali kita tidak siap melakukan peran sebagai orang tua karena menjadi orang tua tidak ada sekolahnya. Ketika kita memperoleh anak kita tidak disertai manual cara membesarkannya, yang tentunya berbeda ketika kita membeli sebuah smartphone maupun TVFlat yang semuanya disertai manual pemakaiannya. Oleh karena itu, kita sebagai orang tua harus senantiasa belajar, sehingga tercapailah pedoman yakni “Sukses di tempat kerja, Bahagia di keluarga”.Penyakit/kesalahan para orang tua dalam berkomunikasi ketika mengasuh anaknya, (1).Bicara tergesa-gesa..(2).Lupa atau tidak kenal diri sendiri. Ketika kita melihat anak kita, kita menginginkan anak menjadi ranking 1, misalnya atau selalu on time, atau selalu mengerjakan PR. Kita lupa bahwa kita juga pernah tidak mengerjakan PR, kita juga tidak selalu ranking 1, dan kita juga pernah terlambat dan tidak on time.. (3).Setiap individu adalah Unik. Jangan bandingkan anak satu dengan saudaranya yang lain.. (4).Perbedaan antara Kebutuhan dan Kemauan (Needs and Wants).. (5).Tidak membaca bahasa tubuh.. (6).Tidak mendengar perasaan.. (7).Kurang mendengar aktif karena tidak punya waktu.
Kesalahan-kesalahan di atas tentunya adalah perbuatan yang tidak secara sengaja kita lakukan kepada anak. Namun akibat yang timbul dapat mempengaruhi kepribadian dan masa depan anak, yang mana dapat berupa: (1).Melemahkan konsep diri.. (2).Membuat anak diam, menentang, melawan, sulit diajak kerja sama.. (3).Menjatuhkan harga dan kepercayaan diri anak.. (4). Kemampuan berpikir menjadi rendah.. (5).Tidak terbiasa memilih dan mengambil keputusan sendiri.. (6).Perasaan Iri terus menerus.

Tidak ada cara lain selain BERUBAH dan tidak lagi melakukan cara lama atau kesalahan-kesalahan di masa lampau yang telah kita perbuat. Kiat meningkatkan Komunikasi: (1).Baca Bahasa Tubuh. Menurut penelitian, komunikasi adalah berupa 55% bahasa tubuh, 38% berupa nada suara, baru 7% berupa kata-kata. Yang perlu kita ingat juga adalah Actions speak louder than words, tindakan bicara lebih nyaring daripada kata-kata. Bagaimana kita bisa memerintahkan anak-anak kita untuk bangun pagi dan sholat tepat waktu, kalau kita tidak mencontohkannya terlebih dahulu?.. (2).Dengarkan perasaan. Kalau mereka sakit, atau sedih kita dengarkan dengan empati. Jangan berkata,”alah cuma segitu, nggak apa-apa koq.”Tebak perasaan mereka di saat mereka sedih, namai perasaan mereka, tunggu jawaban, baru tebak lagi..(3).Mendengar Aktif. Jadilah Cermin. Dengan kata-kata berikut:Oooh… begitu?Terus…?Hmm ya Tuhan.…. Makanya kamu marah betul?.. (4). Hindari Gaya populer:a)Memerintah, b)Menyalahkan, c)Meremehkan, d)Membandingkan, e)Mencap/labeling, f)Mengancam, g)Membohong, h)Menghibur, i)Mengkritik, j)Menyindir, k)Menganalisa. Jangan menasehati anak/seseorang kalau seseorang emosinya lagi bermasalah. Jika 12 gaya populer ini sering dilakukan dikhawatirkan anak-anak mencari kepuasan dan perhatian lewat cara yang lain, misal terpapar pornografi, kecanduan games, tawuran, pacaran, dsb bahkan bunuh diri. Naudzubillah mindzalik!!.. (5).Tentukan masalah siapa. Masalah anakkah ataukah masalah orang tua. Dibantu ataukah dibiarkan karena hidup adalah pilihan. Anak perlu juga belajar berpikir, memilih, lalu mengambil keputusan. Tujuannya adalah agar anak mampu menjadi seseorang yang mandiri dan bertanggung jawab.. (6).Jangan bicara tergesa-gesa.. (7).Belajar untuk mengenali diri dan lawan bicara kita (anak dan suami).. (8).Ingat: setiap individu unik!..(9).Pahami bahwa kebutuhan dan kemauan berbeda.. (10).Sampaikan pesan saya: Saya (mama/papa) merasa…. (kata perasaan) kalau kamu…. karena……. Hindari kata selalu dan benci..

Kunci Utama dalam melakukan perubahan; (1).Mulailah dari Diri Sendiri..(2).Tauladan lebih dari seribu kata..(3).Dekatlah dengan Quran dan Hadits.

Semoga mampu memberikan manfaat bagi yang membaca dan kita mampu mempraktekkannya dengan benar dan istiqomah. Steinberg berkata, “Good parenting is parenting that fosters psychological adjustment—elements like honesty, empathy, self-reliance, kindness, cooperation, self-control and cheerfulness.” Sekaligus kutipan dari bu Elly Risman, “Confidence is not about being on stage. Confidence is (about) the feeling about yourself.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s