Be A Young Entrepreneur

Tiga hari lalu salah satu akun pendidikan favorit q di twitter @bincangedukasi sharing link http://t.co/iadHxLRGsS , Sebuah film dokumenter yang berisi tentang pendidikan, tentang anak-anak dengan segala potensi nya harus dipaksa seragam dengan yang namanya Kurikulum Sekolah,.. The Forbiden Education itu judulnya..
Sepulang dari toko, tepat jam 10 malem, q buka link tersebut *padahal biasanya langsung tidur, capek euy*.. karena penasaran parah, q tonton deh. Memang belum secara detil, karena durasi film ini panjang dan masih dalam bahasa full Inggris *byuh, butuh dubber nih* tapi mudah di cerna, asal qt konsen penuh ajah.
Diawali dengan ilustrasi dalam bentuk film kartun sejumlah orang belajar di dalam gua, sama sekali tidak mengenal dunia luar, setelah suatu saat dia diperbolehkan keluar alangkah kagetnya dia bertemu bermacam-macam bentuk tumbuhan dan binatang, mungkin dia tahu namanya sekilas dari informasi yang dia dapatkan saat di gua dulu tapi tanpa dia tahu cara menghadapinya..Yach, itulah kenyataaan yang harus dihadapi Dunia Pendidikan saat ini.
Anak-anak qt dicekokin dengan berbagai mata pelajaran dari SD hingga perguruan tinggi hanya untuk selembar kertas dan nilai yang belum tentu juga menunjukkan kemampuan si anak, apalagi potensi yang terpaksa tidak dapat diexplore dengan baik oleh Guru maupun Orang Tua, karena keterbatasan kurikulum dan kemampuan guru sekolah, di perparah dengan ortu model EGP, asal bayar mahal nuntut sekolah ini-itu, anak kudu sholeh, pinter, sukses dll tanpa mau campur tangan dalam membentuk dan mendidik anak yang telah Allah amanahkan kepada qt dengan segala potensinya yang sangat luarbiasa.
Film ini sempat membuat q meneteskan air mata, menyadarkan q sangat, Ya Allah.., what have i done to my children?..Sebenarnya aq termasuk ortu yang moderat tidak pernah memaksa anak-anak untuk les ini dan itu, seperti ortu yang lain, dan tidak pula memaksa anak-anak untuk belajar, karena ya itu tadi Sekolah fullday sudah cukup menyita energy. As long as mereka telah cukup mengerti dengan pelajaran yang diajarkan disekolah, aq tidak pernah memaksa mereka belajar, tapi q ganti dengan mengaji, maen musik, nulis atau membuat produk *bukan nge game dan nonton tivi* dan Alhamdulillah, mereka patuh dengan aturan main yang telah kami sepakati.
Mungkin yang sedikit q sesali, aq selalu memaksa Belva untuk bercita-cita sebagai Dokter, ya itulah impian q sejak dulu, tapi gagal, so ganti anaknya yang dipaksa-paksa, pertimbangannya adalah selain Belva punya kemampuan *Alhamdulillah selalu jadi jawara kelas* tapi dia anak yang pendiam, susah berkompetisi, dalam bayangan q sebagai Entrepreneur, besok2 jadi Dokter dibuatkan klinik, tanpa harus tes wawancara kesana-kemari cari kerjaan, dan bisa bermanfaat bagi kaum dhuafa dan tentunya sangat membanggakan orang tua *betapa egois diri q*, Belva sendiri anak yang sangat patuh, bahkan kadang kebablasan, tapi dia pernah mengungkapkan keberatannya atas pilihan profesi yang telah q tetapkan *ini yang sekarang sedang q sesali*
Alhamdulillah lagi film ini berhasil q peroleh disaat yang tepat. Kesalahan q belum terlalu parah. Film ini juga memiliki misi menyadarkan dan memotivasi ortu bagaimana qt harus bisa membantu anak menemukan bakat dan passion anak hingga dapat melejitkannya menjadi BRAND anak. Ortu diharapkan bisa bekerjasama dengan Sekolah dalam mewujudkannya. Ortu harus mampu dan belajar terus menerus agar dapat mengawal passion anak ini hingga semua impian tercapai.
Belva sangat menggemari Barbie sejak kecil, kecintaannya pada Barbie membuahkan kreatifitas untuk membuat perlengkapan Barbie semacam tempat Tidur, Sofa, Lemari, Tas.. Nah! Inilah kesempatan seorang Mama untuk belajar bersama-sama anak untuk mewujudkan passion ini sebagai lahan yang menghasilkan. Kebetulan aq sendiri Entrepreneur jadi paham betul jalur pendistribusian baik Offline maupun Online. Ini kesempatan bagi aq sebagai Ortu untuk menunjukkan kasih sayang yang sebenar-benarnya, menyingkirkan semua EGO, buang jauh-jauh mendikte anak-anak q atas profesi yang akan mereka pilih kelak. Ortu hanya bisa mendidik, mengajari dan memfasilitasi apa yang mereka cita-cita kan.. Pada Akhirnya hanya kepada Allah lah semua doa kami panjatkan agar senantiasa membimbing keluarga kami menjadi keluarga yang terus belajar tentang apasaja dan paling penting mau belajar dari kesalahan kemudian memperbaiki nya, Semoga, aamiin..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s