Sekolah adalah Rumah Kedua

Menurut psikolog dan praktisi pendidikan, Dr. Rose Mini A. Prianto M.Psi, yang akrab disapa Bunda Romi ini, sekarang ini ada kecenderungan, orang tua mencari sekolah yang menyediakan segalanya. Dalam arti, selain kegiatan ekstra kurikulernya banyak, fasilitasnya komplit, bisa membentuk karakter, pendidikan agamanya kuat, dan segala utopia yang didambakan semua orang tua sudah ada di satu sekolah itu. Dengan demikian, orang tua tinggal tahu beres.

Menurut Romi, orang tua yang terjebak memaksa anak masuk sekolah favorit, tanpa mau melihat apa sebenarnya yang ditawarkan oleh sekolah itu, seperti orang tua yang lepas tangan. Ia akan membayar berapa pun di sekolah bagus, supaya ia tidak perlu punya peran apa-apa lagi. “Padahal, sebelum menentukan sekolah terbaik untuk anaknya, harus melihat ke dirinya dulu. Seperti apa nilai-nilai yang ia terapkan di rumah?” sindir Romi.  
   
Romi menyarankan untuk tidak silau pada label sekolah favorit. Karena dalam memilih kurikulum sekolah, ada beberapa hal yang harus diperhatikan.

Pertama, pilihlah yang sesuai misi visi keluarga. Apakah itu sekolah berbasis agama, bilingual, atau lainnya. “Lihat filosofi keluarga seperti apa. Pastikan di rumah, Anda punya kekuatan juga seperti penekanan sekolah yang dipilih. Kalau anak masuk ke sekolah agama, di rumah penerapan agama juga harus kuat. Begitu juga, kalau anak masuk di sekolah berbahasa Inggris, di rumah juga setidaknya diterapkan. Jika di sekolah disiplinnya tinggi, apakah di rumah juga diterapkan. Dengan kata lain, harus nyambung visi dan misinya.”

Kedua, melihatnya untuk jangka panjang. Setelah SD, mau SMP dan SMA-nya di mana. Dalam menentukan kurikulum, jangan hanya dicari SD apa yang bagus, tapi nggak ada sambungannya. Padahal, program apa pun yang dipilih harus ada kesinambungannya.

Ketiga, apakah finansial kita mendukung atau tidak. Ada kalanya, orang tua ngoyo memasukkan ke SD mahal, tetapi setelah itu, dia nggak mampu untuk melanjutkan karena dananya nggak ada. “Sebaiknya orang tua harus mau lebih realistis.”

Keempat, bagi anak berkebutuhan khusus, bisa tertampung kebutuhannya. Dengan demikian, anak bisa berkembang dengan lebih baik.
 
Kelima, pertimbangkan jarak. Untuk sekolah TK dan SD, sebaiknya jarak sekolah tidak terlalu jauh dari rumah. “Perhitungkan waktu perjalanannya. Privasi anak untuk tidur dan bangun pagi bisa jadi terganggu.”

Keenam, selain fasilitas yang ditawarkan, cek program sekolah. Apa yang akan dilakukan selama setahun ke depan, apa saja yang akan diperoleh anak, dan bagaimana cara mengevaluasi belajar anak. Kenali juga guru-gurunya, apakah gurunya punya passion untuk mengajar, cara mengajarnya seperti apa, apakah guru mengajak anak menjadi kreatif atau tidak.

Ketujuh, cocok di hati anak. “Saya sangat percaya dengan school shopping. Dari usia pra sekolah, anak sudah bisa diajak diskusi. Mau yang mana sekolahnya, mana yang paling dia suka, apa yang membuat ia tertarik, yang mana yang paling memberikan first impression ke anak,” tanya Romi.

Sumber : @feminamagazine

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s