Middle of Nowhere

Middle of Nowhere
Aku adalah anak tengah diapit 2sodara laki2, kata orang Jawa bilang Sendang kaapit Pancuran. Musti ikut Ruwatan, tapi tak pernah q lakukan, emang ngaruh ya? *gak percaya blas yang beginian* hehehe. Orang tua kami berasal dari keluarga yang biasa2 saja, secara bobot, bibit, bebet biasa banget, cuma saat Ibu melahirkan adek bungsu ku, karir Ayah tiba2 seperti Raising Star. Itulah kenapa Ortu menetapkan Standart Ganda dalam mendidik kami. Pendidikan keras semi militer harus q terima berdua kakak barep, sedangkan adek begitu termanjakan dengan semua fasilitas. Tapi saat kami sama2 kuliah Ayah mulai berubah pada q, lebih perhatian dan lebih royal, tapi mungkin karena aq juga penurut dan satu2nya anak yang berhasil menyelesaikan Kuliah.
Suatu ketika, saat aq mulai masuk kuliah di Ubaya tahun 2005, setahun kemudian Ayah mendirikan perusahaan Dea Wijaya, dengan menggunakan nama q sebagai owner dengan pertimbangan Ayah dan Ibu pegawai negeri tidak diperbolehkan berbisnis. Jadi istilahnya Owner de Jure adalah aq, dan de Facto nya adalah Ayah q.
So, saat kuliah kegiatan q sehari2 selain belajar juga bekerja. Pulang kuliah kadang bantuin kulak’an, Ngasir ato sekedar jadi Pengawas. Karena memang kami berlatar belakang keluarga yang biasa saja. Kebetulan Ayah punya Lahan dan dengan pinjaman dana dari Bank kami menjalankan bisnis ini dengan sungguh2. Waktu q untuk bermain2 sangat lah jarang.
Alhamdulillah, Allah memberikan karunia berupa kemampuan untuk manajerial, ya walaupun skala kecil, tapi lumayan bisa atur2 pegawai dengan baik. Punya kemampuan negosiasi dengan baik pula. Bisnis yang awalnya cuman begitu2 mulai berkembang. Tapi ya itu tadi karena Ayah masih melibatkan diri ke dalam kebijakan Perusahaan aq tidak bisa maximal mengaktualisasikan diri q beserta ilmu yang q peroleh dari Kampus..,Sedih memang..hiks
Berulang kali ingin melepaskan diri dari perusahaan keluarga selalu gagal, malah hubby ikut terjun pula dalam perusahaan ini. Ibu selalu mencegah q disaat aq ngambek dengan memohon dan berkata, “Kamu gak kasihan sama Ibu tah nduk”. Dan akhirnya batal lagi dan lagi.., Hadeeeghh!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s