2018 goals and wishes

“Although no one can go back and make a brand new start, anyone can start from now and make a brand new beginning.” —Carl Bard

Alhamdulillah wa Syukurillah, meninggal 2017 dan menyambut 2018 dengan sederet Resolusi baik itu berupa PR 2017 yang belum terselesaikan maupun tugas yang baru di 2018. Tahun ini merupakan tahun yang penuh perjuangan, dua anak perempuan kami Belva dan Reva akan menghadapi Ujian Nasional secara bersamaan, kak Belva menuju University sedangkan kak Reva akan memasuki jenjang Menengah Pertama. Selain itu kami juga akan segera melaunching bisnis terbaru yaitu “BABY DEA” yang seharusnya tahun 2017 harus mundur 2018, Insyaallah di awal tahun ini tepatnya 18-02-2018 akan segera Soft Opening.

Dan seperti tahun-tahun sebelumnya setiap awal tahun kami berusaha menuliskan Resolusi yang merupakan Purpose maupun Wishes agar hidup ada arah dan tujuan yang ingin di capai. Begitu pula anak-anak, kami ajarkan untuk menuliskan Resolusi dan Alhamdulillah mereka istiqomah mengerjakannya dan berusaha mencapainya. Untuk kami sendiri, tahun ini lebih fokus mendirikan usaha baru Baby Dea dan terus menerus mengembangkan Candela Tours and Travel juga tetap berusaha meningkatkan penjualan Dea Wijaya Toserba, melalui marketing yang inovatif yang setiap tahun kami lakukan pembaruan. Peningkatan Ibadah dan hidup lebih sehat menjadi fokus utama kami berdua. Traveling tahun ini masih akan menghiasi kehidupan kami, insyaallah di bulan February ada reward New Zealand dari SGM, juga ada reward dari Fitti yang seharusnya berangkat ke East Coast di bulan ini, namun Amerika sedang mengkhawatirkan keadaannya, mending dimundurkan dahulu jadwalnya untuk lebih fokus demi sekolah anak-anak. Sedangkan Adek Mika masih tentang upgrade kemandirian dan harus bisa berenang, jika memungkinkan naik kelas 4 nanti adek Mika bisa melaksanakan Sunat. Kak Belva dan Kak Reva berikhtiar dengan belajar terus menerus diiringi dengan tambahan ibadah sunah selain wajib demi mencari Ridho Allah Azza Wa Jalla untuk target, harapan dan impian kami dan anak-anak kami agar dapat tercapai dengan baik di tahun ini..aamin

Advertisements

Raport Semesteran dan Sosialisasi UNBK

‘Education is our passport to the future, for tomorrow belongs to the people who prepare for it today.’ —Malcolm X

Sabtu (16/12/2017), pk 07.00 berangkat menuju sekolah Reva dan Mika, jika scedule asli adalah 07.30, saya meminta ijin untuk mengambil raport keduanya lebih awal, karena pk 07.30 juga terjadwal Sosialisasi UNBK di sekolah kak Belva. Kalo raportan seperti ini sejak anak-anak mulai sekolah sudah menjadi urusan saya sepenuhnya, si Papa memilih menjadi pak Sopir yang siap siaga mengantarkan riwa-riwi dari satu sekolah ke sekolah lainnya. Pk 07.15 sampai di kelas Mika, kemudian menerima raport dengan nilai yang standart saja tidak ada yang menonjol, ustadzah memberi catatan tentang kurang cekatan dan kemandiriannya. Catatan yang hampir sama dari tahun ke tahun bahkan sejak Playgroup Mika belum terlalu banyak berubah, meski kognitif Mika termasuk lumayan, hanya karena kurang cekatan dan mandiri, terpaksa ada nilai-nilai yang kurang baik, Alhamdulillah sajalah, yang terpenting Mika masih semangat berangkat sekolah, dan jarang membolos, untuk masalah kemandirian, bagaimanapun anak bontot ini memang terlalu banyak dibantu ketika di rumah, perlahan tapi pasti ya dek, harus bisa lebih cekatan dan mandiri, semoga dengan ikut olahraga Panahan, gerakanmu bisa lebih lincah dan cekatan.

Selanjutnya pk 07.30 lanjut ke kelas 6, kelas kak Reva, melihat nilainya yang agak turun, sayapun memakluminya, lebih dari 2 minggu dia tidak aktif sekolah, dengan nilai yang masih di atas rata-rata, sudah banyak yang harus kami syukuri, walau tanpa les, mengejar ketertinggalan materi hanya dengan belajar sendiri, bertanya pada kak Belva sesekali maka nilai berhias angka 8 dan 9 itu sudah menakjubkan, Alhamdulillah. Tidak ada catatan buat kak Reva, karena dia juga tidak intens bermain gadget dan sosmed yang sedang dalam sorotan sekolah, ustadzah wali kelas tidak banyak memberikan komentar.

Tepat pk 08.00 kami, saya dan suami berangkat menuju sekolah kak Belva, kemudian suami kembali ke kantor untuk menunaikan pekerjaannya, saya lanjut menyimak Sosialisasi UNBK. Suami sejak dulu memang menghindari urusan seperti ini, beliau pernah mengatakan sudah sangat percaya saya mampu mengatur semua pendidikan anak-anak dengan baik, beliau bertugas menyiapkan dana serta sarana prasarananya saja, yayaya baiklah, kita bagi tugas. Saya datang sudah terlambat, Kepala Sekolah sedang memberikan kalimat penutup, berikutnya Waka Kurikulum mulai memberikan sosialisasi, Alhamdulillah justru saat beliau ini yang terpenting. Jadi mulai akhir January nanti anak-anak yang sudah pasti mengikuti jalur undangan akan memasukkan nilai raport mulai semester 1 – 5, Try out2 akan terus dilaksanakan selain itu ada TPA yang tidak diwajibkan, karena sekolah tidak menggratiskan, jika mau ikut silahkan bayar secara mandiri, sekolah hanya memfasilitasi. UNBK tahun ini akan dilaksanakan secara CBT, yaitu berbasis komputer yang rencana awalnya akan diadakan 3 sesi, karena keterbatasan laptop yang ada di lab sekolah, maklum sekolah tingkat kecamatan negeri pula, namun setelah mengadakan rapat dengan Komite Sekolah, ternyata sebagian wali murid keberatan dengan 3 sesi, karena dikhawatirkan untuk sesi 3 siswa mulai mengantuk, sehingga ditakutkan kurang maximal mengerjakan Unas. Waka Kurikulum menawarkan solusi pada siswa yang mampu membawa laptop dari rumah bisa dipinjamkan Sekolah agar bisa dilaksanakan 2 sesi saja, tapi jika tidak tercapai laptop yang dikehendaki, maka terpaksa akan dijadikan 3 sesi (semoga saja hanya 2 sesi). Kami selaku wali murid setuju dengan 2 sesi, meski harus membeli lagi laptop baru dengan specifikasi tertentu, karena tidak mungkin laptop yang ada dirumah sekarang di pinjam sekolah berhari-hari karena laptop tersebut harus steril dulu dan hanya di isi sesuai standart CBT baik untuk try out maupun Unas. Laptop di rumah yang hanya sebiji ini biasanya dibuat rebutan, karena 2 laptop yang lain versi lama, sehingga hanya untuk keperluan mengetik dan ngeprint saja. UNBK sendiri akan di adakan sekitar bulan April, sedangkan SNMPTN sudah mulai February di adakan penyeleksian, kemudian hasil diumumkan setelah hasil UN keluar dan kemudian dilanjutkan SBMPTN. Pemilihan Fakultas dan Jurusan akan di atur sedemikian rupa agar siswa semaximal mungkin dapat diterima di PTN melalui jalur undangan SNM, mengenai hal ini akan dirembug bersama antara wali kelas dan BK. Acara Sosialisasi ditutup oleh Waka Kesiswaan yang mengingatkan agar wali murid dapat bersinergi dengan Sekolah demi keberhasilan anak-anak. Jangan lupa berdoa bahkan nanti akan diadakan acara istighosah bersama untuk kelas XII menjelang Unas.

Setelah acara Sosialisasi selesai dilanjutkan pengambilan Raport di kelas masing-masing. Saya langsung menuju kelas kak Belva, acara dibuka oleh wali kelas ibu Nimia dengan memberikan sekilas prestasi siswa Akselerasi yang baru saja mendapatkan juara 2 keindahan dan kerapian kelas dan dilanjut prestasi akademis Siswa yang Alhamdulillah sudah diatas rata-rata secara keseluruhan, walau ada beberapa siswa memiliki nilai 8, termasuk Belva untuk mapel Art dan Penjas (kelemahan Belva sejak bayi..hihihi). Setelah bu Nimia memberikan ulasan prestasi dan hal-hal yang perlu di lakukan siswa dan orangtua di semester depan, lanjut ketua kelas menyampaikan agenda liburan selepas Unas, mereka yang awalnya ke Bali pindah haluan ke Jogja, tugas kami sebagai orangtua hanya mengamini saja. Kak Belva berada di urutan nomer absen tiga dan sebagai sekretaris kelas dia duduk di depan bersama seluruh anggota pengurus kelas, setelah menyicil tabungan rekreasi sebesar 100k, lanjut mengambil Raport. Alhamdulillah nilai keseluruhan mapel utama Unas di atas 90, dan stabil mulai semester 1 hingga semester 5 ini berada di peringkat 5, juga sebagai kebutuhan mendaftar di Fakultas Kedokteran, nilai mapel Biologi dan Kimia setiap semester meningkat. Iya, kak Belva masih terus istiqomah kuliah di Fakultas Kedokteran, semoga Allah Azza Wa Jalla memberikan Ridho-Nya melalui jalur undangan ke Universitas Airlangga..aamiin. Menurut yang saya baca dan dengar dari kakak ipar yang kebetulan seorang dokter, cadangan pilihan FK tidak boleh berada dalam satu provinsi, bahkan jika ingin diterima lebih baik pilihan kedua ada di pulau yang berbeda, misalnya Udayana, Bali. Yach, Belva memang berambisi hanya di Unair saja, dia belum merasa siap tinggal jauh dari orangtua, tapi semua kemungkinan harus di coba, kalaupun di terima di Udayana dia masih memiliki kesempatan mengikuti jalur SBMPTN untuk memilih FK Unair kembali. Tugas Belva saat ini, dan juga kami sebagai orangtua adalah saling memotivasi, menyemangati untuk terus belajar dan berdoa, menambahkan lebih banyak amalan sunnah untuk mengetuk pintu langit, mengharap Ridho Allah turun untuk Belva, agar dapat di terima di Fakultas dan Universitas yang di inginkannya.

.

اَللَّهُمَّ امْلَأْ قُلُوْبَ أَوْلَادِنَا نُوْرًا وَحِكْمَةً وَأَهْلِهِمْ لِقَبُوْلِ نِعْمَةٍ وَاَصْلِحْهُمْ وَاَصْلِحْ بِهِمُ الْأُمَّةَ..
.

“Ya Allah, penuhilah hati anak-anak kami dengan cahaya dan hikmah, dan jadikan mereka hamba-hamba-Mu yang pantas menerima nikmat, dan perbaikilah diri mereka dan perbaiki pula umat ini melalui mereka..aamiin”

Keberuntungan yang Setara

“Every child has a different learning style and pace. Each child is unique, not only capable of learning but also capable of succeeding.” – Robert John Meehan

Masih teringat setahun yang lalu, tepatnya bulan Oktober, saya mengantarkan Belva ke kantor Diknas untuk mengambil hadiah berupa uang rp.500,000 sebagai tambahan Piala juara 3 lomba Speech Contest di event Siedex (Sidoarjo Education Expo), pameran pendidikan yang diikuti oleh seluruh sekolah mulai jenjang dasar hingga atas di Kabupaten Sidoarjo. Dan di akhir tahun ini juga, bulan November, giliran mengantarkan Reva ke kantor Dispora untuk mengambil hadiah uang selain Medali Perunggu yang sudah dia peroleh sebelumnya, sebagai juara 3 panahan kelas 30 mt nasional di ajang Porlakab, sebesar rp.212,500. Alhamdulillah meski tidak sebanyak sang kakak, tapi Reva sangat bersyukur mendapatkan tambahan hadiah. Apakah perbedaan ini faktor Akademis vs Non Akademis, secara kasar dapat di katakan kecerdasan Otak lebih dihargai daripada kecerdasan Body atau karena faktor klasifikasi umur, karena Belva sudah SMA, sedangkan Reva masih SD, entahlah, yang pasti kami sangat bersyukur kepada Allah Azza Wa Jalla, karena amanah yang dititipkan kepada kami sangat membanggakan dan berprestasi di bidangnya masing-masing. Jika kali ini Reva beruntung di bidang Non Akademis bukan berarti secara Akademis dia kurang, sebenarnya Belva dan Reva memiliki kecerdasan yang 11 – 12, hanya saja Reva memiliki kesempatan mengembangkan kecerdasannya di bidang yang berbeda.

Kami memiliki 3 orang anak yang memiliki sifat, karakter dan tingkat kecerdasan yang berbeda-beda, Belva cenderung kutu buku, hobby belajar namun individual, Reva meski termasuk anak pintar di kelas namun dia kurang tekun belajar, dia lebih senang bermain dan bereksperimen, sedangkan Mika sebagai anak lelaki satu-satunya dia merasa sebagai raja di rumah, manja dan cara belajarnya musti di paksa, di kelas termasuk anak dengan prestasi rata-rata. Planing kedepan Reva dan Mika akan lebih berkonsentrasi di bidang non Akademis yaitu olahraga Panahan, sedangkan Belva masih terus berkutat dengan buku dan nilai-nilai Akademis demi meraih impiannya menjadi Dokter Anak. Kami selalu berdoa kepada Allah Azza Wa Jalla memohonkan “Keberuntungan yang Setara” untuk anak-anak, meskipun mereka memiliki karakter dan kecerdasan yang berbeda, kami percaya setiap anak dilahirkan dengan keunikan masing-masing, tinggal bagaimana kita mengarahkan mereka agar dapat terexplore kecerdasan dan kelebihan yang mereka punya sehingga berada di atas rata-rata dan sukses dibidangnya. Di dalam Al-Quran pun, kita selalu ditekankan agar menjadi manusia yang beruntung, yaitu manusia yang setiap harinya selalu lebih baik dari sebelumnya. Untuk itulah selalu doakan anak-anak, bukan semata supaya Pintar dan Shalih/Shalihah tapi juga memiliki Keberuntungan yang Setara antar saudara, agar di masa depan nanti tidak terjadi GAP kesuksesan yang terlalu dalam antar anak yang satu dengan yang lainnya, Insyaallah. Dan Semoga Allah Azza Wa Jalla senantiasa memberikan Ridho-Nya untuk keluarga kami tercinta..aamiin 😇

Antara Recurve dan Compound

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berada di atas mimbar berkata: “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi. Ketahuilah bahwa kekuatan itu adalah memanah, ketahuilah bahwa kekuatan itu adalah memanah, ketahuilah bahwa kekuatan itu adalah memanah!”

(ABU DAUD – 2153)

Pagi ini Mika mulai berlatih panahan lagi di Club Paser, Club yang sama dengan kak Reva. Sejak kemarin sore sebenarnya, tapi karena hujan, belum juga puas terpaksa wasalam. Pagi ini maksa privat sama Coachnya untuk latian, padahal jadwal Coach untuk Club Paser hanya di hari Kamis dan Sabtu, sedangkan hari Minggu ke lapangan Lebo, sebagai tugas PNSnya (istilah saya saja ini..qkqkqk). Betapa semangatnya Mika, memang dari awal berdua, Reva dan Mika latian panahan bersama di Surabaya, tapi karena ada masalah KK mereka harus transfer ke Club Panahan di Sidoarjo agar lebih mudah mengikuti Turnamen antar daerah. Sejak kak Reva sibuk persiapan Porlakab hingga POR SD, Mika terpaksa di istirahatkan sementara waktu, fokus total ke kak Reva.

Hari ini selain latian, kami selaku orangtua di ajak rembukan masalah anak-anak dengan sang Coach, om Gatot dan om Yogi, dan mereka menyarankan Mika beralih ke Compound untuk menggantikan Standart Bow, karena posturnya yang besar, diharapkan power juga menunjang, juga karena kebutuhan atlet Compound untuk kabupaten Sidoarjo sangat minim. Untuk Reva sendiri tetap di Standart Bow untuk di upgrade ke Recurve, selain skill sudah bagus sayang kalo pindah ke Compound karena berbeda tehnik, padahal Reva sangat berminat di Compound, tapi kebutuhan atlet untuk Recurve juga masih minim, toh Reva diuntungkan dapat bermain di dua kategori Standart Bow maupun Recurve. Untuk Turnamen, kategori Standart Bow, hanya ada di skala Nasional saja, untuk Internasionalnya menggunakan Recurve. Perbedaan Recurve dan Standart Bow pada jarak bidik, untuk Recurve sama dengan Compound di atas 50 meter, dan alat panahnya mirip seperti Standart Bow, tapi dari besi seperti Compound dikarenakan jarak bidik yang jauh itu tadi. Berat hampir sama antara Recurve dan Compound, namun untuk kepraktisan lebih simple Compound, sedangkan harga keduanya hampir sama dengan harga sebuah Sepeda Motor..hiks. Inilah namanya Jer Basuki Mawa Bea, namun demi anak dan untuk mengisi kegiatan secara positif, juga sarana penggemblengan mental dan fisik, ya harus ditekati. Lagipula ini olahraga Sunah, semoga selain berolahraga dan mencetak Prestasi juga dapat menabung Pahala..aamiin (insyaallah).

“Sesungguhnya Allah akan memasukkan tiga orang ke dalam jannah karena satu anak panah, orang yang membuatnya dengan tujuan baik, orang yang melemparkannya dan orang yang menyiapkannya. Hendaklah kalian memanah dan berkuda, sedangkan memanah lebih aku sukai daripada berkuda.” (HR Tirmidzi, beliau mengatakan, hadits hasan shahih)

Bye Aussie, New Zealand will be waiting

“Chase your dreams but always know the road that will lead you home again”

Pagi ini Bis sudah standby lebih awal, dengan sabar menunggu kami untuk check out dan membawa kami ke Bandara Sydney. Ada rasa sedih akan segera meninggalkan Aussie, sekaligus bahagia, membayangkan sebentar lagi akan bertemu dengan Buah Hati, yang hampir seminggu kami tinggal traveling. Tiba di Bandara sudah ramai lalu lalang orang mengejar pesawat, kami cek dan ricek terlebih dahulu, pemeriksaan jalur Internasional jelas lebih ketat dari domestik. Tiket kami urus lebih dahulu, karena kami terbang menuju Jakarta kemudian harus kembali ke Surabaya, yang kami harus lakukan adalah meminta connecting pada petugas wanita yang Alhamdulillah sangat ramah dan baik, mau membantu kami walau sebenarnya bukan menjadi tugasnya. Tidak bisa membayangkan harus angkat-angkat koper untuk pindah pesawat, kalo tidak dikoneksikan. Semua cek ricek harus kami kerjakan secara mandiri mulai tiket, paspor dengan melalui mesin, sempat tidak PD apalagi baru pertama kali kami melihat yang seperti ini, biasanya masih dibantu petugas. Tiba giliran pemeriksaan tas, petugas memanggil dan menunjuk koper kecil Bayu Buana yang tadi saya bawa, ya Allah ada apa ya, dagdigdug rasanya, hubby langsung mengingatkan, “Ma, snowglobe? ,”. Astaghfirullah baru ingat, ada 3pc snow globe, 1pc versi Shrine of the Remembrance, 1pc Gold Coast dan 1pc Melbourne, kenapa lupa semua tidak dipindah, posisi memang sudah dibuntel dengan jaket dll. Sedikit menghamba pada petugas yang kebetulan berwajah Arab dan berjenggot, dia juga menyesal sekali tidak bisa berbuat apa-apa, peraturan harus ditegakkan, saya harus merelakan semua snow globe itu, masih bersyukur saya membeli versi Melbourne sebanyak 2pc, yang 1pc ternyata sudah saya pindah koper bagasi, kalo tidak, hilang sudah semua kenang-kenangan dari Melbourne, di hari pertama kami tiba di Aussie benar-benar kurang bisa menikmati, karena kelelahan yang parah, sehingga tidak sempat berburu buah tangan, giliran beli sebiji saja di Museum Shrine of the Remembrance malah kena sita petugas..huhuhu.

Pesawat Garuda membawa kami pulang ke Indonesia tepat waktu, cuaca sudah sangat bersahabat tidak seperti kemarin, selain itu menu makanan juga sangat enak, menu Nusantara gitu lho. Tiba di Jakarta sudah sore, sempatkan sholat kemudian makan sore, kami masih harus menunggu pesawat selepas Maghrib. Selonjoran di ruang boarding, datanglah Pesawat kami, sejam kemudian kami tiba di Surabaya. Alhamdulillah kami langsung bertemu anak-anak karena tiba belum terlalu malam. Senangnya melihat mereka sehat dan bahagia. Traveling yang menyenangkan, yang sangat mengesankan dari negara Australia ini adalah penduduknya yang ramah, walaupun saya berhijab namun mereka sama sekali tidak menatap curiga, bahkan berkali-kali bertemu penduduk lokal yang mengajak bicara dan membantu mengambil gambar kami berdua, padahal kalo ingat Bom Bali tentu mereka akan memiliki Stereotype negatif terhadap kami yang Muslim ini, nyatanya tidak, Alhamdulillah. Saatnya kembali ke kehidupan nyata, bekerja dengan giat dan kejar target berikutnya, Susu SGM sudah siap mengantarkan kami ke New Zealand dan Fitti masih memberikan reward East Coast (New York) di tahun depan, insyaallah..aamiin. Ya Allah terimakasih atas rahmat dan karunia-Mu, lagi dan lagi kami menerima Reward untuk menikmati Bumi Ciptaan-Mu. Semoga semua ini wujud dari keRidhoanMu untuk semua usaha yang kami upayakan dan impian yang kami perjuangkan..aamiin

“Doa dan Harapan akan selalu membuat kami yakin untuk menjalani hidup dengan memiliki tujuan, Allah akan selalu mengabulkan doa-doa hambaNya yang mau bersungguh-sungguh baik ikhtiarnya maupun tawakalnya..InsyaAllah”

Tulisan ini saya dedikasikan untuk Belahan Jiwa tepat di ulangtahunnya ke 43 tahun, Keluarga dan Dea Wijaya Toserba, sebagai motivasi diri sendiri, motivasi untuk anak-anak kami sebagai pemegang tongkat estafet perusahaan, juga sebagai pengingat bahwa kami pernah meraih prestasi berupa Reward Australia ini setelah USA-Canada, Portugal-Spain, Hongkong dan Japan dalam kehidupan kami.

Blue Mountains – Sydney (Australia – Fitti Reward 2017)

“You will never be completely at home again, because part of your heart always will be elsewhere. That is the price you pay for the richness of loving and knowing people in more than one place”

Hari ini Jumat (15/09), hari terakhir kami berada di Sydney, besok terjadwal akan pulang ke Indonesia dan hari ini adalah “Free Program”, dimana anggota tour dapat memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk belanja, memborong buah tangan. Tapi Bayu Buana juga memberikan option untuk yang ingin memanfaatkan sehari ini menambah satu destinasi, dengan pilihan Blue Mountains, Madame Tussaud atau Sea Life. Dari awal keberangkatan kami, Blue Mountains adalah tujuan utama untuk mengisi “Free Program”, selain kami tidak doyan belanja juga karena Blue Mountains keren banget, kami berdua sudah browsing semua tentang Pegunungan ini.

Anggota Tour kali ini terbelah, sebagian besar ikut Tour lanjutan ke Blue Mountains, sebagian Shopping, beberapa janjian bertemu teman, maklum banyak orang Indonesia yang menetap di Sydney. Sopir kami kali ini juga orang Indonesia turunan Chinese, dia sejak menikah sudah pindah ke Sydney dan memiliki seorang anak, kerjaan semacam punya biro travel sendiri, ada mobil elf untuk antar wisatawan baik lokal maupun manca. Kangen Indonesia, tapi juga kerasan di Sydney, walau pekerjaannya “hanya” seperti itu saja. Perjalanan menuju Blue Mountains hanya sekitar dua jam ke Katoomba (semacam dari Surabaya ke Batu-Malang).

Kami berhenti dekat Sky Way, wahana pertama yang akan kami coba, menyeberangi lembah yang satu ke lembah yang lain, setelah itu makan siang “Fish and Chips”, lanjut wahana Rail Way, diteruskan Walk Way dan terakhir kembali ke mobil tour melalui Cable Way.

Cukup rame wisatawan manca yang mengatri, tapi tidak terlalu lama kq, cukup menunggu satu kali untuk menaiki Sky Way ini, karena muatannya banyak sih. Masyaallah pemandangannya bikin mata tidak berkedip, indahnya, mungkin di Indonesia ada, penggunungan yang seperti ini mungkin daerah Kalimantan atau Sumatra, ahh saya ini keliling Indonesia saja belum pernah sok tau (malu..hihihi).

Blue Mountains yang indah ini merupakan daerah pegunungan yang terletak di New South Wales, Australia. Wilayah ini berbatasan dengan wilayah metropolitan Sydney, kaki perbukitannya mulai sekitar 50 kilometer (31 mil) barat ibukota negara bagian tersebut. Blue Mountains mendapatkan nama mereka dari kabut biru alami yang diciptakan oleh hutan eukaliptus yang luas di kawasan Warisan Dunia ini. Tetesan minyak kecil dilepaskan dari pepohonan bercampur dengan uap air dan sinar matahari untuk menghasilkan warna yang khas.

Selesai menyebrang dengan Sky Way, kami menuju Resto yang disediakan oleh Wisata ini dan mendapatkan menu Makan Siang “Fish and Chips”, menu berisi kentang goreng dengan Nugget Ikan, lumayan enak dan kenyang, Alhamdulillah. Perjalanan kami lanjutkan dengan mengantri Rail Way, suasana sangat ramai karena banyak anak sekolah lokal mungkin sedang Study Tour. Dua kali putaran kami menunggu tiba saatnya kami naik, wahana yang ini cukup bikin sport Jantung, meski berupa Kereta Api tapi relnya tidak wajar, turun terlalu curam, bahkan diklaim paling curam sedunia..hiks. Setelah sampai dibawah kami melanjutkan perjalanan dengan wahana Walk Way menjelajahi hutan hujan kuno dan mendapati beberapa pertambangan kuno yang konon tempat menambang emas dll, dan sebagian masih beroperasi normal.

Tiba kami di ujung lembah, dan untuk menuju tempat parkir mobil, kami harus kembali dan kali ini giliran wahana Cable Way, antrian sudah cukup panjang, turis semakin banyak dan tidak terlihat anak-anak tadi. Semua anggota Tour naik kecuali bapak Judas, beliau takut ketinggian, tadi sempat mual dan pusing saat naik Sky Way lanjut Rail Way, kasian beliau sudah berumur, tapi semangatnya keliling dunia boleh diacungi jempol, sudah kemana-mana beliaunya ini. Sayangnya tidak satupun foto yang saya temukan untuk moment Cable Way ini, sulit mengeluarkan kamera dan handphone saking hectic dan merinding juga liat Cable Way yang dilapis full kaca hingga alas, jadi bisa lembah curam dibawah kaki kita.

Turun dari Cable Way kami disambut oleh toko Merchandise yang terbesar di wisata Bule Mountains ini. Sempatkan memborong sejenak, topi, t-shirt, snow globe dan beberapa mainan dinosaurus buat adek. Perjalanan kami lanjutkan turun ke bawah sedikit, kemudian berhenti Echo Point Lookout di Katoomba untuk melihat Formasi Batuan Three Sisters dari sudut yang berbeda, tetap menakjubkan, Masyaallah. Selesai puas berfoto ria kami kembali ke kota Sydney, mampir belanja di area Factory Outlet yang saya lupa namanya, dan seperti biasa, tidak ada yang kami beli, sembari menunggu, kami hanya duduk sambil makan dan minum di salah satu tenan di dalamnya. Beberapa anggota tour yang tidak ikut sudah menunggu di FO ini, dan tentunya sudah sangat puas memborong belanjaan. Dan saatnya kami kembali ke Hotel.

Sebelum berangkat ke Blue Mountains pagi tadi sudah ada kesepakatan, bahwa pulangnya bisa langsung hotel atau turun di Darling Harbour untuk menikmati wisata tepi pelabuhan Sydney yang famous ini.Kami termasuk yang memilih drop off di Darling Harbour, karena pertimbangan besok pagi balik Indonesia, sedangkan Icon Sydney belum kelar kami kunjungi. Sebenarnya terasa lelah tapi eman, tahan dulu saja. Kami turun tepat di depan Hard Rock Cafe Sydney, sekalian mampir untuk menambahkan koleksi, sayang yang di cari tidak ditemukan, stick drum tidak terlalu bagus dan kami sudah punya versi Gold Coast yang sudah dibeli kemarin, jadi kami hanya membeli Mug sebagai buah tangan untuk Pak Harry dan pak Novi dari Fitti selain Topi Blue Mountains tadi. Darling Harbour sendiri adalah sebuah pelabuhan yang berdekatan dengan pusat kota Sydney, New South Wales, Australia. Ini juga merupakan tempat rekreasi dan pejalan kaki yang besar yang terletak di pinggiran barat kawasan pusat bisnis Sydney. Dari Hard Rock kemudian berfoto sejenank di Darling Harbour lanjut menuju Mall sekitaran dan kami membeli makan malammenu yang sama seperti di COCO HUT, nasi goreng Seafood dengan harga yang sama pula (mahal..gilak). Hari semakin malam, dingin mulai menusuk tulang belulang, kami berjalan menuju hotel yang lumayan jauhnya. Mendekati hotel saya liat ada mobil patroli sedang parkir cantik, Alhamdulillah akhirnya saya temukan juga kamu mobil Polisi. Sejak mulai punya kesempatan traveling keluar negeri, mulai dari Amerika saya memiliki kebiasaan berfoto bersama mobil Polisi sebagai koleksi fotografi, lucu saja, super iconik. Keasyikan foto, tanpa sadar kami di panggil bapak Polisi, dia hanya mengingatkan kalo kami boleh berfoto bareng mobil tapi tidak untuk bangunan kantornya. Dan ternyata Kantor Polisi ini disebelah Hotel saudara-saudara, barusan nyadar sayanya, gitu dari kemarin cari mobil Polisi susah banget. Saking apanya coba..hahaha. Segera kami masuk hotel, bersihkan diri lanjut packing, semua buah tangan dibungkus pakaian kotor dan dipencar ke dalam beberapa koper lanjut kami timbang, setelah berat merata tidak sampai 30 kg, Alhamdulillah aman untuk penerbangan insternasional. Rebahkan tubuh, istirahat hingga Subuh menjelang, semoga besok kepulangan kami ke Indonesia, penerbangannya lancar tanpa hambatan, selamat tiba sampai di rumah..aamiin.

Sydney Harbour (Australia – Fitti Reward 2017)

“Travel makes you realize that no matter how much you know there’s always more to learn”

Pagi ini bangun sebelum Subuh, setelah mandi dan menunggu adzan tiba, hubby turun ke bawah untuk mengambil sarapan. Seperti biasa karena resto hotel belum buka, kami harus sarapan tidak layak, juice, susu serba uht, cereal dan biskuit soya (pengen hoek saja rasanya). Subuhan sejenak kemudian tepat pk 05.00 kami berangkat menuju bandara Brisbane, bersiap menuju Sydney dan meninggalkan Gold Coast yang sangat bersahabat ini, baik cuaca maupun penduduk lokalnya juga keindahan dan kemegahan kotanya. Agenda hari ini berada di Sydney untuk dua hari kedepan, dengan penerbangan Qantas kami berangkat dengan penerbangan paling pagi pk 08.00.

Setelah tiba di Airport, seperti biasa kami melalui jalur khusus turis dan dibantu cek ricek tiket, visa paspor dan bagasi. Daannn..untuk bagasi kali ini sudah mulai memberat, sedangkan penerbangan domestik masih dibatasi maximal 15-20kg saja, berbeda dengan internasional yang bisa sampai 30kg. Sepertinya ada masalah dengan koper ibu Susi dan ibu Yuke, beliau berdua ini memang anggota tour yang paling hobby belanja, entah buat dirinya sendiri ataupun titipan oleh-oleh rekan kerja. Setelah sempat berdebat dan beberapa barang terpaksa dinunutkan koper teman, akhirnya semua selesai dengan aman. Kami segera masuk ke ruang boarding sambil menunggu pesawat kami siap tinggal landas, namun sayang terjadi delay akibat cuaca yang buruk, terpaksa jam terbang mundur hampir 2jam. Waktu take off tiba, pesawat Qantas membawa kami terbang ke Sydney dengan kecepatan maximal padahal cuaca sedang tidak bersahabat, naik pesawat berasa maen roller coaster, betapa ngerinya kami, semua anggota tour kompak berdoa menurut keyakinan masing-masing. Pesawat sengaja mengebut mungkin selain cara dia menaklukkan cuaca buruk juga mengejar banyaknya delay, karena penumpang juga kan ada yang scedule terusan, jadi tidak terlalu parah tertinggalnya. Saat sarapan kami tiba di Pesawat, yang beredar hanya 1 menu seperti kue lumpur, lebih besar dan entah apa isinya, karena ragu-ragu saya pun baca ingredients nya, hah..ada tertulis PORK disitu dengan jelasnya, ini Pramugari tidak lihat apa Jilbab yang saya pakai sebagai identitas muslim saya, mbok ya kasih tau, atau tidak usah diberikan, maklum negara minoritas, sak karepe dewe. Namun kami juga tidak sanggup mengingatkan saudara muslim kami yang lain yang saya perhatikan mereka sangat menikmati kue tersebut, sedih karena saya terlambat mengingatkan, juga karena malu dan takut mereka tersinggung. Baru selesai beredar, para pramugari kembali memungut sisa makanan dengan tergesa-gesa, dan dari Kabin, pak Pilot sudah teriak-teriak akan segera landing. Liat cara menerbangkan pesawat yang ugal-ugalan begini jadi ingat Bis Restu yang sudah berganti nama Sumber Selamet..hiks. Alhamdulillah kami mendarat di Sydney dengan selamat, sampai sekarang kalo membayangkan kejadian tersebut masih ngeri-ngeri sedap..hihihi.

Tiba di bandara Sydney diiringi drama hilangnya koper putri pak Hamdan, entahlah nyasar kemana, tapi Qantas siap bertanggungjawab, kalo urusan yang begini Airlines Luar Negeri pantas diberi dua Jempol. Akibat Koper nyasar ini kami terpaksa ketinggalan acara makan siang di Cruise, dan diganti dengan makan siang di daerah sekitar Darling Harbour juga, yaitu Menu Chinese Food di wilayah The Rocks, Alhamdulillah sejak pagi belom terisi makanan sama sekali. Kalo sudah begini Travel Bayu Buana juga harus menanggung kerugian, karena terpaksa keluar dana lagi untuk membelikan kami makan siang, karena jatah makan di Cruise tidak mungkin dibatalkan. Kami menyantap makan siang dengan secepat kilat, takut banyak Destinasi yang tidak kami bisa kami kunjungi karena delay Pesawat hari ini.

Selepas makan siang kami pun berangkat menuju Port Jackson tempat dimana kami akan menaiki Captain Cook’s Cruise dan berkeliling menikmati Icon Sydney, antara lain Opera House, Sydney Harbour Bridge dkk.

Sydney merupakan ibu kota New South Wales, negara bagian tertua dan paling banyak penduduknya di Australia. Pada awalnya dibangun sebagai permukiman koloni hukuman, tepatnya di pantai Port Jackson, tempat ibu kota Sydney yang ramai sekarang berada. Lebih dari sepertiga orang Australia tinggal di New South Wales, dan Sydney merupakan kota terbesar di negara ini.

Entah kenapa Gedung Opera Sydney atau juga dikenal sebagai Sydney Opera House ini bisa begitu terkenal di Sydney, New South Wales. Memang bisa dibilang Sydney Opera House ini adalah salah satu bangunan abad ke-20 yang paling unik dan terkenal. Gedung dengan arsitektur unik ini terletak di Bennelong Point di Sydney Harbour dekat Sydney Harbour Bridge dan pemandangan kedua bangunan ini menjadi ikon tersendiri bagi Australia.

Bagi jutaan turis yang datang, gedung ini memiliki daya tarik dalam bentuknya yang seperti cangkang. Selain sebagai objek pariwisata, gedung ini juga menjadi tempat berbagai pertunjukkan teater, balet, dan berbagai seni lainnya. Gedung ini sendiri dikelola oleh Opera House Trust dan menjadi markas bagi Opera Australia, Sydney Theatre Company, dan Sydney Symphony Orchestra. Jadi buat kalian yang mungkin lagi liburan ke Sydney, bisa mampir kesini.

Berlawanan posisi dengan Opera House ada Sydney Harbour Bridge ini sebenarnya adalah salah jembatan yang merupakan jalur utama untuk menyeberangi Pelabuhan Sydney (Sydney Harbour Bridge). Jembatan ini menghubungkan distrik pusat bisnis Sydney atau biasa dikenal dengan Sydney CBD dengan wilayah utara Sydney (North Sydney). Di Sydney Harbour Bridge ini terdapat jalur kereta api, kendaraan bermotor, sepeda, dan bahkan trotoar untuk pejalan kaki. Karena terdapat trotoar untuk pejalan kaki, berjalan menyeberanginya adalah kegiatan yang pasti menyenangkan. Buat yang suka tantangan, ada juga paket naik ke bagian atas Sydney Harbour Bridge lho!.

Bersamaan dengan Gedung Opera Sydney, Sydney Harbour Bridge ini adalah ikon bagi kota Sydney sekaligus Australia. Warga setempat menamai jembatan ini sebagai The Coathanger atau diterjemahkan sebagai gantungan pakaian. Julukan itu tak lain akibat dari desainnya yang melengkung di bagian atas. Jembatan ini adalah bangunan tertinggi di kota Sydney hingga tahun 1967. Menurut Guinness World Records, jembatan ini adalah yang terlebar di dunia, sekaligus sebagai jembatan lengkung berkerangka besi tertinggi di dunia dengan puncaknya berdiri 134 meter di atas permukaan pelabuhan. Jembatan ini juga tercatat sebagai jembatan lengkung besi terpanjang nomor empat di dunia.

Selanjutnya setelah selesai berputar-putar dengan Cruise kami pindah tempat menuju Mrs Macquarie Chair, atau dikenal sebagai Lady Macquarie’s Chair, yaitu salah satu tempat wisata terbaik di Sydney. Kursi bersejarah itu diukir dari tebing batu untuk istri Gubernur Lachlan Macquarie, Elizabeth, saat ia diketahui mengunjungi daerah tersebut dan duduk menikmati pemandangan panorama pelabuhan. Mrs Macquarie’s Point, tepat di sebelah timur Gedung Opera di tepi timur Royal Botanic Gardens, memberikan pemandangan yang sangat bagus ke arah barat melintasi pelabuhan ke Jembatan dan Pegunungan di kejauhan. Melihat ke utara dan timur Anda bisa melihat Rumah Kirribilli, Pulau Pinchgut dan galangan kapal Angkatan Laut di Wooloomooloo. Pandangan dari Mrs Macquarie Chair masih dinikmati sampai sekarang, lebih dari 150 tahun kemudian, oleh ratusan orang Sydney dan wisatawan setiap hari.

Hari sudah menjelang senja kami segera masuk hotel. Kali ini giliran Hotel Travelodge, hotel budget yang lumayan dibanding hotel Ibis versi budget. Letaknya agak jauh dari keramaian Darling Harbour, beda dengan hotel kami saat di Gold Coast yang super strategis. Malam ini tidak ada jatah makan malam, jadi kami harus keluar dari hotel untuk berburu makanan, syukurlah Nita si TL mau diajak barengan hunting makanan. Kami berpencar sebagian makan dulu, sebagian belanja dulu dan sebagian di hotel karena tidak kuat lagi berjalan. Setengah jam kami sampai di Chinese Town, kalo mau menu nasi memang wajib kemari. Selesai makan, kami ingin lanjutkan belanja, sayang banyak yang tutup karena sudah malam. Ada satu toko cukup lengkap, kami borong oleh-oleh icon Sydney lumayan banyak, sekalian packingnya, dan belom menemukan Robin-Ruth versi Sydney, tidak terlalu bernafsu juga karena versi Gold Coast dan Australia sudah ada dalam genggaman. Saatnya kembali ke hotel besok masih tersisa agenda Blue Mountains, so jangan dihabiskan tenaganya malam ini.