Mengkoleksi Satu Emas dan Satu Perak di Ajang PORKAB Sidoarjo 2020

Success is no accident. It is hard work, perseverance, learning, studying, sacrifice and most of all, love of what you are doing or learning to do”

Pele

Ma syaa Allah Tabarakallah, Puji Syukur kami panjatkan kepada Allah Azza Wa Jalla yang telah memberikan Karunia-Nya untuk keluarga kecil kami, dua buah kemenangan Duo Atlet kebanggaan keluarga di ajang Porkab Sidoarjo 2020, Alhamdulillah. Satu Medali Emas untuk adek Mika di divisi Compound Putra [tingkat SD] dan Satu Medali Perak untuk kak Reva di divisi Fita Compound Putri 50M [tingkat SMP].

Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata yang disingkat dengan Disporapar mulai membuka turnamen tahun ini untuk pertama kali di penghujung tahun 2020. Ditengah pandemi yang masih membayangi, turnamen PORKAB 2020 digelar dengan peserta pelajar tingkat SD dan SMP. Di tahun lalu turnamen yang diadakan adalah POPKAB tapi dengan peserta tingkat SD hingga SMA, sebagai seleksi POPDA Jatim. Kemungkinan Popkab diganti dengan Porkab mungkin karena pembatalan agenda Popda di tahun ini, yang seharusnya digelar di Sidoarjo sebagai tuan rumah. Selain peserta yang hanya SD dan SMP, pengurusan seluruh kebutuhan pendaftaran siswa wajib dilakukan oleh Guru Sekolah yang bersangkutan. Kepanitiaan juga diubah menjadi 50% Guru dan 50% pengurus Cabor, misalnya Perpani untuk Panahan. Dua hari menjelang pertandingan, tepatnya Sabtu [21/11] organisasi Guru Olahraga SD kecamatan Waru mengadakan ceremonial pelepasan Atlet, selain memberikan motivasi juga membagikan uang saku, jangan dilihat nilainya namun perhatian yang luar biasa buat para Atlet akan berjuang membawa nama Sekolah dan Kecamatan. Jika dulu kak Reva mendapat 50k, adek Mika ada kenaikan, yaitu 70k, Alhamdulillah.

Senin [23/11] adek Mika terjadwal bertanding lebih dulu, sedangkan kak Reva masih besok Selasa. Pertandingan kali ini tidak terlalu berat buat adek Mika, di atas kertas, jelas paling unggul dan Emas kemungkinan besar pasti diraih, in syaa Allah. Selain peserta khusus tingkat SD, rata-rata masih yunior dibanding adek Mika yang tahun lalu saja sudah mengalahkan kakak-kakak SMP – SMA di ajang Popkab 2019. Namun olahraga Panahan, bukan tentang mengalahkan lawan, tapi pada pencapaian Diri Sendiri, yang harus mencatatkan Score terbaik sesuai Goal Setting. Tahun lalu adek Mika mencatatkan Score 330 untuk jarak 50M, untuk Goal Setting saat ini berlaku sama namun dengan jarak 30M, dan saat pertandingan di Lembang, telah mencatatkan Score 340an untuk jarak 30M.

Pagi pk 08.00 kami tiba dilapangan dan sudah penuh peserta, Ustadzah Sekolah dari SDI Raudlatul Jannah dan koordinator kecamatan Waru juga sudah hadir lebih awal. Setelah melakukan registrasi dan cek peralatan, maka tembakan percobaan segera dimulai, hanya 2 seri saja. Alhamdulillah peserta cukup banyak dan antusias, apalagi kali ini banyak pendukung yang hadir, baik dari Sekolah, maupun Kecamatan. Bu Is dan Ustadzah Eka, sangat sabar menunggu pertandingan hingga selesai, beliau berdua optimis adek Mika akan jadi Juaranya, dan Satu Emas dapat dipersembahkan untuk Kecamatan Waru. Tak kalah semangat, Akung dan Ochi-nya anak-anak juga hadir sebagai supporter setia disetiap pertandingan kedua cucu atlet keluarga.

Babak kualifikasi segera dimulai, dengan 12 Seri dibagi dua Sesi, peserta harus menembakkan 72 anak panah. Sesi pertama adek Mika mencatatkan Score 317, kurang maksimal, tapi karena sejak Pandemi Covid, anak-anak jarang berlatih, hampir 6 bulan vakum, dan hanya 2 bulan latian langsung turun dalam pertandingan, wajar hasilnya seperti ini. Score inipun yang tertinggi di Sesi pertama. Selepas istirahat, peserta mulai lagi Sesi kedua, kali ini naik 3 poin, adek Mika menyelesaikan babak kedua dengan score 320, Alhamdulillah score total 637.

Ma syaa Allah Tabarakallah, sesuai prediksi adek Mika tampil sebagai juara 1 untuk divisi Compound Putra tingkat SD jarak 30M. Lega rasanya, adek Mika yang selama pertandingan banyak mengeluh panas, capek dan lainnya, mendadak bangga dan bahagia, lelah itu seperti hilang karena terbayang Medali Emas yang akan menambah koleksinya, Alhamdulillah. Setelah berfoto ria, kami segera pulang, jadwal berikutnya ada divisi lain yang akan bertanding.

Selasa [24/11] pagi ini pk 07.30 kami sudah hadir dilapangan, kali ini ganti kak Reva yang akan bertanding, sesuai kesepakatan bahwa kak Reva dan adek Mika tidak saling support dilapangan, tapi dari rumah senantiasa saling mendoakan. Ustadz Antok dari Sekolah Raudlatul Jannah sudah hadir lebih pagi dan siap mendampingi Reva hari ini. Alhamdulillah divisi Compound terjadwal pagi, tidak terlalu panas, namun cukup panas juga cuaca, sedangkan sore rawan sekali hujan.

Peta persaingan kak Reva juga bisa dibilang ringan, dengan 3 Atlet jelas Auto Win untuk ketiga peserta, namun kak Reva ingin fokus mencapai Goal Settingnya, yang cukup tinggi yaitu 310, yang artinya dia menginginkan Medali Emas, karena di tahun lalu, Popkab 2019 dia sudah mengkoleksi Perak. Score Goal Setting sudah pernah terlampaui saat latian, dan wajar jika kak Reva berharap menjadi Numero Uno. Sesi pertama kak Reva kurang maksimal, semacam underpressure karena target yang dia pasang, tembakan menyebar tidak sesuai latian, Score tercatat *hanya* 283 saja. Kak Reva sedih, dia merasa kurang klik dengan Bow-nya kali ini.

Selesai istirahat, sesi kedua mulai dipertandingkan, dan hasil akhirnya Score kak Reva naik 6 poin, yaitu 289. Di sesi kedua ada peningkatan, namun belum juga maksimal, malah terjadi sedikit kerusakan alat pada Bow, bukan sesuatu yang penting, tapi cukup mengacaukan konsentrasi dalam menembak. Alhamdulillah saja ya kak kondisi pandemi membuat kak Reva dan adek Mika nge Freeze latian, dirumah juga malas-malasan. Score kak Reva masih lebih baik dari tahun lalu, ada peningkatan cukup signifikan, hanya memang harusnya bisa lebih baik seperti saat latian. Ma syaa Allah Tabarakallah, tetap bersyukur kak Reva masih mempertahankan Medali Peraknya, Alhamdulillah.

Porkab 2020 selesai sudah ditunaikan, Satu Emas dari adek Mika dan Satu Perak dari kak Reva dipersembahkan untuk Kecamatan Waru dan Sekolah Raudlatul Jannah, Alhamdulillah prestasi yang membanggakan untuk diri sendiri, keluarga dan lingkungan Sekolah. Di awal bulan Desember telah menunggu turnamen Kejurkab yang diselenggarakan oleh Perpani Sidoarjo, untuk peserta minimal SMP, kali ini adek Mika tidak diikutkan, meski Skill sudah mumpuni namun prioritas untuk kakak senior terlebih dahulu. Adek Mika fokus ke pertandingan Juanda Open di akhir bulan Desember. Terimakasih ya Allah, berikanlah anak-anak kami kesehatan dan semangat juang yang tinggi untuk meraih Prestasi yang lebih gemilang dimasa depan..aamiin.

Happy 24th Anniversary Dea Wijaya Toserba [ 06/10/96 – 06/10/20]

“Strength does not come from winning. Your struggles develop your strengths. When you go through hardships and decide not to surrender, that is strength”.

Di ulang tahunmu yang 24th, kamu harus menanggung begitu besar permasalahan akibat pandemi Covid-19 yang berlangsung hampir setahun. Sedih rasanya melihat kamu bergeletak lemah tak berdaya kekurangan Cashflow akibat jatuhnya penjualan hampir 50% bahkan lebih. Anakmu Candela sedang sakit parah, membuat dirimu juga semakin tersiksa. Beberapa aset telah terjual, karyawanpun semakin sedikit tersisa untuk dapat bertahan ditengah Ujian.

Berusaha terus memompa penjualan agar cashflow dapat berjalan lancar, selain menjual aset dan penghematan. Kami mencoba membuka Bazar Murah di depan Toko, siapa tau bisa memancing orang melihat bahwa harga kami termurah dipasarnya. Apapun kami lakukan, promosi online, offline, semua kami kerjakan, untuk menyelamatkan Dea Wijaya. Alhamdulillah anak kedua, Baby Dea berhasil survive, penjualan semakin bagus karena pola konsumen berubah sejak psbb ditetapkan, terlalu jauh Dea Wijaya dijangkau, maka Baby Dea sebagai jujukan alternatifnya. Terkesan kanibalisme namun lebih baik daripada diperebutkan oleh Indo Alfa.

Ya Allah, beri kekuatan Dea Wijaya Corporate untuk dapat survive dalam menjalani Ujian Maha Dahsyat ini, berikanlah kelancaran dan keberkahan Rezeki, agak kami tidak lagi melakukan pengurangan karyawan yang sudah tinggal sedikit ini. Ampunilah segala kelalaian kami dalam bermuamalah dalam perdagangan yang menyebabkan Engkau tidak Ridho, dan membuat kami makin terpuruk. Bantu kami membenahi semua kelemahan perusahaan, agar kedepan kami akan kembali berjaya..aamiin.

In syaa Allah

Happy 45th Birthday and 20th Anniversary

“Dear Allah, bless me with the strength and determination to always put my faith in You regardless of the situation I find myself in..Aamiin”

Rabu, 30 September, tak terasa usia telah menginjak 45th, hampir mendekati setengah Abad, Astaghfirullah, begitu cepat umur berkurang, namun keimanan tak juga bertambah..hiks. Beban berat masih terasa bahkan semakin berat ketika dihadapkan pada pilihan yang semakin sedikit, antara mempertahankan atau melepaskan, ikhlas memang berat, padahal semua ini hanya Titipan. Kamis, 01 Oktober kami berdua merayakan Ulang Tahun Pernikahan yang ke 20th dalam kondisi keprihatinan yang sangat dalam. Sejak awal menikah kami telah bekerjasama dalam membesarkan sebuah Usaha bernama Dea Wijaya, 2 tahun lalu kami memutuskan membuat Unit Bisnis Travel dan Baby Shop, dan ketika Corona hadir di muka bumi ini, segalanya menjadi hilang kendali. Wisata Mati Suri, Candela semakin tak tertolong, aset telah terjual satu persatu, kami kembali fokus ke Core Bisnis Toserba Dea Wijaya. Per tanggal 01 Oktober 2020, Candela terpaksa pindah menjadi satu Tempat dengan Dea Wijaya, karena aset kantor telah kami relakan. Kami kerjakan Candela semampunya, tak lagi fokus ke Travel hanya menyewakan Unit Armada yang tersisa. Ya Allah, beri kami kekuatan untuk dapat menahan beban berat UjianMu, bantu kami terus Istiqomah kembali ke JalanMu dan Berkahilah usia yang tersisa, juga pernikahan yang semakin Sakinah Mawaddah Warahmah..aamiin.

[01/10/00 – 01/10/20]
A happy marriage is about three things. Memories of togetherness, forgiveness of mistakes and a promise of never give up on each other 💞 .

“Rabbana hablana min azwajina wa dzurriyyatina qurrota a’yun, wa ja’alna lil muttaqina imaama..Aamiin”

Sarana Anger Management yang berakibat Banned IG

“Control your anger, don’t let your anger control you. If you are mad, don’t say anything you’ll regret later. If you can’t say anything nice, don’t say it. Calm down and then do whatever you have to do”

Memikirkan Corona memang tak ada habisnya, membaca tentang keberadaan mereka dan segala dampak yang diakibatkan baik hancurnya perekonomian maupun kocar-kacirnya kesehatan, membuat Stress tak berkesudahan. Saat-saat seperti ini saya sangat membutuhkan sarana Anger Management selain Menulis tentu saja. Sejak WFH, saya banyak bekerja sebagai Admin banyak akun di IG, baik itu Dea Wijaya, Baby Dea maupun Candela, saat jenuh melanda, sambil membalas semua pertanyaan tentang produk dagangan, saya berusaha cari sarana untuk membuang energi negatif yang berlebihan saat ini.

Dulu saat Candela masih berjaya, akun IG ini seperti terbengkalai karena kami memang tidak terlalu fokus Online, kegiatan lebih banyak offline. Namun sejak dunia pariwisata hancur karena Corona, kami lebih banyak fokus pembenahan website dan semua akun media sosial, dan sesekali promo sewa armada. Tak banyak hasilnya, karena memang kebanyak sewa armada untuk keperluan traveling, sekarang tak seleluasa dulu, masih banyak rapid test dan tetek bengeknya. Sembari mengisi postingan, bongkar-bongkar microsd memori perjalanan, rasanya saya butuh media untuk memamerkan hasil karya photographer abal-abal ini. Setelah berselancar di IG, bertemulah satu-satu komunitas dan ajang lomba foto, semacam celens-celens berhadiah pulsa atau gopay 25k – 50k.

Iseng-iseng melebarkan kekuasaan eh, pertemanan, maklum saya spesialis extrovert yang harus recharge battre di keramaian, akun pribadi tak lagi menarik hati, kebanyakan hanya aplot dagangan, keseharian dan eksistensi kaum sosialita, sangat membosankan. Membuat Akun Alter Ego, sebagai duality, dimana saya hanya memperlihatkan sebagian kehidupan saya yang tidak semua orang tau, dalam Bio pun hanya tertulis “admin : Candela Holiday”. Seperti menemukan sumber kebahagiaan baru, bertemu dengan teman-teman baru di dunia perpotoan, sebagian besar memang second akun, first akun berisi kehidupan keseharian mereka, sama seperti saya.

Memulai akun nol follower dalam waktu satu bulan sudah 600 followers, maklum sedang lebay sangat energi negatifnya, yang harus dipaksa berubah menjadi positif di dunia perpotoan. Dengan akun alter ego saya banyak mengenal pribadi-pribadi baru, ada yang langsung klik karena kesamaan latar belakang dunia wisata, namun lebih banyak juga yang usianya lebih muda daripada saya, ini sangat menginfluence untuk tetap semangat seperti mereka. Banyak Genre di dunia photography, saya lebih banyak mengambil bagian di celens travel photography dan human interest, untuk genre lain saya belum berminat. Alhamdulillah beberapa kali grid, single feature dan berhasil sebagai winner. Winner mendapatkan hadiah pulsa, namun kesemuanya tidak saya ambil, tapi saya pake sebagai sponsorship.

Sponsorship saya adakan khusus merayakan ultah kak Belva yang ke 19th, di September 18 kemarin, dengan akun second kak Belva di dunia Pecinta Buku. Karena winner saya ada di dua tempat, yaitu akun Jepret Indah dan The Female Camera, maka sponsorship saya adakan disana. Dengan waktu yang bersamaan dan peminat celens yang banyak, maka terjadilah *Banned IG* terhadap akun saya, ini akibat saya terlalu aktif memberikan like dan komen disetiap postingan peserta celens. 3×24 jam akun tidak bisa digunakan, kecuali story. Dari Story itu saya mengabarkan pada peserta celens sekedar mengucapkan terimakasih atas partisipasi mereka. Alhamdulillah senang sekali melihat animonya, tapi tidak dengan kak Belva, annoying katanya, karena harus mention akun dia, sedangkan kak Belva mengkhususkan akun tersebut untuk teman bookloversnya..hiks.

Kedua celens berlangsung sehari hingga dua hari, postingan foto dengan fotoprops yang sangat indah membuat saya dan kak Belva bingung menentukan mana yang layak winners. Setelah kami berunding, kami tentukan pemenangnya tentu dengan selera kak Belva banget yang lebih beraliran Darkmood Photography, saya tinggal approve saja.

Alhamdulillah pengalaman yang mengasyikan buat saya dan kak Belva juga, dia yang terbiasa membuat postingan menggunakan fotoprops mendapatkan inspirasi lebih banyak dari para peserta celens. Dengan akun Alter Ego ini, saya mendapatkan banyak hikmah dan kebahagiaan tersendiri, ditengah beban berat pikiran akibat pandemi, meski tidak bisa menghindar dari masalah, paling tidak bisa mengurangi tekanan stress, karena pada dasarnya masalah memang harus diselesaikan, bukan untuk dilupakan.

Astaghfirullah, Maha Berat Ujian Corona, mungkin saat yang tepat untuk BerHijrah


“Fa inna ma’al ‘usri yusra. Innama’al ‘usri yusra (Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.)”

(QS. Al-Insyirah [94]: 5-6)

Beberapa hari ini pikiran berasa seperti benang kusut, tekanan dampak Pandemi Covid-19 di perekonomian baik makro dan mikro semakin hari semakin berat. Omset turun terus menerus, akibat dari daya beli masyarakat yang juga turun, dampak dari phk masal dimana-mana, mungkin customer melakukan penghematan besar-besaran. Minggu ini dan minggu depan, toko sudah harus menyiapkan dana untuk Giro yang terlanjur beredar, dengan masih berdasar pada omset harian normal. Dan Kenyataan pahitnya adalah saat jatuh tempo, cashflow macet karena penjualan seret. Kami panik, tidak ada cash yang bisa kami siapkan, dan tidak mungkin membiarkan Giro berjalan dan blong, nama usaha kami taruhannya, bahkan nama saya pribadi akan masuk daftar hitam BI, Astaghfirullah jangan sampai terjadi. Banyak Aset kami yang masih berada di Bank sebagai agunan Usaha, itu saat beresiko. Satu-satunya jalan, kami harus menjual aset-aset yang saat ini kurang bergerak atau jarang digunakan. Candela Holiday, usaha travel kami sedang mati suri, jika selama pandemi lebih banyak disubsidi oleh induk perusahaan Dea Wijaya, mungkin saatnya untuk membantu sang ibu yang saat ini sakit keras, akibat cashflow yang mulai melemah. Penjualan Aset sudah kami lakukan, mobil pribadi dan salah satu armada Candela Holiday. Jika Cashflow adalah darah Perusahaan, bisa bayangkan jika kekurangan darah, bisa mabok atau pingsan. Dan sampai saat ini sang Induk belum sembuh, masih pucat tak berdaya butuh tambahan darah, dan penjualan Aset masih terus kami ikhtiarkan.

Menjadi Pengusaha memang tidak mudah, harus tahan tekanan dan jika jatuh harus sanggup bangkit kembali. Kami pernah diuji dengan Krisis Moneter 1998, tapi saat itu kami tak berhutang, pasca Krisis itulah kami mulai mengenal Bank, karena saat itu kami butuh Dana yang telah habis dimakan KriMon 1998, bertemu Krisis 2008, bertemu lagi di 2018, kami masih bisa Survive namun mulai goyang, dan melakukan Top Up untuk suntikan Cashflow lagi dan lagi. Krisis lebih besar bernama Corona datang, lebih dahsyat dari Krisis- Krisis sebelumnya, daya Rusaknya begitu besar, karena bukan saja soal Ekonomi tapi juga Kesehatan hingga merembet ke segala aspek Kehidupan jadi semakin kompleks permasalahan, jika Negara bisa dibikin Resesi, bagaimana dengan Perusahaan milik kami, Astaghfirullah. Jika dua tahun terakhir mulai membangun aset sebagai tongkat estafet, terpaksa harus dihentikan dulu, demi kesembuhan sang Induk. Mungkin saatnya kami untuk Hijrah, apa yang kami lakukan selama ini sudah tidak lagi mendapat keberkahan Allah, Riba yang begitu besar membuat kami kelimpungan, Titik Hitam semakin banyak terasa di hati kami, sehingga Ibadah tak lagi fokus, hanya memikirkan urusan dunia semata, Astaghfirullah. Saat ini kami niatkan untuk melunasi satu persatu Hutang Usaha dengan menjual berbagai aset yang ada, kami juga mulai berkenalan dengan komunitas *Masyarakat Anti Riba* dalam beberapa hari kedepan kami akan diajari bernegosiasi dengan pihak Bank. Semoga segera ada jalan keluar, kami tau ini tidak mudah, yang terpenting kami niatkan dengan sebenar-benarnya Niat karena Allah Azza Wa Jalla, semoga semua harapn terwujud, mungkin Hikmah Corona, kami dipaksa Restart, memulai kehidupan baru yang bersih dari Riba. Sebenarnya sejak lama kami ingin melepaskan Riba, tapi ketakutan akan kesulitan Usaha membuat kami semakin menundanya. Ya Allah, bantu kami menyelesaikan satu persatu urusan Riba ini, kuatkan niat kami agar bisa istiqomah pada tujuan baik ini, beri punggung yang kokoh agar dapat menahan beban lebih jika dampaknya akan berat kami pikul nanti. Kami Yakin dan Percaya Allah Maha Besar, jauh lebih besar daripada masalah kami ini akan mengIjabah semua Doa yang kami panjatkan dan Ikhtiar yang kami lakukan, in syaa Allah menuju Masyarakat Tanpa Riba..aamiin.

Happy 70th Birthday Bapak

Never forget two people in your life>> ‘the person who lost everything just to make you win’ [your Father] and ‘the person who was with you in every pain’ [your Mother]”

Barakallahu fii umrik Bapak tercinta, semoga senantiasa Sehat dan Bahagia, serta selalu dalam lindungan Allah Azza Wa Jalla..aamiin

Hari ini Jumat [07/08/2020], Bapak berusia tepat 70th, jarang sekali kami merayakan Ulang Tahun, hampir tidak pernah, karena memang bukan budaya dan adat kami sekeluarga, mungkin saat kecil dulu, Bapak merayakan Ulang Tahun kami anak-anaknya. Namun kali ini kami ingin memberikan sesuatu yang berbeda, sekalian silaturahim karena Lebaran kemarin hanya sempat melalui Zoom saja.

Hanya sekedar Nasi Kuning sederhana tanpa Lilin dan ornamen Ultah lainnya, Bapak sudah sangat terharu, karena memang selain merindu cucu-cucu, juga tidak pernah merayakan Ultah bareng sekeluarga, kecuali makan bersama di restoran, bukan modelan Surprise party seperti ini. Terakhir tahun 2018, beliau merasakan Surprise Ultah dari SGM saat menikmati Reward dari Sari Husada di Malaysia.

Melihat Bapak yang begitu terharu, membuat kami anak-anaknya sadar, jika kami kurang memperhatikan beliau, apalagi dimasa Tua seperti ini, selain kami sibuk dengan urusan masing-masing, juga melihat Bapak masih segar bugar jalan kemana-mana, berkegiatan baik Masjid maupun bersosialisasi bareng klub Senam dan Sepeda, kadang membuat kami terlena. Alhamdulillah Bapak memang kaum Extrovert seperti saya, jadi banyak teman dimana-mana, mungkin itu yang membuat beliau awet muda. Saking seringnya kemana-mana tadi, dua minggu lalu beliau melakukan Swab Test gratis dari almamater di Kepolisian, Alhamdulillah hasil negatif. Maafkan kami Bapak, anak-anak dan cucu-cucu yang kurang perhatian dan jarang ke rumah apalagi sejak pandemi Covid-19 mewabah. Kami hanya senantiasa doakan agar Bapak dan Ibu selalu sehat dan senantiasa bahagia, in syaa Allah.

Idul Adha 1441 H, Belajar Arti Keikhlasan

But perhaps you hate a thing and it is good for you; and perhaps you love a thing and it is bad for you. And Allah Knows, while you know not” – [QS 02 : 216]

Hari Sabtu [01/08/20] Qurban kami sekeluarga siap disembelih. Jika Idul Adha bertepatan dengan hari Jumat, Masjid yang kami titipi Qurban memilih hari kedua Lebaran untuk melaksanakan penyembelihan. Alhamdulillah acara berlangsung lancar dan seperti biasa, pembagian daging Qurban didistribusikan untuk karyawan kami juga tetangga sekitar Dea Wijaya Toserba. Meski tahun ini terasa sangat berat, kami ingin tetap bisa berqurban seperti tahun-tahun sebelumnya. Sapi adalah pilihan kami, jika tahun sebelumnya kami tidak mencantumkan nama Ayah dan Ibu, karena beliau berdua sudah berqurban ditempat lain, tahun ini kami biasakan untuk mencantumkannya, meski tahun ini pun beliau juga sudah berqurban di masjid dekat perumahan.

Disaat berqurban seperti ini ada perasaan bahagia karena berbagi dengan sesama, namun disisi yang lain ada yang berbeda di tahun ini, terpaksa awal bulan ini meresignkan 3 orang karyawan. Bertepatan dengan pembagian Gaji Karyawan, saya juga harus mengeksekusi sendiri pengurangan karyawan. Wajah-wajah sedih membayang terus dipelupuk Mata, saat saya harus menyampaikan berita buruk ini, sungguh ini berat sekali. Ya Allah ampuni hamba, Astaghfirullah. Badai Corona telah meluluhlantakan Perekonomian, meskipun Usaha kami bergerak dibidang kebutuhan Pokok, tak luput juga kena imbasnya. Omset turun drastis, selain karena berkurangnya jumlah belanja customer, rapatnya persaingan, juga akibat subsidi yang harus kami lakukan untuk unit bisnis Dea Wijaya lain yang lebih parah kondisinya. Ya Allah, beri kami kekuatan untuk dapat menjalani Ujian Maha Berat ini, semoga Pandemi ini segera berakhir dan perekonomian dapat kembali Normal, sehingga Dea Wijaya tak lagi melakukan Pengurangan Karyawan, Sungguh rasanya tidak tega, hampir tak pernah kami melakukan kebijakan meresign paksa Karyawan jika tidak benar-benar melakukan pelanggaran berat dan tak termaafkan. Ya Allah, semoga mereka yang terpaksa dirumahkan bisa tetap semangat melangkah dan berjuang demi masa depan yang lebih baik, dan keluarga mereka pun dapat menerima dengan ikhlas atas keputusan ini..aamiin. In syaa Allah.

BDR tahun ajaran 2020/2021 mulai efektif per 20/07/20

“Optimism is the faith that leads to achievement. Nothing can be done without hope and confidence.”– Helen Keller

Sudah hampir tiga minggu anak-anak kembali ke Sekolah, diawali dengan MPLS seminggu, BDR system [Belajar dari Rumah] secara efektif berlaku sejak 20 July 2020. Jika Reva dan Mika baru mulai Sekolah, berbeda dengan Belva yang akan segera mengakhiri Semester Genap-nya setelah menyelesaikan beberapa Ujian Blok yang harus dikerjakan secara berurutan karena Pandemi ini menyebabkan kekacauan jadwal UB dan OSCE Kedokteran. Dan Senin [27/07/20] adalah UB terakhir di semester ini, jika tidak Remidi, Belva segera libur panjang, semoga saja tanpa Remidi..aamiin. Meskipun tanpa Remidi kegiatan Belva tidak berkurang dia masih ada beberapa tugas dari UKM, baik SMART maupun Cardios, selain itu dia mengikuti Test IMO untuk persiapan Olympiade. Alhamdulillah berhasil lolos ditahap pertama, semoga lolos di wawancara juga..aamiin.

Kegiatan selama Karantina Belva mulai ngeVlog Booktuber di Youtube, dengan nama Akun Bebe, selain itu mengaktifkan kembali akun IG nya yang dikhususkan untuk Booklover yaitu belvaandthebooks, dan tau sendiri minat baca paling tinggi teteplah orang luar negeri, kalo baca komen-komennya Bule semua..hiks. Alhamdulillah kegiatan positif dalam mengembangkan diri terus dilakukan Belva ditengah kesibukan kuliahnya. Semoga adek-adeknya bisa mengikuti jejak kakaknya.

Untuk Mika sendiri dia mulai bisa beradaptasi dengan sistem BDR ini, mungkin karena dia termasuk spesies Introvert sekaligus Pemalu, lumayan dia belajar step by step untuk lebih percaya diri. Alhamdulillah masih menemukan sedikit kebahagiaan ditengah Ujian Corona. Mika yang biasanya acuh tak acuh masalah Sekolah, mulai terlihat semangat mengikuti Sekolah Online. Saat MPLS seminggu, kami orangtua turut memantau kelancaran proses pengenalan BDR, dan melihat Mika enjoy, kami perlahan melepasnya.

Seminggu setelah MPLS, Sekolah Online dimulai, sedikit berbeda seperti kelas 5 saat awal Corona datang, di kelas 6 ini Sekolah sudah upgrade semua fasilitas pembelajaran online. Mulai dari durasi, juga tahapan sekolah mulai dari ikrar hingga jam Sekolah berakhir seperti miniatur Sekolah Normal. Dan melihat Mika begitu semangat kami ikut bahagia, ternyata dibalik Ujian Corona, ada banyak Hikmah didalamnya. Sejak pukul 05.00 Mika sudah Sholat Subuh, pk 06.00 Mandi kemudian Sarapan, pk 07.00 sudah buka Laptop dan memasukan no ID, padahal kelas dibuka pk 07.45, karena Sekolah baru mulai pk 08.00. Dan Ustadzah Mulis, sebagai Wali kelas Mika sempat berkomentar jika Mika sangat semangat Sekolah, selalu paling awal masuk kelas. Alhamdulillah

Pembagian peralatan dan buku-buku Pelajaran, Sekolah telah memberikan konsep Drive Thru untuk pengambilannya. Tiap kelas diberikan jadwal khusus dengan batasan waktu tertentu, sehingga tidak terjadi penumpukan anak didik di Sekolah. Alhamdulillah lancar tanpa macet dan kesulitan yang berarti. Hanya kami selaku Orangtua yang mengambilkan, anak didik cukup di rumah tak perlu kemana-mana.

Untuk kelengkapan Gadget Mika telah kami siapkan sebelumnya, Laptop dari lungsuran kak Belva, sedangkan HP dari lungsuran Papa. Sebelum Sekolah dimulai telah kami perbaiki kekurangannya sesuai kebutuhan Mika nanti di kelas 6. Sesaat sebelum kembali memasuki semester ganjil di jenjang yang baru, Sekolah telah mengadakan Sosialisasi bagaimana nanti pelaksanaan BDR ini, termasuk Kurikulum, Perkenalan Wali Kelas dan Guru Kelas, kebutuhan Gadget, dan kewajiban Pakaian Seragam untuk pembelajaran Online nantinya.

Jika sosialisasi Mika diadakan tanggal 9 July 2020, Sosialisasi Reva malah lebih awal pada tanggal 7 July 2020. Jadi selama WFH dirumah, si Mama ini juga harus siap metentheng didepan Laptop untuk mengikuti Sosialisasi juga Parenting yang hadir bergantian. WFH bukan berarti santai-santai seperti dipantai, justru makin bejibun kegiatannya. Namun, Alhamdulillah banyak bersyukur sekarang Mika jauh lebih Mandiri, bahkan saat mengikuti Kelas Online, kamar malah dikunci, gak mau terganggu katanya, memang kadang-kadang Papa dan Mama nya ini takut dia ada kesulitan, karena seringkali di Grup Kelas ada pemberitauan Trouble Jaringan, atau Zoom sedang terganggu, tapi sejauh ini Mika bisa survive sendiri.

Untuk Reva tidak jauh berbeda dengan jenjang sebelumnya, karena dia sudah kelas 9 dan akan melewati masa kelulusan, selama Sosialisasi dijelaskan tentang kriteria kelulusan, juga kurikulum, Wali Kelas dan kegiatan apa sajaa yang nanti diberikan setelah pandemi Covid-19 ini berakhir. Termasuk Magang, Personal Project, Study Tour, juga Rihlah. Baik SD maupun SMP mewajibkan Orangtua untuk mengisi Jurnal harian anak-anak tentang kegiatannya selama BDR. Memang semua baik Murid, Wali Murid juga Sekolah dipaksa keluar dari Zona Nyaman, sama-sama belajar Ilmu baru yang mungkin tidak terbayang sebelumnya akan dituntut bisa seperti ini. Tidak bisa membayangkan bagaimana nasip anak-anak Negeri yang Sekolah dalam keterbatasan..hiks. Semoga Sekolah dengan Sistem BDR ini berjalan dengan lancar, sembari menunggu Corona hilang dari Muka Bumi, mungkin ini salah satu cara membuat anak-anak Belajar lebih baik tentang Tehnologi dan Kemandirian. Setiap Kejadian yang tidak mengenakkan pasti ada Hikmah dibaliknya, sudah kewajiban kita selalu bersyukur kala Nikmat itu datang, dan senantiasa bersabar saat Ujian menghadang. In syaa Allah hidup akan lebih menentramkan, dan Semoga pandemi Covid-19 ini segera berakhir, Indonesia lekas Sehat dan Pulih seperti sediakala..aamiin.

Liburan Kenaikan Kelas dalam Keterbatasan New Normal

“Sometimes you don’t realize your own strength until you come face to face with your greatest weakness.”
– Susan Gale

Hari Sabtu [27/06/20], untuk pertama kalinya Mika dipaksa keluar rumah, disaat Pemerintah telah menetapkan New Normal setelah Masa Transisi berakhir. Bukan untuk sekedar merayakan Euphoria seperti teman lainnya, namun Mika memiliki agenda Raportan di Sekolah. Meski sedikit ada rasa takut, karena pada dasarnya anak-anak sangat patuh dan taat peraturan apalagi si kakak Sulung selalu menekankan bahwa ancaman Corona masih sangat mengkhawatirkan terutama daerah kami, Sidoarjo, termasuk zona Merah Merona.

Dengan berpakaian Seragam, Mika berangkat ke Sekolah, kalo ini berdasarkan request si Mama, demi kepentingan mengabadikan Moment pandemi Covid-19 di Sekolah, walaupun sebenarnya baju bebas muslim juga bisa. Saat menjejakan kaki depan pintu pagar Sekolah, kami sudah harus melalui Standart Protokol Kesehatan, seperti Cek Suhu Tubuh dengan Thermogun, juga Cuci Tangan dan Jaga Jarak. Alhamdulillah Sekolah telah melaksanakan dengan Baik dan Benar. Kursi diatur sedemikian agar para Wali Murid dapat melakukan Physical Distancing dengan nyaman. Sambil menunggu giliran, Mika terlihat tegang, entah karena takut Corona atau lebih takut hasil Raportnya..hahaha. Tiba saatnya Mika maju ke Meja Wali Kelas 5, yaitu ustadz Ikhwan. Ustadz yang begitu sabar dalam mendidik anak kelas 5A, sayang Corona membuat kenangan itu berkurang, dan maksimal mendidik hanya satu semester saja. Mika begitu terkesan sekaligus kehilangan sosok Guru yang sabar dan sangat support terhadapnya, keinginannya ustadz Ikhwan bisa menjadi wali kelas di kelas 6, namun sayang itu belum bisa diwujudkan, Ustadz Ikhwan masih dianggap Junior untuk kelas yang prioritas akan lanjut ke jenjang SMP nanti. Alhamdulillah nilai Mika masih stabil, beberapa Mapel masih berhiaskan nilai C dan D di mapel tertentu yang memang bukan favorite Mika, walau didominasi A dan B. Mika sedikit lega, karena dia sebenarnya sangat mengerti konsekuensi yang harus dia terima jika kurang belajar, namun seperti biasa hanya mengerti tapi kurang mau berubah, semoga di kelas 6 nanti, Mika bisa lebih serius belajar dan lebih mandiri serta percaya diri..aamiin.

Agenda Raportan masih berlanjut Senin [29/06/20] kali ini giliran Reva yang ke Sekolah, adalah juga pertama kali dia keluar rumah. Mengumpulkan keberanian dengan memahami Protokol Kesehatan. Scedule Mika maupun Reva sudah diatur Sekolah dengan batasan jam masing-masing sehingga tetap dapat melaksanakan Protokol Kesehatan yaitu Physical Distancing. Alhamdulillah nilai Reva juga bagus, sesuai prediksi, ada peningkatan dibeberapa Mapel Mafia, meskipun sering mengeluh susah, namun nilai tidak mengkhianati hasil kerja keras belajar. Semoga di kelas 9 Reva dapat meningkatkan lagi ketekunannya dalam belajar, juga lebih percaya diri dan dapat meraih Prestasi bidang Akademik saat kelulusan nanti..aamiin.

Tak ada liburan kenaikan kelas tahun ini, 2020 akan dikenang oleh seluruh Pelajar terutama bagi yang Wisuda Kelulusan, mereka tidak bisa melaksanakan moment yang paling ditunggu anak Sekolahan, apalagi Mahasiswa. Sebagian mengadopsi Wisuda Drive Thru yaitu Datang, Foto Pemindahan Tali Toga bareng Kepala Sekolah atau Rektor didepan Sekolah atau Kampus, lanjut pulang. Dan semuanya, seluruh masyarakat Dunia sedang Prihatin, tak ada keramaian liburan di tempat wisata, tak ada hotel fullboking, sedih..hiks. Usaha kami Candela Holiday Tour and Travel baru mulai pemanasan, ingin segera beredar traveling lagi. Kami berdua mencoba survey ke Bromo, belum mengajak anak-anak, karena baru awal berani makan diluar setelah sebelumnya selalu makan di rumah. Ingin membaca situasi untuk kebutuhan Candela. Beberapa Resto sekitar Bromo sudah kembali beraktivitas, namun Wisata Bromo belum ada tanda-tanda. Begitu juga Malang dan Blitar, tempat Wisata masih banyak yang belum beroperasi Normal. Wisata Batu sebagai Zona Hijau, juga masih malu-malu, beberapa buka, tapi banyak yang masih tutup juga. Terpaksa agenda Liburan diisi dengan berkegiatan di rumah, seperti Latian, Main Musik, mengerjakan tugas dari si Mama.

Namun setelah kami merasa hati kami kuat dan tertata serta rasa takut sedikit berkurang, kami putuskan untuk keluar kota. Tentu saja destinasi utama kami adalah Yogjakarta, apalagi termasuk Zona Kuning cenderung Hijau, yang in syaa Allah aman. Setelah berunding diputuskan Mika tetap dirumah, Belva dan Reva ikut, dengan pertimbangan kami tidak menginap, karena memang belum cukup yakin keamanan Hotel langganan. Dan memang hanya untuk keperluan Belva untuk mengambil sebagian Baju dan Buku, sekaligus memastikan kondisi dan bersih-bersih Kosan di dekat kampus UII. Apalagi Setelah keluar keputusan Rektorat UII dan Dekanat FK, dimana kampus akan kembali normal dibulan February, bisa bayangkan bagaimana wujud kamar Belva, sebenarnya merugi, bayar sekian juta namun tak ditempati, walaupun ada potongan 30%. Seandainya break, kamar berpotensi ditempati Mahasiswa Baru, dan kami juga kebingungan bagaimana nasip Motor yang sudah ngendon di Kosan, apalagi Belva sudah amat sangat betah di kamarnya yang sekarang. Harus berfikir lebih panjang lagi untuk memutuskannya.

Kami berangkat pagi tepat pk 07.00, harapan sampai Jogja belum Dhuhur, jadi kami akan segera balik Surabaya, maximal Ashar. Bisa Sholat di Kosan, sekalian beberes. Dan ternyata Kampus UII sedang di lockdown, kami melewati depan kampus dalam kondisi ditutup Pagas Besi, padahal sering juga melewati jalan dalam kampus menuju Kosan, sekarang harus lewat jalan raya. Sampai di depan pintu kampung kosan kakak juga kena lockdown, mungkin resiko tinggi karena kawasan kosan banyak mahasiswa dari luar kota atau luar Jawa. Untuk itu jauh-jauh hari saya sudah memastikan keadaan dan meminta bantuan mas Budi penjaga kosan Belva, dan Alhamdulillah sesaat saya berangkat mas Budi sudah koordinasi dengan gugus Covid-19 desa Kimpulan, dimana Belva tinggal selama kuliah di Jogja.

Setelah selesai beberes kamar, kami menitipkan kunci kamar dan ongkos untuk bantu bersihkan kamar kepada penjaga Kosan. Daripada kami harus riwa-riwi hanya untuk bebersih, mending minta tolong yang ada saja, semoga aman dan dapat dipercaya. Lanjut kami makan, pertamakali juga Belva dan Reva makan di Resto semenjak Corona menyerang. Dan kami memilih Resto Favorite keluarga, yaitu The Crabbys, yang memang menjadi destinasi wajib kalo ke kosan Belva. Alhamdulillah meski masuk jam makan siang, resto masih sepi, tidak bisa normal seperti biasanya, namanya juga New Normal. Menu wajib masih terasa enak, walau sudah berbulan-bulan tidak makan di restoran, tujuan Corona hanya ingin kami berhemat..hiks. Selesai makan siang kami bablas kembali ke Sidoarjo, menjelang pk 20.00 kami sudah sampai di rumah. Alhamdulillah pengalaman keluar kota sesaat New Normal memberikan pelajaran, tidak ada yang musti dikhawatirkan, selama yakin dan percaya Allah satu-satunya yang dapat melindungi kita, hendaknya selalu berdoa dan tetap menjalankan protokol kesehatan selama keluar rumah. In syaa Allah sehat senantiasa..aamiin.

Welcome To The *NEW NORMAL* Life

“Always pray to have eyes that see the best in people, a heart that forgives the worst, a mind that forgets the bad, and a soul that never loses faith in God.”

Selasa hari ini [23/06] fase baru telah dimulai, setelah PSBB dihentikan dua minggu lalu, Masa Transisi berjalan dua minggu kemudian, and..Welcome New Normal Era, semoga kesehatan masih tetap terjaga dan perekonomian mulai berjalan. Meskipun kondisi Surabaya Raya termasuk Sidoarjo dimana kami tinggal masih Merah Merona akibat pandemi Covid-19, Pemerintah Daerah memutuskan menghentikan PSBB, tak ingin rakyat trauma berkepanjangan akibat PSBB yang bersifat setengah Lockdown ini berakibat buruk terhadap Psikologis mereka.

Menghentikan PSBB bukan berarti langsung melaksanakan New Normal, tapi Surabaya dan Sidoarjo memilih melakukan persiapan dengan menetapkan Masa Transisi, dimana protokol kesehatan masih terus digalakan, penyuluhan ke desa-desa yang masih cuek terhadap wabah ini lebih diutamakan. Sebagian pekerja sudah diperbolehkan kembali ke kantor, mall mulai dibuka dengan banyak syarat, Masjid termasuk didalamnya, hanya sekolah saja yang masih harus dipertimbangkan lebih detail karena kewenangan juga berada di Kemendikbud serta Kemenag.

Selama Masa Transisi ini, semua usaha dan karyawan mulai mempersiapkan diri kembali bekerja seperti semua, untuk Mall, Pasar bahkan Masjid sudah mulai membuka diri namun wajib melaksanakan Protokol Kesehatan. Termasuk usaha kami Dea Wijaya Toserba mengikuti semua arahan yang diberikan Pemerintah, menyesuaikan kembali jam kerja karyawan, tidak ada jam Malam kecuali pk 23.00 – pk 04.00 masih diberlakukan. Jalanan mulai dibuka, tidak ketat seperti saat PSBB, termasuk jalan perumahan kami, yang awalnya sangat tertutup, tapi ada untungnya juga membatasi jalan tembus, angka kejahatan menurun. Untuk Usaha Travel kami mulai berbenah, sebagian Usaha Travel mengadakan *Manasi Bis* bersama, tanda kami siap kembali melayani Travel dan Tour, namun semua harus menyesuaikan Protokol Covid-19, salah satunya adanya pembatasan penumpang dalam satu armada, jatuhnya memang jadi lebih Mahal. Biasanya satu Elf bisa menampung hingga 18 orang terpaksa maximal 10 orang, begitu pula dengan Hiace dan Bis. Yach..sementara kita ikuti anjuran Pemerintah, yang terpenting semua Pelayanan dapat terus berjalan lancar.

Untuk Sekolah anak-anak, selama Masa Transisi ini, mereka mengerjakan sisa-sisa Pelajaran terakhir mereka, termasuk ulangan akhir semester kemudian raportan kenaikan kelas, yang semuanya masih dilakukan melalui Zoom dan nilai raport terkirim melalui aplikasi School Talk. Karena Reva dan Mika berada dalam satu Yayasan, jadi lebih Praktis buat mereka melihat nilai dalam aplikasi ini.

Alhamdulillah, meski dalam keterbatasan belajar, nilai Reva dan Mika cukup memuaskan. Mengerjakan ulangan secara Online penuh dengan kejujuran saja sudah membuat Orangtua bangga, apalagi hasilnya bagus, itu suatu kebahagiaan, semoga Nilai-nilai yang didapat dari hasil belajar Daring ini mendapat keberkahan dari Allah Azza Wa Jalla, sehingga dapat berguna untuk Dunia dan Akhiratnya..aamiin.

Liburan telah tiba, Reva dan Mika mendapatkan libur semester dari 22 Juni hingga 10 Juli, dan Alhamdulillah semua Naik Kelas ke jenjang berikutnya. Sementara Sekolah belum bisa memastikan pembelajaran seperti apa yang akan diberikan di kelas baru ini, karena masih menunggu arahan dari Kemendikbud dan Kemenag. Karena seperti yang kami pantau dari berita, wilayah kami, Sidoarjo ini termasuk Red Zone Covid-19 yang masih harus diwaspadai.

Untuk Kuliah kak Belva juga masih gelap gulita, sementara Ujian Blok terpaksa dilakukan secara Daring dan dalam pantauan Live tentu saja, agar tercipta kondisi yang penuh kejujuran. Sedangkan untuk Osce [keterampilan Medis] terpaksa belum ada kabar, hingga dipastikan akan mundur cukup panjang, kemungkinan akan digabungkan dengan semester berikutnya, ini tantangan cukup berat untuk anak-anak Fakultas Kedokteran. Kabar terbaru, Universitas telah mengeluarkan keputusan untuk melaksanakan Pembelajaran Daring diperpanjang hingga semester Ganjil sampai Januari, dan Februari baru akan kembali ke Kampus, in syaa Allah. Semoga nilai-nilai kak Belva bisa stabil seperti semester lalu sebelum terjadi wabah Covid-19 ini, karena sulit jika harus menghadapi model pembelajaran seperti ini, seharusnya bisa on off ke kampus secara bergantian, namun kesehatan lebih utama, semaksimal mungkin Ilmu bisa ditransfer melalui media online saja.

Tanggal 17 Juni 2020, Rapat terbatas antara Kemendikbud, Kemenag, DPR dan Pemerintah dilaksanakan melalui Siaran Live di Youtube. Saya menyimak dengan baik apa yang disampaikan para pemangku kebijakan untuk anak-anak Sekolah ini. Intinya Prinsip Kebijakan Pendidikan di Masa Pandemi Covid-19 adalah Kesehatan an Keselamatan peserta didik, pendidik, tenaga pendidikan, keluarga dan masyarakat merupakan prioritas, utama dalam menetapkan kebijakan pembelajaran.

Jadi intinya, anak-anak akan kembali ke Sekolah jika kondisi daerah mereka sudah dalam posisi Green Zone, dan secara bertahap mulai jenjang SMA/SMP masuk terlebih dahulu, dua bulan kemudian disusul SD dan dua bulan berikutnya baru PAUD yang diperbolehkan kembali ke Sekolah. Itupun masih ada pembatasan lagi yaitu maximal satu kelas berisi 18 siswa, jadi semacam Shift karyawan, masuk Sekolah secara bergantian. Semoga segera bisa dimulai, meskipun dengan segala keterbatasan, sebagai makhluk Social kita butuh bersosialisasi.

Hari pertama New Normal, bersama kak Reva mulai keluar dari rumah, berSepeda menghirup udara kebebasan, karena cuma ada dua sepeda, Mika harus stay di rumah, selain itu si Papa belum memberikan izin untuk Mika, begitupun kak Belva, masih sangat sibuk dengan urusan kuliah daring mulai pagi hingga petang didepan laptopnya. Hari ketiga, kami berdua mulai berSepeda agak jauh, beda perumahan untuk mengunjungi Akung dan Ochi anak-anak, Alhamdulillah setelah sekian Purnama, akhirnya kami bisa bertemu juga. Begitu bahagia rasanya bertemu beliau berdua dalam kondisi sehat, apalagi ditemani salah satu Cucu kesayangan. Hari keempat tepat di hari Jumat, kami berdua mulai berani menjejakan kaki di Pasar Perumahan, lega rasanya bisa bertransaksi dengan para pedagang Sayur dan Lauk Pauk disana. Alhamdulillah semua tampak New Normal, adanya Protokol Kesehatan di Pasar, membuat rasa was-was sedikit berkurang.

Semua Fase harus kami lalui dengan ikhlas, senantiasa Sabar saat Ujian datang, tanpa meninggalkan rasa Syukur setiap waktu, karena bagaimanapun Allah Azza Wa Jalla tidak akan pernah memberikan beban melebihi kekuatan hamba-Nya, in syaa Allah kita bisa melalui semua badai di segala aspek kehidupan akibat virus Corona, karena yakin segala sesuatu pasti ada akhirnya dan kita semua bisa naik kelas dengan nilai terbaik..aamiin.