Dua biji Ring telah terpasang di Jantung Ayah

Sepulang dari Umroh, dua bulan lalu, Ayah sering mengeluh tentang dadanya yang sakit hingga tembus ke belakang diiringi sesak yang lumayan membuat molet tidak karuan. Padahal sebelum berangkat Umroh hanya masalah kaki saja seperti Ibu, keduanya memang telah terlanjur mendaftarkan diri untuk Umroh, disaat kaki mulai tidak kompromi, namun Alhamdulillah semua kewajiban Umroh lancar terselesaikan. Tiba di tanah air justru masalah dada sakit yang terus mengganggu aktivitas Ayah. Pada akhirnya Ibu memaksa Ayah untuk segera ke Spesialis Jantung, untuk mengetahui apakah Jantung Ayah, baik-baik saja. Ternyata cukup sekali periksa di RS Mitra Keluarga, dokter langsung memaksa untuk Kateterisasi karena mencurigai ada permasalahan pada pembuluh Jantung Ayah.

Kateterisasi dilaksanakan di RS Polda Mayangkara, karena Ayah masih memiliki Askes (BPJS) yang dapat digunakan, biayanya pun dapat ditekan, kata beliau, eman karena gaji tiap bulan sudah dipotong. Setelah seminggu hasil pemeriksaan telah keluar, ada 4 tempat yang terganggu, dua tempat pembuluh sebelah kanan dan dua tempat sebelah kiri. Dan yang terparah ada satu tempat yang buntu hampir 99% dan itu wajib segera diambil tindakan. Dokter memberikan alternatif untuk memilih Pasang Ring atau ByPass. Namun karena kondisi yang 99% itu cukup mengkhawatirkan, apapun pilihannya, tetap akan ada persiapan untuk ByPass.

Ibu memutuskan untuk mencoba Pasang Ring saja terlebih dulu, mengingat usia Ayah yang sudah mulai senja, ketakutan akan efek dari operasi besar yang memakan waktu hingga 10 jam, karena harus membongkar tulang rusuk, tentu masa Recovery sangat riskan dan lama. Sedangkan pasang Ring, prosedur sama dengan Kateterisasi yaitu memasukkan semacam alat melalui alat kelamin menuju Jantung dan kemudian dipasangkan Ring didaerah yang buntu tersebut.

Operasi Pasang Ring maupun ByPass adalah operasi dengan biaya yang tidak murah, kami harus siapkan ratusan juta, namun karena Ayah memiliki BPJS biaya dapat ditekan dengan “syarat dan ketentuan berlaku”. Pertama, Ayah tidak bisa menggunakan fasilitas BPJS di RS Polda Mayangkara, karena tentu dalam sebulan, setelah pemeriksaan Kateterisasi kemarin tidak ada fasilitas operasi lagi hingga 3 bulan ke depan, padahal Ibu sudah sangat ngotot agar Ayah segera di operasi. Kedua, kami harus mencari alternatif RS yang lain, namun klas BPJS harus di Upgrade agar dapat menanggung biaya operasi sekitar 50% saja. Alhamdulillah kami mendapatkan di Graha Amerta walau dengan sedikit perjuangan. Karena BPJS Ayah kelas 1 harus di upgrade ke kelas VVIP, minimal VIP, jika ruang VVIP sudah full book.

Operasi Ayah terjadwal Rabu (16/08), berarti Selasa sudah harus masuk kamar. Senin pagi, Ayah dan Ibu sudah mulai hunting kamar, kenyataannya Senin semua ruangan di VVIP dan VIP RS Graha Amerta masih full, menurut info dari IDIK (Kardiovaskuler) ada alternatif di ruang Nusa Indah, di bagian IRD RS Dr Soetomo. Senin malam giliran saya dan pak Suami hunting kamar, ternyata Graha Amerta juga masih penuh, kami disarankan datang kembali Selasa pagi, langsung saja kami menuju IRD Dr Soetomo untuk melihat lokasi ruangan VIP Nusa Indah sebagai alternatif pengganti. Kedua Rumah Sakit ini sebenarnya bersebelahan, tapi untuk berjalan rasanya kq awang-awangen jauhnya, akhirnya kami keluar dari Graha menuju IRD, pak Suami sudah ilfill sesaat masuk gerbang IRD untuk parkir, waktu sudah menunjukkan pk 11.00, namun banyak orang masih keleleran duduk, tidur, checkin dsb. Kami jalan di sepanjang lorong sambil merasa ngeri-ngeri sedap. Duh..jauh amat jalannya, akhirnya kami pun sampai di ruang Nusa Indah, dan lagi-lagi full, disarankan besok pagi kembali lagi.

Selasa pagi ini (15/08), saya menelepon customer care RS Graha Amerta untuk menanyakan kamar yang telah saya pesan senin malam, Alhamdulillah meski VVIP masih full, terdapat kamar VIP yang kosong, kami pun segera berangkat beserta Ayah dan Ibu. Alhamdulillah Ayah bisa masuk kamar hari Selasa, jika tidak, operasi akan di skedul ulang.

Rabu pagi (16/08) tepat pukul 10.00 Ayah telah bersiap di ruang IDIK untuk menjalankan operasi pasang ring, saya, ibu dan mas didik menemani Ayah di luar ruangan operasi. Waktu demi waktu berjalan, sembari menunggu, saya dan Ibu sepakat membaca surat Yassin dan Al Mulk, demi keselamatan, kemudahan dan kelancaran proses pemasangan ring di pembuluh jantung Ayah. Tak terasa hampir 2 jam kami menunggu, asisten dokter kemudian memanggil Ibu untuk mengabarkan bahwa operasi Ayah telah selesai, beliau dalam keadaan sadar (ternyata hanya bius lokal) dan akan segera di pindahkan ke ruang ICU guna di observasi untuk semalam. Menurut dokter kesulitannya cukup tinggi, sehingga hanya terpasang 2 ring, Alhamdulillah yang buntu hampir 99% dapat dipasang ring tanpa harus Bypass, dan untuk operasi selanjutnya adalah memasang ring di pembuluh yang buntunya sekitar 70%. Operasi sendiri paling cepat di lakukan seminggu kemudian apabila menggunakan jalur umum dan sebulan dengan BPJS. Kalo Ayah boleh memilih, beliau tidak mau pasang lagi, lebih memilih minum obat dan jaga pola makan, beliau tidak betah di RS juga tidak nyaman dengan operasinya, maklum seumur-umur, namanya opname baru kemarin Kateterisasi dan kedua operasi pasang ring ini.

Kamis pagi ini (17/08) bertepatan dengan ulang tahun kemerdekaan RI yang ke 72 tahun, Ayah diijinkan pulang, padahal hari itu tanggal merah, biasanya admin libur, namun Alhamdulillah inilah arti Merdeka bagi kami, selain Ayah yang cerewet minta segera pulang, Ibu juga terlihat sangat lelah sudah menenmani Ayah selama 3 hari 2 malam, saya juga lelah karena riwa-riwi rumah dan RS yang jauhnya lumayan. Alhamdulillah ya Allah, segala puji syukur kami panjatkan, operasi tahap pertama telah Ayah lalui dengan baik, untuk pemasangan 2 ring berikutnya semoga terlaksana dengan baik dan sukses juga, kami senantiasa memohon kepadaMu untuk memberikan kesehatan bagi Ayah dan Ibu, juga untuk kami sekeluarga..aamiin

CV. Candela Semesta

Alhamdulillah, pada tanggal 7/08/2017 (bertepatan dengan ulangtahun Ayah) Candela Tours dan Travel telah resmi beroperasi secara Soft Opening, artinya masih belum gas poll, istilahnya “Warming Up”. Seperti yang saya ceritakan dalam tulisan-tulisan saya kemarin, kami sebagai orangtua hanya ingin berusaha menyiapkan yang terbaik untuk anak-anak kami kelak mereka dewasa, salah satunya berupa Property, selain yang paling utama pendidikan terbaik tentunya. Melihat Ruko yang dibiarkan kosong atau disewakan ke orang lain, hanya sebagai tabungan koq sayang ya, darah entrepreneur kami tidak rela rasanya.

Latar Belakang pendirian CV Candela Semesta yang membawahi usaha Candela Tours dan Travel juga Candela Courier Service ini sebenarnya obsesi pak Suami yang sejak dulu ingin memiliki usaha Travel dan Ekspedisi semacam “Rosalia Indah” (yang kebetulan kantornya di wilayah Sidoarjo dekat dengan Dea Wijaya). Selain itu Dea Wijaya Online yang semakin menjanjikan, dengan memiliki ekspedisi sendiri, harapannya kami dapat mengerjakan dea online dari hulu hingga hilir secara mandiri, baik itu dea online (website/aplikasi), toped dan bukalapak, sayang shopee tidak memiliki option wahana, jadi jika ada pesanan dari shopee tetap menggunakan ekspedisi yang lain. Dea Online telah memiliki armada sendiri namun masih menjangkau wilayah Surabaya dan Sidoarjo saja, untuk pengiriman ke kota yang lain, kami akan mulai buka option hanya melalui Wahana. Dan untuk travel sendiri, sejak kami memiliki kesempatan traveling hingga ke luar negeri, traveling menjadi hobby baru kami. Hobby yang menghasilkan tentunya sangat menyenangkan. Candela Tours dan Travel telah memiliki Tour Planner yang siap membantu memberikan paket Wisata yang dapat di sesuaikan dengan Budget yang ada. Pak Hasan namanya, beliau adalah tour planner kami, yang biasa mengawal Reward Tour Tahunan anak-anak Dea Wijaya, kami kerja bareng sekarang dan Alhamdulillah, Senin 14/08/17 ini Ace Hardware telah deal untuk memakai jasa kami untuk Reward Tahunan Karyawan berwisata ke Pulau Menjangan, awal yang sangat baik.

Candela Semesta sendiri diambil dari nama belakang anak lelaki kami “Mikail Barraq Candela”, Candela adalah Candle-Lilin yang memiliki sifat menerangi, dan Semesta berarti universal, seluruh dunia, semuanya. Ada Doa kami disana, semoga kelak perusahaan ini dapat berkembang besar, dapat memberi lapangan pekerjaan bagi saudara muslim yang kurang beruntung, dapat mengirim barang hingga keluar negeri (worldwide shipping) dengan brand sendiri, dapat mengantarkan banyak orang menikmati keindahan alam ke pelosok negeri hingga ke seluruh dunia. Dan suatu saat nanti Candela Semesta harus bisa menyusul kesuksesan bahkan lebih besar daripada Rosalia Indah. Semoga Allah senantiasa memberikan Ridho-Nya atas segala usaha yang kami upayakan dan impian yang tengah kami perjuangkan..aamiin

Canon yang hanya seumur Jagung

Saat liburan sekolah di Bali kemarin, hari terakhir di Legian dan sebelum moving to Lovina, musibah itu terjadi. Pagi hari, seperti biasa anak-anak main di pantai, dan seperti biasa si Mama ini kemana-mana selalu membawa kamera untuk mengabadikan momen yang indah, tiba-tiba ombak datang menerjang, kesalahan fatal, saya tidak siap dan akhirnya terjatuh bersamaan dengan kamera yang tergantung di leher. Oh…Noooo, basah kuyuplah si Canon kesayangan yang baru berusia menuju 6 bulan. Beberapa artikel pernah saya baca, untuk tidak langsung menghidupkan tapi dikeringkan terlebih dahulu, tapi tidak berhasil, Canon mati total. Micro SD segera saya keluarkan, untuk menyelamatkan yang tersisa, namun hingga detik hari ini entah dia berada dimana, padahal memory Reward ke Jepang terekam disitu semua (huaaaa…).

Setelah sampai dirumah, tidak ada terpikir untuk berusaha klaim ke Adira (karena setiap membeli di Hartono, sudah satu paket dengan perlindungan asuransi Adira), justru yang ada di otak harus segera service ke Canon. Berangkatlah kami ke Canon Surabaya, dan analisa pihak Surabaya, sepertinya rusak parah dan harus di kirim ke Jakarta, dan lagi-lagi saya menyanggupi untuk merelakan Canon di kirim ke Jakarta, setelah 2 minggu, kabar pun datang, biaya yang muncul tidak main-main hampir sama dengan membeli kamera baru.. huhuhu. Dari hasil pemeriksaan, yang terselamatkan hanya body kamera saja, dan akhirnya saya minta kirimkan kembali ke Surabaya. Kemudian Canon Surabaya menyarankan untuk mencoba klaim ke pihak Adira dengan membawa serta surat rincian biaya. Saat itulah saya baru sadar kenapa tidak langsung saja klaim ke Adira, kenapa musti muter-muter ke service Canon dulu.

Kemarin ke Hartono, untuk mencoba klaim ke Adira, si mas petugas mempersilahkan dunlut aplikasi “my hartono” di playstore, semua prosedur klaim harus melalui aplikasi tersebut. Walaupun garansi external untuk produk elektronik mirrorless ini 2 tahun namun untuk persetujuan klaim, terdapat pasal maximal 3 hari setelah kejadian, sempat down dan hopelessly, duh diganti gak ya??, nyeselnya gak ketulungan, kenapa setelah kejadian tidak langsung ke Hartono, tapi gimana caranya setelah dari Legian masih ke Lovina, yasudahlah, paling gak sudah berusaha dulu. Setelah si mas menjelaskan panjang lebar dan dibantu pengajuan laporan, Canon saya bawa pulang dan saya input semua keperluan klaim. Maximal Adira akan memberikan voucer 80% dari harga produk, dan proses berjalan hingga 35 hari, itu artinya jalan-jalan ke Aussie nanti tanpa Mirrorless (huaaaa..Nangis lagi). Sebenarnya masih ada SLR Nikon tapi beratnya gak ketulungan, hubby malas bantu bawa..hiks.

Mulai hobby motret setelah mendapatkan kesempatan jalan-jalan ke Luar Negeri, awal berangkat ke US dan Canada, uang saku kami gunakan membeli SLR Nikon, dengan pengetahuan yang terbatas tentang photography, hasil kurang maximal. Kemudian Reward kedua datang, kami berangkat ke Porto-Spain, sudah lumayan ilmunya, ditambah lagi membeli lensa Sapu Jagad, meski cuma merk Tamron, hasil lebih cetar membahana. Lanjut Reward ke Hongkong, kemudian Jepang, kami memutuskan membeli Mirrorless Canon, sebenarnya hasil jauh lebih bagus SLR namun lebih simple dan nyaman dengan Mirrorless, kamera inipun kami beli dengan uang saku Reward ke Jepang. Insyaallah bulan depan Reward dari Fitti yang kedua setelah Hongkong, yaitu Aussie (Alhamdulillah), namun hubby sudah warning keras untuk tidak membawa SLR, beli saja lagi mirrorless pesan beliau (duh..sayang uangnya). Ya Allah, semoga klaim Adira segera cair dan dapat mengganti voucer untuk membeli mirrorless yang baru sebelum berangkat jalan-jalan ke Aussie..aamiin

Sidik Jari kak Belva

Setelah menunggu hampir 3 minggu, hasil test Sidik Jari kak Belva selesai sudah. Alhamdulillah hasilnya sesuai dengan yang diharapkan. Sebenarnya sejak kemunculan tes sidik jari ini rasa penasaran besar sekali, tapi sayang karena terlalu mahal, lupakan sajalah. Setelah lama tidak update berita tentang tes sidik jari ini, mendadak awal tahun ajaran baru, salah satu wali murid yang kebetulan seorang guru mengajak anak-anak kelas aksel untuk mengikuti tes ini sebagai sarana penguatan atas fakultas yang telah mereka pilih, jika cocok Alhamdulillah namun jika tidak, hasil tes ini dapat memberikan banyak alternatif yang lain berdasarkan kecerdasan, bakat dan potensi si anak. Wahh..Langsung saya menjadi pendaftar yang pertama, alasan paling utama adalah karena KEPO, mengapa kak Belva sama sekali tidak tertarik bidang Ekonomi, padahal mama dan papa nya lulusan ekonomi dan menjadi pengusaha. Fakultas Ekonomi ini maksud saya sebagai alternatif selain pilihan utama fakultas Kedokteran.

Menurut informasi yang saya baca mengenai tes sidik jari ini, bahwa setiap sidik jari manusia mengandung kumpulan bakat dan potensi bahkan pilihan pekerjaan orangtua hingga buyutnya. Jadi semisal ada orangtua atau buyut yang berprofesi sebagai guru/dosen, tentara, pengusaha, dokter dll akan terlihat di sidik jari kita, entah dominan atau resesif. Ternyata hasil yang diperoleh kak Belva menunjukkan hasil terkuat justru dibidang eksakta dan bahasa, tapi memang selama ini, dua bidang itu yang terlihat menonjol di nilai mapel sekolah. Dan jika kemudian rekomendasi hanya ke fakultas tertentu seperti Ilmu Kesehatan (Kedokteran, Farmasi, Kesehatan Masyarakat) dan Tehnologi Informatika dan Komunikasi, serta fakultas Budaya yang di dalamnya ada Bahasa, Pariwisata, Arkeologi, juga fakultas Keguruan, ini hasil kombinasi dari alat-alat ukur yang lain semisal Multiple Intelegent, 4 Dimensi Kepribadian, Gaya Belajar, Cara Berfikir dll. O ya, untuk alternatif fakultas Keguruan sendiri, secara genetis, mertua saya keduanya adalah dosen Mipa, keluarga dari pihak mertua banyak dosen, selain itu ibu saya sendiri juga guru Fisika, keluarga ibu memang juga banyak jadi guru (entahlah, di cocok-cocokin kq ya cocok..hohoho)

Finger prints test sendiri menurut sebagian ahli Psikologi termasuk Ilmu semu atau pseudosains (Inggris: pseudoscience) adalah sebuah pengetahuan, metodologi, keyakinan, atau praktik yang diklaim sebagai ilmiah tetapi tidak mengikuti metode ilmiah (bahasa kasarnya semacam ramalan). Biasalah dalam hidup ada Pro dan Kontra, saya hanya berusaha mendapatkan yang terbaik buat anak-anak, termasuk membantu kak Belva mencarikan sarana penguat atas pilihannya dan Alhamdulillah anak-anak aksel yang ikut tes, semua hasil sesuai dengan pilihan fakultas yang mereka inginkan. Sekali lagi Tes Sidik Jari ini bukan Vonis, tapi membantu mengarahkan sesuai dengan bakat dan potensi genetis yang membuat si anak semakin mantab melangkah kedepan dengan pilihannya, karena kalo sudah ada bakat dan potensi, tentunya akan mempercepat hasil, dibandingkan yang tidak memiliki bakat maupun potensi.

Kak Belva telah mantab memilih fakultas Kedokteran mungkin secara genetis banyak dokter di keluarga si Papa, yang terdekat adalah budhe-nya (kakak kandung papa belva). Dan hasil yang paling melegakan adalah tentang kharakteristik pekerjaan yang mendapat nilai tertinggi adalah Self Employee dan Business Owner, mungkin disinilah gen mama-papa nya terlihat. Jadi intinya jika Allah ridho atas pilihan kak Belva menjadi seorang Dokter maka ujungnya dia akan lebih memilih profesi sebagai Dokterpreneur (kebetulan budhenya juga seorang dokter estetika yang memiliki klinik kecantikan). Semoga ya nak, Allah senantiasa meRidhoi apa yang menjadi pilihan, impian dan cita-citamu sebagai dokter spesialis anak, mama dan papa pun ikhlas dan ridho dengan semua doa, usaha dan perjuanganmu dalam mewujudkannya..In Syaa Allah, aamiin.

Menikmati Liburan di Bali

A. Lebaran time

Alhamdulillah anak-anak telah menerima raport kenaikan kelas, meski dengan hasil rangking yang berbeda-beda, secara keseluruhan masih sangat baik. Untuk kak Belva dari semester 1 kemarin hingga semester 2 masih bertahan di 5 besar, Alhamdulillah karena untuk menjadi jawara, tentu sangat berat karena berada di kelas aksel yang tentu persaingannya tidak mudah. Sedangkan kak Reva dan adek Mika, karena mengikuti kurikulum 13, tidak diadakan rangking di kelas, namun wali kelas menginformasikan bahwa mereka termasuk di jajaran menengah keatas, hmm..(Alhamdulillah). Seperti biasa kalo dikelas anak-anak yang SD ini terdapat tempelan hasil karya, termasuk tentang goal setting kak Reva yang memperlihatkan cita-citanya sebagai pengusaha, dan apa saja yang perlu dipersiapkan. Suatu ketika Reva bercerita, “Ma, kata ustadz jika cita-cita anak berbeda dengan orangtua lebih baik mengikuti apa yang diinginkan orangtua, kecuali orangtua ridho dengan cita-cita si anak”. “Alhamdulillah, berarti kak Reva ikhlas ya, untuk menjadi pengusaha, guna melanjutkan tongkat estafet perusahaan keluarga??,” jawab saya. Reva menjawab,”in syaa Allah Ma.” (Aamiin).

Lebaran tahun ini kami stay di rumah, selain karena scedul menjaga Oma nya anak-anak, yang bergantian dengan kakak setiap kali lebaran, kami juga harus membuka toko, yang hanya libur 3hari saja, sedangkan semua staff kami mendapat jatah libur satu minggu. Karena Oma yang juga Mama dari Hubby merupakan yang tertua, justru rumah kami malah rame, banyak menerima tamu, Alhamdulillah senangnya.

B. Vitamin Sea di Bali

Setelah semua staff masuk kerja kembali, giliran kami buat liburan. Kami memutuskan ke Bali sebagai tempat liburan, selain sudah lama sekali kami tidak kesana, juga karena liburan akhir tahun lalu kami sudah ke Jakarta dan Bandung. Senangnya anak-anak, tak sabar segera ke pantai, tempat paling favorite mereka.

Kami sekeluarga memang lebih nyaman menggunakan kendaraan pribadi daripada umum, seperti pesawat misalnya, karena basically hubby agak takut naik pesawat, kecuali terpaksa misal keluar negeri..hihihi. Alhamdulillah saat menyeberang ke Gilimanuk (Bali) dari Ketapang (Banyuwangi) kami mendapatkan kapal baru yang sangat nyaman dan bersih, mana selepas subuh, selain pemandangannya sangat indah, hawanya sejuk pula. Sampai di Gilimanuk kami langsung menuju Legian, masih sekitar jam 12an, ternyata Hotel full dan jelas belum siap, karena check in baru bisa dilakukan jam 2 siang, dan yang paling menjengkelkan adalah 2 kamar yang kami pesan hanya siap 1 kamar saja, sedangkan 1 lagi entah belum ada kabar, tercepat selepas maghrib karena yang menyewa tidak bisa dihubungi. Yasudahlah, sekitar jam 2an kami masuk dalam 1 kamar, selagi kamar yang 1 masih menunggu. Hotel di Legian ini sangat bagus, namanya juga hotel berbintang, tapi pelayanan agak kurang, mungkin sangking ramenya, mayoritas Bule pula, jadi banyak aurat diumbar (kasian anak-anak). Finally hari pertama di Bali diisi dengan mendekam di kamar hotel saja, sambil melepas lelah.

Pagi-pagi sekali, selepas subuh kami berangkat mandi ke pantai, sebelum para bule yang pamer aurat pada berjemur. Alhamdulillah masih sepi sekali, hanya beberapa orang latian Surfing. Setelah puas, anak-anak segera kembali ke hotel dan mandi, kemudian kami keluar hotel, karena sarapan di hotel sepertinya kurang save, karena lebih banyak menu western. Sebenarnya eman, tapi karena kami hidup di negara mayoritas muslim, wajib buat kami meninggalkan yang subhat, lebih baik keluar uang lagi buat sarapan daripada ibadah hangus 40hari..hiks.

Acara pagi ini setelah sarapan, kami mencari wahana liburan yang baru dan seru, bertemulah kami dengan Up and Down world, hiburan berfoto dengan tema jungkir balik. Tiket masuknya 100rb per orang kalo tidak salah. Banyak tema yang ditawarkan, misal ruang tamu, kamar tidur, kamar mandi, dapur dll. Enaknya disini petugasnya (mbak/mas) siap mengarahkan gaya dan membantu memotret, jadi kami sekeluarga bisa dalam satu frame, biasanya kan tidak bisa, karena gantian mengambil gambar. Setelah puas kamipun kembali ke hotel untuk beristirahat sejenak, dan menjelang Sunset kami berangkat ke pantai lagi.

Masyaallah, Bali benar-benar indah, pemandangan Sunset bikin betah tidak balik ke hotel. Para bule yang berjemurpun jarang terlihat, mungkin mereka sudah gosong, jadi anak-anak relativ aman menjaga pandangan. Hikmahnya mereka belajar menahan pandangan, bahkan Mika terlihat berkali-kali menunduk ketika berpapasan dengan bule yang auratnya kemana-mana, entah laki maupun perempuan, kasian sih..hiks. Sesekali Mika bertanya, kenapa orang bule tidak malu berpakaian seperti itu, akhirnya terjadi dialog, saat-saat seperti ini kami selaku orangtua dapat memasukkan nilai-nilai relijius kepada anak-anak. Selesai menikmati sunset kami kembali ke kamar untuk mandi dan sholat maghrib, kemudian keluar hotel untuk makan malam, cukup sederhana saja, PKL Sari Laut versi Lamongan, Lele penyet, Udang dan Cumi mentega, murah meriah dan Alhamdulillah kenyang.

Setiap hari kegiatan kami hanya pantai, hotel, pantai lagi, hotel lagi. Pagi ini hari ketiga kami masih di Legian, dan pagi ini kami juga masih mandi di pantai, dan pagi ini pula musibah terjadi, kamera mirrorless Canon yang baru seumur jagung terpaksa harus matisuri karena terhempas ombak, sedangkan acara puncak ada di Lovina. Kamera SLR Nikon sebagai cadangan sudah saya siapkan, namun sayang lensa tele terlupakan, padahal medan di laut tentu membutuhkan tele demi memotret jarak jauh, karena di Lovina, obyeknya tentu saja si Lumba-Lumba. Terpaksa kami harus membeli lagi, meski hanya sekelas Tamron tapi sayang juga karena kami sudah memilikinya di rumah, yach nanti Tamron yang lama semoga bisa laku di OLX. Setelah uruasan lensa SLR selesai kami segera menuju Lovina, sesuai perkiraan kami tiba di Lovina menjelang Sunset, kebetulan kami mendapatkan hotel dengan kolam renang menghadap pantai, Masyaallah sungguh indah ciptaan Allah. Lovina tidak serame Kuta, Legian maupun Seminyak, yang keramaiannya selama 24 jam. Lovina hanya menjual wisata Dolphine dan Snorkling, itupun dilaksanakan di pagi hari, selepas subuh tepatnya. Menjelang siang hingga malam, suasana sepi, dan kamipun stay di hotel, memesan makanan untuk makan malam cukup melalui resto hotel, kalo di Lovina relatif aman, karena mayoritas muslim, terlihat juga di daftar menu yang ditawarkan.

Subuh pagi ini, jam 6 tepat kami sudah siap menaiki perahu untuk pertama kalinya di sebenar-benarnya lautan (kecuali hubby untuk keduakali). Dengan sedikit kengerian, selain masih agak gelap, gelombang cukup lumayan mengaduk-aduk perut dan perasaan (#eaa) kami menuju ke tengah laut Lovina untuk menyaksikan secara langsung Lumba-lumba. Setibanya di tengah laut ternyata sudah banyak sekali kapal yang mayoritas juga bule, lagi dan lagi, tapi dengan pakaian yang lebih pantas. Awal tahun lalu toko kami “Dea Wijaya” juga mengadakan tour tahunan ke Lovina, jadi setelah anak-anak kami di Dea, sekarang giliran anak-anak kami sendiri. Membayangkan adek Mika akan ketakutan, kemudian mabuk dan rewel ternyata jauh dari perkiraan, justru adek Mika lah yang paling bersemangat. Disaat harus mengejar Lumba-lumba, adek Mika yang mengompori pak nelayan buat mengebut, jadilah kami berempat ini mabuk laut..huhuhu. Setelah puas berputar-putar mengejar lumba-lumba, saatnya kami kembali ke hotel, tapi karena si papa pengen snorkling, maka berhenti sejenak menunggu papa selesai snorkling. Sebenarnya beliau sedang mabuk laut tapi karena sudah bayar tiker snorkling, eman kalo tidak digunakan.

Alhamdulillah liburan kenaikan kelas di Bali ini sangat menyenangkan. Saatnya pulang ke rumah dan kembali ke sekolah. Buat kak Belva dan kak Reva semangat menjemput UNas ya, persiapkan diri dengan sebaik-baiknya, terutama untuk Kak Belva yang akan bersaing di jalur Undangan Universitas. Untuk kak Reva meski tetap di SMP Raudlatul Jannah tetap tidak boleh menyepelekan nilai UNas, tapi persembahkan yang terbaik dari dirimu, semaximal mungkin, sedangkan adek Mika, semoga di kelas 3 nanti semakin mandiri dan cekatan..aamiin

Antara Gate (B-08) dan Hook (B-21)

“Often, the more money you make the more money you spend; that’s why more money doesn’t make you rich – assets make you rich.”–Robert Kiyosaki


   Alhamdulillah segala puji bagi Allah atas rahmat dan kenikmatan yang telah diberikan kepada keluarga kami. Cabang yang sudah lama kami impikan akan segera menjadi kenyataan. Saat Ruko Pepiland mulai digeber, kami langsung tertarik untuk memiliki, selain lahan yang strategis juga harga yang realistis. Kami mendapatkan posisi Gate dengan harapan kami dapat melakukan dua branding hadap muka dan samping, saat itu kami sudah berfikir untuk langsung mengambil 2 ruko (B-08 dan B-09), mirip dengan Toko Utama kami yang bernomor 88, namun kami maju mundur karena takut Cashflow kami akan terganggu, kenyataannya memang pengembang mundur hingga 1 tahun menuntaskan kewajibannya. Mungkin Allah kurang merestui, dan ruko B-09 laku dalam dua minggu, disaat kami ingin diberi waktu 1 bulan. 

   Finally B-08 telah selesai dan kamipun telah serah terima, namun saat kami melakukan cek dan ricek Ruko, ternyata suhu ruangan begitu panas, Ruko memang menghadap ke Barat dan saat siang dan sore jelas kami merasakan sengatan Matahari dari 2 sisi karena posisi Gate (full kaca), dan kami merasa toko ini kecil sekali. Seketika itu kami tanya pengembang, kira-kira Ruko yang belom laku yang mana ya?, ternyata satu-satunya yang belom laku adalah posisi Hook (B-21). Hook ini tampilan depan seperti 2 ruko, namun kebelakang mengecil seperti 1 ruko, karena posisi tembok perbatasan dengan kompleks perumahan kami (wisma permai) posisinya miring dan dibelakang B-21 ini akan dibangun rumah juga yang merupakan perumahan Pepiland yang nantinya akan dibangun setelah semua Ruko finalisasi dan sold out. Dengan pertimbangan luas toko, dingin karena menerima panas hanya dari depan, tambahan luas parkiran karena bisa menghadap dinding pembatas perumahan, jika masih diberi keluasan rezeki, kami akan berencana membeli rumah yang bisa ditembuskan toko sebagai tambahan ruang, persiapan perluasan toko juga sebagai tabungan investasi. 

   Selagi menunggu B-21 siap untuk ditempati sebagai Baby Shop, sebagai sarana juga untuk menyiapkan kak Reva sebagai kader, maka B-08 akan kami sewakan sementara waktu. Jika Allah meRidhoi cita-cita kak Belva sebagai dokter, insyaallah seperti yang tertulis dalam peta impian yang dibuat kak Belva (saat SMP) menjadi Spesialis Anak, maka B-08 nantinya siap dipergunakan sebagai klinik. Sebagai dokter pun kak Belva harus bisa menjadi dokterpreneur, dan jika Allah meRidhoi dia bisa membuka usaha “Rumah Imunisasi”. Namun jika Allah berkehendak yang lainpun, B-08 siap digunakan untuk usaha yang lainnya. Yang terpenting bagi kami adalah menyiapkan investasi untuk bekal anak-anak kelak, selain pendidikan yang terbaik. 

   Selalu kami tekankan kepada anak-anak kami untuk dapat berperan sebagai sebaik-baiknya Khalifah yang berpegang teguh pada Qur’an dan Sunnah, mengemban tugas dari Allah Azza Wa Jalla untuk turut serta memakmurkan Bumi sebagai manusia yang bermanfaat bagi umat. Sebagai pengusaha merupakan salah satu upaya untuk membuka lapangan pekerjaan seluas mungkin, turut membantu perekonomian umat khususnya, juga bangsa dan negara. Semoga Allah Azza Wa Jalla senantiasa meRidhoi cita-cita kami sekeluarga..aamiin

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. (QS.[4]. An Nisaa‘: 9)  


Tetiba Mika Sesak Nafas

   

   Menjelang dini hari Jumat (24/02/2017) Mika mendadak terbangun dari tidur pulasnya dan berusaha mengeluarkan dahak batuknya dengan susah payah, diikuti nafas yang tersengal-sengal. Ya Allah, kenapa adek, jerit saya tertahan, pikiran mulai kemana-mana (apa adek kesambet?), mulai meluncur deras doa dari mulut saya, sebisa yang saya hafal. Suami dalam kondisi masih terjaga langsung mengajak kami berdua menuju Rumah Sakit. Sempat saya sarankan untuk menelpon kakaknya yang kebetulan dokter, tapi melihat kondisi Mika yang susah bernafas dan hanya bisa menangis, kami langsung tancap gas dengan meninggalkan 2 kakak perempuan Mika di rumah. Bergegas masuk UGD dan dokter jaga segera tanggap. Mika langsung diperiksa dan di Nebul, Alhamdulillah tidak lama kemudian nafas pun lancar. Dokter sempat bertanya apakah ada alergi?, saya alergi kulit dan suami sedikit ada rewel di pernafasan, seperti tiap pagi bersin namun tidak sampai sesak, tapi 2 saudara suami baik kakak perempuan maupun kakak laki memang memiliki asma. Diagnosa awal dokter, ada dahak batuknya yang menyumbat, namun dokter juga mencurigai ada asma yang disebabkan alergi, namun semua itu butuh pemeriksaan lebih lanjut. Setelah Nebul pertama habis, dokter memeriksa ulang dan ternyata masih terdengar bunyi ngik-ngik, dokter kembali memberi Nebul yang kedua. Setelah selesai Nebul kedua, dokter memberi resep, jika obat habis dan ada keluhan sesak diharapkan untuk kontrol kembali dan dilakukan pemeriksaan lanjutan untuk kecenderungan alerginya. Ada 4 macam obat yang diberikan, antibiotik, anti alergi, anti sesak dan obat batuk. 

   Pengalaman pertama buat saya dan suami, selama memiliki buah hati hingga 3 anak, tidak pernah mereka mempunyai penyakit yang serius, apalagi sampai opname, jangan sampai ya Allah, saya selalu berdoa, memohon kesehatan untuk seluruh keluarga. Mencoba untuk memberikan terapi alergi buat Mika dengan mengurangi kandungan alergen berdasarkan pengalaman saya yang pernah mengikuti terapi alergi kulit. Selain itu mengurangi berat badan sekaligus terapi dengan olahraga berenang yang harus dirutinkan. Semoga adek Mika kedepan senantiasa sehat..aamiin


اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ الْبَأْسَ وَاشْفِهُ وأَنْتَ الشَّافِي لاَ شِفَآءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا

ALLAHUMMA RABBANNAASI ADZHIBIL BA’SA WASY FIHU. WA ANTAS SYAAFI, LAA SYIFAA-A ILLA SYIFAAUKA, SYIFAA-AN LAA YUGHAADIRU SAQOMAA

Artinya: “Wahai Allah Tuhan manusia, hilangkanlah rasa sakit ini, sembuhkanlah, Engkaulah Yang Maha Penyembuh, tidak ada kesembuhan yang sejati kecuali kesembuhan yang datang dari-Mu. Yaitu kesembuhan yang tidak meninggalkan komplikasi rasa sakit dan penyakit lain”. (HR Bukhari dan Muslim)