2019 still Hard Work and more NetWork

“The New Year is not a time to think about what you have lost or what you could have achieved but it is a time to plan and realise what you can gain and what you can achieve!” – Mehmet Murat ildan

Menutup tahun 2018 dengan keberhasilan kak Reva mendapatkan tiket Porprov setelah lolos seleksi Degradasi pada tanggal 30/12/18 kemarin, kesempatan kedua yang diberikan Allah Azza Wa Jalla setelah kak Reva gagal meraih tiket Porprov melalui even Porkab. Liburan sekolah plus akhir tahun yang seharusnya menyenangkan hanya dapat kami nikmati seadanya, selain kak Belva masih kuliah, kak Reva juga musti latian kenceng untuk menghadapi Seleksi ini, dan Alhamdulillah, kak Reva berhasil masuk Tim Puslatkab, guna digembleng menuju Porprov Jatim 2019 di Bojonegoro, meski kak Reva masih belum aman karena terscedule Degradasi kedua di bulan Maret nanti. Even Porprov memang menetapkan Goal Setting yang lebih tinggi daripada Kejurda kemarin, kali ini hajatan dari Koni, jadi saringan benar-benar berat, karena faktor pendanaan tentu saja, bayangkan saja memberangkatkan Atlet sedemikian banyaknya, dari Panahan saja 24 orang, jika lengkap tiap divisi 4 orang, belum Cabang Olahraga yang lain, oleh sebab itu jika Goal Setting tidak tercapai, maka Atlet tidak jadi dikirim sebagai wakil Kabupaten.

Porprov Jatim terscedule bulan July 2019 yang diadakan di 4 kabupaten, dan untuk cabor Panahan bertempat di Bojonegoro. Tentu saja setelah masuk Puslatkab tambah Puslatclub, total kak Reva akan berlatih 4 hari, Puslatkab 3 hari (Selasa, Kamis, Minggu) dan Puslatclub 1 hari (harusnya Kamis, Sabtu, Minggu, hanya dikerjakan, Sabtu saja karena Puslatkab libur). Jadwal pulang lebih awal bertambah 1 hari, Alhamdulillah, Sekolah sangat support kegiatan kak Reva, bagaimanapun Prestasi kedepan akan terus membawa nama Sekolah.

Sejak awal 2018, kak Reva digeber latian dan turnamen yang tiada henti, Alhamdulillah dari sekian turnamen beberapa menjadi Juaranya. Prestasi ini juga diikuti adek Mika yang masih beberapa bulan latian menggunakan Compound, Alhamdulillah, prestasi pertama yang ditorehkan adek Mika di tahun 2018 ini sangat membanggakan, 1 medali Perak dan 1 medali Perunggu di ajang Bupati Ponorogo Cup di bulan September lalu. Adek Mika di 2019 ini juga harus mempersiapkan diri untuk mengikuti ajang PORSD yang akan dilaksanakan di Sumenep nanti, in syaa Allah. Selain itu tahun 2018, prestasi Akademis kak Reva juga sangat membanggakan, berkat ketekunanya belajar, dia berhasil meraih nilai USBN 10 besar terbaik hingga meraih Beasiswa 100% untuk masuk SMP di yayasan yang sama. Di tahun 2018 ini pula kak Belva dapat merampungkan SMA-nya di kelas Akselerasi yang hanya 2 tahun, setelah berjibaku dengan UN dilanjut dengan SNM dan SBM, walaupun takdir Allah Azza Wa Jalla membawanya kuliah di fakultas kedokteran swasta, yaitu Universitas Islam Indonesia, tetap Alhamdulillah, karena sesuai dengan karakter kak Belva dan visi – misi kami sebagai orangtuanya dan tetap qanaah atas takdir yang diberikan, karena Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-Nya.

Di tahun 2018 ini pula, unit bisnis kami juga bertambah, tepat di 18/02/18 Baby Dea Shop mulai beroperasi, tidak jauh berbeda dengan Dea Wijaya Toserba, tapi lebih fokus ke urusan Baby, dengan harapan Baby Dea ini sebagai lahan belajar anak-anak kami yang suatu saat nanti bisa menjadi penerus tongkat estafet perusahaan. Selain itu harapan kami untuk kak Belva bisa mengambil Spesialis Anak setelah lulus kedokteran umum nanti, agar menjadi satu kesatuan Bisnis dan menjadi Dokterpreneur, in syaa Allah. Di tahun 2018 ini, meski banyak sekali reward yang kami peroleh, namun saking padatnya jadwal urusan anak dan pekerjaan, hanya reward New Zealand yang dapat kami nikmati di bulan Maret, reward Eropa kami tukar mentahan untuk kuliah kak Belva, reward Jepang dijual dan reward Malaysia – Singapura untuk kami berikan ke orangtua, Alhamdulillah disyukuri saja. Alhamdulillah, awal tahun 2019 terscedule Dubai sebagai reward Amor Royalty dari FFI – Bendera, semoga Bapak dan Ibu sehat dan bisa mewakili Dea Wijaya Toserba, karena kemungkinan kami masih sibuk dengan urusan anak-anak dan pekerjaan.

Selain usaha Dea Wijaya dan Baby Dea, kami masih disibukkan fase babat alas untuk usaha Tour and Travel, Candela Holiday yang memaksa kami kerja lebih keras lagi, memperluas promosi dan koneksi. Alhamdulillah belum 2 tahun, sejauh ini sudah mulai terlihat hasilnya. Tahun 2019 mungkin akan lebih berat, mengingat sebagai tahun Politik, juga bencana yang tiada henti menerpa bangsa ini. Tidak ada Resolusi khusus yang ditetapkan, harapan kami di tahun 2019 hanya ingin terus bertumbuh, agar semua target dan impian dapat diraih, berusaha yang terbaik dengan Hardwork dan Network untuk kemajuan usaha, pendidikan anak-anak dan yang paling penting perbanyak doa untuk keselamatan keluarga, bangsa dan negara tercinta, semoga Allah Azza Wa Jalla senantiasa memberikan perlindungan, keselamatan, kesehatan dan keberkahan untuk kita semua..aamiin

Advertisements

Mencoba Tol Baru menuju Undangan Fosma UII

“Educating the mind without educating the heart is no education at all.” – Aristotle .

Hari ini Jumat pagi (30/11) kami berangkat menuju Jogja Istimewa karena terscedule menghadiri undangan Fosma UII ( Forum Silaturahim Orangtua Mahasiswa angkatan 2018/2019) pada hari Sabtu (1/12). Alhamdulillah kebetulan sekali Tol Panjang Surabaya – Solo yang belum selesai 2 rute, telah rampung 1 rute yaitu Tol Ngawi – Solo, dan telah diresmikan oleh Presiden pada tanggal 28/11, sekarang tersisa 1 rute Wilangan – Kertosono yang kemungkinan akan dikebut menyambut Natal dan Tahun Baru agar segera dapat beroperasi, kalaupun belum, terpaksa hanya fungsional saja guna mencegah kemacetan.

Kami berangkat tepat pk 09.00, sampai Kertosono sekitar 1 jam dan membayar tarif sebesar 82k, lanjut jalan biasa sampai Wilangan, masuk lagi terusan sampai Solo dalam waktu sekitar 2 jam dengan tarif 87k, sebenarnya bisa lebih cepat namun ada aturan kecepatan yang harus dipatuhi yaitu 80 – 100 km/jam, banyak patroli pula, apalagi jalan Tol yang baru ini masih terbilang sepi, mulai ada beberapa Truk atau mobil wisata, tapi jalan bagai siput terpaksa dihentikan Patroli, karena membahayakan pengguna Tol yang lain. Lanjut perjalanan Solo ke Jogja non tol ini yang perjuangan..hehehe. Kabarnya Sultan memang keberatan jika Jogja dilewati jalur Tol, namun masih memungkinkan melalui Sleman, nah Sleman ini dimana UII berada, Alhamdulillah semakin cepat saja sampai Jogja Istimewa, bakalan lebih sering visit anak mbarep kalo begini.

Hari sudah hampir Sore setelah maksi kuliner Sate Balibul kami lanjut menuju hotel, nanti malam rencana ngedate bareng kak Belva di Crabbys. Kak Belva bisa makan mewah kalo mama papa-nya lagi visit, selebihnya dia harus bisa atur keuangan selama sebulan, kalo tidak mau krisis ditengah jalan. Setelah berbersih badan dan sholat maghrib, kami meluncur ke kosan kak Belva dan dia-pun telah siap, lanjut ke Crabbys lah kita. Menu favorit kak Belva adalah Lobster saos Crabbys kalo mama papa milih paket kepiting kerang plus saos garlic. The Crabbys sudah buka cabang di Sidoarjo tapi sayang tidak ada menu saos Garlicnya, jadi kurang bersemangat..hiks. Selesai kencan bareng, tidak terlalu malam kak Belva kami kembalikan ke kosan, besok dia harus bantu acara Fosma sebagai panitia yang ditunjuk sebagai Notulen dan pengisi acara musik sebagai pengiring makan siang dengan bermain Piano, duet bareng teman menyanyikan lagu Bunda, terpaksa latian cuma sehari.

Sabtu pagi ini, kami hadir ke gedung Sardjito sebagai tempat acara FOSMA diadakan, tepat pk 07.00 sesuai undangan, ciri khas sekolah Islam undangan pagi subuh..hiks. Meski terasa lelah dan mengantuk tetap antusias, apalagi saya sangat penasaran dengan isinya UII dan fakultas kedokteran yang sama sekali baru dalam kehidupan saya, maklum kami berdua background ilmu ekonomi, apalagi FOSMA melibatkan kerjasama orangtua semacam komite tentu sedikit banyak ada ilmu parenting juga. Saat memasuki pintu gedung, sempat melihat kakak yang sebagai salah satu panitia, Alhamdulillah senang melihat dia begitu menikmati kuliah dan mau terlibat dalam kegiatan positif seperti ini. Acara dibuka dengan pembacaan Ayat Suci Al Quran surat Ibrahim, yang dibacakan oleh mahasiswa FK 2015, duh merdunya, mana ganteng pula, Mantuable banget..hahaha (Mama-ne rek..). Dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, lanjut prosesi pembacaan naskah penyerahan mahasiswa baru fakultas kedokteran UII th 2018/2019 kepada dekan fakultas kedokteran UII oleh salah satu wakil orangtua yang ditunjuk yaitu bapak Syafril, mungkin karena paling jauh yaitu Kalimatan Utara, juga kelihatannya paling senior usianya. Acara dilanjutkan sambutan dari Rektor kemudian Dekan Fakultas Kedokteran yang secara singkat menceritakan tentang apa dan bagaimana fakultas kedokteran UII itu, berturut-turut tampil di sesi 1 Ketua Umum FOSMA, yang menjelaskan secara umum tugas FOSMA dan bagaimana sinergi Fakultas dan Orangtua akan menentukan keberhasilan Mahasiswa ke depan.

Sesi 2 dilanjutkan Kaprodi yang menjelaskan tentang Sistem Pembelajaran di fakultas kedokteran yang mengkombinasikan keIslaman dan keBangsaan sesuai Cita-cita para Founding Fathers kita. Jadi lebih paham tentang Visi dan Misi UII, juga keunggulan/kompetensi Keislaman Ulil Albab, termasuk didalamnya kewajiban hafalan juz 30, juga ilmu-ilmu syari dari taklim yang wajib diikuti, dan sejauh mana Mahasiswa harus memperoleh Nilai agar tidak DO, juga tentang UKM dan tiket belajar ke Luar Negeri. Juga tentang Rumah Sakit UII yang Insyaallah akan beroperasi di akhir tahun ini, namun jika 4 tahun kedepan RS ini belum banyak varian kasusnya, maka angkatan 2018 ini terpaksa masih akan menggunakan RS rekanan untuk menempuh Koas-nya..hiks #sayangbanget

Masuk sesi 3 tentang sistem pembayaran di fakultas kedokteran oleh wakil dekan, mulai tentang bagaimana pembiayaan Univesitas Swasta dan perbedaannya dengan Negeri, termasuk di dalamnya menjelaskan kegunaan Dana tersebut dan kekurangannya, semacam Komite Sekolah, pasti akan masih meminta bantuan ke orangtua yang kemudian dikembalikan lagi untuk kepentingan Mahasiswa. Juga tentang kebijakan Fakultas tentang pembayaran kuliah yang memang Kedoteran ini terkenal sangat mahal, ada hal-hal yang bisa dikomunikasikan jika dalam perjalanan perkuliahan terjadi kesulitan keuangan, juga tentang sistem DO jika pembayaran tidak dilaksanakan sebagaimana mestinya. Kemudian sesi ke 4 presentasi sistem layanan informasi, ini membahas tentang bagaimana orangtua dapat memantau perkembangan nilai anak dalam pendidikannya, jadi tidak perlu tanya ke anak-anak tapi orangtua sudah memiliki pasword tersendiri, juga dapat memantau pembayaran yang telah dilakukan, dan terakhir sesi 5 pengenalan pejabat struktural Rektorat dan Dekanat Fakultas Kedokteran UII, termasuk didalamnya perkenalan DPA (Dosen Pembimbing Akademik) dan kebetulan sekali bernama dr Asri yang sama nama dengan Budhe Belva (kakak Ipar), yang mrupakan dokter S2 yang memegang mapel Biokimia, kata pembawa Acara dosen paling pintar (Alhamdulillah). Acara dilanjutkan dengan tanya jawab, kemudian Doa penutup.

Setelah doa penutup, kami diarahkan untuk ishoma dan ramah tamah, makan bersama bareng DPA masing-masing, untuk berkenalan dan mengobrol sebentar dengan beliau karena kak Belva sendiri jarang sekali kepegang dr Asri, karena tugas DPA hanya sebagai pendamping hingga selesai sarjana dokter dan tugas mengajar saja, kemungkinan baru berfungsi saat menyusun Skripsi, seperti kami dulu kuliah. Alhamdulillahnya kak Belva sangat menyukai ilmu Kimia dan mulai mengenal Biokimia, dia antusias untuk menjadi Asisten Laboratorium, namun tentu dengan syarat dan ketentuan berlaku, salah satunya nilai matkul Biokimia harus A, semoga keinginanmu tercapai ya kak..aamiin

Alhamdulillah, terimakasih ya Allah atas segala rahmat dan karunia-Mu, semakin mantap rasanya hati kami melihat kak Belva menempuh pendidikan di fakultas kedokteran UII ini, selain karena Visi dan Misi kami seiring sejalan, kak Belva pun sangat nyaman menuntut ilmu disini, terbukti masih stabilnya prestasi yang ditorehkan kak Belva. Bahkan beberapa hari lalu, dia masih memberi laporan nilai Blok 1 mendapatkan nilai A, dimana nilai A ini diperoleh 16 anak dari 138 Mahasiswa FK 2018. Alhamdulillah ya Allah, semoga kedepan kak Belva dapat terus berprestasi dan semoga kelak ilmu yang diperoleh bermanfaat untuk umat, serta membawa berkah dunia dan akherat..aamiin.

Reva on Kejurda Panahan Jatim 2018

“The Strongest people are not those who always win but those who don’t give up when they lose”

Hari ini Minggu (04/11), tepat seminggu yang lalu, Reva melanjutkan turnamen marathonnya yaitu Kejurda Panahan Jatim U-25 yang terjadwal 04/11 – 10/11. Padahal baru seminggu yang lalu dia menyelesaikan POPKAB U -16, belum hilang rasa lelah itu, namun tetap semangat karena semua adalah kewajiban yang harus ditunaikan. Reva lolos seleksi Kejurda sekitar dua minggu sebelum pelaksanaan POPKAB U-16. Jika sebelumnya saat agenda PORKAB, Reva gagal memperoleh medali sebagai tiket PORPROV, maka kali ini Reva lebih beruntung. Mengikuti Kejuaraan Daerah mewakili kabupaten adalah suatu kebanggaan tersendiri, selain menerima segala fasilitas dari Koni (Kejurda merupakan hajatan dari KONI), Reva juga akan mendapat banyak pengalaman dari peserta Kabupaten/ Kota lain Se-Jawa Timur. Kali ini Kabupaten Sidoarjo mengirimkan 24 Atlet yang terdiri dari 8 Atlet Recurve Pa dan Pi, 8 Atlet Compound Pa dan Pi, serta 8 Atlet Standart Bow Pa dan Pi, dengan peserta dari latar belakang pendidikan yang berbeda, mulai SD hingga Kuliah, syarat masih dibawah 25 tahun.

Minggu (04/11) sebagai hari pertama, seperti biasanya diisi dengan Cek Peralatan dan Practice Day. Setelah pemanasan langsung menuju lapangan untuk menjajal lapangan sebagai sarana menemukan Visir yang tepat, karena setelah pertandingan, Visir sudah fix tanpa ada perubahan, hanya Koreksi saja. Setelah menembak sekitar 6 seri + 2 seri, Reva dkk sudah menemukan Visirnya, dan memutuskan untuk langsung masuk Hotel. O iya, selama Kejurda ini, Atlet Sidoarjo dengan fasilitas dari Koni mengharuskan mereka menginap selama pertandingan berlangsung selama seminggu. Alhamdulillah semua gratis.

Hari ini Senin (05/11), Reva sudah dilapangan sebelum kami datang membawa peralatan panahannya, tidak tega juga membawakan Recurve yang lumayan berat dan ribet ini. Reva telah menginap semalam, meski merasa tidak kerasan, karena terbiasa tidur sendiri, terpaksa tidur berempat, walaupun kamar relatif longgar tidak seperti pengalaman POR SD di Lumajang. Hari Senin ini terjadwal Babak Kualifikasi Recurve dan Compound Putra dan Putri, kemudian akan diambil 16 Atlet untuk dapat lanjut di Babak Eliminasi.

Reva mendapatkan nomer peserta 17C, diapit oleh Atlet Bojonegoro dan Kabupaten Malang, yang memiliki jam terbang jauh lebih tinggi. Tidak ada target buat Reva selain targetnya sendiri, Reva harus mampu mengalahkan skor terakhir dari turnamen POPKAB kemarin. Babak Kualifikasi sesi pertama akan segera dimulai setelah tembakan percobaan sebanyak 2 kali. Sesi pertama seperti biasa, terdapat 6 seri dan tiap seri menembakan 6 anak panah. Reva banyak melakukan kesalahan saat sesi pertama, menyebabkan skornya sangat kecil, padahal saat tembakan percobaan dia melakukan dengan sangat baik, Subhanallah, hanya Allah Yang Maha Tau, Reva tidak dapat mengevaluasi mengapa tembakan dia separah itu, dengan skor total 188, menempatkan Reva di ranking 24 dari 27 peserta, seperti bukan Atlet kelas Kejurda..huaaaa

Istirahat sejenak sembari ishoma, mengumpulkan segenap tenaga untuk kembali bertanding di sesi kedua. Dengan posisi yang sama, peralatan telah di cek ulang oleh Coach, pertandinganpun segera dimulai. Saya tidak sanggup melihat Reva bertanding dengan konsentrasi penuh, karena tidak nyaman dengan ke”ndredekan” setiap kali anak panah ditembakan, saya lebih suka mengabadikan momen terbaik saja sebagai sarana berdamai dengan keadaan..hiks. Alhamdulillah total skor Reva meningkat tajam, yaitu 245 dan meroketlah rangkingnya hingga bertengger di nomer 13. Namun sayang beribu sayang, total rangking Reva harus puas berada di rangking 19 dari 27 peserta. Tetap Alhamdulillah, meski gagal lanjut ke Babak Eliminasi, Reva dapat melampaui skor terakhir POPKAB yaitu 233, itu menunjukkan suatu Progres yang baik. Namun yang perlu di evaluasi adalah Reva sangat lambat panasnya, sesi pertama dikorbankan, sedangkan sesi kedua bisa meningkat tajam. Target Reva di Kejurda ini bukan Medali semata, tapi lebih kepada menambah jam terbang dan mengasah jiwa kompetisi, dimana dia juga berusaha tidak gugup saat menghadapi lawan-lawannya yang jauh lebih senior. Alhamdulillah saat acara selesai sempat bertemu dengan Atlet Recurve Indonesia yang kemarin memperoleh Perak di turnamen Asian Games yang sedang latian di lapangan yang sama, yaitu mbak Diananda. Sempatkan berpotret sejenak sebagai penambah semangat. Babak Kualifikasi selesai tepat pk 15.30, para Atlet kembali ke hotel untuk istirahat karena Selasa besok terjadwal Aduan Beregu untuk divisi Recurve dan Compound Putra dan Putri.

Selasa pagi ini (06/11), Reva sudah di lapangan saat kami masih dalam perjalanan, dan Alhamdulillah kami tidak terlambat meski jalanan padat merambat. Rumah tinggal kami cukup jauh, itulah mengapa anak-anak wajib menginap meski posisi Sidoarjo adalah tetangga Surabaya. Terjadwal Aduan Beregu, Team Sidoarjo akan menghadapi Team Blitar, sebelum masuk babak Semifinal. Team Blitar terakhir bertemu saat turnamen di Ponorogo dimana Team Paser (Reva membawa nama Club bukan Kabupaten saat itu) terpaksa menyerah kalah saat perebutan Perunggu.

Secara ranking Team Blitar berada di posisi 5 dan Team Sidoarjo di posisi 4, dengan selisih skor yang tipis, diatas kertas Team Sidoarjo harus menang. Dengan beban harus menang itulah, Team Sidoarjo sempat tertinggal 4 – 0, kemudian mulai membalas hingga posisi poin 4 – 4, karena draw, maka ditambahkan tembakan sekali lagi, tiap Atlet menembakkan 1 anak panah saja. Dan Team Sidoarjo Menang!!! Alhamdulillah…

Setelah mengalahkan Team Blitar kami langsung berhadapan dengan Team Surabaya, kalo Team yang satu ini jangan ditanya, jika di Olympiade Surabaya ibarat Amerika dan Sidoarjo ibarat Indonesia..hiks. Dengan beban Psikologi yang sudah down duluan, Team Sidoarjo kalah telak 0 – 6 oleh Team Surabaya. Di sisi yang berbeda Team Kabupaten Malang juga menyerah kalah di tangan Team Bojonegoro, sehingga perebutan Perunggu Team Sidoarjo akan menghadapi Team Kabupaten Malang, masih cukup berat juga..hiks.

Perebutan Perunggu kali ini mengingatkan Reva saat mengikuti POR SD dimana Team Sidoarjo kalah oleh Team Kota Malang. Team Sidoarjo ini sepertinya langganan ranking 4, terbukti Team Sidoarjo hanya mampu membalas sekali dan dipaksa menyerah oleh Team Kabupaten Malang di perebutan Perunggu, lagi..hiks. Nasip yang sama berlaku juga untuk Team Recurve Putra, namun Team Compound Beregu Putra dan Putri lebih beruntung, keduanya mendapatkan Medali Perunggu untuk dibawa pulang ke pangkuan kota Sidoarjo. Alhamdulillah saja, memang belum rezeki buat Reva khususnya, dan Atlet Recurve secara keseluruhan. Masih banyak kesempatan yang lain, tetap giat berlatih dan menambah jam terbang, jangan lupa disertai doa. Kita balas kekalahan ini di turnamen PORPROV 2019 nanti, in syaa Allah..

POPKAB U-16 Sidoarjo 2018 [ 29 – 31 Oktober]

“Focus always on giving your best effort, playing at your highest level and reaching your limits and even playing better than you have ever been”

POPKAB adalah Pekan Olahraga Pelajar Kabupaten yang merupakan agenda tahunan Disporapar untuk mencari bibit-bibit Atlet dari kalangan pelajar dengan standart Umur dibawah 16 tahun. Seperti tahun-tahun lalu, tahun ini POPKAB diikuti oleh berbagai macam cabang olahraga, termasuk di dalamnya cabor Panahan. Agenda POPKAB 2018 digelar sejak 29/10 hingga 31/10, padahal seminggu sebelumnya tercatat agenda seleksi Kejurda Jatim U-25 dan Kejurda sendiri merupakan hajatan dari Perpani yang akan dilaksanakan tanggal 04 – 10 November, bisa bayangkan padat merayapnya jadwal para Atlet ini. Alhamdulillah, sempat gagal meraih tiket PORPROV melalui ajang PORKAB, Reva memiliki kesempatan mengikuti Kejurda setelah lolos seleksi dua minggu lalu, setelah nilai kualifikasi berada di rank 4, dan memang jatah Team adalah 4 Atlet tiap divisi, jadi total yang akan dikirim ke Kejurda adalah 24 Atlet. Untuk persiapan PORPROV 2019, sebenarnya tidak hanya akan berpatokan pada hasil PORKAB kemarin, tapi melalui evaluasi bulanan dengan menggunakan sistem degradasi, untuk mencari Atlet terbaik dan Reva masih memiliki kesempatan itu nanti, semoga yang terbaik saja buat Reva.

Hari ini (29/10) pk 07.00 kami berangkat menuju Lapangan Jenggolo, tempat yang disepakati sebagai tempat berlangsungnya Kejuaraan Panahan Pelajar POPKAB 2018. Hari pertama seperti biasa terscedule Practice Day, cek alat dan menjajal lapangan, namun sebagian Atlet divisi Standart Bow yang ditunjuk sebagai perwakilan untuk mengikuti upacara pembukaan POPKAB 2018 di GOR. Setelah Ishoma divisi Recurve dan Compound akan langsung bertanding untuk babak Kualifikasi.

Reva dan Mika berada pada jadwal yang sama karena sebagai Atlet Recurve dan Compound, tadinya keduanya menggunakan seragam olahraga Sekolah karena ajang ini mewakili Sekolah, namun karena Reva dan Mika merasa kurang nyaman dengan seragamnya terpaksa ganti dengan seragam Club, tapi training tetap menggunakan seragam olahraga sekolah. Atlet Pelajar yang boleh mengikuti POPKAB U-16 ini adalah Atlet yang usianya dibawah 16 tahun, jadi terasa tidak adil ketika Mika harus menghadapi Atlet yang sudah SMP maupun SMA, tapi memang itulah kenyataan yang harus dilalui, semua Atlet akan berada posisi tersebut jika berkarir sejak kecil, tidak ada lagi pemisahan antara kelas pemula dan umum untuk Turnamen yang diselenggarakan oleh Negara, beda dengan Turnamen Open oleh Swasta.

Pada babak Kualifikasi terdapat 2 sesi, tiap sesi menembakan 6 anak panah pada 6 rambahan, jadi total 36 anak panah. Hasil babak Kualifikasi sesi pertama ini, nilai Reva jeblok hanya 156 tapi masih berada di rank 4 dari total 5 Atlet Recurve Putri, sedangkan Mika ada di posisi rank 6 dari 8 Atlet Compound Putra. Ada kejadian lucu, saat Mika harus mengulang 1 rambahan karena lupa tidak di Skor, maklum Atlet Compound terkecil yang dimiliki Sidoarjo, masih bayi harap dipahami..hihihi

Setelah istirahat sekitar 15 menit, babak Kualifikasi dilanjutkan untuk sesi kedua, sama seperti tadi 6 anak panah kali 6 rambahan, sesi kedua hasil Reva naik tajam hingga berada pada rank 2, dengan skor 233, skor tertinggi selama latian, dia berhasil melampaui target yang ditetapkan Coach sebesar 225, Alhamdulillah. Namun sayang nilai skor sesi kedua tak sanggup mengatrol skor total untuk bertengger di 3 besar, ikhlas dan qanaah adalah keharusan buat Reva. Reva bukan kalah hanya belum saatnya Menang. Jika pada Turnamen-turnamen sebelumnya, setiap sesi akan mendapat Medali, kali ini tidak berlaku, yang seharusnya Sesi kedua Reva berpotensi mendapat Perak terpaksa ikhlas tanpa Medali, sabar ya Kak.

Hari kedua (30/10), terscedule babak Kualifikasi divisi Standart Bow dilaksanakan pagi hari, setelah Ishoma lanjut babak Eliminasi untuk divisi Recurve dan Compound. Perjuangan Reva hari ini sangat melelahkan, posisi rank 4 di babak Kualifikasi kemarin mengharuskan dia untuk mengalahkan Atlet rank 5 terlebih dahulu untuk dapat melaju ke semifinal di babak Eliminasi ini. Sempat tertinggal 0 – 4 dari Putri, Reva membalas dan mengakhiri pertandingan dengan Skor 6 – 4, Alhamdulillah.

Sedangkan Mika di posisi rank 6 harus menghadapi atlet rank 3 yang sudah SMP kelas 3 dan menjadi langganan juara, jadi jelaslah adek Mika mengalah bukan kalah..hahaha. Target Mika memang bukan untuk menang di turnamen kali ini, peta persaingan sudah bisa dibaca dan sangat mudah diketahui siapa yang akan jadi juaranya. Kali ini Mika hanya menambah jam terbang dan mengasah jiwa kompetisi saja.

Setelah mengalahkan Putri di 1/4 final, Reva melaju ke Semifinal dan langsung menghadapi Atlet rank 1, duh..rasanya sudah pesimis saja, selain lebih Senior di divisi Recurve, Salsa juga lebih senior secara umur dan postur, jam terbang jelas lebih tinggi, diatas kertas semua orang akan menjagokan Salsa, namun Reva tidak patah arang, dia berjuang untuk mempersembahkan yang terbaik, Alhamdulillah Reva menang telak 6 – 0, entah apa yang terjadi dengan Salsa, begitu mudahnya kah Reva bisa membuatnya bertekuk lutut tanpa pembalasan?? (hmm..).

Reva terus melaju tak terbendung ke Final untuk perebutan Medali Emas yang mempertemukannya dengan Atlet rank 2 bernama Andini, setelah mengalahkan rank 3 Fawwas di Semifinal. Andini merupakan Atlet divisi Recurve Putri Sidoarjo yang paling Senior dan sudah SMA kelas 2, lebih senior dari Salsa yang masih SMP kelas 3. Secara apapun Andini jelas lebih unggul, namun karunia Allah dan tekad kuat Reva membuatnya sangat Percaya Diri mampu menghadapi. Allahu Akbar, Reva menang telak tanpa pembalasan dari mbak Andini, Skor 6 – 0 menutup Final perebutan Medali Emas di babak Eliminasi ini. Alhamdulillah ya Allah, atas kehendak-Mu lah semua keajaiban ini terjadi, hampir setiap hari latian di geber, Reva dengan semangat tanpa mengeluh sedikitpun menjalaninya telah sanggup mengantarkannya meraih Juara pertamanya di divisi Recurve berupa Medali Emas, Masyaallah Tabarakallah, terimakasih ya Allah.

Hari ketiga (31/10), babak Eliminasi untuk divisi Standart Bow akan digelar pagi ini, setelah ishoma rencananya UPP akan dilaksanakan. Kami datang pk 10.00, Reva perlu recovery dengan bangun lebih siang. Saat kami datang masih berlangsung babak 1/4 final divisi Standart Bow, masih bisa bersantai sejenak. Sambil memperhatikan Atlet dan Wali Atletnya, ada tipe yang support total si anak yang sedang berlangsung, ada yang santai melihat di kejauhan, ada juga yang seperti saya hobby nya mengabadikan setiap moment yang berlangsung, kalo yang ini sepertinya cuma saya saja..hahaha.

Selesai sudah babak Eliminasi divisi Standart Bow, sudah didapatkan para jawaranya. Panitia mengumumkan satu per satu juara tiap divisi putra dan putri beserta sekolah asal para Atlet, karena posisi Atlet memang mewakili Sekolah masing-masing. Bangganya Mama-Papa dan Keluarga, Bangganya SMPI Raudhatul Jannah, salah satu Siswinya berhasil meraih Medali Emas di olahraga Sunah ini. Dan Alhamdulillah, banyak ilmu dan hikmah yang bisa diambil sebagai ibrah dalam turnamen POPKAB U-16 yang baru saja berlalu, bagaimana menyikapi arti menang dan kalah, tetap sabar dan bangkit untuk berjuang kembali, serta bagaimana mempertahankan dan meningkatkan prestasi kedepan, karena posisi Atlet begitu mudah tergantikan. Sekali lagi Selamat ya Kak Reva, tetap semangat berlatih dan tambah jam terbang, besok akan dimulai Kejurda Panahan Jatim U-25 (4/11 – 10/11), persiapan masuk Asrama Haji untuk proses Karantina, semoga senantiasa sehat ya kak..aamiin

Piala Bupati Kabupaten Ponorogo 2018 (27 – 30 September)

“The best part of competition is that through it we discover what we are capable of and how much more we can actually do than we ever believed possible”

Kamis pagi ini (27/09) seminggu yang lalu, kontingen Paser Archery Club kota Sidoarjo bergerak menuju kota Reog Ponorogo. Team yang berjumlah sekitar 28 Atlet Panahan dikawal 3 Coach ini mengikuti turnamen Bupati Ponorogo Cup 2018 sebagai ritual tiga bulanan guna menambah jam terbang atlet. Dengan diantar Bus Candela Holiday tepat pk 06.00, kami berangkat. Satu Bus dikawal oleh 3 mobil, dua mobil wali atlet termasuk kami, dan satu mobil coach. Dua wali atlet ini sengaja fulltime mengawal selama pertandingan, jika kami orangtua Reva Mika ada di divisi Recurve dan Compound terjadwal di hari Jumat, sebaliknya wali atlet Zuhair dan Fadhil ada di divisi Standart Bow yang bertanding di hari Sabtu dan Minggu, untuk sebagian wali atlet yang lain akan berdatangan menyusul saat anak-anak mereka terscedule bertanding, tidak banyak yang hadir mendampingi, selain mungkin sibuk kerja ada juga anggota keluarga lain yang lebih membutuhkan orangtuanya. Alhamdulillah kami sendiri, sebagai pengusaha sangat flexible dengan waktu, apalagi sang kakak yang sudah kuliah di Jogja, jadi kami tidak memiliki tanggungan yang terlalu berat, untuk bisnis yang sudah berjalan dapat kami pantau dari jauh. Dan scedule Turnamen kali ini ada rencana akan visit kak Belva juga karena sudah sangat kangen dengan adek-adeknya, kami diuntungkan dengan jadwal divisi Reva Mika yang bertanding lebih awal dihari Jumat, sehingga Sabtu dan Minggu dapat langsung meluncur ke Jogja.

Sekitar pk 11.00 kami telah memasuki kota Ponorogo, setelah menemukan lapangan Menur sebagai tempat pertandingan Panahan kali ini, para Atlet segera bergegas mengikuti prosedur awal yaitu Cek Alat dan Coba Lapangan yang terscedule di hari Kamis. Cuaca benar-benar terik panasnya, ditambah angin yang asoy geboy hingga tenda serasa mau ambruk saja. Setelah Cek Alat selesai dan pemanasan dipimpin oleh Coach, ternyata kami harus break Ishoma terlebih dahulu, dan pk 13.00 baru mulai lagi latian menembak. Dengan kondisi Angin yang superb seperti ini, anak-anak kami sarankan hanya menembak 3 anak panah saja, karena ditakutkan target panahan akan jatuh dan mematahkan anak panah, sedangkan cadangan anak panah juga menipis, benar-benar harus dihitung untuk persiapan pertandingan, dan bisa diprediksi, jika Angin seperti ini tembakan pasti semburat. Uji Coba Lapangan telah selesai dan diakhiri pk 15.00, para atlet segera masuk hotel dan beristirahat. Besok Jumat pertandingan divisi Recurve dan Compound telah terjadwal, untuk divisi Standart Bow masih bisa istirahat karena bertanding di hari berikutnya.

Jumat (28/09), kami mengantarkan Reva dan Mika ke lapangan pk 07.00, pertandingan akan dimulai tepat pk 08.00. Mengapa anak-anak kami tidak kumpul dengan atlet paser yang lain?, karena kendaraan sangat terbatas, bus yang kemarin mengantar sudah balik ke Sidoarjo, dan kendaraan yang dipake suttle sekarang hanya Elf. Sebenarnya kurang bagus juga anak-anak anjem orangtua, karena terasa kurang akrab dan membaur, namun demi penghematan biaya untuk semua atlet, ya gitu deh. Karena setiap Turnamen Open seperti ini seluruh biaya keberangkatan adalah dana Mandiri dari Atlet sendiri, berbeda dengan event Negara yang dibiayain penuh oleh Pemerintah.

Pembagian nomer pertandingan, kak Reva mendapat nomer 29B divisi Recurve Putri kelompok Umum dan adek Mika mendapat nomer 4B divisi Compound Putra kelompok SD. Posisi adek paling Kiri lapangan sedangkan kak Reva di sebelah paling Kanan lapangan. Pembagian pendampingan juga kami atur, Papa dampingi si adek dan Mama mengawasi si kakak. Yang musti atur strategi adalah jatah pemotretan, kalo pertandingan barengan gini, susah photografernya..hahaha

Diawali dengan babak kualifikasi, dimana semua atlet baik divisi Recurve maupun divisi Compound menembak bersama untuk tembakan percobaan 2x tanpa skoring. Kemudian dilanjutkan penembakan resmi 2 sesi tiap sesi terdiri dari 6 rambahan, dimana tiap rambahan ada 6 anak panah dan tiap rambahan dihitung skornya. Hasil akumulasi skor dijumlahkan untuk sesi 1 dan sesi 2 kemudian ditotal. Medali tiap Sesi pada Babak Kualifikasi telah disiapkan, sayang posisi adek Mika di sesi 1 berada di nomer 6, dan sesi 2 berada di nomer 5, total ranking berada di nomer 6. Sebaliknya hasil kak Reva lebih tragis, di sesi 1 hanya di posisi 17 dan di sesi 2 tetap pada posisi 17, sehingga hasil total babak kualifikasi tetap pada posisi 17..hiks. Beratnya persaingan divisi Recurve ini selain pada kelompok Umum dimana semua Atlet dari kelas SMP sampai anak Kuliahan, sedangkan kak Reva baru kelas 7 dan beberapa bulan saja beralih ke Recurve yang sebelumnya Standart Bow, masih sangat Amatiran. Dengan hasil seperti ini jelas kak Reva tidak bisa masuk babak Eliminasi atau Aduan, dimana diambil hanya ranking 1 – 16 untuk melaju ke babak 1/8 final. Sedih namun tetap legowo, kak Reva tipikal anak yang gampang ikhlas, qonaah atas hasil yang diperoleh, dia memyadari kekurangannya, jadi gampang berdamai dengan keadaan. Sebaliknya adek Mika melaju ke babak 1/4 final, lawan yang akan dia hadapi pertama kali adalah atlet kota Kediri.

Sementara si kakak hanya bisa support rekan satu team yang masuk babak aduan, saya pindah mendampingi adek Mika yang melakukan pertandingan di babak aduan. Setelah istirahat Ishoma, pertandingan dilanjutkan, babak eliminasi menggunakan sistem poin, dengan menembakkan 3 anak panah, jika menang mendapat poin 2, jika kalah mendapat nol. Pada rambahan pertama sempat kota Kediri menang dari adek Mika (2 – 0). Rambahan kedua adek menyamakan posisi 2 – 2, rambahan ketiga adek Mika menang 2 – 4 dan tambahan rambahan keempat atlet kota Kediri berhasil dikalahkan dengan poin 2 – 6. Alhamdulillah ^^

Masuk babak Aduan semifinal, adek Mika bertemu rekan satu Team yaitu Rio yang telah berhasil mengalahkan atlet Ponorogo. Di atas kertas kemampuan Rio jelas lebih daripada adek Mika, namun tidak terlihat down sedikitpun diraut wajah adek Mika. Dengan PD nya adek Mika sempat mencuri poin di rambahan kedua dengan menyamakan posisi 2 – 2, Rio sempat terlihat ngambek karena tidak menyangka adek Mika bisa menyusul. Namun kami dan adek Mika siap untuk kalah, setelah Rio bisa membalik posisi 4 – 2, lanjut 6 – 2 atas Mika. Dengan kekalahan Mika di semifinal ini, maka selanjutnya adek akan menghadapi Abel dari kabupaten Kediri untuk perebutan juara ketiga (Medali Perunggu), tetap Alhamdulillah ^^

Istirahat sejenak, kemudian lanjut perebutan Medali Perunggu, bertemu atlet kabupaten Kediri dengan postur dan wajah yang mirip adek Mika, gembul nan tampan (hahaha..mamanya narsis). Dengan semangat 45, cukup dengan 3 rambahan, poin 6 – 0, Abel ditaklukan tanpa sempat membalas. Antara senang dan sedih tergambar diraut wajah adek Mika melihat Abel menangis sesenggukan, merasa kasian tapi dalam pertandingan memang harus siap menang ataupun kalah, Alhamdulillah adek Mika berhasil menyabet Medali Perunggu di babak Eliminasi ini, Great Job Adek, We are very Proud of you ^^

Tak terasa hari sudah sore, sudah hampir pk 17.00, terpaksa Divisi Recurve dan Compound Beregu mundur besok pagi, padahal Sabtu dan Minggu telah terscedule divisi Standart Bow, lagipula rencana awal kami ingin bablas ke Jogja untuk visit kak Belva. Alhamdulillah sajalah, semoga setelah Aduan Beregu kami bisa langsung ke Jogja. UPP dilaksanakan tepat pk 17.00, adek Mika maju ke depan menerima Medali Perunggu untuk Divisi Compound Putra kelompok SD kategori Perorangan.

Pagi ini Sabtu (29/09), revisi jadwal yang ada, divisi Recurve dan Compound Beregu akan dipertandingkan. Dengan setting lapangan yang sudah diubah mengikuti keperluan divisi Standart Bow menyebabkan pertandingan Recurve dan Compound tidak bisa bersamaan. Di satu sisi sangat gembira karena bisa support kakak dan adek secara bergantian, di sisi lain kami akan sangat terlambat berangkat ke Jogja.

Sebelum pertandingan dimulai, para atlet diberi kesempatan uji coba tembakan beregu, karena ada perbedaan sedikit dengan perorangan. Telah siap siaga Team Paser Archery dengan 3 Srikandinya yaitu Cherry, Fawwas dan Reva. Mereka bertiga akan menghadapi Team kabupaten Tuban di 1/8 final. Tiket kemenangan ini akan membawa mereka untuk lanjut di Semifinal.

Dengan melihat hasil Kualifikasi, Team Tuban bukan lawan yang berat, skor nilai hampir seimbang, kemungkinan Team Paser menang peluangnya masih sangat besar. Pertandingan Beregu segera dimulai, dengan sistem nilai dan poin, 3 atlet ini akan menembakan 2 anak panah dengan cara bergantian, sekali Cherry, Fawwas dan terakhir Reva, kemudian diulang mulai Cherry lagi, Fawwas dan Reva kemudian skoring, jika menang poin 2, kalah nol. Alhamdulillah awal yang baik, rambahan pertama poin 2 – 0 untuk Team Paser, lanjut rambahan kedua keadaan Seri, karena Team Tuban berhasil membalas 2 – 2, rambahan ketiga 4 – 2 untuk Team Paser dan rambahan terakhir 6 – 2 Team Paser berhasil memenangkan pertandingan dan lanjut ke babak Semifinal, Alhamdulillah ^^

Sementara, divisi Recurve Putri Umum, Recurve Putri SD dan Compound Putra Umum istirahat ganti divisi Compound Putra SD dan Compound Putri Umum memulai pertandingan. Sementara kak Reva istirahat sayapun berpindah tempat untuk mensupport adek yang mulai bertanding. Team Compound Putra kelompok SD ini sebenarnya dipaksakan, hanya Team Ponorogo yang resmi terdaftar untuk pertandingan Beregu. Jika hanya ada satu Team maka tidak bisa dipertandingkan, akhirnya para Coach atlet Compound dari berbagai Kota sepakat membuat Team Gabungan untuk melengkapi Team yang ada. Dari hasil undian antar Coach didampingi Panitia maka diperoleh Dua Team yaitu Team Paser terdiri dari 2 orang atlet Paser dan satu atlet kota Malang, kemudian Team Tuban terdiri dari satu atlet Tuban, satu atlet kota Kediri dan satu atlet kabupaten Kediri. Hanya ada 3 Team, jadi sudah bisa dipastikan semua Team akan memperoleh Medali Emas, Perak dan Perunggu. Pertimbangan Panitia dan para Pelatih ini adalah atlet yang masih anak-anak ini memerlukan motivasi tinggi, salah satunya adalah perolehan Medali, sepertinya memudahkan padahal sebenarnya tidak, mereka juga harus berjuang mendapatkan yang terbaik dalam pertandingan yang akan mereka hadapi nanti. Dengan Motivasi seperti ini kelak atlet pemula yang masih anak-anak ini semakin istiqomah dan semangat meniti karir di Panahan, sebagai sarana Regenerasi Atlet di masa depan.

Seperti pada divisi Recurve, untuk Compound juga diberi kesempatan untuk uji coba tembakan beregu, kebetulan adek Mika baru sekali ini ikut Beregu bahkan divisi Compound adalah turnamen pertamanya. Yang paling penting untuk dicermati Beregu adalah waktu, jangan sampai penebak ketiga tidak kebagian waktu, karena yang pertama dan kedua kurang cekatan. Alhamdulillah latian sebentar adek sudah memahami prosedur permainan, karena sejak awal atlet Paser divisi Compound Putra SD tidak mengirimkan Team, jadi selama ini belum pernah latian Beregu.

Pertandingan Beregu divisi Compound Putra SD pada semifinal ini berdasarkan nilai total kualifikasi perorangan menempatkan Team Tuban lawan Bye dan Team Paser lawan Team Ponorogo. Jika dilihat dari Juara Perorangan dimana Medali Perak dan Perunggu ada di Team Paser, optimis Team Paser dapat mengalahkan Team Ponorogo dengan mudah. Alhamdulillah Team Paser unggul 6 – 0 atas Team Ponorogo dan pertandingan selesai dengan cepat.

Selanjutnya kembali ke divisi Recurve Putri, Team Paser akan bertemu dengan Team Ponorogo di Semifinal, sebagai Team dengan nilai Team nomer 2 di babak kualifikasi tentu bukan lawan ringan, di atas kertas mereka akan menang dengan mudah, namun Team Paser harus tetap optimis bisa mengalahkan dengan mengerahkan kemampuan terbaiknya. Pertandingan segera dimulai, dan bisa ditebak Team Ponorogo amat sangat mudah mengalahkan Team Paser tanpa sempat ada perlawanan..hiks. Mari kita lanjutkan Perjuangan untuk perebutan Medali Perunggu melawan Team Blitar.

Hari mulai siang, cuaca panas mulai terasa membakar, namun Team Beregu terus melakukan pertandingan. Pada perebutan Medali Perunggu kali ini Team Paser menghadapi Team Blitar, kekuatan mereka tidak berbeda jauh, namun di atas kertas mereka lebih unggul. Bismillah sajalah, dan memang beberapa kali nilai Team Paser dan Team Blitar kembar, sehingga muncul poin 3, setelah Team Paser sempat menyamakan kedudukan di 2 – 2, lanjut 3 – 3, kemudian tembakan keempat 5 – 3 Team Paser harus mengakui keunggulan Team Blitar, dan Team Paser terhenti di urutan ke 4. Setelah mempersembahkan yang terbaik, tawakal akan hasil akhir adalah kewajiban.

Kak Reva telah menyelesaikan kewajibannya dengan baik, meski hasil kurang memuaskan, tidak ada raut penyesalan sama sekali di wajahnya, kak Reva tertolong oleh sifat qanaahnya dan adek Mika berhasil meraih Juara ketiga di perorangan, kak Reva sangat bangga dan bahagia. Final kali ini kak Reva bisa menyaksikan langsung pertandingan adek Mika yaitu perebutan Emas antara Team Paser melawan Team Tuban. Sayang sekali salah satu atlet Beregu Team Paser, yaitu Hilmy yang berasal dari kota Malang tidak dalam kondisi fit, sejak pagi dia mual hingga muntah, akibatnya tembakan banyak yang mis, Rio dan adek Mika masih stabil bermain cantik. Namun akhirnya skor Team Paser tertinggal cukup jauh, dan menyerah dengan poin 6 – 0 untuk Team Tuban. Alhamdulillah saja, masih berhasil meraih Perak. Di dalam Team atau Beregu jika salah satu bermain buruk kita tidak bisa saling menyalahkan, tapi saling melengkapi, apapun hasilnya wajib ditanggung bersama.

Hari sudah mendekati Dhuhur, divisi Recurve dan Compound Beregu telah usai digelar, setelah Ishoma akan dilanjutkan oleh divisi Standart Bow hingga sore. Kami ingin segera meluncur ke Jogja karena kak Belva telah menunggu, namun adek Mika masih ingin menunggu UPP untuk naik ke panggung dan melaksanakan pengalungan Medali, menurut informasi awal UPP digelar sore pk 17.00, namun setelah kami tunggu hingga sore ternyata dimundurkan Minggu sore sekalian divisi Standart Bow selesai semuanya, mungkin maksudnya agar divisi yang lain ikut menunggu hingga semua pertandingan selesai digelar. Menjelang Maghrib baru kami meluncur menuju Jogja, akhirnya adek Mika legowo jika harus diwakilkan teman atlet Paser yang lain saat penerimaan Medali. Dan mas Vian salah satu atlet Team Paser pemenang Emas Beregu Compound Putra kelompok Umum yang bersedia mewakili Mika saat UPP Minggu Sore.

Tiba di Jogja hampir tengah malam, Sabtu ini jelas batal bertemu kak Belva padahal Minggu pagi ada Student day di kampus hingga siang. Yach, sudahlah, kak Reva dan adek Mika biar sempat istirahat Minggu agak siangan ke kosan kak Belva. Rencana dadakannya adalah Minggu malam kak Belva kami bawa ke Hotel tempat kami menginap, Senin pagi kami antar ke kosan lanjut ke Kampus, sedangkan adek-adeknya kami pastikan membolos dan sekaligus kami balik ke Sidoarjo. Minggu (30/09) adalah hari ulang tahun saya, kami berencana merayakan makan bersama, tidak ada yang spesial seperti tahun-tahun sebelumnya. Namun kali ini hadiah spesial hadir di ulang tahun saya yang ke 43 yaitu Medali Perak dan Perunggu sekaligus juga sebagai hadiah ulang tahun Perkawinan kami ke 18 yang kami peringati setiap tanggal 01/10. Terimakasih ya Allah atas segala rahmat dan karunia-Mu, Semoga keRidhoanMu senantiasa tercurah untuk keluarga kami.. Aamiin

Rotorua – Auckland (Loyalty Trip Nutricia 2018)

“And if travel is like love, it is, in the end, mostly because it’s a heightened state of awareness, in which we are mindful, receptive, undimmed by familiarity and ready to be transformed. That is why the best trips, like the best love affairs, never really end.” – Pico Iyer

Hari kedua sekaligus hari terakhir kami di Rotorua, karena sore nanti terjadwal akan kembali ke Auckland lagi. Destinasi hari ini kami akan mengunjungi Te Puia yang terletak lima menit dari pusat Rotorua, lanjut ke hutan Rainbow Springs dan puncak acara hari ini adalah tempat syuting film Hobbit yang termasyur di wilayah Matamata kemudian sore nanti langsung bablas menuju Auckland. Rotorua sendiri merupakan kota yang terletak di danau Senama di Pulau Utara Selandia Baru, terkenal dengan aktivitas geotermalnya serta budaya Maori-nya. Di Lembah Whakarewarewa Te Puia, ada kolam lumpur yang menggelegak dan Geyser Pohutu setinggi 30 meter, yang meletus berkali-kali setiap hari-nya. Di situ juga merupakan rumah bagi desa suku Maori yang masih hidup dan Institut Seni serta terdapat pusat Kerajinan Selandia Baru Maori dengan sekolah ukiran dan tenun kayu tradisional. Nah destinasi pertama kami, ada disini..

A. Geyser Te Puia

Te Puia merupakan Ikon New Zealand yang menampilkan Pohutu Geyser yang terkenal di dunia, di area ini pula kita dapat menikmati pertunjukan budaya Māori, Kiwi hidup, kolam lumpur mendidih, dan semak asli. Kami tiba pagi sekali, sepertinya rombongan kami satu-satunya yang datang untuk melihat Semburan Cantik Kawah Te Puia. Menurut mr.Bobby (TL kami) semburan paling cantik ada di waktu tertentu, seperti pagi ini dan Alhamdulillah memang terjadi.

Masyaallah rasanya tidak bisa berkedip kami menyaksikan keindahan semburan demi semburannya yang Indah. Kawasan ini meski bau belerang menyengat tapi bisa teralihkan dengan hamparan luas kawah yang indah. Guide lokal juga mendampingi kami sekaligus menjelaskan tentang apa dan bagaimana Te Puia, sambil kami duduk di tempat yang telah di sediakan dan pantat kami pun terasa hangat..hiks, lama-lama gak betah juga, karena semakin terasa panas, namun udara sekitar kami tetap dingin, ahh..bagus lah pokoknya. Mungkin kalo di Indonesia lebih mirip dengan daerah Dieng atau Tangkuban Perahu tapi ini lebih Natural dan Cantik karena Semburan Geyser masih terus ada.

Sejenak berfoto ria sambil melihat sekeliling, sungguh luas sekali, sejauh mata memandang semburan geyser dari berbagai kawah masih terus terjadi. Karakter Pulau Utara New Zealand memang mirip Indonesia, yaitu Vulcanic, masih banyak gunung berapi sehingga tanahnya subur, berbeda dengan pulau selatan yang lebih Jurassic. Selesai dengan Geyser kami bergerak ke tempat perternakan burung Kiwi, salah satu Ikon negara New Zealand.

Burung Kiwi hidup di sebuah ruangan yang gelap, jadi ceritanya dari kemarin kami bergelap-gelapan, setelah koloni larva Glow Worm lanjut burung Kiwi. Kami diajak masuk ke dalam sebuah ruangan yang sangat gelap, bergandengan satu sama lain melihat bagaimana kehidupan burung Kiwi secara lebih dekat. Pencahayaan redup berasal dari kandang burung Kiwi yang cukup sulit dilihat karena kecilnya. Kami dilarang berbicara keras mungkin saling berbisik hanya untuk memberi tau di mana posisi burung Kiwi. Akhirnya kami tiba diluar kembali, dan sayapun bingung, ngapain tadi di dalam, gak jelas..hahaha.

Ternyata kawasan Te Puia ini sangat luas di dalamnya juga terdapat rumah dari Institut Seni dan Kerajinan Maori Selandia Baru, dan disana dapat kita saksikan hasil ketrampilan tradisional suku Māori, seperti mengukir dan menenun untuk diwariskan ke generasi berikutnya. Tak lupa kami mampir di toko souvenir untuk membeli sebiji dua biji cinderamata khas Te Puia yang cantik ini.

B. Rainbow Springs

Selesai dengan Te Puia kami langsung menjelajahi Alam Rainbow Springs yang terletak di antara pohon-pohon asli dan hutan yang indah di Rotorua. Rumah dari pepohonan Pakis Perak (Cyathea dealbata) – ponga di te reo Māori – yang merupakan spesies pohon pakis yang hanya ditemukan di Selandia Baru. Pakis perak telah diterima sebagai simbol identitas nasional Selandia Baru sejak tahun 1880-an. Bagi Māori, bentuk elegan dari daunnya melukiskan perlawanan, dan kekuatan abadi. Sedangkan untuk Pākehā (Penduduk Selandia Baru dari keturunan non-Māori), pakis melambangkan rasa keterikatan mereka dengan tanah air mereka.

Hal pertama yang kami lakukan sepertinya sebuah Ritual buat pengunjung Rainbow Springs untuk berfoto di depan Camera berlatar belakang Pohon Silver Fern sambil seolah-olah membopong Burung Kiwi, padahal cuma kosongan saja, entahlah seperti apa hasil akhirnya, yang pasti ada editan Burung Kiwi sebagai pertanda kami sudah berada di New Zealand, rumah bagi Burung Kiwi dan Pohon Pakis Perak. Rainbow Springs juga memberikan menawarkan suasana yang menyenangkan dimana wisatawan dapat mempelajari semua tentang sejarah alam New Zealand yang menarik. Termasuk juga bertemu berbagai macam satwa menarik. Sampai di Rainbow Springs kami disambut oleh guide lokal yang pandai berbahasa Indonesia dan ternyata memang orang Indonesia yang sedang mengais rezeki di negara orang, sama dengan Australia, dua negara ini termasuk paling banyak impor tenaga kerja dari Asia termasuk Indonesia. Setelah berkenalan lanjut kami diantar berputar-putar mengelilingi kawasan Rainbow Springs ini.

Kami diajak untuk melihat lebih dekat ke beberapa penghuni taman, termasuk didalamnya ikan Trout, reptil Tuatara, dan burung asli Kea dan Kiwi. Kagum dengan keanekaragaman satwa yang ada di hutan yang luas ini, kami juga diajak menuju area Playscapes dan Waterplay baru untuk melihat Whio (bebek biru) dan Giant Kokopu, penghuni taman terbaru dari Rainbow Springs. Di tengah taman terdapat air terjun juga lho, meski kecil tapi cantik.

Diakhir perjalanan kunjungan kami di Rainbow Springs kami mampir ke toko Souvenir untuk mengambil foto yang kami buat di awal tadi, dan benar foto kami ada editan Burung Kiwi ditangan, didesign menjadi semua buku sekaligus didalamnya terdapat kalender 2018, siklus burung Kiwi, burung Kea, ikan Trout dan si reptil Tuatara.

C. Hobitton Movie Set

Hari telah menjelang siang, perut sebenarnya sudah kelaparan, apalagi kami cuma sarapan buah tadi, tapi sarapan siang kami terscedule di akhir rute kunjungan di Matamata nanti. Ya sudah dinikmati saja, sambil ngemil coklat yang kapan hari sempat kami beli saat bermalam di Auckland.Kami melewati areal peternakan lagi, memang ya New Zealand ini surga perternakan, sejauh mata memandang hanya terlihat Sapi dan Domba.

Matamata [ˈmataˌmata] adalah sebuah kota di Wilayah Waikato di Pulau Utara Selandia Baru. Terletak di dekat pangkalan Kaimai Ranges, dan merupakan daerah pertanian yang terkenal dengan pembiakan kuda dan kegiatan pelatihan. Ini adalah bagian dari Distrik Matamata-Piako, yang mengambil daerah pedesaan di sekitarnya antara Morrinsville dan Te Aroha. State Highway 27 dan kereta api Cabang Kinleith beroperasi melalui kota. Kota ini memiliki populasi penduduk sekitar 7.920 pada Juni 2018, sepi ya, tidak seperti kota-kota di Indonesia, pantes sepanjang jalan tidak kelihatan manusia hanya Sapi dan Domba..hahaha.

The Hobbiton Movie Set merupakan lokasi penting yang digunakan untuk trilogi film The Lord of the Rings dan seri film The Hobbit, yang terletak di peternakan yang dikelola sebuah keluarga sekitar 8 kilometer (5,0 mil) barat Hinuera dan 10 kilometer (6,2 mil) barat daya Matamata, di Waikato, Selandia Baru, dan sekarang menjadi tujuan wisata yang menawarkan tour keliling dari tempat syuting film tersebut. Di kejauhan kami sudah mengenali lembah dan bukit yang di gunakan sebagai area pembuatan film Hobbit. Meskipun saya pribadi tidak pernah nonton filmnya tapi sedikit banyak tau lah, film Famous ini, apalagi saya termasuk movie lover tapi bukan genre Fiksi begini, Science Fiction bolehlah, tapi lebih suka Drama sih. Lanjut kami perjalanan kami menuju parkiran, di situ kami melihat sudah banyak antrian Bis yang siap mengantar kami berkeliling. Sambil menunggu antrian Bis kami mampir ke toko Souvenir dulu, belum belanja dulu, cuma menggambar barang mana saja yang akan dibeli nanti, agar lebih cepat selesai, karena sore ini harus secepatnya balik ke Auckland.

Tiba giliran kami untuk naik Bis, bersama pengunjung wisatawan lokal dan luar, sedikit berebut untuk menemukan posisi yang pas untuk memotret dari kejauhan. Di kawasan ini Hobbiton Movie Set akan memberi wawasan langsung tentang detail yang masuk ke pembuatan set. Lubang hobbit, Green Dragon Inn, pabrik dan struktur lain yang dibuat untuk film The Lord of the Rings dan The Hobbit dapat dilihat termasuk juga melihat bagaimana tanah pertanian Waikato yang indah ini berubah menjadi The Shire dari Middle-earth. Sekarang ini juga sedang tren rumah Hobbit di tempat wisata di seluruh Indonesia, mulai Bandung, Jogja dan terbaru kabarnya Malang juga ikut membuatnya.

Tiba kami di area pembuatan Film Hobbit, kami di pandu oleh salah satu guide lokal yang ditunjuk untuk menjelaskan tentang detail Hobbiton Movie Set ini. Sebelum masuk area ini, kami sudah diperingatkan untuk mengikuti aturan main yang wajib disepakati, termasuk tidak mendahului atau berpencar seenaknya sendiri, merusak rumah Hobbit dan lainnya. Kami dipandu untuk melewati situs sepuluh acre, lebih dari 40 lubang hobbit termasuk rumah Samwise Gamgree dan pintu depan ikon dari rumah Bag End di Bilbo Baggins. Pemandu wisata cantuk ini begitu hafal setiap detail dalam memberikan wawasan menarik tentang bagaimana set film dibuat dan apa yang terjadi selama pembuatan film dari trilogi.

Sebagai tambahan bahwa Pembuatan Film The Lord Of The Rings Trilogy dimulai pada akhir tahun 1999, dengan lebih dari 400 orang di lokasi pada puncak produksi. Perangkat ini dibangun kembali pada tahun 2011 untuk persiapan pembuatan Trilogi The Hobbit, hanya saja kali ini konstruksi yang dibuat dengan materi permanen, membuat Hobbiton Movie menetapkan satu-satunya film permanen di dunia dan tempat magis yang hadir di bumi untuk generasi yang akan datang.

Sebagai rangkaian penutup Tour, kami dibawa ke Green Dragon Inn yang sekarang berfungsi sebagai rumah singgah dimana kami dapat dapat mencicipi bir atau jahe yang diseduh di Hamilton oleh Good George Brewery, khusus untuk The Green Dragon di Hobbiton Movie Set dan duduk dalam keajaiban. Di saat ini pula kami menikmati makan siang bersama di area Hobbiton Movie Set dengan menu yang bermacam-macam namun tetap paling enak Nasi Padang hwuaaa..Kangen Rumah.

Selesai dengan Hobbiton kami langsung meluncur kembali ke Auckland, untuk persiapan pulang ke Indonesia keesokan harinya. Selesai mandi dan sholat tanpa buang waktu kami segera keluar lagi menuju toko souvenir untuk memborong sebagai oleh-oleh keluarga di rumah. Tak ada Robin Ruth disini, juga Hard Rock Cafe jadi mengurangi beban belanja dan sedikit berhemat pastinya..hahaha. Tak lupa mampir Supermarket untuk membeli coklat yang merupakan oleh-oleh wajib Negara Peternakan, kalo dilihat dengan lebih teliti karyawannya banyak ras India, hampir 100% malah, tidak ada Bule disini, hmm..ada apa gerangan??..biasa saja kali, kalo negara berkembang doyan export sumber daya manusia, wajar sih, resiko kebanyakan penduduk jadi dihibahkan sebagian ke negara yang kurang penduduk..hehehe. Malam ini kami makan menu Chinese Food, my fav ones kalo sedang di luar negeri, bahkan kali ini kami request lebih untuk telur dadar, baru juga 4 hari sudah kangen masakan rumah..hiks.

Pagi ini acara bebas karena siang nanti kami terscedule berangkat ke bandara internasional New Zealand, untuk langsung menuju Aussie, transit sejenak dan kembali ke tanah air tercinta, kembali bermalam di Jakrta dan keesokan harinya baru pulang ke Sidoarjo. Alhamdulillah acara Loyalty Trip Danone – Nutricia berjalan dengan lancar, dan untuk reward selanjutnya yaitu ke Malaysia dan Cruise Genting Dream – Singapore kami berikan kepada Bapak dan Ibu. Terimakasih Danone – Nutricia semoga 2019 kita dapat jalan bareng lagi di reward-reward berikutnya, in syaa Allah, sukses dan berkah buat kita semua..aamiin

“Doa dan Harapan akan selalu membuat kami yakin untuk menjalani hidup dengan memiliki tujuan, Allah akan selalu mengabulkan doa-doa hambaNya yang mau bersungguh-sungguh baik ikhtiarnya maupun tawakalnya..InsyaAllah”

Tulisan ini saya dedikasikan untuk diri sendiri tepat di ulangtahun ke 43 tahun, Keluarga dan Dea Wijaya Toserba, sebagai motivasi baik untuk saya sendiri juga untuk anak-anak kami sebagai pemegang tongkat estafet perusahaan, juga sebagai pengingat bahwa kami pernah meraih prestasi berupa Reward New Zealand ini setelah USA-Canada, Portugal-Spain, Hongkong, Japan, dan Australia dalam kehidupan kami.

Auckland – Waitomo – Rotorua (Loyalty Trip Nutricia 2018)

“Better to see something once than to hear about it a thousand times.”

Hari kedua kami berada di New Zealand, Rabu (14/03), Alhamdulillah kondisi tubuh terasa lebih fit dari kemarin, karena istirahat lebih memadai, tidak bangun terlalu pagi seperti di Aussie, saat harus berlarian menuju Airport di pagi subuh..(ahh, kenangan manis). Destinasi kami hari ini terjadwal mengunjungi salah satu keajaiban Alam yang terkenal dari pulau Utara, yaitu Glowworm Caves yang termasyur di wilayah Waitomo. Seperti biasa kami sarapan di Hotel, dengan status sebagai bintang 4, makanan jelas berlimpah, berbagai macam makanan, namun karena kami memilih yang paling aman, makan buah-buahan adalah satu-satunya pilihan..hiks. Pk 09.00 kami mulai perjalanan menuju destinasi pertama hari ini, yaitu ke wilayah Waitomo yang berada diluar Auckland menuju ke Rotorua. O iya,semalam kami diarahkan tour leader hanya membawa kebutuhan 2 hari 1 malam menginap di Rotorua, karena setelah dari Rotorua kami akan kembali ke Auckland dan menginap di hotel yang sama.

A. Glowworm Caves

Waitomo sendiri merupakan sebuah desa di Pulau Utara Selandia Baru. Ia dikenal dengan rangkaian gua bawah tanahnya yang luas. Ribuan cacing cahaya menerangi Gua Glowworm. Gua Ruakuri yang luas memiliki air terjun dan formasi batu kapur. Barat, Mangapohue Natural Bridge adalah lengkungan batu kapur tinggi di atas Mangapohue Stream. Timur laut desa, Otorohanga Kiwi House penampungan beberapa spesies burung kiwi asli yang langka. Semua merupakan wisata populer bagi wisatawan baik lokal maupun internasional, namun kami hanya mengunjungi Glowworm Caves saja, karena setelah itu masih akan menuju peternakan Agrodome.

Antrian cukup panjang, meski bukan hari libur para pengunjung cukup padat dari berbagai macam ras dan negara. Disambut dengan tulisan bahasa Maori, kami memperhatikan dengan seksama apa yang akan diinstruksikan oleh guide lokal di sini. Kami harus menyesuaikan jadwal yang sudah ada, karena tiap grup sudah terscedule dengan rapi, selain itu karena wilayah ini masih sangat murni, hmm..semacam dikeramatkan oleh suku Maori, sebenarnya bukan apa-apa sih, hanya demi melindungi spesies yang hidup dan tinggal di Gua, kami diminta menghormati dan menjaga betul tidak ada pelanggaran atas kehidupan dan situs yang lebih dari 120 tahun lalu ada di wilayah tersebut. Kami diminta mematikan handphone, tidak berbicara, apalagi merokok, kami hanya diminta untuk mendengarkan Guide menjelaskan apasaja yang ada didalam gua dan kemudian menunggu perahu kecil untuk melewati sungai bawah Gua dengan bergantian dan sabar. Giliran grup kami masuk, dikawal dengan guide lokal yang wajahnya lintas Ras, antara bule dan asia tapi ada arabnya, ah bingung menggambarkannya. Yang pasti dia pinter ngomong Inggris ya iyalah..hahaha, tapi dia bisa bahasa Indonesia sedikit, bahasa Maori juga, kerenlah. Mulai kami masuk satu persatu ke dalam Gua, dengan bantuan pencahayaan lampu yang tidak terlalu terang ataupun redup, kami disambut stalaktit dan stalakmit yang yang hampir memenuhi Gua namun dengan keteraturan yang cantik, juga berbagai bentuk yang unik dan menarik, sayang kami sama sekali dilarang mengabadikan. Kami cukup patuh walaupun sesekali terlihat grup lain masih mencoba melanggar, tapi kami tidak, jangan sampai kami membuat onar di negeri orang, selain demi nama baik kami sendiri juga nama baik bangsa dan negara. Setelah guide menjelaskan tentang situs yang ada di dalam Gua termasuk juga makhluk hidup yang berkembang biak disana, termasuk koloni larva serangga yang bernama Arachnocampa Luminosa, makhluk kecil inilah yang memancarkan cahaya luminescent yang dapat menerangi Gua bawah tanah tanpa bantuan cahaya dari luar, Ma syaa Allah indahnya. Guide melanjutkan cerita tentang bagaimana larva-larva itu bisa bersinar sedemikian indahnya sambil kami mengantri perahu, Glowworm bersinar untuk menarik serangga, yang terperangkap dari garis lengkung glowworm. Ketika mencapai kedewasaan, ia menggunakan cahaya untuk menarik pasangan. Cahaya juga melindungi mereka dari dimakan oleh predator. Cahaya adalah reaksi antara bahan kimia yang dilepaskan oleh glowworm dan oksigen, atau dikenal sebagai bioluminescence. Glowworm dapat mengontrol cahaya dengan jumlah oksigen yang mencapai organ cahayanya.

Kami mengantri lagi untuk menaiki perahu di dalam Gua yang merupakan terusan Gua yang agak terang tadi ke Gua berikutnya yang sangat gelap gulita, benar-benar kami hanya berpegangan satu sama lain dan tangga yang menurun kami dituntun untuk menaiki perahu. Setelah duduk di perahu, mulailah perahu bergerak dibantu oleh guide lokal mereka menunjukkan keindahan larva-larva yang berpijar dengan indahnya di dinding-dinding Gua. Berliku-liku kami lewati sungai Waitomo di bawah tanah sambil menatap galaksi lampu-lampu hidup kecil ini, benar-benar suasana yang tenang dan begitu mempesona cacing cahaya yang akan menerangi jalan kami hingga keluar Gua. Setelah selesai menjelajahi Gua dan Sungai kami diarahkan menuju Cafetaria dan Toko Souvenir, kami belanja sedikit Cinderamata khas Glowworm Caves dan Waitomo kemudian membeli kopi lanjut foto-foto sebentar kemudian langsung menuju Bus di parkiran. Jam Makan Siang tiba, sebelum melanjutkan perjalanan menuju Peternakan Agrodome kami isi bahan bakar dulu dengan menu Western di salah satu resto yang cukup rame oleh wisatawan mancanegara. Kami hanya duduk menunggu makanan tiba karena sudah dipersiapkan semua oleh tour guide dan team Nutricia. Tidak ada momen yang sempat terabadikan, kamera telah tersimpan rapi di tas, dan smartphone masih dengan kondisi microsd yang rusak, yach sudahlah, relakan saja.

B. Agrodome

Perjalanan kami lanjutkan kembali menuju Peternakan Agrodome yang sangat terkenal di pulau Utara New Zealand ini. Tidak ada perjalanan ke Rotorua yang lengkap tanpa kunjungan untuk melihat Brand Image sekaligus sebagai simbol negara New Zealand yaitu Domba!!. Sepanjang mata memandang hanya disuguhi lahan peternakan yang hijau nan subur, banyak domba dan sapi dengan santainya makan tanpa ada gangguan, kami pun becanda, “itu gimana kalo di Indonesia, apa tidak hilang domba dilepas tanpa pengawasan begitu,” . Ya iyalah disambung tertawaan peserta yang lain.

Agrodome merupakan peternakan domba dan peternakan sapi seluas 160 hektar yang terletak 10km (6mil) dari pusat kota Rotorua dengan koleksinya 1.200 domba dan 120 sapi potong. Yang didalamnya terdapat atraksi Agrodome Farm Show yang legendaris – 19 breed domba, demo pemotongan, anjing pekerja, susu sapi dan memberi makan domba, dan lelang domba hidup, dikemas dalam satu jam pertunjukan show. Pintu masuk Agrodome meliputi pembibitan pertanian dan Shearing Museum. Kami berkeliling menggunakan kereta kelinci ke seluruh pertanian yang dibuat khusus untuk segala cuaca, domba, kambing, rusa dan semua hewan ternak. Disini bebas memberi makanan untuk binatang ternak yang ada. Selain itu bisa puas berfoto ria bersama mereka. Termasuk juga mengunjungi Orchard dan kami sempatkan mencoba jus kiwi, ternyata enak, tampilannya mirip es tebu yang dipinggir jalan itu..hihihi.

Selain itu kami juga terjadwal menghadiri Agrodome Sheep Show, setelah puas berkeliling, sama seperti di Aussie, kami menonton pertunjukkan dimana para peternak meperlihatkan keahlian mereka dalam mencukur bulu Domba, dalam kesempatan itu juga kami diperkenalkan pada 19 breed domba yang berbeda di Agrodome Sheep Show dan merupakan pengalaman menyenangkan dan interaktif selama satu jam. Setelah itu dilanjutkan pertunjukan Anjing penjaga ternak yang sangat pintar menggiring domba.

Selesai dengan Agrodome hari telah menjelang sore, kami balik ke hotel untuk bersihkan badan dan kemudian sholat. Jadwal malam ini kami akan makan malam di sebuah restoran sekaligus melihat pertunjukkan suku Maori dalam memperkenalkan budaya mereka. Waktu menunjukkan pk 19.00 kami menunggu mobil hotel untuk mengantarkan kami ke resto, sebenarnya dekat sekali, tapi karena rasa lelah dan obesitas membuat kami berdua memutuskan naik monil saja, padahal sayang juga sepanjang jalan menuju ke restoran banyak spot yang bisa diabadikan, namun sekali lagi, hubby tipikal orang yang moody kalo lagi tidak mau berfoto ria jangan harap mau memotret, sebiji saja tidak akan terlaksana, seperti malam ini tanpa ada kenangan dalam kamera yang kehabisan batre dan hp yang rusak mc SD nya..hiks #nyeseksangat