Akademis vs Non Akademis

“I have a dream that my four little children will one day live in a nation where they will not be judged by the color of their skin, but by the content of their character”.
Martin Luther King, Jr

Danica Najaah Syareefa, anak nomer 2 (si tengah) ini secara fisik dan pembawaan memang berbeda dari kedua saudaranya. Kulitnya lebih coklat, lincah dan pemberani, sekolah juga lebih awal, dia mengikuti sekolah sejak jenjang Toodler (dibawah Playgroup). Reva nickname-nya, sempat dipanggil Naya saat Toodler dan Playgroup, sejak TK berubah menjadi Reva, agar ear catching dengan sang kakak Belva. Reva memiliki adek saat masih berusia 3th, membuatnya mandiri lebih dini dari sang kakak. Sejak kehadiran adek Mika, dialah yang membantu Mama untuk ikut momong, dibanding kak Belva yang lebih egois, mungkin karena faktor umur yang agak jauh dan hobby nya yang doyan belajar dan membaca membuatnya lebih individual.

Sejak kecil Reva sangat menyenangi alam, terutama binatang, hobby menunggang kuda, berfoto dengan banyak burung bahkan memegang bayi singa di Taman Safari. Kebiasaan menunggang kuda hingga saat ini masih sering dia lakukan. Untuk urusan keberanian, Reva lebih unggul, naik sepeda sejak TK, bisa berenang juga mulai kelas 1, maen sepatu roda, flying fox, roller coaster, apapun yang uji nyali dia memang merasa tertantang. Sejak umur 7th dia ingin les Panahan, tapi karena belum diperbolehkan, akhirnya kami alihkan ke les Musik, namun hanya bertahan hingga kelas 3 saja. Kelas 5 mulai kembali ke Panahan. Ketiga anak kami tidak ada yang mengikuti Les Akademis, kami sebagai orangtua sepakat tidak terlalu mempermasalahkan nilai di sekolah, secukupnya saja, namun jika anak-anak berprestasi di sekolah, itu namanya bonus, Alhamdulillah. Kami lebih menyukai mereka untuk mengambil Les Non Akademis, pelajaran cukup dari sekolah, jangan sampai waktu habis hanya untuk urusan Akademis saja. Belva dan Reva kami arahkan ke Musik, hingga detik ini meski mereka tidak sempat lagi untuk les, namun diwaktu senggang dan ingin relax mereka sempatkan bermain Piano atau Keyboard, bahkan main musik ini Reva dan Belva membuahkan beberapa piala, bahkan saat SMP, kak Belva beberapa kali diminta mengiringi acara tertentu juga Wisuda. Bagaimanapun kemampuan menjalani kehidupan mendatang bukan hanya Nilai Akademis saja yang berperan, Life Skill lebih akan membantu mereka untuk Survive demi masa depannya. Kami pribadi, baik Mama maupun Papanya merupakan mantan siswa dengan klasifikasi biasa-biasa saja, untuk itulah kami tidak menuntut anak-anak secara berlebihan untuk nilai Akademisnya, tapi kemandirian dan tanggungjawab serta disiplin itu juga harus ditempa sejak dini. Alhamdulillah sejauh ini, jika terpaksa kami tidak bisa menemani misalnya harus keluar kota atau keluar negeri, mereka sudah terbiasa Mandiri. Dengan Les Non Akademis, mereka juga memiliki tambahan Skill, selain itu dengan Reva menjadi Atlet dia akan ditempa dengan tekanan lebih, harapannya dia akan lebih kuat menghadapi tantangan kehidupan di masa depan.

Melihat hasil sidik jari kak Belva kemarin, membuat rasa penasaran semakin besar terhadap kedua adeknya dan ternyata benar, hasil Tes Sidik Jari Reva memperlihatkan perbedaan dengan kedua saudaranya, jadi selain fisik ternyata Sidik Jaripun tak sama. Meski alat ukur bakat dan potensi bernama Fingers Print Test ini masih dianggap Pseudoscience tapi hasilnya memiliki kemiripan yang sangat tinggi. Reva cenderung dominan Otak Kiri, dan gaya belajarnya Audiotori, berbeda dengan Belva dan Mika yang dominan Otak Kanan dengan gaya belajar Visual. Sedangkan untuk kecerdasan majemuk Reva, 4 tertinggi adalah Logis Matematis, Naturalis, Body Kinestetik dan Spiritualis, berbeda dengan kak Belva, yaitu kecerdasan Intrapersonal, Interpersonal, Verbal Linguistik dan Body Kinestetik, kemudian adek Mika, memiliki kecerdasan di Interpersonal, Intrapersonal, Visual Spasial dan Verbal Linguistik. Jika di lihat dari olahraga Panahan ini ke 4 aspek kecerdasan kak Reva tersebut akan dapat terexplore maximal, cara skoring (menjumlahkan hasil tembakan anak panah), olahraga di lapangan outdoor, dan spiritualis ini hubungannya dengan sunah Nabi Muhammad SAW, semoga saja Allah Azza Wa Jalla memberikan Ridho-Nya untuk Reva kedepan, jika memang suatu saat takdir membawanya menjadi Atlet Panahan, semoga dia bisa semaximal mungkin membuat harum Nama Bangsa dan Negara..aamiin.

Saat ini yang menjadi ganjalan adalah sejak Reva masuk menjadi salah satu atlet Panahan untuk mewakili Kabupaten di acara POR SD di Lumajang, Reva terpaksa setiap hari meminta dispensasi pulang lebih awal, mulai 18/10 hingga 10/11. Reva harus mengikuti TC (training center/pemusatan latihan) di lapangan Pengcab Perpani Sidoarjo setiap hari pk 14.00 padahal sekolah selesai pk 15.30 apalagi Reva sebagai siswa kelas 6 yang juga anggota TPDS terbiasa pulang paling cepat pk 16.00. Beban itu terlalu berat untuk Reva, apalagi jika jadi berangkat ke Lumajang mengikuti POR SD, Reva harus sanggup meninggalkan sekolah hingga 6 hari. Reva galau ya Allah, bagaimana dia mengejar ketertinggalan materi, walaupun pihak Kecamatan maupun Kabupaten siap menjamin kelangsungan sekolah Reva melalui Jalur Prestasi, tetap Reva pusing memikirkan nilai-nilai yang selama ini dia perjuangkan. Beban Reva tidak cuma tentang dirinya, nama besar sang kakak juga ikut membayangi kesuksesannya, bagaimana tidak, secara tidak sadar guru-guru di sekolah sering membandingkan Reva dengan Belva. Target-target Reva di sekolahpun ingin berusaha menyaingi bahkan mengungguli sang kakak. Namun sekali lagi Hidup adalah Pilihan, Reva harus memilih salah satu antara jalur Akademis atau Non Akademis, tidak bisa keduanya karena tidak akan maximal, kami sebagai orangtua akan support sepenuhnya pilihan anak-anak kami. Termasuk kedepan jenjang SMP akan kami wacanakan Home Schooling, agar lebih flexible mengatur waktu. Yach, apapun itu kami harus berunding lebih dalam lagi, semoga Allah Azza Wa Jalla meridhoi upaya terbaik demi anak-anak kami di masa depan..aamiin

Advertisements

Medali Perunggu Cabor Panahan untuk Kecamatan Waru

The most important thing I’ve learned about archery is that there is only one archer in the race, and that’s me.”

Alhamdulillah, hari Sabtu (13/10) adalah hari yang sangat menegangkan sekaligus menggembirakan dan merupakan titik awal Reva meraih salah satu prestasi besarnya, yaitu kemenangannya di Porlakab Cabang Olahraga Panahan di kelas 30meter, dengan perolehan 1 medali Perunggu. Medali Perunggu ini salah satu penyumbang untuk Kecamatan Waru di acara Porlakab, yang diadakan oleh Dispora Kabupaten Sidoarjo dalam seminggu ini. Mulai hari Senin pembukaan yang berlangsung hingga Jumat, kecamatan Waru belum satupun Cabang yang menorehkan prestasi, Alhamdulillah Reva memecahkan telor meski hanya Medali Perunggu namun wakil dari pihak Kecamatan sangat bahagia dan mengapresiasi dan terus memotivasi Reva untuk berprestasi mengharumkan Kecamatan Waru. Selain Kecamatan Waru, tentu saja pihak Sekolah Islam Raudlatul Jannah yang ikut berperan menunjuk Reva sebagai salah satu wakil sekolah ikut serta dalam ajang Porlakab turut bergembira, karena dari wakil Sekolah hanya Reva satu-satunya yang berhasil mempersembahkan Medali, begitupula Club Paser yang dalam 3 hari saja melatih Reva juga sangat gembira dengan hasil yang menakjubkan. Sebagai Orangtua tentu saja kamilah yang paling berbahagia, tidak ada satupun target yang kami bebankan kepada Reva, karena kami tau diri Reva terpaksa vakum cukup lama di kelas 6 ini, namun dengan 3x saja berlatih dapat membawa 1 medali, Masyaallah sama sekali diluar dugaan, dan Alhamdulillah lagi-lagi Allah Azza Wa Jalla memberikan rahmat dan karunia-Nya.

Acara Porlakab diadakan di lapangan Lebo dan diagendakan selama 2 hari Jumat dan Sabtu pk 07.00 hingga selesai, jika hari Jumat lomba dapat di selesaikan, maka Sabtu tidak ada kegiatan lanjutan. Reva telah siap untuk sarapan pk 05.00, begitu semangat dan tanpa keluhan, padahal Rabu dan Kamis pk 14.00 hingga maghrib dia terus berlatih untuk menghadapi Porlakab. Tepat pk 06.00 kami berangkat sembari mengantar kak Belva sekolah dan memang dalam satu jurusan. Alhamdulillah pk 06.45 kami telah sampai di Lapangan Lebo, dan hanya terlihat satu petugas Porlakab yang tidak tau menahu tentang acara Panahan, beliau hanya dititipi sebentar oleh pihak panitia, oh baiklah. Anak-anak terbiasa disiplin dengan waktu, walau terkadang orangtuanya sampai harus kepontal-pontal mengikuti mereka, karena kami hafal tipikal orang Indonesia itu jam karet, kecuali Sekolah Raudhatul Jannah yang selalu ontime dengan agenda yang diadakan, mungkin itu yang mendidik anak-anak kami untuk disiplin dengan waktu. Pk 07.30 peserta mulai berdatangan kemudian langsung pemanasan dan tepat pk 08.00 acara panahan dimulai.

Porlakab kali ini diikuti oleh 12 anak laki-laki dan 12 anak perempuan dari 6 kecamatan, antara lain, Waru, Taman, Candi, Wonoayu, Krian dan Sidoarjo kota. Tiap kecamatan bebas untuk mengirimkan berapapun wakilnya, dan kecamatan Waru mengirimkan 6 anak laki dan 5 anak perempuan dan merupakan kecamatan dengan wakil terbanyak, maklum kecamatan Waru ini besar sekali wilayahnya, dibandingkan dengan Krian yang mengirimkan wakil hanya 1 anak perempuan dan kebetulan teman 1 club dengan Reva. Acara lomba Cabor Panahan dibuka oleh bapak Agung, selaku wakil dari Dispora Sidoarjo sekaligus yang memberikan aturan pertandingannya. Kelas panahan dibagi 3, yaitu 40mt, 30mt dan 20mt, untuk semua peserta dengan Stardart Bow melakukan Tembakan sebanyak 6x dan masing-masing melepas 6pc anak panah. Sedangkan 50mt untuk peserta dengan Compound Bow dengan jumlah Tembakan yang sama. Hasil Skor dari Reva sendiri untuk kelas 40mt dengan skor 88 berada di urutan no 5, kelas 30mt dengan skor 156 berada di urutan ke 3 dan terakhir kelas 20mt dengan skor 210 berada di urutan 4. Alhamdulillah untuk semua hasil yang diperoleh Reva, dengan persaingan yang demikian ketat dan latihan yang hanya 3x saja, masih ada Medali yang dapat di persembahkan. Dari deretan pemenang Cabor Panahan ini dapat dilihat urutan 1 dan 2 adalah anak-anak yang sama, sehingga bisa dibuat catatan bahwa kaderisasi atlit Panahan di daerah sangat kurang, selain Panahan adalah olahraga mahal, ekslusivitas membuat olahraga ini jarang diminati, apalagi Pemerintah juga tidak support sama sekali, kondisi lapangan tingkat Kabupaten saja, tampilannya mengenaskan, bahkan info dari ibu dari putra pemenang Emas di 3 kelas, untuk ngopeni lapangan saja harus sumbangan mandiri dari anak didik pengcab Sidoarjo (btw putra beliau sudah latian selama 2 tahun dan memiliki jam terbang yang tinggi, bahkan beberapa kali sudah mendapatkan emas, gitu kq masuk kategori pemula ya..hiks). Itulah mengapa Reva terpaksa ikut Club (swastanya) agar sarana prasarana juga ikut support dan membuat dia nyaman dan semangat mengikuti latian, tapi ya itu tadi harus kuat pendanaan dari orangtua. Jer Basuki Mawa Bea.

Dengan Medali Perunggu ini Reva akan mengikuti TC (training center) guna persiapan ajang tingkat Provinsi mewakili Sidoarjo, dan menurut pak Agung sebagai penanggungjawab Cabor Panahan diawal tadi, yang mengikuti TC adalah peserta dengan skor 1-4 teratas, dan belum tentu yang juara 1 atau 2 yang terkirim karena masih harus melihat hasil TC. Semangat ya Kak Reva, Medali Perunggu pertama yang kamu peroleh semoga menjadi motivasi untuk berprestasi lebih banyak lagi, selalu giat berlatih, jangan mudah putus asa dan jaga ibadah dengan benar dimanapun berada. Semoga Allah Azza Wa Jalla senantiasa meRidhoi cita-cita dan impianmu dimasa mendatang..aamiin

Reva Siap Mengikuti Porlakab

“Some say LIVE, LAUGH, LOVE…but we say RAISE, AIM, SHOOT”

Alhamdulillah, meski sempat terjadi polemik tentang lomba Panahan ini, kesepakatan itu akhirnya tercapai juga. Yach, Coach Reva di sekolah sama sekali tidak cawe-cawe melatih Reva, namun jika Reva membawa salah satu Piala, bukan pelatih Perpani yang harum namanya tapi Coach Eskul Panahan dan Sekolah, itulah yang membuat Pelatih dari Perpani Surabaya merasa tidak dihargai. Sebagai jalan keluar Reva yang selama ini terdaftar sebagai member Perpani Surabaya harus dipindahkan ke Pengcab Sidoarjo terlebih dahulu karena berdasarkan KK dan letak sekolah, kemudian masuk sebagai anggota Club “Paser” dibawah naungan Pengcab Sidoarjo, dengan begitu Reva akan di latih pihak Perpani Sidoarjo dan dipersiapkan lebih banyak untuk even Panahan kota Sidoarjo. Reva mulai berlatih hari Sabtu (07/10) sedangkan jadwal lomba akan di adakan hari Jumat dan Sabtu (13/10-14/10), dan Reva harus bermain di kelas 20m, 30m, 40m, padahal selama ini Reva masih bermain di 10-20m, modal nekad ini namanya, apalagi Reva sempat vakum latian karena sudah kelas 6, karena harus berkonsentrasi menjemput UNAS. Namun karena sekolah memberikan tugas negara, yang mana kesempatan tidak datang dua kali, maka Reva pun siap menerima tantangan tersebut. Memang persiapan UNAS wajib dilakukan tapi bukan berarti mengorbankan hobby yang saat ini tengah ditekuni kak Reva yaitu Panahan, toh masih bisa membagi waktu dengan baik. Tapi saat menghadapi lomba seperti ini, jadwal latihan Reva terpaksa mengganggu jadwal Sekolah juga, karena mepetnya jadwal pertandingan terpaksa latihan harus dikebut. Jika pulang sekolah resmi terjadwal pk 16.00, terpaksa pk 14.00 harus ijin pulang untuk latihan, belum lagi hari Jumat jadwal lomba Panahan pk 07.00 sampai selesai. Semoga saja tampilan Reva tidak terlalu mengecewakan, walaupun tidak menang. Kami sendiri sebagai orangtua tidak mentargetkan Reva harus menang, yang terpenting Reva dapat belajar bagaimana proses yang harus di lalui serta mengambil ilmu dan pengalaman yang ada. Toh, ini lomba Panahan yang pertama kali Reva ikuti, jadi target menang adalah nomer sekian.

Sebenarnya pihak Perpani masih ada ganjalan tentang Coach di Sekolah, namun sambil jalan akan diselesaikan dengan win-win solution. Bagaimanapun besok saat lomba, pelatih club “Paser” (pak Yogi) yang akan mendampingi Reva bukan Coach dari Sekolah. Semua ada hikmahnya, kembali lagi olahraga Panahan saat ini sudah tidak bisa dibuat ekslusif lagi, Perpani harus mau bekerjasama dengan baik dengan pihak Sekolah, selain mereka juga akan diuntungkan dengan jasa marketing gratisan, secara otomatislah siswa yang mencintai panahan akan mendorong orangtua mereka untuk mendukung agar siswa tersebut dapat bergabung dengan Club Panahan, jumlah member yang semakin besar, kesempatan mengkader atlit juga semakin luas, bibit-bibit baru akan bermunculan untuk siap mengharumkan nama bangsa di kancah Internasional. Semoga ^^

Pemasangan Ring yang Kedua

Alhamdulillah, siang ini barusaja Ayah kembali ke kamar semula, setelah selama 2 malam berada di ICU. Perjuangan berat itu telah dilalui dengan keringat, darah dan airmata, bagaimana tidak, 2 biji Ring ini seharusnya lebih mudah dari yang pertama kemarin, tapi kenyataannya tidak. Ayah mulai masuk RS Siloam pada hari Rabu (04/10/17), kemudian terjadwal Kamis untuk operasi pemasangan Ring. Sedari Kamis pagi, pk 08.00 Ayah masuk CathLab hanya boleh didampingi oleh Ibu, sedangkan saya dan kakak menunggu di luar. Start pk 10.00 Ayah mulai di operasi, tetiba Ibu keluar dan menyuruh saya masuk untuk menemani setelah melihat suster berlarian kesana kemari bergantian keluar dari ruang operasi, ibu mulai tidak tenang, raut muka kecemasan tergambar dengan jelas, beliau berucap, “sepertinya Ayahmu ada masalah,” saya hanya sanggup menenangkan Ibu dengan mengaji dan istighfar sembari mengelus tangan dan punggung beliau. Ya Allah, berilah kesempatan Ayah untuk membereskan apa yang belum diselesaikan. Setelah hampir 2,5 jam, dr. Yudhi pun keluar, dengan raut muka lelah bercampur cemas, beliau memanggil saya, “Mbak, tolong kesini ya, saya jelaskan keadaan Ayah mbak, ini tadi kesulitannya saat di pasang Ring adalah tiba-tiba banyak gumpalan darah yang menghalangi masuknya Ring”. Kemudian beliau melanjutkan dengan berpesan agar kami setiap saat siap, karena ada ketidakberesan yang lain di salah satu pembuluh kecil di Jantung Ayah, jika terjadi komplikasi atau kram, beliau tidak bisa berbuat apa-apa, beliau menambahkan, di pembuluh kecil ini tidak bisa di pasang Ring maupun Bypass hanya melalui Obat tengah di upayakan menumbuhkan pembuluh-pembuluh baru sebagai jalan alternatif darah mengalir normal di Jantung, tapi beliau tidak bisa menggaransi tingkat keberhasilannya. Saya pun tidak sanggup menahan jatuhnya Air Mata, sedangkan Ibu justru lebih tegar.

Selanjutnya badan Ayah dibersihkan setelah operasi kemudian dipindahkan ke ICU, karena kondisi masih sangat lemah dan cenderung Drop. Bagaimana tidak drop, operasi berlangsung cukup lama, dilakukan dengan kondisi sadar, Ayah mendengar dengan jelas kepanikan yang terjadi saat operasi berlangsung, beliau berucap setengah menahan airmata dan rasa sakit, “kamu hampir kehilangan Ayah nduk, Ayah merasa sudah akan diambil Allah, semua gelap, kaki sudah terasa dingin, Ayah kedinginan tapi sangat berkeringat, juga tidak bisa bernafas, Ayah teriak, dokter kembalikan saya, Ayah melihat dengan jelas dr. Yudhi panik dan menyuruh asisten dokter dan suster bergantian mengambil obat, Ayah rasanya tidak sanggup, dokter cuma nyuruh Ayah bertahan dan berdoa, hingga operasi selesai”. Saya hanya berusaha menahan airmata dan terus menciumi Ayah, dalam hati bersyukur, Terimakasih ya Allah, Engkau memberi kesempatan buat Ayah untuk bertaubat lebih lama. Tak lama suster memanggil saya untuk menjelaskan adanya obat-obatan yang ditambahkan selama operasi berlangsung yang tidak tercover oleh BPJS, dimana dr. Yudhi terpaksa mengambil keputusan tanpa menanyakan kepada keluarga pasien akan mahalnya obat. Yach, bagaimana mungkin bertanya dulu sedang keselamatan Ayah ada diujung tanduk, berapapun harganya jelas akan kami bayar, demi keselamatan Ayah. Awalnya dr. Yudhi menyarankan pindah Rumah Sakit karena masalah financial, Siloam lebih murah daripada Graha Amerta, namun ujungnya akan tetap sama karena ada tambahan “Bom” sebagai usaha menyelamatkan Ayah. Alhamdulillah semua fase kritis telah dilewati oleh Ayah, insyaallah besok sudah boleh pulang.

Laa ba’saa thohuurun In syaa Allah, Syafakallah Ayah..aamiin

42th Mine and 17th Ours

I love my age. At my age and place in life, I feel less worried about what people think of me, more confident in my decisions, and more understanding of myself. I am more tolerant of the differences of others in opinions and lifestyles, and I have less need to prove anything to the world. I notice the beauty in so many more things as I’ve aged, and I love that feeling. Alhamdulillah 🙏

Alhamdulillah Sabtu (30/09/2017) bertepatan dengan 10 Muharram, saya masih diberi kesempatan oleh Allah Azza Wa Jalla untuk memasuki umur ke 42 tahun. Usia yang sudah cukup matang untuk memiliki ilmu yang lebih banyak dalam memilih keputusan yang terbaik dan lebih peduli dengan sekitar. Masih banyak harapan yang ingin diwujudkan di umur 42 tahun ini, antara lain lebih taat dan patuh kepada Allah dan Rasul-Nya, terus menerus mengabdi dan membahagiakan orangtua, berbakti kepada suami lebih baik lagi, memberi tauladan terbaik dan membersamai anak-anak, membimbing karyawan dengan lebih sabar, membuka lapangan pekerjaan lebih luas sebagai ladang dakwah dan mewujudkan satu persatu mimpi-mimpi menjadi kenyataan. Intinya usia bertambah, umur berkurang selama Allah masih memberi waktu untuk kita berjuang menjadi lebih baik maka jangan tunda, bersegeralah.

[Allahumma tawwil ‘umurana fi ta’atika wa ta’ati rasulika waj’alna min ‘ibadikas salihina..aamiin]

[01/10/00 – 01/10/17]
A happy marriage is about three things. Memories of togetherness, forgiveness of mistakes and a promise of never give up on each other 💑💞

Dan Alhamdulillah pada tanggal 01/10/2017 ini bertepatan dengan hari Kesaktian Pancasila, pernikahan kami juga memasuki tahun ke 17. Terimakasih ya Allah, 17 tahun pernikahan kami telah berjalan dengan bahagia, walaupun bukan berarti tanpa ujian, tantangan dan hambatan. Di setiap pernikahan pasti ada permasalahan, dan fase-fase berat badai pernikahan itu telah berhasil kami lalui berdua dengan tetap berpegangan tangan erat hingga terhindar dari perceraian. Ingin mengingat sejenak cerita singkat pertemuan dengan papanya anak-anak (hanya ingin mengingat memori indah), sejak masih SMP hingga Kuliah waktu banyak dipergunakan untuk membantu Ibu mengelola toko, dulu saat SMP masih berupa toko kecil di garasi, menginjak kuliah, orangtua sudah mempercayakan toko besar sekelas minimarket bernama “Dea Wijaya” kepada anak beliau yang nomer 2 ini. Alhamdulillah dengan ilmu yang sedikit namun semakin lama semakin bertambah, saya dapat mengendalikan perusahaan dengan baik. Dengan kondisi saya masih kuliah sekaligus bekerja, tentu masa muda saya kurang diisi dengan masa muda yang “bersenang-senang” termasuk hal pacaran. Namun saya yakin Allah Azza Wa Jalla telah menuliskan jodoh saya di Lauh Mahfudz dengan jodoh yang terbaik. Saya hanya fokus berbakti dan membahagiakan orangtua dan memperbanyak ibadah hingga nanti saatnya tiba, jodoh itupun akan datang. Di akhir semester 6 saya di pertemukan dengan calon pasangan hidup melalui telepon nyasar. Sebenarnya bukan “nyasar, berdasarkan cerita pak Suami ini beliau saat itu sedang suntuk dengan UAS, kemudian iseng membuka Yellow Pages untuk coba-coba berhadiah, siapa tau dapat kenalan, karena Dea Wijaya terpasang nomer telpon atas nama saya, dia mencoba memberanikan diri untuk menelepon (gokil nih orang). Singkat cerita Ibu saya tiba-tiba memanggil, “En, ada telpon,”. Kemudian di seberang sana terdengar suara, “aku Indra, yang waktu itu kenalan saat nonton basket”, jiaahhhh, mana ada teman saya namanya Indra, dan saya tidak suka basket, kemudian percakapan berlangsung, walaupun cukup aneh tapi entahlah, rasa penasaran ini begitu besar. Acara telpon menelpon kami lakukan hampir 2 minggu tanpa tau bagaimana bentuk fisik masing-masing, yang pasti dia bernama Agung, mahasiswa semester 8 di universitas Airlangga, dan saya sendiri mahasiswi semester 6 universitas Surabaya, tapi entahlah kami merasa nyaman satu sama lain, benar-benar kuasa Allah. Hari yang telah kami sepakati untuk bertemu telah tiba, dagdigdugser pastinya, Alhamdulillah lancar juga pertemuan kami dan cukup akrab kami berbincang, ketika melihatnya untuk pertama kali, hati ini langsung berkata insyallah ini jodoh saya. Dalam setahun perjalanan kami berdua, saya pun dilamar, hal ini karena menunggu hubby lulus dari kuliahnya, disambung setahun kemudian kami menikah. Tiga buah hati kami telah lahir di tahun 2001 (Belva), 2006 (Reva) dan yang paling bontot 2009 (Mika). Alhamdulillah, terimakasih ya Allah atas segala Rahmat dan Karunia-Mu yang Engkau berikan untuk keluarga kami, semoga di tahun-tahun kedepan kami semakin kompak dalam memperjuangkan mimpi-mimpi kami dan anak-anak hingga mereka menjadi anak-anak Qurrota A’yun yang Shalih dan Shalihah yang kelak sebagai Khalifah di bumi yang berpegang teguh pada Syareat-Mu dan Sunnah Nabi-Mu, bermanfaat bagi umat sekaligus berguna bagi Nusa dan Bangsa..aamiin.

Robbana hablana min azwajina wa dzurriyyatina qurrota a’yun, wa ja’alna lil muttaqina imaama..aamiin 🙏

Amor Royalty 2017 for Japan (part 6: Tokyo – Narita)

“We live in a wonderful world that is full of beauty, charm and adventure. There is no end to the adventures that we can have if only we seek them with our eyes open.” –Jawaharlal Nehru

Alhamdulillah hari ini Senin (27/03) kami akan kembali ke tanah air tercinta, rasanya tidak sabar ingin segera sampai di rumah memeluk anak-anak yang sudah hampir seminggu kami tinggal jalan-jalan. Back pain dan alergi semakin memburuk, tiba di Indonesia, sepertinya harus visit ke dokter. Setelah selesai packing semua koper, total menjadi 3, karena 2 koper telah sepakat menikah dan memiliki anak (hayah)..hahaha.

Selesai sarapan, Bis telah menjemput dan siap mengantarkan kami menuju bandara Haneda, Narita. Saat checkin peserta di luar Jakarta dibantu untuk menggunakan sistem Connecting Flight, karena lebih praktis, orangnya saja yang pindah pesawat tanpa harus mondar-mandir membawa koper, mengingat masih harus pindah bis untuk pindah terminal. Selesai checking-checking kamipun segera masuk menuju ruang boarding, ternyata masih banyak toko taxfree, dan seperti saran ibu ketua rombongan FFI, jika ingin membawa oleh-oleh Banana Tokyo, wajib beli di airport, mengingat tanggal kadaluarsa produk yang begitu pendek, hanya seminggu. Banana Tokyo sendiri semacam softcake dengan rasa pisang, bukan seperti molen atau kue pisang kartika sari made in Bandung seperti dalam bayangan saya..hahaha. Di toko merchandise tersebut lengkap sekali, selain makanan, ada juga alat tulis dan my fav one yaitu produk Robin-Ruth, segeralah saya membabi buta memborong semua oleh-oleh yang belum sempat terbeli selama vacation kemarin. Setelah puas dengan urusan belanjaan, kami segera masuk ruang boarding untuk menunggu sang Garuda membawa kami pulang ke rumah. Tepat pukul 11.45, kami take off dan menuju Jakarta, lanjut ke Surabaya dengan sistem Connecting Flight.

Tiba di Jakarta, waktu sudah senja, kami akan melanjutkan perjalanan menuju Surabaya, dan kami masih harus menunggu pesawat pk 20.00, rasanya badan semakin remuk redam, sangat lelah namun senang karena akan segera bertemu anak-anak. Sampai kami di bandara Juanda, dan masih harus menunggu koper dan jemputan. Meninggalkan bandara sudah pk 22.00, kami kelaparan dan mampirlah ke PKL Seafood favorite kami, Pangestu. Lahap sekali kami makan, karena selama di Jepang tentu tidak ada menu penyetan, Alhamdulillah kenyang. Tiba di rumah tengah malam, masih harus menunggu pagi untuk bertemu dan memeluk anak-anak kami.

Ya Allah terimakasih atas rahmat dan karunia-Mu, lagi dan lagi kami menerima Reward untuk menikmati Bumi Ciptaan-Mu. Semoga semua ini wujud dari KeRidhoanMu untuk semua usaha yang kami upayakan dan impian yang kami perjuangkan..aamiin

“Doa dan Harapan akan selalu membuat kami yakin untuk menjalani hidup dengan memiliki tujuan, Allah akan selalu mengabulkan doa-doa hambaNya yang mau bersungguh-sungguh baik ikhtiarnya maupun tawakalnya..InsyaAllah”

Tulisan ini saya dedikasikan untuk Diri Sendiri tepat di ulangtahun ke 42 tahun, Keluarga dan Dea Wijaya Toserba, sebagai motivasi diri sendiri, motivasi untuk anak-anak kami sebagai pemegang tongkat estafet perusahaan, juga sebagai pengingat bahwa kami pernah meraih prestasi berupa Reward Japan ini setelah USA-Canada, Portugal-Spain dan Hongkong dalam kehidupan kami.

Amor Royalty 2017 for Japan (part 5: Tokyo)

“It takes a lot of courage to release the familiar and seemingly secure, to embrace the new. But there is no real security in what is no longer meaningful. There is more security in the adventurous and exciting, for in movement there is life, and in change there is power.” -Alan Cohen

Pagi ini Minggu (26/03) terbangun dengan kondisi Back pain yang semakin parah, bahkan untuk Ruku, saya sudah tidak mampu melakukannya dengan sempurna, rasanya tidak ingin bangun dari tempat tidur, sumpah sakit sekali, belum lagi alergi yang semakin menjadi, juga mata yang tidak mau lagi mengenakan softlense karena udara yang terlalu dingin, membuat mata cepat kering, akhirnya terpaksa mengenakan kacamata, padahal saya sangat malas, klop sudah penderitaan saya..hiks. Destinasi pagi ini akan menuju Kawagoe City, lanjut Shinuku Gyoen, dan terakhir belanja di kawasan Shibuya Crossing. Selesai sarapan kami menunggu di lobi karena hari ini hujan cukup lebat, cobaan hari ini akan semakin berat, suhu di luar sudah menunjukkan 5 derajat celsius, dan menurut perkiraan cuaca hari ini akan hujan seharian, benar-benar hari Anti Klimaks, beri kami kesabaran ya Allah.

A. Kawagoe – Little Edo

Destinasi pertama kami adalah mengunjungi rumah Samurai sebelum menuju Kawagoe City. Entahlah apa nama rumah Samurai ini dan dimana letak pastinya, yang saya ingat adalah di sekitar rumah Samurai ini juga ada wisata semacam bazar makanan dan merchandise tapi mungkin kami terlalu pagi, tak ada satupun stand yang buka. Kami memasuki rumah dengan melepas alas kaki, dan kami dilarang keras untuk mengabadikan apa saja yang ada di dalam rumah, saya lupa alasannya, karena rasa sakit ini, saya kurang fokus. Kami hanya diperkenankan memotret halaman luar dan dalam rumah ini.

Setelah selesai mengexplore rumah Samurai kami melanjutkan perjalanan menuju Kawagoe Shi. Sepanjang jalan yang kami lewati menyajikan rumah-rumah tradisional Edo dengan aneka toko souvenir dan panganan manis merupakan sajian utama dari Kota Kawagoe. Kawagoe tradisional mampu bertahan dari gerusan zaman dan menyandang ‘Little Edo’. Berkat Kawagoe, kehidupan abad 17 masih dapat dinikmati hingga kini. Kota klasik yang seolah-olah ingin membuktikan bahwa kehidupan samurai tak akan pernah berakhir. Dibandingkan dengan destinasi wisata Jepang lainnya, Kawagoe merupakan satu-satunya destinasi dengan cita rasa paling Jepang. Kota ini tak sengaja dibangun sebagai lokasi wisata, namun kota yang dipertahankan keberadaanya sejak zaman Edo ( 1603-1867). Dari sinilah Little Edo berasal, meski hanya sedikit sejarah yang tersisa, pengunjung dapat merefleksi kejayaan masa samurai.
Bis Kami tiba di kawasan Kawagoe dan parkir sejenak sambil menunggu kami untuk berjalan-jalan lebih dekat dengan yang disebut Kawagoe (川 越) . Jalan utamanya dilapisi dengan gedung Kurazukuri (bangunan bergaya gudang tanah liat), mempertahankan suasana yang mengingatkan pada sebuah kota tua dari Periode Edo (1603-1867) dan memungkinkan kita untuk membayangkan jalan-jalan dari abad-abad yang lalu. Salah satu kuil terpenting di daerah Greater Tokyo, yaitu Kuil Kitain. Ini adalah struktur rumah satu-satunya yang tersisa dari Istana Edo sebelumnya. Dan kami tidak mampir untuk melihat kuil tersebut. Sejak bis berhenti di parkiran, hujan masih setia menemani kami, dan kami memutuskan untuk berjalan sebentar saja, karena back pain ini semakin terasa sakitnya diperparah suhu 5 derajat celcius yang membekukan seluruh tulang. Kami berdua memilih untuk duduk saja di dalam bis, tak banyak obyek yang kami abadikan, sementara peserta lain jalan-jalan menikmati kota Little Edo. Setelah semua peserta kembali ke bis, segera kami menuju destinasi kedua yaitu taman Shinjuku untuk melihat taman Bunga Sakura yang sangat termasyur itu.

B. Taman Shinjuku

Hujan gerimis mengikuti kami hingga ke Shinjuku, turun dari bis dan antri depan pintu masuk sambil menggigil dengan membawa payung, benar-benar hari antiklimaks..hiks. Setelah mengantri tiket kami segera masuk ke dalam dan ternyata sudah cukup ramai pengunjung walau hari sangat tidak bersahabat, ya tentu saja kami tidak bisa memilih hari dimana hujan tidak sedang mengguyur bumi, kami hanya mengikuti itinerary. Ya Allah betapa diri ini telah kufur nikmat, hampir setengah hari ini hanya menggerutu saja gegara hujan, padahal hujanMu membawa rahmat, bunga Sakura di taman Shinjuku pasti sangat senang menyambut hujan, Astaghfirullah. Pak Cik memberikan waktu satu jam untuk mengexplore taman ini dan berfoto dengan bunga Sakura yang berwarna-warni ini.

Shinjuku Gyoen adalah rumah bagi sejumlah besar pohon Sakura dari lebih selusin varietas berbeda. Dari akhir Maret sampai awal April, lebih dari 400 pohon dari Inggris mengubah taman rumput menjadi salah satu tempat paling populer dan menyenangkan di Tokyo. Selain itu, taman ini memiliki banyak pohon Sakura yang mekar di pertengahan Maret sampai akhir April. Shinjuku Gyoen juga sering dikunjungi pada saat musim gugur saat daunnya telah berubah warna. Meski banyak pohon Sakura, setiap pohonnya selalu saja banyak pengunjung yang antri untuk berfoto ria, apalagi pohon dengan bunga Sakura yang lebat, pasti paling laris di buat pose. Hasil fotografi di taman ini tidak banyak sedari pagi, mulai destinasi pertama, camera tidak terpakai, lebih banyak duduk manis di dalam tas, karena takut rusak.

C. Shibuya Crossing

Perjalanan kami lanjutkan menuju Mall outdoor terbesar di Tokyo, yaitu Shibuya Crossing. Selesai makan siang, giliran kami untuk mengexplore Shibuya Crossing, dan hujan masih setia menemani kami, rasanya saya malas turun jika tidak karena pesanan anak-anak untuk mencarikan boneka Molang, kebetulan saat bis menuju meeting point kami melihat Disney Store yang lumayan besar, sebesar harapan kami untuk dapat menemukan Molang disana. Setelah sampai di meeting point, tepat di depan departement store Hodi, pak Cik memberikan pengarahan dan meminta kami untuk kembali maximal pk 18.00. Hujan masih cukup deras, berjalan merapat ke setiap toko yang kami lewati, setiap datang menggigil kami segera masuk toko untuk sekedar menghangatkan badan, kemudian lanjutkan perjalanan, hingga sampailah kami di Disney Store.

Shibuya adalah salah satu distrik paling ramai di Tokyo dan penuh sesak, penuh dengan pusat perbelanjaan, makan dan klub malam yang disajikan untuk pengunjung yang datang ke distrik setiap hari. Shibuya adalah pusat mode dan budaya kaum muda, dan jalanannya merupakan tempat kelahiran banyak tren fashion dan hiburan Jepang. Lebih dari selusin cabang department store besar dapat ditemukan di sekitar area yang melayani semua jenis pembeli. Sebagian besar department store dan fashion besar di kawasan ini termasuk Tokyu atau Seibu, dua perusahaan pesaing.

Hingga waktu berkumpul tiba kami tidak menemukan satupun pesanan anak-anak, bahkan counter Robin Ruth pun tidak nampak batang hidungnya, Alhamdulillah tas Robin Ruth versi Tokyo sempat terbeli di kawasan Ginza, tepatnya di Donki.

D. Cinderamata buat pak Cik

Petang telah tiba saatnya bis mengantarkan kami untuk menikmati makan malam, dan kali ini ada yang berbeda, malam ini restouran Bali ada lah pilihannya. Malam ini adalah malam terakhir kami di Jepang, saatnya bagi kami mengucapkan perpisahan kepada pak Cik yang selama di Jepang telah menemani kami dengan cerita hebohnya tentang Jepang juga keramahannya dalam menjamu kami. Terimakasih pak Cik, semoga cinderamata dari kami cukup dapat mengganti apa yang sudah pak Cik berikan untuk kami selama ini, semoga sehat dan sukses selalu dan dapat berjumpa kembali di masa yang akan datang..aamiin.