From Archer to be a Drummer

“When one door closes, another opens; but we often look so long and so regretfully upon the closed door that we do not see the one which has opened for us.” – Alexander Graham Bell

Hari ini, Jumat [26/11/21] dimulainya agenda Kejurkab Sidoarjo, yang dilaksanakan hingga Minggu [28/11/21], tidak lagi diikuti oleh anak-anak kami. Yach, mereka berdua, kak Reva dan adek Mika sedang cuti dari Panahan untuk sementara. Turnamen terakhir, Porkab di awal Oktober, hanya diikuti kak Reva, namun berakhir Cidera dan cuti 3 bulan. Sedih???, Pasti, dan yang kami bisa lakukan saat ini hanya berdamai dengan keadaan. Sudah begitu banyak pengorbanan kami lakukan selama ini di Panahan, tak hanya Uang, Waktu dan Pikiran, juga Keringat dan Airmata, tentu tak mudah merelakan begitu saja. Namun takdir berkehendak lain, bukan anak-anak yang malas atau menyerah tapi Allah menginginkan kami untuk berhenti, dan tugas kami hanya berkewajiban mengimani Takdir, tanpa mempertanyakan.

Kami tidak boleh berlarut-larut dalam kesedihan, dan saat ini kami lebih banyak menghabiskan waktu bersama, jika biasanya hari Sabtu pagi lebih banyak recharge energi a.k.a rebahan di kasur karena sore terjadwal latian Panahan, belakangan olahraga badminton menjadi favorite keluarga. Termasuk kak Belva, kami berlima bisa melakukannya bersama, tidak seperti di Panahan. Adek Mika begitu menikmati, berbeda dengan kak Reva yang bahunya masih sering terasa nyeri, karena memang dia sedang recovery dari Cidera. Menurut dokter Ortopedi, kak Reva memang masih harus istirahat 3 bulan hingga Desember, tidak memfrosir Bahu secara berlebihan, sedangkan adek yang perlu diperhatikan adalah kakinya yang tidak boleh terlalu lelah, tapi karena Badminton hanya seminggu sekali dan bergerak kesana kemari, justru kaki tidak terlalu lama menjadi tumpuan body, berbeda di Panahan, yang lebih banyak diam berdiri, hanya mengandalkan Tangan untuk bergerak.

Selain itu kami mencoba mencari alternatif untuk mengembangkan Skill adek Mika di tempat lain, pilihan kami jatuh di musik. Kegiatan adek Mika diluar Sekolah sementara hanya Les Bahasa Inggris, dan sebenarnya musik merupakan salah satu kurikulum wajib keluarga, dimana saat masih kecil anak-anak semuanya belajar musik, kak Belva piano, kak Reva keyboard dan adek Mika main drum. Saat itu kak Belva dan kak Reva sudah di sekolah dasar, dan mengerti kewajiban masing-masing, berbeda dengan adek Mika yang masih TK yang lebih banyak bermain bukan belajar Drum. Kenapa belajar Alat Musik???, Karena mempelajari alat musik tidak hanya mencerdaskan otak tetapi juga meningkatkan begitu banyak aspek kognitif dan fisik tubuh manusia. Selain itu menurut saya pribadi, juga sebagai Anger Management dan Anti Stress. Semua alat musik tersebut sudah kami miliki sejak mereka Les Musik. Dan hingga saat ini kak Belva dan kak Reva, sudah sangat ahli memainkan Keyboard, Piano dan Gitar, berbeda dengan adek Mika yang masih nol dalam bermain Musik. Skill ini akan kami masukan dalam Resolusi 2022, target adek Mika bisa membaca Not Balok dan tidak hanya Drum, tapi juga bisa memainkan Gitar dan Piano, walaupun tidak harus menjadi ahli. Kamar musik sudah mulai kami pasang peredam, karena berbeda dengan Piano, Keyboard ataupun Gitar, Drum sangat mengganggu pendengaran tetangga. Drum yang dulu dicuekin bertahun-tahun, mulai saat ini sudah bisa terpakai lagi. Mengingat Les Musik hanya seminggu sekali, maka sangat penting latian sendiri di rumah, jika nanti benar-benar resign dari Panahan, semua Peralatan Panahan dapat dijual dan ditukar dengan Drum juga Gitar Electric sekaligus, memang Panahan ini olahraga Mahal..hiks.

https://youtu.be/zvgyRJr2FkE , hasil latian pertama adek, langsung mengcover lagu The Reason – Hoobastank, sebagai awal yang baik. Semoga apa yang kami upayakan saat ini, dapat berkontribusi positif untuk Masa Depan adek Mika nanti. Panahan tidak lagi menjadi Prioritas Utama kami, Go with Flow saja, keputusan lanjut atau berhenti akan kami ambil akhir tahun, sembari menghabiskan jatah cuti, senantiasa berharap yang terbaik untuk anak-anak kami..aamiin, in syaa Allah.

Selamat Ulang Tahun Diriku juga Pernikahanku, Kadonya Vaksin Pfizer 1&2, Alhamdulillah


“The human body has been designed to resist an infinite number of changes and attacks brought about by its environment. The secret of good health lies in successful adjustment to changing stresses on the body.” – Harry J. Johnson

Ma syaa Allah Tabarakallah, hari ini 28 Oktober 2021 kami telah menyelesaikan vaksinasi dosis 2, dengan aman dan lancar, Alhamdulillah. Sama seperti kak Belva, melalui bantuan drg Ayu, tetangga yang juga teman dari kakak kami yang baik hati, kami mendapatkan Vaksin Pfizer sesuai harapan kami berdua, berbeda dengan kak Belva yang saat itu vaksinasi Biofarma. Meski Pfizer belum ada stampel HALAL namun kami berpedoman pada MUI yang mengkondisikan Darurat, sehingga membolehkan Vaksin yang tersedia apapun Merk-nya.

Sejak sembuh dari Covid, kami berharap mendapatkan Pfizer atau Moderna pada vaksinasi nanti, karena besar harapan kami bisa melaksanakan Umroh sebelum Haji, rasanya masih Trauma dengan penundaan Haji yang kedua ini. Selain batal berangkat, kamipun terinveksi Covid, Alhamdulillah Allah masih memberikan kami umur lebih panjang dan semoga bisa segera melaksanakan Ibadah ke Baitullah. Daftar Vaksin yang disyaratkan Arab Saudi tidak ada Sinovac yang paling banyak digunakan di Indonesia. Qadarullah, 3bulan kurang seminggu lepas dari Covid, kami dihubungi oleh drg Ayu yang mengabarkan ada jadwal Vaksin Pfizer dan Moderna, selama September dan Oktober, sesuai jadwal dari Dinas Kesehatan. Kami diberikan pilihan Vaksin dan Tanggal, Alhamdulillah begitu banyak kemudahan buat kami mendapatkan Vaksin, yang kami anggap sebagai Hadiah dari Allah, di hari Ulangtahun saya sekaligus Kado Pernikahan kami, Ma Syaa Allah.

Dan, bertepatan dengan Ulangtahun juga hari Pernikahan saya, 30 September 2021, kami mendapatkan Vaksin Pfizer dosis 1, tanpa antri dan tanpa Kipi, kami berdua sehat dan bugar, in syaa Allah. Setelah mendapatkan Sertifikat dosis 1, kami terjadwal kembali di 28 Oktober 2021, dan barusaja kami melaksanakannya, Alhamdulillah, aman juga lancar, tanpa antrian juga tanpa Kipi, mungkin sedikit demam dan Paracetamol cukup bisa diandalkan. Terimakasih ya Allah, atas segala Karunia yang Engkau berikan, sehingga kami sekeluarga mendapatkan kemudahan dalam pelaksanaan Vaksinasi dengan aman dan lancar, semoga apa yang kami ikhtiarkan sebagai wujud kepedulian untuk sesama, mendapatkan keRidhoan-Mu, dan semoga kami sekeluarga Sehat dan Bahagia selalu..aamiin.

Cidera Keduakalinya, Sementara Rehat 3 Bulan dari Latian.

No one escapes pain, fear, and suffering. Yet from pain can come wisdom, from fear can come courage, from suffering can come strength – if we have the virtue of resilience”. – ERIC GREITENS –

Kamis sore ini [13/10] kami mengantarkan kak Reva untuk mengambil uang saku dari Pengkap di Lapangan. Sejak memutuskan mundur dari Puslatkab akhir bulan lalu, kami tidak terlalu mengharapkan uang saku ini, karena kami tau diri. Puslatkab terhitung memasuki bulan ke-7 di Oktober ini, jika dihitung dan dikurangi agenda PSBB dan PPKM yang berjilid-jilid, maka totalnya 4bulan latian intensif dilaksanakan. Hari Minggu lalu sudah terbagi rata ke semua atlet Puslatkab, dan kak Reva dihubungi oleh Coach sehari sebelum mengambil ke lapangan. Alhamdulillah uang saku kak Reva tidak hangus, karena memang sudah banyak keringat, darah dan airmata di Puslatkab ini, sudah sewajarnya jika kak Reva juga mendapatkan haknya setelah selesai menunaikan kewajiban, selama empat bulan kemarin.

Dengan perasaan campur aduk, kami menuju lapangan Puslatkab, bertemu Coach dan tanda tangan penerimaan uang saku. Tanpa berani melihat teman-teman yang sedang berlatih, kak Reva lebih banyak menunduk. Antara segan dan malu karena sudah meninggalkan kewajiban Puslatkab, walaupun semua juga tau dan memahami jika kak Reva memiliki alasan kesehatan. Coach Kepala tidak ada masalah sama sekali, awalnya sedikit kecewa karena kak Reva sangat diharapkan bisa kembali memperkuat Sidoarjo di Porprov 2022, namun sekali lagi karena fisik yang kurang mumpuni, kak Reva harus berhenti. Apalagi surat dari dokter Ortopedi untuk istirahat selama 3 bulan sudah kami serahkan ke Coach sebagai penguat alasan kemunduran dari Puslatkab. Menurut Coach, agenda Degradasi akan diadakan di bulan November ini, semoga Coach dapat menemukan pengganti kak Reva nanti. Sebenarnya kak Reva juga berat meninggalkan rekan tim yang lain, namun apadaya dia terpaksa memilih mengikuti hati nurani dan juga alasan kesehatan yang paling utama. Flashback sejenak, di akhir September tahun ini, sesaat setelah dibuka kembali dari PPKM, Sidoarjo mengadakan agenda Porkab 2021. Kami sepakat untuk kak Reva bisa mengikuti Porkab sebagai bentuk partisipasi dan tanggungjawab dari Club, juga untuk memastikan jika kak Reva memang belum pantas masuk Puslatkab dengan skor yang kurang maksimal. Sejak keluar dari Puslatkab kak Reva hanya latian sesekali dan kemudian langsung mengikuti ajang Porkab ini, karena seringkali kak Reva mengeluh bahu sakit jika sedang menarik Bow untuk menembak. Tapi karena Nyeri yang dia derita timbul tenggelam, jadi kurang kami hiraukan. Namun kami sepakat setelah agenda Porkab ini, segera ke dokter untuk diobservasi.

Porkab 2021 dilaksanakan tanggal 25 – 26 September, kak Reva terdaftar sebagai Atlet divisi Compound yang bertanding setelah ishoma, tepatnya pk 13.00 di babak kualifikasi. Dengan semangat untuk menyelesaikan tugas bertanding dengan baik, kak Reva sudah mempersiapkan diri dengan baik. O iya, adek Mika tidak mengikuti ajang ini karena sedang cuti dan Bow dipake kak Reva dengan pertimbangan lebih bagus dengan hasil maksimal walaupun lebih berat. Kak Reva menuju lapangan pertandingan sendirian, Mama dan Papa-nya memilih menunggu di Tribun karena kami berdua masih pakewuh dengan kemunduran kak Reva dari Puslatkab, lagipula penonton juga tidak diijinkan mendekat ke lapangan, sekalian saja memantau dikejauhan. Tidak ada target untuk kak Reva, kami hanya berdoa semoga pertandingan ini dapat diselesaikan dengan baik. Tiba-tiba WA masuk dari kak Reva setelah Sesi Pertama selesai. Sambil berteriak dia menyatakan tidak sanggup melanjutkan pertandingan karena bahu sudah tidak mampu menarik Bow, rasa sakit menjalar ke seluruh tangannya dari atas hingga kebawah. Saya segera lari menuju lapangan, masuk ke tempat pertandingan dan melihat airmata kak Reva tumpah diatas Maskernya dan mengatakan Tak Sanggup Melanjutkan. Alhamdulillah Ala Kullihal, antara sedih dan bingung campur aduk tidak karuan, kami ijin ke Coach untuk mengundurkan diri dari pertandingan, Coach mencoba memberi opsi untuk meringankan Bow disaat istirahat antar sesi yang hanya 15menit ini, dan kak Reva menyanggupi untuk mencoba kembali. Sesi kedua dimulai, kak Reva hanya sanggup menembakkan 1 arrow kemudian menyerah dan menangis menahan sakit. Hancur hati ini melihatnya, bagaimanapun saya seorang Ibu, seambisius itukah saya, kak Reva harus cidera untuk kedua kalinya??? Astaghfirullah, maafkan hamba-Mu ya Allah. Kami memutuskan untuk keluar lapangan, berpamitan dengan Coach dan meminta maaf tidak bisa menyelesaikan tanggungjawab hingga akhir sesi kedua.

Kami pulang dengan perasaan campur aduk, mana hari Sabtu, jarang sekali ada dokter, besoknya juga masih hari Minggu, yang standby hanya dokter jaga, biasanya dokter umum. Kami memilih melakukan pertolongan pertama, yaitu telpon kakak yang seorang dokter, meminta obat untuk meredakan sakit akibat cidera, selain itu disarankan untuk membeli alat fisioterapi, karena tidak murah kami putuskan membeli alat kompres saja, yang bisa panas dingin sesuai kebutuhan. Setelah sampai rumah, kak Reva segera bebersih badan dan makan, lalu minum obat anti nyeri, setelah itu obat oles pereda nyeri kemudian bahu yang sakit dikompres dengan kompres panas. Kami hanya bisa menunggu dokter Ortopedi praktek di Mitra dan terjadwal dokter Andi di hari Selasa. Berbeda dengan adek Mika yang dipegang dr Nita yang paling senior di Mitra, kak Reva akan dihandle dr Andi yang paling Yunior, namun sempat menangani Papa-nya anak-anak saat kakinya bengkak karena Overuse. Masih muda, ramah, enak diajak berdiskusi, tidak pelit ilmu, super humble pokoknya. Hari Selasa kami berkonsultasi dengan dr Andi, dengan pemeriksaan melalui beberapa gerakan tertentu dapat diambil kesimpulan, kalo bukan nyeri sendi, bisa juga akibat robekan otot, dan selanjutnya dr Andi menyarankan USG untuk melihat lebih jelas robekan otot besar atau kecil. Dr Andi hanya memberikan dua obat anti nyeri dan peradangan, sambil menunggu hasil USG. Jumat pagi kami terjadwal bertemu dokter Radiologi yang akan memeriksa melalui USG, sebelumnya kak Reva harus melakukan swab antigen terlebih dahulu, setelah hasil keluar kami lanjutkan USG. Hasil USG keluar malam hari dan akan kami ambil Sabtu pagi sekalian kontrol kembali ke dr Andi. Karena satu dan lain hal, mendadak dr Andi pindah jam praktek di sore hari pk 16.00, syukurlah kami tidak ada agenda apapun, sehingga sore bisa kontrol kembali. Dr Andi melihat hasil USG meyakinkan kami tidak ada yang perlu dikhawatirkan, kemungkinan robekan kecil sekali sehingga tidak terdeteksi di USG, namun berdasarkan hasil pemeriksaan hari Selasa, ada rasa sakit dibeberapa bagian menunjukan robekan yang memang harus disembuhkan. Sementara kak Reva harus fisioterapi dan rehat selama 3 bulan tidak diperbolehkan latian. Kak Reva trauma berat mendengarkan penjelasan dr Andi karena jika robekan otot terlalu besar wajib dijahit, sedangkan cidera kali ini adalah yang kedua, rasanya dia ingin memutuskan gantung busur a.k.a pensiun dini dari dunia Panahan. Selain kesehatan, masalah dana untuk pemeriksaan dll juga menjadi beban pikirannya, kak Reva merasa bersalah, orangtua harus mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk kesembuhannya.

Yach..akhirnya kak Reva benar-benar harus cuti menyusul adek Mika, kami ikhlaskan sejenak soal Panahan. Terlalu besar resiko yang harus kami hadapi, kakak dokter juga menyarankan kami untuk meresignkan anak-anak dari Panahan, karena Kesehatan saat ini menjadi Issue utama yang wajib diperhatikan, baik Fisik maupun Mental. Worth it gak sih?, jika kami lanjutkan, kedepannya akan seperti apa, apakah passion dan masa depan anak-anak ada disana, di Dunia Panahan, hmm..??? . Ya Allah, Engkaulah yang Maha Mengetahui yang terbaik untuk hamba-Mu, tunjukanlah dan mantapkan hati kami untuk memilih melanjutkan atau berhenti sampai disini. Begitu banyak yang dipertaruhkan, tenaga, pikiran, kesehatan, financial yang tidak sedikit untuk memperoleh hasil yang belum tentu dapat dinikmati. Entahlah..

Cuti Sejenak dari Hingar Bingar Panahan

“But perhaps you hate a thing and it is good for you, And perhaps you love a thing and it is bad for you. Allah knows, while you know not” [Al Baqarah : 216]

Beberapa tahun lalu, tepatnya 2019 saya pernah menuliskan soal Flat Foot yang diderita adek Mika disini https://deasupernova.wordpress.com/2019/06/25/adek-mika-ternyata-flat-foot-berbahayakah/ . Flat Foot bukan cacat juga bukan penyakit tapi Karunia Allah, pembawaan sejak lahir sama seperti Kidal. Sejak Pandemi datang, kami hanya sempatkan beberapa kali Terapi. Di tengah pembelajaran jarak jauh, olahraga outdoor termasuk Panahan sudah mulai aktif kembali. Beberapa Turnamen Panahan telah adek Mika ikuti, sesekali mengeluh kaki sakit namun masih bisa bertahan. Memang akibat pembelajaran Daring, berat badan adek Mika naik cukup banyak, juga disebabkan mobilitas yang terbatas. Meskipun diimbangi Panahan, tapi karena kakinya sering terasa Nyeri, jadi malas latian.

Daripada terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, apalagi kaki adek terlihat cukup jelas bentuknya semakin tidak Normal, kami kembali memeriksakan adek ke spesialis Ortopedi. Karena situasi masih Pandemi kami tidak kembali ke dr Nita yang dulu memeriksa adek pertama kali di Mitra Keluarga, kami berpindah ke Rumah Sakit khusus Ortopedi untuk menghindari keramaian dan penyakit lain, terutama Covid. Rumah Sakit Ortopedi dan Traumatology Surabaya ini lumayan jauh dari tempat tinggal kami, dan banyak dokter ahli bedah tulang disana. Setelah melakukan appointment, kami datang dan adek mulai diperiksa. Tahapan selanjutnya memesan sandal untuk dipake dirumah dan alas sepatu dengan ukuran tinggi alas tertentu, diharapkan dapat mengurangi cidera akibat Flat Foot juga untuk keseimbangan tubuh. Adek juga diberikan terapi khusus, seperti berjinjit, mengambil kerikil dan lain-lain untuk dilaksanakan di rumah, dengan harapan dapat terbentuk cekungan. Dan yang terpenting adalah penurunan Berat Badan agar tumpuan di kakinya tidak semakin berat. Terapi Kaki dengan Laser ada juga obat Minum dengan kandungan Steroid, yang bertujuan mengurangi peradangan. Namun karena saya takut efek dari Steroid, maka tidak saya berikan [saya dan pak Suami juga relatif sering mengkonsumsi obat ini untuk mengobati peradangan kulit dan tulang]. Setelah sandal dan sepatu selesai dibuat, adek Mika sudah tidak kontrol lagi sampai sekarang.

Bulan Mei 2021, sebelum PPKM dilaksanakan, kami sempatkan adek kontrol ulang ke dr Nita, kami mulai tahapan untuk Foto Rontgen melihat pertumbuhan tulang belakang juga Kakinya. Oiya, masalah adek Mika bukan saja soal Flat Foot tapi juga perbedaan panjang Kaki Kanan dan Kirinya kurang lebih 1cm. Seharusnya Foto Rontgent dilakukan 2020, tapi karena pandemi kami baru bisa fotokan adek Mika di 2021, lanjut pemeriksaan oleh dr Nita, dan untuk perbedaan panjang berkurang 0.5cm, jadi tersisa 0.5cm, Ma syaa Allah, Alhamdulillah. Setelah itu pemeriksaan Flat Foot masih belum ada perubahan, kalaupun sering nyeri, itu akibat dari Berat Badan dan aktivitas Olahraga yang berat. Keputusan dr Nita, adek Mika dilarang mengikuti olahraga Panahan jika untuk Prestasi, hanya boleh untuk Hobby sesekali saja, karena disetiap Pertandingan pastinya ada Pressure disana dan itu tidak baik untuk kakinya. Ya Allah, kenyataan yang membuat kami sedih, bukan hanya soal karir Panahan tapi untuk yang lainnya juga, sedangkan adek Mika sendiri mungkin bingung, masih belum tau apa yang akan dilakukan kedepannya. Panahan sudah memberikan banyak kebanggaan untuk adek Mika, prestasi yang dapat dia persembahkan untuk Sekolah.

Selain terapi ke ahli Ortopedi, kami juga ambil terapi alternatif ke pak Yusuf, beliau dosen sekaligus teraphis cidera olahraga, yang sangat terkenal dikalangan Atlet Jawa Timur dan banyak yang sembuh dari cidera hasil perawatan darinya, termasuk adek Mika. Perbedaan panjang kaki akibat salah satu panggul yang naik, juga hasil terapi beliau, namun tentunya kesembuhan adalah semata-mata karena Karunia Allah, yang hingga sekarang kami masih upayakan untuk adek Mika.

Saat ini Cuti dari Atlet Panahan adalah keputusan yang terbaik, karena perawatan dan terapi tidak akan maksimal jika adek Mika terus dipaksa latian dan pertandingan. Sembari terus membuka opsi-opsi lain, menemukan passion baru yang memungkinan adek tekuni untuk upgrade Skill dan Pengetahuan yang berguna untuk Masa Depannya, bisa dari Musik, Art, Bahasa, juga ilmu yang lainnya. Aktivitas olahraga buat adek Mika juga masih kami berikan dan dampingi, tentunya sesuai nasehat dari Ortopedi, seperti berenang dan bersepeda santai. Selain itu kami ajarkan life skill di rumah seperti memasak, agar tidak bosan. Banyak hal yang bisa dilakukan sembari menunggu kesiapan adek Mika untuk kembali ke lapangan Panahan.

Pandemi ini memang seakan-akan kami dipaksa restart, setelah kak Reva mundur dari Puslatkab disusul adek Mika cuti untuk pengobatan, kami harus menata ulang skala prioritas, terlalu banyak yang menjadi beban di pikiran juga hati kami sebagai orangtua, intinya kami sekeluarga wajib sehat dan bahagia agar imun tubuh tetap terjaga. Doa terbaik untuk anak-anak kami, agar mereka menjadi manusia-manusia yang beruntung baik Dunia maupun Akhiratnya..aamiin. In syaa Allah

Agenda Vaksinasi dan PTM Sekolah

“Kita tidak bisa menciptakan satu generasi yang mengalami learning loss dan tidak bisa dikembalikan lagi,” – Nadiem Makarim

Hari ini Senin [06/09/2021] giliran adek Mika suntik vaksin, setelah vaksinasi kak Reva terlaksana minggu lalu, Alhamdulillah diberikan kemudahan, dengan dikoordinir dan diadakan oleh Sekolah. Dan awal minggu ini, mereka berdua mulai terjadwal Sekolah Offline, begitupun kak Belva, yang Jumat minggu lalu sudah harus kembali ke Jogja, karena Praktek Medis Luring akan segera dilaksanakan mulai tanggal 13/09.

Pagi ini, pk 09.30 kami berangkat ke Sekolah, karena adek Mika terjadwal pk 10.00, kami tidak ingin terlambat karena vaksinasi lebih nyaman jika kita tepat waktu, agar tidak terjadi pemumpukan siswa. Setelah si Papa mengantarkan kak Reva sekolah, lanjut mengantarkan adek Mika vaksin di Sekolah. Alhamdulillah, suasana cukup sepi karena siswa Putri yang terscedule lebih dulu, telah selesai lebih awal. Tanpa menunggu lama, adek Mika sudah dipanggil, dengan sedikit grogi karena cukup lama adek tidak suntik, beberapa kali menolak imunisasi di Sekolah, lebih memilih suntik ke SpA, namun tidak bisa untuk kali ini, pendistribusian vaksin Covid hanya diatur oleh Pemerintah. Ada 4 meja yang harus dilalui adek, meja 1 kecocokan data dengan menyerahkan KK, meja 2 screening kesehatan, nah ini yang agak bingung jawab, Mika sempat suspect Covid tapi karena tidak dipastikan dengan Swab, akhirnya saya putuskan agar Mika menjawab tidak, lanjut meja 3 suntikan vaksin dilakukan, meja terakhir pengisian data dan observasi untuk menunggu reaksi vaksin ditubuh siswa. Alhamdulillah, adek Mika tidak mengalami Kipi, bisa segera pulang dan istirahat dirumah. Alhamdulillah, baik kak Belva, kak Reva dan adek Mika semua aman dan sehat, kemungkinan adek Mika juga menggunakan Sinopharm, seperti kakak-kakak. Sinopharm adalah Sinovac Berbayar tapi batal, akibat tekanan publik, dipandang tidak etis, seharusnya Vaksin Gratis karena untuk kesehatan masyarakat, sesuai instruksi dari WHO.

Bersamaan dengan agenda Vaksinasi adek Mika, pelajar Putri sudah mulai PTM lebih dulu. Sistem PTM adek Mika, seminggu Putri, seminggu Putra, berselang-seling jadwalnya. Karena syarat PTM maksimal kelas berisi 50% siswa, maka adek Mika mendapat jatah di kelas Gedung SMA,..hmm. SMA RJ masih sangat baru, semoga gedung dalam keadaan ready for use, harusnya sih sudah, in syaa Allah. Disaat PTM [offline] menggunakan jadwal PTM, disaat PJJ masih dengan jadwal Online, sedikit agak membingungkan, semoga adek Mika bisa segera menyesuaikan diri tanpa banyak bantuan. Belajar Mandiri ya dek.

Untuk kak Reva berbeda lagi model PTM nya, dia bersekolah selang-seling dengan kakak kelas. Minggu ini, terjadwal Senin Kamis, minggu kedua akan berubah Selasa Jumat, harus cermat dalam mengamati jadwal. Kita syukuri dulu apa yang ada saat ini, anak-anak kembali ke Sekolah adalah suatu pencapaian tersendiri, ditengah Pandemi yang masih membayangi. Semoga kak Reva dan adek Mika segera dapat menyesuaikan diri dan dapat bersosialisasi dengan baik di tahun ajaran baru di jenjang yang lebih tinggi. Semoga semua agenda PTM dapat berjalan dengan lancar, anak-anak didik juga selalu Sehat dan kita senantiasa berdoa agar Pandemi segera berakhir dan dapat bersekolah dengan tenang tanpa syarat..aamiin, in syaa Allah.

Officially, Danica Reva Mengundurkan Diri dari Puslatkab

 “Hidup adalah seni menggambar tanpa sebuah penghapus, jadi berhati-hatilah dalam mengambil keputusan di tiap lembaran berharga dalam hidupmu.”

Hari Jumat, 03 September 2021, akhirnya kami sepakat kak Reva terpaksa mundur dari Puslatkab, yang artinya tidak lagi menjadi bagian Team Panahan Sidoarjo untuk ajang Porprov Jatim 2022. Keputusan ini bukan hasil pemikiran semalam, namun sudah berbulan-bulan. Jika dalam dunia kerja kita kenal masa training selama 3 bulan, kak Reva sudah melampauinya, dan hasilnya dia menyerah, tidak kuat dengan tekanan semi militer dunia Atlet.

She said,” I don’t want to revolve my life around Puslatkab”

Sejak awal keputusan untuk masuk training Puslatkab adalah bukan kesepakatan bersama, hanya penunjukan oleh Pelatih dan orangtua wajib mengijinkan. Kak Reva tidak memiliki hak bicara, dia hanya mengikuti apa yang telah diagendakan oleh Club dan Pengkab. Dengan tandatangan Materei 10rb, kak Reva berkomitmen untuk mengikuti semua aturan yang ada di Puslatkab.

Kami selaku orangtua mendukung penuh karir kak Reva di Panahan, apalagi ini bukan Porprov yang pertama dia ikuti, tahun 2019 kak Reva juga sudah menjadi duta Sidoarjo di ajang Olahraga terbesar di Jatim ini. Dan setelah sebulan mulai latian, tepatkan bulan April kak Reva mulai mengeluh kecapekan, kami semangati terus untuk tidak menyerah. Perbedaan Puslatkab 2018 dengan 2021 ini adalah training lebih panjang dan latian fisik yang lebih berat. Memasuki bulan kedua, kak Reva mulai sering sakit, karena kelelahan mental dan fisik, terutama bahu kanan, takutnya sama seperti bahu kiri yang dulu pernah cidera dan sempat difisioterapi. Sekolah juga sedang melaksanakan Ujian Sekolah dan Personal Project, Alhamdulillah kak Reva dapat menyelesaikan dengan baik dan memuaskan. Bulan ketiga kak Reva mulai berani Speak Up soal ketidaknyamanan dengan aturan dan sanksi yang ada di Puslatkab. Sekali lagi dia ingin mundur, kami tahan dulu dengan alasan urusan Japres SMA belum selesai, kita coba satu bulan lagi. Saya bantu untuk konsultasikan dengan Manager Club, disarankan untuk mundur, namun sayang ditolak oleh Pelatih, dan kak Reva melanjutkan latian Puslatkab dengan keadaan underpressure.

Memasuki bulan Juli, dimulainya tahun ajaran baru, masih dalam kondisi PPKM, Sekolah SMA telah dimulai, dan ternyata SMA 1 Sidoarjo ditunjuk sebagai salah satu SMA di Sidoarjo sebagai Sekolah Penggerak oleh Kemendikbud. Project baru ini mengusung konsep tidak ada penjurusan atau peminatan di kelas 10 kembali ke konsep zaman kami sekolah dulu, dimana kelas 10 semua pelajaran tentang ilmu IPA dan IPS akan diberikan, setelah itu penjurusan dilakukan di kelas 11. Itu artinya di kelas 10 ini beban pelajaran semakin berat karena harus mempelajari 16 Mapel sekaligus. Ditambah lagi dengan beban Sekolah Online karena pandemi masih berlangsung, tentunya tantangan akan semakin berat. Alhamdulillah, minggu depan setelah aturan PPKM masuk level 3, dan bapak Menteri tidak ingin terjadi Learning Loss maka Sekolah Offline akan dimulai secara bertahap. Dan kak Reva sedang menikmati Sekolah SMAnya, dia mengikuti eskul English Club dimana Passionnya berada, dan baru saja lolos seleksi dan menjadi duta Sekolah untuk lomba Speech yang digelar di bulan ini, Ma syaa Allah, semoga mendapatkan hasil terbaik ya Nak..aamiin. Dengan semua aktivitas Sekolah, kak Reva mulai kesulitan atur Scedule dan Time Managementnya agar dapat memaksimalkan semua potensi juga passionnya. Kak Reva menyerah dan memohon bantuan kami, untuk diperbolehkan Mengundurkan Diri dari Puslatkab. Dan sebagai Win-Win Solution, saya menawarkan kak Reva untuk tetap kembali ke Club dan mengikuti Turnamen di luar Porprov dengan aktif, karena bagaimanapun tiket Japres untuk masuk ke Sekolah nomer 1 di kota kami adalah dari Panahan, juga kedepannya masih bisa dimanfaatkan untuk mendapatkan Tiket Japres berikutnya, yaitu menuju Universitas Negeri..aamiin.

Finally, Sabtu ini kami berencana menghadap Coach Kepala untuk menyampaikan Surat Pengunduran diri kak Reva, semoga semua pihak yang berada dalam team Porprov dapat memahami kesulitan kak Reva dalam beradaptasi dengan segala program yang ada. In syaa Allah, tujuan dari mundur ini bukan tentang masalah pengecut atau tidak bisa memegang komitmen, tapi lebih kepada kesehatan mental seorang anak dibawah 18th yang sudah menjadi kewajiban kami selaku orangtua untuk menjaga jangan sampai kami Salah Treatment dan berakibat fatal. Kami tidak ingin kak Reva stress akibat tekanan Puslatkab juga tugas Sekolah. Kami menyadari tidak ada DNA Atlet mengalir dalam darah kami, dan kak Reva juga awalnya tidak mengira akan melangkah sejauh ini di dunia Olahraga, karena awalnya Hobby semata dan yang paling utama karena Dunia Panahan bukan tempat dia berKarir nantinya. Kak Reva sangat multitalenta, dia bisa main musik, menggambar juga jago bahasa Inggris. Kak Reva memiliki impian sendiri, dan passionnya bukan di Panahan, kami ikut mendukung apapun yang ingin dicapai selama itu positif dan berkontribusi pada Masa Depannya. Doa dan dukungan terbaik dari kami orangtuanya, semoga menjadi wanita Shalihah dan bermanfaat bagi Umat..aamiin. In syaa Allah.

Setelah Batal Haji Dua Kali, Qadarullah Positif Covid di bulan Juli bertepatan dengan pelaksanaan Haji.

أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتۡرَكُوٓاْ أَن يَقُولُوٓاْ ءَامَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَنُونَ (٢) وَلَقَدۡ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ‌ۖ فَلَيَعۡلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْ وَلَيَعۡلَمَنَّ ٱلۡكَـٰذِبِينَ (٣)

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. {QS Al-Ankabut [29]: 2-3}.   

Ma syaa Allah Tabarakallah, pagi ini kami bertiga, saya, pak suami dan si mbarep bersepeda bersama. Untuk pertama kali sejak sebagai Penyintas Covid, kami beranikan diri keluar rumah dan berolahraga. Alhamdulillah, segala puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah, Tuhan Yang Maha Besar yang telah memberikan Rahmat dan Karunia, hingga kami masih diberikan kesempatan untuk pulih dari Covid_19. Kami benar-benar tidak menyangka akan mendapat Ujian yang sungguh berat secara bertubi-tubi. Setelah berita tentang pembatalan Haji padahal kami sudah siapkan segalanya, disusul dengan orangtua di diagnosa positif Covid, dua minggu kemudian kami berdua, saya dan pak suami menyusul positif, seminggu setelahnya adek Mika ikutan, dan kak Reva kemungkinan OTG, sebagai atlet imunnya tentu sangat bagus, sedangkan kak Belva posisi masih di Jogja yang seharusnya mulai kuliah luring, terpaksa standby di kosan akibat PPKM, Qadarullah.

Soal keberangkatan Haji ini sebenarnya juga masih simpang siur saat itu, namun Shafira menawarkan untuk siapa saja yang berminat berangkat agar bersiap diri, termasuk Vaksin Meningitis dan Covid_19, yang terpenting masalah pembengkakan Biaya itu concern utama, karena tidak main-main, biaya jelas lebih besar disaat terjadi pembatasan kamar, bis, pesawat dll. Kamipun bergegas vaksin Meningitis, dan mencari Vaksin Covid yang disetujui oleh Saudi, yaitu AZ, Moderna, Pfizer dan J&J. Indonesia sendiri mayoritas masih menggunakan Sinovac, tapi Alhamdulillah, Bapak dan Ibu mendapat AZ diperumahan beliau, sedangkan daerah kami memakai Sinovac. Jadilah, kami mendaftar kemana-mana, belom sempat mendapatkan Vaksin malah dijemput Covid, sesaat setelah pembatalan Haji.

Saat Ayah dan Ibu positif Covid, beliau berdua sudah Vaksin Astra Zeneca, untuk Ayah sudah 2 dosis AZ, dan Ibu masih 1 dosis. Saat penyuntikan dosis 2, Ayah dan Ibu dalam kondisi sudah bergejala, karena Ibu merasa demam, dan ke dokter, saran dokter jangan suntik, tapi karena Ayah hanya batuk tetap nekad suntik. Dua setelahnya karena batuk makin sering, Ayah ke dokter Paru langganan, dan menyarankan PCR, dan saat itu juga Ibu ikut PCR. Qadarullah, besoknya keluar hasil positif, Ayah dan Ibu berinisiatif Isoman. Astaghfirullah, saya panik dan langsung menghubungi kakak ipar yang kebetulan dokter untuk meminta advice, kemudian diberikan obat-obatan dan vitamin. Alhamdulilah Ayah Ibu gejala ringan, tidak lama sudah pulih seperti semula, Ma syaa Allah, atas seijin Allah pastinya dan bentuk ikhtiar dari Vaksin AZ yang bekerja baik pada keduanya. Covid_19 mulai datang mengunjungi keluarga kami, bermula dari pak Suami pulang Jumatan di Masjid, tepatnya tanggal 9 Juli, badan seketika meriang hingga malam hari, paracetamol mulai dikonsumsi. 10 Juli bertepatan dengan 1st day School kak Reva, si Papa mulai demam lumayan tinggi, masih berharap hanya masuk angin, lanjut kerokan sebagai ritualnya. 11 Juli disaat anak-anak mulai Sekolah Online ajaran baru, saya mulai merasa tidak enak badan, kami mulai tidur sendiri-sendiri, kebetulan kamar kak Belva kosong, saya bisa menggunakannya, dan saya berharap hanya flu biasa, karena saya mulai batuk. 12 Juli, demam pak suami tak kunjung turun, kami mulai panik, lanjut wa dengan kakak yang kebetulan seorang dokter. Keputusan sementara kami sebagai Suspect Covid dan dalam pemantauan beserta obat-obatan yang sudah diresepkan, karena kami berdua tidak mengalami sesak maupun anosmia, saat itu orangtua sudah memaksa untuk Swab namun pak Suami belom punya keberanian akan hasilnya.

13 Juli, hari ke 4 pak Suami masih bertahan untuk tidak Swab, dengan menambah ritual berjemur, berharap akan segera membaik. 14 Juli, badan semakin drop, mulai terasa lemas dan semakin malas makan, mual semakin menjadi. Posisi saya masih demam sedikit tapi batuk mulai sering. Anak-anak mulai jaga jarak dengan kami. Saya masih bertahan tidur di kamar kak Belva di lantai 2, sebelah dengan kamar kak Reva dan adek Mika. 15 Juli kami konsultasi dengan Satgas Covid dan diminta segera Swab di Klinik terdekat dan disarankan ke RS Usada, sekitar 3km dari rumah. Kami bingung naik apa kesana, dan pak Suami nekat menyetir mobil sendiri, Alhamdulillah sampai di tempat tujuan. Lanjut kami Swab, sembari menunggu hasilnya kami muter-muter dijalanan. Pak Suami terlihat kuat saat menyetir, namun saat tiba kembali ke RS, dan melihat hasil Positive mendadak seperti orang linglung, jalanpun agak sempoyongan. Kemudian kami menelpon kakak dan disarankan tes darah sekalian, Alhamdulillah hasil normal semua. Setelah itu kami menghubungi ketua Satgas Covid wilayah kami, dr Ninoek. Kami sampaikan jika kami berdua Positive, dan beliau menyarankan agar anak-anak di Swab sekalian. Tapi karena kami bingung dan melihat anak-anak sehat dan bugar kami tidak laksanakan. Kami berdua wajib isoman dua minggu dan memberitahu ketua RT guna dibantu untuk kebutuhan makanan setiap harinya. Kemudian dr Ninoek meresepkan obat berdasarkan keluhan masing-masing dari kami. Acetylsistein untuk Batuk [2×2], Vometa untuk Mual [setengah jam sebelum makan], Vit D 5000 [1×1], Therragran mulitivitamin [1×1] dan Antivirus Invermectin [1×1, selama 3hari] dan Berjemur. Ditambah Habattusauda [3×2] dan VCO [3×2]. Kami segera meluncur ke Apotik dan membeli semua obat-obat dan oxymeter guna memantau saturasi, alat ini sangat penting bagi penderita Covid yang diputusan isoman di rumah. Apalagi jika mengalami Happy Hipoxia dan tanpa Anosmia.

Tanggal 16/07 pak Suami mulai ngedrop, saturasi sekitar 95 – 93, tapi masih mau makan dan kuat berjemur. 17/07 kondisi makin ngedrop dan saturasi berada di 90 -89, saya mulai panik, konsultasi dengan dr Ninoek disarankan untuk menyediakan oksigen. Selama sakit Covid ini selain dalam pantauan dr Ninoek, sejak awal kami juga terus didampingi kakak untuk memastikan semua pengobatan berjalan baik. Di saat kami membutuhkan oksigen, kakak langsung memberikan 2 tabung, kebetulan memiliki usaha klinik kecantikan dan sedang tidak terlalu aktif karena ppkm, sehingga tabung oksigen tidak terpakai, dari dr Ninoek kami dipinjami 1 tabung, dan tetangga juga meminjamkan 1 tabung, total 4 tabung kecil sudah disiapkan.

Dr.Ninoek menyarankan Homecare daripada RS, karena saat itu varian Delta mengamuk dan BOR RS sudah sangat tinggi, dimana-mana full Pasien Covid. Kami dihubungkan dengan pihak Homecare, dan tarif 1.1jt/hari, minimal perawatan 2 hari dan bisa diperpanjang sesuai kebutuhan pasien, kamipun menyetujuinya. Anti Virus sudah disiapkan merk AVIGAN dengan harga 2.1 per strip isi 10, dan sesuai kebutuhan pengobatan kami harus beli 3strip sebanyak 30 untuk konsumsi selama 5hari. Harga obat sedang menggila saat itu, Avigan yang seharusnya sekitar 20k perbiji, yang artinya 200k menjadi 2jt-an, begitupun Acetylsistein yang 1strip hanya 13k menjadi 85k. Benar-benar Covid menjadi lahan bisnis yang manis, saya pun belajar ilmu ekonomi tidak menyalahkan, jika semua diserahkan pasar maka akan ada supply and demand, namun seharusnya Pemerintah hadir sebagai kontrol harga agar tidak seenaknya memainkan harga. Ahh, sudahlah, yang terpenting pak Suami lekas sembuh, itu saja fokus utama saya, berapapun akan saya bayar.

Homecare ini menawarkan perawatan standart RS dirumah, dengan kehadiran Suster yang mumpuni visit 3x sehari. Kebetulan dalam perumahan kami, mbak Vera namanya, beliau yang handle, betapa sibuknya, setiap hari visit dari pagi sampai malam ke beberapa rumah, bergantian. Setiap kali datang selalu ada obat yang disuntikan, dan infus dua hari karena pak Suami susah untuk makan sehingga badannya lemas. Ciri khas dari varian Delta selain anosmia, juga membunuh selera makan, berbeda dengan flu biasa masih doyan makan. 18/07 selesai fase kritis minggu pertama, pak Suami harus menghadapi fase kritis kedua, yaitu Sitokin. Gula darah mendadak naik hingga 240, padahal sebelumnya tidak pernah ada, Komorbit bermunculan, asam urat meninggi dan kolesterolpun mengikuti. Mulai saat itu juga, pak Suami mulai mengkonsumsi obat Gula setiap pagi setelah bangun tidur, sebagai pengontrol Gula. Karena efek dari obat Dexamethason adalah meningkatkan kadar Gula dalam tubuh. Diet makanan mulai dilakukan saat itu juga, badan pak Suami yang sudah mulai langsing karena Covid, semakin langsing efek Diet, alhasil 10kg turun BBnya.

19/07 kami perpanjang lagi layanan Homecare ini selama dua hari. Saturasi turun hingga 90, karena pak Suami agak banyak mobilitasnya, seharusnya disarankan hanya saat bab saja ke kamar mandi, untuk bak menggunakan pispot, tapi siapa mau, beliau merasa sehat. Dr Ninoek menyarankan untuk tidak lepas Oksigen, kecuali makan dan bab. Semenjak Saturasi menurun, konsumsi Oksigen wajib setiap hari, awalnya 4tabung untuk seharian, mulai tidak cukup, setiap pagi saya panik, dimana-mana kosong, kalaupun ada langsung pabrik dan antrinya, dari pagi hingga sore. Selain itu harga dipasaran semakin tidak masuk akal, harga pabrik hanya 30k – 40k menjadi 60k hingga 75k. Hampir setiap malam saya jaga tabung, karena jika habis, saya harus mengganti, dengan rasa lelah yang teramat sangat, karena sejak Covid ART saya liburkan, anak-anak juga masih butuh untuk diperhatikan juga, kesehatan juga kebutuhan sekolah daringnya. Sungguh rasanya, tiap sholat menangis, gak kuat badan ini, tapi harus tetap semangat demi kesembuhan sang terkasih. 20/07, perut mulai mual gak karuan, tidak bisa tidur, dada rasanya gembrebeg dan saturasi kembali turun 90an, karena susah makan dan lemas. Sementara Homecare kami perpanjangan terus, karena kondisi pak Suami yang naik turun. 24/07 Saturasi drop hingga 85 dan GDA 258, saya semakin panik, konsultasi dengan kakak ipar, disarankan masuk RS, karena BOR RS sedang tinggi-tingginya saat itu, maka kakak memghubungi sahabat dokter Obgyn yang praktek di RS Mitra Keluarga dekat rumah kami. Beliau segera menyiapkan kamar untuk dipake pak Suami karena menurut sahabat kakak harus masuk ventilator. Pak Suami dihubungi langsung oleh sahabat kakak, tapi kekeuh tidak mau masuk RS memilih Homecare saja. Menjelang sore saturasi perlahan meningkat, seiring dengan kemauan pak Suami untuk makan dan segera sembuh. 21/07 selera makan mulai meningkat, saturasi naik stabil ke angka 93 – 95, Alhamdulillah, berjemur juga sudah bisa dilakukan dengan perlahan.

Kemudian 25/07 adek Mika mulai menyusul demam, sementara masuk hanya Paracetamol saja, sambil dipantau naik turun suhu badannya. Ujian yang Maha Berat saat itu, disaat pak Suami masih butuh perhatian guna memulihkan kondisi badan, adekpun sama. Dengan kondisi badan yang hampir tak bertenaga, saya harus merawat dua orang kesayangan. 27/07 pak Suami mulai mandiri, dengan beraktivitas ringan dapat membantu saya melakukan pekerjaan rumah, karena beliau tau si ragil juga butuh mamanya. Antibiotik mulai masuk ke tubuh adek, paracetamol jalan terus, treatment yang sama untuk Covid kami berikan, memang adek tidak swab, tapi ciri khas Covid, durasi demam yang lama membuat kami memutuskan adek sebagai Suspect. Jarak inkubasi yang cukup lama, kemungkinan bukan varian Delta, itu diagnose kakak ipar. Alhamdulillah gejala ringan tapi cukup membuat panik si Mama. Kira-kira seminggu adek sudah pulih kembali, Ma Syaa Allah. Bersamaan pula pak Suami juga semakin sehat dan memutuskan untuk segera swab ulang.

Setelah memastikan semua aman, pak Suami cukup sehat, adek juga sehat, kami memutuskan memanggil Lab yang bisa melayani pemeriksaan di rumah. Setelah banyak bisa beraktivitas, mendadak kaki pak Suami bengkak dan sulit berjalan hingga kesakitan, maka kami putuskan untuk cek D-Dimer sekaligus Swab. Petugas Lab datang dengan APD lengkap kemudian hasil selesai sore hari. Alhamdulillah hasil Swab Negatif dan D-Dimer memang lebih tinggi dari batas normal, tapi tidak terlalu tinggi. Menurut diagnosa dr Ninoek, kemungkinan hanya salah makan atau asam urat, karena hanya sebelah saja, tapi gpp cek D-Dimer agar mengetahui sejauh mana Covid melakukan kerusakan. Konsumsi obat hanya boleh Analgesik dan anti Radang non Steroid, jadi agak lama penyembuhannya, berbeda dengan Steroid yang biasa di konsumsi, karena ada Diabet yang harus dijaga.

Tanggal 15 Agustus, dilanjutkan dengan cek darah lengkap, ginjal dan hati, untuk memastikan sejauh mana kerusakan yang ditimbulkan Covid ditubuh pak Suami. Hasil sementara, memang agak tinggi disemua hasil, dan diagnosa kakak sementara ada kecenderungan Fatty Liver atau perlemakan Hati, kemungkinan akibat dari obesitas. Dan untuk saya sendiri, aman semuanya, Alhamdulillah. Keadaan pak Suami terus membaik, kaki bengkak sudah sembuh, namun aktivitas tidak boleh berlebihan, karena fase Long Covid sangat rentan, memang harus extra sabar. Mobilitas olahraga hanya dilakukan di dalam rumah untuk sementara.

Pemeriksaan terakhir adalah Foto Thorax, karena saturasi sempat memburuk maka untuk memastikan keamanan Paru wajib dilakukan. Kami mulai berani keluar rumah dan melakukan pemeriksaan di lab Parahita Sidoarjo, dalam kondisi PPKM kami takut ke Surabaya, karena banyak pemeriksaan dan penyekatan jalan raya. Pagi sekali kami berangkat, sampai Lab sudah cukup ramai, banyak pemeriksaan, selain antigen juga Foto Thorax paling panjang antriannya. Pak Suami cek ulang D-Dimer juga, apakah sudah kembali normal. Hasil kami terima sore hari, Paru dalam kondisi bersih dan D-Dimer masih stabil 700an, butuh diturunkan tapi dengan obat-obatan Herbal saja, karena selama Covid, terlalu banyak konsumsi obat kimiawi, dan itu tidak baik untuk Ginjal.

Oiya, selama menderita Covid ini, ditengah kelelahan yang sangat, saya harus berjuang melawan sakitnya gigi bungsu yang hadir di saat yang tidak tepat. Beruntungnya, depan rumah ada dr Gigi, tetangga baik kebetulan suaminya teman seangkatan kakak ipar juga di FK Unair. Saya wa beliau, konsultasi soal obat sementara yang bisa saya konsumsi, dan ternyata selain analgesik, ada antibiotik dan steroid yang merupakan obat-obatan Covid juga, jadi selain karena karunia Allah dan imun yang bagus, mungkin fisik saya masih kuat, kontribusi dari obat-obatan tersebut. Alhamdulillah semua fase kritis sudah berlalu, kami sekeluarga berangsung pulih, meskipun long covid masih membayangi, in syaa Allah dengan merubah gaya hidup lebih sehat, kami akan segera pulih seperti sediakala. Terimakasih ya Allah, atas Karunia-Mu, kami mendapat pengalaman berharga sebagai Penyintas Covid, dan terimakasih atas kesempatan untuk mendampingi anak-anak kami lebih lama. Banyak Hikmah yang kami peroleh sebagai pelajaran hidup kedepan, agar lebih berhati-hati dalam segala hal, in syaa Allah.

Seminar Proposal di February 2021 and Seminar Hasil di Agustus 2021, lanjut Vaksinasi Biofarma dosis pertama, Alhamdulillah

“Character cannot be developed in ease and quiet. Only through experience of trial and suffering can the soul be strengthened, ambition inspired, and success achieved.”Helen Keller

Ma syaa Allah Tabarakallah, Bahagia dan Bangga melihat kak Belva bisa menyelesaikan Skripsi tepat di semester 6 ini. Meskipun tidak bisa diakselerasi dan harus menunggu setahun kedepan untuk Wisuda Sarjana Kedokteran, kak Belva bisa sedikit santai untuk menyelesaikan materi perkuliahan dan medis yang tersisa. Lega rasanya karena ditengah pandemi yang tak berujung, dan PPKM yang tak jelas kapan berakhir, Skripsi bisa rampung, dan in syaa Allah mendapat nilai A..aamiin.

Tahapan pengerjaan Skripsi oleh Fakultas Kedokteran diawali oleh pengajuan Seminar Proposal, dan saat itu kak Belva mengajukan judul “Perbedaan Perilaku Coping antara Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia Tahun Pertama dan Terakhir”. Kak Belva sejak awal mengikuti pembelajaran di Kedokteran memang menunjukan minat ke ilmu Syaraf dan Kejiwaan, karena mungkin kebanyakan Baca Novel (?). Beberapa tahun terakhir juga banyak didengungkan soal Mental Health, jadi kak Belva lebih tertarik mengupas masalah Psikologi. Perilaku Coping sendiri merupakan cara individu dalam penanggulangan Stress. Apalagi sejak pandemi, susah sekali untuk melakukan penelitian yang membutuhkan Laboratorium, karena Kampuspun terpaksa tutup dan perkuliahan diadakan secara Online, maka demi kelancaran pengerjaan Skripsi, kak Belva memilih sistem Kuesioner. Alhamdulillah lancar untuk Seminar Proposalnya, selesai di awal tahun, tepatnya bulan February dan mendapat nilai A.

Selesai dengan Sempro, kak Belva lanjut mengebut untuk Semhas, setelah kembali ke Jogja bulan Juni karena ada rencana Luring Medis, dan ternyata hanya seminggu kembali ke Kampus sudah dijemput PPKM. Akhirnya kak Belva hanya bisa stay di Kosan, sembari kuliah dia fokus mengerjakan KTI untuk persiapan Semhas, target selesai akhir semester 6 agar tercapai. Kak Belva masih sempt riwa-riwi bimbingan ke rumah Dokter pembimbing, dan Ma syaa Allah kak Belva sudah lancar mengendarai Mobil, kami yang di rumah menjadi berkurang was-was ya, Alhamdulillah. Dan satu minggu lalu, disaat harus menghadapi Ujian Blok di hari Kamis lanjut ujian MEQ di hari Jumat, kak Belva juga harus Ujian Semhas setelah istirahat Jumatan, Ma syaa Allah Tabarakallah, benar-benar Hectic Day, tapi kak Belva dapat menyelesaikan dengan baik, mendapatkan nilai A dari Dokter Pembimbing dan sedikit Revisi dari Dokter Penguji, namun sampai hari ini kak Belva belom memulai karena Ujian OSCE juga baru diselesaikan di hari Senin dan Kamis minggu ini, dahsyat sekali Kak. Takjub!!!

Alhamdulillah, rasanya ucapan syukur tidak henti terucap dari bibir dan hati ini. Target yang tercapai tepat waktu, diakhiri dengan kepulangan kak Belva ke rumah, hari Minggu lalu, sebenarnya hanya dua bulan di Jogja tapi kenapa terasa kangen sekali, berbeda saat kuliah offline, kak Belva begitu menikmati kegiatan di Kampus, bukan hanya mager di Kosan, tentu sangat membosankan, berbeda dengan dirumah, yang ramai dengan kedua adeknya. Pulang ke Sidoarjo, ditemani Marcel yang kebetulan juga asli Jawa Timur, tepatnya Prigen, Pandaan. Dikawal sampai rumah, dan sempat terjadi penyekatan di Tol Ngawi, Alhamdulillah Marcel sudah vaksin lengkap, sehingga bisa lanjut sampai Sidoarjo, lanjut Marcel dijemput oleh kakaknya dirumah. Yach, sementara ini Marcel hanya teman, saya sering berpesan pada kak Belva, jika kamu belum selesai dengan dirimu sendiri jangan cari tantangan baru, karena menjalin hubungan dengan lawan jenis secara khusus harus sanggup menerima segala konsekuensi, baik itu hati, energi dan pikiran, banyak yang perlu dipertimbangan. Paling tidak selesai dokter, masih sekitar 22 tahunan, masih sangat muda untuk mengejar cita-cita berikutnya. Lebih baik meminta langsung kepada Allah, sambil memantaskan diri, in syaa Allah yang Terbaik akan datang disaat yang tepat.

Selanjutnya agenda lain yang wajib segera dikerjakan kak Belva dirumah adalah Vaksin, selama ke Jogja dua bulan kemarin, cukup sulit cari vaksin apalagi jadwal kuliah yang padat merayap. Alhamdulillah, kembali dimudahkan oleh Allah, melalui bantuan tetangga dokter yang kerja di klinik BPJS, hari Rabu kemarin kak Belva bisa langsung vaksin dosis 1, tertulis di kartu Vaksin menggunakan Biofarma, itu artinya Sinopharm (berbahan dasar Sinovac) yang sempat akan Berbayar itu kan, kalo tidak salah. Saat ini susah memilih Vaksin, lebih baik seadanya dan secepatnya. Meski ada planning Umroh di akhir tahun, namun Vaksin yang masih mudah didapatkan adalah Sinovac, padahal Saudi tidak mau Sinovac, kecuali dibooster oleh merk lain. Kami hanya berusaha ikhtiar, apalagi setelah kami sekeluarga kena Covid di bulan Juli kemarin. Semoga Allah Azza Wa Jalla senantiasa memberikan kesehatan, kebahagiaan dan keberkahan hidup untuk kita semua, dan Semoga pandemi segera berakhir sehingga semua aktivitas dapat berjalan normal kembali seperti sediakala..aamiin.

Astaghfirullah, sekuel PPKM terbit kembali, Sedih!

“Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang beriman” [QS 3 : 139]

Hari ini Sabtu, 3 Juli 2021, hari pertama mulai diberlakukan kembali PPKM Darurat sampai tanggal 20 Juli 2021. Antara sedih, kecewa, gregetan, stress, campur aduk gak karuan. Ingin menyalahkan, tapi gak bisa apa-apa. Kenapa Covid ini tak kunjung selesai, siapa yang harus bertanggungjawab, tidak ada yang bisa memberi jawaban. Setelah vaksin sudah beredar di masyarakat, mengapa angka penderita Covid makin melambung tak karuan. Bahkan Ayah dan Ibu juga menjadi korban. Siapa yang salah, vaksin atau manusianya?, Yang jelas virusnya..hiks. Para ahli berdebat sendiri, vaksin tidak cukup menyelesaikan karena virus terus bermutasi, tapi vaksin yang diberikan masih merk itu-itu saja. Belom lagi teori konspirasi yang mengatakan semua berlatar belakang bisnis. Sepertinya benar kata Nabi SAW, mungkin saat ini kita telah masuk di fase keempat, Era Disrupsi a.ka. kekacauan, Fitnah ada dimana-mana, sulit bagi kita menyaring berita, mana yang benar dan mana yang salah.

Tanggal 1 Juli 2021 bapak Presiden telah mengumumkan soal PPKM Darurat yang berlaku untuk pulau Jawa dan Bali, yang diikuti seluruh Kementrian melalui IG. Perekonomian kedua pulau dengan penduduk terbesar di Indonesia terpaksa babak belur lagi. Beberapa Kepala Daerah sebenarnya keberatan dengan kebijakan ini, salah satunya Sultan Jogja, karena beliau merasa tidak bisa memberikan nafkah untuk masyarakat yang terdampak. Kemudian muncul lagi PPKM dengan kearifan lokal sebagai solusi, yang nantinya bisa secara otonomi memberikan keluwesan aturan, disesuaikan dengan seberapa parah penyebaran Covid, agar rakyat tidak semakin menderita. Contohnya Sidoarjo ini, jika Mall harus tutup, Sidoarjo memilih boleh tetap beroperasi hingga pk.17.00 untuk beberapa tenant yang menjual Kebutuhan Rumah Tangga, Makanan, dan Obat-obatan. Untuk Resto yang diberi kesempatan buka, tidak diperbolehkan melayani sistem dine in, tapi take away saja.

Peraturan PPKM ini jelas-jelas merugikan rakyat, disaat perekonomian mulai bangkit, kami harus jatuh kembali. Memang penyebaran Covid harus dihentikan, tapi apakah tidak cukup dengan Prokes saja? Haruskah dengan PPKM??, Sedangkan disaat yang sama Pintu masuk dari Luar Negeri masih terbuka lebar, dimana letak keadilan, ya Allah. Beberapa orderan traveling Candela terpaksa cancel lagi, karena banyak destinasi yang ditutup, sudah berapa bisnis pariwisata yang terpuruk, baru juga mulai melek dari mati suri, sudah merem lagi. Begitupun Omset toko yang mulai sedikit naik, kemudian menurun akibat tahun ajaran baru Sekolah, dan bulan ini bertemu PPKM, menyebabkan banyak karyawan dirumahkan, jelas mereka akan lebih banyak saving daripada belanja, apa kabar omset??..ah semoga tidak terlalu parah..aamiin. Untuk menyesuaikan PPKM Darurat, Candela Travel lebih banyak melakukan rescedule wisata, juga mengerjakan Website dengan banyak pilihan Open Trip nantinya. Untuk Dea Wijaya kami ubah jam operasional lebih awal 1 jam, yaitu pk 07.00 – 20.00.

Saya pribadi berusaha keras menjaga kewarasan otak dan body, apapun caranya. Di saat mengetahui orangtua mengalami positif Covid itu sudah melemahkan, apalagi diikuti pembatalan PTM Sekolah, padahal anak-anak memasuki jenjang yang baru, Mika ke SMP dan kak Reva ke SMA, belum lagi kekecewaan kak Belva dimana dia sudah kembali ke Kampus dengan semangat 45 malah bertemu lockdown lagi, sedangkan praktek medis baru setengah dikerjakan, dan harus menghadapi OSCE 2 semester secara online. Kemudian bisnis kami harus menghadapi PPKM darurat, benar-benar Ujian yang menguras tenaga dan pikiran, padahal saat ini kami harus menghadapi tuntutan Pajak juga, Subhanallah. Kami hanya bisa pasrah dengan keadaan ini, tugas kami sebagai muslim yang beriman wajib ikhlas dan sabar dalam menjalani semua takdir yang Allah berikan. Dan kewajiban selanjutnya adalah tetap semangat dan berusaha menemukan cara untuk Survive, entah bagaimana caranya, harus bisa. Semoga pandemi ini segera berakhir, bagi yang sakit segera diberikan kesembuhan dan yang meninggal diberikan husnul khotimah..aamiin. Allah Maha Besar dan Maha Mengetahui yang terbaik bagi hambaNya, akan ada hikmah dibalik setiap Ujian yang diberikan. Dan Semoga kita semua senantiasa terus bersabar dan mensyukuri setiap Karunia-Nya sekecil apapun, agar selalu sehat dan tetap semangat.

Subhanallah, Ayah dan Ibu Positif Covid


.اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ البَرَصِ، والجُنُونِ، والجُذَامِ، وَسَيِّئِ الأسْقَامِ
“Ya Allah, aku berlindung kepada Engkau dari penyakit lepra, gila, kusta, dan penyakit-penyakit yang buruk.”

Malam ini [22/06/21] Ibu mengabarkan melalui WA jika hasil Swab PCR adalah positif untuk beliau berdua. Innalillahi, antara bingung dan sedih, tapi juga siap menerima berita ini. Ibu melanjutkan kabar jika Gejala yang Ayah dan Ibu derita dalam kategori Ringan, hanya membutuhkan Isoman di Rumah. Mungkin karena RS penuh, karena lonjakan pasien Covid sedang gila-gilaan saat ini, dan dokter juga menyarankan untuk itu. Segera saya minta hasil laborat untuk sharing ke kakak yang kebetulan dokter untuk meminta advice apa yang harus dilakukan. Melihat hasil tersebut, kakak hanya menyarankan Isoman, menyiapkan semua amunisi vitamin D, C dan E, Telor Kampung Rebus dan Susu Bear Brand setiap hari, tak lupa perbanyak konsumsi buah-buahan, balur badan dan hirup kayu putih dan rutin minum Jahe Anget serta Madu. Saya visit untuk berkirim makanan dan obat-obatan ke rumah Ayah hanya sampai teras depan rumah saja, memastikan beliau berdua isoman dengan nyaman, semoga Allah Azza Wa Jalla segera memberikan kesembuhan seperti sediakala..aamiin.

Ayah dan Ibu sebenarnya sudah suntik vaksin, namun untuk yang kedua memang baru saja dilaksanakan. Ayah sudah dalam kondisi batuk dan Ibu menunda suntikan kedua karena sedang drop juga. Di rumah Ayah ada keponakan, anak dari adek saya yang sudah meninggal dan hidup bersama Ayah dan Ibu, yang dua minggu lalu juga batuk cukup parah hingga sedikit kehilangan penciuman, tapi saat itu tidak melakukan swab. Kemungkinan pertama tertular dari keponakan yang kebetulan masih aktiv diluar karena sudah PTM Sekolah, meskipun seminggu sekali. Namun, saya berasumsi apakah bukan faktor dari suntikan Vaksin, karena kejadian terlalu dekat, otomatis dalam darah Ayah terdapat virus tersebut, meski dilemahkan. Entahlah..sekali lagi saya orang awam. Dan di perumahan Ayah dan Ibu, dimana termasuk perumahan orang-orang Lansia yang mendapat Vaksin, saat ini dalam kategori Zona Merah, karena banyak penduduk yang terinveksi Covid.

Saat saya menulis, ini adalah hari ketiga, sejak kemarin badan saya juga terasa tidak enak, sedikit serik ditenggorokan dan bersin meski jarang-jarang. Saya juga sempat mengantar keponakan saat mengambil raport di Sekolahnya. Hmm..hari ini saya berencana Genose, tapi kaki pak Suami sedang kambuh radangnya. Sementara anak-anak jaga jarak dengan si Mama. Saat ini saya dan pak Suami sama-sama sedang mengkonsumsi obat golongan Steroid yang merupakan salah satu obat Covid dengan gejala sedang, karena menderita radang, meski beda jalur, saya radang kulit, pak Suami radang tulang. Semoga hari ini bisa Genose, sehingga psikis saya tidak semakin memperburuk keadaan. Apapun hasilnya, mari kita nikmati saja. Allah Maha Mengetahui yang terbaik untuk kita. Alhamdulillah ala kulli hal, in syaa Allah.