Piala Bupati Kabupaten Ponorogo 2018 (27 – 30 September)

“The best part of competition is that through it we discover what we are capable of and how much more we can actually do than we ever believed possible”

Kamis pagi ini (27/09) seminggu yang lalu, kontingen Paser Archery Club kota Sidoarjo bergerak menuju kota Reog Ponorogo. Team yang berjumlah sekitar 28 Atlet Panahan dikawal 3 Coach ini mengikuti turnamen Bupati Ponorogo Cup 2018 sebagai ritual tiga bulanan guna menambah jam terbang atlet. Dengan diantar Bus Candela Holiday tepat pk 06.00, kami berangkat. Satu Bus dikawal oleh 3 mobil, dua mobil wali atlet termasuk kami, dan satu mobil coach. Dua wali atlet ini sengaja fulltime mengawal selama pertandingan, jika kami orangtua Reva Mika ada di divisi Recurve dan Compound terjadwal di hari Jumat, sebaliknya wali atlet Zuhair dan Fadhil ada di divisi Standart Bow yang bertanding di hari Sabtu dan Minggu, untuk sebagian wali atlet yang lain akan berdatangan menyusul saat anak-anak mereka terscedule bertanding, tidak banyak yang hadir mendampingi, selain mungkin sibuk kerja ada juga anggota keluarga lain yang lebih membutuhkan orangtuanya. Alhamdulillah kami sendiri, sebagai pengusaha sangat flexible dengan waktu, apalagi sang kakak yang sudah kuliah di Jogja, jadi kami tidak memiliki tanggungan yang terlalu berat, untuk bisnis yang sudah berjalan dapat kami pantau dari jauh. Dan scedule Turnamen kali ini ada rencana akan visit kak Belva juga karena sudah sangat kangen dengan adek-adeknya, kami diuntungkan dengan jadwal divisi Reva Mika yang bertanding lebih awal dihari Jumat, sehingga Sabtu dan Minggu dapat langsung meluncur ke Jogja.

Sekitar pk 11.00 kami telah memasuki kota Ponorogo, setelah menemukan lapangan Menur sebagai tempat pertandingan Panahan kali ini, para Atlet segera bergegas mengikuti prosedur awal yaitu Cek Alat dan Coba Lapangan yang terscedule di hari Kamis. Cuaca benar-benar terik panasnya, ditambah angin yang asoy geboy hingga tenda serasa mau ambruk saja. Setelah Cek Alat selesai dan pemanasan dipimpin oleh Coach, ternyata kami harus break Ishoma terlebih dahulu, dan pk 13.00 baru mulai lagi latian menembak. Dengan kondisi Angin yang superb seperti ini, anak-anak kami sarankan hanya menembak 3 anak panah saja, karena ditakutkan target panahan akan jatuh dan mematahkan anak panah, sedangkan cadangan anak panah juga menipis, benar-benar harus dihitung untuk persiapan pertandingan, dan bisa diprediksi, jika Angin seperti ini tembakan pasti semburat. Uji Coba Lapangan telah selesai dan diakhiri pk 15.00, para atlet segera masuk hotel dan beristirahat. Besok Jumat pertandingan divisi Recurve dan Compound telah terjadwal, untuk divisi Standart Bow masih bisa istirahat karena bertanding di hari berikutnya.

Jumat (28/09), kami mengantarkan Reva dan Mika ke lapangan pk 07.00, pertandingan akan dimulai tepat pk 08.00. Mengapa anak-anak kami tidak kumpul dengan atlet paser yang lain?, karena kendaraan sangat terbatas, bus yang kemarin mengantar sudah balik ke Sidoarjo, dan kendaraan yang dipake suttle sekarang hanya Elf. Sebenarnya kurang bagus juga anak-anak anjem orangtua, karena terasa kurang akrab dan membaur, namun demi penghematan biaya untuk semua atlet, ya gitu deh. Karena setiap Turnamen Open seperti ini seluruh biaya keberangkatan adalah dana Mandiri dari Atlet sendiri, berbeda dengan event Negara yang dibiayain penuh oleh Pemerintah.

Pembagian nomer pertandingan, kak Reva mendapat nomer 29B divisi Recurve Putri kelompok Umum dan adek Mika mendapat nomer 4B divisi Compound Putra kelompok SD. Posisi adek paling Kiri lapangan sedangkan kak Reva di sebelah paling Kanan lapangan. Pembagian pendampingan juga kami atur, Papa dampingi si adek dan Mama mengawasi si kakak. Yang musti atur strategi adalah jatah pemotretan, kalo pertandingan barengan gini, susah photografernya..hahaha

Diawali dengan babak kualifikasi, dimana semua atlet baik divisi Recurve maupun divisi Compound menembak bersama untuk tembakan percobaan 2x tanpa skoring. Kemudian dilanjutkan penembakan resmi 2 sesi tiap sesi terdiri dari 6 rambahan, dimana tiap rambahan ada 6 anak panah dan tiap rambahan dihitung skornya. Hasil akumulasi skor dijumlahkan untuk sesi 1 dan sesi 2 kemudian ditotal. Medali tiap Sesi pada Babak Kualifikasi telah disiapkan, sayang posisi adek Mika di sesi 1 berada di nomer 6, dan sesi 2 berada di nomer 5, total ranking berada di nomer 6. Sebaliknya hasil kak Reva lebih tragis, di sesi 1 hanya di posisi 17 dan di sesi 2 tetap pada posisi 17, sehingga hasil total babak kualifikasi tetap pada posisi 17..hiks. Beratnya persaingan divisi Recurve ini selain pada kelompok Umum dimana semua Atlet dari kelas SMP sampai anak Kuliahan, sedangkan kak Reva baru kelas 7 dan beberapa bulan saja beralih ke Recurve yang sebelumnya Standart Bow, masih sangat Amatiran. Dengan hasil seperti ini jelas kak Reva tidak bisa masuk babak Eliminasi atau Aduan, dimana diambil hanya ranking 1 – 16 untuk melaju ke babak 1/8 final. Sedih namun tetap legowo, kak Reva tipikal anak yang gampang ikhlas, qonaah atas hasil yang diperoleh, dia memyadari kekurangannya, jadi gampang berdamai dengan keadaan. Sebaliknya adek Mika melaju ke babak 1/4 final, lawan yang akan dia hadapi pertama kali adalah atlet kota Kediri.

Sementara si kakak hanya bisa support rekan satu team yang masuk babak aduan, saya pindah mendampingi adek Mika yang melakukan pertandingan di babak aduan. Setelah istirahat Ishoma, pertandingan dilanjutkan, babak eliminasi menggunakan sistem poin, dengan menembakkan 3 anak panah, jika menang mendapat poin 2, jika kalah mendapat nol. Pada rambahan pertama sempat kota Kediri menang dari adek Mika (2 – 0). Rambahan kedua adek menyamakan posisi 2 – 2, rambahan ketiga adek Mika menang 2 – 4 dan tambahan rambahan keempat atlet kota Kediri berhasil dikalahkan dengan poin 2 – 6. Alhamdulillah ^^

Masuk babak Aduan semifinal, adek Mika bertemu rekan satu Team yaitu Rio yang telah berhasil mengalahkan atlet Ponorogo. Di atas kertas kemampuan Rio jelas lebih daripada adek Mika, namun tidak terlihat down sedikitpun diraut wajah adek Mika. Dengan PD nya adek Mika sempat mencuri poin di rambahan kedua dengan menyamakan posisi 2 – 2, Rio sempat terlihat ngambek karena tidak menyangka adek Mika bisa menyusul. Namun kami dan adek Mika siap untuk kalah, setelah Rio bisa membalik posisi 4 – 2, lanjut 6 – 2 atas Mika. Dengan kekalahan Mika di semifinal ini, maka selanjutnya adek akan menghadapi Abel dari kabupaten Kediri untuk perebutan juara ketiga (Medali Perunggu), tetap Alhamdulillah ^^

Istirahat sejenak, kemudian lanjut perebutan Medali Perunggu, bertemu atlet kabupaten Kediri dengan postur dan wajah yang mirip adek Mika, gembul nan tampan (hahaha..mamanya narsis). Dengan semangat 45, cukup dengan 3 rambahan, poin 6 – 0, Abel ditaklukan tanpa sempat membalas. Antara senang dan sedih tergambar diraut wajah adek Mika melihat Abel menangis sesenggukan, merasa kasian tapi dalam pertandingan memang harus siap menang ataupun kalah, Alhamdulillah adek Mika berhasil menyabet Medali Perunggu di babak Eliminasi ini, Great Job Adek, We are very Proud of you ^^

Tak terasa hari sudah sore, sudah hampir pk 17.00, terpaksa Divisi Recurve dan Compound Beregu mundur besok pagi, padahal Sabtu dan Minggu telah terscedule divisi Standart Bow, lagipula rencana awal kami ingin bablas ke Jogja untuk visit kak Belva. Alhamdulillah sajalah, semoga setelah Aduan Beregu kami bisa langsung ke Jogja. UPP dilaksanakan tepat pk 17.00, adek Mika maju ke depan menerima Medali Perunggu untuk Divisi Compound Putra kelompok SD kategori Perorangan.

Pagi ini Sabtu (29/09), revisi jadwal yang ada, divisi Recurve dan Compound Beregu akan dipertandingkan. Dengan setting lapangan yang sudah diubah mengikuti keperluan divisi Standart Bow menyebabkan pertandingan Recurve dan Compound tidak bisa bersamaan. Di satu sisi sangat gembira karena bisa support kakak dan adek secara bergantian, di sisi lain kami akan sangat terlambat berangkat ke Jogja.

Sebelum pertandingan dimulai, para atlet diberi kesempatan uji coba tembakan beregu, karena ada perbedaan sedikit dengan perorangan. Telah siap siaga Team Paser Archery dengan 3 Srikandinya yaitu Cherry, Fawwas dan Reva. Mereka bertiga akan menghadapi Team kabupaten Tuban di 1/8 final. Tiket kemenangan ini akan membawa mereka untuk lanjut di Semifinal.

Dengan melihat hasil Kualifikasi, Team Tuban bukan lawan yang berat, skor nilai hampir seimbang, kemungkinan Team Paser menang peluangnya masih sangat besar. Pertandingan Beregu segera dimulai, dengan sistem nilai dan poin, 3 atlet ini akan menembakan 2 anak panah dengan cara bergantian, sekali Cherry, Fawwas dan terakhir Reva, kemudian diulang mulai Cherry lagi, Fawwas dan Reva kemudian skoring, jika menang poin 2, kalah nol. Alhamdulillah awal yang baik, rambahan pertama poin 2 – 0 untuk Team Paser, lanjut rambahan kedua keadaan Seri, karena Team Tuban berhasil membalas 2 – 2, rambahan ketiga 4 – 2 untuk Team Paser dan rambahan terakhir 6 – 2 Team Paser berhasil memenangkan pertandingan dan lanjut ke babak Semifinal, Alhamdulillah ^^

Sementara, divisi Recurve Putri Umum, Recurve Putri SD dan Compound Putra Umum istirahat ganti divisi Compound Putra SD dan Compound Putri Umum memulai pertandingan. Sementara kak Reva istirahat sayapun berpindah tempat untuk mensupport adek yang mulai bertanding. Team Compound Putra kelompok SD ini sebenarnya dipaksakan, hanya Team Ponorogo yang resmi terdaftar untuk pertandingan Beregu. Jika hanya ada satu Team maka tidak bisa dipertandingkan, akhirnya para Coach atlet Compound dari berbagai Kota sepakat membuat Team Gabungan untuk melengkapi Team yang ada. Dari hasil undian antar Coach didampingi Panitia maka diperoleh Dua Team yaitu Team Paser terdiri dari 2 orang atlet Paser dan satu atlet kota Malang, kemudian Team Tuban terdiri dari satu atlet Tuban, satu atlet kota Kediri dan satu atlet kabupaten Kediri. Hanya ada 3 Team, jadi sudah bisa dipastikan semua Team akan memperoleh Medali Emas, Perak dan Perunggu. Pertimbangan Panitia dan para Pelatih ini adalah atlet yang masih anak-anak ini memerlukan motivasi tinggi, salah satunya adalah perolehan Medali, sepertinya memudahkan padahal sebenarnya tidak, mereka juga harus berjuang mendapatkan yang terbaik dalam pertandingan yang akan mereka hadapi nanti. Dengan Motivasi seperti ini kelak atlet pemula yang masih anak-anak ini semakin istiqomah dan semangat meniti karir di Panahan, sebagai sarana Regenerasi Atlet di masa depan.

Seperti pada divisi Recurve, untuk Compound juga diberi kesempatan untuk uji coba tembakan beregu, kebetulan adek Mika baru sekali ini ikut Beregu bahkan divisi Compound adalah turnamen pertamanya. Yang paling penting untuk dicermati Beregu adalah waktu, jangan sampai penebak ketiga tidak kebagian waktu, karena yang pertama dan kedua kurang cekatan. Alhamdulillah latian sebentar adek sudah memahami prosedur permainan, karena sejak awal atlet Paser divisi Compound Putra SD tidak mengirimkan Team, jadi selama ini belum pernah latian Beregu.

Pertandingan Beregu divisi Compound Putra SD pada semifinal ini berdasarkan nilai total kualifikasi perorangan menempatkan Team Tuban lawan Bye dan Team Paser lawan Team Ponorogo. Jika dilihat dari Juara Perorangan dimana Medali Perak dan Perunggu ada di Team Paser, optimis Team Paser dapat mengalahkan Team Ponorogo dengan mudah. Alhamdulillah Team Paser unggul 6 – 0 atas Team Ponorogo dan pertandingan selesai dengan cepat.

Selanjutnya kembali ke divisi Recurve Putri, Team Paser akan bertemu dengan Team Ponorogo di Semifinal, sebagai Team dengan nilai Team nomer 2 di babak kualifikasi tentu bukan lawan ringan, di atas kertas mereka akan menang dengan mudah, namun Team Paser harus tetap optimis bisa mengalahkan dengan mengerahkan kemampuan terbaiknya. Pertandingan segera dimulai, dan bisa ditebak Team Ponorogo amat sangat mudah mengalahkan Team Paser tanpa sempat ada perlawanan..hiks. Mari kita lanjutkan Perjuangan untuk perebutan Medali Perunggu melawan Team Blitar.

Hari mulai siang, cuaca panas mulai terasa membakar, namun Team Beregu terus melakukan pertandingan. Pada perebutan Medali Perunggu kali ini Team Paser menghadapi Team Blitar, kekuatan mereka tidak berbeda jauh, namun di atas kertas mereka lebih unggul. Bismillah sajalah, dan memang beberapa kali nilai Team Paser dan Team Blitar kembar, sehingga muncul poin 3, setelah Team Paser sempat menyamakan kedudukan di 2 – 2, lanjut 3 – 3, kemudian tembakan keempat 5 – 3 Team Paser harus mengakui keunggulan Team Blitar, dan Team Paser terhenti di urutan ke 4. Setelah mempersembahkan yang terbaik, tawakal akan hasil akhir adalah kewajiban.

Kak Reva telah menyelesaikan kewajibannya dengan baik, meski hasil kurang memuaskan, tidak ada raut penyesalan sama sekali di wajahnya, kak Reva tertolong oleh sifat qanaahnya dan adek Mika berhasil meraih Juara ketiga di perorangan, kak Reva sangat bangga dan bahagia. Final kali ini kak Reva bisa menyaksikan langsung pertandingan adek Mika yaitu perebutan Emas antara Team Paser melawan Team Tuban. Sayang sekali salah satu atlet Beregu Team Paser, yaitu Hilmy yang berasal dari kota Malang tidak dalam kondisi fit, sejak pagi dia mual hingga muntah, akibatnya tembakan banyak yang mis, Rio dan adek Mika masih stabil bermain cantik. Namun akhirnya skor Team Paser tertinggal cukup jauh, dan menyerah dengan poin 6 – 0 untuk Team Tuban. Alhamdulillah saja, masih berhasil meraih Perak. Di dalam Team atau Beregu jika salah satu bermain buruk kita tidak bisa saling menyalahkan, tapi saling melengkapi, apapun hasilnya wajib ditanggung bersama.

Hari sudah mendekati Dhuhur, divisi Recurve dan Compound Beregu telah usai digelar, setelah Ishoma akan dilanjutkan oleh divisi Standart Bow hingga sore. Kami ingin segera meluncur ke Jogja karena kak Belva telah menunggu, namun adek Mika masih ingin menunggu UPP untuk naik ke panggung dan melaksanakan pengalungan Medali, menurut informasi awal UPP digelar sore pk 17.00, namun setelah kami tunggu hingga sore ternyata dimundurkan Minggu sore sekalian divisi Standart Bow selesai semuanya, mungkin maksudnya agar divisi yang lain ikut menunggu hingga semua pertandingan selesai digelar. Menjelang Maghrib baru kami meluncur menuju Jogja, akhirnya adek Mika legowo jika harus diwakilkan teman atlet Paser yang lain saat penerimaan Medali. Dan mas Vian salah satu atlet Team Paser pemenang Emas Beregu Compound Putra kelompok Umum yang bersedia mewakili Mika saat UPP Minggu Sore.

Tiba di Jogja hampir tengah malam, Sabtu ini jelas batal bertemu kak Belva padahal Minggu pagi ada Student day di kampus hingga siang. Yach, sudahlah, kak Reva dan adek Mika biar sempat istirahat Minggu agak siangan ke kosan kak Belva. Rencana dadakannya adalah Minggu malam kak Belva kami bawa ke Hotel tempat kami menginap, Senin pagi kami antar ke kosan lanjut ke Kampus, sedangkan adek-adeknya kami pastikan membolos dan sekaligus kami balik ke Sidoarjo. Minggu (30/09) adalah hari ulang tahun saya, kami berencana merayakan makan bersama, tidak ada yang spesial seperti tahun-tahun sebelumnya. Namun kali ini hadiah spesial hadir di ulang tahun saya yang ke 43 yaitu Medali Perak dan Perunggu sekaligus juga sebagai hadiah ulang tahun Perkawinan kami ke 18 yang kami peringati setiap tanggal 01/10. Terimakasih ya Allah atas segala rahmat dan karunia-Mu, Semoga keRidhoanMu senantiasa tercurah untuk keluarga kami.. Aamiin

Advertisements

Auckland – New Zealand (Loyalty Trip Nutricia 2018)

“To my mind, the greatest reward and luxury of travel is to be able to experience everyday things as if for the first time, to be in a position in which almost nothing is so familiar it is taken for granted.” -Bill Bryson

Alhamdulillah mengawali tahun 2018 ini, kami berdua mendapatkan reward traveling New Zealand yang merupakan rewards dari Danone – Nutricia atas keberhasilan kami mencapai target yang ditentukan atas penjualan susu Nutrilon, SGM dan Bebelac. Sejak akhir tahun 2017 kesibukan kami berdua meningkat tajam, karena persiapan buka usaha baru setelah Tours and Travel di bulan Agustus 2017, dan kami lanjutkan dengan Baby Shop “Baby Dea” di bulan Februari 2018. Di saat yang sama kami masih mengurusi Reva dan Mika mengikuti Turnamen Panahan di bulan yang sama. Bahkan saat kami sehari sebelum pulang dari New Zealand kak Belva juga sedang menghadapi USBN hari pertama, duh benar-benar menguras energi dan fikiran saat itu. Bahkan kesibukan ini masih berlanjut hingga tulisan ini baru sempat saya buat, mengingat harus mempersiapkan kak Belva kuliah di Jogja, Reva mengikuti PORKAB, lanjut sekarang persiapan Turnamen Bupati Ponorogo Cup. Banyak sekali Rewards 2018 yang lain kami skip karena keterbatasan waktu, hingga tahun ini berakhir kemungkinan hanya New Zealand saja yang dapat kami nikmati, reward dari Fitti ke Eropa kami klaim dengan mentahan, reward unicharm kami jual, reward Malaysia buat Bapak dan Ibu, lanjut reward Kapal Pesiar juga untuk Bapak dan Ibu, Alhamdulillah saja, uang mentahan bisa digunakan sebagai tambahan biaya kuliah kak Belva, juga dapat membahagiakan orangtua, jadi tahun ini fokus urusan anak-anak, tahun depan 2019 Insyaallah kita kejar lagi.

Mendekati deadline tanggal 30 September sebagai ritual tahunan, masih ditengah kesibukan yang padat merayap, saya mulai saja tulisan perjalanan kami ke New Zealand. Senin pagi itu (12/03) kami berangkat dari Surabaya menuju Jakarta sebagai meeting pointnya, selanjutnya terbang menuju Sydney untuk transit sejenak dan terakhir menuju New Zealand mendarat di Auckland International Airport sebagai destinasi awal. Pemenang untuk Reward New Zealand ini hanya 3 toko saja, yaitu kami Dea Wijaya dari Sidoarjo (Jawa Timur), Raja Susu Jakarta dan Anterah dari Semarang (Jawa Tengah) dikawal dengan 4 orang dari team Nutricia, juga tour leader dari Dwidaya bernama pak Bobby. Grup kali ini terlihat sangat kecil, karena memang program rewads seperti itu, pemenang reward Spanyol juga diikuti 3 toko, kami sengaja tidak kejar reward Spanyol karena sudah pernah, cukup sekali dan ingin mencoba wilayah yang berbeda. Tidak banyak yang kami bawa, selain traveling cuma 5 hari, tidak seperti biasanya kami kurang antusias, mungkin karena baru saja dari Aussie di bulan September, jadi belum terlalu kangen jalan keluar negeri, juga disaat yang bersamaan kami disibukan oleh turnamen anak-anak kami di Malang. Berangkat dengan kondisi badan yang kurang fit, karena baru pulang dari Malang hari Sabtu tengah malam, istirahat sehari, Senin pagi kami berangkat menuju Jakarta. Sampai Jakarta kami masih harus transit Selasa dini hari di Sydney dan demampun tidak bisa dihindari, segera konsumsi segala obat yang bisa diminum untuk meredakannya, dan tiba di New Zealand, Selasa siang (13/03) dengan badan masih terasa meriang. Fatalnya lagi microSD smartphone yang saya bawa ternyata tidak berfungsi, alamat sisen fotografi akan sangat terhambat, kami bawa Mirrorless, namun ada beberapa foto yang hanya bisa dan lebih praktis menggunakan smartphone, jadi lengkaplah sudah perderitaan. .hiks (Astaghfirullah, ampuni hamba yang kufur nikmat ini ya Allah). Alhamdulillah cuaca di Auckland siang ini sangat bersahabat, tidak dingin dan tidak juga panas, namun sejuk dan nyaman, dan destinasi hari pertama kami di sini berjalan dengan lancar. Destinasi kami selama di New Zealand hanya berkeliling di pulau Utara saja, dengan menggunakan Bus Medium karena peserta yang tidak terlalu banyak.

A. Auckland Waterfront, Mission Bay, Michael Joseph Savage Memorial Garden, Parnell Village melewati Queen Street dan Harbour Bridge

Mengawali siang ini, kami langsung City Tour, berkeliling kota Auckland yang cukup ramai lalu lintasnya namun tidak macet seperti Jakarta atau Surabaya, sepertinya skala kota ini meski Ibukota tapi lebih mirip Sidoarjo, jauh dari kata Metropolitan. Tidak lama kami sampai di wilayah Taman Michael Joseph Savage Memorial, yang letaknya tinggi di atas bukit di Tamaki Drive. Michael Joseph Savage Memorial adalah tempat ketenangan dan kemegahan. Dilengkapi dengan kebun dan kolam yang indah juga obelisk yang anggun memperingati tempat peristirahatan salah satu perdana menteri Selandia Baru yang paling dicintai, disertai pemandangan kota Auckland, pelabuhannya dan Teluk Hauraki indah dalam setiap arti kata. Namun area di sekitar tugu peringatan memiliki sejarah yang lebih komplex.

Michael Joseph Savage adalah perdana menteri pertama Selandia Baru dari partai Buruh, di kantor dari 1935-1940. Ia membangun kesejahteraan sosial dan sangat populer di masyarakat. Setelah Savage meninggal di kantor, ia dimakamkan di tanjung di dalam bunker senapan bersejarah, dan peringatan yang bisa kami lihat hari ini dibangun di sekitar makamnya.

Membuka sedikit sejarah masa lalu, Bastion Point merupakan tanjung dengan sejarah Māori, suku asli New Zealand yang sangat penting. Nama Māori-nya adalah Takaparawhau, atau sebagai alternatifnya, Whenua Rangatira. Dipenuhi oleh suku Ngati Whatua, tanah ini dibeli atau disita oleh pemerintah antara tahun 1840-an dan 1950-an. Ngati Whatua juga meminjamkan sebagian kepada pemerintah untuk keperluan pertahanan selama Perang Dunia II. Alih-alih pemerintah mengembalikan tanah, pada tahun 1970-an justru memutuskan untuk menjualnya untuk perumahan berpenghasilan tinggi. Ini menghasilkan protes dan pendudukan damai yang berlangsung selama 507 hari. Akhirnya, tanah itu secara resmi dikembalikan (dengan kompensasi) melalui Perjanjian Waitangi. Namun hari ini kedamaian di Bastion Point dan Savage Memorial dapat melupakan peristiwa memalukan di masa lalu. Ini adalah area terkenal sebagai tempat bermain layang-layang dan seringkali terlihat pesta pernikahan berpose untuk foto dengan latar belakang Pelabuhan Waitemata yang menakjubkan.

Setelah puas mengambil foto di sekitaran Michael Joseph Savage Memorial, kami melanjutkan perjalanan melewati Mission Bay yang merupakan surga tepi laut untuk melihat kota Auckland. Dibangun di sekitar pantai yang indah dan berpasir di pohutukawa dan terpisah dari pusat kota namun dekat dan indah, tidak heran bahwa Mission Bay adalah tujuan populer bagi penduduk lokal dan wisatawan. Tidak peduli apapun cuacanya, Mission Bay menyambut semua orang dengan tangan terbuka dan berbagai pengalaman. Menikmati taman, yang dapat diakses melalui darat dan laut atau hanya bersantai dan menjelajahi sekitarnya. Dari air mancur ikonik hingga bersantap dengan pemandangan Rangitoto dan Pelabuhan Waitemata, itu benar-benar Heart of Auckland yang ramai dan semarak.

Setelah Mission Bay lanjut mampir lagi menuju Auckland Harbour Bridge yaitu jembatan delapan jalur di atas Pelabuhan Waitematā di Auckland, Selandia Baru. Ia menghubungkan St Marys Bay di sisi kota Auckland dengan Northcote di North Shoreside. Ini adalah bagian dari State Highway 1 dan Auckland Northern Motorway. Jembatan ini dioperasikan oleh NZ Transport Agency (NZTA). Ini adalah jembatan jalan terpanjang kedua di Selandia Baru, dan yang terpanjang di Pulau Utara. Meskipun sering dianggap sebagai ikon Auckland, banyak kritik atas nama panggilan ‘coathanger’ dan bentuknya yang meniru Sydney Harbour Bridge. Kami mengambil foto sejenak, tidak terlalu dekat dengan jembatan, hanya bisa mengamati dari kejauhan.

Selesai dengan Harbour Bridges kami menuju Hotel tempat kami memginap dan melewati Parnell Villages merupakan gagasan Les Harvey. Pada 1970-an ia membeli sejumlah toko-toko tua di sepanjang Parnell Rise dan menggunakan bahan-bahan daur ulang untuk memulihkannya. Dia mendorong para pengrajin dan pedagang jalanan untuk beroperasi di sana, dan selama dekade pertama desa itu memiliki suasana bohemian. Daerah pinggiran kemudian menjadi lebih modern dan sekarang menjadi rumah bagi butik-butik mahal dan restoran-restoran yang modis.

Sembari melewati Queen Street kami menikmati indahnya kota Auckland dengan lebih jelas, hari masih sore, sholat Ashar pun baru saja dimulai, dan kamipun tiba di hotel Crowne. Ahh..leganya, Alhamdulillah bisa bebersih diri dan sholat. Acara malam ini selepas maghrib hanya makan malam di resto Chinese Food dan acara bebas, kami ingin jalan-jalan di sekitar hotel yang memang berada di jantung kota Auckland, dimana sepanjang jalan terlihat banyak toko souvenir dan branded fashion. As usually kami tidak tertarik belanja fashion apalagi branded yang mahal itu, hanya satu keinginan berburu tas Robin-Ruth yang sayangnya lagi tidak dibuat untuk negara New Zealand atau kota Auckland, berbeda dengan Australia dengan banyak versi kota besarnya. entahlah???…*sedih*. Kami hanya berjalan di sekitar hotel karena badan masih terasa lelah, banyak toko souvenir dan fashion yang tutup padahal belum terlalu malam, sekitar pk 20.00, namun anehnya etalase toko masih terlihat terang dan tidak tertutup meski sudah tertulis “Closed”, hebatnya negara ini, apakah biaya listrik gratis, keamanan apa juga terjamin, kita sedang omongin negara maju nih, hindari bandingkan dengan negara sendiri..hiks. Kami membawa belajaan hanya makanan kecil semacam snack, cookies dan coklat untuk kami coba sebagai referensi buah tangan saat balik Indonesia nanti, lagipula masih hari pertama tiba di New Zealand, apalagi hari terakhir kami masih akan standby di Auckland lagi dan di hotel yang sama.

Semalam kami tidur sangat pulas, maklum hari pertama tour selalu menguras energi karena kualitas tidur di pesawat jauh dari kata layak, apalagi kami ada proses transit di Aussie, capek banget tapi seneng kq, Alhamdulillah.

Happy 17th Birthday my Bebe

“When you have successfully identified your vision, goals, and purpose in life, differentiating a distraction from an opportunity becomes very simple! Think about all the so-called opportunities that you’ve received over the years and note how many turned out to be distractions. Know where you are going and that a passenger should never dictate your journey. Happy 17th birthday, my love!”

Barakallahu fii umrik, semoga Allah senantiasa memberikan keridhoan, perlindungan, kelancaran dan kesuksesan buat kak Belva dalam menuntut Ilmu jauh dari Mama dan Papa, sehat dan bahagia selalu ya Nak 😘

Selasa (18/09) pagi ini kami berdua memutuskan berangkat ke Jogja setelah kak Belva yang punya keinginan mudik hari Jumat terpaksa batal karena jadwal Kereta sampai Surabaya pk 00.00, ngeri banget bayangin kak Belva pulang sendirian karena Fadheela turun Mojokerto dan Antika yang domisili Surabaya juga batal pulang. Rencana kepulangan kakak sebenarnya seminggu setelahnya yaitu 29 – 30, karena bertepatan dengan pameran Big Bad Wolf yaitu pameran Buku Impor terbesar di Indonesia yang hanya di adakan di Jakarta dan Surabaya, sekali lagi batal karena bertepatan dengan Turnamen adek-adek di Ponorogo.

Pagi setelah adek-adeknya berangkat sekolah kami langsung menuju Jogja, tiba pk 16.00 dikosan kakak. Papa menyempatkan membenahi Mesin Printer Brother sebagai hadiah kakak dan sangat dibutuhkannya saat ini. Setelah Maghrib kami agendakan makan malam di Crabbys yang lokasinya tidak terlalu jauh. Alhamdulillah makan malam sambil wejangan kami selipkan di saat 17 th ini. Kami ingin kak Belva benar-benar fokus pada kuliahnya hingga selesai, urusan jodoh titipkan yang terbaik kepada Sang Pemilik Takdir. Kadang terbersit kekhawatiran kak Belva akan mulai merasakan jatuh cinta (duh..anakku sudah besar). Semoga di ulang tahunmu yang ke 17 ini, kak Belva semakin tekun beribadah, giat belajar dan sibuk dalam kegiatan positif serta memperluas jaringan pertemanan demi kesuksesan di masa depan..aamiin

Tes Psikologi VS Tes Sidik Jari

Every child is unique. Not everyone can have the same talent. Do not compare them with others in the family or friends who do good in theirs academics. That’s when the kids loose their confidence in what they are good at! – Queen Princess

Sabtu pagi ini (15/09), SMPI Raudhatul Jannah, sekolah kak Reva mengadakan Sosialisasi Hasil Psikotest yang sebelumnya telah diadakan sesaat setelah MOS, awal tahun ajaran baru. Acara dibuka dengan pembacaan beberapa Ayat Al Quran, kemudian dilanjutkan dengan sambutan Kepala Sekolah SMP, membahas sekilas tentang program sekolah dan pencapaiannya. Selesai dengan sambutan menuju acara utama yaitu tentang hasil tes Psikologi siswa kelas 7. Didahului dengan Yel-Yel baru yang diajarkan ibu Feni selaku perwakilan dari lembaga Nira Firna, yaitu jika disapa dengan kalimat “Apa Kabar?? “, jawablah dengan “Alhamdulillah, mencerdaskan orangtua Tauladan, Allahu Akbar!!”. Setelah diulang berkali-kali dan berhasil, baru kemudian kami para wali murid ini diatur kembali tempat duduknya sesuai urutan kelas, guna memudahkan pembagian hasil Psikotest. Dan kamipun berpindah tempat, setelah semua memegang hasilnya, maka ibu Feni mulai menjelaskan.

“Mari Bapak dan Ibu, kita buka hasil Psikotest anak-anak, karena ini bersifat Rahasia tolong agar nilai IQ yang tertera cukup diketahui orangtua dan ananda yang bersangkutan, jangan melihat anak orang lain ya Bapak dan Ibu,” bu Feni melanjutkan. Cukup kaget melihat nilai IQ kak Reva selain nilai tersebut sama dengan nilai IQ saat dia TK (berarti stuck, tidak bertambah), juga perbedaan dengan kak Belva yang cukup ekstrim. Kak Reva berada di posisi “Average” dengan nilai 108, kak Belva ada di “Superior” nilai 122, bahkan saat SMA naik lagi “Very Superior” di 136,..hmm (apa ada yang salah??), padahal saya sendiri sebagai Mamanya, saat SD 109, SMP sudah 114, SMA naik lagi 122, bukan hendak membandingkan hanya mencoba menganalisa saja.

Mari kita menyimak penjelasan ibu Feni, di lembar terdepan selain nilai IQ, tertera persentase Numerik, Verbal dan Figural, pengukuran potensi akademik berdasarkan kesehatan mental anak saat menghadapi persoalan yang berhubungan dengan angka, tulisan juga gambar. Dari hasil tersebut dapat menunjukkan gaya belajar yang paling efektif buat anak-anak. Dilanjutkan dengan menjelaskan Multiple Intelegent, dimana hasil kak Reva yang paling membuat saya shock adalah nilai Kinestetisnya yang rendah, padahal dia saat ini sedang berkarir di dunia Atlet. Oh, tidaaakkk….???. Kecerdasan tertinggi ada di Visual Spasial, lanjut Intrapersonal, kemudian Musik, kecerdasan Kinestetis ada di Urutan paling bawah dinomer 2. Berbeda dengan kak Belva yang memiliki kecerdasan Logis Matematis dan Intrapersonal dengan prosentase yang sama, dilanjut kecerdasan Verbal Linguistik. Semua hasil dari Kak Belva sesuai dengan yang terlihat selama ini, kak Belva kuat di Matematika juga Bahasa. Hasil Kepribadian keduanya yang sama, Tertutup dan Emosi Stabil padahal menurut saya anak-anak cukup terbuka dengan kedua orangtuanya, dan Alhamdulillah memang anak-anak EQnya berkembang dengan baik. Penilaian selanjutnya untuk profesi yang disarankan di masa depan, kombinasi berdasarkan penilaian ketertarikan dan disesuaikan dengan Multiple Intelegentnya, untuk kak Reva dibidang Aesthetic, Musical dan Computational, sedangkan kak Belva dibidang Musical, Medical dan Literacy.

Jika dibandingkan dengan hasil tes Sidik Jari memang cukup banyak perbedaan, yang paling terlihat di Multiple Intelegent nya, pada tes Sidik Jari, urutan 3 besar kecerdasan kak Reva ada di Logis Matematis, Interpersonal kemudian Kinestetis, hmm..so weird. Saat sisen tanya jawab, dengan antusias saya adalah orang pertama yang bertanya, “saya benar-benar kecewa dengan hasil tes ini bu, mengapa kecerdasan Kinestetis anak saya rendah sekali, sedangkan ananda baru saja terjun di dunia Atlet, padahal menurut hasil Tes Sidik Jari, kecerdasan Kinestetis ananda juga tinggi, apa ada yang salah, lalu apa yang musti saya lakukan?? ” tanya saya. Ibu Feni menjawab, “Atlet apa bu??, apakah ananda ikut karena keinginan sendiri atau dipaksa??, “. Saya menimpali lagi, “Atlet Panahan dan itu karena keinginannya sendiri, “. Ibu Feni melanjutkan lagi, “coba ananda ditanya lagi, apa benar-benar dia berminat di bidang tersebut, kalaupun iya, seperti yang saya katakan diawal, Psikotest ini hanya merupakan salah satu cara membantu menemukan bakat dan potensi bukan berarti mutlak satu-satunya penentu kesuksesan di masa depan, jika ananda senang tetap disupport bu, bagus sekali jika menjadi Atlet Panahan, selain Indonesia masih membutuhkan banyak Atlet juga dia bisa berlatih fokus, konsentrasi, juga merupakan kegiatan positif buat ananda, bagus sekali bu, namun itu tadi orangtua juga tidak baik jika memaksakan ambisi terhadap anak, untuk Tes Sidik Jari mohon maaf saya termasuk yang kurang setuju karena Sidik Jari akan mengalami perubahan, ” bu Feni menutup jawaban atas pertanyaan saya. Ahh..sudahlah, saya juga bukan lulusan Psikologi, semua alat ukur memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, semua juga masih ilmu perkiraan, Sidik Jari mengatakan DNA tidak akan berubah, pun Psikotest mengatakan IQ hanya berubah naik dan turun sekitaran nilai itu saja.

Setelah ngobrol panjang kali lebar dengan kak Reva atas hasil Psikotest yang dia peroleh, intinya dia suka dan tetap istiqomah di olahraga Panahan, selain itu dia ingin melanjutkan latian Piano sebagai sarana meningkatkan nilai IQ nya sekarang, daripada memperbanyak Bacaan, padahal kamar kak Belva sudah semacam Perpustakaan saja. Kak Dewi yang pernah mengajari anak-anak bermain Piano dan Keyboard menyanggupi untuk Privat seminggu sekali, karena tempat les musik dekat rumah dimana kak Dewi dulu mengajar telah berhenti beroperasi. Tugas orangtua saat ini hanya mengarahkan sesuai keinginan anak dan menyediakan sarana prasarana, serta menjaga keistiqomahan mereka dalam menjalani konsekuensi pilihan. Semoga kelak apapun yang menjadi pilihan dan impian mereka di masa depan dapat diraih dan mendapatkan keridhoan dari Allah Azza Wa Jalla..aamiin

Jaga Diri dan Prinsip dengan Baik dan Benar Nak! Harus Kuat dan Istiqomah!!

Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. [QS Al Ahzab : 35]”

“Ma, minggu besok kak Bel boleh jalan-jalan???,” tulisan WA sabtu itu sedikit mengagetkan saya (..hmm, anakku sudah besar). “Boleh, sama siapa?, naik Grab ya nak, jangan pake motor, ” jawab saya. “Iya Ma, barengan banyak teman kq, mau ke Hartono Mall,” balasan WA kak Belva. Baiklah, Fii amanillah ya kak. Hingga detik ini rasanya tidak percaya kak Belva sudah berstatus Mahasiswi, sepertinya baru kemarin mama masih mengantarkanmu ke Sekolah, Ma syaa Allah, waktu begitu cepat berlalu dan saat ini sedang menimba ilmu jauh dari orangtua. Alhamdulillah tehnologi saat ini sudah sangat canggih, hampir setiap saat kangen bisa langsung video call melalui WA, namun kami biasakan untuk saling menghormati kesibukan masing-masing. Bahkan KRS kak Belva pun saya minta untuk sharing agar tidak mengganggunya, begitu sebaliknya jika kak Belva membutuhkan orangtuanya ini, dia akan WA lebih dahulu untuk meminta ijin video call untuk menyampaikan kebutuhannya. Beberapa hari lalu kak Belva menceritakan tentang kesan dan pesan awal perkuliahan, dia menceritakan jika kelas besar terbagi menjadi 2 kelas, kemudian ada kelas Diskusi, kelas Tutorial dan Praktikum, ada Dosen Wali mengawal 10 mahasiswa hingga selesai Strata 1 (Sarjana Kedokteran), ada juga Dosen pembimbing Diskusi membawahi kelompok yang sama khusus untuk materi Diskusi, Alhamdulillah keduanya merupakan dosen matkul Biokimia, dimana dia sangat tertarik dengan ilmu yang satu ini. Semoga semua petunjuk ini sebagai isyarat Ridho Allah hadir untuk kak Belva, hingga nantinya akan terus diberikan kemudahan dan kelancaran dalam menuntut ilmu di fakultas kedokteran UII ini..aamiin

Selain bercerita tentang kuliah, dosen, mata kuliah, kak Belva juga bergosip tentang genk barunya. Setelah melalui MOS dan pembagian kelas, pada akhirnya teman-teman dekat tercipta dengan sendirinya. Sekarang kak Belva memiliki teman dekat perempuan berlima orang, satu dari Surabaya, satu dari Mojokerjo, kak Belva sendiri dari Sidoarjo, satu dari Bandung dan yang paling jauh dari Kalimantan Selatan yang kebetulan satu kos dengan kak Belva, Alhamdulillah lega ada teman jika mudik bareng naik Kereta. Mereka memiliki latar belakang yang hampir sama, orangtua dari kalangan berada, rata-rata sudah membawa mobil untuk mobilitas mereka. Sempat libur 1 Muharam kemarin kak Belva diajak jalan lagi bareng genk tapi kak Belva menolak ajakan karena memilih belajar. Kak Belva bergosip, “Temen-temenku itu Ma, kalo pengen sesuatu langsung saja beli, kak Bel merasa aneh, gak ngerti lifestyle-nya, yang cowok itu juga suka shopping baju gitu,”. Si Mama langsung nyerocos, “Maklum kak, anak Horang Kayah, Mama dulu punya pengalaman yang sama, kuliah di Universitas Swasta termahal di Surabaya saat itu, teman-teman Mama anak orang kaya, doyan shopping malas kuliah, Mama sesekali ikut tapi tidak terbawa arus, Mama tetap punya prinsip, apalagi tiap pulang kuliah biasanya Mama langsung kulakan ke Pasar, mereka baik tidak mengucilkan Mama, mereka butuh Mama karena sering titip absen, namun pada akhirnya Mama lulus lebih dulu, padahal Mama kuliah sambil ngerjain Toko, Alhamdulillah. Kamu juga harus seperti itu kak, boleh bergaul tapi tetap jaga diri dan prinsip dengan baik dan benar, jaga kepercayaan orangtua, sekolah kak Belva susah dan mahal, jangan dibuat mainan,” “Iya Ma, in syaa Allah, ini kak Bel juga lagi belajar dan besok Selasa ada belajar kelompok lagi sama Fadheela,” sambung kak Belva lagi. Fadheela teman dari Mojokerto yang merupakan teman satu Tugas MOS AORTA 2018, sepertinya dia gadis yang baik dan tidak neko-neko seperti kak Belva, mereka setipe, in syaa Allah seiring waktu kak Belva akan menemukan Sahabat yang punya satu Visi dan Misi yang bisa saling support untuk keberhasilan di masa depan.

Kami tipikal orangtua yang tidak memanjakan anak, kami ajarkan hidup bersahaja, jika meminta barang mahal lebih dari biasanya, semisal Handphone mereka wajib berprestasi dulu, selain itu kami juga mengajarkan financial planning, memberi uang saku bulanan, sebagai sarana mereka dapat memenej uang yang sekian untuk jangka waktu sekian, dalam hal fashion pun mereka tidak mengenal branded, biasa saja kelas Matahari, hanya untuk sepatu terkadang kami belikan yang branded agar awet apalagi sepatu olahraga untuk Panahan. Kami benar-benar mengajari mereka menghargai uang, tidak menghamburkan untuk sesuatu yang tidak penting. Masalah cara berteman dengan laki dan perempuan, mungkin kami hanya memberi batasan sesuai norma dan adat ketimuran, ditambah background dari Sekolah Islam, mereka juga sudah mendapatkan ilmu tentang Adab Pergaulan berdasarkan ajaran Islam, jadi mereka paham betul batasan yang harus dipatuhi, in syaa Allah. Kami juga berpesan agar kak Belva istiqomah menjaga ibadah wajib dan sunah, tilawah Quran jangan ditinggalkan dan tekun belajar, itu prioritas utama selama kuliah di Jogja. Mama dan Papa hanya bisa mendoakan dari jauh, semoga Allah Azza Wa Jalla senantiasa memberikan perlindungan dan dijauhkan dari segala marabahaya juga hal-hal negatif yang mengganggu kelancaran dan kesuksesan kak Belva dalam menuntut ilmu..aamiin

Tantangan Atlet Pemula Indonesia

Asian Games 2018 “Energy of Asia” baru saja berlalu, meninggalkan euphoria di Indonesia apalagi ditambah dengan bergelimangnya bonus 1.5 M plus-plus bagi Atlet pemenang medali Emas membuat semua orang menginginkan diri mereka atau anak-anaknya menjadi Atlet. Hmm..Seandainya mereka tau betapa berat hambatan dan rintangan mewujudkannya, mungkin akan berpikir seribu kali lagi..hiks. Saya merasakan sendiri bagaimana perjuangan kak Reva juga orangtuanya ini dari awal hingga saat ini yang masih dilevel kabupaten. Memulai karir sebagai Atlet Panahan adalah babad alas di keluarga kami, tidak ada DNA Atlet dalam darah anak-anak, karena biasanya Atlet itu juga anak-anak dari mantan Atlet, jadi secara Bakat dari Orok, mereka sudah lebih teruji dalam hal ini, contohnya dari olahraga Panahan ada mbak Dinda yang merupakan anak dari Master Coach Lilis Handayani, yang kemarin juga ikut Asian Games cabor Panahan divisi Compound namun sayang belum beruntung mendapatkan Medali Emas. Awal kak Reva memilih Panahan sebagai hobby karena terinspirasi tokoh Merida, putri Raja Pixar dalam Film “Brave” buatan Disney, yang memperlihatkan ketangkasan Merida dalam berkuda dan memanah, alasannya cuma sesimple itu. Lanjut kak Reva latian mengikuti salah satu Club Panahan di Surabaya yang akhirnya harus dideportasi eh ditransfer ke Club Sidoarjo menjelang turnamen antar daerah, karena faktor posisi Rumah berdasar KK dan Sekolah di luar Surabaya. Kebetulan Club Paser ini masih satu jaringan dengan Club dari LH SAS milik ibu Lilis Handayani dan dipegang oleh adek beliau yang juga Atlet Panahan setingkat Sea Games bapak Gatot Irianto. Sebenarnya secara fasilitas dan sarana prasarana antara kota Surabaya dengan kabupaten Sidoarjo beda jauh, tentu saja ini berpengaruh bagi percepatan karir Atlet itu sendiri, tapi bagaimana lagi..(ahh, sudahlah). Panahan sendiri bukan olahraga yang murah, alat harus kami beli sendiri terutama yang paling basic yaitu Standart Bow dan harus sesuai standart PERPANI (persatuan panahan Indonesia). Standart Bow terbuat dari Kayu yang bisa digunakan hingga jarak 40mt, dan divisi ini khusus turnamen Nasional saja, sedangkan untuk turnamen Internasional, alat ini harus diupgrade ke divisi Recurve yang terbuat dari besi seperti yang digunakan kak Reva saat ini. Sejauh mana Atlet harus ganti alat, selain dari kemampuan Atlet yang sudah mumpuni dalam memainkan Standart Bow, jika tehnik bagus bisa lanjut ke Recurve, jika kesulitan bisa pindah ke Compound, juga tergantung kebutuhan Atlet di wilayah kami (Coach yang paling paham masalah ini) dan yang tidak kalah penting kemampuan financial dan support orangtua karena Recurve tidak murah, harga setara Vario..hiks.

Turnamen yang pernah kak Reva ikuti paling awal adalah Porlakab, dimana dia mendapatkan Medali Perunggu untuk divisi Standart Bow 30mt dan menerima hadiah uang tunai hanya 150k saja, selain Medali tentu saja, tetap Alhamdulillah. Dari Porlakab ini, Atlet yang terpilih akan mengikuti pemusatan latian untuk persiapan POR SD di Lumajang 2017 lalu. Selama turnamen di Lumajang, para Atlet setingkat SD ini, semua kebutuhan transportasi dan akomodasi ditanggung oleh Kabupaten, untuk urusan seperti penginapan dan makanan dengan tingkat kelayakan ya gitu deh..hiks. Dengan kondisi lelah namun fasilitas seperti itu, rasanya berat hati melihatnya, namun demi prestasi, baik Atlet maupun orangtua wajib saling menguatkan. Tantangan yang lain adalah ditinggalkannya bangku sekolah hampir tiga minggu, bisa dibayangkan betapa kocar kacirnya pelajaran kak Reva, sedangkan saat itu berada di jenjang 6, dimana dia juga harus mempersiapkan USBN dkk. Selepas turnamen, kak Reva kembali ke sekolah dan harus pulang lebih akhir demi menyelesaikan tugas-tugas yang kemarin dia tinggalkan. Bisa bayangkan rasa lelah itu, padahal selepas turnamen dia tidak ada waktu untuk istirahat karena sudah kelas 6. Untuk itulah kami tidak pernah memberikan target NEM yang terlalu tinggi buat kak Reva lagipula untuk Atlet dijamin dengan adanya Japres untuk dapat diterima di sekolah negeri, namun untuk mendapatkan nilai UN yang tinggi juga merupakan kebanggaan tersendiri buat kak Reva, itulah yang memacunya untuk terus tekun belajar disaat tidak ada jadwal latian. Alhamdulillah dia lulus dengan nilai USBN 10 besar terbaik dan menerima beasiswa uang masuk 100% dari Yayasan Sekolah yang sama. Turnamen berikutnya adalah Brawijaya Archery Competition, ini salah satu agenda wajib yang musti diikuti oleh para Atlet sebagai sarana motivasi juga meningkatkan daya juang untuk berkompetisi dengan Atlet dari daerah yang berbeda, dan boleh diikuti dengan jangka waktu berkala yaitu tiga bulanan. Turnamen-turnamen Open dilaksanakan oleh pihak swasta ini semua dana transportasi dan akomodasi dibiayai secara mandiri oleh orangtua Atlet, jadi bisa dihitung sendiri deh, berapa yang harus kami keluarkan setiap ada kejuaraan..hehehe. Alhamdulillah, turnamen BAC kemarin mengantongi Medali Emas divisi Standart Bow Beregu. Dilanjutkan lagi turnamen Kejurda Terbatas, dimana untuk mengeluarkan tiket Japres, PERPANI mengadakan turnamen daerah yaitu Kejurda, yang wajib diikuti Atlet dengan umur dan kelas terbatas, yaitu kelas 6 dan 9 saja, seluruh peserta dari seluruh wilayah Jawa Timur, baik Kabupaten maupun Kotamadya. Lagi-lagi mendapatkan Emas untuk divisi Standart Bow kategori beregu, Alhamdulillah saja, kak Reva beraninya masih keroyokan, medali perorangan akan hadir suatu saat nanti, Insyaaallah. Selesai dengan Kejurda terbatas kak Reva mulai upgrade alat, yaitu menggunakan Recurve untuk memenuhi kebutuhan Atlet Recurve persiapan PORPROV 2019. Adaptasi perpindahan alat melalui perjuangan berat, sebenarnya kak Reva masih sangat muda untuk menggunakan alat Recurve ini, saking beratnya sempat cidera, namun demi prestasi, kami semua all out mendukungnya. Hasil terakhir turnamen PORKAB sebagai saringan PORPROV kemarin kurang bagus, saat ini kak Reva harus mengejar selama tiga bulan kedepan, jika hasil lebih baik maka kak Reva akan masuk Puslatda untuk berebut tiket Nasional PON, sebagai lanjutannya, namun jika tidak, maka kak Reva harus menunggu tiket berikutnya dan itu juga memakan waktu yang tidak sebentar. Event olahraga yang diselenggarakan Pemerintah tidak setiap saat, tidak seperti turnamen open yang seringkali diadakan. Tidak mengapa, kak Reva masih mudah, masih banyak kesempatan memperbanyak jam terbang di turnamen open dulu nantinya.

Saat ini adek Mika juga tengah menyusul kak Reva namun dengan alat yang berbeda, adek Mika yang memiliki badan extra besar memilih Compound untuk divisi yang akan dia ikuti. Alat Compound inipun tidak kalah mahal dengan Recurve dan model yang lebih simple namun kekar, alat ini juga kami beli dari dana pribadi. Sebelumnya adek Mika juga sudah mengikuti turnamen BAC namun divisi Standart Bow dan belum beruntung, kemudian banting setir pindah divisi compound untuk turnamen selanjutnya. Saat ini kami sedang persiapan mengikuti turnamen Bupati Ponorogo Cup 2018, sebagai pemanasan agenda PORPROV di tahun depan. Buat kak Reva sembari menghitung kekuatan lawan ada target yang musti dicapai sebagai bekal turnamen provinsi tahun depan, sedangkan untuk adek Mika, karena baru sekali turun di divisi compound selain menambah jam terbang juga mengasah jiwa kompetisinya.

Bagi kami yang dalam kategori mampu, dapat menyediakan sarana prasarana buat anak-anak kami yang berkarir di Atlet bagaimana dengan Atlet-Atlet dari keluarga kurang mampu atau biasa saja, tentu sangat berat, ada beberapa alat yang dipinjamkan dari PERPANI tapi tidak banyak, itupun khusus untuk Atlet yang benar-benar berprestasi dan itupun masih harus mengeluarkan biaya yang lain, misal latian dan turnamen open yang wajib diikuti. Hal-hal seperti ini tidak saja terjadi di cabang olahraga Panahan, tapi juga olahraga mahal yang lainnya, terutama yang menggunakan Alat. Masa Depan Atlet sendiri masih misteri, banyak Atlet pemula yang akhirnya mengundurkan diri disaat mereka harus memilih antara tetap menjadi Atlet atau Study. Berbeda dengan yang saya dengar Atlet- Atlet dari luar negeri yang sudah dijamin Negara, istilahnya menjadi anak Negara, tugas hanya berlatih setiap harinya, fasilitas dan sarana lengkap tanpa tuntutan akademis, secukupnya sajalah, itulah mengapa mereka berjaya di hampir semua cabang olahraga terutama kelas Olympiade. Semoga dengan berakhirnya Asian Games dan limpahan Bonus semakin banyak warga negara yang tertarik menjadi Atlet dan Negara juga support dengan fasilitas dan sarana yang semakin baik, tidak asal-asalan. Menjadi Atlet selain penggemblengan fisik dan mental, tentunya butuh juga kepastian Masa Depan, karena secara Akademis sudah mereka nomorduakan. Kami sebagai orang tua yang Alhamdulillah diberikan keluasan rezeki oleh Allah Azza Wa Jalla semoga senantiasa istiqomah mensupport pilihan anak-anak kami, hingga suatu saat nanti anak-anak dapat mengharumkan nama Bangsa Indonesia dikancah Internasional, termasuk juga mereka dapat turut serta melakukan syiar agama melalui olahraga Sunah ini. Semua kami niatkan mencari Ridho Allah semata, agar prestasi yang diraih anak-anak kami kelak dapat bermanfaat bagi dunia dan akhiratnya..aamiin

Bismillah, selamat datang di Fakultas Kedokteran UII

“Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majelis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. [QS 58 : 11]

Hari ini Jumat (17/08), semalam kak Belva memasuki hari keempat agenda MOS universitas sekaligus penutupan Pesta UII 2018. Sampai hari Selasa saja kami menemani kak Belva selama 4 hari sejak hari Jumat, karena ada agenda Gathering Fakultas yang diadakan di hari Sabtu (11/08). Sebenarnya berat rasanya harus melepaskan kakak sendiri di Jogja, tapi ada adek-adek yang membutuhkan perhatian juga. Alhamdulillah di kosan Ersyada ini ada teman FK 2018 sebanyak 4 orang, ber 5 termasuk kak Belva, 2 berasal dari Madiun, 1 dari Jogja dan 1 lagi dari Kalimantan Selatan. Alhamdulillah lagi teman dari Jogja lah yang membawa mobil di kosan, sehingga kak Belva dan teman lainnya bisa nebeng selama MOS berlangsung, karena tidak diperkenankan membawa kendaraan bermotor.

Selama menunggu sekalian kami sempatkan mengantarkan kak Belva untuk prepare diktat FK yang dibutuhkan diawal perkuliahan, lumayan juga harganya. Di hari Senin kami juga sempatkan visit, melihat calon Rumah Sakit Universitas Islam Indonesia yang hampir selesai dibangun, jika selama ini menggunakan Rumah Sakit Jogja International Hospital, UII juga mempersiapkan diri membangun Rumah Sakit sendiri. Cukup jauh letaknya, jika Kampus berada di kaki Merapi, wilayah Gunung, Rumah Sakit ini berada di wilayah pantai, yaitu Parangtritis, keren ya, Jogja memang Istimewa. Selain itu kami juga belanja keperluan stok bahan makanan, baik frozen food maupun mi instan. Sebenarnya kantin juga sudah tersedia, tapi kak Belva sedikit susah untuk rutin makan nasi, dia lebih ke aliran western, baik cereal maupun roti. Urusan laundry juga sudah beres, motor juga sudah sampai di kosan, Alhamdulillah semua sudah tertata, jadi semakin lega dan ikhlas buat melepas kak Belva.

Untuk MOS Fakultas akan diadakan setelah MOS Universitas yang kemarin selesai diadakan hingga pk 21.00 malam. MOS Fakultas lebih berat karena tugas pribadi dan kelompok yang menumpuk, kemudian dilanjut agenda Pesantrenisasi dimana FK akan mengadakan pembekalan agama selama seminggu tinggal di Gedung FK. Pembagian kelompok kak Belva tidak ada yang satu kosan, tapi Alhamdulillah ada teman kelompok yang kos di satu kampung yang sama. Orang tua ini terkadang rasa khawatirnya lebay, maklum kak Belva belum pernah tinggal jauh dari orangtua, tapi UII sendiri hasil dari kesepakatan kami bertiga, sudah seharusnya semua konsekuensi harus ditanggung bersama. Selamat belajar yang tekun ya nak, jangan tinggalkan Sholat, baik wajib maupun sunah, rutinkan baca Al Qur’an, semoga sukses dan berkah ilmu dunia dan akhiratnya. Ya Allah, please keep our Belva safe, happy and healthy always..aamiin.

Mari tunaikan kewajiban kita sebatas yang diwajibkan dan diperlukan. Merdeka-kan lah jiwa anak kita. Biarkan dia mengepakkan sayap hidupnya sendiri. Balut semua iktiar dengan doa. Percayalah semua anak punya masa depannya sendiri dan Rezeki yang telah ditakar Allah..In syaa Allah